Memo, chapter 1 - Sebelum Fajar

Kehidupan seorang ksatria atau pejuang di medan perang sudah sangat sering di ceritakan. Bagaimana kalau sekarang kita menceritakan seorang penulis. Penulis muda yg hendak meraih mimpinya. Namanya adalah Arya Sastrawardhana. Pemuda penuh semangat yg punya keinginan tinggi. Dengan rambut belah pinggir yg agak acak-acakan dan tubuh sedikit pendeknya dia tampak cocok dengan tatapan matanya yg tajam walau sedikit sayu. Kulitnya yg sawo matang dan gaya jalan yg agak sedikit menunduk terlihat seperti L di Death Note memiliki ciri khas sendiri. Saat ini dia baru lulus SMP. Dan dia tak tahu harus melanjutkan kemana. Jadi sekarang dia mengumpulkan teman-temannya. Mereka berkumpul di rumah salah seorang temannya. Namanya Hidayat.
"Hai Arya, kok kamu baru datang?" tanya Hidayat.
Dia sedang duduk di atas dipan yg ada di depan rumahnya. Rambutnya yg belah dua nampak semakin panjang setelah kelulusan. Dia adalah sobat karib Arya waktu SMP. Tubuhnya juga lebih tinggi dari Arya.
"Hehe.. maaf deh, barusan ada urusan bentar." jawab Arya sambil tertawa bodoh.
"Urusan apaan?" tanya Hidayat lagi.
"Biasa lah. Aku habis berkelahi dengan preman." jawab Arya tampak meyakinkan.
"Berkelahi dg Preman? Dimana?" tanya Hidayat tak percaya.
"Dalam mimpi." jawab Arya.
"What the??!!! Bilang aja kamu tidur atuh. Singkat padat dan jelas. Jadi gak berbelit-belit kayak tadi!!!" bentak Hidayat.
"Hehehe.. iya deh. Sorry bro..." ujar Arya tersenyum sambil garuk-garuk kepala.
"Oh ya, dimana yg lain?" tanya Arya saat melihat rumah itu sepi.
"Yg lain siapa maksudmu?" tanya Hidayat balik.
"Ya teman-teman kita." jawab Arya.
Arya memang mengajak teman-temannya lewat SMS, jadi tidak ada yg tahu satu sama lain kalau ngundang banyak teman.
"Oohh.. emang kamu ngasih tahu ke mereka akan ngumpul dimana? Kan harusnya mereka pada tahu rumahku." tanya Hidayat lagi.
"Hmm.. aku bilang mereka harus ngumpul dirumah salah seorang teman kita yg ada di kampung ini dengan nama yg huruf depannya H." jelas Arya sambil memegang dagu.
"Are you kidding me?!! Yg huruf depan namanya H dikampung ini kan bukan hanya aku!" pekik Hidayat terkejut.
"Ya aku juga ngasih clue tambahan yaitu dia bernapas pake paru-paru dan menghirup oksigen." tambah Arya yg lalu bersila tangan.
"What?! Clue macam apa itu? Semua manusia juga bernapas menggunakan paru-paru dan menghirup udara, bego!" protes Hidayat mulai kesal.
"Hahaha.. bercanda kok. Tentu saja aku bilang kalau kita akan berkumpul dirumahmu. Mungkin mereka lagi dijalan." jelas Arya sambil tertawa puas.
"Oohh.. gitu rupanya. Sial aku dikerjain lagi." gerutu Hidayat.
Di saat seperti itu datang beberapa SMS ke HP nya Arya.
"Wah.. gagal nih." ucap Arya saat membaca SMS itu.
"Ada apa?" tanya Hidayat.
"Katanya mereka gak bisa datang. Ada urusan mendadak." jawab Arya.
"Urusan mendadak Apa?" tanya Hidayat lagi.
"Ya aku tidak tahu. Disini tidak dijelaskan. Ada yg bilang urusan mendadak, urusan penting, urusan keluarga. Masih muda kok sudah banyak urusan ya?" jelas Arya sedikit bingung dan heran.
"Jadi gimana nih? Apakah kita lanjutkan diskusinya?" tanya Hidayat mau memastikan.
"Ya tentu." jawab Arya.
"Emang mau diskusiin apa sih?" tabya Hidayat yg bingung.
"Hmm.. tentang sekolah lanjutan kita. Jadi kamu mau melanjutkan kemana nih?" jawab Arya yg lalu bertanya balik.
"Ya.. kemana ya? Hmm.. mungkin gak kemana-mana. Soalnya aku gak punya biaya. Mungkin langsung kerja aja dah." jawab Hidayat.
"Hah? Kerja?" ucap Arya terkejut.
"Iya. Kalau kamu sih mau kemana?" tanya Hidayat.
"Aku tidak tahu. Karena itu aku mau mengumpulkan teman-temanku untuk diskusi. Aku ingin menyamakan sekolah kita supaya aku punya teman yg sudah ku kenal nantinya." jelas Arya.
"Lah kenapa gak dari dulu aja diskusiin nya? Kalau sekarang kan udah mepet banget. Apalagi daftarnya besok." ujar Hidayat.
"Ya aku tahu. Mestinya aku bisa lebih bijak pada diri sendiri. Aku membuat cerpen yg banyak kata-kata bijak untuk orang lain, tapi diriku sendiri masih belum sebijak itu." kata Arya sambil mengusap-ngusap keningnya seperti lagi pusing.
"Ya udah, pilih yg mana aja. Soal teman mah gampang. Nanti juga punya teman baru kan." ujar Hidayat.
Mendengar itu Arya pun sadar. Harusnya sekolah baru dan lingkungan baru juga harus punya teman baru. Kalau yg lama terus itu namanya tidak berkembang.
"Semakin banyak teman semakin baik kan. Ya, aku baru ingat itu." ujar Arya sambil tersenyum.
"Terima kasih ya, kawan. Kalau gitu aku mau pulang dulu. Udah sore nih." sambung Arya sambil berdiri.
"Ya, sama-sama. Hati-hati dijalan ya kawan." sahut Hidayat.
"Sip." jawab Arya.
Dan Arya pun pulang. Sambil berjalan pulang dia menuliskan di HP nya. Sebuah catatan kecil yg dinamakan Memo.

"Sebuah pilihan harus direncanakan dengan matang, karena apapun yg dadakan selalu jadi hal yg sulit."

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】