Memo, chapter 49 - Kantin Dan Misteri
Setelah melihat artikel di mading, Arya juga Digna berjalan dengan lemas kembali ke kelas.
"Woy! Kurang ajar kalian! Meninggalkanku begitu saja setelah mendorongku!" panggil Fajar berlari menghampiri Arya dan Digna dari belakang.
Arya dan Digna menoleh ke belakang melihat ke arah Fajar.
"Oohh.. Fajar. Kemana saja kamu? Kami sudah baca beritanya. Ternyata itu cuma pengumuman lomba makan yang akan diadakan minggu depan saja." ujar Arya.
"Hah? Lomba makan? Beneran?" tanya Fajar yang kelihatannya tertarik dengan berita tersebut.
"Ya, kalau tidak salah itu akan diadakan pada sepulang sekolah selama 3 hari berturut-turut dari hari rabu sampai hari jum'at." jelas Arya.
"Wah.. menarik, kalau aku ikutan maka aku bisa makan gratis selama 3 hari. Hehehe.." ujar Fajar yang nampak tak sabar.
"Dia lupa tujuannya kemari. Kamu memang menakutkan, Arya." komentar Digna dalam hati.
"Ya, kita bisa makan gratis. Tak peduli siapa yang menang, yang penting makan." kata Arya.
"Ya-ya.. kamu memang my best friend." sahut Fajar.
Mereka bertiga pun kembali ke kelas dengan penuh kesenangan. Sementara di ruang OSIS. Beberapa eksekutif OSIS melakukan rapat dadakan. Sindy dan Rere duduk di tempat duduknya masing-masing. Sementara sang ketua OSIS duduk di mejanya sendiri sebagai pemimpin rapat.
"Kalian pasti sudah mendengar tentang beberapa orang yang kehilangan barang-barangnya saat makan dikantin. Saat ini keamanan sekolah kita sedang dalam keadaan yang memprihatinkan. Apa diantara kalian ada yang punya petunjuk tentang hal ini?" kata ketua OSIS.
"Kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dan sekarang terjadi tepat setelah minggu kedua anak kelas 1 masuk sekolah." ujar seorang laki-laki berpakaian super rapi dan berkacamata dengan rambut klimis berminyak.
"Jadi menurutmu pelakunya adalah anak kelas 1?" tanya ketua OSIS.
"Aku tidak tahu, tapi kemungkinannya memang seperti itu. Ditambah, kebanyakan yang menjadi korban adalah orang yang paling sering makan disana." jawab laki-laki itu dengan yakin.
"Tapi sebaiknya kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Asal menuduh saja bisa membuat kita terkena masalah nantinya." protes sekretaris OSIS.
"Benar sekali. Memang ini sedikit beresiko. Tapi bukankah akan lebih cepat jika kita melakukan razia pada anak-anak kelas 1 sebelum beritanya menyebar. Karena pelakunya akan lebih berhati-hati jika mengetahui gerak-geriknya sudah ketahuan." balas laki-laki berkaca mata.
"Tunggu dulu, Kelvin. Kupikir itu terlalu tergesa-gesa. Bukankah ada cara yang lebih aman untuk menangkap pelakunya?" ujar Sindy.
"Hah? Apa maksudmu, wakil ketua? Memangnya ada cara lain untuk mengetahui pelakunya selain merazia barang-barang mereka?" tanya laki-laki berkaca mata yang bernama Kelvin itu.
"Tentu saja ada." jawab Sindy tampak tenang menyeruput teh hangat miliknya.
"Tidak mungkin! Cara apa yang menurutmu lebih aman itu, wakil ketua? Jangan sok pintar! Mentang-mentang kau itu adalah orang peringkat 1 di sekolah, jangan mengatakan kalau usulan orang lain itu salah!" bentak Kelvin.
"Sudah-sudah, aku juga setuju dengan Sindy. Cara yang kamu usulkan itu memang terlalu beresiko. Ditambah, kalau aku pelakunya, sudah pasti aku tidak akan menyimpan barang-barang itu di dekatku. Aku akan sangat berhati-hati menyembunyikan barang itu untuk menghilangkan kecurigaan terhadapku." ujar ketua OSIS.
