Pasopati II: Flashback Of Eka, bagian 1

Untuk mengetahui penyebab Eka jadi pendiam, kita harus kembali ke masa lalu Eka. Eka mengalami trauma cinta dua kali. Yang pertama kali terjadi saat dia masih SMP, dan yang kedua terjadi saat dia kelas 1 SMA semester akhir. Kedua kejadian inilah yang disebutkan oleh Fix sebagai ‘tragedi cinta’. Di mulai saat dia SMP kelas 3 di SMPN 2 Bungursari. Saat itu dia belum begitu dingin pada perempuan. Dia punya ciri khas payung hitam yang selalu dibawa kemanapun ia pergi. Dia juga sering dikucilkan karena sifatnya yang nampak seperti orang bodoh dan kebiasaannya membawa payung tersebut. Di suatu pagi, seperti biasa Eka pergi sekolah dan melangkah dengan penuh semangat sambil memutar-mutar payungnya di sebelah kanannya. Dia bisa melakukan itu karena payungnya sekali buka, bukan payung lipat. Saat sampai di sekolah, di gerbang dia berpapasan dengan salah satu sahabat karibnya saat itu. Namanya adalah Richie. Dia orangnya keren, gaul, dan jago dalam hal permesinan. Dia salah satu dari 3 detektif sekolah yang diketuai oleh Eka. “Hey, apa kamu gak lihat hari ini tuh cerah banget. Kenapa masih bawa payung juga sih?” tanya Richie, heran. “Payung bukanlah sebagai pelindungku dari hujan semata, kawan. Tapi payung ini juga adalah sebagai gambaran jati diriku. Aku ini adalah sang pelindung.” jelas Eka memegang pundak Richie. “Ah terserah kamu saja deh.” kata Richie sambil mempercepat langkahnya. Eka pun melanjutkan langkahnya dan masuk ke kelasnya lalu duduk santai di bangkunya sambil baca buku novel misteri. Tapi kadang selain baca novel, dia juga sering membaca buku-buku pelajaran. “Waduh.. kelas kok sepi amat.” ujar seorang perempuan saat masuk ke kelas itu. “Kalau mau rame mah ke pasar aja atuh.” komentar Eka sambil tetap membaca bukunya. “Hmm.. dasar kamu tuh ngomongnya kemana-mana.” sahut perempuan itu. Perempuan yang diajak bicara oleh Eka itu. adalah Ihat, perempuan yang memang disukai oleh Eka namun Eka tak pernah berani untuk mengungkapkannya.
            Saa istirahat, Eka seperti biasa hanya diam dikelasnya. Dia tak pernah keluar kecuali kalau ada urusan penting. “Ka, you kenapa gak keluar? I’m mah bosen da kalau di dalam kelas terus tuh. Gak ada hiburan.” tanya seseorang yang tiba-tiba masuk lalu menghampiri Eka. Dia adalah Rahmat, sahabat karib Eka. Dia juga salah satu dari 3 detektif sekolahan. Dia kuat, jago berkelahi dan punya badan yang lebih tinggi dari Eka. “Hmm.. justru aku bosan dengan semua kejadian diluar sana. Hanya membuatku pusing dan menghabiskan waktuku saja. Setiap hari kejadiannya itu-itu mulu.” gerutu Eka. “Ouw.. benarkah? Justru aku kesini ingin menyampaikan sesuatu yang berbeda.” rayu Rahmat dengan senyuman yang meyakinkan. “Berbeda? Apakah gerangan sesuatu yang berbeda itu?” tanya Eka, penasaran. “Kita dapat job. Ada kasus yang harus kita selidiki dan kita selesaikan.” jelas Rahmat. “Kasus apa?” tanya Eka lagi. “Kasus bunuh diri.” jawab Rahmat dengan nada yang meyakinkan. “Wah.. baguslah. Sudah lama aku nganggur terus. Ayo kita kembali bekerja. Oh ya, Richie udah kamu kasih tahu belum?” tanya Eka dengan nada yang bersemangat. “Hmm.. sudah kok. Oh iya I’m baru ingat, di TKP I’m menemukan ini.” sahut Rahmat yang lalu memberikan secarik kertas. “Hmm.. surat wasiat ya. Ada yang janggal dengan isinya.” ujar Eka sambil meneliti dan membaca tulisan yang ada di kertas itu. “Hmm.. apanya yang menurutmu aneh?” tanya Rahmat, bingung. “Soalnya yang tertulis disini adalah daftar belanjaan.” jawab Eka sambil memperlihatkan isi dari kertas itu. “Oh.. sorry, cuy. Soalnya kemarin I’m make celana itu buat belanja. He..he.. sebentar ya.” jelas Rahmat sambil merogoh saku celananya lebih dalam. “Saku celana kok besar-besar amat. Kira-kira bisa masuk kerbau berapa ekor tuh?” ejek Eka sambil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nah.. this is it! Take this, Eka.” ucap Rahmat saat menemukan surat wasiat yang asli dan lalu memberikannya pada Eka untuk di teliti. “Hmm.. menarik. Disini tertulis, ‘Bila hidupku harus berakhir dengan cara ini, aku rela asalkan aku tetap disisimu. Maafkan, jika selama ini aku terus menyakitimu. Semoga dengan ini, semua akan berakhir. Maafku untuk semuanya.’ Hmm.. aneh..” komentar Eka. “Apanya yang aneh, ka?” tanya Rahmat karena penasaran. “Disini ada beberapa kata yang janggal. Misalnya kata ‘menyakitimu’, orang yang bunuh diri tentu tak akan menggunakan kata ini dalam pesan terakhirnya.” jelas Eka. “Hmm.. bisa saja kan dia pernah menyakiti orang yang ia cintai dan lalu di putusin ama pacarnya tersebut. Lalu ia menyesal, next killing self deh.” ujar Rahmat tidak setuju dengan dalih Eka. “Disini juga tertulis kata ‘asalkan aku tetap disisimu.’. Seseorang yang tahu akan kematiannya pasti ingin di temani oleh orang yang dicintainya. Tapi kenapa maksudnya malah menjadi ingin menemani?” jelas Eka lagi berusaha meyakinkan Rahmat. “Hmm.. iya juga sih.” ujar Rahmat lagi yang mulai mengerti maksud Eka. “Dengan ini bisa dipastikan bahwa ini bukan bunuh diri melainkan pembunuhan yang sudah direncanakan dengan matang.” ujar Eka mengemukakan hipotesanya.Wah.. hanya dari secarik kertas saja bisa tahu sampai sejauh itu. Apalagi kalau sudah ke TKP. I’m mah tinggal nunggu aja. He..he..” puji Rahmat.
Ketika pulang sekolah, Eka tidak langsung pulang. Tapi dia malah pergi ke tempat kasus itu sendirian. Tapi walau niatnya sendiri, tetap saja dia akan tetap bertemu dengan Rahmat dan Richie. Namanya juga satu grup sebagai detektif sekolahan. “Kenapa kalian bisa ada disini juga?” tanya Eka. “Hey.. kita kan satu grup ini.” jawab Richie. “You udah nemuin barang bukti baru lagi gak?” tanya Rahmat. “No, not yet.” jawab Eka dengan singkat. “Ada baiknya kita cek kamar si korban.” usul Richie. “Hmm.. that’s great idea!” terima Eka. “Betul tuh! C’mon kita let’s go.” terima Rahmat juga sambil mengajak untuk lekas pergi ke rumah si korban. Kemudian mereka pun pergi ke rumah si korban bersama-sama. Setelah diijinkan untuk memeriksa kamar si korban, mereka pun menggeledah semua yang ada di kamar itu. “Hey! Aku menemukan sebuah catatan kecil di belakang buku pelajaran ini.” teriak Rahmat pada Eka dan Richie. “Coba bacakan!” suruh Eka. “Hmm.. ‘ini pertama kalinya untukku melakukan sesuatu yang dilarang dan aku berbohong untuk menutupinya.’.” kata Rahmat, membacakan catatan kecil di bagian belakang buku itu. “Disini juga ada, disini tertulis, ‘ternyata benar penyesalan memang selalu datang belakangan’.” kata Richie juga sambil membacakan hasil temuannya. Saat sedang mengorek-ngorek tong sampah, Eka tiba-tiba menemukan sesuatu lalu dia pun tersenyum dengan gaya khasnya. “Kelihatannya aku sudah menemukan kunci dari catatan-catatan yang kalian temukan barusan.” ujar Eka sambil memperlihatkan temuannya itu. “Hah.. tes kehamilan?” ucap Rahmat dan Richie secara serentak dengan nada kaget. “Positif!” sahut Eka memberitahukan hasil dari tes kehamilan tersebut. “Sekarang makin jelas aja. Tapi, apa you yakin kalau ini pembunuhan berencana?” tanya Rahmat yang masih belum percaya pada hipotesa Eka tersebut. “Apa surat wasiat itu masih kau bawa?” tanya Eka. “Tentu. Emang kenapa?” jawab Rahmat sambil bertanya balik. “Coba kamu cek, apa tulisan di surat wasiat itu dan yang di buku itu sama atau berbeda.” suruh Eka pada Rahmat. Rahmat pun tercengang, karena ternyata gaya tulisannya berbeda. Rahmat pun jadi kagum pada Eka, ternyata Eka punya pandangan jauh kedepan. Setelah pamit pada ibu si korban, lalu mereka bertiga pun pergi ke base camp detektif sekolahan. Disana mereka merundingkan tentang kasus tersebut dan mulai membagi tugas. “Kita tahu kalau ini adalah pembunuhan yang di buat seakan bunuh diri. Jadi, kita harus lakukan beberapa pemeriksaan dan penyelidikan. Aku akan mencari tahu tentang si pelaku ini pada teman-teman si korban. Lalu Richie juga harus periksa lagi TKP untuk memastikan ada tidaknya barang bukti lagi. Sedangkan Rahmat harus membujuk orang tua si korban untuk melakukan otopsi.” perintah Eka pada semuanya. “Baiklah kalau begitu, kami mengerti.” terima Rahmat dan Richie.
