VocaWorld, chapter 167 - Pelayan Sang Iblis

Rin dan Len tidak pulang ke rumah, dan hal itu membuat Miku dan Meiko terlihat sangat khawatir. Akhirnya mereka menghubungi Luka, Gumi, Kaito dan Kamui untuk membantu mereka mencari si kembar. Mereka semua berpencar dan untuk membuat mereka lebih cepat mencarinya, mereka melakukannya dalam keadaan berubah. Malam hari yang gelap itu membuat pencarian jadi lebih sulit. Karena mereka susah untuk melihat orang di kegelapan sambil bergerak dengan kecepatan tinggi. Apalagi dibagian utara Voca Town tak ada satu lampu pun yang hidup kecuali lampu jalan yang menyala otomatis saat matahari terbenam. Setelah lebih dari 2 jam mencari akhirnya mereka berkumpul lagi di jembatan dekat rumah Miku.
"Aku tidak menemukan mereka dimanapun. Mereka sama sekali tidak meninggalkan jejak. Bagaimana dengan kalian?" ujar Meiko.
"Maaf, aku juga tidak bisa menemukan mereka." jawab Kaito.
"Aku juga?" kata Miku.
Luka, Gumi dan Kamui pun menjawab mirip seperti barusan.
"Terus bagaimana ini? Mungkinkah mereka berdua diculik!!?" ucap Meiko dengan cemas danmulai berpikir negatif.
"Aku juga tidak tahu harus bagaimana, ponsel mereka pun sepertinya tidak diaktifkan." kata Luka sambil menutup panggilannya.
"Hmm.. seandainya ada Shiro Ray, pasti semuanya lebih mudah." ujar Miku.
"Justru karena itu dia meninggalkan kita. Kita terlalu bergantung padanya. Sehingga kita jadi tidak pernah berkembang." sanggah Luka.
"Terus kita harus mencari kemana lagi?" tanya Kaito.
"Meiko-chan, Miku-chan, apa Rin-chan dan Len-kun punya sebuah tempat favorit? Mungkin saja mereka pergi kesana untuk mendinginkan pikiran mereka setelah pertarungan sengit sebelumnya." tanya Luka.
"Setahuku tempat-tempat kesukaan mereka itu adalah bukit tempat mereka mencari serangga, pinggir sungai, taman, tempat game dan rumah." jawab Meiko.
"Kenapa rumah disebut juga, Meiko?" protes Kaito.
"Bukannya tempat favorit itu tempat itu yang paling sering dikunjungi. Berarti rumah juga disebut juga dong." jelas Meiko.
"Kalau begitu seharusnya WC juga disebut dong, mengingat kita harus pergi kesana tiap hari untuk setor harian." sanggah Kaito.
"Hmm.. benar juga. Aku harusnya memasukkan kamar mandi dan kamar tidur juga." ujar Meiko sambil berpikir.
"Eeehh!!?? Kenapa malah makin menjadi!?" protes Kaito.
"Meiko-chan seriuslah. Kita ini sedang mencari si kembar kan? Bukankah Meiko-chan juga mengkhawatirkan mereka?" pinta Luka.
"Hmm.. maaf. Tapi yang pertama benar kok. Mereka biasanya sering ke tempat-tempat itu." jawab Meiko.
"Tapi kebanyakan tempat game dan semacamnya ada di pusat kota, dan saat ini pusat kota kan sedang sepi karena penduduk sudah mengungsi ke wilayah kita." jelas Luka.
"Kalau begitu mustahil mereka ada disana. Tapi.." ujar Meiko.
"Kita harus tetap mencarinya kan walaupun tidak pasti mereka ada disana. Kita harus memastikannya sendiri." tambah Kaito.
"Ya, itu benar sekali." ujar Gumi.
"Kalau begitu ayo kita segera ke pusat kota!" ucap Miku dengan semangat.
"Tapi disana kan wilayah berbahaya. Apa kita akan baik-baik saja pergi ke wilayah mereka begitu saja?" tanya Kamui.
"Kalau dibilang akan baik-baik saja aku juga tidak yakin, tapi kita harus tetap kesana apapun yang terjadi. Kita harus mencari Rin-chan dan Len-kun. Saat ini itulah prioritas kita." ujar Luka.
