God Gendros Generations (3G), part 6
Netros telah tiada mengorbankan dirinya untuk melindungi Ariel dkk. Sebagai sahabat, Abdul pun merasa sedih akan hal itu. Ia kehilangan sahabat yg selalu bersamanya sejak masih kecil. Dia masih teringat saat-saat tertawa bersama, dan menangis bersama. Saling berbagi dan saling memperbaiki. Sejak kecil kemana-mana mereka selalu berdua. “Kita istirahat dulu disini.” Ucap Abdul sambil tertunduk lesu menyuruh semuanya untuk istirahat, karena hari sudah malam. Saat itu mereka ada di sebuah gunung. “Kalian semua cepatlah tidur. Besok kita pagi-pagi sekali berangkat.” Suruh Abdul lagi pada yg lain dengan mata sayu. Kemudian semuanya pun tidur, kecuali Ariel dan Gredo. Seperti biasa Gredo memang suka terbang kemudian mencari makanan di tengah malam. Dan sementara Ariel tidak bisa tidur karena memikirkan sesuatu hal. Dia berusaha memejamkan matanya namun tak pernah bisa tidur. Tiba-tiba terdengar suara kepakan sayap dari arah belakang. Ariel pun tahu itu Abdul, karena Gredo sudah berangkat dari tadi. Di tambah, Abdul memang baru saja kehilangan temannya, pastinya dia tidak bisa tidur juga memikirkannya, itu pikir Ariel. Ariel pun bangun dan berusaha mengikuti Abdul dari suara kepakan sayapnya. Tidak berapa lama ia sampai di sebuah tebing, dan mendapati Abdul sedang duduk di atas dahan pohon pinggir tebing itu. Terlihat dia sedang memandang rembulan yg tak bulat lagi seperti kemarin. “Bulannya indah ya?” ujar Ariel sambil menghampiri Abdul. “Iya, ini mengingatkanku saat aku di hukum oleh guru Garuda karena melanggar aturan sekolah dulu. Di saat aku kelaparan di gantung di pinggir tebing, Netros datang diam-diam dan memberikanku makanan dengan belalainya. Dia dan aku menghabiskan malam sambil membicarakan keidahan bulan saat itu.” Jelas Abdul menceritakan masa lalunya bersama Netros. “Jadi paman pernah bersekolah?” tanya Ariel penasaran. “Ya, saat itu kami diberi tahu oleh ayahmu untuk bersekolah di sekolah siluman tingkat tinggi. Yg sebenarnya sekolah itu untuk orang-orang penting dan keturunan raja-raja saja.” Jawab Abdul sambil tersenyum memandang bulan. “Jadi kenapa paman bisa masuk?” tanya Ariel lagi penasaran. “Hmm.. ceritanya seperti ini..” kata Abdul yg lalu menceritakan secara detail kejadian saat itu.
Cerita itu dimulai saat Abdul dan Netros bertemu Raijuu. Dan mereka berhasil menghindarkan sebuah desa dari penyerangan geng siluman anjing. Netros pun di ajak ke sebuah hutan untuk diajarkan jurus menggelinding. “Baiklah Netros, jadi kita sekarang akan pelajari teknik dasarnya dulu.” Ujar Raijuu pada Netros yg berdiri di depannya. Dari kejauhan Abdul memperhatikan mereka. “Hmm.. jadi bagaimana teknik dasar tersebut?” tanya Netros penasaran. “Pertama kamu harus bisa menguasai putaran terlebih dahulu. Coba kamu berlari melingkari batang pohon itu 100x” suruh Raijuu sambil menunjuk sebuah pohon kelapa. “Ah, itumah kecil.” Ucap Netros meremehkan tugas itu. Kemudian Netros pun berlari mengitari pohon kelapa itu. Baru beberapa putaran Netros sudah muntah-muntah lalu pingsan. “Mmh.. kelihatanya ini akan jadi lama sekali.” Ujar Raijuu sambil geleng-geleng kepala. Saat makan siang pun tiba, Raiko datang membawa beberapa makanan yg ia dapat dari desa dekat hutan itu. “Hey semuanya, ayo kumpul kemari. Aku bawakan beberapa makanan. Kalian pasti lapar setelah latihan.” Panggil Raiko pada semuanya sambil menggelar kain di bawah