God Gendros Generations (3G), part 4
Netros sedang bertempur dengan sengit melawan komandan Greg. Sedangkan Randon, terbang menuju tempatnya Abdul. Dia berusaha terbang secepat mungkin. Sementara itu Abdul sedang berjalan dengan santai menuju markas karena tugasnya sudah selesai. Di saat seperti itu, ia merasakan seseorang datang menuju ke arahnya. Saat ia melihat ke langit, ia melihat Randon terbang ke arahnya dengan kecepatan tinggi. “Ada apa ini? Kenapa dia malah kemari?” ucap Abdul bertanya-tanya. “Siapa yg sedang kemari, guru?” tanya Thony. “Randon.” Jawab Abdul. Kemudian Abdul pun terbang ke arah Randon. “Guru Abdul!!” panggil Randon. “Iya ada apa? Kenapa kau malah terbang kemari? Bukannya kau seharusnya membantu gurumu disana?” tanya Abdul keheranan. “Kami terpojok. Disana pasukannya di pimpin oleh orang yg sangat kuat. Guru Netros kewalahan melawannya.” Jawab Randon menjelaskan semuanya. “Benarkah? Memang siapa yg sedang ia lawan?” tanya Abdul lagi. “Aku tidak tahu. Tapi ia punya sayap hitam dengan cakar yg tajam.” Jawab Randon lagi. “Hmm.. jangan-jangan siluman gagak. Kalau begitu dimana posisi Netros sekarang?” tanya Abdul lagi. “Guru Netros masih pada posisi semula.” Jawab Randon. “Thony! Bardox! Ikuti aku!” suruh Abdul pada anak buah yg sedang berada di bawahnya. “Siap, bos!” jawab mereka berdua. “Kau cepat kembali ke markas dan bawa Ariel dan yg lain menuju ke tempat Raiko. Secepatnya!” perintah Abdul pada Randon. “Baik, guru Abdul.” Terima Randon yg lalu terbang menuju markas. Sementara Abdul dan 2 muridnya menuju ke tempatnya Netros.
Di barisan pertahanan Raiko, pertempuran sudah selesai karena memang disana tak ada pemimpinnya. Jadi mereka bisa membereskannya dengan mudah. “Apa dibawah sana juga sudah selesai?” tanya Raiko pada dua muridnya. “Ya, guru. Kami sudah selesai.” Jawab mereka. “Kalau gitu kita kembali ke markas.” Ajak Raiko pada dua muridnya. “Tapi kami masih cape, guru. Istirahatlah dulu sebentar.” Pinta Frenki sambil terduduk lemas. “Ya, baiklah kalau begitu. Kita istirahat disini beberapa menit.” Terima Raiko sambil turun dari atas pohon. “Hmm.. kata guru Netros, guru Abdul suka pada guru Raiko ya?” ucap Seila mencoba menggoda gurunya. “Kamu bicara apa? Mana mungkinlah Abdul bisa suka padaku. Kami kan sering bertengkar kalau sedang bersama.” Sahut Raiko sambil menyenderkan kepalanya di batang pohon. “Tapi emang bener lho, guru. Aku sering lihat kalau guru Abdul sering curi-curi pandang gitu untuk melihat guru.” Tambah Frenki sambil tersenyum. “Ah, sudahlah jangan bahas dia lagi. Gak penting banget tahu. Dia kan bukan tipeku.” Tukas Raiko sambil memalingkan wajahnya. “Emm.. tapi kok wajah guru merah saat kami Frenki bilang begitu? Jangan-jangan guru juga suka ya. Hayoo..” ujar Seila pada gurunya. “Ah, lama-lama disini panas. Aku lebih baik pergi saja.” Ucap Raiko yg lalu bangkit dan melompat pergi dari pohon ke pohon. “Bilang saja mau menghidar gak mau ketahuan. Padahal aku tahu banget gelagatnya yg pura-pura benci pada guru Abdul.” Ucap Frenki sambil tersenyum. “Ya, emang kelihatan banget kalau guru juga suka pada guru Abdul. Aku suka lihat guru sering senyum-senyum sendiri setiap kali setelah ngobrol berdua dengan guru Abdul.” Sambung Seila. “Hmm.. benarkah?” tanya Frenki. “Iya.” Jawab Seila.
