Memo, chapter 40 - Masa Lalu
Sindy sedang mengetik di laptopnya sementara Arya sedang membaca buku yang diambilnya dari rak buku di ruangan itu.
"Aku sudah banyak membaca buku-buku yang ada disini. Aku penasaran, padahal dekat dengan perpustakaan. Tapi kenapa buku-bukunya disimpan disini ya?" gumam Arya sambil memperhatikan ke arah rak.
"Kalau kamu ingin tahu kenapa semua buku itu ada disini daripada di perpustakaan, alasannya adalah karena semua buku-buku itu aku yang beli dan dibawa dari rumahku. Itu bukan properti sekolah." jelas Sindy sambil mengetik.
"E, Eh? Kenapa dia bisa tahu apa yang aku pikirkan!? Apa dia bisa membaca pikiranku?" ucap Arya dalam hati terkejut mendengar perkataan Sindy.
Arya pun beralih dari memperhatikan rak jadi memperhatikan Sindy. Arya menatap Sindy dengan penuh curiga. Seperti berhati-hati karena tak ingin pikirannya dibaca lagi.
"Ehem! Berhentilah memperhatikan Sindy seperti itu, bocah bodoh!" ucap Rere dari arah pintu.
Arya terkejut dan menoleh ke arah pintu.
"Ada apa? Apa ada masalah lagi di OSIS?" sapa Sindy.
"Tidak kok. Aku hanya ingin mampir saja." sahut Rere berjalan mendekat ke arah Arya.
"Dan tak disangka datang-datang sudah disambut oleh pandangan mesum bocah bodoh ini kepada seorang gadis polos." sambung Rere dengan tatapan kesal pada Arya.
Arya langsung pucat pasi dan menunduk ditatap seperti itu oleh Rere.
"Oh.. jadi Rere kemari untuk melihat Arya kah? Tak disangka." ucap Sindy.
"Hah?! Kamu bilang apa, Sindy!?" bentak Rere.
"Rere malu-malu.." tambah Sindy.
"Siapa yang malu-malu!? Tak sudi aku melihat bocah bodoh ini!" bantah Rere.
"Benarkah?" sambung Sindy dengan senyuman licik.
"Beneran dah! Ngapain juga aku kemari buat lihat orang macam dia!" sanggah Rere.
"Maaf, bolehkah aku bertanya?" pinta Arya sambil mengangkat tangan.
"Ya, mau bertanya apa, Arya?" sahut Sindy.
"Aku sudah bergabung lebih dari seminggu di ekskul sastra. Tapi.. aku tidak melihat guru pembimbing muncul sekalipun. Siapa guru pembimbing ekskul sastra?" tanya Arya.
"Aku tidak tahu." jawab Sindy.
"Eh? Apa barusan senior bilang, 'tidak ada'?" sahut Arya merasa tidak percaya.
"Ya, ekskul sastra sudah setengah tahun ini hanya ada aku saja yang mengisinya." jawab Sindy sambil tersenyum.
"Eehhhh??!!!" ucap Arya kaget.
"Benar juga. Setelah anggota kelas 3 terdahulu pensiun dari ekskul di semester kedua, hanya ekskul sastra saja yang tak memiliki anggota kelas 2 dan hanya ada seorang anggota kelas 1 yang tersisa. Dan dia adalah Sindy." ujar Rere sambil berpikir.
"Tapi walau begitu mestinya masih ada guru pembimbingnya kan?" tanya Arya.
"Ya, harusnya memang begitu. Tapi guru pun akan malas memberikan bimbingan kalau anggotanya cuma 1 atau 2 orang." jawab Rere.
"Oohh.." ucap Arya mengerti dan menempelkan sudut bukunya di keningnya seperti sedang berpikir.
"Daripada memikirkan tentang masa lalu, mungkinkah sebaiknya kita mulai membuat jadwal kegiatan ekskul kita?" usul Sindy sambil menutup laptopnya.
"Kita?! Hey! Aku bukan anggota ekskul sastra!" tolak Rere.
"Hahaha.. maaf, sepertinya aku salah menggunakan kata. Tehe~.." ucap Sindy dengan wajah imut.
"Dasar kau ini!" komentar Rere.
Arya memperhatikan wajah Sindy saat itu. Tatapan sayu itu seakan curiga Sindy menyembunyikan sesuatu dibalik senyumannya.
"Ah, sebaiknya aku tidak menyelam terlalu dalam.." ucap Arya dengan suara pelan.