pohon yg rindang. Saat mendengar ada makanan, Netros langsung bangun dari pingsannya dan berlari menuju makanan yg di bawa Raiko. Namun belum sempat sampai, Raijuu menangkap kerah bajunya sehingga Netros jatuh di tanah. “Kau sebaiknya jangan langsung makan. Aku tak ingin kamu tiba-tiba muntah di depan kami karena masih pusing. Istirahatlah dulu.” Ujar Raijuu mengingatkan Netros akan keadaannya sambil bersender di pohon kelapa. “Tapi kan..” tolak Netros. “Ini kamu minum ini saja.” Suruh Raijuu sambil mengetuk pohon kelapa tersebut dan salah satu buahnya pun jatuh di tangannya lalu di berikan kepada Netros. “Bagaimana cara bukanya?” ucap Netros bertanya-tanya. “Pegang yg baik.” Suruh Raijuu pada Netros. Kemudian dengan sangat cepat Raijuu menebas bagian atas kelapa itu hingga berlubang. Lalu Raijuu pergi menghampiri Raiko dan Abdul yg siap makan. “Satu kan gak akan cukup untukku.” Ujar Netros sambil melihat ke arah kelapa yg ukurannya kecil itu. Kemudian dia pun menendang pohon kelapa itu hingga semua buah kelapanya jatuh. “Wah gawat!” ucapnya saat ternyata buah-buah kelapa itu jatuh ke arahnya. Dan buah-buah kelapa itu pun jatuh dan menguburnya. “Temanmu itu lucu sekali ya. Tapi kukira dia itu adalah sahabat yg baik. Karena ia tipe orang yg mengorbankan segalanya untuk sahabatnya.” Ucap Raijuu pada Abdul sambil mengambil nasi. “Ah, kau tahu dari mana?” tanya Abdul tidak percaya. “Memang menurutmu ia mau mempelajari jurus ini untuk apa? Itu untuk bisa mengimbangi kecepatanmu. Ia tak mau terus merasa harus dilindungi oleh kamu. Sekali-kali ia juga mau melindungimu.” Jelas Raijuu sambil mengambil lauk untuk nasinya. Abdul tercengang mendengar perkataan Raijuu itu. “Guru Raijuu, tolong bukakan kelapa ini juga!” pinta Netros sambil memperlihatkan semua kelapa yg ia jatuhkan. “Ya udah kamu gelindingkan saja.” Suruh Raijuu pada Netros. Kemudian Netros pun mematuhinya dan menggelindingkan kelapa itu satu persatu. Saat semuanya sudah sampai Netros pun menghampiri Raijuu yg sedang membelah kelapa-kelapa itu. Dengan sekali tebasan pedang, semua kelapa itu berhasil di belah atasnya hingga berlubang. Raijuu pun memisahkan tiga kelapa untuk di minum bersama Abdul dan Raiko. Sesuai janji, Raijuu menyisakan makanan untuk Netros setelah Netros selesai minum. Kemudian mereka kembali berlatih setelah makan. “Ayo sekarang kita coba lagi.” Ujar Raijuu mempersilahkan Netros untuk memutari pohon kelapa itu lagi. Netros pun melakukannya dan gagal sampai berkali-kali. Saat menjelang malam dia terlalu lelah hingga tak dapat berjalan pulang menuju penginapan. “Abdul, kau yg bawa dia.” Suruh Raijuu pada Abdul. “Apa?! Kenapa harus aku?” tanya Abdul. “Kamu kan sahabatnya. Kamu harus mau sedikit berkorban.” Bujuk Raijuu sambil tersenyum lalu pulang lebih dulu menuju penginapan. “Ini mah bukan pengorbanan yg sedikit. Tapi pengorbanan yg ‘berat’” ucap Abdul sambil tertunduk lesu. “SudahlahAbdul, kalau kamu mau pergi duluan ya pergi saja. Aku mau disini dulu. Aku akan selesaikan latihan ini dalam satu malam.” Ujar Netros dari belakang sambil berbaring menatap bintang. “Kamu yakin dengan keputusanmu?” tanya Abdul. “Ya. Kau tenang saja, sahabatku. Aku takkan apa-apa.” Bujuk Netros. “Baiklah kalau begitu.” Terima Abdul yg lalu terbang menuju penginapan. Netros pun bangkit dan menatap ke arah pohon kelapa itu. Dia mengepalkan tangannya, lalu berlari sekuat tenaga ke arah pohon kelapa itu.
