Pasopati II: Flashback Of Eka, bagian 5

Eka mampu mengalahkan ke 10 orang yang di bawanya ke depan sekolah. Sementara itu Rahmat juga bisa mengalahkan orang-orang yang digiringnya juga. Tapi berbeda dengan Richie yang mulai kewalahan melawan 10 orang sekaligus. Saat Richie sudah terdesak tiba-tiba datang bantuan dari Joe dan kawan-kawan. “Lu gak apa-apa kan?” tanya Joe pada Richie yang terduduk di tanah karena terdesak. “Ya, untung aja kalian datang.” sahut Richie sambil mencoba bangkit. Kemudian Richie dan Joe CS pun melawan kesepuluh orang itu. Sekarang mereka jadi 5 lawan 10. Sementara itu, Eka dan Rahmat pergi ke halaman tengah untuk berhadapan dengan ketua geng motor itu. “Rahmat, kau sudah kalahkan mereka?” tanya Eka yang berpapasan dengan Rahmat di depan kelas mereka. “Yes, I do. Oh ya, dimana Richie?” jawab Rahmat sambil balik nanya. “Hmm.. mungkin masih bertarung. Bagaimana kalau kita langsung hadapi saja ketuanya.” ajak Eka. “Come on!” terima Rahmat. Kemudian Eka dan Rahmat pun menghampiri ketua geng motor itu. “Halo, bagaimana perasaanmu saat di tinggal oleh anak buahmu?” sapa Eka pada ketua geng itu yang terduduk di depan kantor. “Lu jangan macam-macam ama gua!” ujar Eron dengan nada geram sambil mengambil samurai yang di sembunyikan di balik celana panjangnya. “Eka.” panggil Rahmat pada Eka saat melihat samurai itu. “Ya aku juga tahu.” sahut Eka. “Ayo kalian semua maju!” tantang Eron pada Eka dan Rahmat sambil menodongkan samurainya. “Hhh.. baiklah..” terima Eka sambil kemudian maju untuk menyerang Eron. Tapi Eron dengan cepat menebaskan pedang samurainya ke leher Eka. Saat melihat itu, Rahmat dengan sigap menarik baju Eka hingga Eka terjatuh dan lolos dari sabetan pedang samurai itu. “Hati-hati. Jangan gegabah, Eka.” ujar Rahmat memperingatkan Eka akan pedang samurai yang di pegang oleh Eron itu. “Rahmat, kita serang bersama-sama.” ajak Eka pada Rahmat.“Ok!” terima Rahmat. Lalu mereka pun maju bersama-sama. Rahmat yang lebih dulu menyerang, lalu Eron berusaha menebas Rahmat tapi keburu di tepis oleh Eka dengan menggunakan payungnya. Pukulan Rahmat pun mendarat tepat di dagu Eron hingga terhuyung-huyung ke belakang. Lalu sekarang giliran Eka yang menyerang dengan tendangan memutar, dan Eron pun berusaha menebaskan pedangnya lagi, tapi sayangnya pedang itu di tangkap oleh Rahmat dengan kedua tangannya. Dan tendangan Eka pun sampai tepat di perut Eron hingga ia terpental ke belakang dan terguling-guling. “Sialan!” pekik Eron sambil bangkit dan berdiri lagi. Lalu Eron pun menebaskan pedang samurainya dengan sekuat tenaga ke arah Eka seperti membelah kayu dengan kapak, dan Eka pun berusaha menahan dengan payungnya. Sayangnya payungnya itu tidak kuat menahan tebasan pedang itu dan terpotong, tapi untungnya Eka masih dapat mengelak. Rahmat kaget melihat itu dan dengan sigap menendang wajah Eron dan menarik Eka ke belakangnya. Saat Eron masih terhuyung-huyung ke belakang, Rahmat pun menyerangnya lagi dengan memelintir tangan Eron hingga pedang samurainya terjatuh. Dengan cepat Eka melompat dan menendang dada Eron hingga Eron terpental sejauh 3 meter ke belakang. Eron berusaha bangkit lagi, tapi Eka dan Rahmat kembali menyerangnya dan ternyata Eron membawa pisau juga dan berusaha menusuk Eka. Tapi Eka menangkap tangan Eron dan memelintirnya dengan kedua tangannya hingga Eron merintih kesakitan. “Apa kau sudah menyerah?” tanya Eka. “Sialan!” tolak Eron. Lalu Eka pun mematahkan tangan Eron denag siku tangan kanannya dan memukul wajah Eron hingga ia terputar beberapa kali di udara lalu jatuh.
