VocaWorld, chapter 187 - Sampaikanlah Kepada Kelinci Jingga
Pagi hari menyapa Voca Town yang sunyi. Burung-burung berterbangan dilangit dan beberapa ada yang hinggap di atas gedung dan jendela-jendela rumah. Dengan tidak adanya manusia di kota itu, para binatang liar yang bisa melewati dinding api mulai berkeliaran di kota.
Sinar matahari menembus jendela kediaman prof. Kei. Cahaya matahari yang jatuh di wajah Miku membuatnya terbangun. Miku membuka matanya dengan perlahan.
"Selamat pagi.." ucap prof. Kei yang terlihat sedang bersantai sambil minum kopi.
Prof. Kei duduk di kursi di seberang sofa tempat Miku berbaring.
"Se-selamat pagi.." sahut Miku yang belum sepenuhnya membuka matanya.
Miku bangkit dari tidurnya dan duduk di sofa. Sambil mengucek matanya ia menguap. Miku menoleh ke kiri dan ke kanan mencari tahu ada dimana dia. Namun ia merasa asing kemana pun ia melihat. Ia belum pernah melihat tempat itu sebelumnya.
"Ada dimana aku?" tanya Miku yang tampak masih setengah mengantuk.
"Kamu sedang berada di rumahku. Ray yang membawamu kemari." jawab prof. Kei.
"Ray? Kenapa?" tanya Miku lagi.
"Entahlah. Sepertinya kamu pingsan dan dia menggendongmu sampai kemari." jawab prof. Kei.
"Lalu sekarang dimana dia?" tanya Miku lagi.
"Dia baru saja pergi. Oh ya, dia juga menitipkan ini untukmu." jawab prof. Kei menyodorkan sebuah earophoid kepada Miku.
"Apa ini? Earophoid?" ujar Miku melihat-lihat earophoid yang terlihat berbeda dari yang biasa itu.
"Ya. Itu adalah earophoid jenis khusus. Aku dan Ray memberikannya nama Synchrophoid type 1. Ini adalah jenis terbaru yang berdasarkan pada system sychro dari Mindy. Ini adalah sebuah gebrakan baru." jelas prof. Kei.
"Hah? Paman ngomong apa sih? Aku tidak mengerti." protes Miku yang tak bisa mengikuti pembicaraan prof. Kei.
"Ehem! Yang pasti ini adalah earophoid jenis baru dari tipe khusus yang aku kembangkan. Dan Ray menitipkannya padamu. Katanya kamu harus memberikannya pada kelinci jingga." sambung prof. Kei.
"Kelinci jingga? Maksudnya?" tanya Miku sambil memiringkan kepalanya karena bingung.
"Aku juga tak tahu. Hanya itu yang dia katakan padaku. Tapi jika dilihat dari pesannya tersebut, sepertinya orang yang dia maksud adalah orang yang dekat denganmu." jawab prof. Kei memberikan sedikit masukan.
"Hmm.. Shiro Ray itu, kenapa dia suka sekali memberikan orang lain teka-teki dan istilah?" gerutu Miku sambil cemberut.
"Itu karena dia pintar." potong prof. Kei.
"Hah? Meskipun pintar, dia tak seharusnya melakukan hal itu pada orang lain! Memangnya dia anggap semua orang itu cerdas sepertinya apa!" bentak Miku.
"Ya sepertinya dia punya alasannya sendiri untuk melakukannya. Dia tidak pernah memberikan cara mudah pada kawan ataupun lawannya. Walau pada akhirnya dia akan tetap membantu mereka." ujar prof. Kei sambil mengambil sebatang rokok dari sakunya.
"Membantu mereka itu.. maksudnya lawan juga? Jadi dia juga membantu musuhnya!?" ucap Miku tampak terkejut.
"Ya. Ray membantu mereka.. kembali ke jalan yang benar." balas prof. Kei kemudian meletakan rokok itu dimulutnya.
"Oh.. sungguh mengharukan. Dan juga, paman! Tolong jangan merokok disini! Tempat ini tertutup, jadi asapnya pasti akan mengotori udara." gerutu Miku yanng nampak tak kagum sama sekali pada Ray.
"Oh tenang saja. Ini bukan rokok kok." sahut prof. Kei.
"Lalu kalau bukan rokok itu apa dong?" tanya Miku.
"Ini adalah rokok susu raos." jawab prof. Kei.
"Hah?" sahut Miku dengan wajah tak percaya dan seperti menganggap prof. Kei hanya bercanda.
****
Miku akhirnya sampai ke rumah juga. Ia tampak sangat kelelahan. Semua obrolan di tempat prof. Kei membuatnya tidak tahan. Otaknya serasa ingin di kompres air dingin karena overheat.
"Aku pulang.." ucap Miku sambil membuka pintu.
Suara derap langkah kaki terdengar bergemuruh di lorong rumah itu. Dan semuannya menuju ke arah Miku.
