LINE Dragon Flight Story, chapter 6 - Jamur Alice

Duran berhasil mengalahkan monster jamur itu dengan bantuan dari Moonlight.
"Nona Duran, dalam perjalanan kemari saya melihat 2 naga di kota." kata Moonlight.
"Naga? Ada Dragon Rider yang lain disini?" tanya Duran.
"Iya, meskipun sekilas. Tapi kulihat salah satu dari mereka adalah Royal Dragon." jawab Moonlight.
"Royal Dragon?! Apa itu? Jenis naga?" tanya Duran yang baru mendengarnya.
"Bukan nona, tapi itu adalah julukan bagi naga yang melayani keluarga kerajaan." jelas Moonlight.
Dari jauh, Elli dan Rikka dapat melihat Moonlight yang saat itu terbang dilangit.
"Naga?!" ucap Elli terkejut melihat ada naga lain.
"Ternyata dia." ucap Torn saat melihat Moonlight.
"Nona, sebaiknya kita pergi sekarang." ujar Moonlight pada Duran.
"Kenapa?" tanya Duran yang heran.
"Kita pergi saja." jawab Moonlight.
"Baiklah kalau begitu." sahut Duran.
Kemudian Duran dan Moonlight pun terbang menjauh.
"Mereka pergi.." ucap Bonar.
"Dia memang selalu seperti itu." sahut Torn.
"Apa kamu mengenalnya, Torn?" tanya Elli.
"Hanya kenalan lama." jawab Torn.
Rikka terlihat cepat-cepat menghabiskan makanannya.
"Rikka-chan, kenapa buru-buru gitu?" tanya Elli yang heran.
Tapi Rikka tak menjawab dan buru-buru membayar lalu lari menuju tempat monster jamur jatuh.
"Ada apa dengan gadis itu?" ucap Torn.
"Beliau memang seperti itu kalau sedang semangat." jawab Bonar.
Rikka menuju halaman belakang dan melihat jasad monster itu. Tempat itu terlihat sudah dikerumuni oleh penduduk.
"Monster apa ini?" ucap salah seorang penduduk.
"Apa monster ini yang melakukan pembunuhan pada keluarga pedagang spaghetti jamur semalam?" tambah penduduk yang lain.
"Sepertinya bukan jamur ini yang melakukannya. Atau bisa dibilang, itu tidak mungkin." potong Rikka.
"Si-siapa kah gerangan nona ini?" tanya salah seorang penduduk.
"Aku Rikka, seorang Alchemist." jawab Rikka.
"Alchemist? Terus kenapa nona bisa yakin bukan monster ini yang membunuh?" tanya seorang warga yang lain.
"Apa kalian tahu, sebenarnya jamur ini bukan monster. Ini hanya jamur biasa. Nama jamur ini adalah Jamur Alice." jawab Rikka sambil mendekati jamur yang telah robek jadi 2 bagian itu.
"Jamur Alice?! Kami baru mendengarnya. Apa itu?" tanya penduduk.
"Kalian pasti pernah mendengar kisah Alice in Wonderland bukan? Dimana Alice memakan jamur dan dia bisa membesar dan mengecil." tanya Rikka balik.
"Ya, kami tahu kisah itu." jawab penduduk.
"Kisah itu memang fiksi, namun jamur nya benar ada. Dan ini adalah salah satu jenis jamurnya." ujar Rikka.
Penduduk pun seketika hening mendengar penjelasan Rikka.
"Jamur ini pada dasarnya hanya jamur biasa, namun jamur ini bisa hidup panjang dan bisa beregenerasi selama akarnya tersambung dengan inangnya. Itulah yang membuat jamur ini jadi sangat besar. Tapi ada satu hal yang membuat jamur ini berbeda." jelas Rikka.
"Apa itu?" tanya salah seorang penduduk.
"Selain menghisap unsur kehidupan dari tanaman yang sudah mati alias inangnya, jamur ini juga bisa menghisap kehidupan dari makhluk hidup yang masih hidup. Lebih tepatnya sih memakannya." jawab Rikka.
Wajah penduduk langsung pucat saat mendengarnya.