"Megurine benar. Kita jangan dulu memikirkan hal kecil seperti itu. Yang penting kita harus temukan dulu mereka." sahut Kaito.
Setelah itu mereka pun pergi ke arah pusat kota. Setelah mereka sampai di pusat kota mereka langsung masuk ke sebuah mall.

Di taman di pusat kota, Ray duduk di kursi dibawah cahaya lampu taman. Di depannya ada sebuah api unggun dan di atas api itu tampak ada ikan yang sedang dipanggang. Dan disebelah Ray ada beberapa kaleng minuman dingin.
"Aku penasaran bagaimana keadaan Kagamine bersaudara sekarang. Mereka sudah besar sekarang."  ujar Ray sambil membalik ikan yang sedang ia bakar.
"Ibu mereka.. pasti bangga pada mereka yang sekarang.." sambung Ray saat mengolesi ikan tersebut dengan bumbu.
"Betapa nostalgia saat mengingat masa itu. Saat mereka masih kecil dan begitu lengket pada ibu mereka." tambah Ray sambil melihat ke arah langit.
Di sebuah tempat game di pusat perbelanjaan. Rin dan Len terlihat sedang bermain game berdua. Dibelakangnya Dante memegang punggung mereka yang sedang duduk memainkan game.
"Apa kalian senang? Kalian boleh memainkan semua game disini sampai kalian puas. Tidak akan ada yang mengganggu kalian." ujar Dante.
"Ya, terima kasih, Dante-sama." jawab Rin dan Len bersamaan.
"Kalau begitu aku akan pergi dulu. Kalian tenang saja dan bermainlah sampai puas." balas Dante.
Kemudian Dante pergi keluar dari pusat game, sementara Rin dan Len tetap konsentrasi bermain game. Di lantai 2 dibawah tempat Rin dan Len bermain game kelompok Miku berkumpul lagi setelah berpencar disekitar mall.
"Sepertinya dilantai 2 ini tidak ada tanda apapun tentang mereka. Bagaimana kalau ke lantai selanjutnya?" ucap Luka.
Semuanya terlihat setuju dan mengangguk. Kemudian mereka langsung menuju ke lantai 3. Sementara mereka naik, Dante turun melalui eskalator di sisi yang lain.
"Haha.. bagaimana Rin? Kamu takkan bisa mengalahkanku dalam game fighting." ujar Len.
"Cih, Len licik. Pake jurus terus dari tadi. Aku tak dikasih kesempatan buat menyerang balik. Len licik!" tukas Rin tampak kesal.
"Hahaha.. itu bukan licik. Aku kan cuma menggunakan fitur yang ada saja. Dan itu bukan sebuah kelicikan." jelas Len dengan bangga.
Rin semakin kesal dan hanya bisa menggembungkan pipinya. Tanpa mereka sadari ternyata Meiko menemukan mereka. Meiko terlihat sangat bahagia melihat lagi kedua adiknya itu. Meiko pun langsung berlari dan memeluk mereka berdua.
"Syurkulah.. kalian berdua baik-baik saja.." ucap Meiko sambil mendekap mereka dengan erat.
Rin dan Len pun menoleh ke arah Meiko.
"Oh.. ternyata kamu, Meiko-san." ujar Len.
"Ada apa kamu kesini, Meiko-san?" tanya Rin.
"Eh, apa maksud kalian?" tanya Meiko yang bingung.
"Apa maksud kami? Seharusnya kami yang bertanya seperti itu pada Meiko-san kan. Apa maksud Meiko-san kemari?" tanya balik Len.
"Mau apa Meiko-san kemari?" tanya Rin juga.
"Kenapa kalian malah bertanya balik? Tentu saja aku kemari untuk membawa kalian pulang." jawab Meiko.
"Membawa kami pulang? Pulang kemana? Rumah itu bukanlah rumah kami." sahut Rin.
"Rumah kami sebenarnya bukan disini. Kami bukan berasal dari kota ini." tambah Len.
"A-apa?!" ucap Meiko terkejut.
"Maaf saja. Kami tak bisa kembali ke rumah itu." jawab Rin dan Len bersamaan.
"Ke-kenapa? Apa aku terlalu keras pada kalian? Kalau begitu maafkan aku." ujar Meiko.
