VocaWorld, chapter 166 - Menyingkap Tirai Masa Lalu
Miku dan kawan-kawan mengadakan rapat di dalam dojo milik Kamui. Sementara Kamui terlihat masih tak sadarkan diri di kamarnya dan semua lukanya sudah dibalut perban.
"Bagaimana dengan keadaan Gaku-Gaku?" tanya Gumi pada Luka yang baru datang.
"Tenang saja. Semua lukanya sudah kututup dan kubalut dengan perban. Dia pasti akan baik-baik saja." jawab Luka kemudian duduk di dekat tempat meletakan katana.
"Syukurlah.." ucap Gumi tampak lega.
"Tapi aku terkejut, Gakupo bisa dikalahkan dalam hal berpedang. Padahal kupikir dia yang paling hebat diantara kita semua." ujar Kaito.
"Iya paling hebat diantara kita, tapi musuh beda lagi dong." sahut Meiko.
"Be-benar juga." balas Kaito yang baru menyadarinya.
"Tapi menyebalkan banget dia bisa memanggil dark sider dalam jumlah tak terbatas. Aku sampai pusing pakai dance rolling girl ku." gerutu Miku.
"Kalau begitu kenapa tidak pakai dance baru Miku-nee saja?" ujar Len.
"Aaa.. benar juga. Kenapa aku bisa lupa!" ucap Miku terkejut.
"Bagaimana kau bisa melupakan hal sepenting itu." komentar Kaito.
"Jadi kalian pikir jumlah dark sider yang ia panggil itu tak terbatas?" tanya Luka.
"Ya, dilihat dari manapun jumlahnya benar-benar tak bisa dihitung. Mau berapa kalipun kita menghancurkan mereka, mereka masih bisa terus bangkit lagi." jawab Meiko.
"Kalau begitu itu berbeda dengan tak terbatas." sanggah Luka.
"Apa maksudmu?" tanya Meiko.
"Kalau dipikir-pikir, dia hanya membangkitkan apa yang berada di air dan yang sudah dihancurkan saja." ujar Gumi sambil berpikir.
"Sepertinya Gumi-chan sudah mengerti maksudku." kata Luka lalu tersenyum.
"Gumi-chan, coba jelaskan padaku! Aku ingin tahu!" pinta Miku pada Gumi.
"Eh, aku tidak tahu cara menjelaskannya. Etto.. harus kumulai dari mana ya.." ujar Gumi terlihat bingung.
"Tidak terbatas, apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata itu?" tanya Luka memotong.
"Hmm.. banyak sekali jumlahnya pasti." jawab Miku.
"Salah. Tidak terbatas artinya tidak ada yang bisa membatasinya. Mau dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun tidak akan pernah bisa membatasinyal. Itu artinya tidak terbatas. Tapi dia.. kalian menyaksikannya kan?" jelas Luka.
"Dia?" sahut Miku dan yang lainnya sambil memiringkan kepala.
"Hanya membangkitkan yang sudah dihancurkan. Hanya membangkitkan yang hanya ada dilautan. Dia menunjukkan dengan jelas kalau pasukannya tidaklah tidak terbatas. Itu juga terbukti saat dia mengeluarkan tiga ksatria dan saat melawan Kamui." sambung Luka.
"Dia menghentikan pembangkitan dark sider nya." ucap Gumi.
"Benar sekali. Jadi mengatakan kalau dark sider miliknya tak terbatas itu adalah kesalahan. Karena sebenarnya batasnya adalah dirinya sendiri. Dia punya batasan seberapa banyak dia bisa mengendalikan dan membangkitkan dark sider. Dan dia juga membatasi dirinya dalam penggunaan kemampuan itu." tambah Luka menjelaskan lebih detail.
"Hmm.. begitu rupanya.." ucap Meiko tampak sudah mengerti.
"Eh, adakah yang bisa menjelaskan maksudnya hal tadi?" pinta Miku.
"Hah? Kamu masih belum mengerti juga padahal Luka-oneesama sudah menjelaskannya tadi." kata Gumi.
"Jangan heran kalau Miku-nee begitu. Mau bagaimapun dialah yang paling bodoh diantara kita." ujar Len.
"Memang kamu juga mengerti, Len?" tanya Rin.
