World Archive - Chapter 3 【The "God" and The "Devil"】
Kalian masih di sini juga? Masih belum bosan juga ya.
Kalian ingin fokus ke satu cerita saja atau ganti lagi?
Kalian ingin fokus saja ke satu cerita? Tapi bukannya kalian ingin tahu cerita lainnya juga?
Kalian ingin menyelesaikannya dulu satu-satu?
Ya, daku setuju sih. Biar fokus kan berimajinasinya? Biar kalian bisa konsentrasi untuk melakukam self-insert atau semacamnya.
Daku mengerti, daku mengerti.
Kalau begitu ayo kita baca judul baru, “Reincarnated Sibling”.
Hm? Kenapa kalian menatap daku begitu? Tenang-tenang, daku cuma bercanda kok. Mari kita fokus ke “The Dagger that Carved an Era”.
Diam dan perhatikan…
****
Barong sang King of All Beasts, Ruler of All Elements, kini menenami perjalanan Jagatnata dalam mencari dan mengumpulkan material untuk proyek barunya. Mereka menaiki kereta kuda terbang yang bernama Surya Kencana yang ditarik oleh 8 ekor kuda berapi.
Mereka menuju ke arah utara ke barisan pegunungan di utara benua tengah.
Barisan pegunungan yang tinggi nan indah mulai muncul di penglihatan Jagatnata. Barisan pegunungan yang memiliki bentuk unik karena berkelok-kelok dan tidak rata layaknya barisan pegunungan pada umumnya.
“Oh! Jadi ini lah pegunungan yang terkenal itu! Pegunungan Kabut Naga!” ungkap Jagatnata dengan penuh kegirangan.
“Baru juga melihatnya kamu sudah seperti itu, Nata?”
“Tuan Barong biasa saja karena mungkin sudah sering melihatnya! Tapi ini pertama kalinya bagiku! Sesuatu yang pertama kali kamu melihatnya selalu akan terasa menakjubkan!” ujar Jagatnata.
“Ya-ya, terserah lah…”
Meskipun masih jauh, pegunungan itu sudah terlihat jelas akibat ukurannya dan juga posisi kereta kuda yang memang jauh tinggi di angkasa, lebih tinggi dari apapun yang bisa dijelajahi hewan dan manusia biasa.
Barong membuka pintu dan seketika udara dingin dan angin kencang pun mulai memasuki bagian dalam kereta kuda tersebut.
“Aku akan pergi duluan, kamu tunggu lah di sini, Nata.”
“Eh, tuan mau ke mana?” tanya Jagatnata.
“Aku mau pergi ke kota dulu. Bukankah kamu belum sarapan?”
“I—itu memang benar. Tetapi apakah saya boleh ikut?” sahut Jagatnata.
“Kamu beneran mau ikut?”
“Ya! Saya penasaran dengan kehidupan manusia yang tinggal di sekitar sini. Saya belum pernah pergi sejauh ini sebelumnya. Jadi saya ingin tahu budaya dan kebiasaan orang-orang di sini!” jawab Jagatnata dengan penuh kegirangan.
“Baiklah, kalau begitu ayo kita berangkat!”
Barong kemudian terjun bebas dari kereta kuda itu ke kota di bawahnya.
“Eeehhh!!?? Langsung turun dari sini!!!???” ucap Jagatnata yang terkejut bukan main dengan keputusan Barong itu.
“Jatuh tidak akan membunuh baginda Barong, tuan Jagatnata” ungkap Surya dari tempat duduk kusir.
“Ya, aku tahu itu. Tapi itu akan membunuhku!” tegas Jagatnata.
“Oh, bagaimana anda tahu? Apakah anda sudah mencobanya sebelumnya?” tanya Surya.
“Tentu saja belum! Bagaimana mungkin aku mencobanya!? Aku takkan ada di sini karena mati kalau aku mencoba hal semacam ini sebelumnya, kan!” jawab Jagatnata.
“Kalau begitu darimana anda tahu kalau belum pernah coba?” tanya Surya lagi.
