God Gendros Generations (3G), part 7


            Abdul berusaha menolong Netros yg terjebak pasir hisap, namun di sisi lain dia juga terancam 2 tangan pencakip yg siap mencengkeramnya. “Ah.. bagaimana ini? Kita terpojok.” Ujar Abdul sambil berusaha menarik Netros. “Sudahlah, lepaskan saja aku. Selamatkan dirimu!” suruh Netros pada Abdul. “Tidak! Aku takkan pernah melepaskan kamu. Kita akan selalu bersama, selamanya.” Tolak Abdul. Tiba-tiba ada suara elang dari arah langit. Dan secepat kilat Abdul dan Netros menghilang dari tempat itu dan jatuh di tempat lain. “Hah.. ada dimana ini? Apa yg terjadi?” ucap Abdul bertanya-tanya. “Tenang saja, kami baru saja menyelamatkanmu dari Raja Kalajengking. Sekarang kamu aman.” Jawab seseorang dari atas. Ternyata itu adalah para siluman elang gurun. “Hmm.. kulihat kamu adalah salah satu dari kami ya?” sambung teman siluman elang itu. “Kalian berasal dari mana?” tanya siluman elang yg bicara pertama kali. “Hmm.. aku tidak tahu. Aku adalah yatim piatu. Orangtuaku meninggal saat peperangan berlangsung. Kami mengembara berdua dan membantu yg lemah.” Jawab Abdul. “Ouh.. begitu rupanya. Bagaimana kalau kalian ke tempat kami? Disana kami punya banyak makanan dan minuman.” Tawar salah satu siluman elang yg kelihatannya pemimpin kawanan tersebut. “Benarkah? Ada banyak makanan disana?” tanya Netros dengan mata yg berbinar-binar karena mendengar kata makanan. “Ya. Datanglah ke oasis kami.” Ajak siluman elang yg lain. “Baiklah, kami terima ajakanmu.” Terima Abdul. Lalu mereka pun berangkat menuju tempat yg dimaksudkan oleh para elang tersebut.
            Mereka pun sampai di sebuah oasis yg indah, bagai surga yg di kelilingi neraka tempat itu ada di tengah gurun yg amat gersang. Tidak lama kemudian setelah mereka sampai, para siluman elang lainnya datang menyambut kedatangan mereka. Tapi tiba-tiba ada yg menubruk Abdul dari atas, dan itu adalah siluman elang betina. “Siapa kau? Kau nampak asing.” Ucap elang betina itu. “Lepaskan dia, Aisyah. Dia adalah pangeran Ahmad.” Suruh salah satu elang yg mengantar Abdul. “Kau yakin kau tak salah kali ini, Hasan?” tanya elang yg bernama Aisyah itu. “Aku yakin. Dia punya banyak kemiripan dengaan Ayahnya.” Jawab Hasan dengan nada serius. “Baiklah kalau begitu.” Ujar Aisyah sembari melepaskan cengkeramannya dari Abdul. “Abdul, kenapa mereka menyebutmu pangeran Ahmad?” bisil Netros pada Abdul. “Aku tidak tahu, Netros.” Jawab Abdul yg baru saja bangun setelah di jatuhkan Aisyah barusan. Kemudian mereka berjalan ke sebuah gua. Di mulut gua itu ada seorang siluman elang lagi yg sedang berjaga. Dia kekar dan salah satu matanya cacat. “Mau apa kau kemari, Hasan?” tanya siluman elang itu. “Aku mau mengantar pangeran Ahmad.” Jawab Hasan dengan singkat. “Hmm.. pangeran Ahmad hah? Apa kau yakin ini benar-benar dia? Aku takut kau salah bawa orang lagi dan membuat kita hampir terbunuh oleh siluman Kalajengkin sialan itu.” Ujar siluman elang penjaga itu sambil mengelilingi Abdul. “Aku yakin ini dia, Umar. Aku sudah memeriksanya sendiri. Dia punya ciri warna coklat seorang elang gurun keturunan murni. Dan itu hanya dimiliki oleh para bangsawan saja.” Jelas