Goodbye Bag. 1
Kita nggak akan tau kapan kita akan meninggal..
Kita juga nggak tau siapa yang akan mencintai kita dengan tulus.
Tapi percayalah bahwa kematian itu ada dan cinta yang tulus itu ada.
Ketika aku hendak menaiki bus yang akan mengantarku ke sekolah, lagi-lagi aku melihat cowok itu. Cowok dengan rambut jabrik, tinggi, dan berkulit putih memakai tas gemblok hitam dan seragam yang sama denganku. Nampaknya ia juga seorang pelajar SMA sepertiku walau mungkin dia lebih tua 2 tahun denganku dan kami beda sekolah. Tapi kelihatannya arah sekolahku dan dia sama. Seperti biasa bis hari ini penuh dan aku harus berdiri karena tidak kedapatan tempat duduk. Tiba-tiba saja bis itu rem mendadak dan aku pun terguncang. Tak sengaja aku menabrak seseorang. Ketika kulihat siapa yang kutabrak, aku terekejut. Ternyata yang kutabrak adalah cowok itu ! Aku segera meminta maaf padanya karena sudah menabraknya. Dia pun tersenyum dan membalas permintaan maafku, “tidak apa-apa kok.. tenang saja.” Seketika saja aku sudah terpesona oleh senyumannya.. aku segera membangunkan diriku dari lamunanku. Aku pun menjadi salah tingkah.
Ketika bis sudah sampai di depan halte sekolahku, aku pun turun. ‘tuh kan.. Dia nggak satu sekolah denganku.’ Ucapku dalam hati. Tapi setelah itu aku kepikiran tentangnya. Aku penasaran siapa namanya, dia berasal dari sekolah mana, dan kelas berapa. Apa dia… sudah punya pacar? Pikirku suatu hari.
“Aira Zahratunnisa..!” panggil Bu Retno, guru matematikaku membangunkan lamunanku. Oh tidak, aku melamun di kelas. Ini gara-gara cowok itu. Huuh..
“I-Iya bu ?” jawabku berusaha tenang.
“Jangan melamun saat pelajaran sedang dimulai ! kamu ibu panggil 4 kali tidak dijawab. Sekarang jawab soal nomor 5 !” perintah Bu Retno. Aku melihat ke soal nomor 5 yang disuruh Bu Retno untuk aku jawab dengan tatapan bingung. Jelas saja karena aku tidak tau bagaimana cara menjawabnya. Aku kan lemah dalam pelajaran matematika.
“Ngg.. Nggak tau bu.” Jawabku terus terang dengan tampang polos sambil nyengir. Aku sudah tau bagaimana reaksi bu Retno dan benar saja aku dihukum. Huuh..
Teng.. teng.. teng.. Bel tiga kali saatnya istirahat. Aku senang sekali karena jam pelajaran yang tidak kusuka berakhir.
“Hhh.. Akhirnya…” gumamku sambil menghela nafas dan menidurkan kepalaku diatas meja.
“Makanya jangan ngelamun pas pagi-pagi… !” goda sahabatku, Viona. Tak kusangka dia sudah berada di depan mejaku. Aku hanya nyengir membalasnya. Viona adalah gadis berambut panjang dengan poni depan dan kulitnya yang putih. Aku kadang iri dengan rambutnya yang halus.
“Ngelamunin apa sih emangnya kamu ra ?” tanyanya.
“Sudahlah, nanti aku jelaskan di kantin. Ke kantin aja yuk…” ajakku. Dia mengangguk. Dan setelah itu kami pergi ke kantin. Disana aku menceritakan padanya tentang kejadian tadi pagi dan saat aku menabrak cowok itu. Viona mendengarkan ceritaku dengan seksama. Jujur saja, Viona lah yang paling bisa mengerti aku.
