Pasopati II: Flashback Of Eka, bagian 3

Eka dan kawan-kawan berhasil masuk ke dalam pondok itu. Mereka terbagi dalam 2 tim, tim 1 sebagai pengalih perhatian, sedangkan tim 2 bertugas mencari bos dan dalang dari semua ini. Tim 2 yang di pimpin oleh Rahmat, melakukan penyerangan dari arah belakang. Mereka masuk lewat pintu belakang dan menyusup tanpa suara. Disana hampir tak ada penjaga karena semuanya teralihkan oleh tim 1 yang di pimpin oleh Eka. Tim 2 memeriksa satu persatu ruangan yang ada. Dan hampir semuanya hanyalah ruang kosong atau hanya gudang. Mereka pun mencoba pergi ke lantai atas. “Rahmat, sebenarnya kita sedang mencari apa?” tanya Sinta. “Kita akan cari Dion dan sekaligus boss dari mereka yang menculik Dion.” jawab Rahmat dengan berbisik karena mereka sedang mengendap-ngendap. “Sst..” Rahmat memberi isyarat agar timnya tetap diam karena mereka melihat seorang penjaga di depannya. Kemudian Rahmat pun mengendap-ngendap berjalan ke belakang penjaga itu lalu memukul pundak penjaga itu hingga pingsan. “Ok! Clear!” ucap Rahmat memberi isyarat bahwa semua sudah aman.  kemudain mereka pun kembali melanjutkan pencarian mereka. Tiba-tiba Rahmat memberi isyarat berhenti pada timnya saat dia melihat beberapa penjaga di depan salah satu kamar. “Hmm.. maybe there si Dion di tawan ya..” ujar Rahmat berpikir kalau Dion ada disana. “Sepertinya aku akan butuh sedikit bantuan.” sambung Rahmat sambil memberi isyarat pada anggota timnya yang laki-laki untuk membantunya. Lalu dengan cepat mereka berdua pun menyerang para penjaga yang berjumlah lima orang itu. Tidak sampai lima menit mereka pun menang melawan para penjaga itu. “Ok! I’m go ahead..” ujar Rahmat sambil masuk duluan. ternyata di dalam masih ada dua penjaga lagi yang berbadan besar dan kekar.
Tapi Rahmat tidak gentar sedikit pun dan malah menantang mereka. “Ayo bayi besar, come on! Let’s fight!” tantang Rahmat. Hal itu pun membuat kedua penjaga itu jadi geram dan marah. Akhirnya merka berdua pun bermaksud untuk memukul Rahmat, tapi belum sempat memukul mereka sudah kena hantam di bagian perut oleh Rahmat. “Aduh.. mules..” rintih penjaga itu. “Jadi hanya segitu saja, hah!” tantang Rahmat lagi. “Kurang ajar kau bocah!” geram penjaga-penjaga itu. Ayo maju lagi.” tanbah Rahmat. Kemudain penjaga itu menyerang Rahmat lagi, tapi dengan cepat Rahmat menangkap tangan mereka dan memelintir hingga ke belakang lalu sambil jungkir balik Rahmat menendang bahu mereka secara bersamaan. Mereka berdua pun tersungkur terkena tendangan dari Rahmat itu lau ambruk dan tidak sadarkan diri. “Ahh.. I’m bored.” ujar Rahmat. Kemudain Rahmat memberi kode kepada yang di luar untuk masuk karena sudah aman. “Dion.” ucap Sinta saat melihat sesosok lelaki yang terikat di sebuah kursi. “jadi itu yang bernama Dion?” tanya Rahmat. “Ya, dialah yang bernama Dion.” jawab Sinta. ”Lumayan ganteng juga, tapi tetap lebih charming aku ya.” ujar Rahmat sambil tertawa. “Ini bukan saatnya bercanda.” larang polisi yang ikut tim mereka. “Iya..iya..” ucap