Beberapa saat kemudian polisi pun datang ke tempat itu dan mendapati anak-anak geng yang menyerang sekolah itu sudah terbaring di tanah sambil merintih kesakitan. “Ah.. kau telat, kawan.” ujar Eka sambil menepuk pundak teman polisinya yang baru datang bersama teman-temannya itu. “Wah.. harusnya kamu tunggu kami dulu. Kami kan jadi gak kebagian beraksi.” sahut teman polisinya Eka itu sambil cemberut. “You kelamaan, man. Nanti kalau kami nunggu you datang, sekolah kami keburu destroy.” kata Rahmat mengkritik telatnya kedatangan para polisi itu. “Hmm.. disini cukup parah juga rupanya.” ujar polisi itu sambil melihat kiri kanan dan memang sekolah itu dalam keadaan yang buruk dan banyak barang dan alat-alat sekolah yang hancur. “Ya.. kelihatannya sih begitu. Aku gak tahu perbaikannya bisa sampai kapan selesainya. Tapi mudah-mudahan saja bisa secepatnya. Soalnya sebentar lagi adalah ujian nasional.” ujar Eka sambil melihat sekolah yang hancur itu. “Tenang, kawan. Kami akan bantu sebisa kami. Ini juga karena kami yang telat datang. Jadi sekolah kalian hancur. Karena itu, kami akan bantu perbaiki semuanya.” ujar teman polisi Eka tersebut. “Terima kasih, Indra.” ucap Eka sambil tersenyum ramah pada teman polisinya yang ternyata bernama Indra itu. “Sama-sama. Itu sudah tugas kami untuk melayani masyarakat.” sahut Indra sambil membalas senyum. Kemudian para polisi itu pun membawa para anak geng itu ke rumah sakit untuk di rawat lalu setelah itu di bawa ke kantor polisi untuk di proses. Sementara itu, Eka dan kawan-kawan membawa guru-guru dan teman-temannya yang terluka ke rumah sakit untuk dirawat. “Wah.. kelihatannya hanya kita aja yang gak terlalu parah ya.” ujar Richie, berbincang-bincang dengan Eka dan Rahmat sambil duduk santai di ruang tunggu. “Maybe.” jawab Rahmat. Tiba-tiba datang Isti untuk menjenguk guru dan teman yang dirawat. “Hey Isti, kamu mau nengokin mereka ya?” sapa Richie pada Isti yang lewat di depan mereka. “Yeps. Oh ya, Eka kamu gak apa-apa kan?” jawab Isti dengan tersenyum manis yang lalu menyapa Eka. “Kamu tenang aja, aku gak apa-apa kok.” sahut eka sambil membalas senyum pada Isti. “Sebentar ya, aku mau kedalam dulu sebentar.” ujar Isti sambil berlalu ke dalam ruang rawat. “Eka.” panggil Rahmat. “Apa?” sahut Eka. “Kelihatannya you ceria banget ya. That’s good of you, Eka. Terus pertahankan.” sambung Rahmat sambil menepuk pundak Eka. “Hmm.. maksudnya?” ujar Eka bertanya-tanya karena bingung. Tidak berapa lama, Isti pun keluar dari ruang rawat kemudian langsung duduk di samping Eka. “Eka.” panggil Isti sambil tersenyum. “Wah.. aku mau ambil minum dulu ya.” ujar Rahmat beralasan ambil berlalu pergi, padahal dalam hatinya dia ingin meninggalkan Eka supaya dapat berduaan dengan Isti. “Whoaah.. duduk terus disini bikin aku ngantuk. Aku mau cari udara segar dulu ya keluar.” kata Richie yang juga ingin meninggalkan Eka untuk berduaan dengan Isti.