"Aaaa! Miku-chan! Selamat datang! Kamu kemana saja sih? Kenapa semalam tidak pulang?" tanya pemilik derap langkah yang paling dulu sampai di depan Miku.
Dia adalah Meiko yang langsung melompat memeluknya. Dan dibelakangnya nampak yang lainnya mengikuti dan memenuhi lorong sempit itu. Mulai dari Luka, Kaito, Kamui, Gumi, Rin dan juga Len. Mereka semua berkumpul disana karena khawatir akan keadaan Miku yang tak pulang ke rumah sejak kemarin.
"Ah, maafkan aku. Sebenarnya tadinya aku berniat mencari Megurine-senpai. Tapi malah ketemu dengan JB sialan itu." jawab Miku.
"JB? Maksudmu June Black anak buah Dante?" tanya Luka.
"Ya. Dia tiba-tiba saja muncul. Dan saat itu aku tak membawa earophoid. Jadi.. aku benar-benar kesulitan." jelas Miku.
"Terus kamu tidak apa-apa kan? Kamu tidak terluka kan?" tanya Meiko dengan khawatir.
"Oh tidak apa-apa kok, Meiko-san. Aku tidak kenapa-napa. Aku diselamatkan oleh seseorang yang tak kukenal. Tapi sayangnya aku pingsan sebelum aku mengetahui siapa orang asing itu." jawab Miku.
"Lho, tunggu sebentar. Paman itu bilang kalau aku dibawa oleh Shiro Ray ketempatnya. Apa mungkin yang menyelamatkanku itu Shiro Ray? Tidak, tidak mungkin. Pasti dia cuma menemukanku tergeletak saja dijalan. Ya, dia memang orang yang semacam itu. Mungkin saja orang asing itu yang memintanya membawaku pulang karena dia ngaku-ngaku mengenalku." tukas Miku didalam hatinya.
"Orang asing? Bisa tolong beri tahu ciri-cirinya?" pinta Luka yang nampak mencurigai sesuatu.
"Hmm.. kalau tidak salah dia berpakaian serba hitam. Dia memakai jaket hitam bertudung dengan celana panjang berwarna senada. Tapi wajahnya aku tidak melihatnya karena tertutup tudung jaketnya." jelas Miku.
"Eh, itu jelas-jelas Ray-nii kan? Cuma dia yang berpenampilan begitu." ujar Len.
"Iya tuh, itu pasti Ray-niichan." tambah Rin.
"Eehh!!?? Tidak mungkin lah! Shiro Ray tidak mungkin melakukan hal itu padaku. Dia selalu menjahiliku. Sudah pasti dia membenciku." tolak Miku.
"Tidak, Miku. Itu sudah pasti dia. Cuma Ray-kun yang memiliki penampilan itu. Ditambah cuma dia yang bisa menyelamatkamu tanpa kamu sadari siapa dirinya. Itu karena dia pintar mengelabui orang." ujar Luka dalam hatinya.
"Tapi syukurlah kamu baik-baik saja. Siapapun yang menyelamatkanmu, terima kasih untuknya." ujar Meiko.
"Terus apa yang kamu bawa itu?" tanya Gumi yang menyadari sesuatu ditangan Miku.
"Ini? Etto.. kalau tidak salah paman itu bilang kalau ini adalah earophoid tipe khusus. Namanya singkopro.. singpoko.. singkorpo.. apalah itu. Yang pasti ini ciptaan barunya bersama Shiro Ray." jelas Miku sebisa mungkin.
"Synchrophoid, maksudnya?" tebak Luka.
"Ya, itu!" sahut Miku membenarkan.
"Paman yang ia maksud pasti prof. Kei. Ya memang cuma dia yang punya pengetahuan penciptaan dan pengembangan earophoid." gumam Luka.
"Jadi kenapa dia memberikanmu benda itu? Bukankah kamu masih punya earophoidmu?" tanya Gumi.
"Ini bukan untukku kok. Aku cuma ketitipan. Tapi sayangnya dia juga tidak memberi tahuku kepada siapa aku harus memberikan ini dengan jelas. Shiro Ray itu memang suka sekali membingungkan orang." gerutu Miku.
"Terus memangnya Ray-kun bilang harus diberikan kepada siapa?" tanya Luka.
"Menurut paman itu, dia bilang kalau aku harus memberikan ini pada kelinci jingga." jawab Miku.
"Kepadaku?!" ucap Gumi terkejut.
"Eh kenapa jadi ke Gumi-chan?" sahut Miku yang ikut terkejut dan heran.
"Sudahlah. Lebih baik kita bahas didalam. Lagipula tidak enak terlalu lama berdiri." usul Meiko.
****
Pembicaraan serius, itu adalah suasana yang tergambar di ruang tengah rumah Miku saat ini. Mereka semua berkumpul di ruang tengah duduk mengelilingi sebuah meja persegi panjang yang diatasnya ada sebuah earophoid.
