VocaWorld, chapter 120 - Angin Perubahan (Pengintai Yang Menunjukkan Dirinya)

Kamui dan Gumi bertemu lagi dengan El Rosyid yg saat itu bersama seorang anak laki-laki berjubah putih dengan penutup kepala.
"El Rosyid-dono! Sedang apa anda disana? Siapa dia?" tanya Kamui pada El Rosyid.
Namun El Rosyid tidak menjawab dan hanya tersenyum.
"Kenapa dia diam saja, Megu?" tanya Kamui pada Gumi.
"Mana aku tahu. Lagipula orang disebelahnya itu terlihat mencurigakan." jawab Gumi.
Kamui pun setuju dengan Gumi. Kemudian mereka berdua memperhatikan laki-laki disebelah El Rosyid dengan seksama.
"Mestikah aku memperkenalkan diri?" ucap laki-laki itu sambil membuka penutup kepalanya.
Dan terlihatlah wajah Dante oleh Kamui dan Gumi.
"Namaku Lucifer. Akulah pangeran kegelapan. Akulah orang yg memenuhi dunia ini dengan kegelapan dan rasa sakit, supaya manusia tahu betapa pentingnya sebuah kebahagiaan." ujar Dante sambil merentangkan kedua tangannya.
"Pa-Pangeran Kegelapan?!" ucap Gumi terkejut.
"Jadi dia yg disebut Pangeran Kegelapan." kata Kamui sambil menyipitkan matanya.
"Dari apa yg aku dengar, kalian berhasil mengalahkan banyak sekali pasukanku. Banyak bawahanku yg tewas karena kalian. Hebat sekali.." puji Dante dengan nada sombong.
Dante berjalan mendekati Kamui dan Gumi dengan santai.
"Tapi, nampaknya kalian tak sehebat The White Light. Hanya dia saja yg paling aku segani dari setiap musuhku. Karena dari semua orang yg pernah berhadapan denganku, hanya dia yg bisa mempermainkanku seperti itu." sambung Dante lalu membayangkan kejadian setahun yg lalu di bumi tengah ketika berhadapan melawan Ray.
Kamui dan Gumi terlihat sudah memasang kuda-kuda dan bersiap melawan.
"Dan kupikir, kalian sama sekali tak ada apa-apanya dengannya. Namun, dari yg kulihat saat ini. Sorot mata kalian tak ada bedanya dengan dirinya." ucap Dante kemudian membuat sebuah bola api hitam di tangan kirinya.
"Yg berbeda, mungkin hanya kekuatan kita saja." tambah Dante menatap penuh percaya diri pada Kamui dan Gumi.
Kemudian Dante melemparkan bola api ditangannya ke arah Kamui dan Gumi. Kamui dan Gumi melompat menghindari bola api yg jatuh diantara mereka itu. Bola api hitam sebesar bola volley itu membuat sebuah ledakan dan menghancurkan tanah dan apapun di sekitarnya dalam radius 20 meter.
"Api sekecil itu bisa menciptakan ledakan yg sangat besar?!" ucap Gumi sambil mendarat ditanah.
"Jadi inilah kekuatan dari Pangeran Kegelapan-dono." kata Kamui sambil mendarat juga.
"Seperti yg kuduga, kalian memang hebat. Bisa menghindari seranganku seperti itu." ujar Dante kemudian menyilangkan tangannya di depan dadanya.
Dari kedua telapak tangannya muncul dua bola api hitam lagi dengan ukuran yg lebih besar. Melihat hal itu, Kamui dan Gumi kemudian mengaktifkan dance acceleration mereka. Dan kemudian melemparkan kedua bola api itu tepat ke arah mereka. Dan kemudian terjadi 2 ledakan besar.
"Berhasil! Tuan lucifer memang hebat!" ucap El Rosyid sambil mengepalkan tangannya di depan wajahnya.