"Tentu saja lah. Len yang jenius pasti sudah mengerti bahkan sebelum dijelaskan." jawab Len dengan sombong.
"Hah? Dia pikir dia Ray-niichan apa." komentar Rin.
"Tapi pada akhirnya Pangeran Kegelapan menghentikan pertempuran kemudian memanggil iblis wanita itu. Entah apa alasannya, tapi kita terselamatkan karenanya." ujar Kaito.
"Hmm.. itulah yang saat ini mengganggu pikiranku." ucap Luka.
Di pesawat nya, Dante dan Leviathan terlihat sedang melakukan pembicaraan pribadi. June berdiri di samping Dante yang duduk di singgasana nya.
"Katakan padaku apa alasanmu datang ke kota ini?" tanya Dante pada Leviathan.
"Apa maksudmu, Lucifer?" tanya balik Leviathan sambil tersenyum.
"Aku tahu kau datang ke kota ini pasti bukan tanpa alasan. Kau pasti mendapatkan perintah dari ayah bukan?" tukas Dante.
"Hmm.. sepertinya aku tidak punya alasan untuk menyembunyikannya darimu. Lagipula tujuanku kemari memang karena mu." jawab Leviathan.
"Sudah kuduga. Kamu pasti punya paket untukku." sahut Dante.
"Benar sekali. Ternyata pemikiranmu cukup tajam juga, Lucifer." balas Leviathan.
Kemudian Leviathan terlihat menggulung lengan bajunya. Dan terlihatlah kalau dilengannya seperti ada tato berbentuk simbol hexagram di tangan kirinya itu berjajar sebanyak 3 buah.
"Ini adalah versi spesial. Bisa dibilang ini adalah dark sider tipe khusus yang sudah dimodifikasi." lanjut Leviathan.
"Oohh.. terdengar menarik." sahut Dante.
"Kalau begitu akan segera aku serahkan padamu. Mendekatlah kemari." pinta Leviathan.
Dante berdiri dan berjalan mendekat ke Leviathan.
"Dengan begini akan ku serahkan ini padamu. Mau kau gunakan untuk apa itu terserah padamu. Aku takkan pernah menanyakannya." ujar Leviathan menyentuh punggung tangan Dante.
Kemudian tanda ditangan kanan Leviathan pun berpindah ke tangan kiri Dante.
"Haha.. ternyata pemindahannya cukup menyakitkan juga ya." komentar Dante sambil tersenyum jahat.
"Memang. Bukan hanya proses pemindahannya, tapi juga menanggung tanda ini juga sangat menyakitkan." jelas Leviathan melepaskan lagi lengan Dante setelah proses nya selesai.
"Oohh.. benar juga. Sepertinya aku mengerti cara kerjanya." ujar Dante memperhatikan tanda yang kini sudah berpindah ke lengannya.
"Hmm.. kalau begitu aku pergi sekarang. Karena sepertinya tak ada yang perlu aku jelaskan lagi." sahut Leviathan.
Setelah Leviathan pergi June mulai menghadap ke arah Dante.
"Tuan, apa sebenarnya itu?" tanya June.
"Kau akan segera mengetahuinya nanti." jawab Dante sambil kembali duduk di singgasana nya.
"Apa ini? Sepertinya aku terlalu terbiasa mendengar kata itu dari Shiro Ray sehingga tanpa sadar aku menirunya." ujar Dante dalam hatinya.
"JB! Sepertinya kita punya target yang bagus untuk mengetes dark sider tipe khusus ini." kata Dante sambil berdiri.
"Eh, siapa?" tanya June.
"Kau akan segera mengetahuinya nanti." jawab Dante.
"Hah? Berkata itu lagi." keluh June.
Leviathan tampak berjalan menuju ke pantai. Dari belakangnya terlihat laki-laki yang memakai jaket hitam mengikuti dari belakang. Dan laki-laki itu pastinya adalah Shiro Ray.
"Hmm.. seperti yang kuduga dia memang ada urusan dengan Dante. Dan sepertinya sekarang urusan mereka sudah selesai. Tapi urusan apa? Pasti ada hubungannya dengan tujuannya kemari. Tak mungkin 3 orang komandan berkumpul di satu tempat dalam waktu yang sama. Kecuali mereka punya misi tersendiri." ujar Ray dalam hatinya.
