VocaWorld, chapter 171 - Pergerakan Pemerintah
Anak kembar yang dulu kehilangan ingatan masa lalunya, kini telah mengingat lagi apa yang telah mereka lupakan. Dan kini mereka pun ingat kalau Ray pernah hadir dalam masa lalu mereka. Itu membuat mereka semakin lengket dengan Ray.
"Hey Ray-nii! Ayo ajarkan kami bagaimana Ray-nii bisa tiba-tiba menghilang meskipun ada dihadapan kami." pinta Len.
"Iya, Ray-niichan. Ajarkan kami tentang itu. Kalau nanti bsa kan bakalan gampang ngalahin Dante-niichan." tambah Rin.
"Sepertinya tidak. Itu bukanlah sesuatu yang bisa diajarkan begitu saja pada orang lain." tolak Ray.
"Ayolah Ray-nii.." bujuk Len.
"Sekali tidak tetap tidak. Kalau orang tua ngomong itu setidaknya kalian harus nurut lah." ujar Ray.
Kemudian datanglah Luka bersama yang lainnya sambil membawa beberapa makanan.
"Kami pulang!" ucap Meiko.
"Selamat datang!" sahut Rin dan Len kemudian berlari menghampiri Meiko.
"Hari ini kita makan apa?" tanya Rin.
"Hmm.. hari ini tidak ada banyak bahan makanan yang bisa didapat. Ditambah kita juga harus berbagi dengan para pengungsi lain. Makanya kita tidak bisa seenaknya mengambil makanan." jawab Meiko.
"Jadi maksudnya kita hari ini bakalan makan semua sayuran ini mentah-mentah?" protes Len.
"Tidak begitu juga kali. Kalian tenang saja. Disini ada Shion Kaito. Aku ahlinya dalam memasak hidangan berbahan sayuran." ujar Kaito dengan bangga.
"Itu karena kamu sering masakin si maniak terong itu kan?" ejek Luka.
"Dikatai begitu rasanya agak jleb juga." sahut Kaito.
"Bicara tentang Gakupo-san, ngomong-ngomong dimana mereka berdua? Maksudku Gakupo-san dan Gumi-chan." tanya Meiko.
"Gakupo-san kembali ke dojonya. Kalau Megupo-san sih dia sedang lari pagi." jawab Ray.
"Eh, disaat seperti ini mereka masih melakukan hali itu? Bukankah akan berbahaya kalau sendiri-sendiri seperti itu?" ujar Meiko.
"Tenang saja. Akulah yang menyuruh mereka melakukan hal tersebut. Beberapa bulan ini kurasa kemampuan mereka semakin menurun. Jadi aku menyuruh mereka melakukan semua itu sebagai latihan." jelas Ray.
"Tapi walau begitu bukankah akan berbahaya jika saat mereka sendiri dan tiba-tiba diserang secara tiba-tiba." kata Kaito.
"Untuk saat ini kurasa itu takkan terjadi. Mengetahui tentang kembalinya Rin dan Len ke pihak kita akan memberikan waktu untuk mereka mengatur sebuah rencana baru." sahut Ray.
"Begitukah. Terus apa rencanamu untuk kedepannya, Ray-kun?" tanya Luka.
"Rasanya kurang enak kalau membahasnya selagi Gakupo-san dan Megupo-san tidak ada disini. Jadi mari kita tunggu mereka kembali dulu." jawab Ray.
"Hmm.. kamu benar juga. Kalau samurai itu sampai ditinggal entar dia bisa pundung." ucap Kaito.
Meiko dan Kaito pun segera menuju dapur untuk memasak buat sarapan mereka. Tapi tiba-tiba ada yang datang dan membunyikan bel pintu depan.
"Siapa yang pagi-pagi begini bertamu?" ucap Luka.
"Entahlah. Tapi dari caranya menekan bel sepertinya ada sesuatu yang penting." sahut Ray.
Luka pun segera menuju ke pintu depan dan membukakan pintu. Dan ternyata itu adalah pelayannya, Tsugumi.
"Akhirnya dibuka juga." ucap Tsugumi.
"Tsugumi kah? Ayo silahkan masuk!" kata Luka mempersilahkan pelayannya itu untuk masuk.
Mereka pun duduk di sofa di ruang tengah.
"Ada apa? Tumben kamu datang kemari." tanya Luka.
"Sebenarnya saya membawa sebuah kabar penting." jawab Tsugumi dengan serius.
"Kabar penting? Kabar apakah itu?" tanya Luka lagi.
"Pihak pemerintah telah bergerak. Baru saja, ada sebuah pesawat datang untuk membawa para pengungsi ke tempat yang aman." jelas Tsugumi.
