VocaWorld, chapter 129 - Angin Perubahan (Cahaya Tanda Akhir Peperangan)

Tempat yang diduga markas pusat pasukan Pangeran Kegelapan saat ini sudah dibom oleh 5 pesawat jet pasukan mindy sekutu. Namun mereka tak tahu tempat yang terakhir gagal dihancurkan. Sosok anak laki-laki terlihat berdiri dekat jendela dengan tangan berselimutkan api hitam. Tidak lain dan tidak bukan dia adalah Dante yang sedang memendam amarah. Dia melihat kapten-kaptennya tergeletak dijalanan.
"Haaaaaaaaa!!! Sialaan!!! Akan kumusnahkan kalian semua!!!" teriak Dante yang meledak amarahnya.
Dante bergegas menuju singgasana nya dan duduk disana. Kemudian dia menaruh kedua tangannya di pegangan berbentuk bundar itu. Pegangan itu pun bercahaya kemerahan dan tempat itu tampak bergetar. Dari luar terlihat bagian paling atas geraja itu terbang berpisah dengan pondasinya. Ternyata itu adalah sebuah pesawat besar yang saat ini terbang makin tinggi.
"Pertama, akan kuhabisi kalian dulu!" ucap Dante.
Pesawat itu pun berputar ke belakang dan menghadap tepat ke arah kelima pesawat jet yang sudah jauh meninggalkan wilayah kota itu ke arah laut.
"Bersiaplah untuk jatuh!" sambung Dante.
Dan pesawat besar itu pun melesat dengan kecepatan tinggi mengejar kelima pesawat jet. Perbedaan kecepatannya sangat terlihat jelas. Pesawat Dante pun bisa mengejar kelima pesawat jet itu dalam waktu singkat. Dan Dante pun langsung menembak pesawat yang paling tengah dengan api hitam. Dan pesawat itu pun hancur meledak di udara.
"Apa itu barusan?!" ucap salah satu pilot pesawat terkejut melihat temannya jatuh.
"Terkejutlah! Takutlah! Walaupun itu tak berguna! Sebab akhirnya aku akan mengancurkan kalian semua!" ucap Dante terlihat kehilangan akal sehatnya.
"Ini Hawk 2! Gunakan manuver menghindar! Semuanya berpencar! Ganti." ucap salah satu pilot pesawat melalui radio.
"Hawk 3, perintah diterima." sahut temannya melalui radio.
Begitu pula pilot yang lain yang mengerti keadaannya. Mereka pun berpencar berusaha menghindar dari jangkauan serang pesawat Dante.
"Kalian pikir bisa lari dariku? Jangan mimpi!" ucap Dante mengejar Hawk 4 yang melesat ke arah kanan. Hawk 4 berusaha menghindar ke arah kiri, namun Dante terus mengejarnya tanpa mau melepaskannya. Saat Hawk 4 hendak berbelok lagi ke kanan, Dante malah terus berbelok ke kiri dengan tajam dan kedua pesawat itu pun saat ini saling berhadapan. Dante pun menembak Hawk 4 hingga hancur berkeping-keping.
"Hahaha.. tinggal 3 lagi." ujar Dante yang lalu melesat mengejar Hawk 5.
Diatas bukit, Ray memperhatikan pertempuran antar pesawat tersebut.
"Sepertinya sudah saatnya aku bekerja." ucap Ray sambil berdiri.
Kemudian Ray memejamkan matanya untuk merasakan aura disekitarnya. Dan ia pun merasakan aliran kekuatan kegelapan dari arah barat.
"Ketemu juga, seperti yang kuduga. Pasti dia akan menggunakannya hanya saat genting saja." ujar Ray sambil melihat ke arah barat.
Kemudian Ray berjalan mengikuti aliran kegelapan itu.

Hawk 5 ternyata berhasil terkejar oleh Dante dan berhasil dihancurkan sekali tembak.
"Kurang ajar, akan kuhancurkan dia!" ucap pilot Hawk 3.
"Haha.. bagus! Kemarilah!" ucap Dante yang malah senang dikejar oleh Hawk 3.
"Dia malah menurunkan kecepatan, dasar bodoh!" kata pilot Hawk 3 yang bersiap menembakan rudal.
