VocaWorld, chapter 188 - Sisi Yang Lain
Synchronoid, produk baru dari prof. Kei dan Shiro Ray. Memang belum diuji sebelumnya, namun dapat dipastikan kalau benda itu jauh lebih canggih daripada earophoid. Selain punya earphone yang lebih besar, namun juga ada semacam antenna di bagian kiri dan kanannya.
Gumi, orang yang di percaya untuk memiliki synchronoid tersebut kini sedang mencoba memakainya. Dan nampaknya ia juga bersiap melakukan perubahan menggunakan synchronoid tersebut.
"Start up! System: on! Vocaloid mode: ready." ucap Gumi.
Kemudian tubuhnya mulai mengeluarkan cahaya. Itu adalah cahaya berwarna jingga. Cahaya yang perlahan menjadi semakin silau.
"Megpoid!!!" lanjut Gumi ketika cahaya itu semakin menyilaukan.
Dunia tempat Gumi berpijak seakan tertelan kedalam cahayanya. Bahkan saat itu ia merasa berada di dunia yang berbeda. Dunia itu dipenuhi oleh cahaya yang bergerak dalam kecepatan tinggi seperti jutaan bintang jatuh. Begitu gemerlap juga begitu indah.
Keesokan harinya~
Gumi berjalan dengan mata mengantuk menuju ke dapur. Disana kebetulan ada Luka yang sedang memasak air dan menyadari kedatangan Gumi.
"Selamat pagi, Gumi-chan. Walah~ kenapa kamu tampak mengantuk begitu?" sapa Luka.
"Selamat pagi, onee-sama. Hoaaamm~ semalam aku terlalu asik mencoba sinpokro-", "Synchrophoid!" potong Luka pada perkataan Gumi.
"Iya maksudku itu." sahut Gumi.
"Lalu bagaimana? Apa itu akan berguna untuk melawan Dante-kun?" tanya Luka.
"Tak tahu deh. Aku sudah mencobanya berkali-kali tapi gagal. Aku gagal melakukan perubahan menggunakan itu." jawab Gumi.
"Lho, apakah itu rusak? Padahal itu baru kan?" tanya Luka lagi.
"Ya mana aku tahu, tanyakan pada yang membuatnya." balas Gumi yang menjatuhkan kepalanya di dada Luka.
Wajahnya pun jatuh ke bantalan empuk kembar milik Luka itu. Terlihat begitu nyaman sekali, dan itu tergambar jelas di ekspresi wajah Gumi saat ini yang penuh dengan kebahagiaan.
"Kamu mau kopi? Kebetulan aku juga mau menyeduhnya nih." tawar Luka sambil mengelus kepala Gumi.
"Mh." sahut Gumi mengangguk.
"Kalau begitu tunggu dulu sana. Tunggu sambil duduk di sofa. Nanti aku seduhkan." lanjut Luka.
"Tidak mau. Aku mau terus disini, oneesama." tolak Gumi sambil membenamkan wajahnya lebih dalam ke lembah diantara bukit kembar itu.
"Ara~ Gumi-chan jangan manja gitu dong. Kalau begini gimana caranya aku menyeduhkan kopinya?" tambah Luka membujuk Gumi.
"Kalau begitu jangan menyeduh kopi." jawab Gumi menolak untuk pergi dari kenyamanan itu.
"Dasar Gumi-chan ini~" ujar Luka sambil tersenyum.
Dan akhirnya tanpa sadar Gumi pun tertidur di bantal lembut Luka itu. Luka juga terus membelai kepala Gumi seperti seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya. Tak berapa lama Meiko kembali dari luar sambil tampak membawa sapu lidi. Sepertinya dia baru selesai menyapu halaman.
"Selamat pagi, Megurine-san." sapa Meiko pada Luka sambil menghampiri tempat sampah disamping di dapur.
"Selamat pagi Meiko-chan." sahut Luka.
"Waduh, Gumi-chan kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Meiko yang baru sadar ada Gumi tertidur di dada Luka.
