Sanghyang Jagat Dinata


Bumi kita yang kita tahu sepertinya baik-baik saja sebenarnya sedang kritis keadaannya. Kadang kita lupa untuk bersyukur pada yang kuasa atas semua kenikmatan yang telah kita peroleh di atas bumi ini. Di ceritakan di kampung Tumaritis desa Kendal Gorowong, Semar beserta ketiga anaknya sedang beristirahat di sebuah saung di pinggir sawah. Sambil beristirahat, mereka membicarakan keadaan bumi yang makin panas aja. “Aduh gerah banget nih gua. Maunya sih buka baju, tapi malu euy. Badan gak ada isinya, tulang melulu. He..he..” ucap Cepot, anak sulung Semar. “Alah.. ngapain malu-malu, gak bakalan ada yang lihat ini. Emangnya siapa yang mau lihat kakak. Jangankan melihat, mendengar nama kakak saja udah pada ogah. He..he..” sahut Gareng, anak Semar yang paling bungsu. “Ngomong apa kau tadi?” tanya Cepot saat mendengar ucapan Gareng tersebut. “Ah gak ngomong apa-apa. Saya mah tadi lagi berdehem aja.” Jawab Gareng mencoba ngeles karena dia tahu Cepot sedang marah yang terlihat dari sorot matanya. “Udah-udah.. kalian jangan memperpanas suasana. Udah cukup cuma bumi saja yang panas. Lebih baik kalian mendekat kemari dan dengarkan bapa.” Lerai Semar Badranaya pada kedua anaknya itu. “Ada apa gitu, pa?” tanya Dawala yang tidak lain adalah anak penengah Semar. “Apa kalian tahu kenapa sekarang bumi semakin panas itu kenapa?” tanya Semar pada anak-anaknya. “Emangnya kenapa, beh?” sahut Cepot balik nanya. “Itu karena adanya Global Warming atau Pemanasan Global. Coba apa sebabnya bisa ada Pemanasan Global?” jawab Semar sambil kembali bertanya. “Oh itu, pasti matahari watt-nya kegedean ya. Jadi panas deh. Kan kalau lampu bohlam juga kalau watt-nya gede jadi panas.” Jawab Cepot asal-asalan. “Ah kakak capruk nih. Matahari kan dari dulu juga segitu-gitu aja gak nambah. Tah yang bikin panas tuh tetangga sebelah rumah kita. Kan masakanya masih pakai hawu. Sekarang kan jamannya kompor gas. Buat apa pemerintah bagi-bagiin gas coba. Inimah di kasih gas malah di jual lagi.” sahut Gareng yang sama aja salahnya. “Ah semuanya juga gak ada yang bener. Yang bener tuh yang bikin panas tuh kita. Kita kebanyakan menggunakan alat yang menggunakan pembakaran. Contohnya saja kita sekarang udah gengsi yang namanya pake angkot atau kendaraan umum. Kita udah malu kalau kemana-mana pake sepeda atau jalan kaki. Padahal itu selain tidak menghasilkan polusi dan hemat energi, itu juga kan menyehatkan. Tapi karena kita gengsinya gede-gedean dan malas, cuma mau kewarung depan rumah saja harus selalu pakai motor. Padahal motor itulah yang paling banyak memboroskan energi. Udahmah cuma muat 2 orang, paling banyak 3 lah, ketambah lagi pembakaran masing-masing kan? Kan 1 knalpot 1 pembakaran. Nah dikali ada berapa motor yang ada di dunia ini. Tambah mobil, kendaraan umum, dll. Misalnya saja 1 keluarga 1 motor, padahal sekarang mah lebih ya. Dikali ada berapa juta keluarga di dunia ini. Wah.. coba bayangin aja berapa gas CO2 yang lepas ke udara tiap hari. Padahal gas CO2 ini yang mengakibatkan panas. Coba bayangin.” Jelas Semar Badranaya dengan nada serius pada anak-anaknya. “Waduh.. gak nyangka banyak banget ya, pa.” Sahut Dawala. “Kalau gitu kita hentikan saja pembuatan motor dan mobilnya ya pa.” Ujar Cepot nyeletuk saja setelah mendengar