Hasan. “Ouw.. aku lihat kamu punya tatapan mata yg sama dengan ayahmu. Siapa namamu?” tanya Umar sambil menatap Abdul. “Na..namaku Abdul.” Jawab Abdul yg sedikit gugup dengan tatapan mata Umar. “Hmm.. kenapa kau nampak ketakutan seperti itu, Abdul.” Ujar Umar menguji Abdul. “Aku tak takut pada siluman manapun. Walau sekuat apapun dia. Karena diatas yg kuat masih ada yg lebih kuat.” Sahut Abdul. “Ouw.. begitukah? Bagaimana kalau kau dihadapkan dengan siluman terkuat!” ucap Umar sambil berusaha memukul perut Abdul. Namun dengan cepat Abdul berputar ke kanan dan melompat lalu menendang Umar dengan kaki kanannya. Tapi Umar yg setengah kaget dengan gerakan Abdul itu langsung mengeluarkan sebelah sayapnya dan menahan tendangan Abdul dengan sayapnya. “Sial, bocah ini gerakannya gesit sekali.” Ujar Umar dalam hatinya. “Dari mana kau dapat gerakan berputar semacam itu?” tanya Umar pada Abdul. “Aku dapat dari temanku, dan temanku dapat dari tuan Raijuu.” Jawab Abdul secara jujur. “Apa?! Yg mengajarkanmu seekor gajah?” tanya Umar tidak percaya. “Ya, kita bisa belajar dari apapun dan siapapun jika memang dia punya sesuatu yg lebih dari kita. Menuntut ilmu tak ada batasannya.” Jawab Abdul dengan yakin. “Kalau begitu, maafkan saya pangeran. Saya telah meragukan anda.” Ujar Umar sambil menunduk pada Abdul. “Maaf, kenapa kalian menyebutku pangeran? Namaku itu Abdul, bukan Ahmad.” Tanya Abdul yg sedikit kebingungan. “Tentu saja namamu itu Ahmad. Akulah yg memberikan nama Abdul untuk menyembunyikan identitasmu lalu memberikanmu untuk di asuh oleh seorang induk gajah.” Jawab Hasan. “Apa katamu? Sebenarnya siapa kalian ini?” tanya Abdul lagi masih bingung dan tidak percaya. “Saya adalah Hasan, pengasuh tuan saat tuan masih bayi. Dan ini adalah patih Umar sekaligus paman anda, pangeran.” Jawab Hasan sambil tertunduk di depan Abdul. Dari kejauhan Netros sahabatnya mendengarkan perbincangan mereka itu. “Abdul seorang pangeran? Aku tak percaya ini.” Ujar Netros sambil memperhatikan dari semak-semak. Kemudian Abdul di ajak masuk oleh Hasan dan Umar. Netros berusaha mengikutinya, namun tiba-tiba ada yg menjewer telinganya yg lebar itu dari belakang. “Eh, kamu mau kemana? Kau tidak boleh ikut masuk kesana. Disana adalah tempat khusus untuk pangeran.” Ujar orang itu yg ternyata itu Aisyah. “Aduh.. tolonglah jangan telingaku. Kamu tuh cantik, tapi kenapa tomboy banget?” ucap Netros sambil mengerang kesakitan. “Apa ku bilang?” sahut Aisyah. “Kamu sebenarnya cantik, seandainya kamu bisa lebih lemah lembut.” Ucap Netros sambil mencoba melepaskan diri. Aisyah terdiam sejenak mendengar perkataan Netros itu. Wajahnya nampak sedikit berubah dari sebelumnya. “Jangan ngegombal!!” teriak Aisyah sambil menendang Netros hingga terjungkir, lalu ia terbang meninggalkan Netros. “Aduh.. ada apa sih dengan perempuan itu? Aneh sekali.” Kata Netros sambil bangkit dan memegangi telinganya yg sakit. Di tempat lain Aisyah hinggap di dahan pohon. “Kenapa jantungku berdegup kencang saat dia mengatakan aku cantik? Aku merasa aneh. Rasanya senang banget mendapat pujiannya. Ada apa ini?” gumam Aisyah dalam hatinya sambil tersenyum dengan wajah yg nampak memerah.