Ray memperhatikan Leviathan dengan seksama dari belakang.
"Kelihatannya ada yang berbeda dengan dia saat ini. Dia terlihat lebih tenang saat ini. Seperti ada beban berat yang baru saja terlepas dari pundaknya." lanjut Ray.
Ray pun menghentikan langkahnya seperti menyadari sesuatu.
"Tunggu sebentar. Bebankah.." gumam Ray lalu membayangkan kejadian saat ia memutus sumber kekuatan Dante sewaktu perang dimasa lalu.
"Tidak, sepertinya saat ini sedikit berbeda.." sambung Ray dalam hati saat memperhatikan lagi Leviathan yang sudah semakin jauh.
Di suatu hari yang cukup cerah, Rin dan Len sedang berjalan berbelanja di toko.
"Haha.. hari ini cukup cerah. Kita bisa berbelanja dengan santai." ucap Len.
"Ya, syukurlah beberapa hari ini mereka tidak menyerang kita lagi sehingga kita bisa aman. Ya meskipun beberapa warga kota memilih untuk mengungsi di bagian selatan Voca Town sampai keadaan aman kembali." ujar Rin.
"Tapi kenapa ya sepertinya mereka malas sekali untuk menyerang kita?" sahut Len.
"Mungkin karena kita punya Miku-neechan dan Ray-niichan." jawab Rin.
"Haha.. sepertinya begitu. Ray-nii memang bisa dibanggakan. Seandainya dia adalah benar-benar kakak kandungku." ujar Len.
"Ya, seandainya saja begitu. Eh, tunggu sebentar.. kalau dia kakak kandungku terus bagaimana aku bisa.." kata Rin lalu terlihat bingung.
"Kamu bisa???" sahut Len terlihat heran.
"Lu-lupakan yang baru saja aku katakan!" balas Rin yang jadi panik dan wajahnya tampak memerah.
Tak lama kemudian mereka sampai di toko swalayan. Di depan toko swalayan tampak sosok laki-laki berjaket putih sedang tersenyum pada mereka berdua.
"Ya akhirnya aku menemukan kalian." ujar laki-laki dengan senyuman licik itu.
"Si-siapa kamu?" tanya Rin dan Len bersamaan.
"Aku adalah, orang yang akan menjadi tuanmu, pelayanku." jawab laki-laki itu kemudian menyentuh kepala Rin dan Len.
Rin dan Len langsung terkejut dan matanya terbelalak seperti tersengat listrik atau semacamnya. Perlahan dalam benak mereka terpampang beberapa gambaran yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"A-apa ini? Sepertinya aku melihat sesuatu yang sangat kukenal." gumam Len.
"Rasanya nostalgia sekali tapi, aku baru pertama kalinya melihatnya." ujar Rin dalam hati.
Tiba-tiba mereka seperti mengingat sesuatu yang mengerikan dan lalu mereka pun tidak sadarkan diri.
"Sepertinya aku sudah mendapatkan bidak yang aku inginkan." ujar laki-laki melepas tudung jaketnya dan terlihatlah rambut putihnya.
Kemudian tampaklah kalau laki-laki itu adalah Dante. Dante tersenyum puas melihat si kembar dan kemudian Dante berubah dan memanggul mereka berdua di pundaknya. Lalu Dante melompat pergi dari tempat itu. Sementara di tempat lain Ray melihat ke arah langit sebelah selatan.
"Kuharap semua ini tidak semakin buruk. Keadaan yang memburuk tidak baik untuk Megurine-san." ujar Ray sambil memikirkan tentang Luka.
Di dalam ruangan baca kediamannya, Luka kembali membaca diary milik ayahnya satu persatu secara seksama.
"Aku sudah membaca separuhnya secara teliti, tapi aku belum menemukan satupun yang memberikan petunjuk tentang masa lalu didalamnya." gumam Luka sambil membacanya.
"Luka-sama, saya membawakan teh untuk anda." ujar Tsugumi mengetuk pintu ruang baca.
"Oh.. silahkan masuk." jawab Luka sambil tetap konsentrasi membaca.
