Memo, chapter 11 - Hari Terakhir MOS | part 1
Arya berada di ruang UKS karena babak belur diinjak-injak oleh seorang gadis setelah tak sengaja menabrak majikannya.
"Hari terakhir MOS, masih saja kena sial. Ampun dah." gerutu Arya sambil menggaruk kepala nya.
"Kupikir kamu saat ini sudah tak apa. Aku sudah membersihkan lukamu dan membalutnya dengan plester." ujar seorang siswi perempuan yang kelihatannya dia anggota PMR yang tugas jaga UKS.
"Ya, terima kasih, senior." sahut Arya.
"Sama-sama.." balas siswi itu tersenyum.
Arya keluar dari UKS dan tepat di depan pintu, ada seorang gadis sesama murid baru yang sudah menunggunya.
"Kamu tidak apa-apa kan? Tak ada tulang yang patah kan?" tanya gadis itu dengan wajah khawatir.
"Tidak kok. A-aku tidak apa-apa." sahut Arya dengan gugup.
Ini pertama kalinya ada gadis manis yang mengkhawatirkannya.
"Syukurlah.. maafkan temanku ya, eh maksudku pelayanku. Dia memang selalu berlebihan." sambung gadis berambut ikal hanya bagian ujungnya itu.
"Haha.. iya tidak apa-apa. Lagipula aku yang salah karena sudah menabrakmu walaupun itu tak sengaja. Jadi harusnya aku lah yang meminta maaf." ujar Arya sambil menggaruk kepala.
"Aku tahu kok, kamu tidak sengaja melakukannya. Kamu ditabrak kan? Meskipun itu yang pertama kalinya untukku." tambah gadis itu malu-malu.
"Pertama kalinya?" ucap Arya bingung.
"Sudah dulu ya. Katanya kita suruh kumpul di lapangan oleh para senior OSIS. Kamu jangan terlambat." ujar gadis itu.
"Iya, terima kasih sudah memberi tahu." sahut Arya.
Arya berusaha tersenyum ramah, namun kemudian tersentak kaget melihat sesuatu. Ternyata saat itu dibalik gadis yang tampak berjalan meninggalkannya, ada sosok yang menatapnya tajam dengan ekspresi seperti dipenuhi hawa membunuh. Itu adalah sosok gadis pelayan dari gadis manis tadi yang melihat majikannya akrab dengan Arya dari kejauhan. Arya langsung shock saat menyadari hal itu.
"Ke-kenapa dia menatapku begitu?!! Segitu bencinya kah dia padaku!!?" pekik Arya dalam hati dengan ekspresi shock dan ketakutan.
Arya berjalan menuju ke lapangan. Dan terlihat siswa yang lain yang juga murid yang sedang melakukan MOS mulai berkumpul di lapangan itu. Saat hendak berbaris entah kenapa barisan laki-laki di kelompoknya Arya saling dorong.
"Eh, kamu aja yang di depan. Aku ngeri dengan senior itu." ucap salah seorang dari laki-laki yang saling dorong
"Kenapa mesti aku!? Aku juga tidak mau. Suruh yang lain saja." sahut orang yang sedang di dorong-dorong.
"Ada apa ini, kenapa kalian ribut-ribut?" tanya Arya yang keheranan.
Tiba-tiba tatapan mereka semua tertuju kepada Arya. Mereka seperti singa yang melihat mangsanya bekeliaran sendiri dan siap menyergap.
"Eh? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Arya makin heran.
"Kebetulan, kami sedang mencari korban buat berdiri di baris depan." jawab salah seorang dari mereka dengan tatapan preman.
"Harusnya aku tidak bertanya tadi!" teriak Arya dalam hatinya merasa menyesal.
Akhirnya Arya berdiri di barisan depan. Di samping kanannya nampak si mata sipit berdiri dengan senyum penuh percaya diri.
"Kalau dia mah pasti selalu berdiri paling depan, meski tanpa disuruh sekalipun." komentar Arya.
Dibelakang si mata sipit ada si tanpa ekspresi yang seperti biasa, ekspresinya begitu datar dan tampak tenang.
"Seperti biasa, selalu berada di dunia nya sendiri." komentar Arya.
