LINE Dragon Flight Story, chapter 9 - Ksatria Naga

Elli sedang berjalan-jalan di tengah kota Rimpolly bersama Torn dan Bonar. Kemudian tiba-tiba ada ribut-ribut dan banyak orang berlarian.
"Maaf paman, kenapa paman lari-lari seperti itu? Apa yang terjadi?" tanya Elli pada seorang bapak-bapak yang lewat.
"Disana terjadi perampokan, dan mereka adalah gerombolan rampok kapak baja." jawab bapak itu.
"Kapak baja?! Dimana?" tanya Elli lagi ingin tahu lebih jelas.
"Mereka sedang di depan bank. Sebaiknya nona lari, bahkan dengan nada pun mustahil mengalahkan mereka." jawab bapak itu lagi.
"Hah? Apa mereka sehebat itu?" ucap Elli sedikit kaget.
"Bukan hanya hebat, nona. Tapi mereka juga bisa berubah jadi raksasa saat ini." tambah bapak itu.
"Raksasa?!" ucap Elli semakin terkejut.
Bapak itu pun kemudian lanjut lari meninggalkan Elli disana.
"Sepertinya mereka berhasil membuat nona Rikka membantu mereka. Tapi kenapa? Tidak biasanya nona Rikka mau bernegosiasi dengan penjahat." ujar Bonar.
Torn hanya diam dan mendengarkan ocehan Bonar. Di tengah hutan, D menyeret sebuah gerobak tempat Rikka tergeletak tak sadarkan diri. Jalanan yang tidak rata membuat Rikka akhirnya sadar dan mulai membuka matanya.
"A-ahh.. ada dimana aku?.." ucap Rikka sambil memegang kepalanya yang terbentur akibat jalan yang tidak rata.
"Kamu sudah sadar? Sekarang kita sedang berada di dalam hutan menuju ke kota Rimpolly." ujar D sambil menoleh ke arah Rikka.
"Aduh!" rintih Rikka yang kepalanya kembali terbentur.
"Haha.. maaf, jalannya benar-benar kacau sekali. Maklum cuma jalan setapak." sahut D.
Rikka pun bangkit dan duduk supaya kepalanya tidak terbentur lagi.
"Tunggu, dimana Sam?" tanya Rikka.
"Kamu masih mencarinya? Padahal dia hampir memenggal kepalamu tadi." ujar D.
"Meskipun begitu, dia pernah menyelamatkan nyawaku. Dan aku berhutang budi padanya." jawab Rikka.
"Hutang budi kah? Apa artinya semua itu jika itu hanya membawa kejahatan dan kepedihan? Apa kamu tak sadar sudah dimanfaatkan olehnya?" tanya D.
"Tapi.. dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku.." jawab Rikka tampak murung.
D pun berhenti menarik gerobak itu, Rikka terkejut dan lalu melihat ke arah D.
"Berapa kalipun dia menyelamatkanmu, jika dia berbuat jahat pada akhirnya, maka dia tak ada bedanya dengan penjahat yang lain. Ada pepatah mengatakan, lebih baik mantan penjahat daripada mantan orang baik." ujar D menoleh ke arah Rikka.
"Tapi.. meskipun begitu, aku berhutang nyawa padanya.." balas Rikka.
"Meskipun hutang nyawa sekalipun, sangat tidak pantas membalas budi dengan membantunya berbuat kejahatan." ujar D sambil menancapkan pedang besar yang tadi ia panggul ke tanah.
"Dia menyelamatkan nyawamu kan? Sangat tidak masuk akal kalau kamu membalasnya dengan berbuat jahat. Karena menyelematkan orang lain itu adalah perbuatan baik. Jadi, daripada membantunya, kamu harusnya menolaknya dan menyelamatkannya dari kegelapan hatinya seperti dia menyelamatkan nyawamu. Itu baru balas budi." jelas D.
Rikka yang mendengar hal itu pun tercengang. Dia menyadari kalau yang dikatakan oleh D itu benar. Akhirnya Rikka turun dari gerobak itu dan menghampiri D.
"Kamu yakin sudah tidak apa-apa?" tanya D.