Pagi pun datang, Raijuu dan Abdul pun bergegas pergi menuju hutan tempat latihan kemarin. “Kemana dia?” tanya Raijuu. “Semalam ia katakan kalau ia mau latihan disini.” Sahut Abdul sambil celingak-celinguk mencari Netros. Raijuu pun mencoba mencari dengan penciumannya. “Ah.. ternyata dia sudah berhasil menguasainya. Padahal aku cuma mengajarkan teknik dasar saja.” Ucap Raijuu sambil menoleh ke arah puncak pohon kelapa. Ternyata Netros sedang tidur di atas pohon kelapa itu. “Bagaimana dia bisa berada di atas pohon kelapa itu?” kata Abdul bertanya-tanya. “Itu bisa saja dilakukan, kalau kau sudah menguasai teknik putaran. Dengan teknik putaran, kau bisa memguasai juga 3 teknik lainnya. Pertama teknik bor, kedua teknik roda, dan ketiga teknik angin tornado.Dan dia dapat menggunakan dengan baik teknik roda itu. Dengan sudut lebih dari 90 derajat, masih mungkin untuk roda bisa memanjat.” Jelas Raijuu. “Jadi dia juga menguasai elemen angin?” tanya Abdul lagi. “Ya, dan ada baiknya kamu juga berlajar dari dia. Karena dengan begitu, kalian akan jadi partner yg hebat. Kalian akan saling melengkapi.” Jawab Raijuu sambil tersenyum. “Tapi aku masih tidak percaya dia sudah menguasainya.” Ucap Abdul. “Coba saja kalau gitu.” Tantang Raijuu yg lalu terbang menuju ke penginapan. “Hmm.. bagaimana cara mengujinya ya. Aha.. aku dapat ide.” Ucap Abdul sambil mengacungkan jari telunjuknya. “Hey Netros, di penginapan lagi banyak semangka lho! Kalau gak cepet-cepet nanti aku habisin sendiri aja!” teriak Abdul yg lalu terbang menuju penginapan. Netros pun terperanjat dan bangun mendengar hal itu. Ia pun melihat ke langit dan melihat Abdul menuju ke penginapan. Ia tak mau kehabisan semangka dan lalu mengejarnya. Ia melakukan teknik baru itu dan berhasil menyusul Abdul. “Waduh.. cepet banget. Baiklah akan aku kejar dia.” Ujar Abdul yg lalu menambah kecepatannya. Tapi karena jalannya menurun, Netros tetap unggul. Sesampainya di penginapan Netros melihat Raiko yg kebetulan sedang membawa semangka. Netros pun merebutnya dan langsung memakannya. Lalu dari atas terdengar suara elang, dan Abdul pun tiba. “Hmm.. sekarang kau sudah bisa melebihiku ya.” Puji Abdul sambil tersenyum. “Temanmu itu kenapa sih main rebut-rebut aja. Aku kan mau ngasih semangka itu untuk kakak.” Ucap Raiko sambil cemberut. “Ah, adikku kau jangan bohong. Bukannya tadinya kamu mau memberikan itu pada Abdul.” Goda Raijuu yg sedang duduk di dahan pohon sambil menikmati sepotong semangka. “Untukku?!” ucap Abdul dengan wajah merah. Lalu Raiko pun memalingkan wajahnya berpura-pura ngambek. Padahal ia ingin menyembunyikan wajahnya yg juga memerah. “Nah, Raiko sekarang saatnya kita pergi lagi. Kukira kamu takkan mengkhawatirkan Abdul lagi karena sudah ada Netros yg akan menjaganya.” Ajak Raijuu sambil turun dari atas pohon. “Sekarang?! Tapi kan..” ucap Raiko menolak. “Kita pasti bertemu lagi.” Kata Abdul sambil tersenyum pada Raiko mencoba untuk menenangkannya. “Kamu janji?” tanya Raiko. “Ya, aku janji.” Sahut Abdul. “Hmm.. jadi kalian mau kemana setelah ini?” tanya Raijuu pada Abdul juga Netros. “Kami tidak tahu. Kami hanya ingin melihat