Catatan hari ini:
Masa lalu seseorang itu selalu sensitif. Berhati-hatilah kalau tidak mau menyakitinya.
"Aku sudah banyak membaca buku-buku yang ada disini. Aku penasaran, padahal dekat dengan perpustakaan. Tapi kenapa buku-bukunya disimpan disini ya?" gumam Arya sambil memperhatikan ke arah rak.
"Kalau kamu ingin tahu kenapa semua buku itu ada disini daripada di perpustakaan, alasannya adalah karena semua buku-buku itu aku yang beli dan dibawa dari rumahku. Itu bukan properti sekolah." jelas Sindy sambil mengetik.
"E, Eh? Kenapa dia bisa tahu apa yang aku pikirkan!? Apa dia bisa membaca pikiranku?" ucap Arya dalam hati terkejut mendengar perkataan Sindy.
Arya pun beralih dari memperhatikan rak jadi memperhatikan Sindy. Arya menatap Sindy dengan penuh curiga. Seperti berhati-hati karena tak ingin pikirannya dibaca lagi.
"Ehem! Berhentilah memperhatikan Sindy seperti itu, bocah bodoh!" ucap Rere dari arah pintu.
Arya terkejut dan menoleh ke arah pintu.
"Ada apa? Apa ada masalah lagi di OSIS?" sapa Sindy.
"Tidak kok. Aku hanya ingin mampir saja." sahut Rere berjalan mendekat ke arah Arya.
"Dan tak disangka datang-datang sudah disambut oleh pandangan mesum bocah bodoh ini kepada seorang gadis polos." sambung Rere dengan tatapan kesal pada Arya.
Arya langsung pucat pasi dan menunduk ditatap seperti itu oleh Rere.
"Oh.. jadi Rere kemari untuk melihat Arya kah? Tak disangka." ucap Sindy.
"Hah?! Kamu bilang apa, Sindy!?" bentak Rere.
"Rere malu-malu.." tambah Sindy.
"Siapa yang malu-malu!? Tak sudi aku melihat bocah bodoh ini!" bantah Rere.
"Benarkah?" sambung Sindy dengan senyuman licik.
"Beneran dah! Ngapain juga aku kemari buat lihat orang macam dia!" sanggah Rere.
"Maaf, bolehkah aku bertanya?" pinta Arya sambil mengangkat tangan.
"Ya, mau bertanya apa, Arya?" sahut Sindy.
"Aku sudah bergabung lebih dari seminggu di ekskul sastra. Tapi.. aku tidak melihat guru pembimbing muncul sekalipun. Siapa guru pembimbing ekskul sastra?" tanya Arya.
"Aku tidak tahu." jawab Sindy.
"Eh? Apa barusan senior bilang, 'tidak ada'?" sahut Arya merasa tidak percaya.
"Ya, ekskul sastra sudah setengah tahun ini hanya ada aku saja yang mengisinya." jawab Sindy sambil tersenyum.
"Eehhhh??!!!" ucap Arya kaget.
"Benar juga. Setelah anggota kelas 3 terdahulu pensiun dari ekskul di semester kedua, hanya ekskul sastra saja yang tak memiliki anggota kelas 2 dan hanya ada seorang anggota kelas 1 yang tersisa. Dan dia adalah Sindy." ujar Rere sambil berpikir.
"Tapi walau begitu mestinya masih ada guru pembimbingnya kan?" tanya Arya.
"Ya, harusnya memang begitu. Tapi guru pun akan malas memberikan bimbingan kalau anggotanya cuma 1 atau 2 orang." jawab Rere.
"Oohh.." ucap Arya mengerti dan menempelkan sudut bukunya di keningnya seperti sedang berpikir.
"Daripada memikirkan tentang masa lalu, mungkinkah sebaiknya kita mulai membuat jadwal kegiatan ekskul kita?" usul Sindy sambil menutup laptopnya.
"Kita?! Hey! Aku bukan anggota ekskul sastra!" tolak Rere.
"Hahaha.. maaf, sepertinya aku salah menggunakan kata. Tehe~.." ucap Sindy dengan wajah imut.
"Dasar kau ini!" komentar Rere.
Arya memperhatikan wajah Sindy saat itu. Tatapan sayu itu seakan curiga Sindy menyembunyikan sesuatu dibalik senyumannya.
"Ah, sebaiknya aku tidak menyelam terlalu dalam.." ucap Arya dengan suara pelan.
Catatan hari ini:
Masa lalu seseorang itu selalu sensitif. Berhati-hatilah kalau tidak mau menyakitinya.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.