VocaWorld, chapter 185 - Sang Cahaya Yang Menjadi Bayangan
Hatsune Miku, seorang gadis berambut kuncir dua nampak sedang berjalan sendirian di sebuah kota yang kosong. Itu adalah kota yang sepi sejak serangan terakhir dari Dante sang Pangeran Kegelapan yang mengakibatkan semua warga kota tersebut diungsikan ke kota sebelah. Dinding api yang menjulang tinggi terlihat di perbatasan kota mengasingkan kehidupan yang tersisa di kota tersebut.
Miku saat ini sedang mencari keberadaan Luka yang menghilang setelah menghilangnya Shiro Ray yang tiba-tiba. Ia berinisiatif mencari seniornya di sekolah itu sendirian tapi sepertinya itu akan sangat sulit mengingat Voca Town bukanlah sebuah kota yang kecil.
"Kemana sih perginya dia? Kalau tahu begini aku harusnya minta ditemani Kaito-senpai." keluh Miku sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan orang yang dicarinya itu.
"Kaito-senpai~ kalau bareng senpai pasti nyari sampai bulan depan pun aku kuat. Hehehe~" ujar Miku sambil membayangkan seniornya yang tampan.
Miku tenggelam dalam khayalannya. Ia tidak sadar seseorang menghampirinya dari belakang.
"Walah? Kukira siapa, ternyata ada anak buah The White Light disini." ujar June yang berjalan dengan santainya.
Miku terkejut dan langsung berbalik dengan penuh kewaspadaan.
"A-a-apa yang kamu lakukan disini?" tanya Miku dengan penuh siaga.
"Apa yang kulakukan? Terserah aku dong mau melakukan apa. Lagipula kota ini sebentar lagi jadi milik Pangeran Kegelapan." jawab June dengan senyuman menyeringainya.
"Jangan berkata omong kosong seperti itu! Itu takkan terjadi!" bentak Miku.
"Hah? Harusnya aku yang berkata begitu kan? Kau pikir aku tidak tahu? Pemimpin kalian Shiro Ray telah meninggalkan kalian. Kalian sekarang hanyalah sekelompok tikus tak berguna. Kalian hanya hama." ejek June.
"Apa?! Beraninya kau! Apa kau tidak ingat akulah yang mengalahkan kalian beberapa kali!" balas Miku.
"Oh benar juga. Takutnya~ apa yang harus kulakukan? Aku akan babak belur disini~" ujar June yang terlihat jelas kalau itu hanya sebuah akting buruk yang dibuat-buat.
"Bersiaplah, penjahat bodoh!" ucap Miku sambil mencoba mengambil earophoid yang biasa menggantung dilehernya.
Namun saat ini benda itu tidak ada. Tidak ada apapun yang menggantung dilehernya saat ini.
"Lho???" ucap Miku tidak bisa menemukan yang ia cari.
June nampak melebarkan senyumannya.
"Sial aku lupa aku tidak membawanya! Bagaimana ini!!!???" teriak Miku baru sadar kalau ia tidak membawa earophoidnya.
"Wahahaha! Bodoh, bodoh sekali! Kita sedang dalam keadaan perang, bagaimana bia kau melupakan itu? Harusnya kau selalu membawanya setiap saat, idiot!" tukas June menertawakan Miku.
Miku panik dia melihat ke sekitarnya namun tak ada siapapun disana untuk dimintai tolong. Miku benar-benar terpojok saat ini.
"Uwa! Aku harus apa?! Siapa saja tolong aku!" ucap Miku dalam hati dalam kepanikan.
June mulai melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arah Miku. Miku hanya bisa mundur menjauh dari June. Namun June hanya dengan santainya menambah kecepatan langkahnya.
"Aku harus lari, aku harus lari, AKU HARUS LARI!!!" teriak Miku dalam hatinya semakin panik.
Miku langsung berbalik lalu berlari sekuat tenaganya. June hanya merespon dengan senyumannya yang penuh percaya diri seperti biasanya.