Bel pulang sudah berdering. Kegiatan sekolah hari ini pun berakhir. Sama seperti berangkat ke sekolah, saat pulang sekolah pun aku juga menaiki bis. Aku menunggu di tempat perhentian bis seperti biasanya. Dan bis pun datang, tanpa ragu lagi aku langsung naik ke bis itu. Dan lagi ! aku bertemu cowok itu lagi… ah, senangnya. Kulihat saat itu dia sedang membaca manga sambil senderan di pegangan bangku yang di seberang tempat aku berdiri. Ingin aku menanyakan namanya, tapi aku tak punya keberanian untuk itu. Aku jadi serba salah. Tanpa sadar, sejak saat itu aku mulai memperhatikannya setiap saat ketika aku menaiki bis. Aku berusaha untuk mengetahui tentagnya. Dimulai dari mencari tahu asal sekolahnya. Aku mencari sekolah yang searah dengan bis yang ku taiki. Ada 6 sekolah yang searah dengan bis yang kutaiki itu, yaitu ada 2 SMA, 2 SMK, dan 2 SMP. salah satu diantaranya adalah sekolahku. Sekolahku adalah sekolah kejuruan atau disebut SMK. Aku berada di jurusan Multimedia. Berarti kemungkinan sekolah dimana cowok itu berada ada 3, SMA atau SMK juga sepertiku. Aku ingin menyelidikinya sampai ke sekolahnya, tapi kupikir itu tidak perlu.
Lalu suatu hari, saat pulang sekolah seperti biasa aku menaiki bis yang sama dengannya. Hari ini bis sedang kosong, jadi aku bisa mengambil tempat duduk yang kosong. Setelah duduk di tempat duduk yang kupilih, aku baru menyadari kalau gantungan tasku tidak ada atau hilang. Padahal gantungan itu kubeli saat di event jepang.. bentuk gantungannya boneka figure summon Akihisa Yoshii dari anime Baka test. Aaah, padahal gantungannya imut sekali. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling bus tapi tak kutemukan juga.
‘jatoh dimana ya…??’ gumamku dalam hati dengan rasa panik sambil tetap mengedarkan pandangan ke penjuru bus.
“Maaf… Gantungan ini milikmu ?” tanya seorang cowok padaku dengan sopan. Aku menoleh kearahnya. Dia lagi. Aku terkejut, dan memang benar gantungan yang ia sodorkan padaku itu memang gantungan milikku.
“Ah, iya itu gantungan milikku. Makasih ya…” jawabku padanya sambil mengambil gantungan itu dari tangannya dan tersenyum.
“Sama-sama…” balasnya dengan senyum manis yang biasanya. Ah, lagi-lagi aku terpesona oleh senyuman manis yang disunggingkan olehnya. Sungguh cowok ini sangat murah senyum. Dan entah kenapa setiap kali aku melihat senyumnya hatiku menjadi berdebar-debar.
“Bolehkah aku duduk disampingmu ?” tanyanya lagi padaku. Dengan malu-malu aku memperbolehkannya. Lalu keadaan hening sebentar.
“Hei, sepertinya kita sering bertemu di bis ini ya ?? Hehe..” tanyaku padanya dengan malu berusaha membuka obrolan.
“Iya, benar juga.. aku juga sering melihatmu menaiki bis ini. apa arah sekolahmu sama denganku ?” balasnya. Akhirnya pertanyaan yang kulontarkan tidak membuatnya bingung.
“Iya, kayaknya.” Jawabku tersenyum malu. Ah, sebenarnya aku ingin menanyakan sekolahnya, tapi entah kenapa aku malah berbicara sampai situ saja,
“Kau sekolah dimana ? aku sekolah di SMA Manami.” Ujarnya. Ohh.. dia di SMA Manami… gumamku dalam hati.
“Aku di SMK Usada.” Jawabku singkat. Aku tidak tau harus ngomong apa lagi.
“Kalau boleh tau namamu siapa ?” tanyanya padaku. Ah, aku senang sekali dia menanyakan namaku.
“Aira Zahratunnisa.. Kau bisa memanggilku Aira. Kalau kau ?” jawabku balik bertanya.
“Aku ?? kalau aku, Farhan Maulana. Kau bisa memanggilku Farhan.” Balasnya singkat. Aaa.. jadi namanya Farhan Maulana. Aku tiada hentinya berteriak dalam hati. “Oh ya, apa kau penggemar anime ?” tanyanya lagi. Aku heran kenapa dia tanya itu. mungkin karena gantunganku yang ia temukan tadi adalah salah satu karakter anime.
