LINE Dragon Flight Story, chapter 10 - Jatuhnya Kapak Baja

Rikka menaiki naganya dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"Bonar makan ini!" suruh Rikka melemparkan sesuatu ke udara.
Benda kecil hijau berkilau itu kemudian dimakan oleh Bonar.
"Popeye Power Candy!" ucap Rikka.
Kemudian keluar aura kehijauan disekitar tubuh Bonar sambil berpose menekuk otot lengannya layaknya binaragawan.
"Maju!" perintah Rikka.
Kemudian Bonar langsung berlari dan melompat laly memukul wajah bagian kiri Balrog raksasa.
"Apa ini?! Naga ini pukulannya kuat sekali?!!" ucap Balrog dalam hati terkejut saat terdorong oleh pukulan Bonar.
Tubuh Balrog pun terpental jauh kebelakang akibat pukulan tersebut hingga akhirnya berguling-guling ditanah hingga hampir mencapai perbatasan kota.
"Aku tak tahu kau bisa sehebat itu." ujar Torn.
"Aku memang tidak sehebat itu. Ini hanya pengaruh dari permen ciptaan majikanku." balas Bonar.
Saat itu Torn menjatuhkan kapak yang sedari tadi dia jepit dengan kedua telapak tangannya.
"Wah.. bos kalian nampaknya telah dihajar oleh naga itu. Bagaimana dengan kalian? Mau coba juga yang seperti itu?" tawar D sambil mendekati anak buah Balrog yang tersisa.
Anak buah Balrog terlihat ketakutan.
"Bukankah itu pedangnya Sam. Kenapa ada padanya?" ucap salah seorang dari mereka.
"Jangan bilang Sam sudah dikalahkan olehnya?!" sambung yang dibelakangnya.
D mendekati mereka dengan santai seperti yakin akan menang. Tak ada rasa takut sedikitpun yang tergambar diwajahnya saat itu.
"Mati kau!" pekik seorang raksasa yang tak lain anak buah Balrog hendak menyerang dari samping D menyelip diantara bangunan.
D menoleh dengan santai. Saat raksasa itu melesatkan tinjunya ke arah D, D menghindar dengan tenang. Saat tinju itu menyentuh tanah, D menusuk pergelangan tangan raksasa itu dengan pedangnya lalu menyayatnya.
"Aaaaarrrghh!!!" teriak raksasa itu kesakitan.
Darah yang sangat banyak mengucur deras dari nadi di pergelangan tangan raksasa itu. Raksasa itu memegangi pergelangan tangannya sembari kesakitan.
"Brengsek!" pekik raksasa itu hendak menginjak D.
Lagi-lagi D menghindar kemudian menebas pergelangan kaki raksasa itu. Raksasa itu pun mengangkat kakinya yang terluka itu.
"Jatuhlah, tuan raksasa." ucap D sambil menebas pergelangan kaki raksasa itu yang satunya lagi.
Raksasa itu pun jatuh kebelakang dan ambruk.
"Aaaaarrgh! Sialan! Sialan!!! Aargh!" ucap raksasa itu kesakitan dan tak bisa bangun lagi.
"Tetaplah seperti itu, dan diam disana." ujar D sambil menunjuk ke arah wajah raksasa tadi.
"Dia menghina kita! Dasar brengsek!" bentak salah satu anak buah Balrog.
Kemudian para perampok yang tubuhnya tidak menjadi raksasa itu pun berlari ke arah D. D berbalik dengan santainya. Dia melempar senyuman ke arah para perampok itu seperti tak ada kekhawatiran akan terbunuh.

Sepertinya pertarungan memang belum tuntas. Para raksasa yang dijatuhkan Duran mampu bangkit lagi.
"Mereka bangun lagi?" ucap Bonar.
"Tenang saja, kita masih punya waktu 7 menit lagi sebelum efeknya habis." ujar Rikka.
"Hoho.. apa kamu melupakanku, Bonar?" tambah Torn yang berada di sampingnya.
Moonlight pun terlihat bisa bangkit lagi, meski masih sedikit lemah.
"Bonar, fokuslah. Efek permennya akan cepat habis jika kamu tidak fokus." kata Rikka mengingatkan.