            Di dalam gua, Abdul di suruh memilih beberapa barang kerajaan. Abdul pun memilih pakaian perang, panah, dan alkitab. “Kenapa kau memilih semua itu dibanding pakaian bangsawan yg mahal ini, jimat, dan emas?” tanya Umar pada Abdul. “Aku memilih pakaian perang, karena dengan pakaian ini aku dapat melindungi semua yg aku sayangi, bukan malah bersembunyi dan minta dilindungi. Aku memilih panah karena aku ingin terjun langsung ke medan perang dan dengan panah, aku bisa menyerang dari jarak jauh dan menyusun strategi perang dari jarak jauh. Dan aku memilih alkitab, karena alkitab adalah pedoman hidup yg sebenarnya. Harta hanyalah akan menjerumuskan.” Jelas Abdul sejelas-jelasnya. Umar dan Hasan pun tersenyum bangga mendengar hal itu, memang tidak salah itulah sifat seorang pemimpin. Kemudian mereka pun pergi keluar lalu menuju ke tengah-tengah oasis itu yg tidak lain adalah danau besar. Disana banyak para siluman berkumpul, bukan hanya siluman elang gurun saja. Mereka duduk-duduk di pinggir danau dan mengobrol. Saat mereka sedang asyik mengobrol, mereka di kejutkan dengan kabar ada sekelompok besar pasukan siluman raja Damian sedang menuju kesana. Apalagi itu sudah hampir malam. “Pangeran, kami harus apa sekarang?” tanya Hasan menunggu perintah dari Abdul. “Kita siapkan pasukan di sisi-sisi batas oasis, jangan ada yg di tengah. Dan segera evakuasi yg lain. Hindari wilayah berpasir, karena kemungkinan mereka bekerja sama dengan para kalajengking.” Perintah Abdul pada semua pasukan disana. Dan dengan sigap para pasukan itu pun mematuhi perintah Abdul. Tidak lama kemudian, Netros datang. “Ada apa ini?” tanya Netros pada Abdul. “Kita akan berperang. Segera siap-siap kawan.” Suruh Abdul pada sahabatnya yg baru datang tersebut. “Hmm.. baiklah. Jadi aku di posisi mana?” tanya Netros lagi. “Kamu lindungi aku. Aku akan serang mereka dari udara dengan panahku.” Jawab Abdul. “Ok!” terima Netros. Kemudian mereka berdua pun pergi ke garis depan.
            Pasukan penyerang itu ternyata di pimpin oleh seorang siluman kuda hitam jantan. Dari mulutnya selalu keluar api kalau marah. Matanya merah menyala bagaikan iblis. Kuda itu bernama Selodom. Pangkatnya adalah komandan ke 3. “Tuan, kita sudah dekat dengan Oasis. Kabarnya disana ada sisa pasukan elang gurun, tuan.” Ucap seorang pengawal pada Selodom. “Hmm.. cuma sisa saja? Kalau begitu kita babat habis Oasis itu sampai tak bersisa!” suruh komandan Selodom pada anak buahnya. Kemudian anak buahnya yg berjumlah ratusan itu lari menyerang Oasis tersebut. Sedangkan lainnya adalah pasukan pemanah dan diam di barisan belakang. Saat mereka tiba di tengah Oasis itu ternyata sepi sekali. “Kemana mereka? Disini tidak apa-apa.” Ujar para pasukan itu. Tiba-tiba pasukan itu diserang secara tiba-tiba dari samping kiri dan kanan mereka. Rupanya taktik Abdul berhasil. Selodom mendengar suara rintihan pasukan dari dalam Oasis tersebut dan terkejut. “Ada apa ini? Jangan-jangan jumlah mereka ribuan? Tapi tidak mungkin. Wilayah sesempit itu takkan muat dihuni ribuan orang.” Gumam Selodom dalam hatinya. “Pasukan pemanah, lancarkan panah kalian ke arah Oasis itu!” perintah Selodom pada pasukan pemanahnya. Mereka pun langsung meluncurkan ribuan panah mereka ke arah Oasis tersebut. “Netros, inilah saatnya.” Ucap Abdul dari dalam kegelapan hutan Oasis tersebut. Lalu Netros pun keluar dari persembunyiannya. “Apa yg dilakukan bocah gemuk itu? Apa dia mau