“Iya.. memangnya kenapa ? apa kau juga seorang penggemar anime?” aku balik bertanya. Apa dia memiliki kesamaan denganku ya? Pikirku.
“Nggak apa-apa sih.. iya, aku juga penggemar anime sepertimu.” Jawabnya tersenyum. Wah, ternyata dia memiliki kesamaan denganku. Aku senang sekali. Ditambah senyum yang ia lontarkan itu. Manis sekali ! teriakku dalam hati. Setelah kami mengetahui kesukaan masing-masing, kami menjadi akrab sekali hanya dengan membicarakan anime yang disukai kami berdua itu.
Tak terasa bus sudah sampai di halte tempatku turun. Aku pun segera berpamitan padanya.
“Aku duluan ya…” pamitku padanya.
“Iya.. sampai ketemu besok.” Balasnya dengan senyuman dan anggukan. Kemudian aku turun dari bus. Ketika aku sudah turun dan bis akan melaju, aku mendadahinya dan dia juga membalas ‘dadah’anku. Sungguh hari yang menyenangkan. Aku meninggalkan halte bus itu dan menuju rumah. Tapi… sepertinya ada yang kulupakan… oh iya, nomor handphonenya ! aku menepuk jidat. Haduh, gara-gara keasyikan mengobrol dengannya aku sampai lupa meminta nomor handphonenya. Padahal itu kesempatan.. gerutuku dalam hati. Aku mengutuk diriku karena telah melupakan hal penting itu. yasudahlah, besok saja aku memintanya. Mudah-mudahan dia satu bis lagi denganku.
Kita juga nggak tau siapa yang akan mencintai kita dengan tulus.
Tapi percayalah bahwa kematian itu ada dan cinta yang tulus itu ada.
***
Bunyi alarm dan kicauan burung membangunkan aku. Hari sudah pagi. Aku segera mematikan alarmku. Kemudian aku merentangkan kedua tanganku dan mengucek mataku sambil berusaha mengumpulkan kesadaran. Aku beranjak dari tempat tidur dan membuka jendela kamarku. Sinar matahari masuk ke kamarku melalui jendela kamar yang kubuka. Setelah itu aku mengambil handuk dan segera menuju ke kamar mandi. Seperti biasa, aku berangkat sekolah dengan jalan kaki dan naik bus. Aku harus cepat karena ini hari senin dan biasanya perjalanan menuju sekolah itu sering macet di hari senin.Ketika aku hendak menaiki bus yang akan mengantarku ke sekolah, lagi-lagi aku melihat cowok itu. Cowok dengan rambut jabrik, tinggi, dan berkulit putih memakai tas gemblok hitam dan seragam yang sama denganku. Nampaknya ia juga seorang pelajar SMA sepertiku walau mungkin dia lebih tua 2 tahun denganku dan kami beda sekolah. Tapi kelihatannya arah sekolahku dan dia sama. Seperti biasa bis hari ini penuh dan aku harus berdiri karena tidak kedapatan tempat duduk. Tiba-tiba saja bis itu rem mendadak dan aku pun terguncang. Tak sengaja aku menabrak seseorang. Ketika kulihat siapa yang kutabrak, aku terekejut. Ternyata yang kutabrak adalah cowok itu ! Aku segera meminta maaf padanya karena sudah menabraknya. Dia pun tersenyum dan membalas permintaan maafku, “tidak apa-apa kok.. tenang saja.” Seketika saja aku sudah terpesona oleh senyumannya.. aku segera membangunkan diriku dari lamunanku. Aku pun menjadi salah tingkah.
Ketika bis sudah sampai di depan halte sekolahku, aku pun turun. ‘tuh kan.. Dia nggak satu sekolah denganku.’ Ucapku dalam hati. Tapi setelah itu aku kepikiran tentangnya. Aku penasaran siapa namanya, dia berasal dari sekolah mana, dan kelas berapa. Apa dia… sudah punya pacar? Pikirku suatu hari.
