VocaWorld, chapter 123 - Angin Perubahan (Perang Akhir Dimulai)

Di singgasana nya, Pangeran Kegelapan tampak menggerak-gerakan lututnya sambil duduk terlihat seperti kesal menunggu sesuatu. Tak lama kemudian datanglah Ryan ke ruangan itu kemudian menunduk memberi hormat.
"Tuan Lucifer, saya ingin melaporkan sesuatu." ucap Ryan.
"Apa lagi? Bukankah semuanya sudah kamu laporkan semalam?" tanya Dante.
"Kali ini berbeda, tuan. Nampaknya mereka sudah mengetahui keberadaan markas kita. Karena, saya melihat dari timur ada pasukan sedang menuju ke mari." jawab Ryan.
"Begitu rupanya." sahut Dante tampak memikirkan sesuatu.
"JB! Segera siapkan pasukan di perbatasan. Kita cegat mereka sebelum sampai kemari!" suruh Dante pada June yg juga ada disitu.
"Siap, tuan!" sahut JB yg kemudian pergi keluar dari ruangan.
"Dan satu lagi tuan." ujar Ryan tampak ingin menambahkan sesuatu.
"Apa itu?" tanya Dante.
"Tampaknya, mereka mendapat bantuan tak terduga dari seseorang." tambah Ryan sambil tersenyum.
"Seseorang? Siapa?" tanya Dante lagi tampak penasaran.
"The White Light." jawab Ryan sambil melihat ke arah Dante dan mempertahankan senyumnya.
Dante tampak terkejut mendengarnya. Tangan kirinya tampak meremas sandaran tangan tempat duduknya dengan keras. Ditempat lain, Emma berhasil kembali ke kota tempat adanya markas pasukan Pangeran Kegelapan.
"Sebenarnya siapa bocah itu? Dia datang dan pergi begitu saja. Kalau ketemu lagi bakalan ku pukul dia." gerutu Emma sambil berjalan dengan kesal.
Tiba-tiba ada yg menariknya dari samping. Dan sebuah peluru lewat tepat di depan wajah Emma saat ditarik oleh seseorang itu.
"Dasar bodoh, kenapa kamu masuk ke kota dengan setenang itu? Saat ini seluruh pasukan sedang dalam mode siaga." ujar orang yg menariknya bersembunyi dibalik dinding sebuah bangunan.
"Kau lagi! Ini semua pasti karena ulahmu kan? Aku adalah salah satu pasukan pengintai, kalau aku memperkenalkan diri pasti mereka tidak akan menembakku. Pasti kaulah yg mereka incar saat ini." tukas Emma.
"Benarkah begitu? Kalau begitu coba saja kalau tidak percaya." ucap anak laki-laki yg pernah mengikat Emma itu.
Emma pun keluar dari balik dinding dan berdiri di tengah jalan.
"Jangan tembak! Ini aku dari pasukan pengintai! Namaku Emma!" teriak Emma berteriak pada sniper.
Kemudian sniper itu melapor lewat radio pada pimpinannya.
"Kapten June, barusan ada yg mengaku anggota pasukan pengintai. Apa kita biarkan lewat?" tanya sniper itu.
"Jangan tertipu! Tembak saja dia! Anggota pasukan pengintai.." ujar pimpinan sniper itu melalui radio.
"Semuanya sudah tertangkap musuh." lanjut pimpinan itu yg ternyata adalah June.
"Siap, laksanakan!" sahut sniper itu.
Kemudian sniper itu menembak ke arah Emma lagi. Beruntung tembakannya sedikit meleset dan hanya menggores pipinya. Emma sangat terkejut. Sniper itu mengokang lagi senapannya dan mulai mengincar Emma lagi.
"Ke-kenapa?" ucap Emma tampak sangat terkejut.
Sniper pun tampak hendak menarik pelatuk senapannya.
"Setelah semuanya, apa aku akan mati disini?" sambung Emma yg kemudian seperti hendak menangis.
Tapi sebelum sempat menarik pelatuknya, tiba-tiba bangunan tempat adanya sniper itu terkena sambaran petir hingga hancur.
"Petir?! Di siang yg cerah seperti ini?!" ucap June yg terkejut mendengar suara petir.
"Petir ini.. itu pasti ulahnya." ujar Dante yg juga mendengar suara itu.

Dari arah gurun pasir, pasukan kapten Al Hadid mendengar dan melihat petir itu dengan jelas.
"Petir yg menggelegar di siang hari, padahal tak ada awan ataupun hujan. Itu pasti The White Light." ujar kapten Al Hadid.