penjelasan Semar. “Ngomong emang mudah, tapi mau bagaimana lagi. Kendaraan bermotor kan sudah jadi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Dan lagipula perusahaan pembuatnya juga gak akan berhenti kalau masih ada permintaan dari konsumennya.” Sahut Semar menjelaskan pada Cepot. “Konsumen tuh apa, kak?” tanya Gareng pada Cepot dengan berbisik. “Konsumen mah yang suka dipakai bahan bangunan.” Sahut Cepot asal-asalan. “Itumah semen atuh, kak. Konsumen tetangga kita.” Tukas Dawala. “Ah itumah kang Siman atuh. Jauh amat. Kalau mau ngelawak mah pikir-pikir dulu. Kalau sekiranya gak lucu jangan diomongin. Pembaca cerpen juga gak akan tertarik kalau lawakannya gak lucu mah. Euh..” tambah Cepot. “Udah-udah, konsumen tuh ya kita. Kita para pengguna atau pemakai.” Jelas Semar mencoba meluruskan. Setelah mendengar itu Cepot, Dawala dan Gareng pun mengerti. “Udah, sekarang kita kerja lagi. Yang sebelah sana belum di cangkul kan? Nah kita selesaikan saja semuanya hari ini, biar besok kita tinggal nanam aja.” Ajak Semar pada anak-anaknya. “Sip!’” terima mereka bertiga. Lalu mereka berempat pun kembali bekerja di ladang milik mereka.
Di tempat lain, tepatnya di rumah Semar Badranaya, istri Semar yaitu dewi Siti Ragen sedang memasak didapur untuk menyambut kepulangan Semar dan 3 anaknya. Namun saat sedang asik memasak, pintu rumah ada yang mengetuk. “Sampurasun..” ucap seseorang yang mengetuk pintu tersebut. “Rampes..” jawab Siti Ragen sambil membukakan pintu. Dan betapa kagetnya Siti Ragen saat membukakan pintu, karena ternyata di depannya sudah berdiri seorang pemuda tampan yang berpakaian putih dan memakai kain batik warna pelangi di pinggangnya. “Maaf, ada urusan apa ya?” tanya Siti Ragen sambil tercengang melihat ketampanan pemuda itu. “Apa saya tidak akan di persilahkan masuk?” tanya pemuda itu sambil tersenyum ramah. “Maaf, suami saya sedang tidak ada dirumah, haram bagi saya berduaan dengan lelaki lain. Memang sebenarnya ada urusan apa?” jawab Siti Ragen sambil bertanya lagi. “Hmm.. begitu ya. Sebenarnya saya ada urusan dengan kakang Semar. Tapi karena beliau kelihatannya belum pulang, maka baiklah saya akan menunggu di luar saja.” Sahut pemuda itu sambil tersenyum ramah lagi. Lalu pemuda itu pun duduk di sebuah kursi kayu yang ada depan rumah itu. Matahari pun mulai terbenam, Semar Badranaya dan anak-anaknya pun berjalan menuju rumah mereka karena pekerjaan mereka sudah selesai. “Bapa! Lihat cahaya apa itu?” tanya Gareng. “Waduh.. bener. Cahaya apa itu ya? Datangnya kok dari rumah kita kayaknya tuh. Apa cahaya neon ya?” Sambung Cepot. “Bisajadi cahaya cempleu kayaknya.” Tambah Dawala. “Coba itu, masa cahaya cempleu sampai segitu terang benderang gitu. Jauh amat. Mending neon mah masih kepikir, masih logika. Euh..” tukas Cepot. “Udah-udah, lebih baik kita samperin aja biar tahu cahaya itu asalanya dari mana.” Lerai Semar sambil mengajak anak-anaknya untuk mendatangi asal cahaya itu. Saat sampai di depan rumah, mereka pun kaget, ternyata cahaya itu berasal dari pemuda yang sedang tertidur di sebuah kursi kayu depan rumah mereka. “Siapa itu, beh? Baru lihat ada pemuda sampai bercahaya gitu.” Tanya Cepot pada ayahnya. “Hmm.. coba kita tanya.” Sahut Semar sambil menghampiri pemuda yang sedang tertidur itu. “Permisi..” ucap