"Dia hanya mengantuk kok, jadi jangan khawatir." jawab Luka.
"Hmm.. memang semalam dia kurang tidur?" tanya Meiko lagi.
"Katanya sih dia mencoba synchrophoid, tapi ia gagal melakukan perubahan. Dan setelah itu ia mencobanya lagi dan lagi namun tetap gagal. Makanya dia kurang tidur." jelas Luka.
"Ooh.. lalu mana synchrophoidnya?" tanya Meiko.
"Benar juga, aku tak melihatnya membawa benda itu." sahut Luka yang kelihatannya juga tidak tahu.
"Jangan bilang dia membuangnya." tukas Meiko.
"Hmm.. bisa jadi sih." balas Luka dengan tenang.
"Kenapa kamu bisa setenang itu? Bukankah itu kunci kemenangan kita?" tanya Meiko.
"Sudahlah, lagipula sepertinya itu juga produk gagal. Jadi kita tak perlu menghiraukannya. Sekarang lebih baik kita membuat sebuah rencana untuk mengantisipasi kalau-kalau ada serangan dari Dante-kun." jawab Luka.
"Sepertinya ada yang salah denganmu beberapa hari ini, Megurine-san." tukas Meiko.
"Apa maksudmu? Aku masih seperti biasanya kok." sanggah Luka yang terlihat tak senang disinggung begitu.
"Tidak, tidak. Megurine-san yang biasanya akan berpikir lebih matang. Megurine-san yang biasanya akan mencoba mencermati apa maksud Shiro Ray dengan lebih teliti. Bukankah begitu, Gakupo-san?" ujar Meiko.
"Ya, benar sekali. Meskipun saya sebenarnya benci untuk mengakuinya, namun yang dikatakan oleh Meiko-dono itu benar adanya. Jika itu berurusan dengan The White Light-dono, maka Luka-tan akan selalu menanggapinya serius." balas Kamui yang nampak sedang duduk di sofa.
"Ka-kamu?! Sejak kapan ada disana?!" tanya Luka tampak terkejut.
"Saya sudah sejak tadi disini. Dan Luka-tan tidak menyadarinya? Itu benar-benar aneh." sahut Kamui.
"Megurine-san, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Saat ini Shiro Ray tidak ada, jadi hanya kamu lah yang bisa kami andalkan untuk menjadi pemimpin kami. Namun, jika kamu begini, maka semuanya jadi kacau kan?" ujar Meiko tampak khawatir.
Luka terlihat kesal terus disinggung hal tersebut. Ketenangannya berubah menjadi amarah. Ia sudah tak bisa lagi membendung semua emosinya.
"Sudah diamlah kalian semua! Disini aku yang memimpin kan? Akulah yang memutuskan segalanya kan? Jadi jangan terus memaksaku untuk menjadi seperti dia! Salahnya sendiri kenapa dia malah menghilang disaat seperti ini!" bentak Luka yang amarahnya akhirnya meledak.
Meiko dan Kamui nampak hanya diam saja dan tak ada seorangpun dari mereka yang merespon bentakan Luka itu.
"Dia malah meninggalkan kita disaat kita sedang membutuhkannya! Dia malah meninggalkanku disini! Dan malah menyerahkan segala tanggung jawabnya padaku! Bagaimana aku bisa tenang?! Bagaimana bisa aku tidak kesal?!" sambung Luka.
Kemudian terdengar suara beberapa orang turun dari lantai atas melalui tangga.
"Ada apa? Ada apa? Apa yang terjadi disini?" tanya Miku yang nongol dari lorong tangga.
Bersama Miku tampak Rin dan Len juga melihat ke arah dapur dengan menongolkan kepalanya. Dan Gumi juga tampak terbangun dari tidurnya akibat suara bentakan Luka yang begitu keras. Apalagi ia berada sangat dekat dengan sumbernya.
"Luka-oneesama.." panggil Gumi sambil mengucek matanya.