"Ya, aku sudah merasa baikan." sahut Rikka sambil tersenyum.
"Baiklah, sebaiknya kita cepat-cepat. Temanmu pasti sudah menunggu disana." ujar D.
"Ya!" sahut Rikka tersenyum dengan wajah sedikit memerah.
Akhirnya D meninggalkan gerobak itu, mengambil pedangnya dan berjalan bersama Rikka.

Duran saat itu sedang sarapan daging panggang, namun tiba-tiba melihat orang berlarian.
"Sepertinya sudah dimulai." ucap Moonlight.
"Ya, memang sudah dimulai. Ini aku sedang makan dagingnya!" sahut Duran lalu memakan daging panggang itu dengan lahap.
"Bukan itu maksudku! Tapi perampokannya!" bentak Moonlight.
"Perampokan? Perampokan yang mana?" tanya Duran dengan wajah bego.
"Perampokan yang aku katakan waktu di gua." jawab Moonlight.
"Emang kamu pernah bilang ya?" tanya Duran lagi memiringkan kepalanya.
"Itu lho, gerombolan yang.. aaaahhh!!.. kesal aku!" ucap Moonlight tampak kesal.
Kemudian dari arah barat, nampak sosok besar berdiri. Makin lama makin tinggi. Dan tingginya lebih tinggi dari bangunan 3 lantai.
"A-apa itu?!!" ucap Moonlight.
Duran pun mulai berdiri dengan daging masih tampak ia gigit di mulutnya.
"Ayo kitha keshana, Hoonligh!" ucap Duran.
"Setidaknya kalau mau ngomong sesuatu yang keren lepaskan dulu daging itu dari mulutmu!" komentar Moonlight.
Di depan Bank, terlihat beberapa orang dari gerombolan rampok kapak baja berubah jadi raksasa. Balrog adalah yang paling besar mengingat awalnya juga memang dialah yang paling bertubuh tinggi besar diantara perampok yang lain di kelompoknya.
"Hahaha.. sepertinya ini akan jadi pekerjaan mudah." ucap Balrog menatap kedua ksatria penjaga yang nampak sudah ketakutan.
Lalu Balrog menangkap kedua ksatria itu dan melemparkannya jauh ke belakang punggungnya. Kedua ksatria itu pun terlempar cukup jauh dan jatuh diatas atap rumah penduduk.
"Haha.. sekarang kita tinggal membuka paksa brangkasnya. Tentu saja beserta bank nya. Hahaha.." ujar Balrog mengambil kapaknya yang ikut membesar bersama tubuhnya.
Kemudian Balrog pun mengayunkan kapaknya ke arah bangunan Bank. Namun tiba-tiba ada cahaya yang melesat ke arah para raksasa itu dan mendorong mereka hingga terlempar saling bertubrukan melewati bangunan bank dan jatuh terpental menjauh dari bank.
"A-Apa itu barusan! Tembakan meriam? Tapi seharusnya tembakan meriam pun takkan dapat melempar kami semua sampai sejauh ini." ucap Balrog.
"Itu bukan meriam, bukan juga angin badai. Itu adalah pedangku!" ucap Duran yang terbang menaiki naganya, Moonlight.
Duran berpose sambil mengacungkan pedang penembus perisai nya.
"Siapa kau?" tanya Balrog.
"Namaku Duran! Ksatria Naga!" jawab Duran dengan lantang.

Elli bersama Torn dan Bonar menghampiri tempat yang ditunjukan oleh penduduk. Dan dia terkejut melihat ada Dragon Rider lain sedang menghadapi para perampok yang sebagian besar berubah menjadi raksasa tersebut.
"Siapa dia?" ucap Elli bertanya-tanya.
Torn seperti terkejut melihat Duran.
"Ada apa Torn?" tanya Elli.
"Tidak, bukan apa-apa." jawab Torn.
Para raksasa pun mulai bangkit lagi dan hendak menyerang balik Duran.
"Lalat kurang ajar! Akan kubelah dua kau dengan kapakku ini!" ancam Balrog sambil menodongkan kapaknya ke arah Duran.