"Begitukah. Ya memang mereka pasti curiga karena komunikasi dan transportasi dari kota ini telah terputus total." ujar Ray.
"Kalau begitu bagus dong. Artinya kita bisa menyelamatkan diri dan keluar dari sini." kata Miku.
"Tidak, kita tidak bisa melakukannya." sahut Ray.
"Lho, memangnya kenapa? Kan kalau pakai pesawat, dinding api itu tidak ada apa-apanya." tanya Miku.
"Miku-chan, coba pikirkan lagi. Kalau misalkan kita pergi dari sini terus siapa yang akan menyelamatkan kota ini dengan mengalahkan Pangeran Kegelapan?" ujar Luka.
"Be-benar juga sih." sahut Miku tampak baru ingat tentang itu.
"Jangan bilang kalau Miku-nee melupakannya." tukas Len.
"Te-tentu saja tidak. Hatsune Miku tidak mungkin lupa dengan sesuatu sepenting itu. Hahaha.." sahut Miku.
"Jelas banget dah kalau dia memang lupa." komentar Rin dan Len dalam hati.
Di singgasananya, Dante duduk dengan wajah malas. Tidak seperti biasanya, Dante saat ini tampak sangat lesu dan tak bersemangat.
"Bosan banget dah. Semuanya terlalu mudah. Mau apapun tinggal ambil. Bahkan makanan pun tinggal comot di supermarket kosong. Biasanya kan pagi-pagi kalau mau sarapan mesti mancing dulu. Sekarang semuanya jadi tampak membosankan." gerutu Dante.
"Gawat, pangeran! Gawat!" teriak June datang dengan tampak panik.
"Apaan sih, berisik banget? Tidak tahu apa mood ku sedang buruk." sahut Dante.
"Gawat, pangeran. Gawat!!" jawab June.
"Apanya yang gawat?" tanya Dante.
"Gawat, pangeran! Gawat!!!" sahut June.
"Jangan membuatku kesal! Daritadi cuma ngomong 'gawat' terus! Apa kau mau cuma dapat dialog 'gawat' sepanjang arc ini, hah!" bentak Dante dengan kesal.
"Ya jangan lah, pangeran. Tapi ini beneran sesuatu yang gawat dah!" jawab June.
"Tunggu sebentar, gawat yang ini bukan gajah makan kawat kan? Iya kan?" tanya Dante menatap curiga.
"Ya bukan lah. Mana ada gajah makan kawat. Yang ada entar gajahnya keselek." jawab June.
"Oh baguslah. Lalu, apa yang kau maksud gawat sebenarnya?" tanya Dante lagi.
"Sewaktu saya melakukan penyamaran dan mengumpulkan informasi tentang kelompok The White Light, saya mendengar berita yang mengejutkan." jawab June.
"Berita mengejutkan apa?" tanya Dante.
"Pihak pemerintah sudah mulai bergerak. Beberapa penduduk sudah diselamatkan." sahut June.
"Lah kalau itu mah tidak mengejutkan sama sekali. Salah satu kota penting tiba-tiba terputus secara total dari kota lain, sudah pasti mereka bertanya-tanya apa yang terjadi. Jadi tidak aneh kalau pihak pemerintahan mulai turun tangan." ujar Dante.
"Tapi bukan hanya itu saja tuan. Soalnya saya juga mendengar kalau mereka juga hendak menyerang kita." kata June.
"Menyerang kita? Haha.. mereka itu bodoh ya? Apa mereka tidak belajar dari perang sebelumnya? Mereka itu sama sekali bukan tandinganku. Teknologi mereka juga berbeda jauh dengan milik ayah." ujar Dante.
"Tidak, sebaiknya tuan mulai khawatir saat ini. Pasalnya, saat ini mereka memiliki sebuah pesawat yang keren gila." sahut June.
"Keren? Paling juga cuma model desainnya doang. Dalamnya mah tetap sama." kata Dante.
"Tidak tuan. Tuan salah besar. Pesawat mereka juga mempunyai mode 'stealth' sekarang. Bukankah karena itu tuan sampai tidak sadar kalau saat ini para penduduk sudah diselamatkan dipindahkan ke kota sebelah." ujar June.
"Eh, jadi para penduduk sudah diselamatkan semua saat ini?" tanya Dante.
"Lah daritadi kan kita sedang bahas itu. Pangeran dengerin gak sih?" gerutu June.
"Ya.. jangan terlalu khawatir seperti itu lah. Walaupun mereka punya mode siluman, tapi tetap saja mereka takkan bisa mengalahkanku semudah itu. Cuma bermodal 'tak terlihat' saja takkan cukup untuk mengalahkan diriku." ujar Dante dengan yakin.