"Ini semua salahnya! Semua salahnya!!!" pekik Luka.
Kemudian Luka pun langsung pergi meninggalkan dapur itu karena saking kesalnya. Bahkan ia mengabaikan suara air mendidih di teko yang masih ada diatas kompor yang menyala. Gumi bahkan hampir terjatuh karena kehilangan tumpuannya pada Luka.
"Onee-sama?!" ucap Gumi yang kaget dan bingung dengan apa yang terjadi.
Luka keluar dari rumah tersebut dengan langkah kesal. Dia pergi entah kemana meninggalkan semua orang yang nampak diam dalam keheningan.
"Sepertinya selama ini dia merasa tertekan akibat kita terlalu berharap besar padanya." ujar Meiko.
"Sepertinya begitu." sahut Kamui.
****
Megurine Luka, gadis yang selalu bersikap anggun dan tenang kini tampak berlari sambil menyusuri pematang sungai. Dia berlari sambil tampak beberapa tetes air jatuh dari matanya. Dia berlari turun ke pinggir sungai dan akhirnya berhenti dibawah jembatan.
Luka terlihat terengah-engah dan berdiri sambil menunduk akibat kelelahannya. Dan tak berapa lama, Luka pun menjatuhkan diri ke permukaan pinggir sungai yang sedikit berbatu itu.
"Kenapa ini malah terjadi padaku? Kenapa mesti aku?" gerutu Luka sambil mengusap air matanya yang mulai berjatuhan.
Luka dikenal sebagai gadis yang kuat dan juga bijaksana. Karena itu ia ditunjuk jadi wakil ketua OSIS. Dan dia juga sangat dipercaya oleh para dewan OSIS juga staf pengajar sebagai penanggung jawab dari setiap acara yang akan diadakan di sekolahnya. Namun, orang yang selama ini dinilai kuat dan bijaksana tersebut saat ini menangis dibawah sebuah jembatan. Dia menunjukkan sisi lembutnya. Dia menunjukkan jati dirinya sebagai perempuan.
"Ray-kun.. kenapa kamu menghilang disaat seperti ini? Kenapa menghilang tanpa mengatakan apapun? Aku berusaha mempercayaimu. Aku percaya padamu kalau kamu tak meninggalkanku tanpa alasan, tapi.. tapi.. setidaknya.. KATAKANLAH SESUATU YANG BISA MEMBUATKU MENGERTI!!!" pekik Luka mengeluarkan segala keresahannya.
"JANGAN DIAM SAJA DAN PERGI BEGITU SAJA. AKU TIDAK SEPERTIMU YANG BISA MENGERTI HANYA DENGAN MENGAMATI! BERIKANLAH SUATU PENTUNJUK, DASAR BODOH!!!" sambung Luka berteriak sekuat tenaganya.
Luka pun lalu jatuh duduk diatas bebatuan tepian sungai itu. Luka menangis sambil menutup matanya. Ia tak bisa menahannya. Ia mengeluarkan semuanya. Semua yang ia pendam selama ini ia keluarkan disana. Bahkan ia tak menyadari ada sebuah pancingan nampak menancap di sampingnya.
"Begitukah. Ya sepertinya aku sudah terlalu berlebihan padanya." ujar Ray yang tanpa disadari Luka bersandari di tiang jembatan dibelakangnya.
Ray tersenyum sambil menepuk jidatnya menyadari akan kebodohannya itu seperti yang dikatakan Luka. Ia mendengar semua keluh kesah orang yang disayanginya itu tepat dihadapannya.
"Mungkin aku terlalu tinggi berharap padanya. Dia memang cerdas, kuakui itu tapi tentu saja dia tidak seperti aku. Tidak ada orang yang sama persis di dunia ini. Bahkan kembar identik pun punya perbedaan." lanjut Ray melirikkan matanya ke arah Luka.
"Tapi.. maafkan aku, Luka. Aku tidak bisa menunjukkan diriku padamu saat ini. Aku belum bisa. Karena itu akan merusak rencanaku selama ini." tambah Ray.
