LINE Dragon Flight Story, chapter 7 - Anak Laki-Laki Itu
Rikka diculik, Elli yang kebingungan mendapatkan bantuan dari orang misterius yang mengaku bernama D.
"D? Nama yang aneh." komentar Elli.
"Ya, mereka semua yang pernah bertemu denganku memang berkata begitu pada awalnya. Tapi sebagian besar dari mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi saat ini." jawab D.
"Nona, tanyakan padanya apa dia tahu siapa yang menculik nona Rikka." pinta Torn.
"Baiklah." sahut Elli.
"D, apa kamu tahu siapa yang menculik Rikka-chan?" tanya Elli.
"Ya, aku tahu. Tapi aku tak bisa mengatakannya disini." jawab.
"Kenapa?" tanya Elli.
"Kita harus mengantisipasi akan adanya mata-mata di sekitar sini." jelas D.
"Dia orang yang sangat hati-hati. Dia pasti bukan pengelana biasa." pikir Torn.
"Ayo kita cari tempat lain untuk berbicara." ajak D.
"Tempat lain?" ucap Elli.
"Ya mungkin kita bisa cari tempat yang sedikit sepi dan rahasia." sahut D.
"Hah?!!" ucap Elli kaget sambil menutup dadanya.
Wajah Elli pun memerah.
"Hahaha.. kenapa sekaget itu? Tenang saja, kita bisa gunakan ruangan dibelakangmu itu untuk membicarakannya." ujar D.
"Hati-hati nona, saya mencium bau darah manusia dari pedangnya." ujar Torn.
"Darah manusia?!" ucap Elli terkejut.
"Ada apa dengan darah manusia?" tanya D yang mendengarnya.
"Ti-tidak apa-apa kok." sahut Elli.
"Ya sudah, kita lanjutkan pembicaraan kita di dalam." ujar D sambil berjalan ke ruangan yang tadinya digunakan sebagai lab oleh Rikka.
Elli sedikit ragu untuk mengikuti D masuk setelah mendengar perkataan Torn.
"Jangan takut, aku takkan menyerang orang tanpa alasan. Kamu mau menyelamatkan temanmu kan?" sambung D yang sudah di dalam ruangan.
"I-iya. Aku ingin menyelamatkan Rikka-chan." jawab Elli.
"Kalau begitu kamu tak perlu takut padaku. Karena aku akan membantumu menyelamatkannya." balas D sambil tersenyum ramah.
"Kenapa aku harus mempercayaimu? Aku baru saja bertemu denganmu!" kata Elli.
"Karena, orang yang menculik temanmu itu adalah musuhku. Dan musuh dari musuhmu adalah temanmu kan?" jawab D.
"Benar sih, tapi.." ucap Elli yang terpotong akibat D tiba-tiba melemparkan sesuatu ke arah Elli.
Ternyata itu adalah pedang dan serangka nya. Pedang pendek seukuran dari ujung lengan sampai siku itu di berikan begitu saja pada Elli.
"Peganglah itu jika kamu tak percaya. Aku takkan menggunakan itu saat membantumu." kata D sambil berjalan masuk semakin jauh ke dalam ruangan.
D pun duduk di sebuah kursi menunggu Elli masuk. Melihat itu Elli merasakan sesuatu yang aneh.
"Mungkin dia memang bukan orang jahat. Lagipula pedangnya sudah ada ditanganku." pikir Elli tersenyum melihat D duduk membelakanginya.
Elli pun masuk ke dalam, lalu duduk di seberang meja berhadapan dengan D.
"Jadi, sekarang katakan padaku semua hal yang kamu ketahui tentang penculik itu." pinta Elli sesaat setelah duduk.
"Baiklah kalau begitu.." sahut D.
Di tempat lain, diruangan yang cukup gelap dan hanya bercahayakan obor di dinding, tampak Rikka terbaring di sebuah tempat tidur. Dan perlahan ia pun sadarkan diri.
"Dimana aku? Ke-kenapa aku bisa disini?" ujar Rikka masih merasa pusing setelah sadar dari pingsan.