Rahmat, mengerti. Kemudian Sinta pun melepaskan ikatannya Dion, sementar polisi dan Rahmat berjaga di ambang pintu. “Kenapa kalian ada disini?” tanya Dion sambil terduduk lemas. “Kami bisa kemari berkat Eka dan kawan-kawan. Berkat para detektif sekolah yang terkenal itu.” jawab Sinta. “Apa detektif katamu? Bagaimana bisa?Apa Rita yang memanggil mereka.” tanya Dion, terkejut mendengar nama detektif sekolah. “Sebenarnya orang tua Rita yang memanggil mereka karena Rita telah di bunuh oleh orang-orang yang menyekapmu ini. Dan pembunuhan ini di buat-buat seakan layaknya bunuh diri.”jawab Sinta menjelaskan kejadian yang sebenarnya. “Apa?! Kamu jangan bohong! Rita gak mungkin mati.” ucap Dion, terkejut dan tidak percaya. “Aku gak bohong, Dion. Dia udah tiada.” tegas Sinta meyakinkan Dion. “Gak! Gak mungkin! Ini gak mungkin terjadi!” ucap Dion sambil menangis karena tak dapat menahan air matanya yang ingin keluar. Saat ikatannya terlepas, Dion langsung lari keluar, tapi dia di cegat oleh Rahmat di ambang pintu. “Mau kemana,Dion?” tanya Rahmat sambil mencengkeram tangan Dion agar Dion tidak bisa lari. “Lepaskan aku! Aku akan bunuh si bajingan itu!” bentak Dion karena tak dapat menahan emosinya. “Ada baiknya jika kita pergi bersama, karena mungkin orang yang kau bunuh itu di jaga oleh bodyguard-nya, yang mungkin punya kemampuan yang berkali lipat darimu.” jelas Rahmat sambil menatap tajam pada Dion. “Lagipula kami harus menunggu ketua kami. Dialah satu-satunya yang tahu apa yang ahrus dilakukan.” sambung Rahmat. Tiba-tiba lampu di seluruh pondok itu mati dan keadaan jadi gelap gulita. “Oke, kelihatannya Eka punya sudah melakukan rencananya. Ato semuanya pakai alat lihat infar merah kalian!” suruh Rahmat pada semuanya. “Dan bagi yang tak punya alat lihat, silahkan tunggu disini untuk menjaga bagian belakang kami.” tambah Rahmat. “Rahmat.” panggil seseorang dalam gelap. “Siapa itu?” tanya Rahmat sambil celingak-celinguk. “Pakailah alat lihatmu itu.!” suruh orang yang memanggil Rahmat tadi. Kemudian Rahmat pun memakai alat lihatnya. “Oh itu kau rupanya, Eka.” ujar Rahmat baru tahu kalau yang tadi memanggilnya adalah Eka. “Bagaimana, apa pemimpin mereka sudah di temukan?” tanya Eka. “Hmm.. belum.” jawab Rahmat. “Kelihatannya kau sudah berhasil menemukan Dion. Barangkali saja dia tahu ruangan pemimpin mereka.” ujar Eka sambil melihat ke belakang Rahmat, disana ada Dion yang ngotot ingin pergi tapi di tahan oleh Sinta. “Justru itu, dia tak mungkin bisa menunjukan arah dalam gelap seperti ini.” sahut Rahmat. “Hmm.. kalu gitu, Richie tolong berikan alat lihatmu itu.” suruh Eka pada Richie yang sedang ada di belakangnya. Kemudian richie pun dengan suka rela memberikan alat lihat infra merahnya pada Eka. “Ini, berikanlah pada Dion dan suruh dia untuk menunjukan jalan pada kita.” perintah Eka. “Ok!” terima Rahmat. kemudian Rahmat pun memberikan alat lihat itu pada Dion dan menyuruhnya untuk menunjukan jalan pada mereka ke tempat bos para penjahat itu. Lalu dengan