Memo, chapter 52 - Pulang Sekolah 5
Arya dan Alice berduaan disebuah warung. Matahari sore yang mulai berwarna kemerahan menyinari mereka berdua.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Arya.
Alice diam karena tak tahu harus menjawab apa.
"Kalau begini terus kita bisa disini terus sampai malam." sambung Arya setelah menghela napas.
"Kalian kabur dari rumah karena tidak direstui orang tua ya? Wah.. anak muda jaman sekarang memang ekstrim." komentar bibi penjaga warung.
"Kabur dari rumah? Bahkan kami belum sempat pulang ke rumah. Bagaimana bisa disebut kabur dari rumah." balas Arya.
"Lho, kalau bukan kabur dari rumah terus kenapa kalian berduaan disini dan tidak pulang. Ini sudah sore lho." ujar bibi penjaga warung.
"Hmm.. bagaimana aku bisa menjawabnya? Aku juga belum tahu kenapa Alice tidak mau pulang ke rumahnya. Ya ampun.. apa aku harus mengarangnya." pikir Arya.
"Ini sebenarnya sedikit rumit untuk dijelaskan. Ta-tapi.. akan kuberikan 3 kata yang bisa menjelaskan semuanya." jawab Arya.
"Sekarang aku harus memikirkan 3 kata acak yang paling mungkin jadi alasan dan tidak menjadi kesalahpahaman." gumam Arya dalam hati.
"Apa yang akan dia katakan?" ucap Alice dalam hati.
"Pertama, Teman. Kedua, Bermain.." ujar Arya.
"Yang ketiga apa ya? Yang bisa menjelaskan alasan kami tidak pulang." pikir Arya dengan keras.
"Ketiga.." ucap Arya kemudian terdiam sejenak karena masih memikirkannya.
"Apa yang ketiga?" ucap Alice dalam hati.
"..Berdua." tambah Arya.
Warung itu jadi hening setelah Arya mengatakan yang ketiga.
"Oh begitukah. Jadi kalian kencan." ucap bibi penjaga warung terlihat senang.
Arya dan Alice pun sama-sama shock mendengar tanggapan bibi penjaga warung itu.
"Hahaha.. anak muda jaman sekarang memang agresif ya. Masih sekolah juga sudah pake kencan segala." tukas bibi penjaga warung.
"Kenapa dia malah jadi mengira begitu? Harusnya dia mengira kami hanya sedang jalan-jalan menghabiskan waktu berduaan saja." ujar Arya dalam hati terlihat malu.
"A-apa kami terlihat seperti orang yang kencan? Apa benar begitu?" kata Alice dalam hati yang terlihat lebih malu daripada Arya.
"Ti-tidak, maksud kami.." ujar Arya mencoba meluruskan.
"Eh, jadi bukan? Terus kalian sedang apa berduaan sampai jam segini. Udah mau maghrib lho." sahut bibi penjaga warung.
"Ka-kami.." ucap Alice.
"Oh.. ayo Alice jelaskan yang sebenarnya." ujar Arya dalam hati.
"Kami memang sedang kencan!!!" kata Alice dengan keras.
"Apa?!!" ucap Arya terkejut.
"Hahaha.. tuh pacarmu juga bilang begitu kan? Sudah tak usah malu. Bibi sudah biasa melihat anak SMA pacaran kok." ujar bibi penjaga warung.
"Ke-kenapa dia malah mengatakannya?! Kupikir dia ingin meluruskannya." ujar Arya dalam hati masih terkejut.
Alice terlihat sangat malu setelah mengatakannya. Wajahnya yang putih tidak bisa menyembunyikan warna merah dipipinya. Matanya terpejam seakan malu untuk menatap bagaimana reaksi Arya terhadapnya.
"Ya-ya.. kami memang sedang kencan. Terima kasih sudah membiarkan kami disini sebentar. Kami harus segera pergi." ujar Arya kemudian menarik lengan Alice.
Alice terkejut dan mengikuti Arya. Sementara bibi penjaga warung terlihat begitu bahagia melihat pemandangan itu. Karena saat itu Arya dan Alice terlihat seperti pasangan yang berjalan berdua sambil berpegangan tangan. Alice terlihat menatap Arya seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Ke-kenapa dia menarikku tiba-tiba? Kenapa dia malah mengakui kalau dia kencan denganku? Lagipula ini juga pertama kalinya aku berjalan berpegangan tangan seperti ini. Rasanya malu sekali. Tapi.. entah kenapa aku juga merasa bahagia. Ada apa ini?" gumam Alice bertanya-tanya dalam hati.
"Nah, jadi perlukah kita benar-benar kencan hari ini?" tanya Arya.
"Hah?" sahut Alice.
Alice benar-benar sangat terkejut dengan pertanyaan Arya saat itu. Dia tidak menyangka Arya akan mengatakannya.
