VocaWorld, chapter 122 - Angin Perubahan (Persiapan Perang Akhir)
Emma dan Ryan berhasil melarikan diri, sementara Ralf dan pasukan pengintai yg lain berhasil tertangkap. Mereka semua saat ini jadi tahanan pasukan mindy. Meski markas hancur karena bom, pasukan mindy tidak kehilangan akal. Mereka menggunakan beberapa bangunan tidak terpakai di sekitar markas untuk menahan para tahanan.
"Kapten!" panggil salah satu pasukan mindy pada kapten Al Hadid.
"Ya, ada apa? Apa semuanya sudah beres?" tanya kapten Al Hadid.
"Ya. Para tahanan sudah kami urus." jawab pasukan yg melapor tersebut.
"Baguslah. Berarti kita hanya perlu menghubungi pihak pusat, kita perlu mempersiapkan penyerangan ke pusat satanism. Tepatnya ke markas pangeran kegelapan." kata kapten Al Hadid yg berdiri dekat jendela memperhatikan ke luar ke arah barat.
Tampak matahari terbenam di arah barat di gurun pasir.
"Aisyah, apa kendarannya sudah siap?" tanya kapten Al Hadid pada Aisyah yg berdiri di belakangnya.
"Iya. Kami berhasil memperbaiki salah satu kendaraan yg terkena ledakan di markas. Dan saat ini sudah siap dipakai." jawab Aisyah.
"Bagus. Sekarang aku akan pergi menemui jendral. Aku harus melaporkan ini. Kamu berjagalah disini." suruh kapten Al Hadid pada Aisyah.
"Baiklah, kapten." terima Aisyah yg tampak lesu.
Kapten Al Hadid pun berjalan menuju ke pintu, dan berhenti sejenak saat melewati Aisyah.
"Apa kamu masih memikirkan tentang El Rosyid?" tanya kapten Al Hadid.
Aisyah hanya diam dan menundukkan kepalanya.
"Jangan terlalu dipikirkan, Aisyah. Memang seperti yg dikatakan oleh Angin Fajar dan Angin Senja, nampaknya dia berkhianat pada kita. Tapi kita tidak tahu alasannya. Sampai saat ini dia masih belum sadar. Jadi aku takkan melaporkan masalah El Rosyid. Karena, kita masih kekurangan bukti." sambung kapten Al Hadid berusaha menenangkan Aisyah.
Kemudian kapten Al Hadid melanjutkan langkahnya ke arah pintu.
"Kapten!" panggil Aisyah membuat kapten berhenti lagi tepat saat hendak membuka pintu.
Kapten Al Hadid pun menoleh ke arah Aisyah.
"Te-terima kasih." ucap Aisyah.
"Tak perlu berterima kasih. El Rosyid adalah sahabatku sejak masuk militer hingga masuk pasukan mindy. Aku takkan percaya jika ia berkhianat tanpa alasan yg jelas." sahut kapten Al Hadid sambil tersenyum.
"Kapten.." ucap Aisyah lagi sambil tersenyum.
"Kalau gitu aku pergi dulu." ujar kapten Al Hadid yg kemudian keluar dari ruangan itu.
Di atap bangunan itu, Kamui dan Gumi sedang melihat matahari terbenam dari atas.
"Maafkan aku, aku tak berhasil menangkap Pangeran Kegelapan." ucap Gumi.
"Kenapa harus minta maaf? Kau tidak salah, Megu. Sudah pasti kau takkan bisa menangkapnya semudah itu. Dia adalah Pangeran Kegelapan. Pemimpin satanism. Pastilah dia terlalu kuat untukmu saat ini. Bahkan mungkin untuk kita berdua sekalipun." balas Kamui yg berdiri disamping Gumi yg duduk di pinggiran.
"Ya, bahkan dia sama sekali belum berkeringat saat aku sudah kelelahan." ujar Gumi dengan kepala tertunduk dan tersenyum menahan sesal.
"Ya, mungkin hanya The White Light-dono saja yg akan bisa mengalahkannya. Tapi yg mengejutkanku, ternyata Pangeran Kegelapan itu seumuran denganmu, Megu." sahut Kamui sambil membayangkan wajah Pangeran Kegelapan.