Sementara itu Abdul belum juga sampai di tempat Netros, sedangkan Netros sudah sangat kesusahan melawan komandan Greg. Mereka berdua hampir seimbang. “Haa.. kurang ajar kau.” Ucap Greg dengan nada geram terbang menyerang Netros. Dan Netros pun menangkap serangan Greg dengan kedua tangannya. Namun saking kuatnya serangan Greg, Netros pun terseret ke belakang. “20.000 kg!!” teriak Netros memanggil kekuatannya. Maka dengan serentak berat badannya pun bertambah jadi 20 ribu kg. Namun masih terseret juga oleh kekuatan Greg. Dari atas terdengar suara teriakan elang, dan tiba-tiba ada bayangan berwarna coklat menyambar Greg dan menyeretnya menghantam pepohonan di hutan itu. Itu adalah Abdul dengan tendangannya. “Guru Netros tidak apa-apa?” tanya Thony yg baru saja sampai di tempat itu bersama Bardox. “Thony, Bardox. Aku tidak apa-apa kok.” Jawab Netros dengan nafas yg ngos-ngosan. Lalu terdengar teriakan-teriakan elang dan gagak dari arah hutan. Kelihatannya Abdul dan Greg sedang bertarung. “Bardox, kau jaga guru disini. Aku akan membantu Sasha.” Pinta Thony pada Bardox di belakangnya. “Hey..hey.. apa hakmu memerintahku? Apalagi aku sedang marah padamu karena kejadian di pertempuran tadi.” Tolak Bardox yg masih kesal gara-gara di tiup oleh Thony. “Baiklah aku minta maaf. Tapi tolong ya jaga guru disini.” Pinta Thony lagi dengan sangat. “Emm.. bilang saja kau mau cari perhatian padanya. Iya kan?” goda Bardox sambil tersenyum mengejek. “Buk!” Bardox pun di pukul kepalanya. “Hey, kenapa kau memukulku?” tanya Bardox. “Jangan bilang-bilang disini. Malu kan sama guru.” Jawab Thony dengan wajah yg merah. “Kenapa harus malu? Jatuh cinta kan alami.” Sahut Bardox. “Ya sudah lah” ucap Thony yg kemudian berlari menuju tempat Sasha menahan para pasukan anjing dengan jaringnya yg tajam. Sehingga tak ada satupun yg berani lewat, karena setiap yg lewat jaring itu tubuhnya akan terpotong. Thony yg sudah sering melihat Sasha menggunakan jurus dan kemampuannya sudah tahu harus melakukan apa. Ia pun menuju sisi lain jaring lalu bertarung dengan para pasukan anjing. Dia mengubah wujudnya jadi serigala sepenuhnya, namun tidak seperti serigala asli, ia dapat berdiri layaknya manusia. Sementara itu Abdul sedang bertarung dengan Greg yg sama-sama dari jenis burung. Mereka berdua saling menedang, mencengkeram, dan saling membanting. Namun Abdul terlihat lebih unggul dalam hal kegesitan dan kecepatan. Dia bisa menghindari semua serangan Greg dengan mudah. Greg pun geram dan berusaha menendang Abdul dengan cakarnya, namun Abdul dengan mudah menangkapnya dan membantingnya memutarnya ke belakang dan membantingnya ke tanah. Dan setelah itu, ia berputar-putar sembari tetap memegang erat kaki greg dan lalu melepaskannya sehingga Greg terlempar. Kemudian Abdul terbang mengejar Greg yg terlempar. Dengan kecepatannya tanpa kesulitan ia mampu menyusulnya dan lalu menendang balik Greg ke arah berlawanan. Kemudian terbang lagi menyusul tubuh Greg dan lalu menendangnya ke atas sampai Greg terlempar ke atas langit menembus awan. Greg berusaha menahan lemparan Abdul tersebut, namun tiba-tiba Abdul sudah berada di belakangnya. Abdul pun mengunci tubuh Greg dan membawanya terbang ke bawah dengan kecepatan tinggi. “Aaaaaaarrrrgghhh...!!” teriak Greg yg menghantam tanah, sementara Abdul terbang kembail ke atas sebelum menghantam tanah. Tanah di sekitarnya pun terlihat hancur saking kuatnya hantaman