Catatan hari ini:
Yang mengungkap sebuah masalah bukan hanya waktu, tapi juga keadaan disekitarmu.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Arya.
Alice diam karena tak tahu harus menjawab apa.
"Kalau begini terus kita bisa disini terus sampai malam." sambung Arya setelah menghela napas.
"Kalian kabur dari rumah karena tidak direstui orang tua ya? Wah.. anak muda jaman sekarang memang ekstrim." komentar bibi penjaga warung.
"Kabur dari rumah? Bahkan kami belum sempat pulang ke rumah. Bagaimana bisa disebut kabur dari rumah." balas Arya.
"Lho, kalau bukan kabur dari rumah terus kenapa kalian berduaan disini dan tidak pulang. Ini sudah sore lho." ujar bibi penjaga warung.
"Hmm.. bagaimana aku bisa menjawabnya? Aku juga belum tahu kenapa Alice tidak mau pulang ke rumahnya. Ya ampun.. apa aku harus mengarangnya." pikir Arya.
"Ini sebenarnya sedikit rumit untuk dijelaskan. Ta-tapi.. akan kuberikan 3 kata yang bisa menjelaskan semuanya." jawab Arya.
"Sekarang aku harus memikirkan 3 kata acak yang paling mungkin jadi alasan dan tidak menjadi kesalahpahaman." gumam Arya dalam hati.
"Apa yang akan dia katakan?" ucap Alice dalam hati.
"Pertama, Teman. Kedua, Bermain.." ujar Arya.
"Yang ketiga apa ya? Yang bisa menjelaskan alasan kami tidak pulang." pikir Arya dengan keras.
"Ketiga.." ucap Arya kemudian terdiam sejenak karena masih memikirkannya.
"Apa yang ketiga?" ucap Alice dalam hati.
"..Berdua." tambah Arya.
Warung itu jadi hening setelah Arya mengatakan yang ketiga.
"Oh begitukah. Jadi kalian kencan." ucap bibi penjaga warung terlihat senang.
Arya dan Alice pun sama-sama shock mendengar tanggapan bibi penjaga warung itu.
"Hahaha.. anak muda jaman sekarang memang agresif ya. Masih sekolah juga sudah pake kencan segala." tukas bibi penjaga warung.
"Kenapa dia malah jadi mengira begitu? Harusnya dia mengira kami hanya sedang jalan-jalan menghabiskan waktu berduaan saja." ujar Arya dalam hati terlihat malu.
"A-apa kami terlihat seperti orang yang kencan? Apa benar begitu?" kata Alice dalam hati yang terlihat lebih malu daripada Arya.
"Ti-tidak, maksud kami.." ujar Arya mencoba meluruskan.
"Eh, jadi bukan? Terus kalian sedang apa berduaan sampai jam segini. Udah mau maghrib lho." sahut bibi penjaga warung.
"Ka-kami.." ucap Alice.
"Oh.. ayo Alice jelaskan yang sebenarnya." ujar Arya dalam hati.
"Kami memang sedang kencan!!!" kata Alice dengan keras.
"Apa?!!" ucap Arya terkejut.
"Hahaha.. tuh pacarmu juga bilang begitu kan? Sudah tak usah malu. Bibi sudah biasa melihat anak SMA pacaran kok." ujar bibi penjaga warung.
"Ke-kenapa dia malah mengatakannya?! Kupikir dia ingin meluruskannya." ujar Arya dalam hati masih terkejut.
Alice terlihat sangat malu setelah mengatakannya. Wajahnya yang putih tidak bisa menyembunyikan warna merah dipipinya. Matanya terpejam seakan malu untuk menatap bagaimana reaksi Arya terhadapnya.
"Ya-ya.. kami memang sedang kencan. Terima kasih sudah membiarkan kami disini sebentar. Kami harus segera pergi." ujar Arya kemudian menarik lengan Alice.
Alice terkejut dan mengikuti Arya. Sementara bibi penjaga warung terlihat begitu bahagia melihat pemandangan itu. Karena saat itu Arya dan Alice terlihat seperti pasangan yang berjalan berdua sambil berpegangan tangan. Alice terlihat menatap Arya seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Ke-kenapa dia menarikku tiba-tiba? Kenapa dia malah mengakui kalau dia kencan denganku? Lagipula ini juga pertama kalinya aku berjalan berpegangan tangan seperti ini. Rasanya malu sekali. Tapi.. entah kenapa aku juga merasa bahagia. Ada apa ini?" gumam Alice bertanya-tanya dalam hati.
"Nah, jadi perlukah kita benar-benar kencan hari ini?" tanya Arya.
"Hah?" sahut Alice.
Alice benar-benar sangat terkejut dengan pertanyaan Arya saat itu. Dia tidak menyangka Arya akan mengatakannya.
Catatan hari ini:
Yang mengungkap sebuah masalah bukan hanya waktu, tapi juga keadaan disekitarmu.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.