"Kau pikir bisa kabur dariku, gadis bodoh?" ungkapnya.
****
"RUN LIKE A BOSS!!" ucap Miku sambil berlari secepat yang ia bisa.
Miku sudah berlari dengan kecepatan penuhnya, namun anehnya ia tidak bisa memperlebar jaraknya dengan June sama sekali. June masih berada dibelakangnya dan malah berbeda dengan Miku, ia hanya berlari santai seperti hanya melakukan gerak jalan biasa.
"Makluk macam apa dia itu?! Bagaimana mungkin dia bisa mengejarku dengan jalan santai begitu." gerutu Miku sambil terus berlari.
Dan makin anehnya lagi, June bukannya makin tertinggal yang ada malah makin mendekat ke arahnya.
"Whoa!!! Tolong aku! Siapa saja!! Aku sedang dikejar setan!!" teriak Miku yang berlari kepanikan.
Ia sudah tak peduli lagi dengan gaya larinya, dia hanya ingin menjauh dari monster yang sedang mengejarnya saat ini. Namun nampaknya itu adalah sia-sia. Apalagi sekarang June malah semakin mendekat dibelakangnya. Benar-benar mirip hantu.
"Aku harus sembunyi nih. Kira-kira dimana?" pikir Miku sambil celingukan mencari tempat untuk bersembunyi.
Tapi ia tak punya banyak waktu berpikir. June semakin mendekatinya dari belakang. Ia pun langsung masuk ke sebuah pusat perbelanjaan yang kebetulan dekat disekitar situ. Mall itu sangat sepi. Tak ada satu orang pun disana. Dan juga karena luas dan banyaknya kios-kios disana, itu adalah tempat persembunyian yang bagus.
June melihat targetnya masuk ke sebuah mall dan mau tidak mau ia pun harus mengikutinya. Sesampainya didalam, ia malah kehilangan jejak Miku.
"Cepat juga ia bersembunyi. Tapi ia ada pasti ada disekitar sini. Tak mungkin dia bisa lari jauh secepat itu." gerutu June.
June menyusuri kios-kios yang sebagian besar masih terbuka itu. Ia berjalan menelusuri setiap sudut mall. Mulai dari toko mainan, makanan, hingga toko pakaian. Namun yang ia lihat hanya manekin-manekin yang berdiri jadi model busana.
"Cih, aku kemari bukan untuk mencari pakaian. Dimana sebenarnya dia?" gerutu June yang jengkel karena tak kunjung menemukan Miku.
Ia tidak sadar ada satu manekin yang nampak berbeda. Manekin dengan rambut kuncir dua yang tak lain adalah Miku.
"Selamat dah! Dia tidak menyadarinya! Ada bagusnya juga ternyata selama ini tren manequin challenge tuh." ungkap Miku dalam hati.
Miku langsung melarikan diri dari tempat itu dan menuju ke pintu keluar. Namun di pintu keluar tersebut ada makhluk hitam aneh yang nampak menjaga pintu keluar tersebut.
"Minor kah?! Kenapa malah disaat seperti ini?!" ucap Miku dalam hatinya sambil tersentak kaget.
Saat ini Miku tak bisa melawan makhluk yang seharusnya lebih lemah dari Miku itu karena ia tak membawa earophoid nya. Karena itu ia lebih memilih untuk lari menjauhi makhluk tersebut sebelum itu menyadarinya.
"Benar juga, tangga darurat! Aku bisa keluar dari sini lewat tangga darurat." pikir Miku sambil berlari.
Miku langsung memburu ke arah lift. Dan dengan cepat ia langsung menekan tombol lift tersebut. Ia menunggu beberapa lama untuk pintu itu terbuka. Namun tidak ada apapun yang terjadi. Pintu lift tersebut tetap tertutup rapat.
"Walah!! Aku lupa mall ini tak punya daya untuk menjalankan lift nya!" ucap Miku dalam hatinya baru sadar akan kebodohannya.
