God Gendros Generations (3G), part 1

                Di suatu masa yg suram dimana terjadi kebocoran dunia para siluman dan dunia manusia yg menyebabkan kedua dunia tersebut menjadi satu. Perkawinan antara manusia dan siluman pun tak dapat dihindarkan. Dan yg dihasilkan adalah ras persilangan baru yg sangat unggul dan punya kekuatan yg amat besar. Dan manusia hasil dari perkawinan siluman dan manusia itu disebut Gendros. Bahkan melebihi kekuatan orang tuanya. Di suatu kampung kecil, hiduplah seorang pemuda tampan hasil persilangan manusia dan siluman. Namanya adalah Ariel. Dia tinggal bersama ibunya sejak ia lahir. Sedangkan ayahnya telah mati saat menghadapi raja siluman yg bernama Damian yg berusaha membinasakan para Gendros, termasuk anaknya. Ariel dan ibunya pergi ke sebuah perkampungan kecil untuk menghindar dari para siluman yg ingin menyerang Ariel. Tidak seperti Gendros yg lain, Ariel tidak menunjukkan tanda-tanda kekuatan luar biasa saat lahir. Saat lahir dan setelah 1 jam pertama, biasanya para Gendros akan menunjukkan kekuatan mereka untuk pertama kalinya. Namun tidak dengan Ariel. Dia terlahir seperti anak manusia biasa. Setelah beberapa tahun, Ariel pun mulai remaja. Para gadis di desa itu berusaha mendapatkan hati Ariel, namun Ariel tak pernah memberi tanggapan. Sikapnya terhadap para gadis di desa itu biasa-biasa saja. Suatu saat Ariel pun pergi ke gunung yg tidak jauh dari desa tersebut, bermaksud untuk menenangkan diri. Ariel pergi menelusuri gunung tersebut, dan akhirnya ia menemukan tempat yg bagus. “Aku tidak pernah tahu ada tempat seperti ini di dunia ini. Biasanya aku hanya diam di rumah. Paling jauh aku pergi cuma warung depan rumah.” Ucapnya saat melihat sebuah air terjun di tengah hutan di gunung tersebut. Dari puncak air terjun tersebut ia dapat melihat pemandangan desa yg sangat indah. “Sebaiknya kamu jangan terlalu dekat kesana, nanti kamu bisa jatuh.” Ucap seseorang dari belakang. Ariel pun kaget, dan lalu berbalik. Ternyata di depannya sudah berdiri seorang pemuda seusianya. Pemuda itu berambut panjang dan mengenakan pakaian berwarna putih. “Siapa kau?” tanya Ariel pada pemuda itu. “Hmm.. aku? Aku adalah orang yg tinggal di hutan ini. Namaku Gredo.” Jawab pemuda itu sambil tersenyum ramah. “Kamu sendiri siapa? Aku belum pernah melihatmu kesini?” tanya pemuda itu balik. “Namaku Ariel. Aku tinggal di desa yg ada disana itu.” Jawabnya sambil menunjuk ke arah desa yg bisa dilihat dari puncak air terjun tersebut. “Ouw.. dari desa itu ternyata. Bagaimana keadaan desa itu sekarang?” tanya pemuda yg bernama Gredo itu lagi. “Hmm.. baik-baik saja kok, seperti biasanya. Oh ya, kenapa kamu bertanya seperti yg pernah tinggal di desa kami?” tanya Ariel balik setelah menjawab pertanyaan dari Gredo. “Dulu aku memang pernah tinggal disana, namun setelah mereka tahu kekuatanku yg mengerikan mereka semua mengusirku.” Jawabnya sambil tak merubah sedikitpun ekspresi wajahnya. “Kekuatan? Kamu seorang Gendros?” tanya Ariel lagi. “Ya, begitulah.” Jawab Gredo. “Ternyata kita sama, Gred.” Ujar Ariel sambil tersenyum. “Kau?! Kau juga seorang Gendros?” tanya Gredo saat mendengar pernyataan Ariel. “Yeps!” jawab Ariel sambil tetap tersenyum. Dan dimulai hari itu mereka pun berteman.