"Baiklah, nona." sahut Bonar.
"Aku urus yang sebelah sini. Kamu urus yang disana saja." ujar Torn.
Torn pun lalu terbang ke arah seorang raksasa di depannya.
"Ayo maju, Bonar!" suruh Rikka.
Bonar pun terbang maju ke depan. Dihadapannya ada seorang raksasa yang lalu mencoba menangkap Bonar. Bonar tiba-tiba menambah kecepatan terbangnya dan menabrak perut raksasa itu dengan kuat hingga raksasa tersebut badannya tertekuk kedepan. Kemudian Bonar meninju dagunya sambil terbang ke atas. Raksasa itu pun terjungkal dan jatuh terlentang ditanah.
"Haha.. sepertinya kita berhasil membuatnya pingsan, nona." ujar Bonar.
Di belakangnya, Torn sedang bertarung dengan raksasa yang satunya lagi. Torn berhasil menangkap salah satu tangan raksasa tersebut lalu membanting raksasa itu ke tanah. Anak buah Balrog itu pun terlihat muntah darah dan tak sadarkan diri. Kemudian Balrog sang ketua bangkit lagi.
"Baiklah kita gunakan saja serangan itu, Moonlight." ujar Duran.
"Apa anda yakin? Serangan itu beresiko tinggi. Anda bisa membunuh ketua perampok itu sekali serang." kata Moonlight mencoba memperingatkan Duran.
"Tapi aku tak bisa membiarkan ini berlangsung terlalu lama!" bentak Duran.
Terlihat disekitar, para penduduk kota itu ketakutan dan masih banyak yang berusaha menyelamatkan diri. Beberapa bangunan hancur tak berbentuk lagi karena pertarungan itu.
"Baiklah, kalau begitu bersiaplah, nona Duran." terima Moonlight setelah melihat sorot mata Duran.
Moonlight pun langsung terbang lurus ke atas tinggi menembus awan.
"Mau kemana dia?" ucap Bonar.
"Sepertinya dia hendak mengambil ancang-ancang serangan." sahut Torn.
"Kok lama sekali." sambung Bonar saat melihat ke langit yang banyak sekali awan lewat.
Tiba-tiba ada sebuah cahaya bagaikan laser besar lewat diantara Torn dan Bonar. Kedua naga itu pun terkejut dibuatnya. Rikka dan Elli juga kaget saat melihat hal itu.
"Apa itu barusan?!!" ucap Rikka terkejut.
"Tadi itu apa!?" ucap Elli juga terkejut.
Dan sosok Balrog terlihat ambruk. Sekilas terlihat bagian bahu kanan dan sebagian tangannya hilang seperti tertembus sesuatu.
"Apa dia terkena cahaya itu?!" ucap Torn terkejut.
"Cahaya itu? Apakah itu tembakan meriam? Atau serangan napas naga? Sepertinya bukan. Sampai saat ini aku belum pernah mendengar semburan naga ataupun meriam yang menembakan cahaya." gumam Rikka dalam hati.
Tiba-tiba Duran dan Moonlight pun muncul dibelakang Rika, Bonar dan Torn. Tampak pedang penembus perisai milik Duran beruap.

Setelah mengalahkan para gerombolan rampok kapak baja, Duran dan yang lainnya beristirahat. Para penduduk kota pun berkumpul dan menangkap para gerombolan rampok itu. Ada beberapa yang tangan kakinya terpotong akibat bertarung dengan D.
"Sebaiknya aku segera kembali ke lab." ujar Rikka lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Duran dan yang lainnya.
"Mau apa ke lab?" tanya Elli.
Rikka berhenti lalu menoleh ke arah Elli.
"Tentu saja untuk membuat obat agar tubuh mereka yang sudah membesar bisa menjadi normal lagi." jawab Rikka.
Kemudian Rikka pun kembali ke lab nya bersama Bonar.
"Tenang saja, aku yakin saat ini naganya lebih waspada. Jadi jangan khawatir, temanmu akan baik-baik saja." ujar D menenangkan Elli.
"Hmm.. baiklah." terima Elli walau masih sedikit khawatir.
"Yang lebih mengejutkan, aku tak pernah menduga kamu akan keluar dari gua mu, Moonlight." ujar Torn.