hal-hal baru sambil belajar.” Jawab Abdul. “Gimana kalau kalian sekolah aja. Kalian pergilah ke daratan Syam, dan naiklah ke gunung ZenRyu. Kamu akan menemukan sebuah sekolah siluman kelas atas. Dan sampaikan surat ini pada kepala sekolah disana. Katakanlah kalau surat ini dari ‘Si Kilat Perak’. Mereka akan mengerti.” Ujar Raijuu membari saran pada mereka. “Wah.. terima kasih banyak. Nanti saat kita bertemu lagi, akan kupastikan aku sudah jadi lebih hebat dari sekarang.” Janji Abdul. “Hmm.. baguslah. Kalau begitu kami pergi ya. Sampai jumpa lagi.” Pamit Raijuu yg lalu menghilang dengan sekelip cahaya. “Tadi apa yg dikatakan guru? Sekolah?” tanya Netros yg baru saja selesai makan dan nampak pipinya belepotan sisa semangka. “Ya, aku juga sudah dapat surat rekomendasi darinya. Jadi mungkin kita bisa masuk gratis.” Jawab Abdul sambil tersenyum bahagia. “Kalau gitu buat apa lagi menunggu, ayo kita berangkat.” Ajak Netros. “Oke, ikuti aku!” suruh Abdul yg lalu terbang ke timur. Netros pun mengikutinya. Saat itu mereka ada di daratan eropa kalau di dunia manusia.
Beberapa hari kemudian mereka sampai di sebuah padang pasir. Tengah hari itu matahari terasa sangat terik, dan mereka tetap saja berjalan. Mereka terus ke tengah padang pasir dan terus menuju ke timur. Saat itu mereka ada di daratan Arab kalau di dunia manusia. “Sial, kenapa ada daratan sepanas ini ya?” ucap Netros yg merasa kepanasan. “Sudahlah, kamu tahan saja.” Sahut Abdul dari atas. “Kamu gak merasa kepanasan?” tanya Netros. “Enggak donk, di atas sini kan anginnya sejuk.” Jawab Abdul yg memang sedang terbang tinggi. “Ah kamu curang bisa terbang!” gerutu Netros sambil manyun. “Ya udah aku di atas kamu biar neduhin kamu.” Sahut Abdul yg lalu terbang rendah di atas Netros dan meneduhi Netros. “Lihat itu ada air!” teriak Netros kegirangan. “Mana? Aku gak lihat apa-apa dari sini.” Jawab Abdul. “Ah mata kamu kayaknya udah mulai katarak. Ya udah aku mau nyebur dulu.” Ujar Netros yg lalu menghampiri air tersebut dan lalu lompat.Tapi ternyata itu hanya pasir. “Hah? Kemana airnya?” kata Netros yg kebingungan mencari air itu. “Sudah ku bilang kan. Gak ada apa-apa.” Sambung Abdul yg mencoba menarik Netros yg terkubur di pasir. Beberapa saat kemudian mereka pun masih berada di padang pasir yg kelihatannya gak ada ujungnya itu. “Untung aja yg tadi itu bukan pasir hisap. Kalau sampai itu pasir hisap, maka kamu akanterhisap kedalam dan mati.” Ucap Abdul. “Memang bagaimana ciri pasir hisap itu?” tanya Netros penasaran. “Jika kau menginjaknya kau akan terpeleset dan lalu terhisap dengan sangat cepat. Seperti ada yg menarikmu dari bawah.” Jelas Abdul. “Seperti ini..” ucap Netros. Abdul pun menoleh ke belakang, dan mendapati temannya sedang benar-benar terjebak dalam pasir hisap. Abdul pun bergegas menyelamatkan Netros, tapi Netros terus saja terhisap. Dan tiba-tiba dari sisi-sisi pasir hisap itu muncul tangan pencakip raksasa. Abdul mulai tak bisa berpikir, dan hanya berusaha mengeluarkan Netros dari pasir hisap tersebut. “Haaaaaaaa......!!!” teriak Abdul berusaha menarik tubuh Netros.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.