"Ah benar juga. Pangeran memang yang terhebat." sahut June sambil memberi hormat.
"Tapi semua itu membuatku semakin penasaran. Aku jadi tidak sabar. Sepertinya mainan baru pemerintah itu akan jadi obat kebosananku beberapa hari ini." kata Dante dalam hati sambil tersenyum.
Sementara itu di kota yang terpisah oleh gunung di selatan Voca Town, tampak ada beberapa pasukan militer sedang berbaris. Dengan tampak para penduduk yang di turunkan dari pesawat, para prajurit itu bersiap untuk menaiki pesawat mereka masing-masing.
"Baiklah, sebelum kalian melakukan penyerangan ini ada sesuatu yang ingin kusampaikan." ujar seseorang yang kelihatannya adalah seorang komandan.
Para prajurit itu memperhatikan dengan seksama pada komandan mereka.
"Jangan remehkan lawan kita. Dia mungkin memang sendirian. Dan kita memiliki teknologi paling canggih yang pernah dibuat manusia. Namun, lawan kita saat ini pernah mengalahkan para pilot ace dari pasukan Amerika. Lakukan yang terbaik yang bisa kalian lakukan." ujar komandan mereka.
"Siap, laksanakan!" sahut para prajurit secara serentak.
Mereka pun mulai menaiki pesawat mereka masing-masing. Pesawat dengan bentuk yang sangat berbeda dengan pesawat tempur yang ada saat ini. Terlihat sangat canggih dan sangat futuristik.
"Dengan ini kemenangan kita sudah bisa dipastikan." ujar komandan di dalam hatinya.
Pesawat itu pun satu-persatu mulai naik ke angkasa. Dan dengan tetap mempertahankan formasi mereka, pesawat-pesawat itu pun melesat ke utara dan menghilang dengan mode stealth mereka.
Di teras pinggir rumah Meiko, Ray dan Luka tampak sedang berbincang berdua.
"Apa mereka selalu seperti itu setiap hari?" tanya Tsugumi pada Meiko di ruang tengah.
"Bukan lagi setiap hari. Hampir setiap saat mereka kalau lagi bahas apapun selalu berduaan disana." jawab Meiko.
"Oohh.. begitukah.." ucap Tsugumi sambil tersenyum.
"Tapi mereka itu benar-benar tidak tahu keadaan ya. Padahal situasi lagi buruk, tapi malah mesra-mesraan disana." gerutu Miku.
"Sudahlah biarkan saja. Biarkan mereka menikmati waktu bersama mereka." ujar Meiko.
"Ya, Miku-nee. Jangan ganggu mereka. Kecuali kalau Miku-nee mau disebut jomblo yang tersinggung. Hehehe.." ledek Len.
"Apa kau bilang! Kemari kau Len! Akan kuberi kau pelajaran!" bentak Miku kemudian berlari mengejar Len.
"Hahaha.. coba saja kalu bisa!" ejek Len lagi sambil melarikan diri ke kamarnya.
"Jadi apa yang Ray-kun pikirkan tentang yang dikatakan oleh Tsugumi?" tanya Luka pada Ray yang duduk disebelahnya.
"Hmm.. tak usah dipikirkan. Kita tak perlu memikirkan apapun tentang hal itu. Jika pihak pemerintah memutuskan untuk melakukan pergerakan, maka kita tak punya hak untuk menghalangi mereka." jawab Ray.
"Tapi jika kita biarkan, maka Dante-kun akan ketahuan kalau dia adalah Pangeran Kegelapan." sahut Luka.
"Jadi kamu lebih mengkhawatirkan Dante daripada pasukan pemerintah yang akan menyerangnya?" tanya Ray.
"Ti-tidak, bukan begitu maksudku.." kata Luka.
"Terima kasih." ucap Ray.
Luka terkejut dengan ucapan tiba-tiba Ray tersebut.
"Terima kasih karena memperhatikan adikku yang bodoh itu. Tapi tenang saja. Aku sudah punya cara untuk mengatasi hal itu. Tapi yang perlu kita khawatirkan saat ini bukanlah itu." tambah Ray.
"Terus?" tanya Luka.
"Jika sampai pasukan pemerintah mulai melakukan penyerangan, maka kota ini akan menjadi medan perang. Dan jika sampai itu terjadi maka akan semakin sulit bagi kita untuk mengatasi semuanya. Dalam peperangan, pertempuran dari 3 sisi berbeda selalu tidak menguntungkan. Karena itu kita harus mencegahnya." jelas Ray.