"Tidak bukan itu." jawab Rin.
"Terima kasih sudah merawat kami saat ini." jawab Len.
"Tapi mulai saat ini bisakah kalian semua jangan dekati lagi kami. Saat ini kami sudah menjadi pelayan Dante-sama. Kami akan membalaskan dendam mendiang ibu kami pada The White Light." ujar Rin.
"Kami akan membunuhnya dengan cara yang sama dia membunuh ibu kami." sambung Len.
"Shiro-san membunuh ibu kalian?!" ucap Meiko tidak mau percaya.
"Ya. Jadi menyingkirlah dari hadapanku, temannya The White Light." suruh Len.
Miku dan yang lainnya sampai di pusat game tersebut dan melihat Rin dan Len disana.
"Meiko-san menemukan mereka? Syukurlah!" ucap Miku dengan senang berlari menghampiri Rin dan Len.
Namun saat Miku mendekat, Rin dan Len langsung menendang perut Miku dengan keras. Miku pun ambruk sambil meringkuk memegangi perutnya karena kesakitan.
"Miku-chan?!" ucap Luka dan yang lainnya terkejut.
"Menyingkirlah!" suruh Rin.
"Atau kami berdua akan membunuhmu!" sambung Len.
"Tunggu, ada yang aneh dengan tatapan mata mereka berdua." ucap Gumi menyadari ada yang aneh dengan sorot mata mereka.
Sorot mata Rin dan Len terlihat kosong dan gelap. Begitu dingin dan membuat setiap orang merinding saat melihatnya.
"Sepertinya sesuatu telah terjadi pada mereka berdua." ujar Luka.
"Ulah pangeran kegelapan kah?" tukas Kaito.
"Bisa jadi." sahut Luka.
Rin dan Len pun berjalan melewati Luka dan yang lainnya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Kaito.
"Meiko-chan, apa kamu tidak bisa membujuk mereka?" pinta Luka.
Tapi saat menoleh ke arah Meiko, terlihat Meiko ambruk terduduk dilantai. Luka terkejut dan langsung berlari menghampiri Meiko.
"Meiko-chan, ada apa?" tanya Luka dengan cemas.
"Ri-Rin-chan.. Len-chan.." ucap Meiko dengan wajah shock.
Meiko pun menangis dan tampak tersedu-sedu. Luka yang tak tega pun langsung memeluknya.
"Meiko-san.." ucap Miku yang sedih melihat Meiko menangis.
"Kalian cepat hentikan si kembar itu!" suruh Luka.
"Ba-baik." sahut Miku dan yang lainnya.

Miku, Kaito, Gumi dan Kamui mengejar si kembar ke lantai 1 dan berusaha menghentikkan mereka.
"Apa lagi?" tanya Rin.
"Kenapa kalian mengikuti kami?" tanya Len.
"Kami akan menghentikan kalian berdua, Rin-chan, Len-chan!" jawab Mku.
"Menghentikan kami? Jangan bercanda." ucap Len.
"Dengan kemampuan kalian saat ini, kalian bukanlah lawan kami." tambah Rin.
"Apa maksud kalian? Dengan dance baru ku aku bisa dengan mudah mengalahkan kalian berdua." balas Miku.
"Haha.. dance barumu bukan masalah sama sekali bagiku." ujar Len.
"Karena Dance kami berdua sudah berada di level yang berbeda denganmu." sambung Rin.
"Saya merasakan sesuatu yang buruk dari perkataan mereka." ujar Kamui.
"Ya, aku juga." sahut Gumi.
"Boleh juga. Kalau begitu bagaimana kalau kita coba adu dengan dance baruku?" tantang Miku.
"Oke." sahut Rin dan Len.
Di luar pusat perbelanjaan, Ray berjalan menuju ke arah selatan.
"Aku harus melihat mereka berdua secara langsung lagi. Sekalian mengecek keadaan Megurine-san dan Hatsune-san." ujar Ray dalam hatinya.
Tapi tiba-tiba dari jendela mall terlempar sesosok gadis dan menghantam dinding gedung diseberang jalan. Ray dibuat terkejut saat mengetahui sosok gadis itu adalah Miku.
"Bagaimana? Sepertinya Dance barumu itu tidak mau keluar. Hahaha.." ujar Len keluar dari mall.