“Aku tak perlu mencoba hal beginian kalau cuma untuk tahu aku bakalan mati ketika melakukannya! Akal sehat dan logika saja sudah cukup untuk memperhitungkannya!” tegas Jagatnata.
“Lama sekali~ perlu kah aku berikan dorongan, Nata?”
Setelah mendengar suara Barong dari belakang, tiba-tiba saja tubuh Jagatnata seperti ada yang mendorong dari belakang. Dan seketika ia pun jatuh dan terjun bebas akibat dorongan tersebut.
“Uwaaaaaa!!! Tuan Barong!!!” jerit Jagatnata sambil terjun dari ketinggian ekstrim.
“Surya, kamu diam lah di sini, jaga kereta.”
“Hamba patuh, baginda Barong” sahut Surya.
Tubuh Barong memudar dan melebur ke udara.
Jagatnata masih melaju turun dengan kecepatan tinggi. Kulit wajahnya serta mulutnya seakan tertarik ke samping akibat tekanan angin yang kuat sebab kecepatan jatuhnya saat ini.
“Aku bakalan mati nih! Aku bakalan mati di sini! Padahal material saja belum terkumpul satu pun, tapi aku sudah mati!” gerutu Jagatnata.
“Kamu terlalu pesimis, Nata~”
Tiba-tiba saja sensasi jatuh itu pun seakan lenyap seketika.
“Lah?” ucap Jagatnata bingung.
“Kamu pikir aku akan membiarkanmu mati semudah itu ketika aku sudah menjanjikan perlindunganku?”
Jagatnata menoleh ke sampingnya dan melihat Barong yang saat ini juga bergerak jatuh dengan posisi tiduran santai.
“Apa yang tuan Barong lakukan kepada hamba?” tanya Jagatnata.
“Bukan sesuatu yang spesial kok.”
“Mungkin bagi anda ini bukan sesuatu yang spesial, tapi bagi ham—”
“Oh lihat, kita sudah hampir mencapai tanah! Bersiap untuk tubrukan!”
“Apa!? Tidaaaaaak!!!” jerit Jagatnata ketakutan.
Namun setelah beberapa saat tidak terjadi apapun. Padahal Jagatnata sudah menutup mata dan menyilangkan kedua lengannya di depan badannya. Meskipun itu sebenarnya tidak akan melindunginya dari jatuh dari atas ketinggian yang ekstrim. Jagatnata membuka matanya, dan ia menemukan kalau dirinya saat ini melayang di udara dan kakinya hanya tinggal setinggi satu centimeter lagi dari permukaan tanah.
“A—apa yang terjadi?” ucap Jagatnata terheran-heran.
Setelah melayang selama beberapa saat, akhirnya kakinya pun menapak ke tanah.
“Tuan Barong, apa yang barusan anda lakukan!!??” tukas Jagatnata menoleh ke arah Barong.
“Tidak ada yang spesial.”
“Apanya yang tidak spesial coba dengan kejadian tadi!?” protes Jagatnata.
“Daripada terus mengoceh di sana, lebih baik cepat masuk ke kota, sana!”
“Saya tidak mau masuk ke kota sebelum anda menjawab—” gerutu Jagatnata.
“Sana!”
Barong pun akhirnya mendorong Jagatnata dengan cara menepuk punggungnya. Tubuh Jagatnata langsung terpental masuk ke dalam kota. Sementara Barong sendiri lenyap melebur ke udara.
Jagatnata masuk ke dalam kota dengan cara tersungkur di tanah. Hal itu lantas saja menyita perhatian orang-orang yang berlalu lalang.
“Tuan Barong… bisakah anda lebih lembut kepada hamba?” pinta Jagatnata.
“Engkau tidak apa-apa?” sapa seseorang dari depan.
Jagatnata mengangkat kepalanya dan melihat orang yang menyapanya itu.
“Sepertinya engkau tidak apa-apa. Syukurlah…” lanjut orang tersebut.
