VocaWorld, chapter 127 - Angin Perubahan (Cahaya Melepas Kegelapan)

Pasukan mindy yang dipimpin oleh kapten Al Hadid mulai berjatuhan satu persatu oleh jebakan Stink.
"Sekarang saatnya puncak kesenangan dimulai." ucap Stink tampak berdiri diatas penutup lubang pembuangan air di tengah jalan.
"Kalian hati-hati pada setiap serangga disini." ujar kapten Al Hadid pada pasukannya yang masih tersisa.
"Baik, kapten." sahut pasukannya.
Saat itu mereka semua sedang bersembunyi disebuah gang sempit yang terlihat bersih sehingga tak ada tempat serangga bersembunyi.
"Oh ya, aku membawa alat itu. Mungkin itu ada hubungannya dengan ini." ujar kapten Al Hadid baru ingat dengan isi tasnya.
Kapten Al Hadid tampak membuka tasnya. Dan disaat yang bersamaan, keluarlah asap hitam ke unguan dari saluran air bawah tanah.
"Hahaha.. maaf saja. Sepertinya semuanya sudah selesai, Silencer." ujar Stink dengan percaya diri.
Asap hitam keunguan mulai menyebar luas hingga ke jalan utama. Stink yang merasa sudah menang pun berbalik dan berjalan meninggalkan tempat tersebut. Lalu samar-samar terdengar suara orang bernapas dari balik asap hitam itu. Dan terdengar pula suara langkah kaki makin mendekat. Karena hal itu Stink menoleh kebelakang ke arah asap hitam keunguan itu. Namun ia mendapati dirinya tertembak dan ia pun jatuh ditanah.
"Kamu pikir kami akan kalah begitu saja dengan jebakan-jebakanmu? Keberuntungan kami tidak sesedikit itu. Karena kami menemukan alat yang tepat untuk menghadapimu." ujar seseorang yang samar-samar terdengar mirip kapten Al Hadid.
Dan dari balik asap hitam itu keluarlah sosok-sosok yang mengenakan topeng anti gas beracun.
"Kami menemukannya di markas pasukan yang kami kalahkan sebelumnya. Beruntung kan?" ujar salah satu sosok yang ternyata kapten Al Hadid tersebut.
"Sialan.. ini pasti ulah si June licik itu. Dia pasti berniat menyerangku selagi peperangan ini berlangsung." ujar Stink yang terbaring karena tertembak.
Deadly Silent pun melompat turun dari atas gedung dan menghampiri pasukan kapten Al Hadid.
"Tembak!" perintah kapten Al Hadid pada para anak buahnya.
Mereka pun menembaki Deadly Silent, namun tidak mempan sedikitpun. Deadly Silent pun terlihat santai berjalan menghampiri mereka.
"Haha.. kalian bodoh! Peluru suara takkan berpengaruh padanya. Dia punya lapisan suara ultrasonic yang menyelimuti tubuhnya. Pelurumu akan pecah sebelum sempat mengenai tubuhnya." kata Stink mengejek pasukan kapten Al Hadid.
"Kau masih dapat berbicara selantang itu, meskipun sudah terluka parah. Tapi terima kasih info nya." balas kapten Al Hadid tampak tersenyum.
Dan terlihat Deadly Silent membuka mulutnya lalu menembakan gelombang suara lagi. Namun gelombang suara yang ditembakanya terlihat tak berpengaruh pada pasukan kapten Al Hadid. Deadly Silent pun terkejut.
"Maaf, bukan hanya masker ini. Tapi kami juga menemukan penutup telinga di markas itu." ujar kapten Al Hadid sambil menunjukkan penutup telinga mirip headphone di telinganya.
"Aisyah!" teriak kapten Al Hadid tiba-tiba.
Beberapa ratus meter dari tempat itu diatas gedung tinggi, ternyata Aisyah sedang berbaring bertelungkup di sebuah ruangan di suatu gedung yang lumayan tinggi.
