VocaWorld, chapter 128 - Angin Perubahan (Angin Hapuskan Keheningan)
Kamui ada di sebuah tempat yang sangat gelap. Dia terbaring disana dan tidak bisa apa-apa.
"Mau sampai kapan kamu berbaring disana?" terdengar suara laki-laki menggema.
"A-ayah.." ucap Kamui mengenali suara tersebut.
"Bangunlah.. sekarang bukan saatnya untukmu bersantai-santai seperti itu." sambung suara itu terasa makin dekat.
"Ta-tapi, aku sudah dikalahkan.. aku terlalu malu untuk bangun.." jawab Kamui masih berbaring.
"Apa maksudmu? Kamu ini seorang samurai." balas suara itu.
"Bagi seorang samurai, sangat memalukan saat kalah tapi tetap bersikeras melawan. Ayah tahu itu kan?" kata Kamui keras kepala.
"Ya, samurai memang mesti malu saat dia kalah dalam pertarungan atau peperangan." ujar suara itu.
"Ka-kalau begitu, aku tidak salah kan?" sahut Kamui.
"Jangan berpikir seperti orang bodoh.." balas suara itu.
Kemudian muncul sosok laki-laki disamping Kamui. Dia berambut ungu panjang, menggunakan kimono dengan motif sebelah ungu sebelah putih. Dibawahnya tergeletak pedang milik Kamui yang nampak bercahaya keunguan.
"A-ayah.. apa itu ayah?!" ucap Kamui terkejut melihatnya.
"Aku bukan ayahmu yang sebenarnya. Ayahmu saat ini sudah berada ditempat yang lebih baik. Aku hanya refleksi beliau yang ditanamkan ke pedang ini. Bisa dibilang aku adalah kasih sayang ayahmu." jawab sosok itu yang wajahnya tidak nampak jelas.
"Lalu apa maksudnya perkataan anda tadi, refleksi ayah?" tanya Kamui.
"Ya, hanya orang bodoh yang berpikir seperti itu. Samurai macam apa yang meninggalkan alasannya bertarung hanya karena rasa malu? Lagipula seorang samurai belum dapat dikatakan kalah kalau belum kehilangan alasannya untuk bertarung. Dan sekarang kamu menyerah, padahal diluar sana masih banyak yang harus kamu lindungi dan kamu masih sanggup melindunginya. Diluar sana ada orang yang kamu sayangi, apa kamu akan meninggalkan mereka begitu saja? Selama samurai masih sanggup berdiri dan masih punya alasan untuk bertarung, maka dia belumlah kalah. Ingatlah itu baik-baik, nak." ujar sosok itu.
Kamui tercengang mendengar penjelasan sosok itu. Dia akhirnya sadar, kalau diluar sana masih banyak yang mesti ia lindungi. Dan diluar sana juga ada Gumi. Perlahan sosok itu menghilang, dan sempat tersenyum sebelum benar-benar lenyap. Kegelapan mulai memudar. Kamui mulai membuka matanya ditempat ia berbaring tak berdaya. Kamui melihat ke arah katana nya yang tergeletak disampingnya.
"Te-terima kasih.. ayah.." ucap Kamui sambil meraih pedang nya.
Kamui menggunakan pedang katana itu sebagai tumpuan untuk membantunya berdiri. Tampak cahaya keunguan menyelimuti tubuhnya.
"Dance: Samurai Warrior." ucap Kamui.
Kamui menoleh ke arah Deadly Silent yang melihatnya dengan ekspresi terkejut. Kamui tampak menyipitkan matanya menatap tajam ke arah Deadly Silent.
Dari dalam gedung, Gumi saat itu juga mulai sadarkan diri. Gumi berusaha berdiri, namun kakinya mulai gemetar dan ia pun kembali jatuh.
"Kakiku masih kelelahan. Tapi aku masih harus membantu yang lain. Apa yang harus aku lakukan?" ujar Gumi dalam hati.
Gumi pun akhirnya duduk dengan mata yang nampak sedih.