Kali ini Eka dan Isti benar-benar berdua karena saat itu memang rumah sakit sudah sepi dan waktu menunjukan pukul 10 malam. “Eka..” panggil Isti lagi. “Apa, bu dokter?” sahut Eka sambil tersenyum pada Isti. “Apa kamu udah dapat jawaban atas pernyataanku?” tanya Isti sambil menatap manja pada Eka. “Tentu, bu dokter cantik.” sahut Eka lagi. “Lalu apa jawabannya?” tanya Isti lagi, penasaran. “I love you too.” jawab Eka sambil menjepit hidung Isti dengan pangkal telunjuk dan jari tengahnya. “Aduh.. sakit..” erang Isti sambil tersenyum bahagia. “Isti..” panggil Eka. “Apa, ganteng?” sahut Isti. Tapi Eka tidak menjawab dan malah mendekatkan wajahnya ke wajah Isti. Semakin lama semakin dekat. Isti pun mengerti, dan ia pun mulai memejamkan matanya sambil memegang tangan Eka. “Tunggu, kenapa kamu memegangi tanganku segala?” tanya Eka sambil berhenti sejenak. “Biar tanganmu gak nakal saat kita melakukan itu.” jawab Isti membuka matanya sejenak. “Hmm.. emang kalau nakal kenapa?” tanya Eka lagi. “Dasar laki-laki..” sahut Isti sambil menekuk kepala Eka sambil senyum karena berkata seperti itu. Mereka pun melanjutkan apa yang tadi tertunda. Eka mulai menyentuh bibir Isti dengan bibirnya. Isti pun mulai memberikan respon. Dan akhirnya mereka pun berciuman. Mereka berpagutan cukup lama. “Hayo!” sentak Rahmat dengan tiba-tiba mengagetkan mereka berdua. Dengan cepat Eka dan Isti pun melepaskan pagutan mereka dan saling membelakangi. Tampak oleh Rahmat wajah mereka berdua kemerah-merahan, dan hal itu membuat Rahmat jadi senyum-senyum sendiri. “Kenapa kalian malah berhenti? Ayo teruskan.” goda Rahmat sambil senyum-senyum. Kemudian Eka pun berlalu keluar sambil menarik tangan Isti. “Wah.. mau nerusin di tempat lain ya?” ucap Rahmat mencoba menggoda mereka lagi. “Kita mau kemana?” tanya Isti. “Ke suatu tempat dimana kita bisa berdua.” jawab Eka sambil tetap melangkah. “Jalan kaki?” tanya Isti lagi. “Tenang, tempatnya deket kok.” ujar Eka menenangkan Isti. Tidak berapa lama mereka pun sampai di sebuah lapangan sepak bola. Disana mereka tiduran sambil melihat indahnya bintang-bintang yang bertaburan di langit malam yang cerah itu dengan hanya beralaskan jaket milik Isti. “Lihatlat disana. Itu adalah rasi bintang milikku. Itu rasi bintang pisces.” ujar Eka sambil tiduran dan menunjuk ke arah rasi bintang yang di maksud. “Wah.. kok bentuknya gak mirip ikan ya?” komentar Isti. “Bentuknya memang tidak mirip bentuk ikan, tapi mirip ikan yang melompat ke atas air.” jelas Eka. ”Ooh.. bener juga ya.” sahut Isti mulai mengerti. “Lihat-lihat, bintang-bintang itu bila di sambung satu sama lain bentuknya jadi mirip hati ya?” sambung Isti sambil menunjuk ke arah bintang-bintang yang di maksud. “Ya.. kamu benar. Bagaimana kalau itu kita jadikan rasi bintang milik kita. Yang akan membuat hati kita selalu saling teringat saat melihatnya. Disaat kita jauh dan tak dapat bertemu dan memadu kasih, lihatlah ke bintang itu dan kita kan merasa