"Benar juga. Terus apa yang sebaiknya kita lakukan?" tanya Luka lagi.
"Jawabannya akan segera kita ketahui." jawab Ray.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Ray dan Luka terkejut dan segera berlari keluar. Mereka berlari menuju ke pinggiran sungai. Dan dari sana mereka melihat dengan jelas ada asap mengepul di gedung tertinggi di Voca Town tersebut.
"Apa yang terjadi?" ucap Luka.
"Sepertinya sudah dimulai." kata Ray.
Di pesawatnya, Dante dan June juga terkejut. Soalnya gedung tempat bertenggernya pesawat mereka baru saja meledak.
"Apa yang barusan itu?" tanya June.
"Cih, mereka menyerang kita." ujar Dante kemudian menyalurkan tenaganya ke pesawatnya.
Pesawat Dante pun mulai melaju mundur kebelakang dan menjatuhkan diri kebawah. Dan saat itu terlihatlah kalau ada semacam tembakan laser menembak ke puncak gedung dan menghancurkan puncah gedung itu seketika.
"Tembakan laser?! Secanggih apa sebenarnya teknologi mereka saat ini." gerutu June yang tampak panik.
Dante pun memutar pesawatnya dan menyeimbangkannya, lalu melesat dengan cepat terbang rendah mengikuti jalan mobil. Tampak ada yang menghujani mereka dengan tembakan laser dibelakang.
"Aku bisa melihat tembakan mereka, tapi aku tidak melihat sumber tembakan tersebut." ujar June.
"Mau bagaimana lagi, bukankah kau sudah bilang kalau mereka bisa menggunakan mode siluman." sahut Dante.
"Terus bagaimana kita menghadapi sesuatu yang tidak terlihat?" tanya June.
"Dengan menjadi tidak terlihat juga tentunya." jawab Dante.
Kemudian pesawat Dante pun menghilang dari penglihatan. Tapi beberapa saat kemudian pesawat Dante muncul lagi.
"Apa?!!" ucap Dante terkejut.
"Apa yang terjadi, tuan?" tanya June.
"Mana ku tahu." jawab Dante.
"Sial, entah apa penyebabnya sistem siluman pesawatku tidak berfungsi. Namun, kemampuan pesawat ini bukan hanya itu." kata Dante dalam hatinya.
Api hitam mulai keluar dari lubang sistem pendorong pesawat.
"Jangan remehkan aku!!!" pekik Dante tampak kesal kemudian menambah kecepatan pesawatnya.
Pesawatnya terbang lurus ke atas. Meskipun tidak terlihat, Dante tahu kalau pesawat yang mengejarnya juga mengikutinya terbang lurus ke atas. Setelah dirasa cukup tinggi, pesawat Dante berhenti terbang dan berbalik.
"Rasakan ini!" ucap Dante hendak melakukan tembakan menggunakan pesawatnya.
"Mereka menghindarinya?!!" sambung Dante saat menyadari tembakannya tidak mengenai apapun.
"Awas dari samping, tuan!" ucap June.
Dante menyadari kalau ada tembakan laser dari samping dan segera melaju untuk menghindarinya.
"Mereka berusaha menjebakku dengan tembakan dari dua arah sekaligus. Tidak buruk juga." puji Dante dalam hati.
Dante tahu ada beberapa pesawat yang mengikutinya dibelakang. Sebelum menyentuh tanah, Dante kembali melajukan pesawatnya untuk terbang rendah berlindung diantara gedung-gedung.
"Disini Spark I. Kami dan Spark III sudah mengunci bagian belakang mereka. Semuanya sesuai dengan rencana. Mari kita selesaikan disini. Ganti." ucap pilot pesawat yang mengejar dibelakang Dante.
"Disini Spark II. Kami siap." jawab pilot yang lain.
Beberapa pilot yang lain juga mengkonfirmasi kesiapan mereka.
"Oke, tembak!" ucap para pilot itu menembakan senjata pesawat mereka secara bersamaan.
Dante terus melajukan pesawatnya berusaha menghindari tembakan dari arah belakangnya. Namun tanpa sepengetahuannya ternyada ada tembakan lain dari 4 arah berbeda siap menyambutnya tepat di perempatan jalan. Dan tidak ada lagi ruang untuk menghindar, akhirnya pesawat Dante pun tertembak jatuh dan meledak.
"Musuh berhasil dijatuhkan!" ucap para pilot.
"Haha.. berhasil! Makanya jangan remehkan kekuatan militer." ucap komandan yang mendengarkan melalui radio komunikasi.