"Cih, baiklah jika ketua mengatakan itu." sahut Kelvin sambil membuang muka.
"Lalu.. cara apa yang akan kamu usulkan, Sindy?" tanya ketua OSIS terlihat serius.
"Kalau masalah itu, aku sudah punya orang yang bisa membantu kita." jawab Sindy sambil berdiri.
"Ooohh.. siapa itu?" tanya ketua OSIS lagi.
"Ksatria tak berpedang. Arya Sastrawardhana." jawab Sindy.
Saat istirahat sudah selesai, berikut juga rapat OSIS. Sindy dan Rere kembali ke kelas mereka. Mereka berdua berjalan bersama.
"Hei Sindy, apa maksudnya kamu menyebutkan kalau bocah itu bisa membantu kita menemukan pelakunya?" tanya Rere yang tidak mengerti maksud Sindy.
"Hmm.. mungkin kamu tidak tahu. Tapi dia cukup bisa diandalkan dalam hal problem solving seperti ini." jawab Sindy.
"Kata 'cukup' tadi membuatku ragu untuk mempercayainya." sahut Rere.
"Ya kita lihat saja apa yang bisa dilakukan orang Arya nanti. Aku percaya jawabannya nanti akan membuatmu kaget, Rere." balas Sindy.
"Aku tak tahu apa yang terjadi diantara kalian sehingga kamu sampai segitunya mempercayai bocah itu. Dia hanya pandai membuat orang lain kesal." ujar Rere.
"Bukan hanya membuat kesal, dia juga bisa membuat orang lupa akan kekesalannya." tambah Sindy.
"Dengan kata lain dia suka ngeles." jawab Rere.
Guru sudah datang ke kelas Arya, namun Arya duduk melamun di mejanya.
"Hmm.. tapi kejadian barang hilang itu terasa sedikit aneh menurutku. Kalau memang banyak barang yang hilang, kenapa kantin terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada kepanikan atau semacamnya." pikir Arya.
"Buat yang duduk di pojok. Mohon perhatikan ke depan." pinta guru perempuan yang mengajar biologi.
Tapi Arya diam saja dan tetap memperhatikan ke jendela karena tidak sadar kalau dialah yang dipanggil oleh guru itu.
"Woy! Jangan mengabaikanku, dasar bocah sialan!" bentak guru cantik yang terlihat kesal itu.
Namun Arya tak kunjung menoleh juga. Karena kesal akhirnya guru itu melemparkan penghapus papan tulis ke arah Arya. Tapi Arya menjatuhkan kepalanya ke meja sehingga lemparan guru itu meleset.
"Dia menghindarinya?!!" ucap para murid di kelas itu terlihat terkejut.
"Hah? Kenapa sih mereka ribut sekali? Tidak bisakah kalian diam sebentar? Ini sedang belajar tahu." gerutu Arya sambil mengangkat kepalanya dan menatap sayu kepada para murid.
"Kau sendiri kenapa dari tadi tidak memperhatikan!!" bentak guru itu makin kesal.
"Oohh.. itu. Daritadi aku memperhatikan kok. Kita sedang membahas tentang saluran pencernaan kan? Tenang saja, walaupun wajahku berpaling, tapi tetap perhatianku tidak mudah teralihkan." jawab Arya.
"Baiklah, kalau begitu kenapa tidak kamu jelaskan tentang lambung seperti yang aku jelaskan tadi?" tantang guru itu sambil menatap tajam.
"Aahh.. itu mudah." sahut Arya.
Kemudian Arya menjelaskan tentang lambung, ada zat apa disana, dan bagaimana proses pencernaan disana dengan sangat detail. Bahkan dia menambahkan sedikit penjelasan yang tidak dijelaskan oleh sang guru itu.
"Ba-bagaimana bisa?!!" ucap para murid kaget tak percaya.
"Di-dia.. seperti yang dikatakan oleh wali kelasnya, dia sangat mengerikan." ujar guru perempuan itu dalam hatinya.