dekat. Bintang itu kan menjadi bintang kenangan kita.” ujar Eka sambil mengelus-ngelus wajah Isti dengan lembut. “Bintang hati, bintang cinta kita.” sahut Isti sambil tersenyum pada Eka. “Ya, bintang cinta kita.” sambung Eka.sambil melihat ke langit lagi. “Apa kita akan menghabiskan malam disini terus?” tanya Isti. “Tentu tidak, sweety. Ayo ikut aku.” ajak Eka sambil menarik tangan Isti. “Tunggu jaketku.” ujar Isti sambil mengambil dan memakai lagi jaketnya. Mereka pergi ke sebuah tempat tidak jauh dari lapangan itu. Mereka pergi ke pemutaran film layar tancep di sebuah hajatan. “Wah.. bagaimana kamu bisa tahu disini da layar tancep?” tanya Isti penasaran. “Karena tadi saat aku lewat sini bareng Rahmat dan Richie, aku lihat ada yang lagi pasang layar.” jelas Eka. Kemudian mereka pun nonton layar tancep itu sampai selesai. Dan waktu pun menunjukkan pukul setengah 4 pagi. ternyata saat film di putar, Isti tertidur di pangkuan Eka. Dan saat film selesai semua, Eka pun membangunkan Isti dengan lembut, dan mereka pun kembali ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit ternyata Rahmat dan Richie sudah tertidur pulas. “Hmm.. sweety kalau mau tidur, tidur aja. Aku mau jaga sampai siang.” ujar Eka sambil tersenyum. Kemudian Isti pun tidur lagi di pelukan Eka sambil duduk di ruang tunggu sementara Eka masih terjaga. Siang harinya teman-teman yang lain datang berikut dengan Indra, teman polisi Eka. Karena mereka sudah pada datang, Eka pun membangunkan Isti. Isti pun akhirnya bangun dan lalu cuci muka ke toilet. “Eka, bagaiman keadaanmu?” tanya Indra sambil duduk di sebelah Eka. “Ngantuk.” jawab Eka dengan singkat. “Emang semalam kamu begadang?” tanya Indra. “Ya, begitulah. Semalam aku nonton layar tancep.” jelas Eka sambil matanya mulai sayu karena ngantuk berat. “Layar tancep? Kok nonton layar tancep sih. Kukira kamu begadang jagain yang sakit.” ujar Indra, heran. “Yang sakit mah gak perlu dijagain. Gak mungkin mereka kabur. Buat bangun aja sulit.” sahut Eka sambil menguap. “Waduh.. kamu ada-ada aja, ka. Ya udah, kamu pulang aja dulu ya. Disini biar aku yang urus.” suruh Indra pada Eka yang terlihat sudah begitu ngantuk. “Hmm.. baiklah.” terima Eka sambil bangkit dari duduknya dengan lemas. Kemudian Eka pun pulang bersama Isti. Ketika sampai di rumah, Eka langsung masuk ke kamar lalu tidur. Beberapa minggu kemudian guru-guru yang dirawat pun sudah sembuh semua dan perbaikan sekolah pun sudah selesai. Kegiatan belajar mengajar pun kembali berlangsung. Semua orang berterima kasih pada Eka dan kawan-kawan atas jasa mereka sekolah bisa terselamatkan dari bahaya yang lebih fatal. Saat hari pertama sekolah di mulai, ada beberapa wartawan memburu Eka dan kawan-kawan yang di kabarkan sebagai pahlawan itu. Dan mereka pun akhirnya terkenal sebagai 3 detektif sekolahan legendaris. Tapi Eka dan kawan-kawan tidak pernah menampakkan dirinya sehingga muncul isu kalau mereka sengaja di sembunyikan oleh sekolah.