"Anda sedang membaca itu ternyata. Anda pasti penasaran sekali tentang orang tua anda." ujar Tsugumi sambil masuk ke ruangan baca.
"Kamu tahu tentang buku ini, Tsugumi?" tanya Luka terheran.
"Tentu saja. Saya kan sudah menjadi maid disini sejak masa ayah anda, Luka-sama." jawab Tsugumi.
"Be-begitukah? Kalau begitu bisa beritahu tentang siapa itu Dr. Shiro dan Dr. Kuro?" pinta Luka.
"Dr. Shiro dan Dr. Kuro? Kalau tidak salah mereka adalah teman tuan Meguzan dan nona Irine. Bisa dibilang mereka itu sahabat dekat." jawab Tsugumi.
"Hmm.. begitu rupanya. Tapi kalau boleh tahu, siapa nama lengkap Dr. Shiro dan Dr. Kuro?" tanya Luka tampak semakin penasaran.
"Aku tidak tahu nama asli mereka siapa sebenarnya. Bisa dibilang mereka merahasiakannya dari siapapun. Kupikir hanya tuan Meguzan dan Gakuzan saja yang tahu." jawab Tsugumi.
"Begitukah. Apa mereka orang asli Voca Town?" tanya Luka lagi.
"Tidak, Dr. Shiro sebenarnya tiba-tiba saja datang dengan sebuah perahu kecil dari lautan. Kalau Dr. Kuro dulunya dia berada dalam lembaga obsevasi yang meneliti tentang orang-orang jenius." jelas Tsugumi.
"Jadi dia sudah seorang dokter sejak lama?" tanya Luka lagi.
"Bukan. Dia adalah salah satu anak jenius yang diteliti disana. Dia adalah gadis jenius yang autis sehingga untuk menanganinya membutuhkan perhatian khusus." jelas Tsugumi.
"Ini malah membuatku semakin penasaran tentang mereka. Mungkin memang lebih baik aku biarkan Ray-kun membaca diary papa. Karena Ray-kun sudah pasti akan segera tahu semuanya tentang yang terjadi di masa lalu setelah membaca ini." ujar Luka.
"Tapi aku tidak tahu sekarang dia ada dimana. Saat dia kembali nanti, aku akan menunjukkannya pada Ray-kun." sambung Luka sambil tersenyum ke arah jendela.
To be continued..
"Bagaimana dengan keadaan Gaku-Gaku?" tanya Gumi pada Luka yang baru datang.
"Tenang saja. Semua lukanya sudah kututup dan kubalut dengan perban. Dia pasti akan baik-baik saja." jawab Luka kemudian duduk di dekat tempat meletakan katana.
"Syukurlah.." ucap Gumi tampak lega.
"Tapi aku terkejut, Gakupo bisa dikalahkan dalam hal berpedang. Padahal kupikir dia yang paling hebat diantara kita semua." ujar Kaito.
"Iya paling hebat diantara kita, tapi musuh beda lagi dong." sahut Meiko.
"Be-benar juga." balas Kaito yang baru menyadarinya.
"Tapi menyebalkan banget dia bisa memanggil dark sider dalam jumlah tak terbatas. Aku sampai pusing pakai dance rolling girl ku." gerutu Miku.
"Kalau begitu kenapa tidak pakai dance baru Miku-nee saja?" ujar Len.
"Aaa.. benar juga. Kenapa aku bisa lupa!" ucap Miku terkejut.
"Bagaimana kau bisa melupakan hal sepenting itu." komentar Kaito.
"Jadi kalian pikir jumlah dark sider yang ia panggil itu tak terbatas?" tanya Luka.
"Ya, dilihat dari manapun jumlahnya benar-benar tak bisa dihitung. Mau berapa kalipun kita menghancurkan mereka, mereka masih bisa terus bangkit lagi." jawab Meiko.
"Kalau begitu itu berbeda dengan tak terbatas." sanggah Luka.
"Apa maksudmu?" tanya Meiko.
"Kalau dipikir-pikir, dia hanya membangkitkan apa yang berada di air dan yang sudah dihancurkan saja." ujar Gumi sambil berpikir.
"Sepertinya Gumi-chan sudah mengerti maksudku." kata Luka lalu tersenyum.
"Gumi-chan, coba jelaskan padaku! Aku ingin tahu!" pinta Miku pada Gumi.