Seorang gadis muda berambut hitam putih dan berpakaiian goth loli berjongkok di depannya. Ia memakai topen aneh dan memakai payung yang imut. Mata keemasan yang berkilau dari celah mata topeng itu tampak menatap langsung ke arah Jagatnata seolah melihat langsung ke dalam relung kalbunya.
“Apa engkau perlu bantuan daku untuk berdiri?” sambung gadis misterius itu.
“Maaf, terima kasih, itu akan sangat membantu” sahut Jagatnata.
“Kalau begitu silakan terima uluran lengan daku ini” balas gadis itu sambil menyodorkan tangan kanannya.
Jagatnata pun kemudian menerima uluran tangan gadis itu dan kemudian gadis itu pun menarik tubuh Jagatnata untuk membantunya berdiri.
“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas bantuan nona” ucap Jagatnata.
“Sama sekali bukan masalah. Daku senang bisa membantu seorang kakek tua renta seperti kisanak” jawab gadis itu.
“T—tua renta!?” sahut Jagatnata terkejut.
“Jadi ada urusan apa engkau datang ke kota ini, kisanak?” tanya gadis itu.
“Ah, itu… sebenarnya…” balas Jagatnata bingung.
“Kami cuma mau mencari makan, gadis kecil.”
Barong tiba-tiba saja muncul di sebelah Jagatnata.
“Oh, mencari makan…” sahut gadis itu yang anehnya bersikap biasa saja.
“Ya. Kami hanya mencari makan.”
“Daku tak tahu kalau Barong yang hebat juga butuh makan” ujar gadis itu.
“Oh? Kamu tahu siapa aku? Aku tak tahu kalau namaku sudah terkenal sampai ke tempat ini juga.”
“Tidak juga sih. Tapi engkau memang memiliki berbagai legenda di seluruh penjuru bumi” jawab gadis itu.
“Legenda? Nona, aku masih hidup.”
“Memangnya untuk menjadi legenda harus mati dulu ya?” balas gadis itu.
“Ah, maaf menyela, tapi bagaimana dengan mencari makannya?” tanya Jagatnata, lalu terdengar suara perutnya yang keroncongan.
“Benar juga, aku sampai lupa.”
“Tuan Barong! Bukannya ini ide anda untuk ke sini mencari makan? Bagaimana anda malah melupakannya!” gerutu Jagatnata.
“Maaf-maaf…”
“Kalau begitu, bagaimana kalau daku yang menraktir kalian?” tawar gadis itu.
“Hah?” ucap Jagatnata kaget.
“Apa perkataan daku kurang jelas?” tanya gadis itu.
“Tidak, kurasa bukan itu yang membuat Nata kaget. Gadis kecil, kita ini baru bertemu, dan itu pun tanpa sengaja. Namun sekarang kamu tiba-tiba saja menawari kami untuk menraktir kami? Tentu saja kami akan ragu menerimanya.”
“Oh, benar juga. Tentu kalian tidak bodoh menerima tawaran orang asing begitu saja ya. Kalau begitu biarkan daku memperkenalkan diri” balas gadis.
Gadis itu menarik ujung roknya memberikan penghormatan ala perempuan bangsawan eropa.
“Nama daku adalah Oriella Shinov, Wanderer of Wisdom” lanjut gadis itu lalu memperkenalkan dirinya.
“Oriella Shinov?”
“Ya, tuan Barong” sahut Oriella.
“Aku merasakan kalau kamu memang jujur. Tapi entah kenapa seperti ada sesuatu yang janggal.”
“Itu pasti hanya perasaan anda saja” balas Oriella.
“Ngomong-ngomong, kemana kita akan pergi?” tanya Jagatnata.
“Tidak perlu jauh-jauh, bagaimana kalau kita ke gunung sana saja” jawab Oriella.
Oriella menunjuk barisan pegunungan yang memang akan dituju oleh Jagatnata dan Barong. Hal tersebut pun membuat keduanya tersentak kaget.