Kemudian Arya melihat ke depan dan ekspresinya berubah aneh. Dia seperti melihat sesuatu yang tak biasa dan bingung harus terkejut apa takut. Karena saat itu ada seorang senior yang berdiri menghadap ke arahnya dari seberang lapangan dengan tatapan tajam dan dingin.
"Apa lagi ini? Dia menatapku seperti kesal dan dendam begitu. Seluruh tubuhku jadi merinding dan membeku." ujar Arya.
Senior yang menatap saat itu tak lain adalah Rere.
"Daritadi senior itu melihat terus ke arah barisan kelompok kita. Sepertinya dia sedang terpesona melihat kekerenanku." ujar si mata sipit dengan penuh percaya diri.
"Terpesona apanya? Matamu rabun ya? Jelas-jelas wajahnya kayak kesal gitu." komentar Arya dalam hati.
"Selamat pagi para juniorku! Bagaimana kabar kalian hari ini?" sapa seorang laki-laki tampan melalui pengeras suara.
Laki-laki tampan itu sepertinya adalah seorang senior OSIS, dia menggunakan sweater ungu dan rambutnya yang agak ikal menambah ketampanannya.
"Wah.. itu ketua OSIS nya kan?" ujar para perempuan terdengar ke telinga Arya.
"Iya-iya benar banget. Ganteng banget ya." sahut teman dibelakangnya.
Dan terlihat semua perempuan melihat ke arah ketua OSIS tampan itu dengan mata berbinar-binar.
"Kok pada gak jawab? Aku nangis nih." sambung ketua OSIS itu.
"Kya! Jangan nangis! Aku baik-baik aja kok!" teriak para gadis.
"Aku juga!" sahut beberapa yang lain.
Banyak gadis yang histeris melihat sifat sok manja ketua OSIS itu. Sementara Arya hanya tersenyum aneh melihatnya. Lalu Arya teringat lagi oleh tatapan Rere, dan itu membuatnya kembali bersikap serius. Saat itu memang Rere masih menatap tajam ke arahnya.
"Baiklah, langsung kita masuk ke pokoknya saja. Hari ini adalah hari terakhir MOS. Kami para senior akan mengajak kalian dalam sebuah permainan menarik. Kami dari OSIS akan bekerja sama dengan semua ekskul yang ada di sekolah ini. Dan membuat sebuah game. Kami menamainya Ekskul Chalenge!" kata ketua OSIS.
Semua murid baru terdiam karena tak mengerti.
"Nampaknya kalian masih bingung apa maksudnya. Biar ku jelaskan. Tujuan permainan ini adalah membuat kalian mengumpulkan stempel dari setiap ekskul yang kalian datangi. Dan stempel itu adalah poin kalian. Semakin banyak mengumpulkan poin semakin bagus. Namun jika gagal mengumpulkan poin maka kalian akan mendapatkan hukuman. Dan pengumpul poin terbanyak tentu akan mendapatkan hadiah." jelas ketua OSIS.
Namun sepertinya para siswa baru itu tidak semangat dan kurang motivasi.
"Dan bagi siapa yang bisa mengumpulkan semua stempel dari setiap ekskul akan mendapatkan bonus. Kalian boleh meminta nomor HP siapapun dari anggota OSIS disini." sambung ketua OSIS.
Semua siswa pun bersorak mendengar bagian terakhir yang dikatakan oleh ketua OSIS itu.
"Hah?!! Kau serius ingin melakukannya?" tanya seorang senior perempuan pada ketua OSIS.
"Haha.. soalnya kulihat mereka kurang tertarik dengan hadiah biasa. Jadi aku tambahkan saja sesuatu yang lain." jawab ketua OSIS.
"Kau memang sering seenaknya. Melakukan sesuatu tanpa dipikir dulu." gerutu senior perempuan berkacamata itu.
"Maaf-maaf.." sahut ketua OSIS.
"Menggunakan nomor HP untuk menambah motivasi, cukup cerdik juga. Tapi tetap saja aku tak tertarik untuk melakukan semua itu. Aku juga tak tertarik untuk memiliki nomor HP siapapun." gumam Arya.
Ketua OSIS kembali ke depan untuk berbicara lagi.