"Eh, aku tidak tahu cara menjelaskannya. Etto.. harus kumulai dari mana ya.." ujar Gumi terlihat bingung.
"Tidak terbatas, apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata itu?" tanya Luka memotong.
"Hmm.. banyak sekali jumlahnya pasti." jawab Miku.
"Salah. Tidak terbatas artinya tidak ada yang bisa membatasinya. Mau dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun tidak akan pernah bisa membatasinyal. Itu artinya tidak terbatas. Tapi dia.. kalian menyaksikannya kan?" jelas Luka.
"Dia?" sahut Miku dan yang lainnya sambil memiringkan kepala.
"Hanya membangkitkan yang sudah dihancurkan. Hanya membangkitkan yang hanya ada dilautan. Dia menunjukkan dengan jelas kalau pasukannya tidaklah tidak terbatas. Itu juga terbukti saat dia mengeluarkan tiga ksatria dan saat melawan Kamui." sambung Luka.
"Dia menghentikan pembangkitan dark sider nya." ucap Gumi.
"Benar sekali. Jadi mengatakan kalau dark sider miliknya tak terbatas itu adalah kesalahan. Karena sebenarnya batasnya adalah dirinya sendiri. Dia punya batasan seberapa banyak dia bisa mengendalikan dan membangkitkan dark sider. Dan dia juga membatasi dirinya dalam penggunaan kemampuan itu." tambah Luka menjelaskan lebih detail.
"Hmm.. begitu rupanya.." ucap Meiko tampak sudah mengerti.
"Eh, adakah yang bisa menjelaskan maksudnya hal tadi?" pinta Miku.
"Hah? Kamu masih belum mengerti juga padahal Luka-oneesama sudah menjelaskannya tadi." kata Gumi.
"Jangan heran kalau Miku-nee begitu. Mau bagaimapun dialah yang paling bodoh diantara kita." ujar Len.
"Memang kamu juga mengerti, Len?" tanya Rin.
"Tentu saja lah. Len yang jenius pasti sudah mengerti bahkan sebelum dijelaskan." jawab Len dengan sombong.
"Hah? Dia pikir dia Ray-niichan apa." komentar Rin.
"Tapi pada akhirnya Pangeran Kegelapan menghentikan pertempuran kemudian memanggil iblis wanita itu. Entah apa alasannya, tapi kita terselamatkan karenanya." ujar Kaito.
"Hmm.. itulah yang saat ini mengganggu pikiranku." ucap Luka.
Di pesawat nya, Dante dan Leviathan terlihat sedang melakukan pembicaraan pribadi. June berdiri di samping Dante yang duduk di singgasana nya.
"Katakan padaku apa alasanmu datang ke kota ini?" tanya Dante pada Leviathan.
"Apa maksudmu, Lucifer?" tanya balik Leviathan sambil tersenyum.
"Aku tahu kau datang ke kota ini pasti bukan tanpa alasan. Kau pasti mendapatkan perintah dari ayah bukan?" tukas Dante.
"Hmm.. sepertinya aku tidak punya alasan untuk menyembunyikannya darimu. Lagipula tujuanku kemari memang karena mu." jawab Leviathan.
"Sudah kuduga. Kamu pasti punya paket untukku." sahut Dante.
"Benar sekali. Ternyata pemikiranmu cukup tajam juga, Lucifer." balas Leviathan.
Kemudian Leviathan terlihat menggulung lengan bajunya. Dan terlihatlah kalau dilengannya seperti ada tato berbentuk simbol hexagram di tangan kirinya itu berjajar sebanyak 3 buah.
"Ini adalah versi spesial. Bisa dibilang ini adalah dark sider tipe khusus yang sudah dimodifikasi." lanjut Leviathan.
"Oohh.. terdengar menarik." sahut Dante.
"Kalau begitu akan segera aku serahkan padamu. Mendekatlah kemari." pinta Leviathan.
Dante berdiri dan berjalan mendekat ke Leviathan.
"Dengan begini akan ku serahkan ini padamu. Mau kau gunakan untuk apa itu terserah padamu. Aku takkan pernah menanyakannya." ujar Leviathan menyentuh punggung tangan Dante.