"Terus kenapa mereka memelihara monster berbahaya seperti ini?" tanya salah seorang penduduk.
"Sebenarnya jamur ini tidak berbahaya. Selama dia tak terkena pemicu nya, mereka hanya akan jadi jamur besar biasa. Tapi sepertinya secara tanpa sengaja, seseorang memberikan pemicu pada jamur ini. Dan sifat agresif jamur ini pun terbangun." jelas Rikka.
"Apa pemicunya memang?" tanya penduduk yang tadi.
"Darah." jawab Rikka.
Rikka berjongkok memperhatikan jamur itu dari dekat.
"Oh ya, apa boleh aku membawa jamur ini?" tanya Rikka sambil menunjuk jamur didepannya.
"Ya, bawa saja. Kami juga tak mungkin memakan jamur menjijikan pemakan daging seperti itu." jawab salah seorang penduduk.
"Haha.. mereka tidak tahu kalau spaghetti jamur itu pastinya menggunakan potongan jamur ini." ujar Rikka dalam hati.
"Kau benar, dia memang bisa membantu kita." ujar orang bertubuh besar memperhatikan Rikka dari kejauhan.
"Penglihatanku memang takkan pernah meleset." sahut orang bertubuh lebih pendek dari orang pertama itu.
Tanpa mereka sadari, D memperhatikan mereka berdua dari balik orang-orang yang mulai bubar itu.

Duran dan Moonlight terus terbang menuju ke arah utara.
"Ah.. aku lapar. Dari pagi belum sarapan.." ucap Duran terlihat lemas.
Suara perut Duran yang keroncongan sampai terdengar ke telinga Moonlight.
"Maafkan saya, nona. Harusnya kita tidak meninggalkan kota. Karena saya, anda jadi kelaparan." ujar Duran tampak menyesal.
"Haha.. tidak apa-apa kok. Kamu pasti punya alasan melakukan hal itu. Aku mengerti kok." sahut Duran tidak mempersalahkan hal itu.
"Nona.." balas Moonlight terkejut dengan perkataan Duran.
"Hmm.. aku mencium bau daging panggang.." ujar Duran tampak mengendus-endus.
"Haha.. nona ini, kalau masalah makanan terutama daging, pasti penciumannya lebih tajam daripada penciuman naga." ejek Moonlight.
"Bau nya dari arah sana! Ayo kita kesana, Moonlight!" kata Duran menunjuk ke arah kepulan asap ditengah hutan.
"Baik, pegangan yang erat!" sahut Moonlight kemudian menambah kecepatannya terbang ke arah kepulan asap itu.
Di tempat asalnya asap itu, ternyata ada beberapa orang sedang memanggang kerbau guling. Sepertinya mereka sedang istirahat makan siang atau semacamnya.
"Wah.. hasil kerja kita hari ini tidak sia-sia. Kita dapat banyak, dan dapat kerbau juga untuk makan siang." ujar salah seorang dari mereka.
"Ya, ini hari yang indah." sahut temannya.
Tiba-tiba Duran dan Moonlight datang diantara mereka. Orang-orang itu lantas saja kaget bukan main melihat seekor naga muncul tiba-tiba.
"Paman, boleh minta dagingnya? Aku belum makan dari pagi nih." tanya Duran.
"Dragon Rider?! Perempuan lagi?!" ucap salah seorang dari mereka.
"Kenapa dengan Dragon Rider perempuan?" tanya Duran merasa heran.
"Ti-tidak.. tidak ada apa-apa kok. Hehehe.." jawab orang itu.
"Kalau begitu boleh kan kami minta dagingnya?" tanya Duran dengan ambisius.
"Boleh kok, silahkan ambil saja." jawab orang itu dengan sedikit keringatan.
"Yeah! Daging!" ucap Duran kegirangan.
"Kenapa kamu kasihin, kan itu makan siang kita." protes temannya dengan berbisik.
"Mau bagaimana lagi, kita tak mungkin melawannya. Dia seorang Dragon Rider. Kita takkan menang. Ketua juga tidak sedang disini." jawab orang yang tadi dengan berbisik juga.
"Benar juga sih." balas temannya.
