Memo, chapter 42 - Rekrut
Pagi hari itu lagi-lagi Arya datang kepagian ke kelas. Dengan sedikit ngantuk, Arya menunggu bel masuk yang kelihatannya masih lama. Dan yang datang paling pertama setelah Arya ternyata adalah Shinta. Saat melihat Arya, Shinta terlihat sedikit terkejut. Karena tidak biasanya dia melihat Arya datang paling pertama.
"Ka-kamu.." ucap Shinta.
Arya hanya memiringkan kepalanya mendengar ucapan Shinta.
"Kamu begadang nonton bola juga kah semalam?" lanjut Shinta.
"Eh?" ucap Arya tidak mengerti.
"Kamu tahu kan semalam itu ada el clasico? Hahaha.. seru banget dah." ujar Shinta.
"Tidak, aku tidak menonton apapun semalam." jawab Arya dengan ekspresi datar.
"Hah?" sahut Shinta dengan wajah heran.
Kemudian wajahnya makin memerah dan memerah hingga menjadi seperti tomat.
"Ma-ma-maaf.. kupikir ka-ka-kamu..", "Tidak apa-apa kok. Aku tidak akan mempersalahkan hal semacam itu." jawab Arya memotong perkataan Shinta.
Shinta langsung berlari menuju ke tempat duduknya sambil menahan rasa malunya karena salah sangka. Sesekali dia melirik ke arah Arya untuk memastikan Arya tidak menatap aneh kearahnya.
"O-oh ya.. kamu gabung dengan ekskul sastra kan?" tanya Shinta.
"Kamu bertanya padaku?" sahut Arya melirik ke arah Shinta.
"Iyalah! Memangnya ada siapa lagi dikelas ini!?" bentak Shinta.
"Oh.. kupikir kamu sedang latihan drama atau semacamnya." jawab Arya.
"Bicara apa sih kamu!? Aku tidak tertarik berakting semacam itu." balas Shinta dengan wajah kesal.
"Baiklah kalau begitu. Akan kujawab. Dan jawabannya adalah. Ya, aku memang anggota ekskul sastra." jawab Arya.
"Jawabanmu begitu amat. Kayak lagi kuis aja." komentar Shinta.
"Terus kenapa memangnya kamu tanya begitu?" tanya Arya.
"Ya juga. Aku mau tanya kenapa kamu ikut ekskul membosankan seperti itu? Dari yang kudengar ekskul sastra anggota akhirnya cuma ada 1 orang dan guru pembimbingnya jarang masuk. Kedengarannya ekskul itu membosankan sekali." ujar Shinta.
"Ya kedengarannya memang membosankan. Tapi apa yang terdengar belum tentu sama dengan yang kenyataannya." balas Arya.
Shinta sedikit terkejut Arya bisa mengatakan hal semacam itu dengan terlihat keren sekali.
"Dan lagi, kalau kamu belum melihat isinya, maka tidak seharusnya kamu memberikan sebuah penilaian, kan?" sambung Arya sambil menyipitkan matanya.
"Ma-maaf.." ucap Shinta terlihat menyesal.
"Kamu sendiri ikut ekskul apa?" tanya Arya.
"Aku? Hmm.. aku belum memutuskan. Aku ingin ikut ekskul yang jenisnya olahraga. Namun.. aku bingung harus memilih yang mana." jawab Shinta.
Arya hanya diam dan mendengarkan.
"Setelah pertandingan sewaktu MOS, kapten dari tim Basket itu mengajakku bergabung dengan ekskul basket. Tapi aku masih ragu untuk menerimanya." sambung Shinta.
"Kenapa sebingung itu? Memangnya ada aturan kalau kita hanya boleh memilih satu ekskul? Kenapa tidak seluruhnya saja sekalian kan?" ujar Arya.
"Ka-kamu gila ya? Kalau semuanya.. bagaimana aku membagi waktunya." sahut Shinta.
"Ya, itu memang sedikit gila. Tapi ada pepatah yang mengatakan kan. 'Semuanya atau tidak sama sekali'. Daripada kamu terus bingung." jelas Arya.
"Benar sih. Tapi.. aku tidak mungkin bisa melakukan semuanya sekaligus. Kalau aku sih.. tidak mungkin.." ujar Shinta lalu terlihat sedikit murung.
"Kalau begitu, kenapa tidak ikut ekskul sastra saja?" tawar Arya menyadari wajah murung Shinta.
"Ekskul sastra?" ucap Shinta menoleh dengan sedikit terkejut.
"Ya.. saat ini anggota nya cuma baru 2 orang. Jadi kami merasa sedikit sepi. Dengan adanya kamu di ekskul kami, pasti bakalan jadi rame." sambung Arya.
"Be-beneran aku boleh bergabung? Aku tidak punya bakat apapun dalam hal menulis." tanya Shinta.
"Tentu saja boleh. Karena sastra bukan hanya sekedar menulis. Nanti akan ku kenalkan dengan ketua ekskul nya." jawab Arya.