"Tidak, ini bukan waktunya untuk sedih. Aku harus keluar dan membantuk Gaku-Gaku dan yang lainnya." sambung Gumi dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Gumi pun mencoba untuk berdiri lagi, meski dengan kaki gemetaran. Dia mencoba berjalan keluar dengan sisa tenaganya. Walaupun beberapa kali jatuh, ia tetap berdiri lagi dan berjalan lagi. Hingga ia sampai di depan pintu keluar.
"Gaku-Gaku?!" ucap Gumi saat melihat Kamui mengeluarkan cahaya keunguan dan membuat angin yang cukup kuat.
"Lihat disana, Kapten? Bukankah itu Angin Senja?" ucap prajurit kapten Al Hadid sambil menunjuk ke arah pintu gereja.
"Ah, benar juga. Ayo segera evakuasi dia. Saat ini dia pasti sedang kelelahan." jawab kapten Al Hadid.
Kemudian dengan sembunyi-sembunyi pasukan kapten Al Hadid mendekati Gumi. Sementara Deadly Silent berhadapan dengan Kamui.
"Maafkan saya, pendiam-dono. Saat ini saya masih belum bisa kalah. Saya masih punya alasan saya harus bangkit dan bertarung." kata Kamui.
Deadly Silent pun bersiap menembakan gelombang penghancurnya. Kamui menyadari kekuatan gelombang itu. Deadly Silent pun menembakan gelombang tersebut.
"Gaku-Gaku!!!" teriak Gumi yang melihat Kamui terlihat meledak.
Deadly Silent yang mendengar teriakan itu langsung menoleh ke arah Gumi.
"Melihat kemana anda ini.." ucap Kamui yang ternyata sudah ada di depan Deadly Silent.
Kamui pun berhasil menebas dan membuat luka sayatan di tubuh Deadly Silent.
"Apa anda tidak diajarkan untuk tidak berpaling dari lawan yang sedang berada di hadapan anda?" sambung Kamui menatap tajam.
Darah yang cukup banyak menyembur dari luka sayatan itu. Deadly Silent melompat mundur menjauhi Kamui. Dia memegang lukanya dan sangat terkejut saat melihat darah menempel ditangannya.
"Ini kesempatan kita! Ayo!" ucap kapten Al Hadid pada pasukannya.
Kemudian mereka menghampiri Gumi.
"Apa kamu tidak apa-apa? Biarkan kami membawamu ke tempat yang aman." ujar kapten Al Hadid.
"Tidak, biarkan aku disini saja." tolak Gumi.
"Tapi disini berbahaya. Pasukan mindy sekutu sudah hampit sampai kemari. Mereka akan langsung mengebom tempat ini." jelas kapten Al Hadid.
"Tapi bagaimana dengan Gaku-Gaku?" tanya Gumi.
"Aku yakin dia juga akan menyusul kita." jawab kapten Al Hadid.
Gumi melihat ke arah Kamui, dan saat itu Kamui juga melihat ke arah Gumi. Tatapan mata Kamui seperti menyuruh Gumi untuk ikut dengan kapten Al Hadid saat itu. Gumi pun mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah, aku akan ikut kalian." ujar Gumi.
Akhirnya Gumi pun ikut dengan kapten Al Hadid. Dia di gendong menuju tempat yang aman.
Kamui saat itu hanya berdua dengan Deadly Silent. Suasana sangat hening, yang ada hanya suara angin yang ditimbulkan oleh aura Kamui.
"Saat ini hanya tinggal kita berdua, pendiam-dono." ujar Kamui.
Deadly Silent hanya diam dan menatap tanpa ekspresi. Kamui pun kemudian bersiap-siap untuk menyerang lagi.
"Mungkin sebaiknya saya yang menyerang duluan." ucap Kamui sambil tersenyum.
Kamui pun melesat ke arah Deadly Silent.
Deadly Silent melepaskan dua gelombang penghancur. Namun Kamui menghindarinya ke kiri dan ke kanan. Deadly Silent melepaskan gelombang penghancur yang lain. Dan Kamui kali ini menebasnya menjadi dua. Deadly Silent terlihat terkejut.
"Giliranku!" ucap Kamui yang sampai dihadapan Deadly Silent.