"Hati-hatilah, lalat itu terbangnya sangat cepat lho." ujar Duran.
Kemudian Duran menghilang dari hadapan Balrog dan kawan-kawan. Balrog terkejut, dan menengok ke kiri dan ke kanan mencari-cari keberadaan Duran saat ini. Tak lama salah seorang dari anak buahnya yang menjadi raksasa terlihat terlempar jauh seperti terkena serangan. Namun tidak terlihat darimana dan siapa yang yang menyerang itu.
"Sialan! Dimana kau! Jangan bersembunyi seperti itu! Ayo tunjukkan dirimu kalau berani!" tantang Balrog.
"Aku daritadi disini!" teriak Duran.
Balrog melihat ke atas ke arah datangnya suara dan melihat Duran dan naganya terbang tinggi.
"Jangan curang! Ayo turun sini!" bentak Balrog.
"Aku seorang Ksatria Naga, terbang dengan naga bukanlah sebuah kecurangan kan?" balas Duran yang melesat turun dengan cepat sampai tak terlihat mata.
Dan sebelum menyentuh tanah Duran berhenti sejenak lalu terbang diagonal keatas mendorong salah satu raksasa dengan kecepatan tinggi hingga terlempar jauh. Kemudian Duran berbalii dan menukik kebawah sedikit lalu kembali terbang diagonal keatas dengan sangat cepat mendorong raksasa yang lain hingga terlempar cukup jauh.
"Kurang ajar!" ucap Balrog yang geram lalu mengayunkan kapaknya berusaha membacok Duran beserta naganya.
Namun Duran menghindar ke kiri ke kanan ke atas dan ke bawah dengan sangat cepat sehingga Balrog tampak kesulitan. Dan akhirnya Balrog pun mengenai temannya sendiri yang berdiri dibelakangnya tanpa sengaja. Temannya yang juga raksasa terakhir yang tersisa dari anak buahnya itu pun ambruk.
"Sial!" ucap Balrog semakin geram mengayunkan kapaknya secara membabi buta.
Duran yang menghindarinya pun sedikit kesulitan hingga ia akhirnya harus menahan serangan terakhir dengan pedangnya.
"Nona, buruk bagi kita jika menahan serangannya." ucap Moonlight.
"Iya. Aku tahu itu." sahut Duran berusaha menahan sekuat tenaga.
"Heeeaaaaaaa!" teriak Balroga mengerahkan seluruh tanaganya.
Duran beserta naganya pun terdorong kebawah dan jatuh.
"Sekali lagi!" ucap Balrog mengangkat lagi kapaknya hendak melakukan serangan kedua ke arah Duran dan naganya yang sudah tak berdaya.
"Torn!" teriak Elli.
"Baik, tuan putri!" sahut Torn tampak melesat ke arah Duran dan Moonlight.
Dan Torn pun berhasil menahan kapak itu dengan menjepitnya menggunakan kedua telapak tangannya. Balrog berusaha mengerahkan seluruh tenaganya namun kapaknya tidak bergerak sedikitpun.
"Naga macam apa dia ini?! Tenaganya kuat sekali!" ucap Balrog terkejut.
"Lama tak jumpa, Moonlight!" sapa Torn.
"Rupanya benar itu kau, Torn." sahut Moonlight yang tampak lemas terbaring ditanah.
"Wah-wah.. apa aku datang terlambat?" ujar D yang tiba-tiba muncul bersama Rikka.
"Nona Rikka?! Anda baik-baik saja?" tanya Bonar menghampiri Rikka.
"Rikka-chan! Syukurlah kau baik-baik saja!!" ucap Elli yang langsung melompat memeluk Rikka.
"Tapi sepertinya disini kita akan menghadapi pertempuran yang lumayan besar." ujar Rikka.
"Bonar, bersiaplah!" ucap Rikka.
"Baik, Nona." sahut Bonar.
"Kalau begitu aku akan membereskan yang kecil-kecil saja." ujar D melangkahkan kakinya ke depan dan menatap para perampok yang tidak menjadi raksasa.
Dan pertempuran pun dimulai.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】