"Mereka tak mungkin kalah semudah itu. Mereka pasti ada di suatu tempat saat ini." ujar Dante merasa tak yakin serangannya mengenai Kamui dan Gumi.
Tiba-tiba ada bayangan menutupi diri Dante. Ternyata itu adalah bayangan Gumi yg sudah berada diatasnya melayang diudara. Gumi pun melakukan tendangan salto ke arah Dante. Dante menghindar berguling ke samping dan tendangan Gumi hanya mengenai tanah dan membuatnya terlihat retak dan hancur. Dan dengan cepat kemudian Gumi berputar bertumpu pada kaki kirinya dan menendang Dante dengan kaki kanannya. Dante pun terpental ke arah gedung dan menjebol dinding gedung itu masuk kedalam.
"Ti-tidak mungkin?! Tuan Lucifer kalah?!!" ucap El Rosyid tak percaya dengan apa yg dilihatnya.
Lalu sebuah katana sudah menempel di leher El Rosyid tanpa disadarinya. Ternyata disamping El Rosyid, Kamui sudah berdiri sambil menodongkan katananya ke leher El Rosyid.
"Kenapa El Rosyid-dono bisa bersama dengan Pangeran Kegelapan-dono?" tanya Kamui sambil menatap tajam ke arah El Rosyid.
Menyadari Kamui sudah menodongkan katananya dilehernya, El Rosyid terkejut dan mulai berkeringat.
"Cih!" ucap El Rosyid dengan wajah kesal.

Sementara itu, di markas terlihat sedikit sepi.
"Ada apa ini? Disini sepi sekali?" ucap Ralf yg saat itu menyamar sebagai Kamui.
"Sudah kuduga ini mencurigakan." sahut Emma yg saat itu sudah berubah menjadi Gumi.
"Hei Angin Fajar! Angin Senja! Kenapa kalian kembali? Bukankah kalian bilang ingin duluan ke markas Pangeran Kegelapan?" tanya Aisyah yg tiba-tiba saja muncul dan menyapa mereka.
"Eeeuh.. sebenarnya ada yg saya lupakan." jawab Ralf berusaha meniru gaya bicara Kamui.
"Lupa? Lupa apa?" tanya Aisyah dengan penasaran.
"Hmm.. itu rahasia. Ngomong-ngomong dimana barang kami yg lain?" jawab Ralf kemudian bertanya balik.
"Oohh.. itu ada di ruang santai." jawab Aisyah.
"Ruang santai?" ucap Ralf yg tidak tahu tempatnya.
"Ya, masa kalian lupa. Kalian kan keluar dari sana." sahut Aisyah sambil tersenyum.
"Bukannya kami lupa letak ruang santai nya. Namun kami hanya tak tahu dan bingung dengan tulisan di papan nama itu." balas Emma sambil menunjuk ke arah papan nama diatas pintu.
"Oohh.. begitu. Itu artinya ruang santai." jawab Aisyah.
"Oohh.. jadi itu ya artinya. Kami memang tak tahu banyak tentang bahasa kalian." ujar Emma.
"Iya tak apa kok. Kalau gitu aku pergi dulu ya." kata Aisyah berpamitan pada mereka berdua.
Kemudian Aisyah pun pergi meninggalkan mereka berdua sendirian.
"Ini saatnya. Kamu masuk ke dalam sendirian dan cara barang-barang dari Angin Fajar dan Angin Senja. Aku akan ke tempat lain untuk mengumpulkan informasi yg lainnya." suruh Ralf.
"Baiklah, kakak." sahut Emma.
Kemudian Emma masuk ke dalam ruangan yg disebut ruang santai oleh Aisyah itu. Sementara Ralf pergi ke tempat lain berpisah dengan Emma.
"Dari apa yg kami dapat barusan, sepertinya benar kapten itu membocorkan rahasia tuan Lucifer. Pertama aku harus mencari informasi tentang Angin Fajar dan Angin Senja. Kemudian aku harus mengeksekusi semua orang di tempat ini." ujar Ralf dalam hati sambil berjalan.