Pesawat Dante tampak hancur lebur terbakar diatas jalan. Tidak ada sisa-sisa kehidupan yang terlihat di pesawat itu saat itu. Dan pesawat-pesawat tempur pemerintah pun terbang kembali ke markas mereka.
To be continued..
"Hey Ray-nii! Ayo ajarkan kami bagaimana Ray-nii bisa tiba-tiba menghilang meskipun ada dihadapan kami." pinta Len.
"Iya, Ray-niichan. Ajarkan kami tentang itu. Kalau nanti bsa kan bakalan gampang ngalahin Dante-niichan." tambah Rin.
"Sepertinya tidak. Itu bukanlah sesuatu yang bisa diajarkan begitu saja pada orang lain." tolak Ray.
"Ayolah Ray-nii.." bujuk Len.
"Sekali tidak tetap tidak. Kalau orang tua ngomong itu setidaknya kalian harus nurut lah." ujar Ray.
Kemudian datanglah Luka bersama yang lainnya sambil membawa beberapa makanan.
"Kami pulang!" ucap Meiko.
"Selamat datang!" sahut Rin dan Len kemudian berlari menghampiri Meiko.
"Hari ini kita makan apa?" tanya Rin.
"Hmm.. hari ini tidak ada banyak bahan makanan yang bisa didapat. Ditambah kita juga harus berbagi dengan para pengungsi lain. Makanya kita tidak bisa seenaknya mengambil makanan." jawab Meiko.
"Jadi maksudnya kita hari ini bakalan makan semua sayuran ini mentah-mentah?" protes Len.
"Tidak begitu juga kali. Kalian tenang saja. Disini ada Shion Kaito. Aku ahlinya dalam memasak hidangan berbahan sayuran." ujar Kaito dengan bangga.
"Itu karena kamu sering masakin si maniak terong itu kan?" ejek Luka.
"Dikatai begitu rasanya agak jleb juga." sahut Kaito.
"Bicara tentang Gakupo-san, ngomong-ngomong dimana mereka berdua? Maksudku Gakupo-san dan Gumi-chan." tanya Meiko.
"Gakupo-san kembali ke dojonya. Kalau Megupo-san sih dia sedang lari pagi." jawab Ray.
"Eh, disaat seperti ini mereka masih melakukan hali itu? Bukankah akan berbahaya kalau sendiri-sendiri seperti itu?" ujar Meiko.
"Tenang saja. Akulah yang menyuruh mereka melakukan hal tersebut. Beberapa bulan ini kurasa kemampuan mereka semakin menurun. Jadi aku menyuruh mereka melakukan semua itu sebagai latihan." jelas Ray.
"Tapi walau begitu bukankah akan berbahaya jika saat mereka sendiri dan tiba-tiba diserang secara tiba-tiba." kata Kaito.
"Untuk saat ini kurasa itu takkan terjadi. Mengetahui tentang kembalinya Rin dan Len ke pihak kita akan memberikan waktu untuk mereka mengatur sebuah rencana baru." sahut Ray.
"Begitukah. Terus apa rencanamu untuk kedepannya, Ray-kun?" tanya Luka.
"Rasanya kurang enak kalau membahasnya selagi Gakupo-san dan Megupo-san tidak ada disini. Jadi mari kita tunggu mereka kembali dulu." jawab Ray.
"Hmm.. kamu benar juga. Kalau samurai itu sampai ditinggal entar dia bisa pundung." ucap Kaito.
Meiko dan Kaito pun segera menuju dapur untuk memasak buat sarapan mereka. Tapi tiba-tiba ada yang datang dan membunyikan bel pintu depan.
"Siapa yang pagi-pagi begini bertamu?" ucap Luka.
"Entahlah. Tapi dari caranya menekan bel sepertinya ada sesuatu yang penting." sahut Ray.
Luka pun segera menuju ke pintu depan dan membukakan pintu. Dan ternyata itu adalah pelayannya, Tsugumi.
"Akhirnya dibuka juga." ucap Tsugumi.
"Tsugumi kah? Ayo silahkan masuk!" kata Luka mempersilahkan pelayannya itu untuk masuk.
Mereka pun duduk di sofa di ruang tengah.
"Ada apa? Tumben kamu datang kemari." tanya Luka.
"Sebenarnya saya membawa sebuah kabar penting." jawab Tsugumi dengan serius.
"Kabar penting? Kabar apakah itu?" tanya Luka lagi.
"Pihak pemerintah telah bergerak. Baru saja, ada sebuah pesawat datang untuk membawa para pengungsi ke tempat yang aman." jelas Tsugumi.
"Begitukah. Ya memang mereka pasti curiga karena komunikasi dan transportasi dari kota ini telah terputus total." ujar Ray.