“Apanya yang tidak jauh-jauh!? Apa nona tidak tahu seberapa jauh jarak gunung itu dari sini!?” protes Jagatnata.
“Tapi sayangnya daku tak punya uang untuk menraktir kalian di sini. Satu-satunya cara untuk kita bisa makan adalah dengan memburu makhluk yang tinggal di sana” ungkap Oriella.
“Apa kamu tahu makhluk macam apa yang tinggal di sana?”
“Tentu saja. Makhluk dengan daging terenak, kan? Belut darat legendaris! Atau belut udara? Ya, yang mana pun itu, yang penting adalah dagingnya enak” jawab Oriella.
“Oh, kamu menarik. Aku menyukai semangatmu, nona Oriella.”
“Jangan malah didukung!” protes Jagatnata kepada Barong.
Jagatnata kemudian beralih ke Oriella.
“Nona, gunung itu sangat berbahaya. Daripada ke sana, bagaimana kalau kita berburu rusa atau domba liar saja?” tawar Jagatnata mencoba untuk membujuk Oriella.
“Daging makhluk biasa seperti itu takkan bisa memuaskan selera makan daku. Memangnya engkau pikir untuk apa daku datang kemari?” balas Oriella menolak tawaran Jagatnata.
“Untuk jalan-jalan?” terka Jagatnata.
“Keliru! Daku sampai datang jauh-jauh kemari adalah untuk mencicipi berbagai macam hewan mitos yang sudah punah!” tegas Oriella.
“Sudah punah?”
“Oh, lupakan yang daku ucapkan itu” ujar Oriella pada Barong.
“Tapi kami kemari itu untuk makan di sini. Kalau pada akhirnya kami harus pergi ke gunung itu juga, kenapa kami harus susah-susah terjun tadi” keluh Jagatnata.
“Ya itu benar juga sih.”
“Hmm… mau bagaimana lagi. Sepertinya tak ada jalan lain” ujar Oriella.
Oriella kemudian membuka telapak tangan kanannya menghadap ke atas sementara lengan kanannya itu menjulur ke depan.
“In the name of Lord of Wisdom《۞ Blessing of Wisdom ۞》 ≪Book of Wisdom: Character List≫ 〖K◦◦◦◦ K◦◦◦◦◦◦◦◦〗” ucap Oriella.
“A—apa ini!? Hawa keberadaan apa ini!?”
“Argh! B—berat… sesak… i—ini bukan hawa keberadaan biasa. Aku seakan merasakan aura yang sangat agung. T—tuan Barong, apa yang terjadi!?” tanya Jagatnata.
“Aku juga tidak tahu! Yang pasti ini bukan sekedar aura biasa! Aku merasakan kehadiran sosok yang luar biasa!”
Baik Barong maupun Jagatnata terlihat gemetar. Kaki-kaki mereka bergetar seolah untuk menahan tubuh mereka sendiri saja sudah kesusahan.
Barong melihat ke sekitarnya, dan terlihat kalau semua orang di kota itu pingsan tanpa ada satu orang pun yang terlewat. Mereka semua terkapar tak sadarkan diri.
“〘Craftion〙” lanjut Oriella.
Kemudian di atas telapak tangan Oriella itu muncul lah sebuah kubus emas yang berukuran 10 ㎝ × 10 ㎝ × 10 ㎝.
“Tunggu, apa yang terjadi!? Emas itu muncul dari mana!?” ucap Jagatnata terkejut.
“Itu dibentuknya. Dia… membentuknya.”
“Membentuknya!? Dari apa!?? Untuk membentuk sesuatu maka harus ada bahannya! Tapi dia memunculkannya dari udara kosong!” tegas Jagatnata.
“Apa kamu sadar kalau barusan kamu menyebutkan udara?”
“Ya, memangnya kena— tunggu sebentar, jangan bilang—” ujar Jagatnata.
“Benar sekali. Dia memanipulasi udara sampai ke tingkat terkecilnya, dan mengubah dan menyusun ulang bagian terkecil itu, dan membentuk emas dengan itu.”