Dijalan, dia berpapasan dengan Kapten Al Hadid.
"Oohh.. Angin Fajar. Kenapa kamu kembali?" sapa kapten Al Hadid pada Ralf.
"Ya, saya kembali karena ada sesuatu yg saya lupakan. Hmm.. eeuu.." sahut Ralf sambil bergaya seperti orang lupa yg kemudian mencoba mengingat kapten Al Hadid.
"Kapten Al Hadid. Namaku Kapten Al Hadid." sahut kapten Al Hadid.
"Oh iya, kapten Al Hadid. Ada sesuatu yg aku ingin tanyakan padamu." kata Ralf yg berpura-pura telah ingat lagi.
"Mau tanya apa?" sahut kapten Al Hadid.
"Apa aku tampak seperti orang timur saat ini?" tanya Ralf.
"Ya, pakaianmu saat ini memang tampak seperti orang timur. Namun, anehnya gaya bicaramu kali ini seperti orang barat." jawab kapten Al Hadid.
"Sial, aku lupa mengubah aksenku." ujar Ralf dalam hati.
"Hahaha.. mungkin karena saya sudah terlalu lama dibarat." sahut Ralf mencoba mencari alasan.
"Sudah terlalu lama dibarat? Bukannya kamu orang timur?" ujar kapten Al Hadid dengan nada curiga.
Ralf semakin tersudut karena perkataan kapten Al Hadid tadi.
"Kurang ajar, tingkat kapten memang sulit untuk diakali. Walau aku mendapat informasi kalau mereka memang berasal dari timur, namun jika terus begini aku bisa ketahuan." gerutu Ralf dalam hati sambil tetap berusaha menyembunyikan kepanikannya dengan tetap tersenyum bodoh.
"Kapten, menurut anda apakah saya cukup kuat untuk mengalahkan pangeran kegelapan?" tanya Ralf lagi mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ya, kalian sangat kuat. Kalian mampu mengalahkan musuh yg tak bisa kami lawan dengan mudah sekali." jawab kapten Al Hadid.
"Jadi mereka sekuat itu?!" ucap Ralf dalam hati terkejut.
"Tapi saya masih ragu, soalnya saya tidak tahu benar letak kekuatan saya. Menurut anda, saya kuat kalau sedang apa?" tanya Ralf lagi mencoba menggali informasi.
"Bagaimana bisa orang pemilik kekuatan tapi tidak tahu kekuatan miliknya tersebut. Harusnya kamulah yg paling tahu tentang kemampuanmu kan?" jawab kapten Al Hadid dengan santai.
"Mengesalkan! Orang ini selalu bisa ngeles dari menjawab pertanyaanku." kata Ralf dalam hati karena kesal.
"Sekarang giliranku bertanya. Bagaimana kamu bisa mendapatkan kemampuan itu?" tanya kapten Al Hadid.
"Haha.. aku juga tidak tahu. Mungkin dari alat ini." jawab Ralf sambil menunjuk headphone di kepalanya.
"Tidak, bukan itu yg ingin aku tanyakan." sahut kapten Al Hadid.
Sementara itu di dalam ruangan yg disebut ruang santai itu.
"Sial ini bukan ruang santai. Ini jebakan." ujar Emma yg terlihat berkeringat.
Ternyata di sekelilingnya banyak sekali orang sedang menodongkan senjata ke arahnya.
"Ini memang ruang santai. Kamu bisa bersantai sepuasnya menjadi tawanan kami." sahut Aisyah yg berjalan santai dibelakang Emma.
Begitu pula di belakang Ralf. Saat ini sudah banyak yg mengepung dan menodongkan senjata ke arahnya. Dan kapten Al Hadid pun sama. Dia sedang menodongkan pistol ke arah Ralf.
"Bagaimana caranya kalian bisa tahu kami palsu?" tanya Ralf tampak geram.
