VocaWorld, chapter 121 - Angin Perubahan (Akhir Pasukan Pengintai)
Kamui berhadapan dengan Ryan. Dengan senyum diwajahnya, Ryan tampak yakin bisa menang melawan Kamui. Hal itu membuat Kamui berpikir lagi untuk melawannya.
"Kenapa dia senyum-senyum terus dari tadi? Apa dia tahu kalau saya akan kalah? Tidak mungkin. Saya adalah seorang samurai. Saya takkan mudah dikalahkan begitu saja dalam hal menggunakan pedang." pikir Kamui sambil menatap tajam ke arah Ryan.
"Kenapa ragu-ragu? Ayo maju!" tantang Ryan yg tampak sudah memanggul pedang besar dari gitarnya.
Kamui kemudian menutup matanya lalu memasukan kembali katananya ke dalam serangka nya.
"Baiklah kalau kau tak mau maju duluan. Biar aku saja!!" ucap Ryan kemudian mengayunkan pedangnya ke bawah dan memunculkan gelombang berwarna kuning.
Gelombang mirip api itu melesat ke arah Kamui. Namun Kamui masih tampak memejamkan matanya.
"Naga yg tertidur tenang di dalam gua nya. Naga yg bermimpi tentang kedamaian. Jangan coba mengusiknya.." gumam Kamui sambil mengambil kuda-kuda beberapa saat sebelum gelombang itu mengenai dirinya.
"Atau dia akan mengeluarkan taringnya!!!" teriak Kamui sambil menebas gelombang itu dengan cepat.
Hal itu membuat sebuat percikan besar menghentikan gelombangnya.
"Haha.. hebat! Memang orang yg ada di tingkat para pahlawan itu beda." ujar Ryan dan tampak senyumnya semakin melebar seakan merasa puas dengan lawannya saat ini.
Gelombang itu menghilang memperlihatkan Kamui yg berdiri dengan gagah sambil memasukan katana nya kedalam serangka nya lagi.
"Dance: Samurai Warrior." ucap Kamui dan cahaya keunguan pun menyelimuti tubuhnya.
Lalu Ryan pun melesat ke arah Kamui dengan cepat, dia berlari tepat kehadapan Kamui lalu mengayunkan pedang besarnya hendak menebas Kamui. Kamui menangkis tebasan Ryan dengan katana nya yg dicabut dengan cepat dari serangka nya. Ryan berkali-kali mencoba menebas Kamui, namun Kamui dengan cepat menangkisnya dengan cara mencabut katana nya, menangkis, lalu kembali memasukannya kembali ke serangkanya.
"Bocah macam apa dia ini?! Dia menangkis seranganku, setiap serangan pedang besarku dengan setenang itu." ujar Ryan dalam hati sambil melompat ke belakang menjauh beberapa langkah dari Kamui.
"Ditambah dia mencabut pedang, melakukan tebasan lalu memasukannya lagi dengan sangat cepat. Aku baru melihat yg seperti itu. Ternyata di timur masih banyak hal yg menarik." tambah Ryan dalam hati.
"Kenapa mundur? Ayo maju." tantang Kamui sambil menoleh ke arah Ryan.
"Sialan, dia membalikan kata-kataku beberapa saat tadi." kata Ryan merasa sedikit jengkel.
Ryan pun mengangkat pedang besarnya itu lagi. Kemudian mengayunkannya kebawah membuat sebuah gelombang lagi.
"Teknik yg sama takkan mempan pada saya, keriting-dono" ucap Kamui.
"Kata siapa ini teknik yg sama, hah!" kata Ryan yg kemudian mengayunkan pedangnya ke atas membuat gelombang kedua yg lebih besar di belakangnya.
Kamui tampak terkejut lalu memasang kuda-kuda dan bersiap mencabut pedangnya.
"Terlambat!" ucap Ryan sambil tersenyum lebar.
Kamui pun tetap mencoba menebas gelombang itu meskipun ia tahu sudah terlambat. Terlihat gelombang itu pecah, tapi Kamui tertutupi oleh gelombang itu. Setiap percikan gelombang itu menutupi Kamui hingga tak terlihat lagi.
Di tempat lain, El Rosyid yg sedang berlari kabur dari Kamui terus berlari menjauh dari medan pertempuran. Kemudian dia berhenti di gang antara dua bangunan.
"Nampaknya aku sudah cukup jauh dari mereka. Tak kusangka, mereka berdua sehebat itu. Gadis itu juga, bagaimana dia bisa menandingi dan membuat pangeran kegelapan kerepotan?" ujar El Rosyid terlihat ngos-ngosan.
