God Gendros Generations (3G), part 5
Para Gendros dan dewa telah pergi meninggalkan Netros untuk melawan Greg sendirian. Netros sudah bersiap mengumpulkan tenaganya. “Teknik Membatu!” ucapnya dengan keras memanggil kemampuannya. Tubuhnya pun jadi mengeras sekeras batu. “Hooaaa.. gajah sialan. Sekarang kau akan mati!” teriak Greg dari depan terbang dengan kecepatan tinggi. Kemudian berputar lalu menendang Netros. Dengan mudah Netros menahannya karena tubuhnya keras. “Apa ini? Kenapa tendanganku tidak melukainya?” ucap Greg. “Sayang sekali, sekarang aku sudah gunakan kemampuanku untuk mengeraskan tubuh.” Sahut Netros sambil tersenyum. “Kalau begitu bagaimana dengan yg ini.” Ujar Greg yg lalu memutar tubuhnya sehingga mirip seperti bor. Dengan 2 pasang sayap dia tidak kesulitan melakukan hal tersebut. Tubuh Netros pun retak terkena serangan itu. “Apa?!” ucapnya terkejut dengan apa yg dilihatnya. Lalu Netros pun memundurkan kaki kirinya dan membalikan badannya sehingga serangan tersebut lolos ke sebelah kiri badannya. Greg pun mencoba menendang Netros lagi dengan kaki kirinya. Namun Netros menangkapnya dan melemparnya ke belakang. Netros melompat dan berusaha menindih Greg, tapi Greg berkelit dan berhasil mengelak dari tidihan mematikan itu. Kemudian Netros menghentakan kakinya ke tanah. Tanah di depannya pun terangkat dan melempar Greg ke atas. Lalu saat di udara Greg di ambil dan di hentakkan ke tanah dengan belalainya. Greg tak mau kalah, kemudian ia pun bangkit dan terbang tinggi. Setelah cukup tinggi dia kemudian menggunakan jurusnya. “Hujan Kegelapan.” Ucapnya sambil mengibaskan sayapnya yg berwarna hitam tersebut. Dan dari sayapnya itu berjatuhanlah bulu-bulunya yg sekarang sekeras baja dan setajam pedang. Bulu-bulu hitam itu menuju tepat ke bawah ke arah Netros. Dan saat seperti itu, Netros kemudian meninju bumi dan keluarlah beberapa tanah menjulang di atasnya seperti tenda. 10 lapis tanah tersebut kemudian di sentuhnya dan di buat keras menjadi batu. Dan berjuta-juta bulu sekeras baja itu pun menghantamnya. Sehingga terdengar seperti sebuah senjata mesin. “Takkan ada yg bisa menahan seranganku itu sejak dulu. Dia pasti sekarang sudah mati.” Ujar Greg dengan percaya diri. Namun tiba-tiba ada sebuah batu besar mau menghantamnya. Dia pun berusaha menghindar. Tapi ternyata batu besar itu adalah Netros yg membungkukkan tubuhnya seperti trenggiling. Dan dari belakang Netros menghantam Greg dengan kedua tangannya. Greg pun terlempar ke bawah dan menubruk tanah. Belum sempat bangkit, Netros pun kemudian berusaha menindihnya. Namun sayang, Greg masih bisa menghindar dengan satu kepakan sayapnya ia dapat melesat cukup jauh. “Jurus apa barusan itu? Kenapa gerakanmu lebih cepat dari saat kita bertarung pertama kali?” tanya Greg. “Itu adalah jurus yg aku dapatkan saat berkelana dengan sahabatku.” Jawab Netros. Memang dulu Netros dan Abdul pernah berkelana bersama. Mereka berdua juga pernah bertemu dengan Raijuu dan Raiko. Dan saat itulah Abdul dan Raiko bertemu untuk pertama kalinya. Dan jurus itu pertama kali di usulkan oleh Raijuu. Di ceritakan saat itu mereka sedang lewat di sebuah desa, dan saat itu mereka masih berada di negeri siluman. Lalu tiba-tiba datang gerombolan siluman anjing mengacak-ngacak desa itu. “Abdul, apa yg harus kita lakukan?” tanya Netros. “Ayo kita bantu.” Sahut Abdul yg lalu terbang lebih dahulu, kemudian di susul oleh Netros dari bawah. Saat sampai di tempat terjadinya keributan. “Hey kalian, kalau berani lawan kami. Jangan hanya berani pada siluman yg lemah.” Tantang Abdul dari atas. “Ah, jangan ikut campur kau bocah!” tolak pemimpin siluman anjing itu. Kemudian Netros pun datang dan lalu menabrak para siluman anjing itu dari belakang. Para siluman anjing itu pun berjatuhan. Namun pemimpin siluman anjing itu dapat menghindar. Tapi Abdul dengan cermat memprediksi hal itu lalu menyambarnya. Dan kapten anjing itu pun jatuh berguling-guling. Merasa terdesak para anjing itu pun lari kocar-kacir ke segala arah. “Ou.. kalian hebat juga.” Kata seseorang dari atas. Abdul dan Netros pun melirik ke atas. “Dari mana asalnya suara itu?” ucap Abdul bertanya-tanya. “Aku juga tidak tahu.” Jawab Netros.
