VocaWorld, chapter 165 - Dua Pedang Yang Saling Beradu

Kamui melewati berbagai rintangan dengan mudahnya, dia juga berhasil menghancurkan monster yang telah menyerangnya dengan sekali tebasan. Dan akhirnya Kamui saat ini berhadapan dengan Leviathan. Para dark sider pun tampak berhenti bangkit.
"Jadi haruskah kita mulai?" tanya Kamui sambil tersenyum.
"Ya.. silahkan.." jawab Leviathan yang juga tersenyum.
Kamui mencabut katana nya dan bersiap-siap menyerang dengan kuda-kudanya.
"Dance: Samurai Warrior!" ucap Kamui kemudian berlari ke arah Leviathan.
"Muncul lah ke hadapanku, clarinet of museketeer." ucap Leviathan.
Dan nampak tongkat yang dipegangnya berubah menjadi sebuah clarinet. Leviathan pun memainkan clarinet itu dan muncul 3 sosok ksatria berwarna ke kuningan. Ketiga ksatria itu kemudian menyerang Kamui. Mereka terlihat menggunakan pedang rapier untuk menyerang dan menebas Kamui.
"Apa-apaan ini? Kenapa mereka bertiga bisa muncul tiba-tiba?!" ucap Kamui terkejut dengan serangan tiba-tiba mereka.
Namun Kamui berhasil menangkis dan menahan setiap serangan dari 3 ksatria itu. Mereka kemudian menerangan dengan serangan beruntun ke arah Kamui. Tapi Kamui menagkis semua serangan mereka dengan tebasan yang sangat cepat. Meski begitu mereka berhasil membuat Kamui mundur ke belakang menjauhi Leviathan.
"Saya sama sekali tidak bisa melancarkan serangan balasan pada mereka. Mereka sangat hebat." ucap Kamui.
"Mereka adalah three museketeer. Sudah pasti mereka sangat hebat dengan pedang mereka." ujar Leviathan dalam hati sambil tetap memainkan clarinet-nya..
"Seandainya aku punya celah walau satu detik saja. Aku pasti bisa mengalahkan mereka." tambah Kamui yang masih disibukkan oleh serangan dari three museketeer.
"Ayo kita bantu dia!" ucap Kaito.
"Ya!" sahut Miku.
Meiko mengikuti dari belakang.
"Hmm.. tidak secepat itu. Aku takkan membiarkan kalian menggangguku." kata Leviathan dalam hatinya melirik ke arah Kaito.
Salah satu dari three museketeer melompat ke arah Kaito dan bersiap menghujamkan rapiernya ke tubuh Kaito.
"Rasakan ini!" ucap Meiko menembakan sebuah bola api dari tinjunya.
Bola api itu mengarah ke ksatria yang hendak menyerang Kaito. Bola api itu mengenai ksatria itu dan membuatnya terpental kebelakang. Namun ksatria tersebut masih bisa berdiri. Beberapa bola api lain datanga kearahnya, namun ksatria itu mampu menebas dan menghancurkan bola-bola api itu.
"Bagaimana dengan ini!" ucap Kaito menyambukkan api biru dari harmonika nya.
Ksatria itu melompat dan menghindar kemudian berniat menusukkan pedangnya ke Kaito. Kaito menghindar ke samping, namun ksatria itu menyabetkan rapier nya ke arah Kaitot tepat setelah ia mendarat. Kaito masih sempat melompat mundur meskipun terlihat pipinya tergores akibat tebasan ksatria tadi. Miku dan Meiko hanya bisa terdiam karena tidak bisa mendekat.
"Menghadapi orang yang membawa senjata dari jarak dekat benar-benar sangat sulit. Apalagi dia juga cukup cepat jadi sulit untuk menjaga jarak dengannya." pikir Kaito.
"Kalau menurutmu itu sudah cukup untuk melawan mereka, sepertinya kamu sudah salah. Mereka tidak dapat dikalahkan oleh makhluk yang terbuat dari nada seperti itu." ujar Ray yang menyaksikan dari atas sebuah perahu.
Dari belakang ksatria yang dihadapi nampak Rin dan Len muncul. Mereka berdua langsung melancarkan tendangan mereka secara bersamaan ke punggung ksatria itu.