"Kalau begitu bagus dong. Artinya kita bisa menyelamatkan diri dan keluar dari sini." kata Miku.
"Tidak, kita tidak bisa melakukannya." sahut Ray.
"Lho, memangnya kenapa? Kan kalau pakai pesawat, dinding api itu tidak ada apa-apanya." tanya Miku.
"Miku-chan, coba pikirkan lagi. Kalau misalkan kita pergi dari sini terus siapa yang akan menyelamatkan kota ini dengan mengalahkan Pangeran Kegelapan?" ujar Luka.
"Be-benar juga sih." sahut Miku tampak baru ingat tentang itu.
"Jangan bilang kalau Miku-nee melupakannya." tukas Len.
"Te-tentu saja tidak. Hatsune Miku tidak mungkin lupa dengan sesuatu sepenting itu. Hahaha.." sahut Miku.
"Jelas banget dah kalau dia memang lupa." komentar Rin dan Len dalam hati.
Di singgasananya, Dante duduk dengan wajah malas. Tidak seperti biasanya, Dante saat ini tampak sangat lesu dan tak bersemangat.
"Bosan banget dah. Semuanya terlalu mudah. Mau apapun tinggal ambil. Bahkan makanan pun tinggal comot di supermarket kosong. Biasanya kan pagi-pagi kalau mau sarapan mesti mancing dulu. Sekarang semuanya jadi tampak membosankan." gerutu Dante.
"Gawat, pangeran! Gawat!" teriak June datang dengan tampak panik.
"Apaan sih, berisik banget? Tidak tahu apa mood ku sedang buruk." sahut Dante.
"Gawat, pangeran. Gawat!!" jawab June.
"Apanya yang gawat?" tanya Dante.
"Gawat, pangeran! Gawat!!!" sahut June.
"Jangan membuatku kesal! Daritadi cuma ngomong 'gawat' terus! Apa kau mau cuma dapat dialog 'gawat' sepanjang arc ini, hah!" bentak Dante dengan kesal.
"Ya jangan lah, pangeran. Tapi ini beneran sesuatu yang gawat dah!" jawab June.
"Tunggu sebentar, gawat yang ini bukan gajah makan kawat kan? Iya kan?" tanya Dante menatap curiga.
"Ya bukan lah. Mana ada gajah makan kawat. Yang ada entar gajahnya keselek." jawab June.
"Oh baguslah. Lalu, apa yang kau maksud gawat sebenarnya?" tanya Dante lagi.
"Sewaktu saya melakukan penyamaran dan mengumpulkan informasi tentang kelompok The White Light, saya mendengar berita yang mengejutkan." jawab June.
"Berita mengejutkan apa?" tanya Dante.
"Pihak pemerintah sudah mulai bergerak. Beberapa penduduk sudah diselamatkan." sahut June.
"Lah kalau itu mah tidak mengejutkan sama sekali. Salah satu kota penting tiba-tiba terputus secara total dari kota lain, sudah pasti mereka bertanya-tanya apa yang terjadi. Jadi tidak aneh kalau pihak pemerintahan mulai turun tangan." ujar Dante.
"Tapi bukan hanya itu saja tuan. Soalnya saya juga mendengar kalau mereka juga hendak menyerang kita." kata June.
"Menyerang kita? Haha.. mereka itu bodoh ya? Apa mereka tidak belajar dari perang sebelumnya? Mereka itu sama sekali bukan tandinganku. Teknologi mereka juga berbeda jauh dengan milik ayah." ujar Dante.
"Tidak, sebaiknya tuan mulai khawatir saat ini. Pasalnya, saat ini mereka memiliki sebuah pesawat yang keren gila." sahut June.
"Keren? Paling juga cuma model desainnya doang. Dalamnya mah tetap sama." kata Dante.
"Tidak tuan. Tuan salah besar. Pesawat mereka juga mempunyai mode 'stealth' sekarang. Bukankah karena itu tuan sampai tidak sadar kalau saat ini para penduduk sudah diselamatkan dipindahkan ke kota sebelah." ujar June.
"Eh, jadi para penduduk sudah diselamatkan semua saat ini?" tanya Dante.
"Lah daritadi kan kita sedang bahas itu. Pangeran dengerin gak sih?" gerutu June.
"Ya.. jangan terlalu khawatir seperti itu lah. Walaupun mereka punya mode siluman, tapi tetap saja mereka takkan bisa mengalahkanku semudah itu. Cuma bermodal 'tak terlihat' saja takkan cukup untuk mengalahkan diriku." ujar Dante dengan yakin.
"Ah benar juga. Pangeran memang yang terhebat." sahut June sambil memberi hormat.