"Untuk menghemat waktu, ayo kita mulai saja permainannya. Saat gerbang itu dibuka, kalian segeralah cari ruang-ruang ekskul yang sudah tersebar. Dan untuk khusus ekskul olahraga selain catur, baru akan diadakan di lapangan masing-masing jenis olahraga nya setelah 15 menit permainan dimulai. Biar tidak ada kecurangan, kami OSIS akan mengawasi kalian." ujar ketua OSIS.
Beberapa anggota OSIS mulai menuju gerbang masuk ke dua yang tepat menuju ke area dalam sekolah. Mereka membuka gemboknya dan bersiap membukanya.
"Baiklah.. bersedia.. siap.." ucap ketua OSIS memberi aba-aba.
Para murid baru bersiap berlari.
"Mulai!" teriak ketua OSIS.
Kemudian para murid baru pun berhamburan menuju ke gerbang yang baru saja dibuka itu. Diantara mereka yang berlarian, hanya Arya yang tampak berjalan dengan santai.
"Dia sepertinya tak berniat mengikuti game ini." pikir Rere saat melihat Arya.
Dari jauh, Sindy memperhatikan Rere yang sedang melihat Arya lalu tersenyum sambil menutup mulutnya.
"Dia ternyata memang menatapku. Tapi apa salahku? Aku merasa tak punya salah apapun padanya." ujar Arya dalam hatinya berusaha tak menoleh ke arah Rere.
Arya kemudian memberanikan diri melihat ke arah Rere dan menatap dingin tanpa ekspresi. Rere terkejut Arya balas menatap dirinya dengan tatapan dingin seperti itu. Lalu saat dirinya terhalang sebentar oleh tubuh orang yang lebih tinggi yang lewat disampingnya, Arya pun menghilang. Rere pun kaget.
"Cih, sepertinya dia menantangku untuk mengikutinya." ucap Rere dalam hati merasa kesal.
Arya yang bertubuh kecil mampun selap-selip diantara banyaknya orang.
"Jika perkiraanku benar, dia pasti akan mengikutiku. Mari kita lihat seberapa bencinya dia padaku." ujar Arya dalam hati sambil berjalan diantara para murid baru lain.
Arya kemudian belok ke lorong yang ada disebelah kanannya, berbeda dengan yang lain yang tetap lurus.
"Kemana dia? Cepat sekali dia itu. Apa dia ninja?!" gerutu Rere yang sedang mengikuti Arya namun kehilangan jejaknya.
Rere pun berjalan lurus kedepan mengikuti arus para murid baru. Sementara itu, Sindy berjalan meninggalkan para anggota OSIS yang lain yang masih berada di lapangan.
"Mau kemana?" tanya ketua OSIS.
"Apa ketua lupa, aku adalah ketua ekskul sastra. Aku harus menjaga pos ku juga kan?" jawab Sindy.
"Saat ini sudah tak ada yang tertarik dengan sastra. Mustahil akan ada yang datang." ujar ketua OSIS.
"Kita takkan tahu sebelum mencobanya kan? Ditambah saat ini aku yakin sekali akan ada yang datang dan bersedia bergabung." sahut Sindy tersenyum dengan yakin.
Ketua OSIS terkejut melihat keyakinan di wajah Sindy yang tampak tidak biasa.
"Pertama kalinya aku lihat dia seyakin itu. Apa ada yang terjadi selagi aku tak mengawasinya?" ucap ketua OSIS dalam hati melihat Sindy pergi.
Saat itu Arya berjalan melalui jalan yang tidak dilewati oleh para murid baru lainnya. Dia lewat depan ruang guru, lewat depan toilet, kebelakang gudang, dan tempat-tempat sepi siswa lainnya.
"Aku harap bisa melewati waktu hanya dengan berjalan-jalan saja. Tapi, sepertinya itu mustahil." ujar Arya sambil menghela napas saat lewat di pinggir mesjid sekolah.
"Hei, kenapa kamu keluar dari sana?" sapa seorang laki-laki berkopiah dan berkaca mata.
Senyumannya tampak berwibawa dan tatapan mata yang menenangkan hati. Dia menggunakan baju gamis dan sarung.