"Apa?! The White Light?!" ucap Aisyah tampak terkejut.
"Jadi The White Light-dono ada disana?" kata Kamui yg juga terkejut.
"Nampaknya seperti itu. Dia mendahului kita." sahut kapten Al Hadid.
"Mendahului? Maksudnya dia tadinya ada dikota yg sama dengan kita?" tanya Gumi yg mengerti maksud kapten Al Hadid.
"Ya, karena dialah yg memberikan kita instruksi saat menghadapi pasukan pengintai waktu itu." jawab kapten Al Hadid.
"Pantas saja, jadi semua kejadian kemarin itu bukan hanya sebuah kebetulan. Pahlawan legenda memang hebat." sahut Gumi.
"Tapi kalau sampai The White Light-dono menggunakan petirnya, itu pasti ada sesuatu yg gawat." ujar Kamui.
"Tumben kali ini otakmu jalan, Gaku-Gaku." kata Gumi dengan nada mengejek.
"Tentu saja, memang menurutmu otakku itu tidak bekerja, Megu!" bentak Kamui.
"Ya kan biasanya kamu hanya menggunakan 'naluri' mu saja, Gaku-Gaku." sahut Gumi sambil memberi isyarat tanda kutip dengan kedua tangannya.
Kamui pun merasa kesal.
"Memang benar, kalau sampai dia menggunakan petir, itu artinya dia menghadapi sesuatu yg serius disana." pikir kapten Al Hadid tanpa memperdulikan pertengkaran Kamui dan Gumi.
"Semuanya! Bersiap-siap dalam mode bertempur! Nampaknya pihak musuh sudah menyiapkan sejumlah pasukan di perbatasan kota. Kita harus siaga!" perintah kapten Al Hadid pada pasukannya.
"Siap, kapten!" sahut para pasukannya dengan serentak.
Mereka pun mulai menyiapkan senjata mereka dan mulai maju dengan mengendap-ngendap diatas pasir. Akhirnya mereka pun sampai di dekat perbatasan kota, mereka bersembunyi dibalik dinding bangunan dan maju secara perlahan dari satu bangunan ke bangunan yg lain. Tak jauh darisana, Emma sekarang menuju ke pusat kota bersama An Nur.
"Hei bocah, jangan-jangan kau itu The White Light?" tanya Emma pada An Nur yg memimpin di depannya.
"Jangan sekarang. Saat ini kita harus berkonsentrasi untuk menuju ke markas pusat mereka." sahut An Nur.
Saat itu An Nur memang tampak memakai earophoid juga memakai pakaian yg tampaknya berwarna biru bermotif putih dibalik jubah hitamnya, walau wajahnya selalu membelakangi Emma.
"Semakin dia tak mau menjawabnya, semakin membuatku penasaran. Apalagi petir putih terangnya itu, sangat jelas kalau dia adalah The White Light." gumam Emma tampak curiga.
"Oke, tampaknya sudah aman. Kita mulai bergerak lagi!" suruh An Nur sambil memberi isyarat untuk maju.
"Aku tidak mau!" tolak Emma.
"Tapi, kalau kita disini terus, kamu akan terjebak diantara pasukan mindy dan pasukan satanism." bujuk An Nur.
"Kalau memang harus mati, maka mati saja. Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Hidupku sudah tak berharga lagi." sahut Emma yg tampak keras kepala tak mau dibujuk oleh An Nur.
"Jangan mengatakan hal yg bodoh. Bagaimana dengan kakakmu?" tanya An Nur.
"Kakakku sudah mati, dasar sialan!" bentak Emma pada An Nur sambil mendorongnya keluar dari persembunyian.
An Nur pun terjatuh ke tengah jalan, dan salah satu pasukan Pangeran Kegelapan pun menyadarinya. Dengan tampak menangis dan wajah yg tampak kesal, Emma menatap An Nur sejenak. Kemudian Emma pun pergi meninggalkan An Nur yg mulai dikepung.
"Dasar perempuan. Selalu bertindak sebelum aku sempat menjelaskan." kata An Nur yg berdiri lagi dengan tenang meski telah terkepung.

Di suatu tempat, Ryan tampak sedang menyusuri kota. Dia sedang menelusuri sesuatu yg membuatnya tertarik.
"Dia sudah ada disini. Aku tak menyangka kalau dia akan bergerak lebih cepat daripada pasukan mindy. Kupikir tadinya dia akan bekerja sama dengan mereka. Tapi nampaknya dia akan melakukan semuanya sendiri." pikir Ryan sambil berjalan dengan santai.