"Sebaiknya jangan bahas itu. Itu adalah hal yang paling tak ingin aku bahas." sahut Moonlight.
"Apa kalian saling kenal?" tanya Duran pada Moonlight.
"Hahaha.. tidak-tidak.. aku sama sekali tidak mengenal dia. Sangat tidak mengenal dia." jawab Moonlight.
Duran memiringkan kepalanya karena bingung.
"Dia masih saja suka menghindar seperti dulu. Hahaha.." ucap Torn dalam hatinya.
"Ngomong-ngomong namamu siapa?" tanya Elli ke Duran.
"Namaku Duran. Aku adalah seorang ksatria naga. Aku bertualang dan membela kebenaran di muka bumi." jawab Duran dengan bangga.
"Waaahh.. semacam pahlawan gitu?" ucap Elli dengan mata berbinar-binar.
"Ya begitulah.." sahut Duran makin senang melihat Elli yang kagum padanya.
"Keren!" ucap Elli.
"Baiklah, sekarang saatnya aku pergi." ucap D mengambil pedangnya yang tertancap ditanah.
"Kamu sudah mau pergi?" tanya Elli.
"Ya, aku sudah menyelesaikan tugasku disini. Jadi tak ada alasan lagi bagiku untuk tetap bertahan." jawab D.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih untuk semuanya. Walau aku tahu terima kasih saja belum cukup untuk membalasmu." ujar Elli tersenyum.
"Tidak, melihatmu tersenyum saja sudah lebih dari cukup untukku." sahut D sambil tersenyum balik pada Elli.
Elli sedikit kaget dan wajahnya memerah.
"Dah.." ucap D sambil berlalu.
Elli hanya bisa diam saat itu setelah mendengar perkataan D. Tapi beberapa saat kemudian dia tersadar akan sesuatu.
"Oh iya, pedangnya! Aku lupa mengembalikannya!" ucap Elli.
Elli pun bergergas mengejar D yang sudah jauh pergi.
"Tuan putri, tunggu!" ucap Torn berusaha melarang Elli.
Namun Elli sudah terlalu jauh untuk mendengar suara Torn. Torn pun terbang mengejar Elli.
"Tuan pengelana! Tunggu aku!" panggil Elli berusaha menjangkau D dengan suaranya.
D yang mendengar suara Elli pun berhenti lalu menoleh kebelakang.
"Tuan pengelana!" panggil Elli lagi nampak dari kejauhan oleh D.
"Tuan pengelana, ada sesuatu yang harus aku kembalikan! Ini pedangm.." kata Elli terpotong karena tersandung.
D pun langsung bergegas dan menangkap tubuh Elli.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya D.
Elli mengangkat kepalanya dan melihat wajah D begitu dekat dengan wajahnya. Wajah Elli pun sontak saja memerah karenanya.
"Ti-tidak apa-apa kok. Aku baik-baik saja. Sungguh!" jawab Elli sambil mundur kebelakang dengan sedikit panik.
"Syukurlah kalau begitu. Lalu, ada apa sampai kamu mengejarku?" tanya D.
"Ini, kamu melupakan pedangmu." jawab Elli sambil mengambil pedang yang ada dipinggangnya.
"Tidak, simpan saja olehmu." sahut D.
"Hah, kenapa?" tanya Elli.
"Karena aku mempercayakan pedang kesayanganku itu padamu untuk saat ini." jawab D.
Elli sedikit terkejut mendengarnya.
"Lagipula, aku yakin akan bertemu denganmu suatu saat nanti. Dan saat aku benar-benar membutuhkannya, baru aku akan memintanya padamu. Jadi sampai saat itu tiba, tolonglah jaga pedang berhargaku itu untukku." sambung D.
Elli hanya bisa diam mendengar setiap perkataan D.
"Baiklah, sampai jumpa.. jaga baik-baik dirimu, nona.." ujar D yang kembali melanjutkan langkah kakinya.
Wajah Elli tampak memerah sambil memegang pedang beserta sarungnya yang hendak dikembalikan pada D itu.
"Tuan putri, anda tidak apa-apa?" tanya Torn.
Tapi Elli tidak menjawab dan terus melihat ke arah D sambil tersenyum.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】