LINE Dragon Flight Story, chapter 8 - Balas Budi

Gerombolan perampok kapak baja tampak kembali menuju ke kota Rimpolly. Hampir semuanya ikut dengan Balrog sang ketua.
"Sam, kau tunggu saja disini. Jaga gadis itu sampai kabur. Biar kamu yang menguji apakah ramuannya berhasil atau tidak." suruh Balrog pada Sam.
"Baiklah, saya mengerti, tuan Balrog." sahut Sam.
Balrog pun berjalan meninggalkan Sam. Saat itu ternyata sudah pagi. D terlihat bermalam dihutan diatas dahan pohon dengan membuat tempat tidur gantung. Kemudian dia terbangun akibat mendengar suara jejak kaki dari arah padang rumput. D langsung bergegas membereskan tempat tidur gantung itu dan memasukannya ke dalam tas ransel yang ia bawa. D pun mengintip gerombolan perampok yang menuju ke arah kota Rimpolly.
"Sepertinya tujuan mereka sudah tercapai. Mereka pasti memiliki sesuatu yang dahsyat sampai berani menyerang kota Rimpolly secara terang-terangan kali ini." pikir D.
D tak lupa mengintip ke arah tempat para perampok itu keluar.
"Jadi itu jalan masuknya. Ternyata mereka punya cara seperti itu." ujar D dalam hati.
D tampak menyusup ke belakang para perampok melalui rerumputan tinggi layaknya seekor macan yang mengintai mangsanya. Sebelum pintunya tertutup, D pun masuk ke dalam.
"Wah.. ternyata ada lorong rahasia disini. Ternyata Balrog si kapak baja yang terkenal sebagai perampok paling hebat itu bukan isapan jempol belaka." ujar D saat melihat-lihat lorong itu.
D pun mulai berjalan menyusuri lorong.
"Sebaiknya aku mulai melakukan peranku disini. Yang disana kuserahkan padamu, Dragon Rider." sambung D.
Di dalam sebuah gua, Duran sedang tertidur dengan pulasnya.
"Nona ayo bangun, nona! Ini sudah pagi!" ujar Moonlight mencoba membangunkan Duran.
"Ah, sebentar lagi saja, Moonlight. Aku masih ngantuk." sahut Duran yang merubah posisi tidurnya.
"Ayo nona bangunlah. Saya melihat sesuatu yang tidak beres di selatan!" kata Moonlight terus berusaha membangunkan Duran.
"Sesuatu yang tidak beres apa?" tanya Duran membuka sebelah matanya.
"Disana banyak sekali orang menuju ke gerbang kota Rimpolly." jawab Moonlight.
"Mungkin itu hanya karavan pedagang." sahut Duran.
"Pedagang apanya? Mereka sama sekali tidak bawa dagangan, melainkan membawa senjata." balas Moonlight.
"Ya berarti mereka pedagang senjata." ujar Duran kembali tidur.
"Logika macam apa itu.." komentar Moonlight.
"Ada berapa jumlah mereka?" tanya Duran.
"Eh, nona mau melakukannya kah?" tanya balik Moonlight.
"Sudah, katakan saja! Ada berapa jumlahnya?" suruh Duran.
Moonlight pun keluar gua sebentar lalu kembali.
"Jumlah mereka sekitar 50 orang, nona." jawab Moonlight.
Duran pun bangun.
"Moonlight, cepat bersiap-siap. Kita akan segera berangkat." kata Duran yang sudah berdiri.
Kemudian terdengar suara perut keroncongan.
"Kita sarapan di kota Rimpolly!" sambung Duran sambil menunjuk ke depan.
"Haha.. sarapan hanya alasanmu kan?" komentar Moonlight dalam hati.

Di sebuah rumah yang jauh di selatan, seorang gadis terlihat mengobrak-obrak lemari buku penuh debu.
"Anda sedang mencari apa lagi sih?" tanya seekor naga hitam dari luar rumah itu.