Semar sambil berdiri di hadapan pemuda tersebut. Pemuda itu pun terbangun saat mendengar suara tersebut. Saat membuka matanya ia pun terkejut karena orang yang sudah di tunggu-tunggu dari tadi kini sudah ada di hadapannya. “Oh kakang Semar! Sembah kapihatur kang.” Ucap pemuda itu sambil sujud sungkem pada Semar. “Aku terima. Sebenarnya anda itu siapa? Dari mana asal?” tanya Semar pada pemuda itu. Kemudian pemuda itu pun berdiri dan menjawab, “Saya bukanlah siapa-siapa dan tidak dari manapun. Saya hanyalah saya. Saya bukanlah anda dan bukan mereka.” Jawab pemuda itu sambil tersenyum ramah. “Ya, itu tidak salah juga. Tapi apa anda punya nama atau panggilan? Dan ada urusan apa anda disini?” sahut Semar sambil melempar pertanyaan lagi pada pemuda itu. “Nama saya adalah Sanghyang Jagat Dinata. Saya kesini untuk berguru pada kakang Semar. Karena kakang Semar terkenal sebagai sesepuh yang penuh ilmu yang lungguh.” Ucap pemuda itu sambil tetap tersenyum. “Tadi mengaku Sanghyang? Itu artinya ilmumu sudah lebih daripada saya. Untuk apa berguru pada saya? Sementara saya disini hanya rakyat miskin, yang sekolah saja gak nyampe tamat SD.” Tolak Semar. “Tapi kalau soal ilmu kita tak pernah tahu kan. Karena ilmu bisa didapat dari mana saja. Bisa juga dari pengalaman kita mendapat suatu pelajaran. Dan kakang Semar itu sudah lebih berpengalaman dari saya. Jadi pastinya ilmu dunia kakang sudah lebih dari saya.” Bantah pemuda itu yang kelihatannya bersungguh-sungguh ingin berguru pada Semar. “Hmm.. ambuing-ambuing, emang betul apa yang anda katakan. Tapi kenapa kamu ingin belajar ilmu dunia? Bukankah kita semua akan mati?” tanya Semar lagi. “Karena walau kita akan mati, tapi tempat kehidupan kita, tempat beramal kita adalah dunia walaupun sifatnya fana atau sementara. Jadi bagaimanapun kita harus bisa melestarikan alam dunia dan menjaganya agar tetap pada keadaan normalnya. Sekarang ini kita sudah bisa merasakan cuaca yang begitu ekstrim akibat pemanasan global. Nah, untuk mengatasi itu semua tentunya kita harus tahu ilmunya.” Jawab pemuda itu menjelaskan pada Semar. “Hmm.. tidak salah. Tapi seperti yang saya bilang, saya itu hanya orang miskin yang SD saja tidak tamat. Bagaimana anda tahu kalau saya akan tahu ilmu seperti itu?” tanya Semar lagi. “Sebab hanya kakang Semarlah yang lebih dulu hidup didunia daripada saya. Sudah pasti kakang lebih tahu daripada saya. Yang lebih dulu makan garam pasti sudah tahu asinnya daripada yang belum pernah makan garam.” Sahut Pemuda yang mengaku bernama Sanghyang Jagat Dinata tersebut. “Hmm.. itu benar juga. Kalau gitu apa yang ingin anda pelajari dari saya?” tanya Semar lagi. “Saya hanya ingin menanyakan satu hal pada kakang. Menurut kakang dunia ini bagaimana? Seperti apakah dunia itu sebenarnya?” sahut Sanghyang Jagat Dinata menanyakan keingintahuannya pada Semar. “Orang bilang dunia itu bulat seperti bola. Dari bentuknya juga kita bisa menarik kesimpulan. Kenapa coba bentuknya harus bulat? Karena Bumi kita ini berputar. Mudah mana coba berputarnya ban motor? Yang bulat atau yang kotak? Sudah pasti yang bulat kan. Dan selain itu dari kata bola juga kita bisa menarik kesimpulan. Kenapa harus diamakan dengan bola? Karena Bumi kita ini fleksibel. Coba kita lihat bila, Semakin kita menghentakannya