"Ya, kapten! Saya mengerti!" sahut Aisyah terlihat berkomunikasi dengan kapten Al Hadid melalui radio nya.
Ternyata saat itu Aisyah sedang meneropong tempat kejadian dengan senapan sniper selama ini. Dia menunggu perintah dari kapten Al Hadid untuk menembak. Aisyah pun mengincar Deadly Silent yang berdiri di tempat terbuka saat itu. Aisyah pun langsung menembak Deadly Silent tanpa basa basi.
"Hahaha.. jangankan peluru suara, bahkan peluru biasa pun takkan bisa menggoresnya. Julukannya bukan sekedar isapan jempol belaka." kata Stink dengan nada mengejek.
Terlihat peluru yang ditembakan Aisyah menggunakan sniper tampak berhenti beberapa senti sebelum berhasil menyentuh Deadly Silent.
"Ba-bagaimana bisa?!! Dia menghentikan peluru tajam dari senapan sniper?!!" ucap kapten Al Hadid terkejut.
Aisyah berusaha menembak berulang-ulang. Namun ke 4 peluru itu tampak berhenti di hadapan Deadly Silent dan melayang di udara.
"Dia bukannya benar-benar diam. Hanya saja suaranya berada di tingkat dimana telinga manusia tak sanggup mendengarnya. Dan dia menggunakan getaran suara itu untuk menghentikan apapun yang mendekatinya." jelas Stink.
"Deadly Silent of Destruction." terdengar suara samar kemudian Deadly Silent menembakan sebuah gelombang yang terlihat lebih tipis bagai laser.
Gelombang itu tepat mengarah ke arah Stink berbaring dan membuat Stink terpental kedalam gereja dan menabrak patung malaikat hingga hancur.
"Dia sepertinya marah rahasianya dibongkar oleh temannya." ujar kapten Al Hadid.
Deadly Silent menatap tajam ke arah Aisyah. Dia tahu tempat Aisyah dari arah datangnya peluru.
"Aisyah! Lari!" suruh kapten Al Hadid.
Saat itu Deadly Silent sudah bersiap menembakan lagi gelombang penghancurnya. Dan sebuah gelombang suara mirip laser kembali ditembakan dari mulutnya. Dan gelombang itu pun membuat kaca jendela ruangan tempat Aisyah berada terpecah jadi seperti debu dan menembus langit-langit menghancurkan atap hingga runtuh. Aisyah tampak ketakutan dan bertelungkup sambil memeluk snipernya dan melindungi kepalanya. Dari kejauhan tampak ruangan tersebut seperti sudah hancur berkeping-keping.
"Aisyah!!!" teriak kapten Al Hadid.

Ditempat An Nur, terlihat orang-orang yang menyanyikan lagu menyeramkan itu sudah bergeletakan. Tapi mungkin lebih ke tertidur daripada pingsan.
"Disini sudah selesai. Arusnya sudah berhenti. Jadi ini sudah pasti akan menghentikan semuanya." ujar An Nur yang ternyata adalah Ray berumur 10 tahun itu.
Wajahnya tidak salah lagi adalah Ray. Tatapan mata yang sayu dan tenang itu memang mencirikan orang yang kuat.
"Kamu tak perlu sembunyi dariku, anak kecil. Aku bukanlah orang jahat." ujar Ray menoleh ke belakang sambil tersenyum.
Ternyata ada seorang anak kecil yang tampak memperhatikan Ray sambil bersembunyi di lorong menuju tempat tersebut. Saat mengetahui Ray menyadarinya, anak kecil berusia 5 tahun itu pun melarikan diri. Ia berlari menyusuri lorong itu. Namun ternyata di ujung lorong tersebut, Ray sudah berdiri bersandar dengan santainya. Anak laki-laki itu pun terlihat terkejut.
"Ja-jangan bunuh aku.." ucap anak tersebut.