Namun sebelum sempat menembak, Hawk 3 terkena semburan api hitam dari bagian belakang pesawat Dante. Dan Hawk 3 pun terbakar hangus lalu meledak.
"Terbakar dan meledak! Mantap!" ucap Dante.
"Cih! Pesawat macam apa itu? Itu terlalu canggih!" ucap pilot Hawk 2.
"Sekarang giliranmu.." ucap Dante.
Dalam sekejap pesawat Dante langsung lenyap dari pandangan.
"Menghilang!? Tidak mungkin!" ucap pilot Hawk 2 kaget.
"Kejutan!" kata Dante langsung menembak Hawk 2 dari depan.
Hawk 2 pun hancur. Dante kali ini menuju ke arah timur karena menyadari pasukan tank sekutu.
"Bersiaplah untuk hujan!" ujar Dante.
Dante kemudian menembak barisan tank itu bertubi-tubi sambil lewat dari sisi kiri ke ujung sisi kanan. Barisan tank itu pun langsung hancur layaknya semut yang dihujani api.
"Hahaha.. tidak ada apa-apanya! Haha.." ujar Dante mentertawakan pasukan sekutu.
Yang tersisa saat itu hanya 2 kapal laut yang tampak bersembunyi di tebing batu pesisir pantai. Dan beberapa orang yang tersisa dari pasukan kapten Al Hadid. Ditambah dengan Kamui dan Gumi.
"Aku baru saja mendapat laporan kalau kelima pesawat jet dan pasukan tank sekutu kita telah dihancurkan oleh Pangeran Kegelapan." ujar kapten Al Hadid.
"Apa?! Bahkan pasukan tank dan pesawat jet tempur pun dijatuhkan begitu mudahnya?! Tamat sudah riwayat kita." ujar salah seorang prajurit.
Dan hal itu juga membuat prajurit yang lain tampak putus asa.
"Jangan menyerah dulu. Kita belum benar-benar kalah. Kita masih punya 2 kapal perang bukan?" hibur Aisyah.
"Ah paling mereka sedang ketakutan dan bersembunyi disuatu tempat." sahut salah satu prajurit.
Kamui pun berdiri dan menuju keluar tempat persembunyian.
"Mau kemana?" tanya kapten Al Hadid.
"Saya akan bertempur." jawab Kamui.
"Tapi kamu tak mungkin menang. Saat inj kekuatanmu pasti sudah hampir habis." ujar kapten Al Hadid.
"Tapi jika saya tidak mencoba melawan maka saya takkan tahu saya akan menang atau tidak. Saya tidak mau menyesal suatu saat nanti karena membuang kesempatan saya untuk melawan padahal kesempatan menangnya tidaklah nol." jelas Kamui.
"Yang dikatakan oleh Gaku-Gaku benar. Aku juga akan keluar melawannya. Meski tubuhku harus hancur, aku akan tetap mencoba mengalahkannya jika itu bisa membuka peluang untuk menang." tambah Gumi yang ikut berdiri.
Kapten Al Hadid tersenyum mendengarnya.
"Memalukan sekali, kita yang sudah dewasa kalah oleh mereka. Harusnya kitalah yang jadi teladan, bukan sebaliknya." ujar kapten Al Hadid yang ikutan berdiri.
"Benar juga." sambung Aisyah mengikuti kaptennya.
Melihat hal itu akhirnya para prajurit yang tersisa pun tidak putus asa lagi, dan mereka mulai bangkit dan bersiap bertarung.
"Ayo kita beri pelajaran pada Pangeran nakal itu!" ucap kapten Al Hadid keluar dari tempat persembunyian itu.
"Ya, kapten!" sahut para anak buahnya mengikutinya dari belakang.

Pesawat Dante menuju kembali ke kotanya, namun tetap dalam mode stealth alias tak terlihat. Dante membuka bagian atasnya lalu melompat keluar dan mendarat diatas sebuah gedung.
"Sekarang aku tinggal membereskan mereka yang bersembunyi di sekitar sini." ujar Dante
Sementara itu, Ray sedang mengikuti arus kegelapan yang mengalir diudara. Meskipun tak terlihat oleh mata, namun Ray bisa merasakannya.
"Aku tak tahu ada oasis disini. Dan tentunya sangat aneh ada piramida hitam ditengah oasis kecil seperti itu." komentar Ray.