Ray berjalan perlahan sambil membawa ember disampingnya. Kemudian dia meletakan ember tersebut disebelah Luka yang masih menangis sambil duduk. Setelahnya Ray langsung pergi meninggalkan pancingan barunya itu beserta ikan hasil tangkapannya.
"Mungkin aku akan puasa malam ini sebagai rasa penyesalan." ungkapnya sambil berjalan meninggalkan tempat itu.
Sementara itu Luka masih duduk di tepian sungai. Dia mulai mengumpulkan kembali kekuatan hatinya dan menghentikan tangisnya. Sambil mengusap air matanya, Luka perlahan membenarkan posisi duduknya. Dan tanpa sengaja ia menyadari ada yang tak biasa disebelahnya. Itu adalah sebuah ember berisi ikan dan sebuah pancingan besar yang menancap ditanah.
"Sejak kapan semua benda ini ada disini? Apa aku terlalu sedih sampai tidak menyadarinya?" ujar Luka dengan heran.
Luka kemudian terkejut. Matanya terbuka lebar. Ia menyadari ada sesuatu yang familiar dengan kedua benda itu. Terutama pancingan itu.
"Dasar bodoh. Jadi kamu mendengar semuanya? Kalau kamu ada disekitar sini setidaknya katakanlah sesuatu. Dasar Ray-kun bodoh." ujar Luka mengusap air mata yang masih ada di sudut matanya.
Dia menyadari kalau pancingan itu milik Ray. Karena hanya Ray saja lah yang cukup bodoh memancing dengan santai disaat keadaan perang begini. Dan hanya Ray saja yang bisa menaruh ikan itu disampingnya tanpa ia sadari. Karena ia kenal betul siapa itu Ray. Orang yang misterius dan selalu menenggelamkan diri dalam bayangan.
****
Luka pulang. Luka kembali ke rumah Miku. Namun ada yang berbeda dari yang sebelumnya. Bukan dari ember dan pancingan yang ia bawa. Namun, yang beda adalah senyuman diwajah Luka yang telah kembali. Sosok perempuan anggun telah kembali ke penampakan seorang Luka itu.
"Aku pulang.." ucap Luka.
Seketika rumah tersebut gaduh. Dan beberapa orang langsung berlari menghampiri pintu depan.
"Luka-oneesama.. akhirnya pulang juga.." ujar Gumi yang nampak begitu bersyukur.
"Selamat datang kembali, Megurine-san." kata Meiko yang menghampiri dengan santai.
"Luka-oneesama maakfkan aku. Karena aku lupa bawa pulang sinkorponid nya onee-sama jadi bertengkar dengan Meiko-san." ujar Gumi.
"Yang benar synchrophoid." koreksi Luka.
"Ah iya itu maksudnya." sahut Gumi.
"Oh ya masalah yang tadi, kamu tak perlu khawatir, Gumi-chan. Ini bukan salahmu kok. Ini salahku karena aku kurang percaya padanya." tambah Luka sambil tersenyum.
Orang-orang yang berada dilorong itu langsung terkejut melihat senyuman itu.
"Apa yang terjadi padanya sebelumnya!!??" ucap orang-orang itu dalam hati.
"Megurine-san apa yang terjadi padamu? Apa kepalamu terbentur sesuatu?" tanya Meiko tampak khawatir.
"Apa onee-sama sakit? Mungkinkah onee-sama demam." tukas Gumi.
"Megurine-senpai jangan-jangan sudah tidak waras." tambah Miku.
"Kalian kejam banget. Padahal aku baru saja merasa baikan. Harusnya kalian lebih positif kan." balas Luka yang merasa sedikit terganggu.
"O-oh.. begitu rupanya. Syukurlah kalau begitu." sahut Meiko.
Meiko benar-benar tidak menduganya. Padahal sebelumnya Luka begitu jengkel dan kesal pada Shiro Ray dan bahkan menangis lalu kabur dari rumah. Tapi saat ini ia tiba-tiba kembali dengan senyuman diwajahnya.