ke bawah semakin kuat pantulannya keatas. Bumi juga begitu, semakin kita merusaknya maka semakin bumi juga merusak kita. Sebaliknya, semakin kita menjaga bumi, maka semakin juga bumi menjaga kita. Kita sudah berkali-kali terkena hantaman lidah api matahari, tapi kenapa tidak tembus ke permukaan bumi? Karena bumi melindungi kita dengan 2 kutub dan medan magnetnya. Malah bumi membuat ancaman itu menjadi sebuah keindahan. Dengan munculnya aurora di wilayah kutub. Tapi kita tak pernah berterima kasih, dan kita malah merusaknya terus-menerus. Dan atmosfir juga telah melindungi kita dari ancaman meteor, sinar ultraviolet, dll. Tapi kita malah terus melubangi atmosfir dengan berbagai polusi udara yang kita buat. Ya jadi begini kan dampaknya, bumi kita jadi semakin panas saja akibat global warming. Malah es di kutub sudah semakin mencair. Kutub selatan yang dulu terkenal dengan sebutan salju abadinya sekarang semakin terkikis sedikit demi sedikit. Dan anehnya kita malah terus membunuh bumi dengan perlahan, yang secara tidak langsung juga sama artinya dengan membunuh diri sendiri. Karena jika tidak di bumi kita mau tinggal dimana lagi? Hanya bumilah satu-satunya tempat tinggal kita. Bumi yang selama ini selalu menjaga kita, menyediakan makanan, bahan bangunan, dll. Masa harus kita rusak? Harusnya kita berterima kasih pada bumi dengan cara balik merawat dan menjaga bumi. Karena itulah tujuan manusia ada di alam dunia. Itulah cara bersyukur kita yang terbaik.” Jelas Semar panjang lebar pada Sanghyang Jagat Dinata. “Hmm.. sekarang saya mengerti kakang Semar. Terima kasih kang.” Ucap Sanghyang Jagat Dinata pada Semar dengan tersenyum ramah.
Saat mereka sedang asik berbincang, dari angkasa Raden Gatotkaca melesat ke arah mereka. Namun anehnya Gatotkaca seakan kehilangan kendali dan terus saja melesat tanpa mengerem sedikitpun. Sanghyang Jagat Dinata yang sadar akan hal itu lalu melompat dan menangkap Gatotkaca. Setelah itu, Sanghyang Jagat Dinata membawa tubuh Gatotkaca ke rumah Semar dan membaringkannya di teras rumah Semar Badranaya. “Aduh...” rintih Gatotkaca sekilas terdengar oleh Semar. “Waduh! Kenapa nih bapa komandan? Apa yang terjadi?” ucap Dawala yang kaget. Begitu juga dengan Cepot dan Gareng. “Kenapa gan? Apa yang terjadi sampai agan seperti ini?” tanya Semar. “Aduh.. ternyata ini wa Semar. Wa, tolong Gatot wa. Sekarang negara sedang di serang oleh seseorang yang mengaku Sanghyang Damar Ungu. Semuanya tidak ada yang kuat menandingi kekuatannya. Yang tersentuh olehnya langsung terbakar, yang menatap matanya langsung buta. Bahkan Gatot pun tadi sempat menatap matanya dan sekarang semua terasa gelap. Paman Arjuna, dan Ayah juga sama keadaanya seperti Gatot.” Jelas Gatotkaca. “Lalu sekarang ada dimana dia?” tanya Sanghyang Jagat Dinata. “Sekarang dia masih ada di tengah ibukota. Dia sedang membakar kota.” Jawab Gatotkaca dengan suara yang parau karena menahan sakit dan tubuhnya sudah lemas. “Kakang Semar, ini tak bisa dibiarkan. Kita harus bertindak!” ucap Sanghyang Jagat Dinata. Lalu Sanghyang Jagat Dinata terbang melesat ke arah ibukota. “Cepot, Dawala, Gareng, kalian jangan ikut! Kalian tetap disini dan jaga tuan muda Gatotkaca!” suruh Semar Badranaya yang lalu berlari mengejar Sanghyang Jagat Dinata. Sambil berlari, Semar