Tentu saja mall tersebut tak punya listrik karena jaringan listrik ke mall tersebut sudah terputus. Tidak ada yang menyalakan daya nya karena tidak ada manusia lagi disana. Mall itu telah ditinggalkan oleh orang-orang karena peristiwa penyerangan Voca Town oleh Pangeran Kegelapan.
Miku tak punya pilihan lain selain menaiki tangga untuk sampai ke puncak mall. Tangga berjalan atau eskalator juga tak bisa ia gunakan karena tak ada daya. Dan walau masih bisa digunakan dengan cara mendaki secara manual namun ia tak bisa mengambil resiko ketahuan oleh June. Ia tak punya pilihan lain selain mendaki anak tangga dihadapannya.
Gadis dengan rambut twintail itu berlari mendaki tangga ke puncak mall. Ia nampak sudah kelelahan tapi ia tak bisa berhenti disana. Ia harus keluar dari tempat tersebut untuk melarikan diri.
"Sial. Kalau saja aku membawa earophoid ku. Aku pasti tak perlu susah-susah seperti ini." gerutu Miku sambil terus berlari meski telah terengah-engah.
Setelah sekian lama berlari akhirnya ia sampai di pintu atap puncak mall tersebut. Miku pun lega akhirnya ia bisa keluar dari sana. Miku membuka pintu itu dengan penuh rasa syukur. Namun yang menanti dibalik pintu bukanlah sebuah jalan keluar, melainkan keputus asaan.
"Halo.." ucap June menyapa Miku dengan senyuman diwajahnya yang seperti biasanya nampak menyeringai.
"Se-sejak kapan kamu?!" ujar Miku nampak syok melihat June sudah berada di atap lebih dulu darinya.
Miku bukannya menemukan sebuah jalan untuk melarikan diri, malah ia tertangkap oleh sosok yang mengejarnya sejak tadi. Seakan ia hanya berlari berputar-putar disebuah labirin dimana June adalah pemilik labirin itu.
"Haha.. mudah saja. Aku hanya sudah menduga kau akan kemari. Meskipun kau bisa sembunyi, takkan selamanya kau akan bersembunyi. Dan dengan tertutupnya jalan keluar di pintu masuk, maka kau tak punya pilihan lain selain berlari kemari." jelas June dengan tampak bangga pada dirinya sendiri.
"Cih, inilah kenapa aku membenci orang pintar." gerutu Miku yang terpojokkan.
Miku melirik ke kiri dan ke kanan mencari celah untuk lari. Namun tidak ada disana. Tangga daruratnya tak ada di sisi sampingnya. Dan tentu saja yang buruknya adalah tangga darurat yang dicarinya itu malah berada dibelakang musuhnya tersebut. Miku tak bisa kabur kecuali dengan cara melewati June terlebih dahulu. Ia pun tahu, June tak mungkin membiarkannya lewat begitu saja.
"Ini buruk. Aku bakalan mati nih." pikir Miku yang sudah kehilangan harapannya.
Saat ini Miku benar-benar terpojokkan. Dibelakanhnya sosok minor mulai bermunculan menutupi tangga turun. Sementara dihadapannya ada June yang bisa membunuhnya kapan saja. Situasi yang kurang menyenangkan untuk Miku.
"Kamu tak bisa menyerah disana, gadis kecil. Jika kamu menyerah sekarang, maka kamu takkan pernah menemukan jalan keluar." ujar seorang laki-laki dari belakang June.
June berbalik, dan ia pun melihat ada sesosok siluet dengan jaket bertudung dan celana panjang. Wajahnya tak terlihat karena dibelakangnya tampak ada cahaya yang menyilaukan yang membuat June melihat sosok itu hanya sebagai siluet saja.
"Siapa kau?!" tanya June.
"Kamu tidak perlu tahu siapa diriku. Yang penting sekarang akulah yang akan menjadi lawanmu." jawab sosok itu.