segera Dion pun menunjukan jalannya. Dan akhirnya mereka pun sampai di sebuah pintu yang di jaga oleh 2 orang penjaga. Tapi karena gelap, para penjaga itu tidak bisa melihat kehadiran Eka dan kawan-kawan. Dengan singkat Rahmat pun melumpuhkan 2 penjaga itu tanpa suara. Kemudian mereka pun masuk ke ruangan itu. Di dalam ruangan itu ada 3 penjaga lagi dengan tubuh tinggi besar, tapi Rahmat dengan mudah bisa melumpuhkan mereka karena dalam gelap Rahmat bisa menyerang dengan leluasa. Tiba-tiba lampu meyala lagi, dan suasana jadi terang benderang. Mereka pun membuka alat lihat mereka karena sekarang sudah terang lagi. Di depan mereka hanya tinggal seorang laki-laki berbadan buncit yang duduk di sofa sambil menghisap ganja. “Bajingan tua!! Kurang ajar kau karena telah membunuh pacarku.” bentak Dion dengan amat geram. “”Rilekslah, Dion. Kau adalah salah satu agenku yang paling berbakat. Tapi amat disayangkan, kau ingin berhenti karena pacarmu itu hah. Jadi terpaksa setelah menikmati tubuhnya, aku pun membunuhnya keesokan harinya.” ujar orang yang di bentak oleh Dion itu dengan santai. “Bedebah!! Sialan!! Anjing!!” maki Dion saking marahnya yang lalu ia melompat ke arah orang yang dulu adalah bosnya itu untuk memukulnya. Sekilas Eka melihat pistol di pinggang bos narkoba itu dan lalu berteriak, “Rahmat!”. “Sial.” pekik Rahmat sambil bergegas mendahului Dion.
Dor!!
Tep!!
Semua orang kaget dan cemas saat mendengar suara letupan pistol itu, tapi ternyata Rahmat mampu mendahului Dion dan menangkap peluru itu dengan tangannya. “Apa?! Kurang ajar!” ucap bos itu sambil mecoba menembak Rahmat. Tapi sebelum sempat menarik pelatuknya, Eka berhasil menendang wajah bos itu dengan tendangan lompat. “Argh..” teriak bos itu merasa kesakitan. Bos itu pun terjungkir ke belakang berikut sofanya. “Kau jangan macam-macam dengan kami. Walaupun kami masih SMP tapi kami sudah terlatih dengan yang semacam ini.” ujar Eka sambil menghampiri bos yang masih terbaring itu. Tiba-tiba mereka di kagetkan dengan kedatangan para penjaga dari pintu depan. Jumlah mereka sekitar 20 orang. Saat Eka dan kawan-kawan terkonsen dengan kehadiran para penjaga itu, si bos narkoba itu pun melrikan diri lewat pintu belakang. “Hey, jangan lari!” teriak Dion jadi satu-satunya yang menyadari kepergian bos itu. Dion pun mengejar bos itu. “Eka, temani dia! Disini biar kami yang urus.” pinta Rahmat. “Baiklah.” terima Eka yang lalu lari menyusul Dion.
Rahmat yang sendirian disana, di keroyok oleh sekitar 20 orang. Walau agak sedikit kewalahan, tapi dia kelihatan senang karena sudah lama dia tidak banyak berkelahi seperti ini. Anehnya saat para penjaga itu kelelahan, Rahmat sedikitpun tidak terlihat letih. “Ayolah.. Apa fisik kalian yang sudah old itu udah pada nge-drop.” ejek Rahmat. Mendengar hal itu, para penjaga itu jadi marah dan mulai mengeroyok Rahmat lagi.Saat asik-asik Rahmat bertarung tiba-tiba muncul segerombolan polisi masuk ke ruangan itu. “Yah..” ucap Rahmat yang bukannya senang malah kecewa karena