God Gendros Generations (3G), part 3
Para dewa dan Gendros berhasil terhindar dari bahaya, namun mereka tidak sadar kalau bahaya yg sebenarnya ada di depan mereka. Salah satu pasukan anjing berhasil selamat dan berhasil sampai ke tenda kapten Satron, dimana disana juga ada komandan Greg juga sedang bersantai. “Kapten! Kapten!” teriak siluman anjing yg berhasil selamat tersebut sambil berlari tergesa-gesa menuju kedalam tenda. “Ada apa? Mana yg lainnya?” tanya kapten Satron sambil berdiri dari kursinya. “Yg lain gugur, kapten. Tinggal saya sendiri saja. Mereka menyadari kehadiran kami. Teman-teman kami berusaha melindungi kami dan mengorbankan dirinya. Namun 4 teman saya tewas oleh salah seorang Gendros yg ahli panah. Dan tinggal saya saja yg berhasil selamat.” Jelas siluman anjing tersebut. “Terus apa kau berhasil menemukan mereka?” tanya kapten Satron lagi. “Ya, tuan. Bahkan lebih bagus lagi. Saya menemukan markas besar mereka. Tepatnya ada di sebuah gua di sebelah timur laut dari sini. Jika tuan mau kesana saya bisa tunjukkan pada tuan.” Jawab siluman anjing itu. “Wah, bagus sekali. Jadi bagaimana komandan Greg?” ucap kapten Satron dengan nada senang. “Hmm.. kalau begitu segera siapkan pasukanmu dan suruh mereka berbaris mengelilingi gua itu dari jarak 2 km. Itu jarak yg pas untuk terhindar dari penciuman dan penglihatan super. Dan saat bulan terbenam saat itulah saat paling gelap. Saat uap dingin naik ke udara, saat itulah udara saat itulah udara tak berbau. Saat itulah penglihatan dan penciuman super tak berguna, kita langsung serang mereka tanpa ampun.” Suruh komanda Greg pada kapten Satron. “Baik, komandan!” ucap kapten Satron yg lalu pergi keluar tenda dan kemudian menyiapkan semua pasukan yg ada di tempat tersebut.
Sementara itu di markas para Gendros, Ariel masih terdiam di atas mulut gua sambil menatap rembulan. Dia tidak dapat tidur malam itu karena hatinya terasa begitu gelisah. Ada perasaan aneh di hatinya yg membuatnya selalu tersenyum saat mengingatnya, mengingat Luna tepatnya. Di saat seperti itu tiba-tiba Gredo datang sambil membawa beberapa makanan dari hutan. “Hey, kau belum tidur?” sapa Gredo yg lalu melompat dan memanjat menghampiri Ariel. “Oh kamu, Gred. Aku sedang gelisah. Aku tak dapat tidur malam ini.” Ujar Ariel sambil tersenyum memandang bulan. “Sedang memikirkan Luna ya?” goda Gredo sambil tersenyum. “Ah, kamu ngomong apa sih?” tukas Ariel. “Ayolah, dari gerak-gerikmu, tingkah lakumu, raut wajahmu yg memerah, dan tatapan matamu padanya. Semua orang sudah tahu kalau kau suka pada Luna.” Ujar Gredo sambil menyiku pelan tangan Ariel. “Ah, itu cuma teorimu saja.” Ucap Ariel berusaha ngeles. “Hmm.. tuh Lunanya keluar.” Kata Gredo menggoda Ariel. “Mana?” ucap Ariel sambil mencari-cari. “Ah, ketahuan kan. Haha..” ucap Gredo sambil tertawa lalu duduk di sebelah Ariel. “Tapi jangan bilang siapa-siapa ya tentang hal ini.” Pinta Ariel. “Hmm.. tenang saja. Aku gak akan bilang siapa-siapa kok. Paling cuma Luna, Raiko, dan juga Gendros yg lain. Haha..” kata Gredo menggoda Ariel lagi. “Ayolah.. kenapa gak sekalian aja pajang di infotainment.” Ucap Ariel dengan nada kesal. “Haha.. aku kan cuma bercanda. Jangan ngambek gitu ah.” Sahut Gredo sambil tertawa. “Kamu sendiri kenapa belum tidur?” tanya Ariel. “Aku sejak kecil memang selalu insomnia. Setiap malam aku tak dapat tidur. Aku hanya tidur saat setelah aku menggunakan kekuatanku secara berlebihan. Itupun seringnya di siang hari.” Jawab Gredo. “Hmm.. benar-benar mirip burung hantu.” Ucap Ariel. “Hey, jangan bawa-bawa klan ayahku. “ sahut Gredo menoleh ke arah Ariel dan menatap kesal. “Hehe..” Ariel tertawa bodoh sambil garuk-garuk kepala. Ariel pun tertidur disana, sedangkan Gredo masih terjaga hingga pagi sambil memakan buah-buahan yg ia kumpulkan dari hutan.