Kembali ke cerita, di tempat lain, Ariel dkk sedang menuju ke barat menuju ke pelabuhan. “Paman Abdul, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Ariel. “Ya, silahkan.” Terima Abdul. “Kapan paman pertama kali bertemu ayah?” tanya Ariel. “Hmm.. itu saat aku mengembara saat setelah aku dan Netros mengusir para siluman anjing dari sebuah desa. Tiba-tiba ayahmu dan bibimu sudah berada di atap rumah memperhatikan kami.” Jawab Abdul. Yg ia maksud adalah sambungan dari cerita di atas. Abdul dan Netros kaget melihat ada dua siluman serba putih menggunakan topeng ada di atap sebuah rumah. “Siapa kalian?” tanya Abdul. Kemudian salah satu dari siluman tersebut membukakan topengnya dan berkata, “Namaku adalah Raijuu. Salam kenal, siluman baik..” ucap Raijuu sambil tersenyum ramah. “Raijuu?! Ksatria siluman terhebat dalam sejarah itukah?” tanya Netros. “Ou.. kau terlalu melebih-lebihkan. Aku tak sehebat itu. Aku hanya siluman biasa, seperti kalian.” Jawabnya dengan rendah diri. “Lalu siapa yg ada di sebelahmu itu?” tanya Abdul sambil menunjuk pada siluman yg ada di sebelah Raijuu. “Hmm.. dia adikku. Namanya Raiko.” Jawab Raijuu sambil memperkenalkan Raiko. “Ayolah Raiko, buka topengmu saat berkenalan dengan siluman baik.” Bujuk Raijuu pada adiknya. “Mmh.. tapi kak, apa kakak yakin mereka siluman yg baik?” tanya Raiko. “Tentu saja. Kau tidak percaya pada kakak?” ucap Raijuu. “Tentu saja aku percaya kakak.” Sahut Raiko sambil memeluk Raijuu. “Kalau begitu buka topengmu itu.” Suruh Raijuu. Kemudian Raiko pun membukakan topengnya dan lalu menoleh ke arah Abdul dan Netros. Sambil tersenyum ia berkata, “Hai, namaku Raiko. Salam kenal. Kalian siapa?”. “Namaku Netros.” Sahut Netros. Abdul hanya diam dan terbengong melihat Raiko. “Hey, kamu ditanya tuh.” Ujar Netros sambil menyiku Abdul yg sedang melamun. “Eh, iya. Tadi kamu tanya apa?” ucap Abdul tampak bodoh karena gugup. “Hmm.. nama kamu siapa?” tanya Raiko lagi mengulang pertanyaannya. “Na..namaku Abdul.” Jawab Abdul. “Wah.. nama yg bagus.” Puji Raiko sambil tersenyum manis pada Abdul. “Sudah dulu perkenalannya. Kita harus pergi lagi.” Ujar Raijuu sambil mengajak Raiko pergi. “Semoga kita bisa bertemu lagi, Abdul”. Kemudian dengan sekilat cahaya, Raijuu dan Raiko pun menghilang dari hadapan mereka.