"Baik!" sahut Shinta.
Catatan hari ini:
Jika tak bisa memilih salah satu dan tak sanggup untuk memilih semua, lebih baik memilih untuk tidak memilih dan membiarkan takdir yang menentukan.
"Ka-kamu.." ucap Shinta.
Arya hanya memiringkan kepalanya mendengar ucapan Shinta.
"Kamu begadang nonton bola juga kah semalam?" lanjut Shinta.
"Eh?" ucap Arya tidak mengerti.
"Kamu tahu kan semalam itu ada el clasico? Hahaha.. seru banget dah." ujar Shinta.
"Tidak, aku tidak menonton apapun semalam." jawab Arya dengan ekspresi datar.
"Hah?" sahut Shinta dengan wajah heran.
Kemudian wajahnya makin memerah dan memerah hingga menjadi seperti tomat.
"Ma-ma-maaf.. kupikir ka-ka-kamu..", "Tidak apa-apa kok. Aku tidak akan mempersalahkan hal semacam itu." jawab Arya memotong perkataan Shinta.
Shinta langsung berlari menuju ke tempat duduknya sambil menahan rasa malunya karena salah sangka. Sesekali dia melirik ke arah Arya untuk memastikan Arya tidak menatap aneh kearahnya.
"O-oh ya.. kamu gabung dengan ekskul sastra kan?" tanya Shinta.
"Kamu bertanya padaku?" sahut Arya melirik ke arah Shinta.
"Iyalah! Memangnya ada siapa lagi dikelas ini!?" bentak Shinta.
"Oh.. kupikir kamu sedang latihan drama atau semacamnya." jawab Arya.
"Bicara apa sih kamu!? Aku tidak tertarik berakting semacam itu." balas Shinta dengan wajah kesal.
"Baiklah kalau begitu. Akan kujawab. Dan jawabannya adalah. Ya, aku memang anggota ekskul sastra." jawab Arya.
"Jawabanmu begitu amat. Kayak lagi kuis aja." komentar Shinta.
"Terus kenapa memangnya kamu tanya begitu?" tanya Arya.
"Ya juga. Aku mau tanya kenapa kamu ikut ekskul membosankan seperti itu? Dari yang kudengar ekskul sastra anggota akhirnya cuma ada 1 orang dan guru pembimbingnya jarang masuk. Kedengarannya ekskul itu membosankan sekali." ujar Shinta.
"Ya kedengarannya memang membosankan. Tapi apa yang terdengar belum tentu sama dengan yang kenyataannya." balas Arya.
Shinta sedikit terkejut Arya bisa mengatakan hal semacam itu dengan terlihat keren sekali.
"Dan lagi, kalau kamu belum melihat isinya, maka tidak seharusnya kamu memberikan sebuah penilaian, kan?" sambung Arya sambil menyipitkan matanya.
"Ma-maaf.." ucap Shinta terlihat menyesal.
"Kamu sendiri ikut ekskul apa?" tanya Arya.
"Aku? Hmm.. aku belum memutuskan. Aku ingin ikut ekskul yang jenisnya olahraga. Namun.. aku bingung harus memilih yang mana." jawab Shinta.
Arya hanya diam dan mendengarkan.
"Setelah pertandingan sewaktu MOS, kapten dari tim Basket itu mengajakku bergabung dengan ekskul basket. Tapi aku masih ragu untuk menerimanya." sambung Shinta.
"Kenapa sebingung itu? Memangnya ada aturan kalau kita hanya boleh memilih satu ekskul? Kenapa tidak seluruhnya saja sekalian kan?" ujar Arya.
"Ka-kamu gila ya? Kalau semuanya.. bagaimana aku membagi waktunya." sahut Shinta.
"Ya, itu memang sedikit gila. Tapi ada pepatah yang mengatakan kan. 'Semuanya atau tidak sama sekali'. Daripada kamu terus bingung." jelas Arya.
"Benar sih. Tapi.. aku tidak mungkin bisa melakukan semuanya sekaligus. Kalau aku sih.. tidak mungkin.." ujar Shinta lalu terlihat sedikit murung.
"Kalau begitu, kenapa tidak ikut ekskul sastra saja?" tawar Arya menyadari wajah murung Shinta.
"Ekskul sastra?" ucap Shinta menoleh dengan sedikit terkejut.
"Ya.. saat ini anggota nya cuma baru 2 orang. Jadi kami merasa sedikit sepi. Dengan adanya kamu di ekskul kami, pasti bakalan jadi rame." sambung Arya.
"Be-beneran aku boleh bergabung? Aku tidak punya bakat apapun dalam hal menulis." tanya Shinta.
"Tentu saja boleh. Karena sastra bukan hanya sekedar menulis. Nanti akan ku kenalkan dengan ketua ekskul nya." jawab Arya.
"Baik!" sahut Shinta.
Catatan hari ini:
Jika tak bisa memilih salah satu dan tak sanggup untuk memilih semua, lebih baik memilih untuk tidak memilih dan membiarkan takdir yang menentukan.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.