"Kenapa aku harus membunuhmu? Aku malah ingin meminta bantuanmu." ujar Ray sambil tersenyum ramah.
"Me-meminta bantuanku??" kata anak itu bingung.
"Ya, tolong aku bangunkan orang-orang disana. Mereka tertidur saat menyanyikan sebuah melodi. Bangunkan mereka semua dan segeralah mengungsi." jawab Ray.
"Ja-jadi mereka semua.." ucap anak tersebut.
"Ya, mereka semua hanya tertidur." sambung Ray.
"Lalu apa maksudmu dengan mengungsi?" tanya anak itu.
"Saat ini sedang terjadi peperangan di luar sana. Kamu mungkin tidak tahu karena terus berada disini. Tapi disini sangat berbahaya saat ini." jelas Ray.
"Tapi, kami harus membantu pangeran kegelapan dengan bernyanyi. Kami rela mati untuk membantu beliau." jawab anak itu.
"Apa dia pernah menyuruh kalian mati untuknya?" tanya Ray.
"Ti-tidak sih." jawab anak itu lagi.
"Lalu kenapa kalian mengikutinya sampai seperti itu?" tanya Ray lagi.
"Karena beliau sangat menyayangi kami orang yang terbuang. Orang yang teracuhkan karena peperangan ini. Dan beliau memberikan tempat berlindung dan melindungi kami." jelas anak itu.
Ray tersenyum mendengarnya.
"Kalau begitu, bagaimana perasaanmu kalau melihat orang yang kamu sayangi dan berusaha kamu lindungi ternyata malah terluka?" tanya Ray.
"Tentu aku akan sangat sedih." jawab anak itu spontan.
"Kalau begitu, dia juga akan seperti itu kan? Dia pasti akan sedih kalau sampai melihat orang-orang yang disayanginya malah terluka." tambah Ray.
Anak itu tampak menyadari kalau yang dikatakan oleh Ray ada benarnya juga.
"Karena itu, jangan membuat usahanya melindungi kalian menjadi sia-sia." ujar Ray sambil tersenyum memegang pundak anak itu.
Dan anak itu pun membantu Ray membangunkan orang-orang yang tertidur. Dan mereka mengungsi ke arah pantai. Ray berdiri diatas salah satu batu karang.
"Jika aku meninggalkan mereka ditempat itu, apalagi ketahuan mereka menyuplai kekuatan untuk pangeran kegelapan, mereka pasti akan dibunuh. Tapi jika mereka menjadi pengungsi, mereka akan diselamatkan. Karena mereka akan terlihat seperti korban perang biasa. Lagipula, aku juga sudah mengantisipasi kemungkinan terburuknya." ujar Ray dalam hati sambil memperhatikan orang-orang yang sedang berjalan menyusuri pantai ke arah barat.
Anak kecil yang tadi pun menoleh ke belakang melihat ke arah batu karang. Namun Ray sudah tak ada disana.
"Siapa kakak itu? Dia begitu mengerti tentang pangeran. Apa mereka memiliki hubungan dekat?" gumam anak tersebut yang berjalan paling belakang.
Sementara itu di tempat kapten Al Hadid. Kapten Al Hadid tampak terdesak oleh serangan-serangan gelombang suara penghancur milik Deadly Silent.
"Bagaimana ini kapten? Kita sudah terpojok. Apa kita harus mundur?" tanya salah satu prajurit.
"Sial, sepertinya kita tak punya pilihan lain." ujar kapten Al Hadid.
Dari kejauhan, Deadly Silent hendak menyerang lagi. Namun dia menghentikan serangannya karena mendengar sesuatu. Ia berbalik ke arah tubuh Kamui yang terbaring. Terlihat jari-jari tangan Kamui bergerak. Matanya pun perlahan terbuka.
"Te-terima kasih.. ayah.." ucap Kamui dengan lemah sambil berusaha meraih pedangnya yang tergeletak ditanah.
Deadly Silent pun langsung kaget melihat Kamui masih hidup.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】