"Aku hanya tersesat saja dan sampai disini." jawab Arya.
"Dia sepertinya bukan guru. Dia pasti senior." ujar Arya dalam hati.
"Sepertinya kamu bukan hanya tersesat, tapi juga sedang kabur dari sesuatu. Iya kan?" ucap senior itu.
"Hah?" sahut Arya pura-pura tidak mengerti.
"Atau lebih tepatnya seseorang." sambung senior itu.
Arya pun terkejut senior itu bisa mengatahui hal itu. Senior itu tampak tersenyum sekilas.
"Dia bisa membaca pikiranku kah?" pikir Arya.
"Sepertinya kamu butuh tempat berlindung. Tuhan pasti tidak keberatan meminjamkan sedikit tempat untukmu." ujar senior itu kacamatanya tampak memantulkan bayangan terang dibelakang Arya sehingga matanya tidak terlihat.
"Itu pasti hanya strategimu agar aku menerima tantanganmu dari ekskul DKM kan?" sahut Arya melihat ada beberapa senior lain di mesjid.
"Bukan, aku hanya ingin mengatakan kalau orang yang sedang mengejarmu akan segera kemari." balas senior itu.
Dan dari arah depan mesjid keluarlah sosok Rere.
"Ikhsan, apa kau lihat seorang junior yang pendek jelek dan berjalan sendirian kemari?" tanya Rere pada senior berkacamata.
Arya sudah tak nampak lagi saat itu.
"Apa maksudmu?" tanya balik senior benama Ikhsan itu.
"Kau tidak menjawabku. Pasti ada yang kau sembunyikan." ujar Rere mulai curiga dan mendekati Ikhsan.
Ternyata saat itu Arya bersembunyi dibalik punggung Ikhsan yang memang lebih tinggi darinya.
"Gawat. Kalau ketahuan disini aku tak mungkin bisa kabur. Lariku pasti akan terkejar olehnya." gumam Arya dalam hati.
"Aku sama sekali tidak melihat orang dengan ciri-ciri yang kamu sebutkan barusan, Rere." jawab Ikhsan.
"Kamu yakin?" tanya Rere semakin mendekat.
"Stop! Berhenti disana dan jangan mendekat lagi! Kamu tahu kita ini bukan muhrim kan?" suruh Ikhsan tepat saat Rere hampir mencapai jarak yang berkemungkinan menyadari keberadaan Arya.
"Baiklah. Tapi jika kau menemukan anak tersebut, cepat katakan padaku." kata Rere sambil mulai berbalik.
"Ya, tenang saja." sahut Ikhsan.
Rere pun pergi meninggalkan area mesjid.
"Hampir saja.." ucap Arya merasa lega.
"Ada masalah apa kamu dengannya sampai dia terlihat sekesal itu?" tanya Ikhsan.
"Aku tak dapat menjelaskannya." jawab Arya.
"Jelaskanlah, dan akan kuberi stempel di bukumu." bujuk Ikhsan.
"Tidak, terima kasih. Aku tak tertarik. Lagipula ini masalah pribadiku dengannya. Aku tak perlu bantuanmu. Aku hanya akan meminta bantuan saat aku sendiri tak sanggup menyelesaikannya. Saat ini yang kubutuhkan hanya alasannya marah padaku." tolak Arya.
"Jadi kamu sendiri tidak tahu kenapa dia marah padamu?" tanya Ikhsan lagi.
"Ya." jawab Arya.
"Baiklah.. janji adalah janji. Kemarikan bukumu." suruh Ikhsan.
"Hah? Bukankah aku bilang tak tertarik." sahut Arya.
"Tapi barusan kamu sudah menjelaskannya. Sekarang giliranku yang harus menepati janjiku." ujar Ikhsan lalu merebut buku tulis Arya.
"Siti, bawa stempel dan tinta kemari." suruh Ikhsan pada temannya yang ada didalam mesjid.
Kemudian keluarlah seorang senior perempuan berjilbab putih membawa stempel dan tinta.
"Wah.. kulihat kamu berhasil mendapatkan tanda tangan 2 orang yang paling sulit di dapat disini." komentar Ikhsan saat menyadari tanda tangan di halaman buku yang ia lewati.