Pelajaran biologi akhirnya selesai, guru meninggalkan kelas X-1 dengan wajah lega. Bel berbunyi menandakan waktu istirahat kedua sudah dimulai.
"Akhirnya istirahat juga. Ayo kita ke kantin, Arya." ajak Fajar.
"Tunggu, aku mau ke mesjid dulu sebentar." sahut Arya sambil berdiri.
"Oh, tumben langsung pergi. Biasanya kamu ke kantin setelah waktu istirahat hampir berakhir." ujar Fajar.
"Ada urusan yang harus aku lakukan di mesjid. Jadi maaf, aku duluan ya.." jawab Arya kemudian pergi.
Setelah selesai sholat, Arya langsung menghampiri sang imam yang tak lain adalah Ikhsan, ketua DKM.
"Ada apa? Sepertinya kamu ingin menanyakan sesuatu." ujar Ikhsan saat Arya mendekat.
"Seperti yang kuduga, sepertinya senior sudah tahu apa alasanku menghampirimu." sahut Arya.
"Hahaha.. kau mau menuduhku bisa membaca pikiran lagi?" tanya Ikhsan.
"Tidak juga. Aku tidak pernah mengatakannya secara langsung bukan?" ucap Arya sambil tersenyum licik.
"Terus apa yang ingin kamu tanyakan padaku?" tanya Ikhsan.
"Hmm.. ini tentang masalah dikantin. Aku dengar dari temanku, katanya disana beberapa hari ini ada masalah. Menurut senior bagaimana?" tanya Arya.
"Oohh.. tentang 'properti hilang' itu kah? Hmm.. jadi kamu tertarik dengan hal seperti itu." ujar Ikhsan.
"Tidak juga sebenarnya, tapi.. itu membuatku penasaran." jawab Arya.
"Begitukah? Hmm.. kalau begitu sebaiknya kamu berbalik kebelakang." suruh Ikhsan.
"Hah? Memangnya ada apa dibelakangku?" tanya Arya sambil menoleh ke belakang.
Saat itu Arya dikagetkan oleh Sindy yang sudah berdiri dibelakangnya saat itu. Sindy kemudian membungkuk dan tersenyum kepada Arya.
"Ini pasti takdir, kita dipertemukan disini padahal tadinya aku berniat untuk mencarimu." ujar Sindy sambil tersenyum.
"Se-senior hendak mencariku? Kenapa?" tanya Arya dengan heran.
"Tentu saja karena aku ingin meminta sesuatu padamu." jawab Sindy.
"Meminta apa? Aku tidak punya uang untuk membelikan sesuatu untukmu senior." ujar Arya.
"Eh, kamu pikir aku tipe perempuan seperti itu? Aku tidak akan melakukan hal begitu kok, Arya." jawab Sindy.
"Lalu apa yang ingin senior minta padaku memangnya?" tanya Arya.
"Seperti yang dikatakan oleh Ikhsan. Ini tentang masalah di kantin yang membuatmu penasaran." jawab Sindy.
"Eh, benarkah?" sahut Arya.
"Iya. Dan setelah rapat, akhirnya OSIS memutuskan untuk meminta bantuanmu." jelas Sindy.
"Hah?! OSIS meminta bantuanku?! Buat apa? Memangnya aku detektif atau semacamnya kah? Tidak-tidak.. aku tidak mungkin melakukannya. Aku tidak punya kemampuan analisis untuk membuatku menjadi detektif, senior." balas Arya.
"Aku tidak memintamu menjadi detektif kok. Arya hanya perlu menemukan pelakunya saja." jawab Sindy.
"Itu sama saja tahu, senior." sahut Arya.
"Tidak kok, itu berbeda. Menurutku tugas detektif adalah memecahkan misterinya, sementara kamu hanya perlu menemukan pelakunya. Beda kan?" jelas Sindy.
"Hmm.. tapi untuk menemukan pelakunya tidak semudah itu, senior. Ditambah, memangnya kenapa aku harus membantu OSIS. Bukankah akan lebih cepat jika kalian menyewa seorang detektif saja?" kata Arya memberikan masukan.
"Ya, sepertinya kamu benar juga. Tapi aku maunya kamu yang membantuku." jawab Sindy.