Kemudian setelah mereka membagi tugas, mereka pun pergi dan melakukan tugas mereka masing-masing. Eka yang bertugas sebagai penyidik si pelaku pun mulai mendatangi rumah teman-teman si korban satu per satu. “Assalamu ‘alaikum..” ucap Eka sambil mengetuk pintu rumah salah satu teman si korban tersebut. Kemudian pintu pun terbuka, dan ternyata yang membukakan adalah seorang perempuan. “Hmm.. ada apa ya?” ucap si perempuan dengan sedikit grogi karena ternyata rumahnya di datangi oleh Eka yang memang berwajah tampan. “Apa kita bisa berbicara sebentar?” tanya Eka sambil tersenyum ramah. “Hmm.. bagaimana ya?.. boleh deh. Emang mau ngomongin apa?” terima perempuan itu sambil menanyakan maksud Eka. “Ini tentang temanmu yang bunuh diri itu. Apa kamu tahu sesuatu tentang dia, misalnya bagaimana kehidupannya? Siapa saja yang sering dekat dengannya? Dan siapa pacarnya?” jelas Eka sambil menanyai perempuan itu. “Dia orangnya ceria dan aktif. Dia juga gak pernah menyerah orangnya. Saat aku denger dia bunuh diri aja aku sampai gak percaya, karena gak mungkin dia yang kukenal sampai melakukan hal itu. Dan mengenai orang-orang yang sering dekat dengannya, hanya aku dan sahabat-sahabatnya aja deh kayaknya yang sering. Dan mengenai pacarnya, dia baru pacaran ya baru-baru ini.” jawab perempuan itu dengan sangat rinci. “Kalau aku boleh tahu, siapa nama pacarnya itu?” tanya Eka lagi. “Kalau gak salah namanya Dion.” jawab perempuan itu. “Coba jelaskan tentang si Dion ini.” pinta Eka. “Aku gak begitu kenal sih orangnya, tapi yang aku tahu dia agak pendiam gitu. Dia sekelas dengan Rita.” jawab Perempuan itu lagi. Rita adalah nama si korban itu. “Oh ya, apa aku boleh minta nomor Hpmu? Biar gampang jika ada sesuatu yang ingin aku tanyakan lagi aku bisa langsung menghubungimu.” Ujar Eka meminta nomer HP perempuan itu. “Hmm.. ini. Tapi jangan di jailin ya.” Sahut perempuan itu sambil menyodorkan Hpnya dan memperlihatkan nomornya. Lalu Eka pun menulis nomor itu dan lalu pamit kemudian pergi ke base camp. Disana ternyata Richie dan Rahmat sudah menunggu. “Bagaimana? Apa orang tua si korban mengijinkan untuk melakukan otopsi?” tanya Eka pada Rahmat. “Pertamanya sih nolak, tapi setelah I’m mengatakan kemunkinan pembunuhan pada klien kita itu, mereka akhirnya mengijinkan untuk otopsi pada jasad daughter mereka itu.” jawab Rahmat dengan rinci. “Baguslah, jadi malam ini kita panggil dia lagi untuk membantu kita.” ujar Eka dengan senyuman khasnya. “Dia siapa?” tanya Rahmat. “Tentu saja Isti si dokter cantik kita.” jawab Eka sambil tetap tersenyum gaya khasnya.