"Ya benar sekali, aku juga tak menyangka kamu akan benar-benar menuju kemari. Kamu memang menjauh dari medan pertempuran." ujar seseorang tak jauh dari ujung gang.
El Rosyid pun menoleh ke arah datangnya suara itu.
"Ternyata itu kau, anak baru. Apa semua ini ulahmu?" tanya El Rosyid tampak tersenyum.
"Siapa yg tahu." jawab orang itu.
El Rosyid pun datang mendekat ke arah orang itu dan nampaklah dengan jelas kalau orang yg mengajaknya bicara adalah An Nur.
"Sejak awal aku memang sudah curiga padamu." ujar El Rosyid.
An Nur tidak memberikan respon akan hal itu, dia hanya berdiri mematung.
"Kau tiba-tiba saja masuk pasukan pengintai, dengan kemampuan pengumpulan informasi dan pengintaian diatas rata-rata untuk seorang pemula. Kau terlalu hebat." sambung El Rosyid sambil berjalan mendekati An Nur yg berdiri tidak bergerak dan hanya menatap lurus ke arah El Rosyid dengan mata yg masih tertutup goggle hitam.
Dibelakang punggung nya El Rosyid mengeluarkan sebuah asap hitam yg berubah jadi gitar bass dan dalam sekejap berubah jadi kapak. Dan dengan cepat dia menebas An Nur dan membelah tubuhnya menjadi dua.
"Hahaha.. mati kau!" ucap El Rosyid tertawa puas.
Namun saat memperhatikan lagi dengan seksama, El Rosyid pun tercengang. Dia sampai tak bisa bicara lagi. Mulutnya hanya terbuka dan terkejut melihat tubuh yg terbelah dua itu. Ternyata itu bukan tubuh asli, dan hanya boneka.
"Terima kasih sudah naik ke atas panggung. Penampilan yg sangat bagus. Sekarang, saatnya turun." ucap An Nur yg berdiri santai dibalik tiang listrik tepat disebelah mulut gang dimana El Rosyid keluar.
An Nur sudah mengangkat tangannya ke atas. Saat El Rosyid hendak menoleh, An Nur pun menjertikkan jarinya dan seketika muncul percikan listrik dari atas tanah yg dipijak oleh El Rosyid. Dan itu berhasil melumpuhkan El Rosyid dan membuatnya tak sadarkan diri.
"Baiklah, disini sudah selesai. Mungkin aku harus segera melihat mereka juga." ujar An Nur yg sudah tak memakai sorban lagi berjalan mendekati tubuh El Rosyid yg tergeletak ditanah kemudian menoleh ke arah timur.
"Atau mungkin tidak. Kupikir aku harus percaya pada mereka. Aku harus percaya pada kekuatan mereka." ujar An Nur sambil terlihat senyuman dibibirnya.
Saat itu Gumi masih bertarung dengan Dante dengan kecepatan tinggi. Mereka bertarung dari satu tempat ke tempat lain dengan gerakan yg cepat. Kemudian Dante mendarat ditanah setelah sebelumnya melompat dari atas gedung. Gumi pun muncul dari atas Dante hendak menendang Dante. Dante menghindar ke samping, dan tendangan Gumi hanya menghantam tanah.
"Apa kamu tidak cape lari terus kesana kemari, hah?" tanya Gumi.
"Tidak. Bagaimana denganmu?" jawab Dante lalu bertanya balik pada Gumi dengan senyuman diwajahnya.
"Tentu tidak! Aku tidak mungkin cape hanya dengan hal ini. Apalagi jika lawannya adalah kamu." jawab Gumi tampak kesal dengan tatapan Dante.
"Haha.. aku jadi terkesan. Apa sampai segitunya kamu ingin melawanku?" ucap Dante sambil mengangkat kedua tangannya di samping bertingkah sombong.
"Diamlah! Dan rasakan ini!" bentak Gumi yg lalu melesatkan tendangan ke arah kepala bagian kiri Dante.
Dante mencondongkan badannya ke kanan menghindari tendangan Gumi. Gumi kemudian melakukan tendangan dengan kaki kirinya ke arah perut Dante, Dante bergeser ke kiri menghindari tendangan itu dengan mudahnya. Gumi kemudian mengayunkan kaki kirinya ke arah kepala Dante, dan dengan mudahnya Dante menghindari tendangan itu dengan mencondongkan badannya ke belakang, lalu menendang pantat Gumi hingga Gumi terdorong ke depan.