"Kami tidak akan kalah saat kami melakukannya bersama!" ucap Rin dan Len bersamaan.
Ksatria itu menebas ke arah Len, Len menghindar namun Rin menyerang dari belakangnya. Ksatria itu menebas ke arah Rin, Rin menghindar dan Len menyerangnya dari belakang. Saat ksatria itu teralihkan oleh serangan Len, Rin berhasil menangkap leher ksatria itu dengan kedua kakinya. Dan Len memanfaatkan hal itu dengan melakukan slidding dan menangkap kedua kaki ksatria itu dengan tangannya. Dan dengan cepat mereka langsung menarik ksatria itu ke arah berlawanan sambil memutar tubuhnya ke arah yang berlawanan pula. Miku dan yang lainnya tampak terkejut.
"Mereka sadis?!" ucap Miku, Meiko, Kaito dan Gumi dengan wajah pucat.
Tubuh ksatria itu pun pecah menjadi butiran cahaya kuning.
"Sial! Satu memang berhasil diatasi. Tapi saya masih belum menemukan celah pada yang sisanya." gerutu Kamui melihat ke arah 2 ksatria yang tersisa.
Kemudian muncul 2 pixie yang mengarah ke kedua ksatria itu. Kedua ksatria itupun menebas pixie itu.
"Ini dia!" ucap Kamui tampak menemukan celahnya.
Lalu Kamui dengan cepat sudah berada dibelakang dengan katana yang sudah berada di dalam serangkanya.
"Selesai." sambung Kamui sambil membuka matanya yang tadi terpejam.
Bersamaan dengan itu, tampak kedua ksatria dibelakang Kamui sudah pecah menjadi butiran cahaya kuning.
"Cih!" ucap Leviathan terlihat kesal.

Dari atas gedung, Luka tampak sudah mengeluarkan lagi instrument nya.
"Aku tidak bisa diam saja melihat mereka bertempur. Berbeda dengan Ray-kun, aku tak mungkin bisa tenang melihat teman-temanku diserang." ujar Luka menatap tajam ke arah Leviathan.
"Sepertinya dia masih belum menyerah juga." ujar Leviathan mengembalikan bentuk clarinet nya ke bentuk tongkat.
"Luka-tan memang hebat. Dia memang sangat cocok menjadi partner saya. Partner dalam praktek langsung. Hehehehe.." ucap Kamui dengan senyuman mesum.
"Kenapa dia masih bisa berpikiran mesum disaat seperti ini." gerutu Gumi.
"Kelihatannya aku tak punya pilihan selain menghadapimu secara langsung." kata Leviathan memindahkan tongkatnya ke tangan kiri.
"Mmh? Apa maksudnya? Apa anda bermaksud menghadapi saya dengan tangan kosong? Anda tak mungkin menang melawan saya." sahut Kamui.
"Siapa bilang aku akan bertarung dengan tangan kosong?" balas Leviathan mencabut pedang tersembunyi pada tongkatnya.
Ternyata itu bukan sekedar tongkat. Didalamnya ada sebuah pedang rapier. Hal itu membuat Kamui cukup terkejut.
"Ternyata anda juga seorang ksatria berpedang. Kalau begitu saya tak perlu khawatir. Saya bisa menggunakan pedang saya secara leluasa." ujar Kamui.
"Ya, gunakanlah sebaik yang kau bisa." sahut Leviathan mengacungkan rapier nya didepan wajahnya.
"Bersiaplah, karena mungkin saya akan sedikit menggores wajah cantik anda." jawab Kamui.
"Baguslah kalau kau bisa menggoresnya dan membuat ini sedikit menarik. Tapi kupikir, itu akan sangat sulit sekali." balas Leviathan.
Lalu mereka berdua pun sama-sama maju ke depan dan saling beradu pedang. Tebasan mereka berdua sama-sama kuat sehingga membuat gelombang yang cukup besar.
"Anda cukup kuat juga ternyata." puji Kamui.
"Aku kuat? Kau pasti bercanda, kekuatan sama sekali bukanlah bidangku." sahut Leviathan.
"Hah? Apa maksud anda?" tanya Kamui sedikit bingung.