Bulan hampir terbenam, seluruh pasukan siluman anjing bersiap-siap melakukan serangan. Di saat seperti itu Ariel terbangun dan pergi mencari sungai untuk mandi. Tapi saat ia sudah sampai sungai yg ia cari-cari Ariel mendengar suara jejak langkah para anjing yg bergerak mendekat kesana. “Seratus, seribu, dua ribu. Sial, jumlahnya ada sekitar 50 ribu. Aku harus segera kembali ke markas untuk memberitahu teman-teman.” Ucap Ariel yg kemudian berlari kembali ke markas dengan sekuat tenaga. Saat tiba di markas, ia berpapasan dengan Luna. “Ah.. ada apa Ariel? Kamu tampak tergesa-gesa.” Tanya Luna yg sedang berjalan menuju kamarnya. “Lu..lu..luna. Dimana Raiko?” tanya Ariel dengan sedikit terbata-bata dan sedikit ngos-ngosan karena berlari sekuat tenaga. “Oh bibi Raiko. Dia masih di dalam kamarnya. Mau aku antar?” jawab Luna sambil tersenyum. “Ya, tolong. Sebaiknya cepat karena ini darurat.” Ucap Ariel sambil menarik tangan Luna dan membawanya naik menuju tangga yg menuju ke deretan kamar para Gendros dan dewa tidur. Lalu Ariel pun melepaskan tangannya Luna dan menyuruhnya untuk membangunkan Raiko. Luna pun menurutinya dan membangunkan Raiko yg sedang tertidur pulas. Raiko pun keluar dari kamarnya bersama Luna di belakangnya. “Ada masalah darurat apa, riel? Kamu ngebet kawin?” ucap Raiko sambil menatap Ariel dengan mata yg setenga tidur. “Ah.. bukan itu. Kita sedang di serang. Ada sekitar 50 ribu pasukan.” Sahut Ariel dengan nada serius. “Ah.. masa? Aku kok tidak mencium apapun?” ucap Raiko tidak percaya. “Mereka tahu kelemahan dari penciuman kita. Dan mereka tahu kelemahan dari penglihatan kita. Jadi mereka menyerang di saat bulan telah hilang sinarnya, dan udara dingin yg menghilangkan kemampuan kita mencium bau.” jelas Ariel berusaha meyakinkan Raiko. Raiko pun tersadar akan hal itu. Dan ia pun langsung bergegas membangunkan yg lain. Sementara itu Gredo baru sampai ke markas dengan wajah yg ketakutan. “Aku bawa berita buruk.” Ucap Gredo sambil menghampiri Ariel, Luna, dan Raiko. “Berita apa?” tanya Raiko. “Kita sedang di serang. Barusan aku mendengar banyak sekali jejak langkah kaki.” Jawab Gredo. “Telat! Kami semua sudah tahu itu dari tadi.” Ucap Ariel. “Jadi aku telat ya? Ouww..” ucap Gredo sambil tertunduk sedih. “Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul aku akan langsung memberitahukan strateginya. Pertama, yg digaris depan adalah kami para dewa. Kita akan buat barikade bentuk segitiga. Aku di barat, Abdul di tenggara, dan Netros di timur laut. Sedangkan para Gendros yg lain sebagai pasukan pertahanan. Apa kalian sudah siap bertempur?” kata Raiko. “Ya!” sahut semua Gendros. “Baiklah kita bagi tugas. Frenki, putra siluman monyet. Kau jaga di pertahanan sebelah kiriku. Sedangkan kau Seila, putri siluman ular. Kau jaga di sebelah kananku. Baiklah kita berangkat duluan.” Ucap Raiko yg lalu membawa Frenki dan Seila bersamanya. “Ok, Randon putra siluman rajawali. Kau jaga sebelah kiriku. Dan Sasha putri siluman laba-laba. Kau jaga di sebelah kananku. Kita berangkat sekarang.” Kata Netros sambil membawa dua Gendros tersebut bersamanya. “Hmm.. sekarang giliranku ya. Ok, kau Bardox putra siluman kerbau. Kau ikut bersamaku dan jaga sebelah kiriku. Sedangkan kau Thony, putra siluman serigala. Kau jaga sebelah kananku.” Ucap Abdul. “Lalu kami?” tanya Ariel. “Kalian adalah target utama mereka. Kalian tetaplah disini. Apalagi kau, Ariel. Kau adalah kunci utama dari semua ini. Kaulah yg akan mengakhiri semua hal buruk di dunia ini.” Jelas Abdul yg lalu berjalan keluar. “Tapi aku ingin bertarung!” teriak Ariel pada Abdul. “Tidak boleh! Aku dengar dari Raiko, katanya kekuatanmu belum bisa gunakan. Luna! Gredo! Usahakan dia tetap di markas dan jaga dia baik-baik.” Suruh Abdul yg lalu terbang dengan sayap elangnya dan di susul oleh Bardox dan Thony dari bawah. “Kenapa harus aku yg selalu dilindungi? Kapankah aku bisa melindungi orang-orang yg aku sayangi. Sial! Kekuatan, kapankah kau akan muncul?” ucap Ariel dalam hatinya sambil menahan tangis.