Setelah selesai berbisik-bisik mereka berdua pun menolah dan betapa kagetnya mereka melihat kerbau gulingnya telah lenyap dan sisa tulangnya saja. Temannya yang lain pun hanya bisa bengong dengan mulut menganga.
"Kenyangnya.. kerbau guling memang mantap! Bagaimana menurutmu, Moonlight?" tanya Duran.
"Ya meskipun hanya kebagian sedikit, tapi rasanya lumayan, nona Duran." sahut Moonlight.
"Paman terima kasih makanannya. Kami pergi dulu ya." ucap Duran pamit terbang meninggalkan orang-orang itu.
"Aaaaahhh!!! Bagaimana ini!!? Makanan kita lenyap! Kita mau makan apa siang ini!!? Ketua kemana sih!!?" protes mereka.
"Ketua kan sedang pergi ke kota Rimpolly saat ini. Sejak semalam dia belum kembali. Mau mencari jamur apalah itu." sahut salah seorang dari mereka.
Di kota, terlihat Rikka sedang menyeret bungkusan besar yang isinya adalah jamur Alice.
"Sepertinya anda sudah mendapatkannya, nona Rikka." kata Bonar.
"Ya, dengan ini aku dapat membuat permen impianku!" ujar Rikka dengan semangat.
"Itu isinya apa memangnya?" tanya Elli yang bingung.
"Tentu saja jamur Alice." jawab Rikka.
"Jadi mau anda apakan jamur ini sekarang?" tanya Bonar.
"Tentu saja aku akan langsung membuat permen. Pertama yang harus kita lakukan adalah mencari tempa dulu." jawab Rikka.
Setelah itu Rikka menyewa sebuah tempat kosong dan mulai mengeluarkan peralatan kimia nya. Elli terkagum-kagum melihat peralatan kimia untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Maaf, bisa kamu keluar dulu sebentar. Aku butuh konsentrasi disini." pinta Rikka pada Elli.
"Eeehhh.. tapi aku kan pengen lihat." tolak Elli.
"Apa kamu pernah dengar, ada sebuah uap yang bisa merontokkan rambut dalam sekejap. Sebenarnya itu adalah uap dari bahan kimia. Apa kamu mau jadi botak?" ujar Rikka.
Kemudian Elli pun membayangkan dirinya botak.
"Aaaa.. tidak mau, tidak mau, tidak mau..!! Aku tidak mau botak!!" teriak Elli berlari keluar ruangan.
Akhirnya Rikka pun bisa mengerjakan pekerjaannya dengan tenang. Tapi tanpa sepengetahuannya, dibelakangnya ada orang yang menyelinap masuk kemudian memukulnya hingga pingsan.
"Tidak terlalu sulit ternyata." ujar pemuda yang menyerang Rikka itu dengan senyuman jahat.
Pemuda itu pun memanggul tubuh Rikka dan membawanya keluar melalui jalan ia masuk. Sore hari pun menjelang, namun Rikka belum juga keluar.
"Ini terlalu lama, biasanya tidak selama ini." gumam Bonar.
"Ada apa Bonar, kau tampak resah?" tanya Torn.
"Sepertinya terjadi sesuatu dengan majikanku. Biasanya dia bisa melakukannya dengan cepat. Atau kalau lama pun biasanya dia akan bilang dulu kalau dia akan lama dan akan men-skip jadwal makannya." jelas Bonar.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Elli.
"Ini nona, sepertinya telah terjadi sesuatu dengan nona Rikka." jawab Torn.
"Benarkah?" ucap Elli bingung.
"Sepertinya teman kalian diculik oleh perampok." potong D yang tiba-tiba saja menghampiri mereka.
"Diculik?!" ucap Bonar terkejut.
Bonar pun langsung memukul pintu untuk memastikan dan mengintip kedalam. Dan seperti yang dikatakan oleh D, Rikka menghilang dari lab nya.
"Kamu siapa? Kok bisa tahu Rikka-chan diculik?" tanya Elli.
"Panggil saja aku D. Aku hanyalah seorang pengembara pembela keadilan." jawab D sambil memberi penghormatan.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】