"Benar-benar menyusahkan sekali memiliki dance yang kadang tidak aktif itu." tambah Rin yang juga keluar dari mall.
"Mereka berdua.. apakah mereka yang melakukan ini pada Hatsune-san?" kata Ray dalam hati.
Miku bangkit lagi dan terlihat berusaha berdiri tegak lagi meskipun tubuhnya saat ini tampak terluka.
"Ada apa ini, kenapa dance nya tidak mau aktif? Kenapa?" gerutu Miku kebingungan.
"Sepertinya dia lupa tentang syarat pengaktifannya." komentar Ray dalam hatinya.
Rin dan Len berjalan mendekati Miku dengan santai. Dari belakang, Gumi datang hendak menyerang Rin. Namun Rin melangkah maju menghindari tendangan Gumi, dan Len menendang Gumi dalam waktu yang bersamaan.
"Apa?!" ucap Gumi terpental ke arah kiri.
"Tidak mungkin dance biasa bisa mengalahkan dance yang dipadukan dengan melody of harmoni." ujar Ray yang melihat hal itu.
Kamui juga mencoba menyerang mereka berdua dan dengan mudahnya Rin dan Len bisa mengalahkannya. Kaito yang tidak bisa melakukan dance hanya bisa diam karena tidak mungkin juga dia menyerang Rin dan Len yang merupakan orang yang penting buat Miku dan Meiko dengan apinya.
"Maafkan aku, Rin-chan, Len-kun." ujar Luka dari jendela lantai 3.
Tampak melesat beberapa pixie milik Luka ke arah Rin dan Len. Tapi Rin dan Len yang menggunakan melodi of harmoni pada dance mereka bisa menghindari setiap pixie milik Luka dengan sangat mudah.
"Me-mereka sangat mirip dengan Ray-kun saat menggunakan dance ku waktu itu." ujar Luka sambil mengingat saat bertarung melawan Ray dikuil.
Rin tampak menendang sebuah batu kerikil ke atas, kemudian Len melompat dan bersalto menendang batu itu. Batu itupun melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Luka. Beruntung itu melesat, tapi tampak tembuk yang tekena batu itu retak dan hampir hancur karenanya. Luka pun sangat terkejut.
"Aku tak punya pilihan lain selain memancing mereka menjauh dari Megurine-san dan yang lainnya." ujar Ray yang melihat keadaan tersebut.
"Hei kalian, hentikan penyerangan kalian itu.." ucap Ray pada Rin dan Len.
Rin dan Len menoleh pada sumber suara itu. Dan mereka pun menemukan Ray yang sedang berdiri ditempat tergelap diantara 2 lampu jalan.
"The White Light?!" ucap Rin dan Len saat melihat Ray.
"The White Light?" ucap Ray dalam hati terlihat sedikit curiga.
"Ray-kun?! Itu Ray-kun? Itu Ray-kun!" ucap Luka dalam hati terlihat terkejut saat melihat Ray.
Ekspresi Rin dan Len langsung berubah, dan mereka terlihat berdiri tegak dan menatap dingin pada Ray.
"Sudah kuduga ada yang aneh dengan mereka." ujar Ray dalam hatinya semakin curiga.
Rin dan Len langsung melompat ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian. Ray tiba-tiba menghilang dari hadapan mereka. Dan saat Rin dan Len tersadar dia sudah berada di ujung jalan. Rin dan Len mengejarnya namun Ray kembali menghilang dan sudah berada di tempat yang cukup jauh. Pada akhirnya mereka pun menjauh dan menghilang dari pandangan Luka dan yang lainnya.
"Ray-kun.." ucap Luka yang sedih ditinggalkan Ray padahal baru saja bisa melihatnya lagi.
"Saat ini kita harus mundur dulu. Semuanya! Kita berkumpul di rumah Miku untuk membahas rencana kita selanjutnya." suruh Luka.
"Bagaimana dengan si kembar?" tanya Gumi.
"Kita serahkan mereka pada Ray-kun. Pokoknya kita harus segera kembali ke rumah." jawab Luka sambil melirik ke arah Meiko yang terlihat masih sedih.
Malam itu pun menjadi malam yang gelap dan menyedihkan.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】