Di barisan depan para dewa harus di hadapkan dengan ribuan pasukan siluman anjing yg sedang kelaparan. “Sial! Kenapa mereka bisa sadar akan kedatangan kita?” ujar Greg dengan sangat kesal. “Inilah saatnya aku menunjukkan kekuatan klan kucing pada kalian.” Ucap Raiko sambil tersenyum di atas pohon yg tinggi. “Rasakan ini, Kilat naga perak!!” teriak Raiko sambil menembakan kilat berbentuk naga raksasa dari kedua jarinya yg disatukan, tepatnya jari telunjuk dan jari tengah. Naga dari kilat itu membabat habis apa yg ada di depannya, namun tidak dengan yg ada di sampingnya. Karena itu ia meminta bantuan para Gendros untuk menjaga kelemahannya. Di sisi lain, pasukan di pimpin oleh kapten Satron. Mereka bergerak sangat cepat. Namun disana ada Thony dengan kemampuan serigalanya mampu bergerak secepat bayangan, lebih cepat dari para anjing. Dan dari atas, Abdul mengeluarkan serangan andalannya. “Serangan Badai Pasir!!” teriak Abdul sambil lewat di atas ribuan pasukan siluman anjing dan menciptakan badai pasir sehingga pandangan dan penciuman tidak berguna. Thony dan Bardox memang sudah terlatih dengan situasi seperti itu, karena mereka memang dilatih oleh Abdul sendiri. Jadi hanya dengan insting, mereka bisa menentukan dimana tempat para pasukan anjing itu. Dan tanpa segan-segan mereka melaju ke depan. Yg pertama kali maju adalah Bardox, yg lalu memanggil senjata andalannya yaitu “kapak neraka”. Dia menebas, dan mengapak para pasukan anjing itu hingga ada yg terlihat oleh Abdul dari atas banyak yg terlempar ke udara kesana-kemari. “Hahaha.. ini menyenangkan.” Kata Bardox yg memang sudah lama memimpikkan memanen musuh seperti itu. “Kelamaan. Biar aku yg selesaikan.” Ucap Thony setelah melihat jam tangannya berkali-kali menunggu giliran. Kemudian Thony pun merubah tubuh bagian atasnya menjadi serigala. “Inilah teknikku. Aungan Bulan Purnama!!” teriak Thony yg lalu mengaung dengan sekuat tenaga. Dengan aungannya itu, ia mementalkan semua musuh dan membersihkan mereka sekaligus badai pasir yg diciptakan oleh Abdul. Dan bahkan Bardox kewalahan menahan aungan Thony tersebut dengan menancapkan kapaknya ke tanah dan ia berpegangan erat ke kapaknya tersebut. Dan yg terlihat sekarang hanya tinggal tanah yg rata, Bardox yg marah, dan kapten Satron yg kaget dengan mata terbelalak. “Aaa.. apa itu tadi? Beribu-ribu pasukan habis dalam hitungan menit. Yg benar saja.” Ucap kapten Satron dengan mulut menganga. “Jadi bagaimana?” ucap seseorang dari belakang kapten Satron. Dan itu adalah Abdul. Kapten Satron pun menengok kebelakang. “Hehehe.. kelihatannya aku kalah ya?” ucap katen Satron sambil tersenyum bodoh dan kaki yg gemetaran. “Ya, kelihatannya sih begitu. Ribuan anak buahmu habis semua oleh dua orang anak buahku.” Ucap Abdul. “Hehehe.. soal penyerangan ini jangan dipikirkan ya. Tadi tuh cuma bercanda kok. Hehehe..” ujar Satron sambil berpura-pura baik pada Abdul. “Bercanda ya? Benar-benar bercanda yg buruk sekali dan tidak lucu. Kalau tidak lucu aku jadi tidak senang. Dan kalau tidak senang aku suka bunuh orang. Dan kalau tak ada orang, siluman pun boleh.” Ucap Badul yg lalu menatap tajam pada Satron. “Kaing! Kaing! Kaing!” Satron berlari ketakutan sambil mengeluarkan suara mirip anjing yg sedang hilang nyali. “Dasar siluman anjing.” Ujar Abdul sambil berjalan kembali ke markas.
