LINE Dragon Flight Story, chapter 5 - Musuh Tersembunyi

Pagi hari pun tiba, Duran terbangun dari tidur dikamar yang nyaman disebuah penginapan. Dia membuka jendela dan menyapa Moonlight diluar. Namun ternyata Moonlight masih tertidur.
"Yah dia masih tidur. Emang semalam dia begadang?" ucap Duran tampak kecewa.
Duran pun berjalan-jalan dikota sendirian mencari sarapan.
"Apa aku harus ke kedai yang kemarin saja ya? Hmm.." pikir Duran sambil berjalan.
Duran melihat ada ramai-ramai di depan. Banyak orang-orang yang berkumpul.
"Ada apa tuh? Kenapa rame banget disana?" ucap Duran merasa heran.
Karena penasaran Duran pun menghampiri keramaian itu.
"Ada apa ini pak? Kenapa orang-orang berkerumun disini?" tanya Duran pada seorang bapak-bapak.
"Katanya semalam terjadi perampokan. Satu keluarga tewas semua." jawab bapak tersebut.
"Benarkah? Siapa pelakunya?" tanya Duran lagi penasaran.
"Pelakunya belum ketahuan. Yang pasti sepertinya mereka sadis, soalnya terlihat dari mayat yang tampak terbelah 2. Dan ada yang terpotong-potong." jelas bapak itu lagi.
Karena belum puas dengan penjelasan bapak itu, Duran pun menerobos kerumunan untuk melihat sendiri kondisi tempat kejadiannya.
"T-tempat ini kan..?!!" ucap Duran terkejut saat menyadari kalau itu adalah kedai yang semalam.
Duran pun masuk ke dalam.
"Tunggu nona, sebaiknya nona jangan masuk kedalam. Didalam keadaannya sangat mengerikan." larang salah seorang penduduk.
"Tenang saja, aku sudah terbiasa kok dengan hal seperti ini. Karena aku adalah seorang ksatria." jawab Duran.
Mendengar hal itu, penduduk barusan pun tidak lagi menahan Duran. Duran mulai melihat bagian dalam kedai itu. Dan terlihatlah darah berceceran dimana-mana, lebih tepatnya bekas darah yang sudah mengering. Lalu di dinding ada sosok laki-laki yang terduduk dengan tubuh terbelah 2. Lalu dipojok ruangan ada jasad tanpa kepala. Dan di beberapa tempat banyak bagian tubuh yang tersebar dari jasad yang tidak diketahui siapa pemiliknya.
"Sepertinya ini bukan sekedar perampokan. Lagipula daripada disebut perampokan, ini lebih pantas disebut eksekusi." ujar Duran melangkah menuju pintu belakang.
Disana Duran melihat pintu menuju basement.
"Mungkin di dalam sini aku akan menemukan petunjuk." kata Duran sambil membuka pintu basement yang gemboknya sudah hancur itu.
Duran pun melompat masuk ke dalam.

Elli dan Rikka sampai dikota Rimpolly. Mereka berdua langsung mendaratkan naga mereka.
"Jadi ini kota Rimpolly?" ucap Elli.
"Ya, ini kota Rimpolly. Kota yang terkenal dengan spaghetti jamur alice nya." jawab Rikka.
Mendengar nama makanan, perut Elli langsung keroncongan.
"Aku lapar.." ucap Elli.
"Ya sudah, bagaimana kalau kita langsung ke tempat penjual spaghetti jamur alice saja." tawar Rikka.
"T-tapi.. aku tidak punya uang.." jawab Elli.
"Biar aku saja yang bayar. Sebagai ganti rasa terima kasihku untuk yang kemarin." balas Rikka.
Kemudian mereka pun berjalan ke tempat yang mereka maksud. Dari jauh, seorang bertubuh tinggi memperhatikan mereka. Sosok itu tampak tersenyum menyeringai.
"Ada apa kau tersenyum seperti itu?" tanya sosok yang terlihat lebih kecil dari sosok yang pertama.
"Aku baru saja menemukan seseorang yang bisa membantu kita." jawab sosok tinggi besar.
Elli dan Rikka pun sampai di depan kedai yang mereka maksud. Namun sekarang kedai itu tampak ramai dikerumuni orang.
"Aku tidak menyangka akan seramai ini. Kukira walaupun terkenal, itu takkan begitu ramai karena masih pagi." kata Rikka.
"Ya udah kita makan ditempat lain saja. Aku sudah lapar banget nih!" ucap Elli yang semakin keroncongan.
"Baiklah, ayo kita kesana!" sahut Rikka sambil menunjuk sebuah kedai roti bakar.