Dihadapan Ray, dilembah antara 2 bukit terlihat sebuah oasis yang lumayan luas. Dan ada piramida hitam besar di tengah oasis tersebut seperti yang dikatakan Ray. Ray berjalan menuruni bukit batu itu. Ray pun sampai di oasis itu, dan dari balik rimbunnya pepohonan terlihat ada yang memperhatikan Ray. Namun sama sekali tak menghiraukannya. Dia tetap menuju ke arah piramida hitam. Sosok hitam yang memperhatikan Ray daritadi itu pun melompat hendak menyerang Ray. Namun sebelum sempat menyentuhnya, sosok itu terkena serangan listrik dari tanah. Dan sosok itu pun hancur seketika.
"Ingin menghentikanku, hah? Masih terlalu cepat ribuan tahun." ujar Ray dengan tanpa ekspresi.
Sosok hitam itu ternyata bukan hanya satu. Dan jumlahnya mungkin ada ratusan di sekitar Ray. Namun Ray tetap berjalan dengan santainya seakan tak ada apa-apa. Setiap sosok yang mendekatinya pun hancur terkena listrik yang muncul dari tanah disekitar Ray. Bahkan yang menyerang tepat dari atas pun dihancurkan oleh listrik yang keluar dari tanah dibawah Ray yang mengalir melalui tubuh Ray ke atas kepalanya. Saat sampai di hadapan piramid hitam, Ray menghentikan langkahnya. Para sosok hitam itu tampak kebingungan.
"Instrument: Thundergod Guitar." ucap Ray mengeluarkan instrument nya yang berupa gitar listrik berwarna biru dengan motif petir putihnya.
"Thunder Wave!" ucap Ray memainkan sebuah nada dan membuat aliran petir seperti ombak yang menghempas ke segala arah.
Seluruh sosok hitam itu pun musnah seketika. Lalu Ray pun memutarkan gitarnya kebelakang sehingga saat ini ada di punggungnya.
"Sepertinya tidak ada pintu masuknya." gumam Ray saat melihat baik-baik setiap bagian piramid itu.
"Kalau begitu aku tinggal membuatnya saja kan?" sambung Ray yang kemudian meletakan telapak tangan kirinya di sebuah petak penyusun piramid itu.
Sementara tangan kanannya kemudian menjertikan jarinya. Seketika petak itu pun hancur terpecah jadi kepingan kecil. Ray pun masuk melalui celah yang dibuatnya itu. Dibagian dalam piramid itu ternyata cukup luas. Mungkin luasnya sekitar 2500 meter persegi. Didalamnya ada sekitar 150 orang yang sedang bernyanyi melodi menyeramkan.
"Sepertinya mereka tak menyadari keberadaanku. Mereka pasti ada dalam pengaruh nada hitam yang sedang mereka nyanyikan. Mereka berada ditingkat yang lebih berbahaya dibanding yang sebelumnya." pikir Ray sambil berjalan ke tengah ruangan di dalam piramida itu.
Ruangan itu tampak berundak, semakin ke tengah semakin tinggi. Ray berjalan menaiki tangga menuju ke tempat tertinggi.
"Aku harus segera menyelamatkan mereka sebelum mereka jatuh dalam kegelapan." ujar Ray saat sampai dipuncak tertinggi.
Kemudian dia mengambil gitarnya lagi dan memainkan sebuah nada. Hal itu membuat ada aliran listrik menjualng keatas kemudian merayap melalui setiap sudut rusuk piramida tersebut. Seluruh tubuh Ray mulai diliputi oleh cahaya putih yang semakin lama semakin terang. Mulutnya seperti mengucapkan sesuatu. Dan ia memainkan melodi-melodi indah nan lembut yang menenangkan hati dengan gitarnya. Dari luar terlihat setiap celah petak piramida itu mengeluarkan cahaya. Dan dari ujung atas nya muncul cahaya yang amat terang menjulang tinggi. Dante, Kamui, Gumi, Kapten Al Hadid dan juga pasukannya melihat cahaya tersebut. Mereka kaget melihatnya.
"Apa itu? Fenomena alam kah?" ucap orang-orang di kapal perang yang juga melihatnya.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】