Malam hari pun tiba, dan mereka sudah siap di markas untuk melakukan otopsi. Tapi ternyata Isti belum datang juga. Isti adalah teman Eka sewaktu masih kelas dua. Dia punya mata yang agak sayu dan wajah yang cantik. Rambutnya sering terlihat diikat daripada terurai. Setelah lama menunggu, akhirnya Isti pun tiba disana. Dia terlihat begitu cantik mengenakan seragam putih ala dokter itu. Dan lalu sambil tersenyum manis dia pun menghampiri Eka. “Hai..” sapa Isti pada Eka. “Hai.. apa kamu sudah siap buat melakukan otopsi, Isti?” tanya Eka sambil membalas senyuman pada Isti. “Tentu. Sekarang ada dimana mayat yang harus aku otopsi?” jawab Isti sambil menanyakan jasad si korban. ”Seperti ada, jasad si korban dan semua peralatan yang kamu butuhkan sudah ada di dalam semua.” Jawab Eka sambil mempersilahkan masuk pada sebuah ruangan yang memang di khususkan untuk otopsi. “Baiklah, mohon jangan ganggu aku saat otopsi masih berlangsung.” pinta Isti. “Ya, aku udah tahu kok.” ujar Eka. Kemudian setelah menunngu dalam waktu yang cukup lama, akhirnya otopsi tersebut selesai juga. “Bagaimana?” tanya Eka pada Isti yang baru keluar dari ruang otopsi tersebut. “Hmm.. aku menemukan beberapa kejanggalan. Ada beberapa luka kekerasna seperti lebam-lebam bekas hantaman tangan atau benda tumpul di beberapa organ tubuhnya. Dan ada luka jeratan tali di dalam luka akibat akibat gantung diri di lehernya. Dan dapat dipastikan dia mati karena di jerat dengan tali oleh seseorang.” jelas Isti dengan sangat rinci. “Hmm.. begitu. Kelihatannya ini akan semakin rumit. Karena anak SMA tak mungkin melakukannya. Pastinya dia harus sangat professional. Atau malah mungkin pelakunya tidak sama seperti dengan yang aku duga dan malah lebih rumit. Hmm..” pikir Eka. “Oh ya, ada satu lagi. Tadi aku menemukan ini terselip dalam Bhnya.” kata Isti sambil memberikan apa yang ia temukan. “Ini, ini sebuah pesan lagi.” kata Eka saat Untitled.jpgmembacanya. “Apa tulisannya?” tanya Isti penasaran. “Tidak, ini bukan tulisan melainkan sebuah gambar.” jawab Eka sambil menunjukannya pada Isti. “Putri yang terjebak dalam menara?” ujar Isti saat melihat gambar itu. “Bukan, ini bukan putri. Karena putri biasanya digambar dengan rambut yang panjang kan? Tapi ini tidak, karena si korban ingin menunjukan kalau ini adalah laki-laki. Artinya ini adalah ‘pangeran yang terjebak dalam menara’. Pangerna dalam gambar ini menunjukan seseorang yang jadi pujaan hatinya, karena pangeran adalah tokoh yang selalu jadi pasangan sang tokoh utama yang biasanya seorang putri. Dan menara dalam cerita juga biasanya di jaga oleh sesuatu yang jahat. Jadi mungkin pesan ini berarti bahwa sang pacar si korban sedang dalam bahaya.” jelas Eka pada Isti. “Wah.. kamu hebat. Hanya dari gambar sederhana aja udah bisa menyimpulkan sampai sejauh itu.” puji Isti sambil memberi tepuk tangan kecil. “Cepat panggilkan Rahmat kemari dan lalu suruh Richie untuk mengembalikan jasad si korban, karena malam ini katanya akan segera di kuburkan.” suruh Eka pada Isti. Kemudian Eka pun dengan segera menelepon kenalannya di kantor polisi Cikampek, sementara Isti melakukan apa yang di suruh oleh Eka yang memang ketua kelompok itu. Hari itu jadi salah satu hari paling rumit dalam hidup Eka. Tapi hari-hari seperti itulah yang memang diinginkan oleh Eka.