“Tunggu, darimana tuan Barong tahu itu!?” tanya Jagatnata.
“Karena aku melihatnya ketika dia melakukannya. Dan jika aku harus meniru yang dia lakukan. 〘Craftion〙!”
Kemudian di depan Jagatnata muncul kubus emas dengan ukuran yang sama persis.
“Oh, seperti yang diharapkan dari Ruler of All Elements” puji Oriella.
“Ya, kalau aku tidak aneh bisa melakukannya. Yang aneh malah kamu, nona. Tiba-tiba saja memunculkan kehadiran agung yang aku saja tak bisa menahan tekanannya. Lalu setelah itu bisa menggunakan kemampuan yang harusnya aku yang bisa melakukannya. Sebenarnya nona ini siapa?”
“Daku adalah Wanderer of Wisdom” jawab Oriella.
“Tapi itu tak menjelaskan—”
“Engkau akan tahu apabila sudah saatnya, King of All Beasts” potong Oriella.
“Maaf… aku tahu kita saat ini sudah punya uang. Tapi bagaimana kita akan makan apabila semua orang pingsan begini?” tanya Jagatnata.
Seperti yang dikatakan oleh Jagatnata, semua orang di kota itu sedang tak sadarkan diri saat ini.
“Iya juga, aku lupa dengan hal itu. Mau bagaimana lagi, sepertinya kita harus berburu kalau mau makan.”
“Iya, kan?” ucap Oriella dengan nada riang.
“Kamu jelas-jelas sudah merencanakan ini, kan?”
“Daku tak mengerti dengan apa yang engkau bicarakan. Jadi, kapan kita akan mulai berburu?” balas Oriella.
Barong hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada kita. Hanya aku yang akan pergi.”
“Eh~ kenapa?” keluh Oriella.
“Sudah jelas, karena itu berbahaya.”
“Jadi anda akan pergi sekarang, tuan Barong?” tanya Jagatnata.
“Ya, Nata. Kalian berdua tunggulah di sini. Ini takkan lama.”
“Baiklah. Berhati-hati lah, tuan Barong” ujar Jagatnata.
Lalu seketika, Barong melompat dan melesat bagaikan komet menuju ke arah gunung. Hanya butuh beberapa detik untuknya sampai ke puncak gunung.
“Bangun!!! Ular pemalas! Ini harus senin, saatnya bangun!!!”
Barong berteriak dengan sangat keras dari puncak gunung itu.
Suaranya bagaikan guntur yang menggelegar. Begitu keras dan menciptakan tremor di bumi dan gelombang kejut di langit. Awan-awan terdorong menjauh, sementara tanah seketika retak terbelah.
Suaranya terdengar sampai ke kota. Getaran serta anginnya pun sampai ke tempat Jagatnata dan Oriella berada.
Semua orang yang tak sadarkan diri pun terbangun oleh fenomena itu.
“Oh, mereka terbangun…” ucap Oriella.
“Tentu saja. Malahan akan aneh jika mereka tidak terbangun oleh semua hal ini, kan?” ujar Jagatnata sambil mengambil kubus emas yang tergeletak di tanah.
Saat orang-orang ini terbangun, mereka dengan sigap langsung menghadap ke arah Jagatnata dan Oriella lalu bersujud kepada mereka.
“Sembah kami kepada dewa! Tolong jangan hancurkan kota kami!”
Melihat hal itu, Jagatnata hanya bisa berekspresi risih.
Dan dimulai dari saat itu, muncul sebuah legenda tentang turunnya dewa di kota mereka yang ditemani binatang suci yang kemudian bertemu dengan iblis wanita dan menciptakan bentrokan yang membuat semua orang pingsan akibat tekanannya. Lalu sang iblis wanita pun memberikan syarat supaya mau menghentikan bentrokan tersebut. Syaratnya adalah sebuah misi. Misi untuk menjatuhkan sang dewa ular naga yang telah lama tertidur di pegunungan utara.
****
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.