Ikhsan tersenyum tepat setelah mendengar perkataan Sindy.
"Sudahlah, kenapa tidak kamu bantu saja? Tak ada salahnya bukan membantu seniormu. Apalagi dia adalah ketua ekskul mu." tambah Ikhsan.
"Hmm.. tapi, kalau disuruh menemukan pelakunya.. sepertinya merepotkan sekali." balas Arya.
"Atau bagaimana kalau kamu beri dia imbalan saja, Sindy. Semacam hadiah kalau dia berhasil melakukan tugasnya." saran Ikhsan.
"Hmm.. iya juga. Baiklah. Arya, kalau kamu bisa menemukan pelakunya. Kamu akan aku perbolehkan mengambil ciuman pertamaku." ujar Sindy.
Arya bengong seakan otaknya sedang dalam proses loading.
"Apaaa???!!!!" ucap Arya dengan wajah kaget.
Sindy hanya tersenyum dengan pipi sedikit memerah. Ikhsan pun sedikit terkejut dengan tawaran Sindy tersebut.
Sambil berjalan menuju ke kelas, Arya masih kepikiran dengan tawaran Sindy sewaktu di mesjid.
"Kamu tak perlu menjawabnya sekarang. Jika kamu bersedia nanti katakan padaku saat diruang ekskul nanti." ujar Sindy dalam ingatan Arya.
"A-apa dia serius dengan tawarannya itu? Ciuman pertama kah.." gumam Arya sambil berjalan.
"Aaa! Kenapa aku malah memikirkan hal semacam itu!? Aku tidak mungkin tertarik pada hal seperti itu. Ini tidak seperti aku menginginkan ciuman dari senior!" ucap Arya dalam hatinya sambil menggaruk kepalanya dengan keras.
"Tapi.. aku juga tidak mungkin membiarkan sekolah ini dalam masalah. Hmm.." sambung Arya kembali berpikir.
Arya tidak memperhatikan jalan sehingga dia tidak sadar dihadapannya ada Alice sedang berjalan ke arahnya. Dan mereka pun bertabrakan. Arya dan Alice terjatuh duduk dilantai akibat tabrakan itu.
"Ma-maaf, kamu tidak apa-apa?" tanya Arya sambil membuka matanya karena terpejam menahan sakit di pantatnya akibat jatuh.
"Tidak apa-apa kok." sahut Alice sambil meringis kesakitan.
"Nona?! Apa nona tidak apa-apa?" tanya Ani yang langsung membantu Alice berdiri.
"Terima kasih, Ani." jawab Alice sambil berdiri dibantu oleh Ani.
Kemudian setelah Alice berdiri, Ani langsung mencengkeram kerah baju Arya dan mengangkatnya keatas sehingga Arya berdiri sekarang.
"Kurang ajar, kalau jalan tuh lihat-lihat dong!" ancam Ani.
"Kenapa caramu membangunkanku dengan membangungkannya berbeda sekali?" protes Arya dengan sedikit panik.
"Hah? Membangunkanmu? Matamu buta ya? Saat ini aku sedang mencoba mengangkatmu ke akhirat." jawab Ani.
"Oohh.. begitu ya. Pantas saja aku bisa melihat belahan surga dari sini." sahut Arya melihat ke celah baju Ani bagian dadanya.
"Dasar mesum!" bentak Ani sambil melempar Arya sejauh 3 meter.
Arya pun nyungsep hingga sampai di depan pintu kelasnya.
"Nice pitching!" ucap Arya sambil mengacungkan jempolnya dalam keadaan nungging.
Arya berdiri lagi sambil membersihkan debu di pakaiannya.
"Jangan bilang kau sengaja melakukannya biar masalahnya cepat selesai." komentar Digna yang berdiri bersandar diambang pintu.
"Ya, karena kalau tidak begitu aku bisa mati karena kehabisan napas." jawab Arya kemudian masuk kedalam kelas.
"Ani, kupikir kamu terlalu keras padanya." ujar Alice berjalan menuju ke kelasnya bersama Ani.
"Itu salahnya sendiri mengintip dadaku." gerutu Ani.