            Setelah pertemanan itu mereka jadi sering bertemu dan sering berbagi cerita satu sama lain. Dan mereka jadi sangat akrab. “Hei, kamu mau gak berkunjung ke rumahku?” tawar Ariel pada Gredo yg duduk di sebelahnya. “Hmm.. bagaimana ya.. para penduduk pastinya akan gempar kalau aku datang lagi ke desa mereka. Dan yg paling aku takutkan adalah kalian akan di usir karena aku. Dan aku tak mau itu terjadi.” Jelas Gredo pada Ariel. “Memang kekuatanmu itu seperti apa sih? Sampai-sampai kau di benci oleh warga desa.” Tanya Ariel dengan nada penasaran. “Aku dapat mengendalikan waktu jarak pendek dalam skala kecil dan mengendalikan objek-objek mati dengan kedua tanganku ini.” Jawab Gredo menjelaskan kekuatannya. “Terus kenapa sampai kamu di usir dan sampai disini?” tanya Ariel lagi. “Kejadiannya adalah saat usiaku 7 tahun. Saat itu ada segerombolan preman yg berbuat onar di desa. Mereka sangat keji dan kejam. Sampai pada suatu saat, ketika aku sedang bermain dengan teman-temanku. Dan salah satunya ada seorang gadis yg aku sukai. Lalu salah satu dari gerombolan preman itu menghampiri kami dan mulai memalak kami. Namun kami tak punya uang sepeserpun saat itu. Dan saat mereka melihat ke arah gadis yg aku sukai, mereka pun terpesona akan kecantikannya. Karena walau masih anak-anak, dia memang sangat cantik. Mereka pun menghampirinya dan mulai menelanjanginya. Dan mereka pun hendak memperkosanya di depan mataku. Aku pun muak melihat hal itu, lalu akupun menggunakan kekuatanku dan membuat para preman itu tua lalu tewas dengan mempercepat waktu di sekitar mereka. Salah satu dari mereka ada yg berhasil kabur. Aku pun berusaha membunuhnya juga, namun sekilas aku melihat tatapan mata gadis yg aku suka begitu kaget melihat kekuatanku tersebut. Dan akupun mengurungkan niatku itu. Preman itu berteriak-teriak, ‘siluman..siluman..’ sambil berlari. Para warga pun menggerumuniku. Dan esok harinya aku pun diasingkan ke gunung ini.” Ujar Gredo menjelaskan masa lalunya. Ariel memang tidak mengetahuinya karena ia datang ke desa itu 1 tahun setelah pengusiran Gredo. Dia hanya bisa turut prihatin saja. “Ouw.. begitu rupanya. Aku turut prihatin.” Ucap Ariel dengan raut wajah sedih. “Ya, sejak saat itu aku jadi sangat benci pada kekuatanku. Dan aku ingin menghilangkan kekuatan ini selamanya.” Ujar Gredo dengan nada serius. “Ya, kalau gitu kita lakukan bersama-sama.” Sahut Ariel sambil tersenyum. “Hmm.. benarkah? Kamu bisa janjikan itu?” tanya Gredo. “Yeps!” jawab Ariel. Lalu mereka berdua pun sama-sama tertawa dan duduk-duduk di pinggir tebing air terjun sambil menikmati pemandangan matahari terbenam.
            Beberapa hari setelah perjanjian itu saat Ariel hendak naik gunung lagi, tiba-tiba dia mendapat firasat aneh. Dia seperti merasakan kedatangan hawa jahat. “Perasaan apa ini? Rasanya semuanya terasa dingin membeku. Lagit terasa gelap. Ada apakah gerangan?” ucap Ariel sambil melihat ke langit. Di tempat lain tepatnya di air terjun, Gredo juga merasakan hal yg sama. “Perasaan ini? Sepertinya akan ada sesuatu yg jahat datang kesini. Apa yg harus kulakukan?” ujar Gredo yg bingung harus berbuat apa. Ariel pun datang dengan tergesa-gesa. “Gred, apa kau juga dapat rasakan hal yg sama seperti yg aku rasakan?” tanya Ariel. “Ya, ini adalah pertanda akan datangnya siluman jahat. Sebaiknya kau bersiap-siap.” Jawab Gredo sambil menatap serius Ariel. “Bersiap-siap apa? Aku ini tak punya kekuatan.” Jelas Ariel. “Apa?! Bukankah kau seorang Gendros, hah?” tanya Gredo yg kaget mendengar perkataan Ariel. “Ya, memang. Tapi sejak lahir aku tak punya kekuatan apapun.” Tambah Ariel. “Sial! Bagaimana ini?” ucap Gredo sambil memukul pohon di sebelahnya. “Bagaimana denganmu? Bukankah kamu punya