"Aku sedang mencari buku ramuan. Tapi aku lupa menaruhnya dimana." jawab gadis twintail yang sedang melempar-lempar buku dari lemari.
"Ramuan apa lagi sekarang?" tanya naga itu lagi.
"Ramuan jamur Alice!" jawab gadis twintail itu.
"Tunggu, maksudmu buku 'Alice in Wonderland'?" tanya naga nya lagi.
"Ya, yang itu. Aku menulis racikan ramuannya di halaman belakang buku itu." jawab gadis itu kembali mencari buku yang dimaksud.
"Anda kan membawanya ke kota Kanar waktu itu. Dan saat kembali anda tidak membawanya." ujar naga nya.
"Eh, benarkah?" ucap gadis twintail itu dengan tatapan bodoh.
"Lah, kan anda yang membawanya. Dan pas pulangnya anda malah membawa buku kisah romeo dan juliet yang ada disana itu." jelas naga nya.
"Whooaa!! Jangan-jangan aku lupa menggunakannya sebagai barang barter?!!" ucap gadis twintail itu dengan wajah shock.
"Mulai lagi deh sifat begonya keluar." ujar naga hitam tersebut dalam hati.
Di dalam ruangan gelap, Rikka tampak menutup sebuah buku ditangannya dan meletakannya diatas meja. Dan nampaklah dijilid buku tulisan 'Alice in Wonderland'.
"Terima kasih atas bantuanmu. Sekarang kami akan terus bisa merampok tanpa perlu takut akan pasukan kerajaan atau semacamnya." ujar Sam menghampiri Rikka.
"Apa sekarang aku sudah boleh pergi?" tanya Rikka.
"Apa maksudmu? Kamu harus terus membantu kami. Kamu kira kami akan langsung berhenti setelah satu kali hah!" kata Sam sambil mencengkeram rambut Rikka.
Kemudian muncul sebuah anak panah melesat dan menancap di lengan kiri Sam yang digunakan untuk menjambak rambut Rikka.
"Aaarrgh!" teriak Sam kesakitan dan melepaskan jambakannya.
"Oohh.. maaf mengganggu kemesraan kalian." ucap D yang muncul dari balik gelapnya lorong.
"Si-siapa kau?" tanya Sam.
"Aku hanya orang tersesat.. dijalan yang benar." jawab D.
"Hah?" sahut Sam yang malah bingung.
Dengan cepat D mengeluarkan sebuah anak panah dari kantong samping ransel nya dan bersiap menembak lagi.
"Apa?!" ucap Sam terkejut dengan kegesitan D.
Sam berusaha mencabut pedangnya, disaat yang bersamaan D melepaskan anak panahnya.
"Sial, aku tidak akan sempat!" ucap Sam menyadari kalau dia sudah telat.
Daripada mencabut pedang besarnya, Sam memilih untuk berputar dan menahan anak panah itu dengan pedangnya yang masih di dalam serangka nya.
"Giliranku!" sambung Sam yang berbalik dan mencabut pedangnya dengan cepat.
Sam menebas ke arah D berdiri, namun saat itu D sudah tidak ada.
"Masih belum, ini masih giliranku." ucap D yang berdiri diatas meja dibelakang Sam dan sudah bersiap menembakan panahnya.
Sam yang merasa kesal langsung berputar ke kanan dan hendak menebas D. Namun D malah tersenyum dan melompat lalu berpijak ke langit-langit. D menembakan anak panahnya, namun bisa dihindari oleh Sam yang berguling ke depan. D mendarat dan hendak menembakan anak panahnya lagi.
"Stop! Hahaha.. aku punya sandera disini." ucap Sam sambil menodongkan pedang besarnya di leher Rikka.
D pun angkat tangan dan langsung menjatuhkan busur panahnya.
"Hahaha.. sekarang kamu tak dapat melakukan apa-apa kan?" ejek Sam yang menekan kepala Rikka ke meja kemudian menodongkan pedang besarnya ke bagian belakang leher Rikka.