"Ya, tapi ada sesuatu yg aneh dengannya." kata Gumi sambil melihat ke arah matahari.
"Sesuatu yg aneh?" tanya Kamui yg tak mengerti.
"Rasanya, saat bertarung dengannya, dia sepertinya bukan orang jahat sama sekali." jawab Gumi sambil membayangkan pertarungannya dengan Pangeran Kegelapan.
"Hah? Apa yg kau katakan, Megu? Tentu saja itu tak mungkin kan. Dia adalah pemimpin pasukan satanism yg membumi hanguskan negara-negara dibarat selama ini. Sudah pasti dia jahat." balas Kamui yg tak setuju dengan perkataan Gumi.
Matahari pun terbenam seluruhnya. Gumi berdiri dan berbalik ke arah Kamui.
"Ya, kamu benar juga." ujar Gumi sambil tersenyum.
"Tapi, banyak sekali yg masih aneh dalam pertarungan kemarin." tambah Gumi sambil tampak berpikir.
"Aneh?" sahut Kamui yg bingung.
"Kita disuruh untuk pergi, lalu kebetulan bertemu dengan pangeran kegelapan. Lalu, El Rosyid yg berhasil tertangkap karena tak sadarkan diri. Dan para pasukan pengintai yg terjebak dan tak bisa kabur karena terkepung. Apa menurutmu semua kebetulan itu tidak terlalu aneh?" tanya Gumi.
"Mungkin saja itu adalah kehokian kita yg besar kan. Jadi jangan terlalu dipikirkan." sahut Kamui.
"Hoki sih hoki. Tapi ini hoki nya kan kelewatan. Kalau sampai Pangeran Kegelapan mengamuk disini gimana urusannya?" ujar Gumi sambil menatap kesal ke arah Kamui.
"Hahaha.. iya juga sih. Yg satu itu memang bukan sebuah ke hokian." sahut Kamui.
"Dasar! Makanya kalau ngomong itu mikir dulu!" bentak Gumi.
"Haha.. iya maaf." ujar Kamui.
Kemudian Gumi dan Kamui turun kebawah dan mereka pun bertemu dengan Aisyah yg hendak menuju ke ruang perawatan tahanan yg terluka.
"Aisyah-san!" sapa Gumi pada Aisyah.
"Oh.. Angin Senja, Angin Fajar." sahut Aisyah saat melihat Gumi dan Kamui.
"Anda mau kemana, Aisyah-dono?" tanya Kamui.
"Aku mau melihat El Rosyid." jawab Aisyah.
"Kenapa Aisyah-dono begitu perhatian pada pengkhianat seperti El Rosyid-dono?" tanya Kamui lagi.
"Karena saat ini hanya aku dan kapten Al Hadid yg dimiliki olehnya. Semua keluarganya telah tiada akibat serangan pertama pasukan satanism beberapa tahun yg lalu. Kalau sampai aku dan kapten Al Hadid juga membencinya, aku yakin dia malah akan makin hancur. Yg perlu kita lakukan saat ini kupikir hanya terus berada disisinya dan menyadarkannya lalu mengembalikannya kejalan yg benar." jelas Aisyah.
"Maafkan saya, saya tidak tahu kalau kejadiannya ternyata seperti itu." ucap Kamui tampak menyesal setelah mendengar penjelasan Aisyah.
"Makanya tadi kubilang kan untuk pikirin dulu kalau mau ngomong tuh!" bentak Gumi.
"Iya-iya! Aku kan sudah minta maaf tadi!" balas Kamui.
"Kalian akrab sekali. Apa kalian teman sejak kecil?" tanya Aisyah tampak tertawa kecil melihat Kamui dan Gumi.
"Ya, kami memang sudah berteman sejak kecil. Dia 4 tahun lebih tua dariku, tapi dia lebih kekanak-kanakan dariku!" jawab Gumi.
"Hah?! Siapa yg kau bilang kekanak-kanakan, Megu!" bentak Kamui saat mendengar perkataan Gumi.
"Memangnya kenapa!? Bukankah itu benar!? Apalagi kalau bukannya kekanak-kanakan kalau melakukan hal tanpa dipikir dulu!" bentak Gumi.