itu. “Gagak ini menyusahkan juga.” Ucap Abdul sambil terbang menuju tempat Netros. Namun Abdul tidak tahu kalau Greg masih hidup. Dia adalah siluman abadi. Satu-satunya cara membunuhnya adalah dengan dibakar atau di ledakan sampai tak tersisa. Abdul pun sampai di tempatnya Netros. “Netros, kau tidak apa-apa?” tanya Abdul dengan nada khawatir pada sahabatnya tersebut. “Tenang saja. Aku akan selalu baik. Apa kamu sudah membunuhnya?” jawab Netros yg lalu bertanya balik. “Tenang, sudah aku hancurkan kepalanya dengan jurus ‘Hantam Bumi’ku.” Jawab Abdul dengan percaya diri. “Maaf aku lupa bilang padamu kalau dia tak bisa mati. Tadi aku sudah lakukan teknik ‘Himpit Bumi’, namun dia bisa keluar lagi tanpa luka dan tulang yg patah sedikitpun.” Ujar Netros. “Apa?! Kalau begitu dia..” ucap abdul tidak percaya. “Ya, dia pastinya sekarang masih hidup.” Sahut Netros. “Bardox, dimana Thony?” tanya Abdul pada Bardox. “Tadi dia pergi menolong Sasha. Emm.. tuh dia nongol.” Jawab Bardox sambil nunjuk ke arah Thony yg terlihat menggendong Sasha di punggungnya sambil berlari kencang. “Apa disini sudah selesai?” tanya Thony dengan terengah-engah saat tiba dihadapan gurunya. “Sebenarnya belum. Sebelum musuh kita bangkit lagi kalian semua cepat pergi ke barat. Aku akan terbang di belakang untuk menjaga kalian darinya. Cepatlah!” suruh Abdul pada semuanya dan mereka pun menurutinya. Mereka semua berlari ke arah barat, sementara Abdul terbang pelan di belakang mereka. “Hoooaaaaaaaa...!!” terdengar suara geraman Greg dari kejauhan. “Aduh.. gagak ini benar-benar merepotkan.” Ucap Abdul pelan sambil menoleh ke belakang. Greg bangkit tanpa cacat sedikitpun. Kemampuan abadi inilah yg membuatnya jadi komandan peringkat kedua. Greg kemudian terbang mengejar Abdul, dkk dengan kecepatan tinggi. Abdul dapat melihat Greg yg mengejarnya. Kemudian Abdul terbang berbalik dan menyongsong Greg untuk menahannya sementara. Namun Greg tiba-tiba menghilang dari hadapan Abdul. “Sial, kemana dia?” ucap Abdul sambil celingak-celinguk dan menghentikan terbangnya. Ternyata Greg sudah ada di belakangnya. Namun Abdul waspada, ia tahu kalau Greg ada di belakangnya dan berusaha mencengkeramnya dengan cakarnya. Abdul pun berbalik dan menangkap kaki itu. “Oh jadi begitu. Kau berusaha mengelabui mataku dengan cara berbelok dengan tiba-tiba. Hebat sekali.” Ucap Abdul memuji Greg. Lalu sekali lagi Greg pun di putar-putar dan di lempar. Sebelum menyentuh tanah, Abdul yg juga mempelajari teknik bumi dari sahabatnya Netros lalu menghentakkan kakinya ke tanah. Dan membuat tanah-tanah di depannya jadi berduri, sampai ke tanah tempat dimana Greg akan jatuh. “Oo..ou..”ucap Greg saat melihat tanah berduri tersebut. Dan lalu tubuhnya pun tertancap di duri tanah tersebut. “Haha.. kau tak tahu ya, aku ini takkan bisa mati.” Ujar Greg dengan nada keras menantang Abdul. “Ya, aku memang takkan bisa membunuhmu. Tapi ini akan bisa menahanmu beberapa saat.” Sahut Abdul sambil menghentakkan kakinya lagi ke bumi. Dan kemudian bagian ujung duri yg meruncing pun jadi melebar dan bergerigi. Sehinggan akan susah dicabut. Apalagi tanahnya sudah dikeraskan hingga mirip batu. “Bangsat! Kau adalah tipe burung, kenapa menguasai elemen bumi?” tanya Greg dengan nada marah. “Itulah gunanya punya sahabat yg punya tipe bumi. Kita bisa belajar kapanpun tanpa harus membayar.” Jawab Abdul yg lalu terbang lagi menyusul Netros dan yg lainnya.