ia jadi tidak bisa berkelahi lagi. “Jangan bergerak! Angkat tangan!” suruh para polisi itu sambil menodongkan senjata. Dan para penjaga itu pun akhirnya mengangkat tangannya. Lalu mereka pun di giring dan di tangkap oleh polisi. Sementara itu Dion dan Eka sedang mengejar bos atau bandar narkoba itu ke dalam hutan. “Dion, kau harus berhati-hati. Dia punya pistol.” ujar Eka mengingatkan Dion sambil lari mengejar bos narkoba itu. “Ya, aku juga tahu.” sahut Dion. Dion dan Eka pun berhasil mengejar bos narkoba itu lalu mengepungnya. “Sekarang kau tak bisa lari lagi, bedebah!” kata Dion yang masih terlihat geram. “Hmm.. buat apa aku lari lagi. Aku kan punya ini.” sahut bos itu sambil menodongkan pistolnya. Bos itu pun menembak Dion, tapi dengan sigap Eka loncat ke depan Dion dan menghalanginya. Tapi karena itu jadi dia yang kena tembak. “Sial!” ucap Eka sambil merintih kesakitan. “Eka!” teriak Dion yang melihat Eka ambruk di depannya sambil berlumuran darah. “Kurang ajar!” bentak Dion sambil berlari untuk menyerang bos narkoba itu. Bos itu berusaha menembak Dion, tapi tiba-tiba pandangannya terhalangi oleh sebuah payung hitam yang ternyata di lemparkan oleh Eka saat melihat bos itu ingin menembak Dion lagi. Dion pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerangnya, dan dengan sekuat tenaga Dion menghantam wajah bos itu hingga tubuhnya berputar beberapa kali di udara lalu ambruk. Bos itu mengambil kembali pistolnya dan ingin menyerang Dion, tapi tiba-tiba, “Jangan bergerak! Angkat tangan, atau kami tembak!”. Ternyata di sekeliling mereka bertiga sudah ada banyak polisi. “Eka, kau tidak apa-apa?” tanya Dion sambil mencoba membangunkan Eka. “Tenang, aku tidak apa-apa.” jawab Eka sambil tersenyum berusaha menenangkan Dion. “Tapi darah yang keluar banyak sekali.” ujar Dion yang cemas melihat Eka berlumuran darah. “Benarkah? Kelihatannya aku akan mati nih.” kata Eka dengan nada bergurau. “Ayolah jangan bercanda di saat seperti ini.” larang Dion. Rahmat, Richie, dan yang lainnya pun tiba disana bersama polisi-polisi yang lain. “Ya ampun.. Eka. Kau harus segera di bawa ke rumah sakit.” ujar Sinta sambil menghampiri Eka yang di papah oleh Dion. “Biar aku yang bawa.” ucap seseorang dari belakang mereka sambil terdengar juga suara mobil. Ternyata itu mobil jeep dengan ban off road. “Ayo masuk.” ajak orang itu yang ternyata anggota polisi juga. “Ayah..” panggil Dion pada polisi itu. “Ayo jangan bengong aja, cepat bawa dia masuk. Kita akan segera bawa tuan detektif ke rumah sakit.” ajak polisi itu lagi yang ternyata dia adalah ayahnya Dion yang juga seorang kepala polisi. Kemudian dengan bantuan ayahnya Dion, mereka pun membawa Eka ke rumah sakit. Disana Eka di rawat selama 2 hari. Dan setelah itu Eka sekolah lagi seperti biasa. Sementara itu Dion pun mendapatkan hukuman walau tak seberat hukuman yang di jatuhkan pada bos narkoba dan kawan-kawannya karena Dion memang sudah berhenti jadi agen pengedar narkoba sejak lama. Dia hanya mendapat rehabilitasi saja.