lalu merubah wujudnya dan memakai wujud ksatria agar langkahnya lebih ringan dan lalu menggunakan ilmu Bayurotha untuk mempercepat larinya agar bisa mengejar Sanghyang Jagat Dinata yang terbang dengan kecepatan tinggi. Sementara itu orang yang disebut Sanghyang Damar Ungu dan muridnya Bambang Kaca Jagat sedang asik merusak kota. Dan dari kejauhan, Bathara Kresna tidak bisa apa-apa. Dia hanya bisa menjaga tubuh kelima Pandawa yang mengalami luka bakar akibat ilmu yang dimiliki Sanghyang Damar Ungu. “Aduh..  harus bagaimana ini? Para ksatria andalan sudah kalah semua. Para Bathara yang lain pun tidak ada yang datang membantu. Sekarang hanya tinggal aku sendiri. Aduh.. kakang Baladewa juga entah kemana. Saat seperti ini malah ngilang coba.” Keluh Bathara Kresna sambil menjaga tubuh para Pandawa yang kulitnya pada melepuh terbakar. Tiba-tiba datanglah ksatria berbaju serba hijau di tempat itu. Bathara Kresna kaget melihat ksatria yang tiba-tiba ada dihadapannya itu. “Kamu siapa?” tanya Bathara Kresna. “Namaku Bambang Hejo Manik. Apa yang terjadi disini?” tanya ksatria itu setelah menjawab pertanyaan Bathara Kresna. “Ada serangan tiba-tiba dari seseorang yang mengaku Sanghyang Damar Ungu dan muridnya Bambang Kaca Jagat. Semuanya tidak ada yang dapat mengalahkan mereka. Mereka kuat sekali. Yang bernama Bambang Kaca Jagat kebal terhadap segala jurus dan ajian. Malah dia bisa membalikan ajian yang ditujukan padanya. Dan Sanghyang Damar Ungu, dia sangat kuat. Yang menyentuh dan yang disentuh olehnya akan terbakar dan yang menatap matanya akan buta. Dan dia juga bisa mengeluarkan api yang bisa membakar apapun.” Jelas Bathara Kresna. “Hmm.. begitu ya. Rendamlah daun ini dan lalu mandikan tubuh para Pandawa dengan air rendaman daun ini. Aku akan menghadapi mereka yang merusak kota.” Ujar Bambang Hejo Manik yang lalu melesat ke arah kota yang terbakar.
Saat Sanghyang Damar Ungu dan muridnya, Bambang kaca Jagat sedang asik membakar kota, tiba-tiba terdengar suara. “Sudah lama sekali ya, Damar Ungu.” Ujar seseorang dari belakang Sanghyang Damar Ungu. “Jagat Dinata, coba kita lihat apa kamu akan bisa menghentikanku saat aku sedang di puncak seperti ini, dan kamu ada di posisi terlemahmu.” Jawab Sanghyang Damar Ungu pada orang di belakangnya yang ternyata adalah Sanghyang Jagat Dinata. “Rasakan ajian Sapta Kilatku ini!” teriak Sanghyang Jagat Dinata sambil memukul wajah Sanghyang Damar Ungu hingga terpental dan menghantam bumi. “Guru!” teriak Bambang Kaca Jagat sambil berlari kearah gurunya. Namun tiba-tiba dia dihentikan oleh Bambang Hejo Manik yang lalu menendangnya hingga terpental kebelakang. “Siapa kamu? Jangan menghalangiku!” suruh Kaca Jagat. “Namaku Bambang Hejo Manik. Jika mau lewat, langkahi mayatku dulu.” Tantang Hejo Manik. Kaca Jagat pun geram dan lalu menggunakan ajian Kaca Sejagat. Hejo Manik berusaha memukul Kaca Jagat, tapi anehnya malah selalu memukul dirinya sendiri. Segala serangan pada Kaca Jagat selalu berbalik pada dirinya sendiri. Hejo Manik pun kelelahan dan ambruk karena sudah lemas. Tiba-tiba saat dia terduduk dia ingat sesuatu. Dia ingat pada sebuah pepatah, “Sebelum bercermin pada yang lain, bercerminlah pada dirimu sendiri.”