kekuatan?” tanya Ariel. “Iya memang. Tapi kekuatanku ini tak mempan pada bangsa siluman dan Gendros. Karena mereka berumur panjang dan bahkan ada yg abadi, tidak seperti manusia yg berumur pendek. Sedangkan aku hanya bisa mengedalikan waktu jangka pendek.” Jelas Gredo sambil tertunduk di pohon sebelahnya. “Tapi kamu katakan kalau kamu juga dapat mengendalikan objek.” Ujar Ariel lagi. “Iya, tapi objek mati, ok! Para siluman itu makhluk hidup, jadi tak mungkin aku kedalikan!” bentak Gredo. “Semua makhluk hidup dalam waktu yg berhenti adalah objek mati, Gred. Sudah ya, daripada tidak melakukan apapun lebih baik aku pergi ke desa dan melindungi orang-orang desa dengan seluruh kemampuanku.” Ucap Ariel sambil berlari kembali ke desanya. Tidak lama kemudian Ariel pun sampai di desa itu, dan betapa kagetnya ia saat melihat ternyata sebagian desa sudah habis terbakar. Ia pun berlari memburu rumahnya dan berusaha memberithu ibunya supaya berlindung. Sementara itu di rumah Ariel, ibunya sedang dihadapkan dengan maut. Dia bertatap muka dengan tangan kanan pangeran siluman, yaitu Salinam. Namanya adalah Grimm. Ia selalu mengenakan jubah hitam dan membawa pedang dengan ujung melengkung kearah mata pedang seperti cerulit. “Dimana bocah yg lahir bersama meletusnya gunung di tempat tertinggi, bergelegarnya kilat di tempat tergelap, berhembusnya topan di tempat terdalam, dan meluapnya air di tempat tergersang itu?” tanya Grimm dengan nada kasar. “Aku tak tahu apa masudmu.” Jawab ibunya Ariel singkat dengan gemetar. “Dia adalah anakmu. Kelahiran anakmu itu telah menimbulkan bencana di tempat kami. Itu adalah pertanda buruk untuk kami. Dan berdasarkan informasi, ada anak yg lahir pada saat itu. Dan itu adalah anakmu.” Kata Grimm sambil menjambak rambut perempuan berusia 37 tahun itu. “Aku tidak tahu! Walaupun aku tahu sekalipun, aku takkan pernah membertahumu!!” ucap ibunya Ariel sambil menjerit kesakitan. “Kalau begitu ucapkan selamat tinggal pada badanmu ini!” ucap Grimm yg lalu menebas leher ibunya Ariel sampai putuslah kepalanya dari badannya. “Kyaaaaa..!!!” jeritan terkahir ibunya Ariel memburu ke seluruh ruangan.Dari kejauhan Ariel dapat mendengar jeritan itu, walau jarak dengan rumahnya masih sangat jauh. Ariel pun berlari sekuat tenaga setelah mendengar jeritan ibunya tersebut. Sementara itu Grimm keluar dari rumahnya Ariel. “Hey, Destre. Kau urus disini ya. Aku mau melapor dulu ke pangeran Salinam.” Suruh Grimm pada kaptennya Destre, siluman monyet. “Siap jendral!” terima destre sambil memberi hormat. Kemudian Grimm pun terbang menuju barat. “Oke, sesuai perintah Jendral Grimm. Sekarang aku akan ambil alih komando. Kalian semua cepat menyebar ke segala penjuru angin dan cari putra dewa kucing itu sampai ketemu!” ucap Destre pada para anak buahnya yg berdiri di depannya. “Siap, kapten!” terima anak buahnya sambil melompat ke segala penjuru desa mencari Ariel. Saat itu Ariel baru saja sampai di rumahnya. Dan tepat di depannya adalah kapten Destre. “Ouw.. kenapa masih ada manusia yg hidup? Aku akan urus ini.” Ucap kapten Destre sambil mengeluarkan senjatanya yaitu gada kecil tapi berbobot sama dengan gunung. “Dimana ibuku!!??” tanya Ariel dengan nada kesal. “Ibumu? Jadi wanita yg baru saja di penggal kepalanya oleh Jendral Grimm adalah ibumu. Menarik sekali..” ucap kapten Destre sambil tersenyum. “Kurang ajar!!” teriak Ariel sambil berlari ke arah Destre. Namun dengan sekali pukul dengan gada mini nya Destre berhasil membuat Ariel terpental jauh dan menghantam dinding sebuah rumah hingga hancur. Kapten Destre pun memanggil kembali para anak buahnya dengan bahasa monyet. Tidak lama kemudian para siluman monyet pun sudah berkumpul disana. Sementara itu Ariel berusaha