"Ya, aku memang tidak bisa apa-apa. Tapi dia bisa." jawab D sambil tersenyum dengan tenangnya.
"Hahaha.. dia takkan berani melawanku. Dia berhutang budi padaku. Makanya dia membantuku disini." kata Sam.
"Oohh.." sahut D tersenyum karena mengerti sesuatu.
"Ada apa denganmu!? Aku sedang menyadera nya, bagaimana bisa kau masih senyum-senyum seperti itu!?" bentak Sam.
"Apa aku pernah bilang aku kesini untuk menyelamatkannya?" tanya D.
"A-apa? Apa maksudmu? Tentu kamu kesini untuk menyelamatkannya kan?" ucap Sam keheranan.
D pun berjalan dengan santai ke arah Sam dan mulai menurunkan tangannya.
"Hei mundur! Atau akan kupenggal kepalanya!" ancam Sam.
Namun D tidak menghiraukannya. Dia malah mempercepat langkahnya.
"Bagaimana ini? Kalau aku memenggal kepalanya, aku takkan sempat melawannya, tapi jika aku melawannya bagaimana jika dia memang berniat menyelamatkan gadis ini?" pikir Sam yang mulai panik.
"Sial!" pekik Sam yang hendak memenggal Rikka dan mengangkat lengannya tinggi-tinggi.
D dengan tenangnya mengambil pisau dari kantong ransel sebelah kirinya. Dalam gerak lambat, D melemparkan pisau itu bertepatan dengan gerakan tangan Sam yang hendak memenggal Rikka.
"Kyaaa!!!" teriak Rikka.
Darah menciprat banyak sekali di meja. D tampak tersenyum dengan tatapan percaya dirinya.
"I guess I'm the luckiest one here!" ujar D.
Dan tangan Sam terlihat menempel di dinding dengan pisau menancap di pergelangan tangannya. Darah mengucur deras dari tangan Sam. Pembuluh nadi di pergelangan tangannya sepertinya terpotong oleh pisau yang menancap itu.
"Aaarrgg!!! Kurang ajar! Sialan!! Bangsat! Akan kubunuh kau!!" pekik Sam yang geram pada D.
Rikka saat itu tampak tak sadarkan diri. D yang menyadari itu tak bisa meninggalkan Rikka disana. Setelah mengambil dan membereskan busurnya, dia memangku Rikka dan meletakannya di sebuah gerobak yang ada di dekat situ.
"Aku pinjam pedangmu ya. Sepertinya cukup bagus untuk menemani perjalananku selanjutnya." ujar D mengambil pedang Sam yang tergeletak ditanah setelah terlepas dari tangannya.
Sambil memanggul pedang itu, D berjalan dengan santai nya dan menarik gerobak tempat Rikka berbaring tak sadarkan diri.
"Hei! Jangan pergi kau! Cepat lepaskan aku!! Ayo kita bertarung lagi!!" bentak Sam.
"Aku tidak tertarik. Kamu hanya laki-laki pengecut yang berlindung dibalik perempuan. Aku tak tertarik melawan orang sepertimu." ujar D berjalan semakin jauh masuk ke lorong.
"Hei! Jangan tinggalkan aku sendirian disini! Woi!!" teriak Sam.
"Tenang saja! Nanti akan ada yang kesini dan mengantarmu ke tempat yang lebih baik!" sahut D suaranya terdengar dari lorong walau sosoknya sudah tak nampak lagi.
Di kota Rimpolly, di depan sebuah bank yang cukup besar dengan 2 orang penjaga ksatria berbaju jirah tebal, gerombolan rampok kapak baja berkumpul.
"Hahaha.. saatnya kita mulai!" ucap Balrog yang kemudian memakan sesuatu diikuti oleh beberapa orang dibelakangnya.
Kedua ksatria penjaga itu pun terlihat semakin menengadah ke atas dengan tatapan terkejut.

To be contiued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】