Di perjalanan, Netros dan yg lainnya bertemu dengan Ariel, Gredo, Luna, dan Randon. Ariel di bawa Gredo terbang, karena Ariel belum bisa berlari cepat seperti kekuatan klan kucing pada umumnya. “Hmm.. jadi ada apa ini? Kenapa kami tiba-tiba di suruh lari?” tanya Gredo bertanya pada yg lainnya. “Kita di serang oleh siluman berkemampuan tinggi. Aku dan Abdul tak bisa mengalahkannya. Dia adalah siluman abadi.” Jawab Netros sambil tetap berlari. Tidak lama kemudian Abdul berhasil menyusul mereka. “Ouw.. semuanya sudah kumpul. Kita tinggal jemput Raiko dan muridnya.” Ucap Abdul yg lalu kembali meninggikan terbangnya. Di tempat lain, Greg masih berusaha melepaskan diri dari jebakan Abdul. “Bedebah! Elang itu kenapa jenius amat. Ngerjai aku sampai segininya.” Gerutu Greg karena hatinya sangat kesal dan jengkel. Lalu dengan sekuat tenaga di menarik tubuhnya dari duri itu, walau sangat sakit dan pedih rasanya. “Sial, kelihatannya aku harus menggunakan kemampuan tahap akhirku disini. Kemudian dia pun berevolusi menjadi bentuk sempurna. Sayapnya jadi ada 2 pasang. Sedangkan kakinya yg berbentuk cakar kini berlapis besi dan baja. Dan sekarang kekuatannya pun meningkat 2 kali lipat. Dengan satu kali dorongan sayap yg cukup kuat, dia berhasil meloloskan diri dari jebakan itu. “Haha.. dengan ini aku akan mengalahkan elang sialan itu. Hahaha..” ucap Greg dengan nada sombong. Lalu ia terbang mengejar Abdul yg sudah jauh. Di saat yg bersamaan, Abdul sampai di tempat Frenki dan Seila sedang istirahat. “Frenki, Seila, dimana guru kalian?” tanya Abdul yg mendarat tepat di depan mereka. “Guru Raiko tadi pergi ke sebelah sana.” Jawab Seila sambil menunjuk ke arah Raiko pergi. “Kenapa harus ke timur sih?” ujar Abdul dalam hatinya dan lalu terbang menuju ke arah timur untuk menjemput Raiko. “Frenki, Seila, cepat ikuti kami!” perintah Netros. “Emang kita mau kemana?” tanya Frenki. “Sudah ikuti saja, jangan banyak tanya.” Jawab Netros yg lalu melanjutkan ke arah barat dengan yg lainnya. Frenki dan Seila pun mengikuti mereka. Merekapun terus menuju barat dengan kecepatan tinggi. “Sebenarnya kita mau pergi kemana?” tanya Ariel. “Kami berencana untuk menemui seseorang yg bisa melatihmu menggunakan kemampuanmu itu.” Jawab Netros. “Siapakah orang itu?” tanya Ariel lagi, penasaran. “Dia adalah guru dari Ayahmu. Gurunya para guru. Namanya adalah Raiden.” Jawab Netros sambil menoleh ke arah Ariel. “Raiden?! Guru para guru?!” ucap Ariel kaget saat mendengar hal itu. Abdul yg sedang menuju ke arah timur mencari Raiko merasakan Greg semakin mendekat. Tiba-tiba dia melihat sesuatu. “Ah, ekor putih itu!” katanya sambil terbang menghampiri tempat itu. “Ternyata benar itu kau Raiko.” Ucap Abdul menghampiri Raiko yg sedang termenung di pinggir sungai. “Kenapa kau ada disini?” tanya Raiko yg kaget ternyata Abdul