"Jadi, singkoproli-" ucap Gumi.
"Synchrophoid." potong Luka mengoreksi.
"Iya, maksudku synchrophoid ini dititipkan untuk diberikan padaku oleh Shiro Ray?" tukas Gumi.
"Iya. Itulah yang dikatakan oleh paman itu. Tapi sebentar dulu, kenapa kelinci jingga itu jadi Gumi-chan?" tanya Miku yang masih belum paham.
"Memangnya siapa lagi. Cuma aku yang cocok dengan itu diantara kita semua." jawab Gumi.
"Tidak, tidak, tidak. Maksudku itu, kenapa Gumi-chan itu kelinci jingga? Mana ada kelinci berwarna jingga. Lagipula kalau berdasarkan warna pakaian, Gumi-chan lebih mirip wortel daripada kelinci." protes Miku.
"Mungkin itu karena nama jurus-jurusku yang selalu bertema kelinci. Lagipula dia dan Dante selalu menyebutku 'gadis kelinci'." jelas Gumi.
"Oh.. begitu ya. Mereka itu selalu memberikan julukan pada orang seenaknya ya." ujar Miku sedikit sarkastik.
"Tapi mengingat kamu menyebutkan kalau semua itu menurut dari 'paman' yang kamu maksud, sepertinya Shiro Ray tak ada disana saat itu terjadi." tukas Luka.
"Ya, tepat sekali. Dia meninggalkanku disana sendirian bersama paman aneh yang menghisap rokok berisi susu raos." balas Miku membenarkan.
"Jadi dia sama sekali tidak menunjukkan wajahnya kepada Miku? Kenapa? Seolah dia sedang menghindar untuk berinteraksi dengan setiap orang dari kami semua." pikir Luka yang tampak heran.
"Tapi Shiro Ray itu, tingkahnya mulai aneh beberapa hari ini? Aku tak mengerti. Bahkan aku belum melihatnya lagi setelah beberapa hari yang lalu." komentar Kaito.
"Iya. Ray-niichan pergi kemana ya?" ucap Rin tampak cemas.
"Kuharap Ray-nii cepat kembali." sambung Len.
"Dia adalah pemimpin kita. Jadi kita harus lebih percaya padanya. Aku yakin dia punya alasan sendiri kenapa ia menghilang dari kita. Jadi untuk saat ini lebih baik kita sarapan dulu!" ujar Meiko dari arah dapur.
Wangi masakan semerbak tercium oleh hidung orang-orang yang berada di ruang tengah. Itu nampak dari hidung mereka yang bergerak-gerak merespon bau masakan Meiko itu.
Suara keroncongan terdengar dari perut Miku. Tentu saja itu terjadi karena ia belum makan apa-apa sejak kemarin sore.
"Hahahaha.." orang-orang yang mendengarnya pun lantas tertawa.
"Sepertinya Miku-nee sudah kelaparan." ledek Len.
"Kalau begitu ayo kita sarapan, Miku-neechan!" ajak Rin.
"Ayo kita sarapan dulu." ajak Kaito.
Miku tersenyum lebar dan langsung mengangguk menerima ajakan tersebut.
Mereka pun bergegas pergi ke dapur untuk membantu Meiko menyajikan makanan. Sementara Gumi nampak mengambil sychrophoid yang tergeletak di meja itu.
"Mempercayainya kah. Ya memang benar, selama ini dia selalu membantu kami. Bahkan rela pura-pura menjadi musuh untuk mengembangkan kami. Jadi sekaranglah saatnya untuk membalasnya dengan mempercayainya. Ia pasti sudah punya rencana ketika melakukan sesuatu." gumam Gumi sambil meletakan synchrophoid itu dilehernya.
Gumi perlahan menoleh ke sebelahnya dan melihat pada sosok Luka yang masih tampak bengong dengan tangan yang masih memegang dagunya.
"Luka-oneesama?" panggil Gumi.
"A-ah?! Apa Gumi-chan? Yang lain kemana?" sahut Luka yang sedikit terperanjat.
"Ada apa? Beberapa hari ini, Luka-oneesama terlihat begitu murung." tanya Gumi.
"I-itu tidak benar kok. Aku masih seperti biasanya. Aku selalu ceria." balas Luka.
"Justru sikapmu yang terlalu ceria itu malah terkesan tidak biasa. Luka-oneesama yang anggun tidak akan canggung seperti ini." pikir Gumi.
"Benar juga, ayo kita bantu yang lainnya menyiapkan alat makan." ujar Luka.
"Y-ya." sahut Gumi.
Gumi menyadari Luka sedang ada masalah. Masalah yang tak bisa diceritakannya. Masalah yang tak bisa Gumi campuri. Gumi merasa serba salah saat itu.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.