“Aira Zahratunnisa..!” panggil Bu Retno, guru matematikaku membangunkan lamunanku. Oh tidak, aku melamun di kelas. Ini gara-gara cowok itu. Huuh..
“I-Iya bu ?” jawabku berusaha tenang.
“Jangan melamun saat pelajaran sedang dimulai ! kamu ibu panggil 4 kali tidak dijawab. Sekarang jawab soal nomor 5 !” perintah Bu Retno. Aku melihat ke soal nomor 5 yang disuruh Bu Retno untuk aku jawab dengan tatapan bingung. Jelas saja karena aku tidak tau bagaimana cara menjawabnya. Aku kan lemah dalam pelajaran matematika.
“Ngg.. Nggak tau bu.” Jawabku terus terang dengan tampang polos sambil nyengir. Aku sudah tau bagaimana reaksi bu Retno dan benar saja aku dihukum. Huuh..
Teng.. teng.. teng.. Bel tiga kali saatnya istirahat. Aku senang sekali karena jam pelajaran yang tidak kusuka berakhir.
“Hhh.. Akhirnya…” gumamku sambil menghela nafas dan menidurkan kepalaku diatas meja.
“Makanya jangan ngelamun pas pagi-pagi… !” goda sahabatku, Viona. Tak kusangka dia sudah berada di depan mejaku. Aku hanya nyengir membalasnya. Viona adalah gadis berambut panjang dengan poni depan dan kulitnya yang putih. Aku kadang iri dengan rambutnya yang halus.
“Ngelamunin apa sih emangnya kamu ra ?” tanyanya.
“Sudahlah, nanti aku jelaskan di kantin. Ke kantin aja yuk…” ajakku. Dia mengangguk. Dan setelah itu kami pergi ke kantin. Disana aku menceritakan padanya tentang kejadian tadi pagi dan saat aku menabrak cowok itu. Viona mendengarkan ceritaku dengan seksama. Jujur saja, Viona lah yang paling bisa mengerti aku.
Bel pulang sudah berdering. Kegiatan sekolah hari ini pun berakhir. Sama seperti berangkat ke sekolah, saat pulang sekolah pun aku juga menaiki bis. Aku menunggu di tempat perhentian bis seperti biasanya. Dan bis pun datang, tanpa ragu lagi aku langsung naik ke bis itu. Dan lagi ! aku bertemu cowok itu lagi… ah, senangnya. Kulihat saat itu dia sedang membaca manga sambil senderan di pegangan bangku yang di seberang tempat aku berdiri. Ingin aku menanyakan namanya, tapi aku tak punya keberanian untuk itu. Aku jadi serba salah. Tanpa sadar, sejak saat itu aku mulai memperhatikannya setiap saat ketika aku menaiki bis. Aku berusaha untuk mengetahui tentagnya. Dimulai dari mencari tahu asal sekolahnya. Aku mencari sekolah yang searah dengan bis yang ku taiki. Ada 6 sekolah yang searah dengan bis yang kutaiki itu, yaitu ada 2 SMA, 2 SMK, dan 2 SMP. salah satu diantaranya adalah sekolahku. Sekolahku adalah sekolah kejuruan atau disebut SMK. Aku berada di jurusan Multimedia. Berarti kemungkinan sekolah dimana cowok itu berada ada 3, SMA atau SMK juga sepertiku. Aku ingin menyelidikinya sampai ke sekolahnya, tapi kupikir itu tidak perlu.
Lalu suatu hari, saat pulang sekolah seperti biasa aku menaiki bis yang sama dengannya. Hari ini bis sedang kosong, jadi aku bisa mengambil tempat duduk yang kosong. Setelah duduk di tempat duduk yang kupilih, aku baru menyadari kalau gantungan tasku tidak ada atau hilang. Padahal gantungan itu kubeli saat di event jepang.. bentuk gantungannya boneka figure summon Akihisa Yoshii dari anime Baka test. Aaah, padahal gantungannya imut sekali. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling bus tapi tak kutemukan juga.