"Karena bidangku adalah kecepatan!" jawab Leviathan mengubah kuda-kudanya.
Lalu Leviathan menusukkan rapier nya dengan kecepatan tinggi. Kamui sama sekali tidak bisa bereaksi pada serangan itu. Tapi terlihat Kamui berusaha menghindar, dan pada akhirnya pipi sebelah kanan Kamui tersayat akibat tusukan rapier Leviathan.
"Ternyata kau masih bisa menghindarinya. Hebat juga.." puji Leviathan.
Kamui mundur kebelakang sedikit untuk memberi jarak.
"Pedangnya benar-benar cepat. Gaya pedang barat tidak terlalu buruk ternyata." ucap Kamui.
Leviathan kemudian langsung menyerang Kamui lagi. Dan tanpa memberi jeda sedikitpun Leviathan melakukan gerakan menusuk pada Kamui. Kamui yang tidak bisa menangkis semuanya sekaligus akhirnya harus merelakan tubuhnya terluka akibat sayatan dari tusukkan pedang Leviathan.
"Sial kalau begini terus Gakupo takkan bisa bertahan lebih lama lagi." ujar Kaito.
"Baiklah kalau begitu aku akan membantunya." sahut Gumi langsung melompat mendekat ke tempat pertarungan Kamui dan Leviathan.
Tapi Leviathan berputar sambil mundur kebelakang dan mengubah pedangnya kembali menjadi clarinet lalu meniupnya. Dan disaat yang bersamaan muncul salah satu dari three museketeer dan menyerang Gumi. Beruntung Gumi ditarik mundur oleh pixie-pixie milik Luka. Dan sosok itu pun hilang saat Leviathan kembali mengubah clarinet menjadi pedang.
"Ha-hampir saja.." ucap Luka.
"Mereka sama sekali tidak bisa kita dekati." ujar Gumi.
"Tak ada pilihan lain selain mempercayakan pertarungan ini pada Gakupo-san." kata Meiko.
Kamui dan Leviathan nampak bertarung dengan sengit. Tidak ada dari mereka yang mau mengalah. Namun kelihatannya Leviathan lebih unggul. Karena hampir setiap serangan Leviathan mengenai Kamui, tapi tidak ada satupun tebasan Kamui yang mampu menggores Leviathan. Kamui mundur dan menyarungkan lagi katana nya.
"Saya harus segera mengakhiri ini atau kita takkan pernah bisa menang." ujar Kamui kemudian melesat kedepan.
Dengan cepat Kamui mencabut katana nya dan menebas ke leher Leviathan. Leviathan terlihat tenang saja meskipun lehernya terancam terkena tebasan saat ini. Lalu Leviathan memundurkan kaki kanannya ke belakang dan bersiap menusuk Kamui. Dan dalam sekejap Kamui sudah melakukan tebasannya bersamaan dengan Leviathan yang sudah berada dibelakang Kamui saat itu dengan pedang yang sudah berada di dalam serangka nya.
"Si-siapa yang menang?" ucap Kaito.
Miku dan yang lainnya pun masih tercengang melihat Kamui dan Leviathan masih berdiri. Dan beberapa saat kemudian darah pun muncrat dari pinggang sebelah kanan Kamui.
"Kelihatannya akulah yang jadi pemenangnya saat ini." ujar Leviathan menoleh ke arah Kamui.
"Masih belum!" ucap Kamui mencoba menebas Leviathan lagi sambil berbalik ke belakang.
Namun Leviathan menunduk dan mendorong Kamui dengan keras menggunakan tongkatnya. Kamui pun terpental kebelakang ke arah laut. Tubuh Kamui terpantul-pantul diatas air sangat keras sejauh lebih dari 100 meter kemudian tenggelam.

Gakupo Kamui telah dikalahkan, Leviathan kembali membangkitkan para dark sider. Hal itu membuat Miku dan yang lainnya kembali disibukkan oleh para dark sider.
"Bagaimana ini.. kalau begini terus kami bisa kalah karena kelelahan.." pikir Luka yang mulai merasa terdesak.
"Tenang saja, aku takkan membiarkan kalian hidup terlalu lama dan mengalami penderitaan. Akan kuakhiri hidup kalian saat ini juga." ujar Leviathan.