Kemudian dia melihat Emma lewat didepannya. Emma berlari dan tak sadar kalau ada Ryan melihatnya dari kejauhan. Ryan pun berhenti dan kemudian tersenyum licik.
"Dia masih hidup rupanya." ujar Ryan.
Dari arah timur pasukan mindy mulai mendekat. Saat itu Emma juga lewat.
"Hei lihat, itu dia perempuan pasukan pengintai itu!" ujar salah satu pasukan kapten Al Hadid.
"Benar, itu dia!" sahut teman disebelahnya.
Kemudian mereka pun menembaki Emma. Emma pun terhenti, dan berbalik berlari menghindari peluru kemudian menghilang dibalik bangunan.
"Sial. Mereka sudah sampai kemari. Aku harus mencari jalan lain!" pikir Emma yg bersembunyi dibalik bangunan.
Kemudian Emma berlari ke arah utara berusaha memutari pasukan mindy. Namun tiba-tiba Emma terhenti dan ekspresinya seperti terkejut bercampur shock.
"Lady's first.. to die.." ucap Ryan yg ternyata menghentikan Emma dengan cara memukul perutnya.
"Ku-kurang.. ajar.." ucap Emma yg tersungkur dan kemudian kehilangan kesadarannya akibat rasa sakit diperutnya.
Pasukan mindy pun sampai ditempat itu.
"Kemana perginya?" ucap salah seorang dari mereka mencari-cari Emma.
"Larinya cepat sekali." gerutu seorang disebelahnya.
Saat itu Emma dan Ryan ternyata memang sudah menghilang entah kemana.
Di dalam markas pasukan pengintai, tampak Emma terikat ke sebuah tiang besi. Emma mulai sadarkan diri dan melihat Ryan duduk dengan santai memperhatikannya.
"Cih, apa yg akan kau lakukan padaku, Ryan!" bentak Emma.
"Apa ya? Apa aku perlu memberitahumu?" jawab Ryan dengan nada santai.
"Sialan! Lepaskan aku!" pekik Emma yg merasa kesal.
"Sekarang kau adalah mainanku. Bersikaplah yg baik. Tak ada yg bisa melindungimu lagi saat ini." ujar Ryan sambil tersenyum licik.
Ryan pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Emma.
"Jangan membuat wajah seperti itu. Mestinya kamu senang aku akan mempertemukanmu dengan kakakmu." ujar Ryan sambil memegang dagu Emma.
Emma tampak sangat geram pada Ryan. Matanya menatap tajam terlihat seperti ingin membunuhnya.
"Sebaiknya yg mana dulu yg harus aku potong?" ucap Ryan yg tampak sudah mengeluarkan pisau dari balik jubahnya.
Tiba-tiba atapnya runtuh dan hendak menimpa Ryan. Ryan melompat kebelakang dan berguling untuk menghindar. Dan dari runtuhan itu muncul sosok anak yg tampak tak asing bagi Ryan ataupun Emma.
"Membuat jalan masuk sendiri saat tahu tangga dan lift sudah ku tutup. Ditambah berpose seperti itu. Kau benar-benar tahu bagaimana terlihat keren, The White Light." kata Ryan saat melihat sosok itu.
"Maaf jika aku memang terlalu keren untukmu." sahut sosok yg mulai nampak jelas itu.
Dan memang benar, ternyata itu adalah Shiro Ray berumur 10 tahun. Tatapan mata sayu dan rambut hitam pendeknya sangat jelas. Meskipun pakaiannya tertutup jubah hitam.
"Jadi benar dia adalah.. The White Light." ujar Emma dalam hati saat melihat Ray yg tadinya mengaku bernama An Nur itu.
"Kenapa kau menolongku, bocah?" tanya Emma.
"Memangnya aku akan diam saja melihat seorang perempuan dalam bahaya, nona." jawab Ray.
"Lagipula, kamu takkan bisa bertemu dengan kakakmu lagi kalau kamu mati disini." sambung Ray sambil menoleh ke arah Emma.
"A-apa kamu bilang?!" ucap Emma terkejut mendengarnya.
"Kakakmu masih hidup. Dan saat ini dia mendapatkan perawatan di tempat penahanan pasukan mindy." sahut Ray.
"Jangan bohong!" bentak Emma tak percaya.
"Kalau kamu tak percaya, silahkan cari tahu sendiri saja." balas Ray yg tampak tenang menanggapinya.