Kemudian Rikka pun bangun dari tempat tidurnya. Dia herjalan menuju ke arah pintu yang hanya terbuat dari kain. Kemudian Rikka pun menyingkapkan kain itu dan mendapati banyak laki-laki bertelanjang dada dan tampak berotot berlalu lalang. Rikka pun langsung berbalik kembali ke ruangannya tadi.
"Apa itu tadi?!! Kenapa banyak laki-laki macho disini?!" ucap Rikka dalam hati terkejut dan wajahnya tampak memerah.
"Sepertinya anda sudah bangun, nona Alchemist." ujar seseorang dari belakang.
Rikka pun menoleh, dan ia melihat seorang pemuda yang cukup tampan tinggi dan terlihat membawa sebuah pedang besar.
"Si-siapa kau?" tanya Rikka.
"Namaku Sam. Bisa dibilang aku ini seorang pedagang.." jawab pemuda bernama Sam itu.
"Tapi ke-kenapa kamu membawa pedang besar seperti itu?" tanya Rikka lagi.
"Ini hanya untuk berjaga-jaga jika ada yang ingin merebut daganganku." jawab Sam dengan santai.
"Kenapa aku bisa disini? Tempat apa ini?" tanya Rikka lagi sambil melihat kiri kanan.
"Sebenarnya aku yang menculikmu dan membawamu kesini. Ini adalah markasku dan teman-temanku sesama pedagang." jawab Sam.
Kemudian Rikka pun ingat sebelumnya berada di lab lalu tiba-tiba ada yang memukulnya dari belakang.
"Menculikku?! Jadi.. kamu yang memukul kepalaku dari belakang?!!" ucap Rikka setelah mengingat kejadian waktu dia di lab.
"Ya." jawab Sam.
Rikka lalu bergerak menjauhi Sam dan terlihat seperti ketakutan.
"Kamu mungkin sudah melupakanku, tapi aku mengenalmu." ujar Sam.
Rikka tampak memutari Sam hendak menuju pintu keluar.
"Aku pernah menyelamatkanmu saat kamu dituduh sebagai penyihir waktu itu, apa kamu lupa?" tanya Sam.
Mendengar hal itu, Rikka yang hendak keluar dari ruangan itu pun terhenti.
"Benar sekali, aku adalah anak yang mengorbankan diriku untuk menyelamatkanmu." sambung Sam.
"Ka-kamu?! Anak yang waktu itu?!" ucap Rikka terkejut sambil menoleh ke arah Sam.
Kemudian dia melihat banyak bekas luka di punggung Sam mirip luka cambukan.
"Kamu melihatnya? Bagaimana? Luka yang indah bukan?" tanya Sam yang juga menoleh ke arah Rikka.
"Apa kamu mau melihat seluruhnya?" tawar Sam sambil mengambil pedang besarnya dan menancapkannya ditanah.
Hal itu pun memperlihatkan seluruh punggung Sam.
"Tidak! Aku tak ingin lihat! Baiklah apa yang harus aku lakukan untuk menebusnya?" ucap Rikka sambil menutup matanya karena merasa ngeri.
Sam tersenyum mendengar hal tersebut.
"Aku mau kamu membantuku membuat sesuatu." jawab Sam.
"Apa?! Jadi mereka diculik komplotan perampok!" ucap Elli terkejut sambil menggebrak meja.
"Ya, mereka dikenal sebagai komplotan kapak baja." sahut D yang masih duduk.
D sepertinya sudah selesai mengatakan semua yang ia tahu pada Elli. Elli kembali duduk dan tampak bingung.
"Lalu bagaimana cara kita menyelamatkan Rikka-chan?" tanya Elli.
"Aku juga tidak tahu. Aku belum tahu dimana markas mereka. Jadi kita hanya perlu menunggu." jawab D.
"Menunggu? Yang benar saja! Nanti Rikka-chan keburu.." ucap Elli terpotong karena tak ingin mengatakan kelanjutannya.
"Tak perlu panik seperti itu. Mereka takkan menyakiti temanmu itu, karena saat ini mereka membutuhkan temanmu untuk melakukan sesuatu." sahut D.
"Kenapa kamu seyakin itu?" tanya Elli.
"Karena, mereka butuh seseorang yang tahu tentang jamur Alice." jawab D.