Kemudian tanda ditangan kanan Leviathan pun berpindah ke tangan kiri Dante.
"Haha.. ternyata pemindahannya cukup menyakitkan juga ya." komentar Dante sambil tersenyum jahat.
"Memang. Bukan hanya proses pemindahannya, tapi juga menanggung tanda ini juga sangat menyakitkan." jelas Leviathan melepaskan lagi lengan Dante setelah proses nya selesai.
"Oohh.. benar juga. Sepertinya aku mengerti cara kerjanya." ujar Dante memperhatikan tanda yang kini sudah berpindah ke lengannya.
"Hmm.. kalau begitu aku pergi sekarang. Karena sepertinya tak ada yang perlu aku jelaskan lagi." sahut Leviathan.
Setelah Leviathan pergi June mulai menghadap ke arah Dante.
"Tuan, apa sebenarnya itu?" tanya June.
"Kau akan segera mengetahuinya nanti." jawab Dante sambil kembali duduk di singgasana nya.
"Apa ini? Sepertinya aku terlalu terbiasa mendengar kata itu dari Shiro Ray sehingga tanpa sadar aku menirunya." ujar Dante dalam hatinya.
"JB! Sepertinya kita punya target yang bagus untuk mengetes dark sider tipe khusus ini." kata Dante sambil berdiri.
"Eh, siapa?" tanya June.
"Kau akan segera mengetahuinya nanti." jawab Dante.
"Hah? Berkata itu lagi." keluh June.
Leviathan tampak berjalan menuju ke pantai. Dari belakangnya terlihat laki-laki yang memakai jaket hitam mengikuti dari belakang. Dan laki-laki itu pastinya adalah Shiro Ray.
"Hmm.. seperti yang kuduga dia memang ada urusan dengan Dante. Dan sepertinya sekarang urusan mereka sudah selesai. Tapi urusan apa? Pasti ada hubungannya dengan tujuannya kemari. Tak mungkin 3 orang komandan berkumpul di satu tempat dalam waktu yang sama. Kecuali mereka punya misi tersendiri." ujar Ray dalam hatinya.
Ray memperhatikan Leviathan dengan seksama dari belakang.
"Kelihatannya ada yang berbeda dengan dia saat ini. Dia terlihat lebih tenang saat ini. Seperti ada beban berat yang baru saja terlepas dari pundaknya." lanjut Ray.
Ray pun menghentikan langkahnya seperti menyadari sesuatu.
"Tunggu sebentar. Bebankah.." gumam Ray lalu membayangkan kejadian saat ia memutus sumber kekuatan Dante sewaktu perang dimasa lalu.
"Tidak, sepertinya saat ini sedikit berbeda.." sambung Ray dalam hati saat memperhatikan lagi Leviathan yang sudah semakin jauh.
Di suatu hari yang cukup cerah, Rin dan Len sedang berjalan berbelanja di toko.
"Haha.. hari ini cukup cerah. Kita bisa berbelanja dengan santai." ucap Len.
"Ya, syukurlah beberapa hari ini mereka tidak menyerang kita lagi sehingga kita bisa aman. Ya meskipun beberapa warga kota memilih untuk mengungsi di bagian selatan Voca Town sampai keadaan aman kembali." ujar Rin.
"Tapi kenapa ya sepertinya mereka malas sekali untuk menyerang kita?" sahut Len.
"Mungkin karena kita punya Miku-neechan dan Ray-niichan." jawab Rin.
"Haha.. sepertinya begitu. Ray-nii memang bisa dibanggakan. Seandainya dia adalah benar-benar kakak kandungku." ujar Len.
"Ya, seandainya saja begitu. Eh, tunggu sebentar.. kalau dia kakak kandungku terus bagaimana aku bisa.." kata Rin lalu terlihat bingung.
"Kamu bisa???" sahut Len terlihat heran.
"Lu-lupakan yang baru saja aku katakan!" balas Rin yang jadi panik dan wajahnya tampak memerah.
Tak lama kemudian mereka sampai di toko swalayan. Di depan toko swalayan tampak sosok laki-laki berjaket putih sedang tersenyum pada mereka berdua.
"Ya akhirnya aku menemukan kalian." ujar laki-laki dengan senyuman licik itu.