Dan dibelakang Leviathan tiba-tiba saja muncul sebuah kapal selam raksasa ke permukaan. Kapal selam itu sangatlah besar. Ukurannya bisa 5 kali lipat kapal selam militer.
"A-apa itu?!" ucap June terlihat terkejut.
"Itu adalah ark milik nya." jawab Dante.
"Kapal selam?! Jadi dia bisa menggunakan senjata fisik juga. Itu kedengarannya sangat berbahaya." ucap June.
"Bukan berbahaya lagi. Dia bisa membinasakan kota ini dalam sekejap." sahut Dante.
"Apa?!" kata June kaget.
"Bersiaplah untuk binasa!!!" ucap Leviathan dengan lantang.
Sebuah persenjataan lengkap kapal selam itu mulai muncul. Berbagai macam misil dan meriam keluar dari lubang senjata.
"Hentikan, Leviathan!" teriak Dante dengan suara gema nya.
Itu adalah metode yang sama yang digunakan saat Dante mengumumkan kalau dia kembali menjadi pangeran kegelapan waktu itu.
"Cih, Lucifer.. jangan menggangguku!" ujar Leviathan dengan geram.
"Sebaiknya kau hentikan niatmu untuk menyerang kota ini, karena kota ini saat ini merupakan wilayahku. Jika kau berani menyerang wilayahku itu artinya kau mengajak berperang denganku." jelas Dante.
"Wilayahmu? Kalau memang benar ini wilayahmu kenapa mereka masih berkeliaran? Jangan bilang kalau kau melindungi mereka!" tukas Leviathan.
"Melindungi mereka katamu? Jangan bercanda. Justru saat ini aku sedang melindungimu." balas Dante.
"Apa maksudmu?" tanya Leviathan.
"Haha.. sudah kuduga kau tidak menyadarinya." sahut Dante.
"Jangan bertele-tele, cepat jelaskan maksudnya!" pinta Leviathan.
"Kalau begitu aku akan bertanya padamu. Apa saat ini kamu tahu dimana keberadaan Shiro Ray?" tanya Dante.
"Shiro Ray? Maksudmu The White Light? Aku memang tidak melihatnya di pertempuran kali ini. Memangnya kenapa?" tanya balik Leviathan.
"Kalau kau tidak bisa melihatnya itu artinya kau kalah. Dia adalah orang dengan otak paling berbahaya. Dia bisa saja menyerangmu dari belakang atau tiba-tiba mengambil alih komando dari orang-orang yang sedang kau lawan saat ini." jelas Dante.
"Dibawah komando orang seperti dia. Sudah pasti kau tahu sendiri kan kelanjutannya." tambah Dante dengan senyuman iblisnya.
Leviathan terlihat berkeringat setelah mendengar kata-kata Dante.
"Cih, baiklah aku mengerti." jawab Leviathan dan kapal selam dibelakangnya pun kembali menyimpan senjatanya dan kembali menyelam.
"Aku akan memerintahkan seseorang untuk menjemputmu." balas Dante.
Kemudian June tiba-tiba sudah ada disamping Leviathan.
"Sepertinya pertemuan kita hanya sampai disini saja. Sampai jumpa lain kali." ujar Leviathan kemudian menghilang bersama June.
Miku dan yang lainnya terlihat lega dengan perginya Leviathan dan air laut yang kembali seperti semula.
"Syukurlah dia segera pergi. Kita terselamatkan oleh bujukan dari Yami Dante." ujar Miku.
"Lihat disana, diperahu itu, bukankah itu Gakupo-san?" ucap Meiko sambil menunjuk ke arah sebuah perahu yang berlabuh di pesisir pantai.
"Benar juga. Ayo kita kesana!" sahut Gumi kemudian berlari menghampiri sosok laki-laki yang terbaring di perahu itu.
Saat dilihat dari dekat ternyata benar itu adalah Kamui yang tampak terluka parah. Pinggangnya berdarah namun terlihat sudah dibalut oleh kain yang disobek dari kimono milik Kamui.
"Mungkin hanya perasaanku saja atau memang benar ada yang aneh dari pemanggilan si gadis pirang oleh Dante?" ucap Ray yang berjalan menyusuri jalanan menjauhi pantai.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】