"Ada yg memberitahu kami kalau kalian akan akan datang." jawab kapten Al Hadid.
"Sial!" ucap Ralf.

Di tempat pertarungan Gumi dan Kamui melawan Dante, suasana sangat tenang semenjak Dante terlempar ke dalam gedung.
"Apa dia sudah mati?" ucap Gumi melihat ke arah dinding yg jebol.
"Hebat sekali! Saat ini kalian pasti bisa membuatku terhibur." ujar Dante dari dalam gedung.
Kemudian terjadilah ledakan besar yg menghancurkan dan meruntuhkan bangunan 4 lantai itu. Setelah bangunan itu runtuh, dari balik api yg berkobar terlihat sosok anak laki-laki dengan mata menyala menatap ke arah Gumi dengan senyum menyeringai. Jubahnya saat itu sudah terbakar habis, hanya tinggal pakaian kaos putih dengan jirah hitam dan celana pendek hitam lalu mahkota bertanduk saja yg dia pakai.
"Saatnya untuk serius." ujar Dante kemudian membuat bola api hitam ditangan kirinya.
Kemudian dia melemparkannya ke arah Gumi, dan bola api sebesar bola basket itu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Gumi. Gumi terkejut melihat kecepatan yg sama sekali berbeda dari yg sebelumnya. Kemudian dia melesat menghilang menghindari bola api itu. Bola api itu menghantam bagian bawah sebuah gedung tinggi dan menghancurkan pondasinya dengan ledakan yg besar. Gedung itu pun runtuh jatuh miring ke arah Gumi muncul lagi. Gumi terkejut ada bayangan yg menutupi dirinya. Dan saat melihat ada gedung yg hendak menimpa dirinya dia kembali terkejut. Gumi berlari melesat ke depan untuk menghindar, namun di depannya Dante sudah bersiap lagi melemparkan bola api yg saat ini ada di tangan kanannya. Dalam gerak lambat, Gumi tampak sadar kalau dia ada di situasi yg serba salah. Dia juga tak punya waktu untuk menghindar lagi. Kamui menyadari hal itu.
"Batto Jutsu! Hembusan Angin Pertama Di Pagi Hari!" ucap Kamui kemudian menebaskan pedangnya vertikal ke atas lurus ke depan ke arah Dante.
Tebasan itu menciptakan hempasan angin yg kuat. Dante menyadari hal itu, dan melemparkan bola api itu ke kanan ke arah Kamui. Dan kembali ke gerak normal bola api juga hempasan angin itu saling beradu menciptakan ledakan yg cukup besar.
"Aku harus lari!" ucap El Rosyid yg melihat ada kesempatan.
Saat Kamui terfokus pada ledakan, El Rosyid menendang Kamui dengan kaki kirinya. Kamui pun terpental dan berguling-guling ditanah. Sementara El Rosyid melarikan diri. Saat itu Gumi yg terperangkap mendapatkan sebuah ide.
"Mungkin ini bisa." ujar Gumi lalu melompat ke arah gedung yg roboh itu. Gumi melompat ke jendela dan menembus berlari di ruangan yg miringnya hampir 90 derajat itu.
"Kau takkan bisa lari." ucap Dante lalu menembakan bola api ke arah Gumi.
Tapi Gumi berhasil selamat dari ledakan bola api itu karena dia bisa keluar dari sisi lain gedung tepat sebelum ledakan. Dan dia terangkat keatas akibat hempasan angin dari ledakan tersebut. Gedung itu pun roboh sampai ke tanah, tapi Dante tidak terkena runtuhan gedung itu karena bagian atas gedung itu sudah hancur oleh serangan barusan. Dante pun menyingkirkan asap debu dengan satu hempasan tangannya saja.
"Hebat sekali. Bisa memikirkan cara seperti itu saat sedang terdesak." puji Dante pada Gumi yg saat itu sudah mendarat diatas reruntuhan gedung sambil membelakanginya.