Di sekolah, Eka agak kurang di kenal sebagai seoarang detektif, tapi lebih di kenal sebagai seorang yang jenius. Hari itu adalah hari senin yang agak mendung. Namun seperti biasa, mendung atau tidak Eka selalu bawa payung hitamnya. Saat itu di sekolah Eka akan ada lomba dalam rangka memeriahkan hari ultah sekolahnya. Diantara lomba yang ada, Eka memilih lomba menyanyi. “Hmm.. kelihatannya aku akan coba bernyanyi nih.” ujar Eka sambil melihat poster perlombaan yang terpajang di mading. Eka pun menemui panitia perlombaan untuk mendaftar. “Ya, ada yang bisa saya banting, eh bantu maksud saya?” tanya salah panitia. “Hmm.. Saya mau ikut lomba nyanyi.” jawab Eka dengan tersenyum ramah. “Tolong sebutkan nama dan kelas!” suruh panitia yang satunya lagi. “Rizki Eka, kelas 9F.” jawab Eka. “Yeps, ini ini kartu peserta lombamu. Disana ada nomer urutmu.” ujar panitia yang tadi menanyai Eka sambil menyodorkan sebuah kartu peserta. “Oke!” sahut Eka sambil menerima kartu peserta itu. Kemudian Eka pun masuk ke kelasnya sambil melangkah dengan ceria. “Tumben kau begitu riang, ka.” ujar Ihat saat berpapasan dengan Eka di depan pintu. “Lihat aku di lomba nyanyi nanti ya, hat.” sahut Eka yang meminta Ihat untuk melihat ia di lomba nyanyi nanti. “Iya deh.” terima Ihat sambil tersenyum manis dan terlihat jelas lesung pipit di pipinya yang lalu meneruskan langkahnya ke kantin. “Yeah! Dia akan melihatku di lombaku nanti. Mungkin ini saat yang tepat untuk aku mengungkapkan isi hatiku padanya.” ujar Eka sambil senyum-senyum sendiri. “Tapi gimana ya? Aku kan gak bisa main alat musik. Hmm.. oh iya, kan ada Rahmat. “ gumam Eka sambil duduk santai. Lalu Eka pun pergi menjumpai Rahmat. “Hey buddy, mau gak kamu main gitar buatku?” tanya Eka pada Rahmat yang sedang duduk-duduk di depan kelasnya. ””Wah.. boleh tuh. Kapan?” terima Rahmat sambil bertanya balik. “Hmm.. pada lomba nyanyi nanti lah kira-kira.” jawab Eka. “Eka, kamu ikutan lomba nyanyi?” tanya Isti yang kebetulan lewat. “Yeps! Kamu nanti lihat aku ya.” jawab Eka. “Baiklah.” jawab Isti sambil tersenyum manis. Lalu Eka pun menemui Richie juga. “Richie kawanku, maukah kamu main drum buat aku pada lomba nyanyi nanti?” tanya Eka pada Richie yang sedang nongkrong di kantin. “Siap, kapten.” terima Richie sambil memberi hormat. “Bagus!” sahut Eka sambil mengacungi jempol.
Tidak terasa hari perlombaan pun tiba. Eka yang mendapat nomor urut 9 harap-harap cemas, karena gilirannya sebentar lagi. “Ya inilah peserta dengan nomor urut 9. Mari kita panggil inilah dia, Rizki Eka.” ujar MC lomba nyanyi itu. “Rahmat, Richie, ayo kita tampil.” ajak Eka sambil berjalan naik panggung. “Siap, boss!” sahut Rahmat dan Richie. Lalu mereka bertiga pun naik ke panggung. Alat musik memang sudah disiapkan oleh panitia, jadi tidak perlu bawa sendiri. Mereka bertiga pun bersiap pada posisi mereka masing-masing. Eka sebagai vokalis, Rahmat main gitar, dan Richie main drum. Kemudain mereka pun mulai memainkan lagu umbrella dari Rihanna dengan versi mereka sendiri. Mungkin sedikit jadi Rock dan ada Alternatif Rock nya juga. Penonton pun jadi semangat, dan terlihat disana Ihat sedang menonton Eka. Hal itu membuat Eka jadi tambah semangat untuk nyanyi. Saat lagu selesai, para penonton bersorak dengan keras sekali. “Akhirnya selesai juga.” ucap Eka sambil mengusap keringatnya yang mengucur deras, karena sedari tadi Eka di atas panggung nyanyi sambil memainkan payung hitamnya. Saat Eka duduk kelelahan, tiba-tiba Isti datang menghampiri