Beberapa bulan telah berlalu, Eka dan kawan-kawan pun sekarang sudah selesai dengan ujian nasional mereka dan lulus dengan nilai yang memuaskan. Banyak anak merayakan kelulusan mereka dengan corat-coret baju, tapi Eka dan kawan-kawan merayakan dengan cara yang berbeda. Mereka semua berkumpul di markas dan saling bertukar tanda tangan di buku harian mereka masing-masing. Mereka juga menulikan pesan dan kesan mereka selama SMP di sebuah agenda detektif yang berupa buku besar yang mencatat semua kasus yang telah di selesaikan oleh Eka dan kawan-kawan. Setelah menyelesaikan kegiatan mereka, mereka pun pulang ke rumah mereka masing-masing. Saat perjalanan pulang, Eka dan Isti tampak bermesraan sepanjang jalan hingga sampai di sebuah pertigaan dimana mereka saling berpisah untuk menuju ke rumah mereka yang memang berlawanan arah. Saat liburan, Eka sibuk mengurus keperluan untuk masuk ke sekolah yang baru. Saat Eka sedang sibuk-sibuknya mengurus semua itu tiba-tiba ia dapat SMS dari Isti. Dalam SMS itu tertlis, ‘Sayang, aku ingin bicara ama kamu. Kamu ada waktu gak buat ketemuan?’. Lalu Eka menjawab, ‘Ya udah, lewat SMS aja.’. Tapi Isti membalas, ‘Gak, aku gak mau lewat SMS terus. Pokoknya aku mau ngomong langsung ama kamu.’. Kemudian Eka menjawab lagi, ‘Baiklah. Kapan? Dimana?’. Isti pun membalas, ‘Hari ini jam 3 sore di Base Camp.’. ‘Ok!’ terima Eka lewat SMS. Lalu tepat jam 3 sore, Eka pun pergi ke Base Camp dan menemui Isti disana. “Ada masalah apa sih, sweety?” tanya Eka pada Isti yang duduk dengan raut wajah yang nampak lesu. “Sebenarnya aku punya 2 kabar untukmu. Yang satu kabar baik dan yang satu lagi kabar buruk.” jawab Isti dengan wajah sedih. “Kabar baiknya apa?” tanya Eka sambil duduk di sebelah Isti sambil mencoba menenangkannya. “Kabar baiknya ayahku dapat promosi kerja di Jakarta.” jawab Isti. “Wah bagus atuh. Tapi kenapa kamu nampak sedih begitu? Dan apa sebenarnya kabar buruknya?” tanya Eka lagi dengan penasaran. “Kabar buruknya, hubungan kita kelihatannya harus kuakhiri.” jawab Isti sambil meneteskan air mata. “Kok gitu? Emang kenapa?” tanya Eka lagi yang terkejut dengan pernyataan Isti tersebut. “Soalnya aku harus pindah ke Jakarta. Aku udah gak bisa bareng kamu lagi.” jelas Isti sambil terisak-isak menangis. “Kenapa harus berakhir? Kan kita bisa berhubungan jarak jauh.” ujar Eka dengan nada khawatir. “Tapi kamu takkan kuat terus-terusan berhubungan jarak jauh. Daripada aku nanti kamu khianatin, lebih baik aku relakan melepasmu dan mencari penggantiku. Carilah perempuan yang lebih cantik, lebih pintar, dan lebih hebat dariku, Eka!” sentak Isti sambil menangis lalu lari keluar dan pergi meninggalkan Eka. “Kenapa? Kenapa harus begini? Ya Allah, kenapa cobaan ini begitu berat? Rasanya baru kemarin luka hamba sembuh, sekarang harus terluka untuk kedua kalinya. Kenapa?” pekik Eka dalam hatinya menahan perih dan amarah di hatinya. Eka pun menangis di Base Camp hingga hari gelap. Begitu pula Isti yang terus mengurung dirinya dalam kamar dan terus menangis. Eka pulang dengan wajah yang menunduk dan sedikit sesenggukan karena menahan tangis. Dalam hatinya Eka berjanji bahwa Isti adalah seni terindah dalam hidupnya. Dan dia takkan pernah melupakan dan akan selau mengingat Isti selamanya dalam hati. Begitu pula dengan Isti walau tadi ia mengatakan akan melepas Eka, tapi dalam hatinya ia menolak dan akan selalu menjadikan Eka sebagai satu-satunya lelaki di hatinya. Akhirnya mereka pun berpisah dan sampai sekarang belum pernah bertemu lagi. Eka pun sekarang beranjak ke SMA. Ia bersekolah di SMAN 1 Cikampek bersama Richie, temannya. Sedangka Rahmat memutuskan untuk berhenti sekolah karena masalah biaya. Dan detektif sekolahan juga sudah di bubarkan. Tapi walau begitu, Eka tetap aktif dalam hal memecahkan masalah. Saat kelas satu dia berhasil memecahkan masalah beberapa temannya yaitu, Fikri, Andri, Anwar, Reza, Adith, dan masih banyak lagi. Saat kelas 1, Eka bertemu dengan seorang perempuan yang tidak lain adalah anggota OSIS. Dia sering curhat pada Eka dan Eka berusaha membantu memecahkan masalahnya. Berawal dari itu semua, maka timbullah benih-benih cinta diantara mereka. Si perempuan itu pun menyatakan cintanya pada Eka. Dan Eka pun menerimanya dengan syarat dia bisa tahan dengan Eka yang saat itu memang agak sibuk dengan tugas-tugasnya.