Malam hari mulai tiba, Abdul dan Netros mencari tempat bernaung. Tiba-tiba mereka melihat ada kerumunan orang yg kelihatannya bersiap pergi dari desa itu. “Hey, kalian mau kemana?” tanya Abdul pada siluman di desa itu. “Besok pastinya akan ada penyerangan. Karena kalian telah menggagalkan para pemungut pajak mereka, mereka pasti marah.” Jawab salah satu siluman disana. “Mereka siapa yg kalian maksud?” tanya Netros. “Para siluman anjing. Geng mereka pasti akan kembali dengan jumlah yg lebih banyak.” Jawab siluman yg lain. “Kalian tenang saja, kami akan membantu kalian.” Ujar Abdul. “Benarkah?” tanya salah satu warga desa tersebut. “Iya.” Jawab Abdul dengan percaya diri. “Hey..hey.. kita kan cuma anak-anak. Mana mungkin bisa menghajar siluman anjing sebanyak itu.” Bisik Netros. “Memangnya sebanyak apa sih?” tanya Abdul. “Pastinya banyak sekali sampai mereka pada ketakutan gitu.” Jawab Netros dengan suara pelan. “Memangnya sebanyak apa bu, siluman anjingnya?” tanya Abdul pada salah satu warga desa. “Sekitar seratus lah.” Jawabnya. “Apa?!!!! Seratus?!!” ucap Abdul sangat terkejut mendengar jumlahnya. “Kenapa?” tanya warga desa tersbut. “Gak apa-apa kok. Hehe..” sahut Abdul sambil tersenyum bodoh. Kemudian Abdul pun menjauh dari kerumunan yg sekarang sudah bubar tersebut, akibat mendengar kalau akan ada yg akan menjaga mereka. Abdul pun terduduk di bangku di depan sebuah rumah dan termenung. Netros pun menghampirinya dan berkata, “Hayo, kamu nyesel kan kalau sudah begini. Makanya jangan sombong.”. “Aku bukannya nyesel. Aku cuma bingung, bagaimana cara mengalahkan 100 siluman anjing sementara kita hanya berdua. Apalagi kita hanya anak kecil. Aku tidak tahu rencana apa yg bagus untuk mengalahkan para anjing itu.” Jelas Abdul sambil menopang dagunya dengan dua tangannya. “Kenapa harus bingung? Kan ada kami.” Ucap seseorang dari belakang. Abdul dan Netros pun menoleh ke belakang. Betapa kagetnya, ternyata di belakangnya ada Raijuu dan Raiko sedang berdiri. “Hmm.. maaf mengganggu, kami sebenarnya sudah cukup jauh tadi. Tapi adikku memaksa untuk kembali dan menginap disini. Jadi aku putar arah saja dan kembali kesini. Kenapa kalian murung sekali?” tanya Raijuu setelah menjelaskan kedatangannya. “Sebenarnya kami punya tugas menjaga desa ini dari penyerangan besok. Tapi kami tak punya rencana, di tambah kekuatan kami takkan cukup menahan mereka semua.” Jelas Abdul dengan nada sedih. “Aku akan membantu kalian.” Ujar Raijuu. Mereka berdua pun senang mendengar pernyataan Raijuu tersebut.
Esok harinya, mereka sudah bersiap-siap menunggu para siluman anjing itu di gerbang desa. “Mereka datang.” Ucap Raijuu yg mendengar suara kaki para anjing tersebut. “Kalian tetaplah di belakangku. Aku akan jadi ujung tombak kalian.” Perintah Raijuu. Abdul dan Netros pun mengerti lalu mengambil posisi di belakang Raijuu. Raijuu pun bergerak dengan secepat kilat dan menyambar para anjing itu sedangkan Abdul berhasil mengurus sisanya. Sementara Netros tertinggal jauh di belakang, berusaha berlari dengan sekuat tenaga namun malah kehabisan tenaga. “Hey, kawan-kawan. Tunggu aku. Kalian tahu kan aku tuh gak bisa berlari dengan cepat.” panggil Netros dengan terengah-engah dan terduduk karena kecapean. Dia pun berbaring dan tertidur disana. Tidak lama kemudian Raijuu dan Abdul kembali. “Hey.. kenapa kau malah asik-asik tidur disini sementara kami bertempur?” tanya Abdul sembari membangunkan Netros. “Whooaaaa.. maaf aku tadi kecapean mengejar kalian, jadi aku tidur aja. Soalnya kalian kecepetan sih.” Jawab Netros sambil menguap dan bangun. “Apa pertempurannya sudah selesai?” tanya Netros. “Yah, udah dari tadi kali.” Jawab Abdul dengan nada jengkel. “Kenapa tidak menggelinding saja?” ujar Raijuu. “Apa kau bilang?! Kurang aja!!” bentak Netros yg marah dan berusaha menyerang Raijuu namun ditahan oleh Abdul. “Ayolah, temanku ini memang gemuk. Tapi jangan sekali-kali mengejeknya seperti itu. Jangan mentang-mentang kamu bisa bergerak bagaikan kilat kamu bisa mengejek orang.” Ucap Abdul. “Aku tidak bermaksud untuk menghina. Aku cuma mau memberikan saran saja. Coba kalian perhatikan roda yg di buat manusia. Mereka bulat dan berat. Tapi mereka bisa bergerak sama cepatnya dengan roda yg kecil dan ringan.” Jelas Raijuu. Abdul dan Netros hanya melongo mendengar hal itu. “Baiklah akan ku ajarkan kau caranya. Ikut aku.” Ajak Raijuu pada mereka berdua. Mereka berdua pun mengikuti Raijuu. Dan lalu Netros pun diajari cara menggelinding ala trenggiling ini.