"Tapi itu juga salah Ani kan karena mengangkat tubuhnya seperti itu." sahut Alice.
"Kenapa nona malah belain dia? Meskipun tadi ada benarnya. Tapi, setidaknya nona kesal karena dia sudah melakukan tindak asusila." protes Ani.
"Aku tidak sedang membela siapapun kok. Hanya saja.." jawab Alice kemudian wajahnya jadi memerah.
Ani memiringkan kepalanya bingung dengan tingkah Alice.
Pulang sekolah, Shinta langsung menghampiri Arya.
"Mau langsung ke ruang ekskul?" tanya Shinta.
"Sebentar, aku mungkin akan ke kantin dulu. Kamu duluan saja." jawab Arya.
"Oohh.. baiklah. Kalau gitu aku duluan ya." sahut Shinta kemudian pergi keluar kelas.
"Wah.. ada apa nih? Kamu akrab banget dengannya. Mungkinkah kalian.. pacaran?" tukas Fajar.
"Hah? Jangan asal ngomong, aku tidak sedang dalam hubungan seperti itu dengannya." bantah Arya.
"Jawabanmu itu ribet banget. Kenapa tidak bilang saja kalau kamu bukan pacarnya." sahut Digna.
"Pokoknya, saat ini aku tidak tertarik dengan asmara atau semacamnya." tambah Arya sambil berdiri dan mengambil tasnya.
Arya kemudian keluar dari kelas meninggalkan Fajar dan Digna.
"Hmm.. dia serius mengatakan itu?" kata Digna.
Sesampainya di kantin, Arya menghampiri penjaga kantin.
"Permisi, bolehkah saya bertanya sesuatu.." ucap Arya sesampainya di depan penjaga kantin.
"Kalau itu tentang 'hal itu', maaf aku tak bisa jawab." balas bibi penjaga kantin.
Arya menyipitkan matanya karena menemukan apa yang ia cari.
"Tidak, ini bukan tentang rumor itu. Aku hanya ingin bertanya. Apakah es buahnya masih ada?" tanya Arya.
"Oohh.. maaf, kalau itu.. sepertinya hanya ada yang rasa semangka doang." jawab bibi penjaga kantin.
Bibi penjaga kantin itu terlihat merasa lega.
"Kalau gitu boleh. Yang rasa semangka juga tidak apa-apa." sahut Arya.
Setelah selesai membeli es buah nya, Arya langsung pergi menuju ke ruang ekskul sastra.
"Hmm.. kupikir mereka tidak tahu dengan kejadian itu, tapi sepertinya mereka juga menyadarinya. Namun terpaksa menutupinya karena suatu alasan." pikir Arya sambil berjalan dan meminum es nya.
Sesampainya di ruang ekskul, Arya langsung duduk di tempat duduknya. Shinta melihat Arya dengan tatapan rasa ingin tahu. Karena ini pertama kalinya ia melihat Arya begitu keras memikirkan sesuatu.
"Ada apa? Apa kamu masih kepikiran dengan pelajaran biologi tadi?" tanya Shinta pada Arya.
"Tidak. Kalau masalah itu aku tidak terlalu mempermasalahkannya." jawab Arya.
"Terus kenapa kamu kelihatan bingung gitu? Coba ceritakan padaku." pinta Shinta.
Namun Arya tidak menjawabnya dan itu membuat Shinta sedikit jengkel.
"Hei.. Arya. Kenapa kamu mengabaikanku? Ayolah jawab aku." pinta Shinta dengan wajah cemberut.
"Maaf, bisakah kamu diam sebentar. Aku butuh ketenangan disini." jawab Arya.
"Ketua, bisakah ketua bujuk dia?" pinta Shinta pada Sindy.
"Maaf Shinta, saat ini aku juga sedang sibuk." jawab Sindy sambil tersenyum.
Saat ini Sindy memang terlihat sibuk mengetik di laptopnya. Shinta semakin kesal, pipinya menggembung karena menahan rasa jengkel dihatinya.
"Sindy!" ucap Rere secara tiba-tiba membuka pintu.