"Kulihat kau semakin melambat. Ada apa? Katanya belum cape."
"Sudahlah diam saja! Kamu tak perlu mencemaskan lawanmu kan?" bentak Gumi yg tampak terengah-engah.
"Sial, pantatku sakit. Bisa-bisanya dia menendang pantatku saat aku lengah." gerutu Gumi dalam hati sambil memegangi pantatnya yg kena tendang Dante.
"Buat apa aku mencemaskanmu. Hanya saja, tak menarik jika sebuah pertarungan berat sebelah kan?" sahut Dante.
"Hah? Aku tak tahu pangeran kegelapan begitu memperhatikan sebuah fair fight." balas Gumi.
"Memangnya ada yg salah dengan sebuah pertarungan yg fair?" tanya Dante.
"Bukan itu, yg salah itu kamu. Kamu kan penjahat, kenapa begitu memperhatikan hal seperti itu?" jawab Gumi.
"Ya.. mau bagaimana lagi? Aku memang bukan tipe orang yg suka membuat sebuah strategi licik. Aku adalah orang yg menghadapi apa yg ada dihadapanku." balas Dante.
"Jadi bisa dibilang kalau kamu itu bodoh." ujar Gumi.
"Hah?! Siapa yg kau bilang bodoh!?" bentak Dante.
"Hehe.. sekarang aku tahu kalau pangeran kegelapan adalah orang yg bodoh." ejek Gumi dengan tatapan yg mengolok-olok.
"Stop memanggilku bodoh! Jangan sampai aku marah!" bentak Dante dengan wajah kesal.
"Memangnya mau apa kalau marah?" tanya Gumi dengan senyuman mengejek.
"Aku akan.. eeuu.. akan apa ya?" sahut Dante yg malah bingung sendiri.
Gumi pun jadi heran melihatnya. Dia tak menyangka kalau dugaannya ternyata benar.
"Sudahlah! Pokoknya saat ini aku sudah tak mau bertarung denganmu lagi! Kita akan bertemu lagi di pertempuran selanjutnya! Gadis kelinci!" ucap Dante sambil menunjuk ke arah Gumi.
Kemudian Dante pun melompat pergi meninggalkan Gumi.
"Cih, dia kabur. Dia memang benar, saat ini aku sudah tak sanggup lagi melompat. Kakiku sudah lemas saat ini." ucap Gumi yg kemudian melihat ke arah kedua kakinya yg mulai gemetar.
Sementara itu, Ralf dan adiknya masih dikejar oleh kapten Al Hadid beserta pasukannya.
"Kita tak bisa begini terus." ucap Ralf.
"Tapi kita harus mendarat dimana?" tanya Emma.
Ralf pun mulai melihat-lihat ke setiap atap bangunan.
"Nampaknya mereka berencana mendarat. Kalian segera siapkan senjata kalian." perintah kapten Al Hadid ke semua pasukannya melalui radio.
Saat Ralf sibuk mencari tempat mendarat, ternyata gantole nya di tembaki oleh pasukan kapten Al Hadid. Dan gantole itu pun mulai banyak berlubang.
"Mereka menembaki kita!" ucap Emma.
"Sial, kita tak punya pilihan lain selain mendarat saat ini juga sebelum jatuh." sahut Ralf yg kemudian mengarah ke sebuah atap bangunan dan melompat.
Ralf dan Emma pun mendarat diatas atap bangunan seluas 100 meter persegi itu.
"Adik, lari!" suruh Ralf pada Emma.
"Tapi, kakak!" sahut Emma.
"Aku akan berusaha menahan mereka selama mungkin! Kau segeralah lari!" suruh Ralf pada adiknya itu.
"Tidak! Aku tak akan meninggalkan kakak!" tolak Emma.
"Dasar bodoh!" bentak Ralf.
Kapten Al Hadid pun mulai mendarat dan di susul oleh pasukannya.
"Kalian sudah tak bisa lari lagi. Menyerahlah." pinta kapten Al Hadid pada Ralf dan Emma.
"Larilah dasar bodoh!" bentak Ralf sambil menjambak baju Emma lalu melemparnya ke gedung sebelah.
Di gedung sebelah memang ada tangga ke bawahnya, berbeda dengan gedung tempat Ralf saat ini.
"Haaaa!!!" teriak Ralf ke arah kapten Al Hadid sambil mengeluarkan sebuah pisau.
"Tembak!" suruh kapten Al Hadid kepada anak buahnya.