Gumi kemudian menoleh ke arah Dante. Lalu menghilang dan dalam sekejap muncul di samping Dante dengan posisi melayang di udara dan hendak menendang kepala Dante dengan kaki kanannya dalam gerak lambat. Dante terkejut dan tak bisa menghindar. Kembali ke gerak normal, Dante terkena tendangan Gumi dan terpental jauh ke kiri. Kemudian Gumi mengejar dan menendang Dante ke depan dengan tendangan kaki kiri sambil berputar ke kanan. Dante terpental jauh ke belakang melambung ke atas. Gumi lalu mengejar lagi dengan cepat dan menendang Dante lurus ke depan dengan kaki kanannya. Dante pun melesat dan menjebol menembus sebuah gedung lalu terguling-guling ditanah memantul beberapa kali.
"Dia cepat sekali, aku tak bisa mengimbanginya." ujar Dante sambil bangkit lagi.
Gumi melesat dengan cepat dan sudah bersiap lagi menendang Dante dari atas dengan tendangan salto ke bawah.
"Tunggu, ini terlalu cepat." ucap Dante yg terkejut melihat Gumi sudah melayang diatasnya lagi.
Dante menghindar kebelakang sehingga tendangan Gumi hanya menyentuh tanah saja.
"Ayo, lawan aku. Kenapa kamu menghindar terus?" ujar Gumi.
Dante pun hanya bisa menatap Gumi sambil bersiap melompat. Gumi melesat ke arahnya, dan saat itu Dante melompat ke atas. Gumi mengejarnya. Mereka berdua pun bertarung dari satu gedung ke gedung lain. Mereka kadang juga ke tanah atau masuk ke salah satu lantai gedung. Gerakan mereka sangat cepat.

Di markas, Ralf dan Emma yg sekarang masih terjebak terlihat masih tenang saja.
"Hebat sekali kalian bisa menyadari kami itu palsu. Dan juga sangat cerdik membuat markas ini lengang tapi kemudian membuat sebuah jebakan untuk kami. Siapa yg memberi tahu kalian tentang hal ini?" tanya Ralf pada kapten Al Hadid.
"Memang ini sedikit mengejutkan juga untuk kami. Karena kami hanya diberitahu lewat sepucuk surat. Ditambah informasi di dalam ini benar-benar tepat dengan apa yg terjadi saat ini." jelas kapten Al Hadid.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." ucap Ralf menatap tajam ke arah kapten Al Hadid.
"Kamu tak perlu tahu ini dari siapa. Yg pasti, dia adalah orang yg paling hebat dalam peperangan ini menurut kami." jawab kapten Al Hadid sambil tersenyum.
"Begitukah? Kalau begitu, akupun tak perlu menyerah pada kalian." ujar Ralf kemudian membanting sesuatu ke lantai dan keluar asap pekat yg menyebar dengan cepat.
"Apa ini?!! Gas air mata!!" ujar kapten Al Hadid saat menyadari matanya mulai pedih.
Begitu pula di tempat lain, Emma yg dikepung oleh Aisyah dan pasukannya pun melakukan hal yg sama.
"Kalian cepat buat lingkaran, jangan biarkan dia kabur!" suruh Aisyah pada pasukan yg dipimpinnya.
Gas itu mulai menghilang, dan Emma sudah tak ada ditempatnya lagi.
"Dia menghilang?! Bagaimana bisa!?" ucap Aisyah terkejut melihat Emma sudah tak ada.
Tampak tak ada celah antara pasukannya, tapi Aisyah tak habis pikir kenapa Emma bisa kabur. Begitu pula kapten Al Hadid.
"Tunggu? Ini seperti sulap. Bagaimana bisa dia menghilang dari kepungan pasukanku di lorong sempit ini? Apa dia bisa berteleportasi?" pikir kapten Al Hadid.