"Tapi semua itu membuatku semakin penasaran. Aku jadi tidak sabar. Sepertinya mainan baru pemerintah itu akan jadi obat kebosananku beberapa hari ini." kata Dante dalam hati sambil tersenyum.
Sementara itu di kota yang terpisah oleh gunung di selatan Voca Town, tampak ada beberapa pasukan militer sedang berbaris. Dengan tampak para penduduk yang di turunkan dari pesawat, para prajurit itu bersiap untuk menaiki pesawat mereka masing-masing.
"Baiklah, sebelum kalian melakukan penyerangan ini ada sesuatu yang ingin kusampaikan." ujar seseorang yang kelihatannya adalah seorang komandan.
Para prajurit itu memperhatikan dengan seksama pada komandan mereka.
"Jangan remehkan lawan kita. Dia mungkin memang sendirian. Dan kita memiliki teknologi paling canggih yang pernah dibuat manusia. Namun, lawan kita saat ini pernah mengalahkan para pilot ace dari pasukan Amerika. Lakukan yang terbaik yang bisa kalian lakukan." ujar komandan mereka.
"Siap, laksanakan!" sahut para prajurit secara serentak.
Mereka pun mulai menaiki pesawat mereka masing-masing. Pesawat dengan bentuk yang sangat berbeda dengan pesawat tempur yang ada saat ini. Terlihat sangat canggih dan sangat futuristik.
"Dengan ini kemenangan kita sudah bisa dipastikan." ujar komandan di dalam hatinya.
Pesawat itu pun satu-persatu mulai naik ke angkasa. Dan dengan tetap mempertahankan formasi mereka, pesawat-pesawat itu pun melesat ke utara dan menghilang dengan mode stealth mereka.
Di teras pinggir rumah Meiko, Ray dan Luka tampak sedang berbincang berdua.
"Apa mereka selalu seperti itu setiap hari?" tanya Tsugumi pada Meiko di ruang tengah.
"Bukan lagi setiap hari. Hampir setiap saat mereka kalau lagi bahas apapun selalu berduaan disana." jawab Meiko.
"Oohh.. begitukah.." ucap Tsugumi sambil tersenyum.
"Tapi mereka itu benar-benar tidak tahu keadaan ya. Padahal situasi lagi buruk, tapi malah mesra-mesraan disana." gerutu Miku.
"Sudahlah biarkan saja. Biarkan mereka menikmati waktu bersama mereka." ujar Meiko.
"Ya, Miku-nee. Jangan ganggu mereka. Kecuali kalau Miku-nee mau disebut jomblo yang tersinggung. Hehehe.." ledek Len.
"Apa kau bilang! Kemari kau Len! Akan kuberi kau pelajaran!" bentak Miku kemudian berlari mengejar Len.
"Hahaha.. coba saja kalu bisa!" ejek Len lagi sambil melarikan diri ke kamarnya.
"Jadi apa yang Ray-kun pikirkan tentang yang dikatakan oleh Tsugumi?" tanya Luka pada Ray yang duduk disebelahnya.
"Hmm.. tak usah dipikirkan. Kita tak perlu memikirkan apapun tentang hal itu. Jika pihak pemerintah memutuskan untuk melakukan pergerakan, maka kita tak punya hak untuk menghalangi mereka." jawab Ray.
"Tapi jika kita biarkan, maka Dante-kun akan ketahuan kalau dia adalah Pangeran Kegelapan." sahut Luka.
"Jadi kamu lebih mengkhawatirkan Dante daripada pasukan pemerintah yang akan menyerangnya?" tanya Ray.
"Ti-tidak, bukan begitu maksudku.." kata Luka.
"Terima kasih." ucap Ray.
Luka terkejut dengan ucapan tiba-tiba Ray tersebut.
"Terima kasih karena memperhatikan adikku yang bodoh itu. Tapi tenang saja. Aku sudah punya cara untuk mengatasi hal itu. Tapi yang perlu kita khawatirkan saat ini bukanlah itu." tambah Ray.
"Terus?" tanya Luka.
"Jika sampai pasukan pemerintah mulai melakukan penyerangan, maka kota ini akan menjadi medan perang. Dan jika sampai itu terjadi maka akan semakin sulit bagi kita untuk mengatasi semuanya. Dalam peperangan, pertempuran dari 3 sisi berbeda selalu tidak menguntungkan. Karena itu kita harus mencegahnya." jelas Ray.
"Benar juga. Terus apa yang sebaiknya kita lakukan?" tanya Luka lagi.