"Si-siapa kamu?" tanya Rin dan Len bersamaan.
"Aku adalah, orang yang akan menjadi tuanmu, pelayanku." jawab laki-laki itu kemudian menyentuh kepala Rin dan Len.
Rin dan Len langsung terkejut dan matanya terbelalak seperti tersengat listrik atau semacamnya. Perlahan dalam benak mereka terpampang beberapa gambaran yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"A-apa ini? Sepertinya aku melihat sesuatu yang sangat kukenal." gumam Len.
"Rasanya nostalgia sekali tapi, aku baru pertama kalinya melihatnya." ujar Rin dalam hati.
Tiba-tiba mereka seperti mengingat sesuatu yang mengerikan dan lalu mereka pun tidak sadarkan diri.
"Sepertinya aku sudah mendapatkan bidak yang aku inginkan." ujar laki-laki melepas tudung jaketnya dan terlihatlah rambut putihnya.
Kemudian tampaklah kalau laki-laki itu adalah Dante. Dante tersenyum puas melihat si kembar dan kemudian Dante berubah dan memanggul mereka berdua di pundaknya. Lalu Dante melompat pergi dari tempat itu. Sementara di tempat lain Ray melihat ke arah langit sebelah selatan.
"Kuharap semua ini tidak semakin buruk. Keadaan yang memburuk tidak baik untuk Megurine-san." ujar Ray sambil memikirkan tentang Luka.
Di dalam ruangan baca kediamannya, Luka kembali membaca diary milik ayahnya satu persatu secara seksama.
"Aku sudah membaca separuhnya secara teliti, tapi aku belum menemukan satupun yang memberikan petunjuk tentang masa lalu didalamnya." gumam Luka sambil membacanya.
"Luka-sama, saya membawakan teh untuk anda." ujar Tsugumi mengetuk pintu ruang baca.
"Oh.. silahkan masuk." jawab Luka sambil tetap konsentrasi membaca.
"Anda sedang membaca itu ternyata. Anda pasti penasaran sekali tentang orang tua anda." ujar Tsugumi sambil masuk ke ruangan baca.
"Kamu tahu tentang buku ini, Tsugumi?" tanya Luka terheran.
"Tentu saja. Saya kan sudah menjadi maid disini sejak masa ayah anda, Luka-sama." jawab Tsugumi.
"Be-begitukah? Kalau begitu bisa beritahu tentang siapa itu Dr. Shiro dan Dr. Kuro?" pinta Luka.
"Dr. Shiro dan Dr. Kuro? Kalau tidak salah mereka adalah teman tuan Meguzan dan nona Irine. Bisa dibilang mereka itu sahabat dekat." jawab Tsugumi.
"Hmm.. begitu rupanya. Tapi kalau boleh tahu, siapa nama lengkap Dr. Shiro dan Dr. Kuro?" tanya Luka tampak semakin penasaran.
"Aku tidak tahu nama asli mereka siapa sebenarnya. Bisa dibilang mereka merahasiakannya dari siapapun. Kupikir hanya tuan Meguzan dan Gakuzan saja yang tahu." jawab Tsugumi.
"Begitukah. Apa mereka orang asli Voca Town?" tanya Luka lagi.
"Tidak, Dr. Shiro sebenarnya tiba-tiba saja datang dengan sebuah perahu kecil dari lautan. Kalau Dr. Kuro dulunya dia berada dalam lembaga obsevasi yang meneliti tentang orang-orang jenius." jelas Tsugumi.
"Jadi dia sudah seorang dokter sejak lama?" tanya Luka lagi.
"Bukan. Dia adalah salah satu anak jenius yang diteliti disana. Dia adalah gadis jenius yang autis sehingga untuk menanganinya membutuhkan perhatian khusus." jelas Tsugumi.
"Ini malah membuatku semakin penasaran tentang mereka. Mungkin memang lebih baik aku biarkan Ray-kun membaca diary papa. Karena Ray-kun sudah pasti akan segera tahu semuanya tentang yang terjadi di masa lalu setelah membaca ini." ujar Luka.
"Tapi aku tidak tahu sekarang dia ada dimana. Saat dia kembali nanti, aku akan menunjukkannya pada Ray-kun." sambung Luka sambil tersenyum ke arah jendela.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.