Dari sisi pertahanan lain Netros di sibukkan oleh pasukan yg di pimpin langsung oleh komandan Greg. Apalagi komandan Greg adalah petarung ulung. Dia tak segan-segan berada di garis depan untuk membantu pasukannya. Kekuatan Netros yg berelemen bumi tidak berguna untuk Greg yg selalu di udara. “Sial, kita akan terpojok kalau terus-terusan begini.” Ucap Netros dalam hatinya. “Randon, cepat beritahukan pada yg lain kalau disini butuh bantuan!” suruh Netros. “Siap, guru!” terima Randon sambil terbang menuju tempatnya Abdul. Namun Greg menyadari itu dan mengejar Randon lalu menyambarnya dan hendak dihentakkan ke tanah. “Arrgh!! Guru..!!” teriakan Randon yg terdengar oleh Netros. Lalu Netros pun membuat tanah disana jadi debu yg empuk. Dan Randon pun selamat. “Gajah sialan!” pekik Greg yg lalu melempar Randon ke arah batu besar di depannya. Tapi Randon berhasil di selamatkan oleh Sasha dengan jaring laba-labanya yg membentang diantar dua pohon sebelum Randon menghantam batu. “Rasakan ini, laba-laba jalang!” teriak Greg sambil terbang dan berusaha menendang Sasha dengan kakinya yg berkuku tajam. Namun Netros datang dari samping dan menghantam Greg dengan palu batu. Greg pun terpental jauh, terseret, lalu menghantam pohon besar hingga pohon itu tumbang. “Kalian tidak apa-apa?” tanya Netros dengan nada khawatir. “Kami tidak apa-apa, guru.” Jawab mereka berdua. “Randon, sekaranglah saatnya. Mumpung dia sedang terjatuh. Kau cepat minta bantuan pada yg lain.” Suruh Netros lagi pada Randon. “Siap, guru!” ucap Randon yg setelah lepas dari jaring laba-laba Sasha langsung terbang ke arah Abdul berada. “Hoaaaaaahh..!!” teriak Greg yg lalu terbang ke atas lalu menyerusuk ke arah Netros. “Akan ku bunuh kau, gajah gemuk sialan!!” teriak Greg lagi sambil terus terbang hendak menyerang Netros. “Hanya dalam mimpimu!!” teriak Netros yg menyambu kedatangan Greg dengan tinjunya. Namun tinju itu dapat dihindari oleh Greg, dan ia pun berhasil mencengkeram Netros. Greg beusaha mengangkat Netros. Namun Netros memegang kaki Greg lalu mengeluarkan kemampuannya. “10.000 kg!!!” teriak Netros. “Sial!” ucap Greg yg kewalahan mengangkat Netros yg beratnya bertambah secara drastis. Akhirnya Greglah yg terbawa beban Netros. Dan dengan mudah Netros menempatkannya dibawahnya dan menindihnya ke tanah. “Argh!!” teriak Greg sambil menahan sakit. Namun Greg dengan cepat menekuk kakinya lalu menendang wajah Netros sehingga Netros terguling ke belakang. “Ah.. gajah gemuk ini lumayan juga.” Ucap Greg sambil mencoba bangkit. “Kau juga, gagak jelek.” Kata Netros yg juga bangkit. Sementara itu Sasha menghalangi para pasukan anjing dengan jaringnya yg amat tajam. Sedangkan Randon masih dalam perjalanan menuju lokasi Abdul dan yg lainnya.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.