. “Oh iya, kalau setiap aku berniat memukulnya aku selalu memukul diriku sendiri, maka dia ada dalam diriku. Baiklah kalau begitu akan kugunakan Saptarenyu.” Ujar Hejo Manik. Lalu Hejo Manik memukul dirinya sendiri dengan ajian Saptarenyu dan terpentalah Kaca Jagat dari dalam tubuh Hejo Manik. “Argh.. kurang ajar kau, Bambang Hejo Manik.” Lenguh Kaca Jagat menjelang ajalnya. “Satu telah selesai. Sekarang tinggal giliranmu Sanghyang Jagat Dinata.” Ucap Hejo Manik dalam hatinya. “Jagat Dinata! Rasakan ajianku yang satu ini.” kata Damar Ungu yang lalu menyemburkan api dari mulutnya. Tapi Jagat Dinata membalas dengan ajian Baliungnya dan meniup balik api Damar Ungu dengan angin topan hingga padam semuanya. Lalu tanpa memberi waktu, Jagat Dinata mengangkat air sungai dengan kesaktiannya dan menyiram Damar Ungu supaya tidak bisa menggunakan kekuatannya lagi. “Jagat Dinata! Aku tahu kamu juga sudah kelelahan karena menggunakan 3 ajian dalam waktu bersamaan. Karena itu kita seimbang. Ayo kita adu fisik!” tantang Damar Ungu yang lalu melesat ke arah Jagat Dinata dan berusaha memukulnya. Dan mereka pun mulai adu fisik. Namun kelihatannya Jagat Dinata lebih unggul dan lalu mengunci Damar Ungu dari belakang. “Tadi kamu bilang kita seimbang ya? Aku kira tidak begitu. Kekuatanku takkan pernah habis, karena bumi ini adalah kekuatanku. Selagi masih ada bumi, maka kau akan selalu sekuat ini. Sebab bumi dan aku adalah satu. Rasakan ajian Sapta kilatku.” Ujar Jagat Dinata yang lalu terbang dan melesat ke angkasa dan terus ke atas membawa tubuh Damar Ungu dengan kecepatan tinggi. Dan lalu Jagat Dinata membuang tubuh Damar Ungu ke ruang hampa udara di angkasa. Disana Damar Ungu tidak bisa apa-apa karena Damar Ungu tidak bisa masuk lagi setelah keluar dari bumi. Sementara itu Jagat Dinata kembali ke bumi karena dia hanya diam di perbatasan bumi saja. Dia pun menemui Hejo Manik yang tidak lain adalah Semar yang berubah wujud. “Kakang Semar, aku tahu itu kakang. Setelah ini aku titipkan urusan bumi padamu. Ajaklah yang lain untuk melestarikan bumi. Terima kasih karena mengajarkan arti diriku. Sekali lagi terima kasih.” Ucap Sanghyang Jagat Dinata yang lalu menghilang. Lalu Semar pun kembali ke wujudnya. Dari langit tampak Sanghyang Otipati Jagatnata Bathara Guru menghampiri Semar Badranya. “Kemana saja kamu, hah? Mana tanggung jawabmu selaku penjaga dunia? Namamu saja yang Jagatnata, tapi mana buktinya? Kamu tak pernah menata bumi dan jagat raya semesta ini.” Tegur Semar pada Bathara Guru. “Maafkan aku, kakang Semar. Aku benar-benar menyesal. Sebenarnya yang tadi itu siapa?” Ucap Bathara Guru. “Sanghyang Jagat Dinata adalah penjelmaan bumi ini. Jagat melambangkan dunia, dan Dinata melambangkan yang ditata. Jadi Dunia yang harus kita tata, atau bumi.” Sahut Semar Badranaya. “Lalu Sanghyang Damar Ungu itu siapa?” tanya Bathara Guru. “Sanghyang Damar Ungu adalah melambangkan sinar ultra violet. Sedangkan Bambang Kaca Jagat adalah melambangkan efek rumah kaca yang menyebabkan global warming. Dan kenapa aku tadi mengaku nama Hejo Manik. Karena Hejo atau hijau itu melambangkan hutan. Mengerti?” jelas Semar. “Mengerti kakang.” Sahut Bathara Guru. “Bagus, jadi jangan pernah ulangi kesalahanmu itu lagi.” Tegur Semar. “Baiklah, kakang.” Sahut Bathara Guru lagi.


Tamat

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】