Memo, chapter 7 - Senior Junior 1
Arya berjalan dengan lesu, walau yang lain tampak begitu semangat dan ada juga yang panik.
"Apa maksudnya ini? Aku disuruh mengumpulkan tanda tangan para senior OSIS. Dan berbeda dari orang lain, aku mesti dua halaman." gerutu Arya.
"Itu karena kau menjatuhkan tas didepan pintu dan membuat senior tersandung. Jadi jangan banyak mengeluh." kata si tanpa ekspresi yang berjalan disebelah Arya.
"Ah sudahlah, jangan ingatkan aku tentang hal itu. Itu memalukan!" kata Arya.
"Ya sudah, aku duluan ya.." ujar si tanpa ekspresi mempercepat langkahnya.
"Ah.. aku malas melakukan ini." ucap Arya menghela napas.
Kemudian dia berjalan menjauhi para senior, berbeda dengan yang lainnya. Dia seperti ikan salmon yang berenang melawan arus untuk bertelur. Saat lewat di perpustakaan, tiba-tiba seorang senior perempuan keluar dari dalam perpustakaan. Hal itu membuat kaget Arya, begitu pula dengan senior itu. Kalau diibaratkan mobil yang hendak tabrakan, mereka berdua langsung banting setir untuk menghindari benturan satu sama lain.
"Ha-hampir saja.. untung saja langsung belok. Meski kepala mentok tiang. Kalau tidak, bisa terjadi seperti yang ada di sinetron-sinetron." ujar Arya dalam hati sambil ngusap-ngusap jidat yang sakit.
Senior itu pun terlihat kesakitan akibat kejedot pintu.
"Ka-kamu mau ke perpustakaan?" tanya senior perempuan itu.
"Perpustakaan?" ucap Arya yang tidak mengerti.
"Iya, gedung ini adalah perpustakaan. Kamu suka membaca?" ucap senior itu berbalik dan tersenyum.
Ternyata dia adalah Sindy.
"Hmm.. tidak terlalu. Tapi aku suka menulis." sahut Arya.
Sindy pun tersenyum mendengar hal itu.
"Ada apa?" tanya Arya.
"Oh ya, apa kamu ingin melihat-lihat isi perpustakaan ini?" tawar Sindy.
"Ta-tapi.." ucap Arya.
Sindy langsung mendorong Arya masuk ke dalam.
"Ayo.. kamu takkan menyesal kok." ucap Sindy saat mendorong Arya.
Dari jauh seorang senior yang lain melihat Sindy dan Arya.
Di dalam perpustakaan itu cukup luas. Gedung itu punya 2 tingkat, dan terlihat banyak sekali buku disana. Arya hanya bisa menatap dengan penuh kekaguman. Berbeda dari bayangannya yang melihat perpustakaan itu seperti tempat yang tertutup dan gelap, perpustakaan itu putih dan bercahaya. Tidak ada kesan suram atau horror sama sekali.
"Bagus kan? Inilah perpustakaan SMA kita. Inilah perpustakaan putih." kata Sindy disamping Arya.
"Perpustakaan putih.." ujar Arya masih terlihat kagum.
Melihat ekspresi Arya, Sindy pun tersenyum.
"Apa kamu ingin melihat-lihat keseluruhannya?" tawar Sindy lagi.
"Ti-tidak usah.." tolak Arya.
"Jangan malu-malu.." ujar Sindy mendorong Arya lagi.
Sindy pun memperkenalkan bagian-bagian perpustakaan itu pada Arya. Mulai dari menjelaskan rak dengan jenis buku tertentu, hingga menyuruh Arya untuk membaca beberapa buku itu sebentar. Arya yang awalnya merasa terpaksa pun lama-kelamaan terpukau dan tertarik untuk melanjutkan membaca. Saat Arya membaca, Sindy melihat buku catatan Arya. Kemudian dia mengambilnya dan membuka-bukanya.
"Padahal dia sedang dalam tugas, tapi dia sama sekali tidak memintaku. Sebaiknya aku beri hadiah." ujar Sindy dalam hati.
Sindy mengambil pulpen, lalu tampak menulis sesuatu di buku itu. Kemudian meletakannya kembali ditempatnya semula. Setelah selesai membaca dan mengembalikan buku, Arya berpamitan pada Sindy.
"Yang barusan itu apa? Tiba-tiba hampir bertabrakan. Terus diajak berkeliling perpustakaan. Lalu dipaksa baca buku. Sepertinya hari ini tragis sekali nasibku." gerutu Arya.
"Hei bocah!" panggil seorang senior perempuan berambut pendek.
"Apa ini? Another trouble, kah?" gumam Arya dalam hati.
Arya ditarik paksa menuju kantin oleh seorang senior perempuan yang terlihat kesal padanya.
"Hei bocah, ada yang ingin aku tanyakan padamu." ujar senior itu.
"Aku tidak punya. Jangankan nomer ATM, nomer rekening pun tak punya." sahut Arya secara spontan.
"Hah? Apa maksudmu?" tanya senior itu.
"Kakak mau malak aku kan?" sahut Arya.
"Ya enggak lah. Ngapain malakin kamu!" jawab senior itu.
"Oohh.. begitu rupanya. Jadi kakak ngajakin kemari itu mau traktir aku ya. Kakak memang sangat baik hati." ujar Arya dengan wajah percaya diri.