"Hahaha.. dasar Megu ini.. seorang laki-laki dewasa itu tidak perlu berpikir dalam bertindak. Bagi seorang samurai, kita hanya perlu mengikuti naluri kita." jawab Kamui dengan percaya diri dan penuh kebanggaan.
"Jadi, dengan kata lain samurai itu harus bego? Gitu?" sahut Gumi.
"Bukan gitu! Aaarrgh!!! Maksudku itu.." ujar Kamui tampak kesal dan berusaha memberi penjelasan.
"Maksudnya apa?" sahut Gumi sambil menatap tajam sambil tersenyum dan mencondongkan wajahnya ke arah Kamui berusaha memojokkan Kamui.
"Aaargh! Sudahlah!" balas Kamui yg tampak menyerah untuk berpikir.
"Kalian benar-benar dekat ya.." ucap Aisyah sambil tersenyum.
Kemudian mereka pun masuk ke sebuah ruangan. Disana ada beberapa tahanan terluka yg sedang dirawat. Lalu di ranjang yg ada di ujung, tampak El Rosyid yg berbaring dan masih belum sadarkan diri. Aisyah pun berjalan menuju ke samping ranjangnya diikuti oleh Kamui dan Gumi.
"Dia tampak baik-baik saja sepertinya." ujar Gumi saat melihat El Rosyid dari dekat.
"Ya, saat ini dia masih pingsan. Kemungkinan dia hanya shock atau semacamnya." sahut Aisyah.
"Tapi kita tidak tahu siapa yg melumpuhkan El Rosyid-dono. Jadi bukankah kita jangan terlalu yakin kalau El Rosyid-dono hanya shock." tambah Kamui.
"Tapi menurut laporang, tidak ada keanehan yg lain kok ditubuhnya. Tidak ada luka ataupun cedera serius. Jadi kemungkinan dia dilumpuhkan dengan electroshock atau semacamnya." jelas Aisyah.
"Aku sangat berterima kasih pada orang yg menghentikan El Rosyid. Dia dengan baik hati melumpuhkan tanpa melukainya. Aku tidak tahu apa jadinya kalau sampai El Rosyid kembali ke markas Pangeran Kegelapan dengan membawa kegagalan. Hukuman apa yg akan dijatuhkan pihak satanism padanya." kata Aisyah sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya.
"Aisyah-san.." ucap Gumi saat melihat sorot mata Aisyah yg tampak sangat bersyukur.
Disaat itu, El Rosyid tersadar. Dia mulai membuka matanya secara perlahan.
"Tu-tuan Lucifer.." ucap El Rosyid saat terbangun.
"Ke-kenapa malah namanya yg kamu sebut, El Rosyid?" ucap Aisyah dengan suara sangat pelan.
"Ah, ternyata aku tertangkap ya." ujar El Rosyid saat penglihatannya mulai jelas.
Ruangan itu pun tampak hening sejenak tidak ada yg memulai bicara diantara mereka.
"Memang tidak aneh kalau aku tertangkap. Orang yg kulawan memang bukan tandinganku." kata El Rosyid sambil tersenyum.
"El Rosyid, kenapa? Kenapa kamu mengkhianati kami?" tanya Aisyah.
"Jika ditanya kenapa aku juga tidak tahu. Hanya saja entah kenapa hatiku ini ingin lebih membela tuan Lucifer." jawab El Rosyid.
"Apakah kami tidak berharga untukmu? Padahal kami begitu mengkhawatirkanmu. Aku dan kapten Al Hadid beserta semua teman-teman kita pun selalu bertanya-tanya apa El Rosyid baik-baik saja saat masih menjadi pasukan pengintai." sambung Aisyah tampak sedih.
"Kalian memang sahabatku.. karena itu..", "Karena itu apa!!? Pasti kamu kan yg membocorkan jalan pelarian kami! Pasti kamu juga yg membunuh tawanan kami yg menjadi narasumber penting kami!" potong Aisyah pada perkataan El Rosyid.
"Karena itu aku sengaja melakukan semua itu! Aku tak ingin kalian ataupun tuan Lucifer terluka. Aku tak ingin kalian sampai berhadapan dengan tuan Lucifer apalagi sampai menyerang markas besarnya dimana seluruh pasukan dan para kapten terkuat berkumpul!" jelas El Rosyid membentak Aisyah.