"Sebentar.. rasanya ini juga ada di surat itu. Rute pelarian mereka." ucap kapten Al Hadid kemudian mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya.
Kapten Al Hadid kemudian membaca lanjutan perintah di surat itu.
"Semuanya, sepertinya kita semua harus ke atap." ucap kapten Al Hadid kemudian memasukkan kertas itu ke sakunya lagi.
Para pasukannya pun menurutinya dan segera pergi.
"Aisyah, segera siapkan pasukan di luar. Kita tutup semua jalan keluar. Bahkan lubang udara sekalipun." suruh kapten Al Hadid pada Aisyah melalui radio.
Di saluran udara, terlihat Ralf dan Emma sedang menuju ke atap.
"Tak kusangka kita sampai harus kabur dengan cara seperti ini. Padahal aku ingin seperti biasanya, kita keluar lewat pintu depan." gerutu Emma dibelakang Ralf.
"Ya, pasti pada akhirnya kita akan pakai juga cara ini. Tadi aku hampir takut bom asap kita tidak bekerja karena telalu lama tidak dipakai." sahut Ralf yg kemudian menembakan tali berpengait ke atas dari ikat pinggangnya.
Pengait dari tali itu pun mengait di ujung atas saluran udara itu. Dan dia pun meluncur ke atas menggunakan ikat pinggangnya itu. Disusul oleh Emma yg juga menembakkan pengait ke sisi yg lain.
"Masalahnya sekarang siapa yg memberi mereka instruksi." ujar Ralf sambil meluncur ke atas.
"Ya, pergerakan mereka terlalu cepat dan terorganisir dengan sangat akurat." tambah Emma.
Saat sampai ke atas, mereka pun keluar dari saluran udara. Saat ini mereka ada diatap.
"Sial, mereka benar-benar mengetahui seluruh rencana kita." ucap Ralf saat menyadari kalau saat ini ternyata mereka berdua sudah terkepung oleh pasukan.
"Benar-benar menyusahkan. Seharusnya kalian menyerah saja tadi. Supaya kalian juga tidak cape menyusuri saluran udara sambil bertelungkup seperti tadi." kata kapten Al Hadid sambil berdiri dengan santai menodongkan sebuah pistol berbentuk mirip peluit.
"Haha.. lucu sekali. Tapi sayang sekali kami akan kabur lagi dengan mudah." ujar Ralf dengan nada kesal lalu membanting sebuah bola lagi.
Tapi kali ini tak terjadi apa-apa. Kapten Al Hadid dan pasukannya pun hanya bengong karena heran.
"Sudah kuduga, ada beberapa yg tidak layak digunakan lagi?!!!" ucap Ralf kaget saat sadar bom asapnya tidak bekerja.
"Hahaha.. makanya sebelum gunakan lihat dulu tanggal kadaluarsa nya." ujar kapten Al Hadid tampak mengejek.
"Kau kira makanan pakai tanggal kadaluarsa segala! Lagipula ini buatan tangan kami sendiri!" bentak Ralf.
"Ya kalau gitu tinggal kalian tulis tanggal kadaluarsa nya kan gampang." tambah kapten Al Hadid.
"Hah? Untuk apa? Lagipula kalau kami lihat tanggal kadaluarsanya dulu sebelum digunakan yg ada kami akan ketembak duluan!!" pekik Ralf.
"Ya kalau ketembak ya itu nasib kalian. Terimakan saja.." ujar kapten Al Hadid.
"Kurang ajar!" ucap Ralf kesal.
"Kakak, ini buruk. Dibawah juga banyak pasukan mereka." kata Emma sambil melihat ke bawah dan ada Aisyah beserta pasukannya disana.
"Menyerahlah, kalian sudah dikepung!" suruh kapten Al Hadid.
"Kami sudah mengantisipasi hal ini. Karena itu, kami menaruh bom-bom di dalam saluran udara tadi yg waktunya sudah kami atur." kata Ralf dengan santai.
