Memo, chapter 58 - Menyelamatkan Puteri 2
Rumah mewah yang sangat besar berdiri dengan kokoh jauh dari rumah-rumah yang lain. Bagaikan istana sebuah kerajaan, rumah itu tampak begitu megah dengan halaman depan penuh dengan taman bunga dan pepohonan yang membuat suasana terasa sejuk di siang hari.
"Me-menakjubkan!!!!" ucap Shinta tampak terkagum dengan rumah yang ia lihat.
"Ja-jadi dia benar-benar seorang putri kah.." tambah Shindy.
"Bukankah sudah jelas. Ke sekolah saja dia membawa seorang maid." jelas Arya.
"Jadi kamu pernah kemari sendirian untuk bertemu dengan sang putri?" tanya Shindy.
"Ya. Sebenarnya aku tidak benar-benar sendirian karena dijemput oleh maidnya. Dan alasannya pun karena belajar bersama." jelas Arya.
"Walau pada akhirnya tidak jadi belajar bersama nya karena beberapa alasan." sambung Arya dalam hati.
"Terus sekarang bagaimana caranya kita untuk masuk kedalam. Gerbangnya gede bener. Mustahil kita memanjatnya." ujar Shinta yang melihat gerbang setinggi 5 meter lebih itu.
"Kamu berencana untuk memanjatnya?!!" ucap Arya kaget.
"Kita juga tak mungkin pura-pura tabrakan dan hilang ingatan." ujar Shindy.
"Jangan bilang kalau senior mau meniru cara si sipit itu!" tukas Arya dengan shock.
"Hanya bercanda kok." jawab Shindy.
"Ya, kami hanya bercanda." tambah Shinta.
"Jadi sekarang cobalah pikirkan bagaimana caranya kita masuk kesana, Arya." pinta Shindy.
"Kenapa harus aku!?" protes Arya.
"Disaat seperti ini biasanya hanya kamulah yang bisa memikirkan cara gila dalam menyelesaikan sesuatu." jawab Shindy.
"Maksudnya!? Maksudnya dengan cara gila itu apa!!?" bentak Arya.
"Cara yang hanya mau dilakukan oleh orang gila saja." jelas Shindy.
"Memangnya kalian mau melakukan rencana gilaku itu?" tanya Arya.
"Tentu saja tidak!" jawab Shindy dan Shinta dengan tegas.
"Terus siapa yang akan melakukannya?" tanya Arya.
"Tentu saja kamu!" jawab Shindy dan Shinta dengan tegas.
"Eeeehhh??!!!" ucap Arya terkejut.
"Woy siapa disana? Jangan ribut!" ucap satpam mendekat ke gerbang.
Tapi saat sampai didepan gerbang ternyata disana hanya ada Arya saja. Shindy dan Shinta sudah tak terlihat lagi saat itu.
"Hey siapa kau!?" tanya satpam itu saat melihat Arya.
Arya celingak-celinguk baru sadar saat ini ternyata dia sendirian. Arya pun panik dan ketakutan karena saat itu satpam tersebut menatap dengan mata yang mengerikan.
"A-aku.." ujar Arya tergagap.
"Hah?" sahut satpam dengan tatapan tajam.
"Aku.. aku ada urusan dengan pemilik rumah ini." jawab Arya dengan asal-asalan karena panik.
"Oohh.. ternyata anda adalah calon menantu itu ya.." tukas satpam.
"Calon menantu??!!!" ucap Arya dengan wajah terkejut.
"Menantu??!!!" ucap Shindy dan Shinta bersamaan dalam hati mereka.
"Ayo silahkan masuk.." ucap satpam dengan sopan mempersilahkan masuk.
Gerbang besar itu pun terbuka dengan begitu dramatis karena ukurannya yang bergitu besar saat terbuka membuatnya terlihat begitu megah.
"Ayo masuk.." ucap satpam itu lagi setelah gerbang nya terbuku.
Arya pun melangkahkan kakinya dengan ragu. Wajahnya berkeringat begitu banyak karena saking panik dan takutnya. Sementara Arya masuk diantar dengan satpam, nampak Shindy dan Shinta mengendap-endap masuk sebelum gerbang tertutup kembali.
"Ngomong-ngomong anda ternyata berbeda dengan yang saya bayangkan." ujar satpam itu.
"Memangnya pak satpam membayangkan apa?" tanya Arya.
"Saya pikir tadinya anda akan terlihat berwibawa menggunakan jas. Juga akan datang menggunakan mobil mewah. Tapi tak kusangka anda akan datang dengan menggunakan pakaian seragam sekolah." jawab pak satpam.
"Y-ya.. bagaimana menjelaskannya ya.." ujar Arya.
"Oohh.. saya mengerti. Anda pasti sengaja datang kemari dengan pakaian seperti itu biar anda terlihat seperti orang yang sederhana. Ternyata anda tidak sombong seperti yang saya duga." ujar satpam itu.
"Dia semakin salah paham!!?" ucap Arya dalam hati tampak kaget.
"Nah kita sudah sampai." kata satpam itu.
"Te-terima kasih sudah mengantarkan.." sahut Arya dengan grogi.
Setelah satpam itu pergi, datanglah seorang maid.
"Sedang apa kamu disini?" tanya maid yang tak lain adalah Ani itu.
Arya menoleh ke belakang ke arah pintu depan. Dan Arya pun terkejut melihat Ani.