Aisyah terkejut mendengar penjelasan El Rosyid. Tapi dia juga sedikit marah karena disamakan dengan Pangeran Kegelapan.
"Dasar bodoh! Kenapa masih saja kamu mengkhawatirkan Pangeran Kegelapan!? Dia itu orang jahat!" bentak Aisyah mengeluarkan kekesalannya.
"Justru sebaliknya. Saat pertama kali aku menyusup ke pasukan pengintai juga aku berpikir kalau dia itu jahat. Tapi, itu berubah setelah aku bertemu dengannya langsung. Tuan Lucifer begitu hangat. Beliau anak yg polos dan baik. Dan yg perlu kalian tahu, setiap orang dipasukannya itu semuanya adalah orang terbuang yg kemudian diangkat oleh tuan Lucifer dari jalanan." jelas El Rosyid lagi.
"Jadi maksudmu dia memanfaatkan orang-orang terbuang untuk kepentingannya? Itu malah lebih buruk. Itu lebih dari sekedar jahat. Itu licik!" tukas Aisyah.
"Jangan pernah menjelekkan tuan Lucifer! Memangnya menurutmu kenapa beliau datang kemari!? Dia pasti mendengar kalau salah satu pasukan pengintainya tewas oleh orang yg sama yg membantai 1.000 pasukannya." pekik El Rosyid.
"Pangeran Kegelapan datang sendirian kemari hanya untuk seorang pasukan pengintai?!" ucap Gumi terkejut.
"Bukan sekedar 'seorang pasukan pengintai'. Tapi keluarga." sahut El Rosyid.
"Ke-keluarga?!" ucap Kamui yg juga terkejut.
"Aku tak percaya dengan apa yg kamu katakan. Pasti itu hanya sebuah kebohongan." ujar Aisyah yg juga terkejut namun tak mau percaya.
"Kupikir itu bukan bohong. Menurutku seluruh pasukan pengintai yg kita tangkap sekarang dikhususkan untuk kami." kata Gumi yg mulai mengerti.
"Ya, dari yg kudengar beliau begitu marah karena kehilang 1.000 pasukan utama dibarisan depan gara-gara kalian berdua. Dan saat mendengar kabar kalau kalian terlihat di kota ini, dia langsung mengerahkan seluruh pasukan pengintai dan menyebar di seluruh penjuru kota untuk menemukan kalian dan mengumpulkan informasi lalu kembali untuk melapor. Tapi ternyata situasi nya malah jadi rumit." ujar El Rosyid menanggapi perkataan Gumi.
Kamui, Gumi dan Aisyah pun mulai tertunduk dan merenung.
"Aku tahu ini hal gila, tapi.. kalau kalian memang mau menyerang markas besar tuan Lucifer, tolong usahakan tangkap beliau tanpa terluka. Jangan bunuh beliau. Beliau masih anak-anak. Masih ada waktu baginya untuk memperbaiki diri." pinta El Rosyid sambil tersenyum.
Tengah malamnya, kapten Al Hadid kembali. Dan seluruh pasukan mindy dibawah kepemimpinannya dikumpulkan di lobi bangunan yg mereka tempati saat ini. Begitu pula Kamui dan Gumi.
"Baiklah, aku sudah melaporkan semuanya pada jenderal. Dan beliau sudah menghubungi KemenHan. Besok, kita sudah bisa mulai bergerak. Pihak negara lain juga akan mulai melancarkan serangan. Jadi kita takkan sendirian." ujar Al Hadid.
"Kapten! Tapi saat ini mindy kita tak bisa di isi ulang! Apa kapten sudah tahu masalahnya?" tanya salah satu pasukan.
"Ya, aku sudah menanyakannya juga pada jenderal. Ternyata sudah terjadi penyerangan terhadap sumber energi mindy kita. Begitu juga negara-negara lain beberapa bulan sebelumnya. Tapi kita tetap bisa menggunakan mindy kita berkat pihak Amerika yg bersedia memberikan sumber energi mereka untuk penyerangan terakhir kita." jawab kapten Al Hadid.
"Yeah! Akhirnya kita bisa mengisi ulang energi mindy kita lagi!" sorak salah satu pasukan kemudian di ikuti sorakan lain dari teman-temannya.