"Jawabannya akan segera kita ketahui." jawab Ray.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Ray dan Luka terkejut dan segera berlari keluar. Mereka berlari menuju ke pinggiran sungai. Dan dari sana mereka melihat dengan jelas ada asap mengepul di gedung tertinggi di Voca Town tersebut.
"Apa yang terjadi?" ucap Luka.
"Sepertinya sudah dimulai." kata Ray.
Di pesawatnya, Dante dan June juga terkejut. Soalnya gedung tempat bertenggernya pesawat mereka baru saja meledak.
"Apa yang barusan itu?" tanya June.
"Cih, mereka menyerang kita." ujar Dante kemudian menyalurkan tenaganya ke pesawatnya.
Pesawat Dante pun mulai melaju mundur kebelakang dan menjatuhkan diri kebawah. Dan saat itu terlihatlah kalau ada semacam tembakan laser menembak ke puncak gedung dan menghancurkan puncah gedung itu seketika.
"Tembakan laser?! Secanggih apa sebenarnya teknologi mereka saat ini." gerutu June yang tampak panik.
Dante pun memutar pesawatnya dan menyeimbangkannya, lalu melesat dengan cepat terbang rendah mengikuti jalan mobil. Tampak ada yang menghujani mereka dengan tembakan laser dibelakang.
"Aku bisa melihat tembakan mereka, tapi aku tidak melihat sumber tembakan tersebut." ujar June.
"Mau bagaimana lagi, bukankah kau sudah bilang kalau mereka bisa menggunakan mode siluman." sahut Dante.
"Terus bagaimana kita menghadapi sesuatu yang tidak terlihat?" tanya June.
"Dengan menjadi tidak terlihat juga tentunya." jawab Dante.
Kemudian pesawat Dante pun menghilang dari penglihatan. Tapi beberapa saat kemudian pesawat Dante muncul lagi.
"Apa?!!" ucap Dante terkejut.
"Apa yang terjadi, tuan?" tanya June.
"Mana ku tahu." jawab Dante.
"Sial, entah apa penyebabnya sistem siluman pesawatku tidak berfungsi. Namun, kemampuan pesawat ini bukan hanya itu." kata Dante dalam hatinya.
Api hitam mulai keluar dari lubang sistem pendorong pesawat.
"Jangan remehkan aku!!!" pekik Dante tampak kesal kemudian menambah kecepatan pesawatnya.
Pesawatnya terbang lurus ke atas. Meskipun tidak terlihat, Dante tahu kalau pesawat yang mengejarnya juga mengikutinya terbang lurus ke atas. Setelah dirasa cukup tinggi, pesawat Dante berhenti terbang dan berbalik.
"Rasakan ini!" ucap Dante hendak melakukan tembakan menggunakan pesawatnya.
"Mereka menghindarinya?!!" sambung Dante saat menyadari tembakannya tidak mengenai apapun.
"Awas dari samping, tuan!" ucap June.
Dante menyadari kalau ada tembakan laser dari samping dan segera melaju untuk menghindarinya.
"Mereka berusaha menjebakku dengan tembakan dari dua arah sekaligus. Tidak buruk juga." puji Dante dalam hati.
Dante tahu ada beberapa pesawat yang mengikutinya dibelakang. Sebelum menyentuh tanah, Dante kembali melajukan pesawatnya untuk terbang rendah berlindung diantara gedung-gedung.
"Disini Spark I. Kami dan Spark III sudah mengunci bagian belakang mereka. Semuanya sesuai dengan rencana. Mari kita selesaikan disini. Ganti." ucap pilot pesawat yang mengejar dibelakang Dante.
"Disini Spark II. Kami siap." jawab pilot yang lain.
Beberapa pilot yang lain juga mengkonfirmasi kesiapan mereka.
"Oke, tembak!" ucap para pilot itu menembakan senjata pesawat mereka secara bersamaan.
Dante terus melajukan pesawatnya berusaha menghindari tembakan dari arah belakangnya. Namun tanpa sepengetahuannya ternyada ada tembakan lain dari 4 arah berbeda siap menyambutnya tepat di perempatan jalan. Dan tidak ada lagi ruang untuk menghindar, akhirnya pesawat Dante pun tertembak jatuh dan meledak.
"Musuh berhasil dijatuhkan!" ucap para pilot.
"Haha.. berhasil! Makanya jangan remehkan kekuatan militer." ucap komandan yang mendengarkan melalui radio komunikasi.
Pesawat Dante tampak hancur lebur terbakar diatas jalan. Tidak ada sisa-sisa kehidupan yang terlihat di pesawat itu saat itu. Dan pesawat-pesawat tempur pemerintah pun terbang kembali ke markas mereka.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.