Esok harinya saat di sekolah Eka tampak sibuk berpikir dan terdiam saja selama jam istirahat. “Halo.. kenapa nih melamun terus?” kata seseorang sambil mencoleknya. Hal itu lantas membuat Eka terperanjat kaget. “Ah kamu ngagetin aja. Ada apa?” tanya Eka yang baru sadar ternyata itu adalah Ihat. “Ini, apa kamu bisa ngerjain ini?” tanya Ihat sambil menyodorkan buku matematikanya pada Eka. “Hmm.. kenapa gak ngerjain sendiri aja? Aku lagi sibuk nih.” tolak Eka. “Ayolah.. please.. soalnya aku yang ini belum ngerti.” bujuk Ihat sambil menarik-narik lengan baju Eka dengan manja. “Iya-iya.. tapi nanti aja ya. Kan PR ini.” pinta Eka. “Makasih ya.”  ucap Ihat dengan nada manja lalu pergi keluar. “Hmm.. dasar perempuan, bisanya nyusahin aja.” gerutu Eka sambil menggaruk-garuk kepalanya. Karena sudah terlanjur buyar pikirannya, maka Eka pun pergi keluar dan menemui Rahmat. Tapi baru mau bangkit dari tempat duduknya, ternyata bel masuk berbunyi. “Yah..” lenguh Eka, kecewa yang kemudian duduk lagi. Tiba-tiba dia dapat SMS dari kenalannya di kepolisian. ‘Kami telah mencari orang yang bernama Dion tersebut dan ternyata orang tersebut hilang. Dan katanya dia hilang sejak 2 hari yang lalu.‘ bunyi tulisan SMS itu. Lalu Eka pun menjawab, ‘bisakah anda datang ketempat kami sendirian karena ada yang ingin saya bicarakan dengan anda.’. Tidak lama kemudian dia dapat balasan, ‘Tentu. Kapan?’. Lalu Eka pun menjawab lagi, ‘Sore ini, jam 3.’. lalu dia dapat balasan lagi, ‘Oke, jam 3 saya akan kesana.’.
 Sore pun tiba, tepat jam 3 Eka dan kawan-kawan sudah standby menunggu anggota polisi kenalan Eka tersebut. Tidak lama kemudian orang yang ditunggu pun datang. Dengan seragam polisi, dia menghampiri Eka yang sedang duduk di ruang berunding base camp yang sekarang jadi markas Eka dan kawan-kawan SMAnya. “Selamat sore.. maaf, apa saya mengganggu?” sapa polisi itu yang kelihatannya baru berusia 20 tahunan.Hmm.. tentu tidak. Sailahkan duduk, kawan.” sahut Eka sambil mempersilahkan duduk. “Jadi, ada apakah  gerangan yang ingin anda bicarakan dengan saya?” tanya polisi itu. “Ah.. janganlah jadi terlalu formal gini. Pakai saja bahasa sehari-hari. Hmm.. sebenarnya aku punya kasus baru yang lumayan rumit. Jadi, aku minta bantuanmu untuk memecahkan kasus ini.” jelas Eka. “Oh.. gitu rupanya. Emang kasus apa?” tanya polisi itu lagi. “Pertamanya sih kukira kasus pembunuhan yang dibuat jadi bunuh diri. Tapi ternyata setelah ditemukan beberapa petunjuk baru kasus tersebut jadi makin rumit.Inilah beberapa petunjuk yang kami temukan.” jelas Eka sambil menunjukan petunjuk yang di temukan oleh kelompok mereka. “Hmm.. ini menarik.” komentar polisi itu. “Tolong kamu konfirmasikan ke teman-temanmu yang lain tentang hal ini. Tapi juga suruh mereka untuk jangan dulu melakukan pergerakan karena belum dapat dipastikan kebenarannya. Setelah semua sudah pasti, aku akan menghubungimu lagi.” pinta Eka. “Baiklah, aku mengeti.” ujar polisi itu. “Oh ya, tolong juga pintain ijin untuk melakukan penggeledahan di rumah Dion buat besok. Dan juga ijin untuk melakukan kekerasan jika kepaksa. I’m gak mau kalau nanti I’m kena sangsi karena 2 hal itu.” pinta Rahmat juga. “Oke, semua bisa diatur.” terima polisi itu. “Hmm.. baiklah aku pergi dulu ya. sebab masih ada tugas lainnya lagi. Nanti kalau ada apa-apa SMS saja ya.” pamit polisi itu dan lalu pergi unutk melanjutkan patrolinya. Sore itu Eka dan kawan-kawan belum melakukan pergerakan karean masih menunggu turunnya surat ijin dari polisi. Dan kelihatannya mereka baru bisa meneruskan penyelidikan hari minggu besok.

To be continued...

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, tempat, maupun kejadian itu hanyalah kebetulan semata.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】