"Siapa bilang! Apa alasannya coba pakai nraktir kamu!" bentak senior itu.
"Eh, jadi bukan ya?" tanya Arya.
"Bukan lah!" jawab senior itu.
"Lalu ada apa kakak tiba-tiba menarikku kemari?" tanya Arya yang ekspresinya berubah serius.
"Ada yang ingin aku tanyakan." jawab gadis tomboy itu.
Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan.
"Kenapa kamu malah keroncongan jam segini?" komentar senior itu.
"Hah? Itu pertanyaannya?" kata Arya heran.
"Bu-bukan! Tadi mah hanya ucapan spontan." jelas senior itu.
"Uhuy!" jawab Arya setelah mendengar kata 'spontan'.
"Jangan disambung!!" bentak senior itu.
"Haha.. maaf. Aku lapar karena sejak pagi belum makan. Kakak tahu sendiri saat itu aku terlambat." ujar Arya.
"Ya sudah, pesan makanan sana. Jangan yang terlalu mahal." ujar senior itu.
Arya bingung, dan malah memiringkan kepalanya.
"Aku akan mentraktirmu. Puas!" jelas senior itu.
"Ya ampun, jangan membuatku mengatakannya, dasar bodoh." geruru senior tersebut dengan suara pelan.
"Beneran?" tanya Arya tak percaya.
"Iya! Dengan satu syarat tentunya! Kamu harus katakan padaku apa yang kamu lakukan dengan Sindy di perpustakaan! Saat itu perpustakaan sedang sepi tidak ada penjaganya, kau tahu?" suruh senior itu.
"Eehh?!! Tidak ada penjaganya?!!" ucap Arya terkejut.
"Iya, tidak ada penjaganya karena seharusnya perpustakaan tutup saat itu. Tapi Sindy meminjam kunci perpus pada pembina perpus." jelas senior tersebut.
"Tunggu sebentar, barusan kamu terkejut. Jangan bilang kamu tidak melakukan apapun pada Sindy." ujar senior itu.
"Memang tidak. Dia hanya mengajak melihat-lihat dan membaca bersama saja." jawab Arya.
Senior itu langsung tersenyum aneh, ternyata dia salah sangka pada Arya.
"Memangnya kakak pikir aku melakukan apa kak Sindy?" tanya Arya.
"Tidak, bukan apa-apa." sahut senior itu malu-malu.
Kemudian dia melihat buku catatan Arya.
"Coba kulihat, kamu sudah mendapat berapa?" ujar senior itu sambil membuka buku catatan tersebut.
"Baru satu? Payah banget!" komentar senior itu saat melihat nya.
"Hah? Satu?!! Apa maksudmu?!!" ucap Arya terkejut.
"Tanda tangan ini.." ucap senior itu mengenali tanda tangan tersebut.
Arya pun merebut buku itu.
"Tidak mungkin! Aku belum meminta tanda tangan pada siapapun!" kata Arya dalam hati terlihat tidak percaya.
"Sini! Kemarikan bukumu!" suruh senior tomboy itu.
Senior itu pun tampak mencorat-coret halaman tempat adanya tanda tangan tersebut.
"Nih!" ujar senior itu memberikan buku itu pada Arya.
Kemudian senior itu pergi.
"Rere Eka Widya. Itu namaku. Ingat itu baik-baik, bocah." ucap senior itu berhenti sejenak lalu berjalan lagi.
"Tunggu sebentar, kalau dia pergi siapa yang bayar makananku?!" ucap Arya baru sadar.
Sesampainya di kelas, senior memeriksa setiap buku siswa baru untuk melihat hasil hunting tanda tangan tadi. Saat melihat buku Arya, senior terkejut.
"A-apa ini? Kenapa malah dicoret-coret? Kamu mau ngejek ya?" ujar senior yang kesal.
"Sebentar, sepertinya ini bukan coretan biasa. Ini seperti tanda tangan.." ujar senior perempuan disebelah senior tadi.
"Kamu mengenalinya?" tanya senior laki-laki pada senior perempuan.
"Ini adalah tanda tangan Rere." jawab senior perempuan itu.
"Rere? Tapi bukannya dia bilang tak akan memberi tanda tangannya pada siapapun karena dia takkan ikut dalam event ini." sahut senior laki-laki.
"Ya, sepertinya bukan hanya Rere. Lihat ini, ada tanda tangan lain disini." ujar senior perempuan.
Saat melihat tanda tangan yang dimaksud, senior laki-laki itu pun terkejut karena sangat mengenali tanda tangan itu.
"Bocah, bagaimana kau bisa mendapatkan tanda tangan ini!" kata senior laki-laki sambil menunjukkan tanda tangan tersebut pada Arya.
"Aku tidak tahu, aku mendapatkannya begitu saja." jawab Arya dengan jujur.
"Jangan bohong! Kau pasti nge-cheat!" tukas senior itu.
"Ini kehidupan nyata, bukan GTA! Kalau ini GTA pasti aku akan nge-cheat armor biar langsung kaya dan bisa kebeli PC." balas Arya.
Catatan hari ini:
Apa yang kamu dapatkan itu urusan takdir. Urusanmu hanya jujur pada diri sendiri dan berusaha sebaik mungkin.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.