"Ada apa ini?! Kenapa aku tidak bisa mengabaikannya? Seakan seluruh perhatianku terpusat padanya." pikir June yang merasakan ada yang aneh.
"Kenapa? Kok malah bengong? Apa kemunculanku terlalu dramatis untukmu?" ejek sosok itu.
"Cih, mungkin sebaiknya aku bereskan kau lebih dulu." gerutu June nampak kesal.
"Oh.. boleh saja, silahkan. Lagipula sudah lama aku tidak membereskan penampilanku." sahut sosok itu.
"Hah?!" ucap June.
****
Shiro Ray sudah memancing sejak tadi, namun nampaknya ia belum mendapatkan satu ikan pun hari ini. Adapun kail pancingnya menarik sesuatu, yang kena malah seorang anak laki-laki berambut putih. Walau sekarang 'hasil tangkapan'nya itu telah pergi jadi hasil memancingnya hari ini tetap nol.
"Sepertinya hari ini bukan hari baikku. Pulang saja mungkin." ucap Ray sambil menggulung lagi pancingannya.
Ia lalu berdiri dan berbalik untuk berjalan pulang. Namun baru satu langkah ia pun berhenti.
"Oh benar juga. Aku sudah tak punya tempat untuk pulang saat ini." ungkap Ray sambil tampak tunduk termenung.
Ray kemudian melihat ke arah langit untuk menyegarkan suasana hatinya. Dan saat melihat ke arah langit, ia pun melihat sesuatu yang tidak biasa. Itu adalah sebuah gelombang riak air.
"Yang benar saja. Disaat seperti ini?" ujar Ray yang tidak menduganya.
Ray lalu segera bergegas menuju ke tempat dimana gelombang riak air itu berada. Atau lebih tepatnya ke lokasi tempat yang tepat berada dibawahnya. Ia berlari secepat yang ia bisa. Karena ia tahu itu bukanlah sebuah pertanda bagus. Itu adalah sesuatu yang buruk.
"Jika ada yang memanggil minus disaat seperti ini, berarti sedang ada pertarungan. Tapi siapa? Kupikir semuanya sudah kembali kerumah." gumam Ray.
"Jangan bilang.." lanjutnya lalu mempercepat larinya.
Akhirnya Ray sampai ditempat yang ia tuju. Itu adalah sebuah pusat perbelanjaan. Dan nampaknya ia terlambat karena terlihat para minor sudah mengepung tempat tersebut. Ia tak punya jalan untuk masuk kesana.
"Sepertinya semua jalan masuk utama sudah diblokir. Kalau begitu tangga darurat." pikir Ray dengan cepat.
Ia pun langsung menuju ke halaman belakang gedung pusat perbelanjaan tersebut melalui gang agar tak diketahui oleh para minor itu. Sesampainya dihalaman belakang, ia bergegas menuju ke tangga darurat. Dan tentu saja disana sepi penjagaan, jadi ia bisa leluasa untuk naik ke atas.
"Yang perlu kulakukan hanya membawanya keluar tanpa diketahui siapapun." ujar Ray dalam hatinya sambil berlari menaiki tangga darurat itu.
Ray terus naik hingga akhirnya sampai di atap pusat perbelanjaan tersebut. Dan ia pun melihat ada banyak sekali minor diatap itu. Dan ada 2 sosok yang dikenalnya juga disana. Yang pertama adalah June. Dan yang lainnya adalah gadis berambut twintail, Miku.
Gadis itu nampak terpojok karena dikelilingi oleh musuh. Dia tak punya jalan untuk lari. Karena itu, Ray tak punya pilihan lain selain harus ikut campur untuk menolongnya.
"Tak ada jalan lain kah. Padahal aku tak ingin lagi menunjukkan diriku padanya atau yang lainnya. Tapi.. terpaksa.." ujarnya dalam hati.
Ray naik ke atas pagar tangga darurat dan lalu berdiri diatasnya. Dia menarik napas dan langsung mengatakan apa yang harus dikatakannya saat ini.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.