‘jatoh dimana ya…??’ gumamku dalam hati dengan rasa panik sambil tetap mengedarkan pandangan ke penjuru bus.
“Maaf… Gantungan ini milikmu ?” tanya seorang cowok padaku dengan sopan. Aku menoleh kearahnya. Dia lagi. Aku terkejut, dan memang benar gantungan yang ia sodorkan padaku itu memang gantungan milikku.
“Ah, iya itu gantungan milikku. Makasih ya…” jawabku padanya sambil mengambil gantungan itu dari tangannya dan tersenyum.
“Sama-sama…” balasnya dengan senyum manis yang biasanya. Ah, lagi-lagi aku terpesona oleh senyuman manis yang disunggingkan olehnya. Sungguh cowok ini sangat murah senyum. Dan entah kenapa setiap kali aku melihat senyumnya hatiku menjadi berdebar-debar.
“Bolehkah aku duduk disampingmu ?” tanyanya lagi padaku. Dengan malu-malu aku memperbolehkannya. Lalu keadaan hening sebentar.
“Hei, sepertinya kita sering bertemu di bis ini ya ?? Hehe..” tanyaku padanya dengan malu berusaha membuka obrolan.
“Iya, benar juga.. aku juga sering melihatmu menaiki bis ini. apa arah sekolahmu sama denganku ?” balasnya. Akhirnya pertanyaan yang kulontarkan tidak membuatnya bingung.
“Iya, kayaknya.” Jawabku tersenyum malu. Ah, sebenarnya aku ingin menanyakan sekolahnya, tapi entah kenapa aku malah berbicara sampai situ saja,
“Kau sekolah dimana ? aku sekolah di SMA Manami.” Ujarnya. Ohh.. dia di SMA Manami… gumamku dalam hati.
“Aku di SMK Usada.” Jawabku singkat. Aku tidak tau harus ngomong apa lagi.
“Kalau boleh tau namamu siapa ?” tanyanya padaku. Ah, aku senang sekali dia menanyakan namaku.
“Aira Zahratunnisa.. Kau bisa memanggilku Aira. Kalau kau ?” jawabku balik bertanya.
“Aku ?? kalau aku, Farhan Maulana. Kau bisa memanggilku Farhan.” Balasnya singkat. Aaa.. jadi namanya Farhan Maulana. Aku tiada hentinya berteriak dalam hati. “Oh ya, apa kau penggemar anime ?” tanyanya lagi. Aku heran kenapa dia tanya itu. mungkin karena gantunganku yang ia temukan tadi adalah salah satu karakter anime.
“Iya.. memangnya kenapa ? apa kau juga seorang penggemar anime?” aku balik bertanya. Apa dia memiliki kesamaan denganku ya? Pikirku.
“Nggak apa-apa sih.. iya, aku juga penggemar anime sepertimu.” Jawabnya tersenyum. Wah, ternyata dia memiliki kesamaan denganku. Aku senang sekali. Ditambah senyum yang ia lontarkan itu. Manis sekali ! teriakku dalam hati. Setelah kami mengetahui kesukaan masing-masing, kami menjadi akrab sekali hanya dengan membicarakan anime yang disukai kami berdua itu.
Tak terasa bus sudah sampai di halte tempatku turun. Aku pun segera berpamitan padanya.
“Aku duluan ya…” pamitku padanya.
“Iya.. sampai ketemu besok.” Balasnya dengan senyuman dan anggukan. Kemudian aku turun dari bus. Ketika aku sudah turun dan bis akan melaju, aku mendadahinya dan dia juga membalas ‘dadah’anku. Sungguh hari yang menyenangkan. Aku meninggalkan halte bus itu dan menuju rumah. Tapi… sepertinya ada yang kulupakan… oh iya, nomor handphonenya ! aku menepuk jidat. Haduh, gara-gara keasyikan mengobrol dengannya aku sampai lupa meminta nomor handphonenya. Padahal itu kesempatan.. gerutuku dalam hati. Aku mengutuk diriku karena telah melupakan hal penting itu. yasudahlah, besok saja aku memintanya. Mudah-mudahan dia satu bis lagi denganku.
***
To be Continued...
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.