"Begitu pula dengan kami." sambung kapten Al Hadid.
Kemudian kapten Al Hadid beserta semua pasukannya berlari ke arah Ralf dan Emma.
"Ke-kenapa mereka berlari kemari?!!" ucap Ralf terkejut.
"Kakak aku baru sadar mereka membawa tas aneh!" ucap Emma.
Lalu terjadi ledakan besar, dan api menjulang tinggi ke angkasa.
"Tidak!! Kapten!!!" teriak Aisyah saat melihat ledakan itu.
Dan ada yg menariknya mundur untuk menghindari efek ledakan. Gedung markas itu pun runtuh.
"Kita selamat." ucap Ralf tampak tenang.
"Ya. Tapi, aku masih merasa gelisah dengan tas aneh mereka." sahut Emma.
Saat itu mereka berdua tampak menggunakan sebuah gantole berwarna hitam berdua.
"Persis seperti yg dikatakan di surat, kalian memang menggunakan bom waktu dan gantole portable untuk kabur." teriak seseorang dari belakang mereka.
Hal itu membuat mereka berdua terkejut. Kemudian mereka pun menoleh ke belakang.
"Kalian pikir bisa kabur dari kami semudah itu!" teriak orang yg ternyata itu kapten Al Hadid.
Ternyata dibelakang Ralf dan Emma, ada kapten Al Hadid dan pasukannya yg mengejar menggunakan parasut.
"Cih!" ucap Ralf tampak kesal.

Ditempat lain, laki-laki bersorban tampak melihat gantole yg dikejar pasukan kapten Al Hadid dari kejauhan melalui teropong.
"Nampaknya semuanya berjalan sesuai rencana. Lalu bagaimana dengan si pengkhianat?" ucap laki-laki bersorban lalu melihat ke arah kanan.
Dan terlihatlah ada El Rosyid yg terbelalak kaget melihat si laki-laki bersorban. Dia hanya berdiri terpaku saat itu.
"Halo tuan poni panjang. Bagaimana harimu?" sapa laki-laki yg mengaku bernama An Nur itu.
"Hariku jadi sangat buruk karenamu. Seandainya kamu tidak datang, pasti rencanaku berjalan dengan mulus." ujar El Rosyid tampak kesal.
"Sebaliknya, hariku tampak sangat baik saat ini. Semua rencanaku berjalan dengan lancar." sahut An Nur.
"Aku tidak tanya." balas El Rosyid.
Sementara di tempat Kamui, Kamui terlihat sudah berdiri lagi dan berjalan sendirian.
"Kemana Megu? Dia selalu saja begitu kalau terlalu bersemangat. Seenaknya saja meninggalkan orang." gerutu Kamui.
"Apa yg dilakukan seorang samurai sendirian di sebuah kota di timur tengah seperti ini? Apa kau tersesat?" tanya Ryan yg sedang duduk santai disebuah reruntuhan.
Ryan saat itu tampak sedang memainkan gitar listrik.
"Melody is something knocking to heart's door. It ringing deep inside your soft core." ucap Ryan berpuisi sambil memainkan nada-nada dengan gitarnya.
"Anthem of slashing melody!" tambah Ryan sambil melompat turun dan berdiri tegak.
Dan kemudian gitar itu berubah menjadi pedang besar, dan muncul topi bulat dengan wajah tertawa jahat dikepalanya.
"Ingin adu pedang denganku, tuan samurai!" tantang Ryan tampak memanggul pedang besarnya dibahu kanannya.
"Kuharap anda tidak akan mengecewakan saya, keriting-dono." ujar Kamui sambil bersiap mencabut katananya.
"Harusnya aku yg berkata seperti itu, bocah samurai." sahut Ryan sambil mengayunkan pedang besarnya kedepan dan menodongkan ujung pedang itu ke arah Kamui.
Dan dua pengguna pedang itu pun saling berhadapan dan siap untuk bertarung.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】