Ralf pun kemudian ditembaki sebelum sempat sampai ke tempat kapten Al Hadid. Dan Ralf pun ambruk tepat di hadapan kapten Al Hadid.
"Kakak!!!" teriak Emma dari gedung sebelah melihat kakaknya ditembaki oleh pasukan kapten Al Hadid.
"Maafkan aku harus melakukan ini, tapi kamu tak memberiku pilihan lain, tuan pengintai." ujar kapten Al Hadid.
"Kalian, tangkap perempuan itu. Biar yg satu ini aku yg urus." suruh kapten Al Hadid pada anak buahnya.
"Baik kapten." sahut anak buahnya.
"Sial, aku harus lari!" ucap Emma yg kemudian lari menuju ke tangga.
Emma menuruni tangga itu kemudian lari menjauh dari tempat itu secepat yg ia bisa.
"Maafkan aku kakak, aku meninggalkanmu disana. Maafkan aku.." ucap Emma dalam hati sambil menangis dan berlari.
Sedangkan, disaat yg sama ditempat Kamui, tampak Kamui tergeletak ditanah.
"Sudah selesai ya? Padahal ku harap bisa lebih lama bertarung denganmu. Meskipun kuat, tapi tetap saja kau hanya bocah. Kau takkan lebih kuat dari orang dewasa." ujar Ryan dengan sombong sambil memanggul pedang besarnya.
"Harapanmu terkabul." ucap Kamui yg tampak berdiri lagi.
Kamui tampak tidak luka sama sekali. Hanya saja baju dan beberapa bagian tubuhnya tampak kotor oleh tanah.
"Ti-tidak mungkin?! Bagaimana bisa kamu bertahan dari serangan tadi?" tanya Ryan terkejut.
"Jika saya kalah oleh serangan seperti itu, bagaimana bisa saya mengalahkan 1000 pasukan? Bagaimana bisa saya akan mengalahkan pangeran kegelapan?" jawab Kamui tampak tenang sambil memasukan kembali katana nya ke dalam serangka nya.
"Seharusnya aku tidak berharap bisa melawannya lebih lama tadi." kata Ryan dengan suara pelan.
"Kalau sudah begini, aku tak punya pilihan lain!" ucap Ryan sambil berputar lalu mengayunkan pedangnya searah putarannya.
Dan ayunan pedang itu membuat sebuah gelombang yg mengarah ke arah Kamui secara horisontal. Kamui menebas gelombang itu dengan pedangnya dan memecah gelombang itu. Cahaya keunguan kembali menyelimuti tubuh Kamui. Kemudian Kamui melesat ke depan dan berlari ke arah Ryan. Ryan mengayunkan lagi pedangnya secara diagonal ke kiri bawah, Kamui menghindar ke arah kirinya dengan cepat menghindari gelombang itu. Ryan kembali mengayunkan pedangnya diagonal ke kanan bawah, tapi Kamui kembali bisa menghindar. Saat ini Kamui sudah sampai di samping Ryan. Ryan tampak sangat terkejut, sehingga mata sipitnya tampak terbuka saat ini. Tapi itu sudah terlambat, Kamui sudah mencabut pedangnya dan menebas rusuk kiri Ryan. Dengan tenang Kamui berjalan menjauhi Ryan, dan memasukan katana nya ke dalam serangka nya. Tapi anehnya Ryan yg tadinya tampak terkejut ternyata malah tersenyum. Kemudian dia berbalik dengan cepat dan melesatkan tebasan ke arah Kamui yg membuat sebuah gelombang cukup besar. Kamui pun terhempas dan terlempar oleh kuatnya gelombang itu, tubuh Kamui pun menghantam dan mencebol dinding bangunan di hadapannya.
"Kalau kau pikir bisa mengalahkanku dengan tebasan seperti itu, aku tak mungkin menjadi anggota nomer 1 dari semua pasukan pengintai." ucap Ryan sambil tersenyum dan mengubah lagi pedangnya menjadi gitar.
"Ba-bagaimana bisa.. dia.." ucap Kamui terdengar kesakitan dan berusaha bangkit lagi.
Ryan hanya tersenyum kemudian berbalik pergi meninggalkan Kamui. Tampak tubuhnya yg terkena tebasan hanya sebuah kegelapan dan bekas tebasan itu pun menutup lagi.
"Sampai jumpa lagi, bocah samurai. Kuharap pertarungan selanjutnya lebih menarik." ucap Ryan sambil meninggalkan Kamui dan pergi ke barat.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.