D pun berdiri dan berjalan menuju pintu jendela yang tampak terbuka.
"Kita akan segera mengetahui tentang hal itu besok. Untuk saat ini aku akan melacak mereka sebisaku. Jadi tunggulah ditempat yang aman, dan jangan jauh-jauh dari nagamu." ujar D sambil hendak keluar melalui jendela.
"Lalu bagaimana aku bisa menemuimu lagi?" tanya Elli berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu tidak perlu menemuiku, karena akulah yang akan menemukanmu." jawab D sambil tersenyum dan menoleh ke arah Elli.
Wajah Elli langsung memerah saat mendengarnya. Sementara D langsung meninggalkan tempat itu entah kemana.
"Oh iya, pedangnya.." ucap Elli baru ingat tentang pedangnya D yang tampak tersandar dekat kursi.
"Dia sepertintanya melupakannya.." sambung Elli sambil mengambil pedang itu.
Elli pun keluar sambil membawa pedang itu.
"Ada apa? Kenapa anda tampak sedih begitu? Apa bocah itu melakukan sesuatu pada anda?" tanya Torn saat Elli keluar.
"Tidak, bukan itu. Aku hanya sedih tidak bisa menyelamatkan teman pertamaku. Padahal hal itu terjadi begitu dekat." jawab Elli.
"Hmm.. anda tak perlu sedih. Saya yakin nona Rikka baik-baik saja. Dan sebaiknya anda jangan terlihat sedih begitu. Anda bisa membuat Bonar semakin depresi." ujar Torn dengan suara pelan.
Elli kemudian melihat ke arah wajah Bonar. Bonar saat itu tampak sangat kebingungan.
"Dia adalah naga nona Rikka. Dan setiap naga pasti sudah membuat janji pada dirinya sendiri untuk melindungi Rider nya apapun yang terjadi. Dan saat ini dia gagal melindunginya. Pastilah dia sangat sedih dan kecewa pada dirinya." sambung Torn.
Elli pun mengerti setelah mendengar penjelasan Torn. Dan Elli pun berusaha untuk tersenyum.
"Tenang saja, Bonar. Kita pasti akan menyelamatkan majikanmu." ujar Elli sambil tersenyum.
Bonar yang melihat Elli tampak yakin seperti itu pun akhirnya ikut tersenyum. Ditempat lain, D sedang melacak jejak dari si penculik. Dia menyusuri hutan kemudian sampai di sebuah padang rumput yang cukup luas. Dan disana dia melihat ada beberapa orang membawa sebuah jamur besar berwarna kemerahan.
"Itu pasti jenis kedua jamur Alice. Tapi apa yang mereka lakukan di padang rumput luas seperti ini?" gumam D dalam hati.
Lalu dalam sekejap orang-orang itu menghilang. D terkejut melihatnya dan langsung berlari ketempat itu. Namun tidak ada apa-apa disana. Tempat itu hanya dataran penuh padang rumput yang kosong.
"Trik apa yang mereka gunakan? Bagaimana mereka bisa menghilang ditempat yang luas dan terbuka seperti ini dalam sekejap? Sial! Sepertinya aku harus menunggu hingga besok!" ucap D.
Di sebuah ruangan yang terlihat seperti lab, Rikka berdiri dengan tegangnya.
"Haha.. bagus! Bawa kemari jamurnya!" ujar seseorang bertubuh tinggi besar dan membawa sebuah kapak itu.
Lalu muncul dari sebuah lorong, orang-orang yang sedang menyeret sebuah jamur raksasa berwarna kemerahan.
"Jamurnya sudah sampai. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, kan?" tanya Sam pada Rikka.
"I-iya. Sesuai permintaanmu." sahut Rikka.
"Haha.. kamu memang menakutkan, Sam. Membuat seorang gadis menurutimu dengan cara seperti itu." kata orang bertubuh besar tadi.
"Terima kasih atas pujiannya, tuan Balrog." sahut Sam.
Rikka seperti tidak mendengar hal itu karena dia hanya mengingat masa lalunya saat dia dikejar pasukan kerajaan, dan seorang anak laki-laki menyelamatkannya.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.