Ikhsan pun langsung mencap sebuah halaman kosong dengan stempel.
"Ini." ucap Ikhsan sambil menyodorkan buku tulis itu.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu masuk DKM, tapi aku yakin kamu akan menolaknya." tambah Ikhsan sambil menahan buku itu saat Arya hendak mengambilnya.
"Tepat sekali." jawab Arya dengan wajah yakin.
Ikhsan pun tersenyum dan melepaskan buku tersebut. Arya pun pergi meninggalkan mesjid.
"Harusnya ketua jangan bilang kalau dia pasti menolaknya. Kalau begitu kan dia pasti jadi menolaknya." ujar Siti.
"Tapi, meskipun aku hanya menawarkannya untuk masuk ekskul DKM bahkan membujuknya sekalipun, aku yakin dia akan menolaknya." kata Ikhsan sambil berbalik hendak masuk ke mesjid.
"Kenapa?" tanya Siti.
Ikhsan pun berhenti.
"Karena saat ini dia dituntun langsung oleh takdirnya, bukan keinginannya. Dia mempercayakan langkahnya pada kakinya. Dan kakinya akan membawanya ke tempat dia semestinya." jawab Ikhsan sambil menoleh dan tersenyum pada Siti.
Arya berjalan menuju ke ruangan auditorium. Disana terlihat ada seorang gadis berdiri di depan auditorium.
"Oi, bisa bantuin aku gak?" panggil gadis dengan gaya rambut ponytail itu.
Arya menunjuk wajahnya dengan ekspresi kaget.
"Kemari saja dan temani aku masuk!" ucap gadis itu menarik Arya dan membawanya masuk ke dalam.
Di dalam, ternyata ada beberapa murid baru lainnya yang terlihat sedang mengantri. Dan ada beberapa senior juga yang terlihat mengenakan sweater lengan panjang dengan motir not balok berwarna warni.
"Selamat datang di ekskul paduan suara. Untuk mendapatkan stempel dari kami kalian harus mengikuti ujian kami terlebih dahulu. Ujiannya mudah, cukup nyanyikan sebuah lagi yang paling kalian kuasai." ujar salah seorang senior laki-laki berdiri paling depan diantara senior lainnya.
"Lagu yang paling dikuasai? Aku sih cuma bisa lagu anak-anak." kata murid di sebelah Arya.
"Hmm.. untung saja aku sering ke tempat karaokean." sahut yang disebelah murid tadi.
"Haha.. kalian ini terlalu naif. Yang paling mungkin berhasil disini hanyalah aku. Dulu aku adalah anggota ekskul padus di SMP." ucap murid yang ada diantrian paling depan dengan sombong.
"Baiklah, kamu yang paling depan majulah." suruh senior laki-laki itu.
"Hmm.. benar juga, aku masuk kesini karena dipaksa olehnya." pikir Arya baru ingat dia masuk karena didorong gadis tadi.
Dia menoleh ke belakang dan mendapati gadis yang tadi sedang bersembunyi dibelakangnya.
"Sedang apa kamu disana?" tanya Arya.
"Tidak. Aku tidak sedang sembunyi atau apapun. Aku hanya sedang memilih lagu yang akan kita nyanyikan." jawab gadis dengan rambut ponytail itu.
"Ki-kita?!" sahut Arya kaget.
"Iya. Kita akan nyanyi berdua kan? Mau bagaimana lagi, kamu kan laki-laki. Sudah sepantasnya menolong seorang gadis yang kesusahan." ujar gadis itu.
"Kita kan baru saja kenal. Yang benar saja." protes Arya.
"Baiklah, sudah diputuskan! Kita akan menyanyi berdua!" kata gadis itu tidak menghiraukan Arya.
"Woooooyyy!!" teriak Arya dalam hati.
"Gagal!" ucap senior ekskul paduan suara.
"Haha.. dia bilang dari ekskul padus kan? Kok suaranya fals gitu?" komentar salah seorang murid baru.
"Sial, aku memang dari ekskul padus. Tapi aku lupa aku dulu hanya dibagian instrument doang." ujar murid baru laki-laki yang tampak suram karena telah gagal.