Ryan melesat ke arah Ray memanfaatkan kelengahan Ray. Namun sebaliknya, ternyata Ray sudah menduga hal itu dan Ray berhasil menghindari serangan tusukan pisau Ryan ke arahnya. Ray menangkap tangan Ryan kemudian memelintirnya ke belakang. Pisau ditangan Ryan pun terjatuh ke lantai. Ray menendang pisau itu mendekati kaki Emma. Kemudian Ryan berusaha menginjak kaki kanan Ray dengan kaki kanannya. Namun Ray melangkahkan kaki kanannya kebelakang menghindari injakkan Ryan. Tekanan ke tangannya pun melonggar sehingga Ryan langsung menendangkan kaki kanannya ke arah wajah Ray. Ray mundur dan melepaskan tangan Ryan untuk menghindar.
"Haha.. ternyata kau tak sehebat yg dibicarakan." ucap Ryan yg kemudian melancarkan pukulan ke arah Ray.
Ray menghindarinya dan mudah dengan cara berputar ke kanan kemudian mendorong punggung Ryan hingga Ryan menghantam dinding dengan keras.
"Cih, dia hebat juga." gerutu Ryan.
"Jadi mana yg benar. Aku ini hebat atau tidak?" ujar Ray.
"Sialan." ucap Ryan merasa kesal.
Kemudian Ryan pun melesat dengan cepat dan membuat sesuatu seperti asap hitam dari gerakannya. Ryan tampak yakin bisa mengenainya dengan pukulan tangan kanannya itu, namun ternyata itu hanya bayangannya saja. Ray saat itu sudah menunduk dibawah Ryan dengan posisi membelakanginya namun tangan kanannya menyentuh dada Ryan. Sambil melakukan gerakan memutar, Ray mendorong tubuh Ryan ke atas hingga menjebol satu atap dan tertahan diatap kedua. Dalam gerak lambat, Ryan mampu melihat Ray yg menatap ke arahnya dan bersiap-siap melompat lagi. Ryan terlihat terkejut. Dijalanan, tampak tanah jebol ke atas dan seseorang terlempar cukup tinggi ke udara.
"Apa itu?!" ucap salah seorang pasukan pangeran kegelapan yg melihat kejadian itu.
Lalu tubuh orang itu yg tak lain adalah Ryan tersebut terjatuh ditanah.
"Sial.. dia nampaknya hanya bermain-main denganku." gerutu Ryan dengan nada geram sambil bangkit lagi.
Kemudian Ryan melompat turun lagi ke tempat ia menyekap Emma. Tapi ternyata mereka sudah tak ada disana. Yg tersisa cuma tali yg sudah terpotong oleh pisau yg saat ini sudah tergeletak dilantai.
"Bocah itu.. benar-benar.. membuatku kesal." ucap Ryan dengan mata yg tampak terbuka saking kesalnya.
Ryan pun saat ini sudah berubah dan mengenakan topi hitam tersenyumnya. Tampak ditangannya sebuah gitar telah dipegangnya dan perlahan berubah jadi pedang.
"Kurang ajar!!!" teriak Ryan sambil menebas atap hingga jebol menjadi lubang besar.
Ryan pun melompat lagi ke atas.
"Kita bertemu lagi, keriting-dono." sapa Kamui yg ternyata ada dibelakang Ryan, tepatnya diseberang lubang besar itu.
"Kau.. kebetulan sekali. Saat ini aku sedang kesal." sahut Ryan saat menoleh ke arah Kamui.
Melihat hal itu para pasukan pangeran kegelapan hendak menembak Kamui.
"Jangan mengganggu!!" teriak Ryan sambil menebas ke arah para pasukan itu.
Dan mereka semua pun terhempas oleh gelombang berwarna kuning yg dihasilkan oleh tebasan Ryan.
"Anda menebas teman-teman anda sendiri?" tanya Kamui sambil menatap tajam.
"Teman? Aku bahkan tak kenal mereka!" jawab Ryan sambil berbalik ke arah Kamui.
"Orang seperti andalah yg sangat saya benci." sahut Kamui.
"Begitukah! Kalau begitu hadapi aku!" tantang Ryan yg tampak sudah kehilangan kewarasannya akibat kekesalannya.
"Dance: Samurai Warrior." ucap Kamui yg kemudian tubuhnya diselimuti cahaya keunguan.
Ryan melompat ke arah Kamui, begitu juga Kamui melompat ke arah Ryan. Dan kedua pedang mereka pun beradu dengan keras.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】