sudah berdiri di belakangnya. “Ayo kita pergi dari sini!” ajak Abdul pada Raiko sambil mengulurkan tangannya. “Memangnya mau kemana?” tanya Raiko lagi dengan wajah cemberut. “Sudahlah, pokonya ikut saja.” Jawab Abdul. “Aku gak mau kalau kamu ngajak.” Sahut Raiko sambil memalingkan muka. “Aaah.. terpaksa aku harus melakukannya.” Ucap Abdul yg lalu memangku Raiko lalu membawanya terbang. “Kyaa.. lepaskan aku! Atau aku sengat kau!” ancam Raiko. “Aku takkan pernah melepaskanmu walau apapun yg terjadi.” Sahut Abdul dengan nada serius. Kemudian Raiko pun menyengatnya dengan kekuatan petir miliknya. Namun Abdul dapat menahannya dan tetap terbang seperti biasa. Raiko menatap wajah Abdul dan nampak ada darah menetes di pinggir bibirnya akibat sengatan barusan. Abdul pun menatap ke arah Raiko dan tersenyum lalu berkata, “Sebaiknya kau pegangan erat-erat, aku akan menambah kecepatan terbangku.”. Raiko pun menurutinya dan berpegan erat memeluk Abdul dan mencengkeram bajunya lalu memejamkan matanya. Abdul pun menambah kecepatan terbangnya.
Ariel, dkk sudah sampai di gerbang benteng pertahanan tempat dulu para pasukan anjing berada. “Kenapa mereka berdua lama sekali?” kata Netros bertanya-tanya. “Mungkin mereka berdua lagi pacaran dulu.” Sahut Frenki. “Ah, masa? Sekarang kan bukan saatnya untuk lakukan itu. Abdul adalah orang yg bijak. Dia tak mungkin melakukan hal yg seperti itu di saat genting seperti ini” tukas Netros. “Tuh mereka datang.” Ucap Randon yg dapat melihat Abdul datang bersama Raiko. “Sial! Siluman gagak itu ada di belakang mereka dan sangat cepat sekali.” Kata Randon lagi, khawatir. Netros pun bersiap-siap di depan lalu merubah tubuhnya menjadi siluman gajah seutuhnya. Dan Netros menggapai Abdul dan Raiko dengan belalainya yg memanjang dan melemparnya ke belakangnya sementara Netros berbalik dan menghantam Greg dengan bokongnya. Greg pun terpental jauh. “Cepat kalian pergi! Biar aku yg menahannya.” Suruh Netros pada yg lainnya. “Tidak, aku takkan meninggalkanmu. Biar aku membantumu kawan.” Tolak Abdul sambil menurunkan Raiko. ”Sudahlah, sahabatku. Biarkan aku akhiri disini. Aku senang pernah bersahabat dengan kalian beruda, Abdul, Raiko. Semoga kita bisa bertemu lagi di kehidupan selanjutnya.” Ucap Netros. “Jangan kau katakan kau akan gunakan jurus itu. Kau tak boleh gunakan teknik itu. Itu..itu..” kata Abdul sambil berusaha menghampiri Netros, namun di tahan oleh Raiko. “Sudah Abdul, kita harus hargai keinginannya itu. Ayo kita pergi.” Bujuk Raiko pada Abdul. Dan akhirnya Abdul pun meninggalkan Netros walau dengan berat hati. Ariel pun sangat sedih melihat hal itu. Ia tak bisa membantu dan melakukan apapun karena ia tak punya kekuatan apa-apa. Dan mereka semua pun meninggalkan Netros untuk menghadapi Greg sendirian.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.