"Haha.. untung saja diantara kita tidak ada yang suaranya fals ya." ucap Arya lalu menoleh ke arah gadis berambut ponytail tadi.
Dan terlihat gadis itu tampak depresi dengan wajah pucat pasi.
"Tunggu, jangan bilang kalau suaramu fals?!" ucap Arya dengan terkejut dalam hati.
"Tapi mesti fals sekalipun, jika nada nya mudah dan sederhana seharusnya tidak jadi masalah. Contohnya Iwan Fals saja bisa membuat lagu yang bagus dengan nada sederhana." pikir Arya.
"Hei, lagu apa yang paling kamu bisa dan yang paling gampang menurutmu?" tanya Arya.
"Hmm.. cicak-cicak di dinding!" jawab gadis itu dengan blak-blakan.
Arya pun langsung shock saking kagetnya.
"Lagu anak-anak?!! Tapi, sepertinya ini bagus juga. Mengingat lagu anak-anak punya nada yang sederhana." gumam Arya dalam hati.
"Baiklah, kita nyanyi lagu itu saja. Aku yakin takkan ada masalah jika nyanyi lagu itu." ujar Arya.
"Tapi, apa kamu yakin?" tanya gadis itu.
"Ya, bernyanyilah dengan ceria. Percayalah pada dirimu. Buatlah para bidadari cemburu mendengar suaramu." jawab Arya.
"Menurutmu aku dapat melakukannya?" tanya gadis itu lagi.
"Ya, tentu saja." jawab Arya sambil mengacungkan jempolnya.
"Hahaha.. sudah kuduga suaraku memang merdu. Kenapa tadi aku sempat khawatir? Bodohnya aku." ujar gadis itu dengan penuh percaya diri.
"Haha.. mudah sekali dia ditipu. Tapi, ini masih lebih baik daripada dia khawatir. Karena itu malah akan memperburuk suaranya." ujar Arya dalam hati.
"Baiklah selanjutnya!" ucap senior.
Kemudian nampak seorang gadis berseragam yang sekaligus menggunakan apron dan bando ala maid maju ke depan.
"Kamu akan nyanyi sendirian?" tanya si senior pada gadis itu.
"Tidak, kami akan nyanyi berdua." jawab gadis itu.
"Berdua? Dengan siapa?" tanya senior itu lagi.
Saat itu disamping gadis maid itu tidak ada siapa-siapa.
"Nona Alice! Jangan bersembunyi. Bukannya kita akan bernyanyi berdua?" ujar gadis maid itu pada seorang gadis manis yang bersembunyi dibelakangnya.
"Ti-tidak. Aku tidak bisa bernyanyi. Suaraku pasti jelek." jawab gadis bernama Alice itu.
"Jangan begitu, suara nona itu sangat bagus. Nona hanya perlu lebih percaya diri. Tenang saja, saya akan bernyanyi bersama anda dan mendukung anda." bujuk gadis pelayan itu.
"Be-benarkah itu, Ani?" tanya Alice yang masih tampak khawatir.
"Ya, serahkan saja pada saya." balas gadis maid yang bernama Ani itu.
"Ternyata mereka ada disini juga." ujar Arya dalam hati saat melihat Alice dan Ani.
"Oke, kalau kalian sudah siap, segera mulailah bernyanyi." suruh senior itu.
"Ayo nona." ujar Ani.
Alice pun menganggukan kepalanya. Dan kemudian mereka pun menyanyikan lagunya Nike Ardilla yang berjuduk Aku Takkan Bersuara. Tapi sepertinya satu-satunya yang bernyanyi hanyalah Ani. Alice tak bisa mengikuti Ani.
"Ini buruk, temannya itu tidak bisa mengikutinya. Dia terlalu mendominasi setiap nada, dan temannya yang kurang percaya diri akhirnya semakin ragu untuk mengeluarkan suaranya." ucap seorang gadis yang duduk disamping senior laki-laki yang tadi.
"Menurutmu begitu, Diana?" tanya senior laki-laki yang saat ini juga duduk.