"Apa yang kau lakukan padanya, Shiro Ray? Apa kau memberinya permen atau semacamnya?" gumam Meiko.
Luka kemudian masuk sambil membawa ember dan pancingan besar yang sebelumnya ia bawa pulang. Dan pemandangan itu membuat orang-orang dilorong semakin merasa heran dan bingung.
"Pancingan siapa itu yang ia bawa?" gumam mereka.
Luka masuk sambil mendendangkan sebuah lagu. Sepertinya dia sedang dalam keadaan mood yang bagus.
"Aku pulang.." ucap Kaito yang membawa beberapa bahan makanan.
Namun semuanya hening. Tak ada yang menjawab salamnya.
"Waduh.. ada apa ini? Kok pada diam?" ungkap Kaito dengan bingung.
Sementara itu Luka nampak meletakan embernya di dapur. Lalu ia nampak berjongkok sambil memperhatikan ikan didalam ember tersebut. Itu adalah ikan tuna. Ikan kesukaan Luka.
"Ikan tuna ya. Pantas saja kamu senyum-senyum begitu." komentar Meiko.
"Iya. Ray-kun memberikannya saat aku di pinggir sungai." balas Luka.
"Tapi ikan tuna tidak mungkin didapatkan dari sungai kan?" ujar Meiko.
"Mh.. benar juga sih." sahut Luka baru menyadarinya.
"Jangan bilang itu adalah hasil memancingnya dilaut. Dan di sungai ia belum dapat apa-apa tapi hasil di lautnya malah diberikan padamu." tukas Meiko.
"Sepertinya begitu." balas Luka yang terlihat makin bahagia.
"Wah.. dia benar-benar sedang berbunga-bunga hatinya." komentar Meiko dalam hatinya.
"Ada apa denganmu, Megurine? Kelihatannya senang banget." singgung Kaito yang melihat Luka.
"Sebenarnya.." ucap Luka.
Sebelumnya ketika Luka masih disungai~
"Tunggu kenapa Ray-kun meninggalkan pancingan dan ikan disini?" gumam Luka sambil kebingungan di tepi sungai tersebut.
"Mungkinkah!!??" ucap Luka tampak menyadari sesuatu.
"Ah Ray-kun.. akhirnya dia mau jujur juga.." lanjut Luka yang tiba-tiba saja menunjukkan wajah penuh bahagia.
Kembali ke masa sekarang~
"Jadi begitu ceritanya.." ucap Luka.
"Itu tidak menjelaskan apapun kan!" bentak Kaito.
"Aku tak menyangka ternyata dia seromantis itu." ujar Meiko.
"Kau mengerti itu?!" respon Kaito tak percaya.
"Bo-boleh juga dia ternyata." ujar Gumi.
"The White Light-dono memang tak bisa diremehkan." ujar Kamui.
"Bahkan kalian juga?! Kalian pasti bercanda!! Siapa saja tolong jelaskan apa maksudnya penjelasan tadi!!" teriak Kaito karena kesal.
Sementara itu di tempat lain, Ray sedang duduk di pagar jembatan. Dia nampak bersantai sambil memperhatikan pemandangan langit malam.
"Kuharap dia mengerti maksudku meninggalkan itu disana. Tidak, dia pasti mengerti maksudku. Aku meninggalkan dua hal yang paling kusukai dan yang paling berharga bagiku padanya. Dia pasti mengerti kalau aku ingin dia menjaganya untukku." ujar Ray.
"Luka. Semakin aku mengenalmu, semakin aku tahu kalau aku mencintaimu lebih dari sebelumnya. Aku sengaja menitipkan pancinganku padamu supaya aku bisa mengambilnya suatu saat nanti. Supaya aku punya alasan untuk kembali. Supaya kamu menjadi tempatku untuk pulang." lanjut Ray sambil tersenyum.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.