"Jadi saat ini beristirahatlah dulu. Besok kita akan melakukan pertempuran besar. Siapkan fisik dan mental kalian. Kita tak boleh kalah!" ucap kapten Al Hadid dengan semangat.
"Yeah!" sahut para pasukannya.
"Oh ya, Aisyah.. dimana Angin Fajar dan Angin Senja?" tanya Al Hadid menghampiri Aisyah.
"Mereka sudah tidur. Apa kamu lupa kalau mereka itu masih anak-anak?" jawab Aisyah.
"Ya, benar juga. Mereka terlalu hebat, hingga aku lupa kalau mereka itu masih anak-anak." ujar kapten Al Hadid.
Sementara itu di tengah padang pasir, berdiri sebuah tenda kecil. Di dalamnya ada seorang gadis terikat tangan dan kakinya.
"Sial, aku tidak menyangka akan tertangkap semudah itu oleh bocah ini. Siapa sebenarnya dia?" gumam Emma yg tiduran dengan tangan dan kaki terikat membelakangi seorang anak laki-laki.
Sebelumnya, saat Emma berjalan menyusuri gurun pasir.
"Kuharap kakak baik-baik saja." ujar Emma tampak bercucuran keringat meskipun saat itu matahari hampir terbenam.
"Aku harus kembali dan melaporkan ini pada tuan Lucifer supaya beliau menyelamatkannya." sambung Emma sambil terus menyusuri padang yg membentang luas dan semuanya pasir itu walau tubuhnya sudah lelah.
"Tenang saja, kakakmu takkan mati." kata seorang laki-laki dari belakang.
Emma terkejut lalu berusaha menoleh kebelakang. Namun sebelum sempat menoleh, laki-laki itu memukul leher bagian belakangnya.
"Kurang ajar.." ucap Emma disisa kesadarannya sebelum ambruk tak sadarkan diri.
"Harusnya kamu berkata, 'terima kasih'." kata laki-laki yg memukulnya itu.
Kembali ke masa sekarang. Emma masih berusaha melepaskan dirinya dari ikatan di lengan dan kakinya.
"Tidurlah. Jangan sia-siakan tenagamu untuk melepaskan ikatan itu. Bukankah besok kamu harus kembali ke markas?" ujar anak laki-laki dibelakangnya.
"Hah! Aku tak punya waktu untuk besok." sahut Emma dengan wajah kesal.
"Jangan bodoh. Saat ini kamu sudah terlalu kelelahan. Bisa-bisa kamu mati sebelum bisa melintasi gurun ini. Kamu butuh istirahat." balas anak laki-laki itu.
"Jadi kamu membuatku pingsan agar aku bisa istirahat. Tapi.. kenapa kamu mengikatku juga!!!?" kata Emma yg tampak malu-malu pada awalnya kemudian dengan nada kasar di akhir.
"Jangan berisik. Ini sudah malam. Aku sengaja mengikatmu agar kamu tidak kabur dan memaksakan diri untuk melintasi gurun ini. Besok juga aku lepaskan." jelas anak laki-laki itu.
"Jangan bohong! Janjilah kamu akan melepaskanku!" bentak Emma.
"Ya." sahut anak laki-laki itu yg tak lain adalah An Nur yg kemudian tidur lagi.
Emma pun kemudian memutuskan untuk tidur dan percaya pada kata-kata nya. Pagi hari pun tiba. Pasukan mindy sudah bersiap-siap untuk berangkat.
"Kita tak punya kendaraan lagi saat ini. Jadi kita akan berjalan kaki. Ayo kita tunjukkan semangat kita disetiap langkah kaki kita. Ini adalah pertempuran terakhir. Ayo kita lakukan dengan hati penuh semangat!" teriak kapten Al Hadid.
Kemudian puluhan pasukannya pun bersorak. Sementar itu di tenda di tengah padang pasir. Emma terbangun dari tidurnya. Dan ternyata benar, ikatan tangan dan kakinya sudah terlepas.
"Dia menepati janjinya. Tapi.. pergi kemana dia?.." ujar Emma saat menoleh ke belakang ternyata anak laki-laki itu sudah tidak ada.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.