Elli pun setuju saja karena sudah tidak tahan dengan perutnya yang meminta untuk segera diisi itu. Mereka pun berjalan menghampiri kedai tersebut dan segera membeli roti bakar.
"Aku pesan roti bakar sandwich porsi besar!" ucap Elli dengan lantang tepat setelah duduk.
"Porsi besar? Yakin akan habis?" tanya Rikka yang melihat Elli itu bertubuh lebih pendek darinya dan ragu kalau dia bisa menghabiskan roti.
"Pasti bakalan habis kok, tenang saja." kata Elli.
Rikka pun menghela napas.
"Kalau begitu aku pesan roti bakar selai stroberi spesial saja." ucap Rikka sambil mengangkat tangan kanannya.
"Siap, Nona!" sahut pedagang tersebut.
Saat Elli dan Rikka sarapan, ditempat lain Duran sedang mencari petunjuk. Saat ini dia berada di dalam sebuah ruangan penuh dengan spora yang bertebaran di udara.
"Ruangan apa ini?! Udaranya.. aku harus berhati-hati." kata Duran sambil menutup hidungnya dengan tangan.
Duran berjalan makin kedalam, dan dia terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Tempat macam apa ini?!! Kenapa bisa ada benda seperti ini di dalamnya?!!" ujar Duran terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Duran terlempar keluar dari basement menabrak pintu basement yang terbuat dari kayu itu hingga hancur.
"Apa yang barusan itu?!! Dia bisa bergerak?!!" ujar Duran tampak kesakitan.
Dari basement yang pintunya sudah hancur itu muncul sosok mengerikan berupa jamur raksasa berwarna biru dengan tentakel yang masing-masing memiliki mulut dengan gigi yang tajam.
"Sial, aku tidak membawa pedangku. Aku tak mungkin menghadapi monster ini sendirian. Ditambah aku juga tidak bisa membiarkannya berkeliaran diluar." gumam Duran saat melihat monster itu keluar dan sekarang ada di halaman belakang bersamanya.
Monster jamur itu berusaha menangkap Duran, namun Duran bergerak lincah berguling-guling sehingga sulit ditangkap. Monster itu kesal, lalu mengerahkan seluruh tentakelnya untuk menangkap Duran. Karena diserang dari segala arah, Duran tak punya tempat menghindar. Duran pun tertangkap tentakel monster jamur itu.
"Sial, bagaimana ini? Tentakel ini alot sekali. Berbeda dengan serat jamur biasa." ujar Duran berusaha melepaskan diri.
Monster jamur itu pun mulai membua mulut di tentakelnya bersiap memakan Duran.
"Moonlight!!!" teriak Duran.
Dalam sekejap tentakel itu pun terputus dan terlihat seekor naga sedang memajang cakarnya yang tajam ditangan kanannya dan menangkap Duran dengan tangan kirinya.
"Anda tidak apa-apa, nona Duran?" tanya naga yang tak lain adalah Moonlight itu.
"Hampir saja, untung saja kamu cepat datang." jawab Duran.
Duran pun segera naik ke punggung Moonlight dan bersiap mencabut pedangnya yang terdapat di pinggang Moonlight.
"Anda tidak perlu menggunakannya, nona Duran. Jamur ini hanya musuh ecek-ecek. Biar saya saja yang bereskan." ucap Moonlight melarang Duran menggunakan pedangnya.
"Baiklah kalau kamu bilang begitu. Ayo kalahkan dia, Moonlight!" sahut Duran.
Moonlight melesat ke arah monster jamur lalu mencengkeramnya dengan kuat dengan cakarnya. Monster jamur itu melilitkan tentakelnya pada Moonlight memberikan perlawanan.
"Moonlight!" ucap Duran merasa cemas.
"Tenang saja nona, lilitan lemah seperti ini tidak berguna padaku." sahut Moonlight dengan tenang.
Moonlight langsung membawa monster jamur itu terbang tinggi. Dan akar monster jamur yang menempel di basement pun tercabut. Monster jamur itu tampak melemah.
"Jamur sepertimu tak ada bedanya dengan sebuah kertas!" ucap Moonlight lalu mencengkeram kedua sisi jamur itu dengan kedua tangannya.
Kemudian Moonlight menariknya dan monster jamur itu pun terbelah dua.
"Mudah untuk disobek." sambung Moonlight.
Dari bawah D memperhatikan dengan senyuman diwajahnya.
"Sudah kuduga, memang tak salah aku mengikutinya sampai kesini.. naga penyendiri.." ucap D.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】