Pada suatu hari yang cerah, si Perempuan yang bernama Ayna ini ingin bertemu dengan Eka. Walau Eka sedang sibuk, tapi akhirnya Eka pun pergi ke kelasnya Ayna. “Baiklah, ada apa?” tanya Eka yang langsung duduk di sebelah Ayna. “Nggak, aku cuma mau ngobrol aja.” jawab Ayna dengan malu-malu. “Eka.” panggil Ayna dengan nada yang lirih. “Apa?” sahut Eka sambil melirik Ayna. “Hmm.. gak jadi deh.” ujar Ayna karena malu. “Aah..” Eka menghela napas. “Oh ya, kita lanjutin nanti aja ya.” ujar Eka sambil berlalu pergi. “Kamu mau kemana?” tanya Ayna. “Aku masih ada urusan. Nanti kita sambung lagi.” sahut Eka sambil tetap melangkah. Saat itu Eka memang sedang menangani kasus Andri yang ingin mendapatkan Alista atau Liez. Karena saking sibuknya, Eka jadi jarang bertemu dengan Ayna dan hanya berhubungan lewat SMS saja. Tapi Ayna mencoba bertahan dan malah sering memberikan bekal makanan untuk Eka. Tapi lama kelamaan akhirnya Ayna tidak tahan juga karena kesabaran manusia ada batasnya. Dan saat di pertengahan kasus Andri, Ayna memutuskan Eka lewat SMS. dalam SMSnya tertulis, ‘Sayang, maafkan aku. kelihatannya hubungan kita udah gak bisa berlanjut lagi. Walau aku masih sayang padamu, tapi berat rasanya jika harus begini terus. Kuharap kau bisa mencari penggantiku dan mendapatkan yang lebih baik dariku. Maafkan aku karena telah mengambil keputusan ini.’. Eka pun menjawab, ‘Gak apa-apa kok. Aku memang pantas mendapatkan semua ini. Malahan seharusnya aku yang minta maaf karena tak bisa jadi yang terbaik untukmu. Aku juga akan mendoakanmu supaya dapat menemukan yang lebih baik dan lebih menyayangimu. Biarkanlah aku yang terluka asal kau bahagia.’. Setelah kejadian itu, Eka jadi dingin dan hanya tertarik pada masalah yang menyangkut teman-temannya saja. Ia juga tak pernah berhubungan dengan perempuan lagi. sampai akhirnya ia naik kelas 2 dan gayanya juga berubah total. Tatapan matanya jadi sayu dan dingin bagaikan salju, dan mungkin itulah kenapa ia sering memakai syal berwarna biru mudanya dimanapun ia berada. Itulah kisah tentang Eka di masa lalunya.

Tamat....

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan dalam nama, tempat dan kejadian itu bukanlah sebuah kesengajaan tapi karena kebetulan semata.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】