"Ya, itulah yang dapat kudengar dari nyanyian mereka. Walaupun suaranya bagus, tapi jika tak memberikan kesempatan pada temannya, itu sama saja seperti bernyanyi sendiri." ujar gadis bernama Diana itu yang sepertinya juga seorang senior.
"Dia mengatakan untuk bernyanyi berdua, tapi bernyanyi sendirian." komentar Arya dalam hati.
Dan saat mereka tampak selesai menyanyikan lagunya, senior laki-laki ekskul paduan suara yang menjadi juri pun berdiri.
"Gagal!" ucap senior itu.
"Hah? Gagal? Bukankah tadi itu sempurna?" tanya Ani.
"Bukan kamu, tapi dia yang gagal. Kalau kamu memang lulus. Suaramu bagus dan pemilihan lagumu tepat. Sangat cocok dengan tipe suaramu. Tapi sayang kurang cocok untuk nya." jelas senior itu.
"Ma-maafkan aku.. sudah kuduga aku memang tidak bisa. Saat aku hendak mengeluarkan suaraku.. a-aku malah tertahan dan suaraku malah tidak keluar." kata Alice dengan wajah tertunduk.
Kemudian Alice pun berlari keluar dari ruangan itu.
"Nona, tunggu! Ini pasti hanya ada sebuah kesalahan!" pinta Ani.
Namun Alice sudah keluar dari ruangan itu. Akhirnya Ani pun ikut keluar dari ruangan tanpa meminta stempel.
"Selanjutnya!" teriak senior laki-laki sambil duduk lagi.
Tapi tidak ada yang berani maju lagi. Para murid baru yang berada dibarisan paling depan malah menundukan kepala mereka dan terlihat tak percaya baru.
"Ada apa ini? Sesuatu terjadi dengan kepercayaan diri mereka yang tadi?" komentar Arya dalam hati.
"Sepertinya gara-gara yang tadi, yang minder malah semakin minder. Yang ragu jadi semakin ragu." komentar Diana.
"Tapi itu memang salah satu ujian mereka. Ini takkan disebut tantangan jika terlalu mudah." ujar senior laki-laki.
"Haha.. kalau tidak ada yang mau biar aku aja yang duluan dah!" ujar gadis berponytail yang langsung berdiri di depan.
"Eh?!! Dia serius mau langsung ngambil giliran duluan!!?" ucap Arya dalam hati terkejut.
"Hei, ngapain kamu bengong disana? Ayo kemari! Ini giliran kita!" panggil gadis dengan ponytail tadi.
"Hahaha.. yang benar saja. Aku jadi gugup banget nih." ujar Arya dalam hati sambil tersenyum paksa.
Arya pun akhirnya mau mendekati gadis itu dan berdiri disebelahnya.
"Oke, mulailah bernyanyi!" suruh senior laki-laki yang sudah tak sabar.
Kemudian gadis berponytail itu mulai menyanyikan lagu Cicak-Cicak Di Dinding dengan lantangnya. Tapi suaranya mirip anak kecil dan agak cempreng. Sehingga terkesan seperti anak TK yang sedang bernyanyi. Arya hanya bisa diam dan terkejut. Begitu pula para senior.
"Eh, kenapa mereka terlihat shock begitu? Apa karena suaraku? Sudah kuduga suaraku memang jelek seperti yang dikatakan teman-temanku pas SMP." ujar gadis berpony tail itu dalam hati.
"Dia nampak depresi. Bagaimana ini? Aku harus memikirkan sesuatu." gumam Arya dalam hati kebingungan.
Senior laki-laki tampak berdiri.
"Ayo otakku! Pikirkanlah sesuatu!" teriak Arya dalam hatinya.
"Se-setidaknya seperti itulah cara ki-kita bernyanyi sewaktu kecil. Ta-tapi kami akan menyanyikannya dengan cara yang berbeda." kata Arya tepat saat senior hendak mengatakan kalau mereka gagal.
"Apa yang barusan aku katakan!!? Aku bahkan tidak tahu caranya!" teriak Arya dalam hati menyalahkan dirinya sendiri.
"Dan kami semua akan menyanyikannya bersama." sambung Arya.
"Kalian semua?" ucap senior yang bingung.
"Sial! Kenapa aku pakai kata 'semua'!!!" pekik Arya dalam hati.