bangkit dengan susah payah sambil menahan sakit karena baru saja dihantam gada yg beratnya sama dengan sebuah gunung. Ariel pun bangun dan kembali menghampiri kapten Destre. Tapi baru setengah jalan sudah ada seorang siluman monyet yg menubruknya hingga ia jatuh terguling-guling di tanah. Ariel berusaha bangkit lagi, namun  tiba-tiba dari belakang ada yg berusaha menubruknya lagi namun kali ini Ariel dapat menghindarinya. Dan Ariel pun disibukkan oleh para siluman monyet yg berusaha menubruknya dari sana-sini. “Ok, semuanya minggir!” teriak kapten Destre yg berusaha menghantam Ariel dengan gadanya sekuat tenaga dari udara. Para siluman monyet lain melompat kesana-kemari berusaha menghindari hantaman pemimpinnya itu. Ariel lalu merungkuk dan memejamkan matanya pasrah. Namun semuanya seperti berhenti. Hantaman itu terasa lama sekali. “Ada apa ini? Kenapa lama banget?” ujar Ariel dalam hatinya sambil membuka matanya. Dan ia pun kaget ternyata kapten Destre terdiam kaku di udara seperti patung. “Aku mengerti arti perkataanmu, Ariel. Yg kau maksudkan seperti ini kan? Kalau aku ingin mengendalikan mereka, aku harus menghentikkan waktu di sekitar mereka. Dan saat waktu berhenti, mereka tidak ada bedanya dengan benda mati. Iya kan?” ucap seseorang dari belakang. Dan ternyata itu adalah Gredo. “Sebenarnya aku hanya ngomong asal-asalan. Lagipula aku katakan itu hanya untuk memberimu semangat. Hehe..” ucap Ariel sambil tertawa bodoh. “Apa?! Jadi itu hanya ngomong asal-asalan?! Padahal aku sudah muji-muji kamu tadi. :’( “. Tiba-tiba ada seorang siluman monyet yg berusaha menubruk Gredo dari belakang. Gredo menyadarinya dan secepat kilat dia menghentikan monyet itu dengan tangan kirinya. Lalu melemparnya ke arah kapten Destre. Dan mereka berdua pun terpental. “Ariel, berlindunglah di belakangku.” Suruh Gredo pada Ariel yg kemudian bergegas menghampiri Gredo. “Para siluman monyet itu melompat ke arah Gredo dan Ariel berusaha menyerang mereka berdua. Lalu dengan kekuatannya, Gredo menghentikkan mereka semua dengan kedua tangannya. Kemudian menumpuk merena jadi seperti bola. “Apa kalian pernah dengar permainan ‘lempar bola’?” ujar Gredo sambil tersenyum. “Baiklah kalau kalian tidak tahu, akan aku tunjukkan! Hyaaaa...!!” teriak Gredo sambil melempar mereka semua yg sudah tertumpuk jadi sebuah bola ke arah timur sekuat tenaga. Dan para siluman monyet itupun terlempar jauh sampai tak nampak lagi. “Hebat..” ujar Ariel terkagum-kagum. Namun Ariel tersadar dan lalu menuju rumahnya dan mendapati ibunya sudah terkapar  dengan kepala dan badannya terpisah. “Ibu!!” teriak Ariel sambil tertunduk dan menangis. “Aku turut berduka atas kematian ibumu, kawan.” Ucap Gredo sambil berusaha menenangkan Ariel. Kemudian mereka pun menguburkan jasad ibunya Ariel tersebut. Dan setelah selesai mereka pun duduk-duduk di pinggir kuburan dan menatap matahari senja. “Jadi sekarang kita mau lakukan apa?” tanya Gredo. “Kita harus selesaikan ini. Kita akan kembalikan keseimbangan dunia seperti janji kita. Kita hilangkan semua kekuatan yg merusak ini.” Ujar Ariel dengan nada serius. “Tapi bagaimana caranya?” tanya Gredo. “Kita cari orang yg tahu. Kita berkelana keluar desa ini. Pasti ada seseorang yg lebih tahu di luar sana.” Jelas Ariel. “Jadi kapan kita mau pergi?” tanya Gredo lagi. “Sekarang saja.” Ajak Ariel. “Ok, kita pergi.” Terima Gredo. “Tapi kita kerumahku dulu ya, ada barang yg tertinggal.” Tawar Ariel. “Sip!” terima Gredo. Lalu mereka pun pergi dari kuburan dan menuju rumahnya Ariel. Setelah membawa beberapa pakaian, sebuah pedang tua milik ayahnya, dan dua pisau yg juga milik ayahnya, mereka pun berangkat ke arah matahari terbenam.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】