Catatan hari ini:
Kesalahpahaman akan membuatmu keluar dari jalur dan semakin menjauh jika kamu tak pernah meluruskannya.
"Me-menakjubkan!!!!" ucap Shinta tampak terkagum dengan rumah yang ia lihat.
"Ja-jadi dia benar-benar seorang putri kah.." tambah Shindy.
"Bukankah sudah jelas. Ke sekolah saja dia membawa seorang maid." jelas Arya.
"Jadi kamu pernah kemari sendirian untuk bertemu dengan sang putri?" tanya Shindy.
"Ya. Sebenarnya aku tidak benar-benar sendirian karena dijemput oleh maidnya. Dan alasannya pun karena belajar bersama." jelas Arya.
"Walau pada akhirnya tidak jadi belajar bersama nya karena beberapa alasan." sambung Arya dalam hati.
"Terus sekarang bagaimana caranya kita untuk masuk kedalam. Gerbangnya gede bener. Mustahil kita memanjatnya." ujar Shinta yang melihat gerbang setinggi 5 meter lebih itu.
"Kamu berencana untuk memanjatnya?!!" ucap Arya kaget.
"Kita juga tak mungkin pura-pura tabrakan dan hilang ingatan." ujar Shindy.
"Jangan bilang kalau senior mau meniru cara si sipit itu!" tukas Arya dengan shock.
"Hanya bercanda kok." jawab Shindy.
"Ya, kami hanya bercanda." tambah Shinta.
"Jadi sekarang cobalah pikirkan bagaimana caranya kita masuk kesana, Arya." pinta Shindy.
"Kenapa harus aku!?" protes Arya.
"Disaat seperti ini biasanya hanya kamulah yang bisa memikirkan cara gila dalam menyelesaikan sesuatu." jawab Shindy.
"Maksudnya!? Maksudnya dengan cara gila itu apa!!?" bentak Arya.
"Cara yang hanya mau dilakukan oleh orang gila saja." jelas Shindy.
"Memangnya kalian mau melakukan rencana gilaku itu?" tanya Arya.
"Tentu saja tidak!" jawab Shindy dan Shinta dengan tegas.
"Terus siapa yang akan melakukannya?" tanya Arya.
"Tentu saja kamu!" jawab Shindy dan Shinta dengan tegas.
"Eeeehhh??!!!" ucap Arya terkejut.
"Woy siapa disana? Jangan ribut!" ucap satpam mendekat ke gerbang.
Tapi saat sampai didepan gerbang ternyata disana hanya ada Arya saja. Shindy dan Shinta sudah tak terlihat lagi saat itu.
"Hey siapa kau!?" tanya satpam itu saat melihat Arya.
Arya celingak-celinguk baru sadar saat ini ternyata dia sendirian. Arya pun panik dan ketakutan karena saat itu satpam tersebut menatap dengan mata yang mengerikan.
"A-aku.." ujar Arya tergagap.
"Hah?" sahut satpam dengan tatapan tajam.
"Aku.. aku ada urusan dengan pemilik rumah ini." jawab Arya dengan asal-asalan karena panik.
"Oohh.. ternyata anda adalah calon menantu itu ya.." tukas satpam.
"Calon menantu??!!!" ucap Arya dengan wajah terkejut.
"Menantu??!!!" ucap Shindy dan Shinta bersamaan dalam hati mereka.
"Ayo silahkan masuk.." ucap satpam dengan sopan mempersilahkan masuk.
Gerbang besar itu pun terbuka dengan begitu dramatis karena ukurannya yang bergitu besar saat terbuka membuatnya terlihat begitu megah.
"Ayo masuk.." ucap satpam itu lagi setelah gerbang nya terbuku.
Arya pun melangkahkan kakinya dengan ragu. Wajahnya berkeringat begitu banyak karena saking panik dan takutnya. Sementara Arya masuk diantar dengan satpam, nampak Shindy dan Shinta mengendap-endap masuk sebelum gerbang tertutup kembali.
"Ngomong-ngomong anda ternyata berbeda dengan yang saya bayangkan." ujar satpam itu.
"Memangnya pak satpam membayangkan apa?" tanya Arya.
"Saya pikir tadinya anda akan terlihat berwibawa menggunakan jas. Juga akan datang menggunakan mobil mewah. Tapi tak kusangka anda akan datang dengan menggunakan pakaian seragam sekolah." jawab pak satpam.
"Y-ya.. bagaimana menjelaskannya ya.." ujar Arya.
"Oohh.. saya mengerti. Anda pasti sengaja datang kemari dengan pakaian seperti itu biar anda terlihat seperti orang yang sederhana. Ternyata anda tidak sombong seperti yang saya duga." ujar satpam itu.
"Dia semakin salah paham!!?" ucap Arya dalam hati tampak kaget.
"Nah kita sudah sampai." kata satpam itu.
"Te-terima kasih sudah mengantarkan.." sahut Arya dengan grogi.
Setelah satpam itu pergi, datanglah seorang maid.
"Sedang apa kamu disini?" tanya maid yang tak lain adalah Ani itu.
Arya menoleh ke belakang ke arah pintu depan. Dan Arya pun terkejut melihat Ani.
Catatan hari ini:
Kesalahpahaman akan membuatmu keluar dari jalur dan semakin menjauh jika kamu tak pernah meluruskannya.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.