Tampak Alice dan Ani kembali masuk ke ruangan itu. Kemudian Arya mulai berdehem bersiap bernyanyi.
"Cicak-cicak di dinding.. diam-diam merayap.. datang seekor nyamuk.. hap-hap-hap.. lalu ditangkap.." Arya menyanyikan lagu cicak-cicak di dinding dengan gaya yang berbeda.
Dia mengulangnya sekali lagi hingga nada-nadanya ia rasa mulai dipahami oleh gadis berponytail.
"Your turn!" ucap Arya menyuruh gadis berponytail untuk bernyanyi.
Akhirnya gadis berponytail itu menyanyikannya dengan gaya yang sama dengan Arya. Dan nada-nadanya tampak sesuai kali ini, suaranya yang mirip anak kecil itu masuk dengan lagunya.
"Together!" ucap Arya yang kemudian bernyanyi bersama gadis berponytail sebanyak 2 kali.
Tampak Alice juga mengikutinya walau dengan suara pelan sambil menepuk-nepukan kedua telapak tangannya.
"Ayo kalian juga!" suruh Arya menunjuk ke arah murid baru yang lainnya.
Dan mereka pun langsung bernyanyi, dan nampak Alice pun ikut. Dia memberanikan dirinya ikut bernyanyi.
"Nona Alice, dia bernyanyi? Tapi.. kenapa? Bagaimana dia bisa membuat nona Alice bernyanyi sementara aku saja tidak bisa." gumam Ani saat melihat Alice lalu melirik ke arah Arya.
Tampak para senior pun ikut bernyanyi sedikit karena terbawa suasana. Dan saat Arya dan yang lain selesai bernyanyi, Diana langsung berdiri.
"Lulus!" teriak Diana dengan semangat.
"Eh, kami lulus?" tanya Arya.
"Ya, kalian lulus." jawab senior laki-laki itu.
"Beneran?" tanya gadis berponytail.
"Kalian semua." jawab Diana setelah menganggukan kepalanya.
"Yeah!" semuanya pun bersorak karena senang lulus bersamaan.
Gadis berponytail langsung memeluk Arya saking senangnya.
"Eeehh?!! Ke-kenapa dia memelukku?!!" ucap Arya dalam hati terkejut.
Saat sadar, akhirnya gadis itu melepaskan pelukannya pada Arya.
"Huh! Jangan mentang-mentang senang kamu seenaknya memelukku!" ucap gadis berponytail itu membuang muka dari Arya.
"Hah?!! Kamu lah satu-satunya orang yang memeluk disini!" protes Arya dalam hati.
"Tapi, te-terima kasih untuk yang tadi." ujar gadis berponytail itu dengan suara yang hampir tidak terdengar diantara riuhnya suara para murid baru yang sedang kegirangan.
"Hah? Apa?" tanya Arya.
"Tidak, lupakan saja!" bentak gadis itu tampak membuang muka nya lagi dari Arya.
"Ada apa dengannya?" ucap Arya.
"Namaku Shinta Saraswati." ucap gadis berponytail.
"Hah? Kenapa kamu memperkenalkan diri? Aku tidak tertarik bertukar nama." ujar Arya.
"Jahat banget dah! Mengatakan tidak tertarik saat seorang gadis memperkenalkan namanya. Dasar tidak berperasaan!" kata Shinta sambil menarik-narik kerah baju Arya.
"Baiklah-baiklah.. aku sangat tertarik. Bahkan aku sangat penasaran dengan namamu sejak saat bertemu." sahut Arya.
"Ya, memang begitu seharusnya." ucap Shinta sambil melepaskan kerah Arya.
Arya pun keluar dari ruangan itu. Dia lalu berjalan menjauh dari auditorium dan menuju ke arah ruang aula.
"Sepertinya ada sesuatu yang aku lupakan.." ucap Arya saat berjalan meninggalkan auditorium.
Dia memegang saku belakang celananya.
"Bukuku mana?!!" ucap Arya kaget bukunya lenyap.
Buku bersampul biru muda tampak tergeletak dilantai ruang auditorium, dan seseorang terlihat mengambilnya.
Bersambung ke part 2..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.