mati?” ujar Selodom sambil tertawa. “Pasti gajah itu gajah terbodoh dalam sejarah, tuan.” Sambung pengawal yg ada disampingnya. “Teknik Putaran, Pusaran Angin Badai!” ucap Netros yg lalu membulatkan tubuhnya dan berputar horisontal membuat sebuah pusaran angin raksasa. Ribuan panah itupun tersedot pusaran angin itu dan berbalik lagi ke arah mereka. Para pasukan kalang kabut melihat hal itu. Mereka berlarian ke segala arah, sebagian ada yg selamat, sebagian lagi mati terkena panah yg berbalik. Dari balik pusaran, Abdul siap melancarkan panah yg tepat di tujukan ke kepala Selodom. “Ok, sudah cukup Netros.” Ujar Abdul sambil mengincar sasaran diantara dua bola mata Selodom. Netros pun menghentikan putarannya dan pusaran angin pun hilang. Abdul pun melepaskan anak panahnya tepat ke arah otak Selodom. Namun Selodom menyadarinya dan menangkap panah Abdul dengan mulutnya. “Sial siapa yg melancarkan panah ini?” kata Selodom sambil mencari-cari. Kemudian dia melihat ke atas dan mendapati Abdul sedang mengicarnya lagi dengan panah. “Sial, bocah itu!” ucap Selodom kesal. “Hey! Kalajengking tua, bantu aku. Cepatlah kalian siluman rendahan. Bantu aku!” teriak Selodom sambil menghentak-hentakan kakinya ke pasir. Kemudian muncul ratusan kalajengking hitam dan seekor kalajengking hitam raksasa yg kelihatannya itu adalah rajanya. “Sial, mereka memanggil bantuan.” Pekik Abdul kesal. “Tenang pangeran, kami akan melindungi anda sekuat tenaga.” Ujar Hasan yg tiba-tiba muncul dari belakang. Kemudian sekitar 50 pasukan elang gurun yg tersisa keluar dari hutan dan maju ke depan Abdul. “Semuanya.. kita lindungi pangeran dengan jiwa raga kita. Ini adalah tanggung jawab kita selaku pelindung pangeran!” ucap Hasan menyemangati para pasukannya. “Yg dikatakan Hasan benar. Kita akan mati demi pangeran!!” sambung Umar. “Tidak akan ada yg mati malam ini, paman. Aku akan jamin itu dengan jiwa dan ragaku sebagai seorang pemimpin. Sebagai seorang pangeran!!” teriak Abdul yg lalu maju kedepan dan melesatkan panah-panah ke arah Selodom. Selodom pun menangkap satu persatu panah itu dengan mulutnya. Dan terlihat anak panah yg ia tangkap mulai terbakar karena Selodom sudah mulai marah. Mulutnya pun mengeluarkan api. “Ludah Setan!” teriak Selodom memanggil kemampuannya. Selodom pun menembaki Abdul yg sedang terbang memutar dengan bola-bola api. Tidak lama kemudian Aisyah datang dari depan tanpa disadari oleh Selodom yg sedang menembaki Abdul yg berputar ke sampingnya. Aisyah berusaha menendang Selodom, namun tiba-tiba ada cakip besar menangkapnya. Ternyata itu adalah Raja Kalajengking. “Kyaaaa...” teriak Aisyah yg ditangkap dan ditarik oleh Raja Kalajengking. “Haha.. bagus kalajengking tua. Ternyata kau masih saja cepat.” Ucap Selodom sambil tersenyum. “Sudah, diamlah kau kuda keparat.” Sahut Raja kalajengking. Saat Raja kalajengking hendak menusuk Aisyah dengan ekornya yg beracun, Netros datang dan menghantam ekor itu hingga putus dengan putarannya. “Teknik Putaran, Roda Kematian!” ucap Netros yg lalu menghantam tubuh raja kalajengking yg besarnya 4 kali lipat besar tubuhnya. Raja kalajengking itupun kesakitan karena kulitnya yg keras itu bisa dihancurkan dengan sekali serangan saja. Lalu dengan cepat Netros meraih Aisyah yg terlempar ke udara dan membawanya ke garis belakang untuk mengamankannya. Sementara Abdul masih berusaha menghindari bola-bola api milik Selodom.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】