Memo, chapter 10 - Sial

Rere terlihat berdiri di depan gerbang seperti menunggu sesuatu. Lalu datanglah Sindy menghampirinya.
"Rere, sedang apa kamu disini? Ayo kita segera berkumpul dengan yang lain." ajak Sindy.
"Tapi belum semuanya siswa datang." balas Rere.
"Maksudmu anak bernama Arya itu? Dia sudah ada sejak pagi kok." ujar Sindy.
"Hah? Yang benar? Tumben dia datang pagi." kata Rere berbalik ke arah Sindy.
"Iya, dia datang pagi-pagi banget. Padahal para senior saja belum datang." jawab Sindy.
"Tunggu sebentar, jadi kamu juga datang pagi-pagi? Disaat yang bersamaan dengan dia? Bagaimana bisa?" tanya Rere dengan tatapan curiga.
"Aku juga tidak tahu. Aku datang pagi juga karena terbangun jam 3 pagi dan tak bisa tidur lagi. Mungkin hanya sebuah kebetulan." jawab Sindy sambil tersenyum.
"Pasti kamu dapat inspirasi dari mimpi lagi kan? Dasar penulis." ujar Rere.
Sindy hanya tersenyum mendengarnya.
"Ya udah, ayo kita segera berkumpul dengan anggota OSIS yang lain." sambung Rere yang kemudian jalan duluan meninggalkan gerbang.
Sindy mengikutinya dari belakang. Sementara itu Arya sedang duduk-duduk di luar kelas sambil mengantuk. Terlihat dia menguap beberapa kali dan hampir tertidur juga.
"Kenapa bro? Kamu kayaknya ngantuk banget?" sapa si mata sipit.
"Eh, tidak apa-apa kok. Aku hanya terbangun terlalu pagi aja. Ada mimpi yang seru untuk dibuat cerita. Tapi pas mau ditulis aku malah lupa." jawab Arya terperanjat karena hampir tidur.
"Lalu kenapa kamu tidak tidur lagi saja?" tanya si mata sipit.
"Mungkin dia tidak bisa tidur lagi karena terlalu memikirkan hal itu. Aku pun sama ketika sedang akan ada pertandingan." potong si tanpa ekspresi yang bersandar di pintu.
"Ooohhh.." sahut Arya dan si mata sipit bersamaan.
Si tanpa ekspresi itu pun terlihat berkeringat karena menahan kesal.
"Buat menghilangkan kantuk, sebaiknya aku beli kopi dulu di kantin sebelum bel masuk." ujar Arya sambil berdiri.
"Hati-hati.." ucap si tanpa ekspresi.
"Hah? Kenapa?" tanya Arya.
"Kenapa kau tanya kenapa? Bukankah kau ini selalu sial." ujar si tanpa ekspresi.
"Haha.. tenang saja. Kesialan takkan terjadi terus menerus." balas Arya dengan wajah yakin.
Kemudian dia pun berjalan lagi dengan santai. Namun tiba-tiba seperti ada angin kencang yang lewat disamping si mata sipit dan si tanpa ekspresi.
"Awas! Jangan menghalangiku!!" teriak seorang gadis ber-ponytail tampak berlari kencang.
Gadis itu berlari tepat ke arah Arya. Arya yang menyadari hal hendak menghindar namun tidak sempat dan akhirnya tertabrak oleh gadis itu dan terdorong kedalam sebuah kelas.
"Kyaa!" teriak seorang gadis dari dalam kelas.
"Makanya jangan menghalangiku terus. Lagi buru-buru nih." ucap gadis ber-ponytail itu kemudian berlari lagi.
"Apaan nih empuk-empuk?" pikir Arya yang pandangannya nampak gelap dan merasakan sensasi empuk ditangan kanannya.
"Sudah kubilang, jangan dekati lagi majikanku!!" bentak seorang gadis.
Kemudian Arya mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang terjadi, namun sebelum melihat jelas dia langsung kena tendang tepat diwajah. Arya pun terpental kebelakang hingga keluar kelas. Dan Arya pun terbaring ditanah.
"Se-sepertinya, aku tak butuh kopi lagi.." ucap Arya dengan sisa tenaganya dia mengangkat jempolnya.
"Dia memang sial!" ucap si mata sipit dan si tanpa ekspresi dengan wajah shock.
Terlihat saat itu Arya sedang diinjak-injak oleh seorang gadis berpakaian maid dan seorang gadis berambut agak keriting dibagian ujungnya itu berusaha menghentikan maid itu.

Catatan hari ini:
Takdir itu adalah suatu yang tak terduga. Karena itu jangan coba menebaknya.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】