Eka. “Eka, tadi itu bagus sekali. Seja kapan kamu bisa nyanyi?” tanya Isti, penasaran. “Udah dari dulu kali, cuma kamumya aja yang gak tahu.” jawab Eka sambil keringatnya mengucur dengan deras, mungkin selain kelelahan dia juga menahan rasa groginya tadi. “Ya ampun Eka, kamu cape ya.” ujar Isti sambil mengelap keringat Eka dengan tisu yang ia bawa. Melihat hal itu, Rahmat dan Richie senyum-senyum sendiri. “”Eh Richie, menurut you yang pantas jadi pacarnya Eka itu Ihat atau Isti? Menurut I’m mah lebih pantas Isti.” ujar Rahmat sambil bertanya. “Ya, menurutku juga gitu. Tapi sayang Eka gak tahu kalau Isti suka padanya. Dia malah suka pada Ihat.” jawab Richie. “Hmm.. udah dulu ya, aku masih ada urusan.” pamit Eka pada Isti yang lalu berdiri dan pergi mencari Ihat. Eka terlihat begitu semangat, dan dia berjalan dengan begitu ceria. Lalu dia pun melihat Ihat pergi ke belakang kelas. Eka mengendap-ngendap dan mengikutinya secara diam-diam. Saat Eka mau mengagetkan Ihat, tiba-tiba ia mendengar suara, “Sayang, kok kamu lama banget sih.”. “Suara laki-laki. Tapi siapa?” ucap Eka dalam hatinya, bertanya-tanya. ”Maaf, tadi aku nonton temenku nyanyi dulu.” jawab suara yang di kenal Eka itu adalah suaranya Ihat. Eka pun mengintip ke belakang kelas, ternyata benar Ihat sedang bersama dengan seorang laki-laki. “Siapa dia? Apakah dia pacarnya Ihat?” ujar Eka dalam hatinya menduga-duga. Kemudian Eka pun melihat mereka berciuman, dan hal itu lantas membuat hati Eka serasa hancur berkeping-keping. Ini pertama kalinya ia merasakan sakit tanpa luka. Merasa perih tanpa goresan, perasaan pedih yang teramat sangat. Dia merasa tidak tahan berada disana lebih lama lagi. Jadi, Eka pun pergi dengan wajah tertunduk lesu sambil memegangi dada kirinya yang terasa begitu pedih.
Sejak saat itu, Eka terlihat begitu murung dan tak mau berbicara selama berhari-hari. Dia merasa berada di dalam kegelapan sendirian. Saat dia termenung di depan kelasnya, Isti secara tidak sengaja lewat dan melihat Eka yang murung. “Eka, ada apa? Kenapa kamu murung?” tanya Isti dengan cemas. Tapi Eka tidak menjawab, dan terlihat oleh Isti tatapan matanya begitu kosong. “Eka, lihat aku. Ini aku, Isti. Eka, jangan melangkah kedalam kegelapan. Aku mohon. Aku akan memberikanmu cahaya yang kau butuhkan untuk menerangimu yang dalam kegelapan. Kembalilah, Eka.” ujar Isti sambil memegang kedua pipi Eka dan menatap matanya dalam-dalam. Tapi kelihatanya Eka masih belum sadar juga. Dia masih tenggelam dalm keputus asaan. “Ya ampun, Eka. Apa yang sebenarnya terjadi padamu sehingga kamu jadi seperti ini. Apa yang terjadi sehingga kamu putus asa begini.” ucap Isti bertanya-tanya dalam hatinya. “Isti, ada apa?” tanya Rahmat yang datang karena melihat Isti bersama Eka. “Rahmat, apa yang terjadi pada Eka? Kenapa dia bisa putus asa aeperti ini?” tanya Isti dengan mata yang berkaca-kaca karena menahan sedihnya. “Apa!? Eka putus asa!? Aku gak tahu, Isti. Aku aja baru tahu sekarang. Pantas dia jarang ke Base Camp lagi.” sahut Rahmat, terkejut mendengar perkataan Isti tersebut. Eka pun pergi meninggalkan mereka berdua. “Eka! Kamu mau kemana?” tanya Isti. “Kemana saja asal terjauh dari yang namanya cinta.” jawab Eka sambil menengok ke arah Isti dengan tatapan yang tajam.

To be continued....

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan dalam nama, tempat ataupun kejadian itu bukanlah karena kesengajaan, tapi hanya kebetulan semata.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】