Kamui kemudian melakukan tebasan. Meskipun dapat dihindari, namun terlihat wajah bagian kanan Deadly Silent sedikit terkena luka sayatan ujung katana Kamui.
"Masih belum!" sambung Kamui yang kemudian melakukan tebasan lagi.
Namun kali ini Deadly Silent mampu menghindari setiap tebasan Kamui meskipun dilakukan berkali-kali. Dan ditebasan terakhir, Deadly Silent bisa menangkap pergelangan tangan Kamui dan menghentikan tebasannya. Deadly Silent tampak hendak menembak Kamui dengan gelombang penghancurnya dan tiba-tiba terdengar suara letusan senapan. Sebuah peluru tajam terlihat berhenti di dekat tulang rusuk bagian kiri Deadly Silent. Deadly Silent terkejut dan melihat ke arah bangunan yang salah satu ruangannya telah hancur ia tembak beberapa saat yang lalu.
"Apa kamu melupakanku? Aku masih disini!" bentak Aisyah yang tampak kesal.
Meskipun kakinya terhimpit runtuhan atap, namun ia masih bisa menembakkan sniper nya.
"Rasakan ini." kata Aisyah tampak mengincar lagi.
Lalu Aisyah menembak sekali lagi. Dan kali ini peluru itu tampak menembus rusuknya. Deadly Silent terkejut bukan main, soalnya dia yakin tak ada peluru yang bisa menembus pertahanannya. Dan ia melihat peluru tadi juga ada ditempat yang sama dengan ujung tampak menumpul. Namun setelah memperhatikan baik-baik, akhirnya ia pun mengerti. Deadly Silent pun ambruk sambil tersenyum. Cengkraman tangannya pun terlepas.
"Mungkin jika peluru itu sendiri takkan berhasil. Tapi jika keduanya saling bekerja sama, itu lain lagi." ucap Aisyah.
Dari kejauhan tampak 5 pesawat jet mendekati tempat tersebut. Kamui menyadari datangnya bahaya, kemudian melesat ke tempat Aisyah untuk menyelamatkannya. Kamui melompat dari satu bangunan ke bangunan lain dan akhirnya sampai di ruangan tempat Aisyah berada.
"A-angin fajar? Apa yang sedang kamu lakukan? Ce-cepat pergi sana. Tempat ini akan segera hancur." ujar Aisyah.
"Karena saya akan menyelamatkan anda. Anda telah menyelamatkan saya barusan, sekarang saatnya saya membalas budi." ucap Kamui berjalan ke belakang Aisyah.
"Kamu takkan sempat, waktu kita sempit." sahut Aisyah.
"Karena itu kita harus bergegas. Lagipula kalau belum dicoba kita takkan tahu lama atau tidaknya." balas Kamui sambil bersiap menebas.
Aisyah pun menutup matanya karena dia mengira kalau kakinya akan dipotong. Namun ternyata tidak, runtuhannya lah yang dipotong oleh Kamui. Membuat celah untuk kaki Aisyah untuk keluar. Kamui menyarungkan lagi katana nya. Kemudian dia menghampiri Aisyah lalu memapahnya mendekati jendela, dan membawanya melompat keluar. Tidak lama setelah itu pesawat-pesawat jet pengebom sampai ditempat tersebut. Mereka kemudian mengebom tempat tersebut dan semua yang dianggap sebagai markas pangeran kegelapan. Gedung gereja pun ikut ditembak oleh mereka, namun tiba-tiba keluar 2 bola api hitam dari jendela menembak kedua rudal yang mengarah ke gereja tersebut. Dan 2 rudal itu pun meledak sebelum sempat menggores bangunan itu. Kamui menyadari hal itu dan nampak berhenti melompat dan menoleh ke belakang.
"Disana kah?" ucap Kamui yang berhenti di atas sebuah bangunan.
Dari jauh, diatas bukit Ray juga memperhatikan hal itu.
"Sepertinya puncaknya baru saja dimulai. Aku juga hanya perlu menemukan tempat yang satu lagi." kata Ray sambil duduk santai diatas sebuah batu.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.