Kembali ke cerita, Netros masih bertarung dengan Greg. Greg sangat geram dengan jurus yg baru Netros keluarkan. Dia mampu bergerak sangat cepat. Serangannya adalah pertahanannya, dan pertahanannya adalah serangannya. “Sekarang kau akan benar-benar mati.” Kata Netros pada Greg yg sudah sangat kelelahan. Kemudian Netros pun berusaha menyerang lagi, namun Greg sekarang memanggil senjata andalannya. “Pedang Penghancur!” teriaknya pada pedang yg bisa berputar seperti bor itu. Kemudian dia pun menusukkan mata bor itu pada Netros, dan terlihat Netros terluka akibat gesekan dengan pedang itu. “Argh!” teriak Netros yg lalu mundur kembali. “Haha.. sekarang kau takkan bisa mengalahkanku.” Ucap Greg. “Aku terpaksa gunakan jurus terlarang itu kalau begitu.” Ujar Netros pelan sambil menahan sakit yg ia rasakan. “Inilah teknik amukan gunung merapi.” Ucapnya sambil mengumpulkan semua tenaganya dalam satu titik. “Teknik macam apa itu?” kata Greg bertanya-tanya dalam hatinya. “Ini adalah teknik terlarang yg aku pelajari bersama sahabatku dari guru Salamender.” Jawab Netros. Kemudian suhu tubuh Netros meningkat dan begitu pula di sekitarnya. Tubuh Netros nampak retak, dan dari retakannya tersebut keluar cahaya merah menyala seperti api. Greg nampak ketakutan, karena ia memang bisa mati jika dibakar hangus tak bersisa. Kemudian Greg pun mencoba menusukan pedang bor nya. Tapi sia-sia, karena tubuh Netros sekarang merupakan cairan magma. Yg ada hanya pedang pun jadi panas dan meleleh. Dengan satu pukulan, Greg pun terpental jauh oleh Netros. Kemudian Netros pun menindihnya. Greg berusaha untuk keluar dari tindihan itu dengan sekuat tenaganya. “1.000.000 kg!!!” teriak Netros memanggil kemampuan berat maksimumnya. Dan tanah disana pun langsung retak melingkar dan sangat luas saking sangat beratnya. Greg sudah tak bisa menghindar lagi. “Apa kau tahu kenapa ini di sebut teknik terlarang?” tanya Netros. “Aku tidak tahu.” Jawab Greg dengan nafas sesak. “Karena saat ku gunakan teknik ini, aku akan terlalu panas. Dan apa kau tahu apa yg terjadi jika suatu benda terlalu panas?” tanya Netros lagi. Greg menggeleng tanda tidak tahu. “Maka itu akan meledak.” Sambung Netros. Greg nampak kaget dengan ucapan Netros itu lalu. “Duaaaaaarrrrr...!!!” Mereka berdua pun meledak, dan ledakan itu setara dengan bom atom mini yg mampu menghancurkan sebuah kota. Dari kejauhan Abdul melihat ledakan dahsyat itu, dan ia pun menangis. “Tidaaak.......!!” teriaknya sambil menangis karena sangat sedih ditinggalkan yg selalu bersamanya sejak masih kecil. Dua orang siluman yg selalu bersama akhirnya dipisahkan oleh maut.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.