Suara pintu yang dibanting cukup keras menyita perhatian semua orang di ruangan itu.
"Ikut denganku sebentar." pinta Rere sambil memandang serius pada Sindy.
"Ada apa, Rere?" tanya Sindy sambil mendekati Rere dan tetap bersikap anggun.
Dua sahabat itu pun segera menghilang dari pandangan Arya dan Shinta.
"Hmm.. kira-kira ada apa ya dengan mereka?" ucap Shinta.
"Hei Shinta, apa kamu tahu tentang sebuah rumor di sekolah kita minggu ini?" tanya Arya.
"Hah? Rumor?" tanya balik Shinta.
"Sepertinya kamu tidak tahu." sahut Arya sambil kembali berpikir.
"Memangnya kenapa dengan sekolah kita minggu ini?" tanya Shinta lagi.
"Sebenarnya saat ini pihak sekolah dan OSIS sedang kebingungan. Ada sebuah kejadian aneh yang terjadi dikantin. Beberapa barang menghilang begitu saja tanpa ada yang tahu siapa yang mengambilnya atau kenapa itu bisa terjadi." jelas Arya.
"Eh, mungkin itu hanya kelalaian orangnya aja kan?" sahut Shinta.
"Tapi, sampai saat ini, tidak ada satupun dari warga sekolah yang melaporkan menemukan barang-barang yang hilang tersebut." tambah Arya.
"Kalau gitu, pastinya.." ucap Shinta.
"Ya, kemungkinan barang itu dicuri." sambung Arya.
Suasana saat itu menjadi tegang.
"Sepertinya aku harus lebih berhati-hati kalau mau ke kantin." ujar Shinta.
"Tidak, sebaiknya kamu tetap ke kantin seperti biasanya. Aku ingin kamu membantuku tentang sesuatu." kata Arya.
"Membantu apa?" tanya Shinta.
"Melakukan research. Aku ingin kamu tetap ke kantin dan tetap disana selama jam istirahat. Aku ingin kamu memparhatikan setiap gerak-gerik orang-orang yang sedang ada disitu." jawab Arya.
"Eh, aku tidak bisa. Tidak mungkin aku bisa memperhatikan semua orang yang ada disana sekaligus." tolak Shinta.
"Kalau begitu aku akan kesana bersamamu. Jadi kita bisa membagi tugas." tambah Arya.
"Eh? A-aku dan kamu berduaan.. di kantin.." ucap Shinta wajahnya mulai memerah.
"Ada apa? Kamu masih keberatan kalau hanya aku yang membantumu? Kalau begitu akan kuajak Fajar dan Digna bersama kita." kata Arya.
"Ti-tidak! Kita berdua saja!" bentak Shinta.
"Hah? Kupikir semakin banyak orang akan semakin mudah." sahut Arya sedikit terkejut.
"Tidak, bukan begitu. Dengar, kata orang tidak baik kan kalau kita menyusahkan orang lain kan? Iya kan?" balas Shinta.
"Hmm.. kalau begitu aku sendirian saja. Aku tak mau merepotkanmu." kata Arya.
"Tidak! Aku tidak kerepotan kok. Beneran dah. Malah aku senang membantumu." sahut Shinta.
"Benarkah?" tanya Arya.
"Iya.." jawab Shinta.
"Baiklah, mulai besok kita akan selalu ke kantin bersama." ujar Arya.
Dari luar Sindy dan Rere terlihat tersenyum. Sepertinya mereka mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh Arya dan Shinta.
"Memanggilku kemari untuk memanggilmu keluar hanya untuk memberi waktu untuk mereka. Apa kamu yakin melakukan hal ini, Sindy?" tanya Rere melirik ke arah Sindy.
"Ya, karena dia bukan tipe orang yang melakukan sesuatu dibawah terang cahaya. Jadi kita biarkan dia bergerak dibalik bayangan." jawab Sindy tersenyum pada Rere.
Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan Arya dan Shinta makan di kantin bersama. Arya langsung melihat-lihat ke setiap orang yang datang ke kantin tepat setelah ia duduk.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan orang yang mencurigakan?" tanya Shinta.
"Tidak, belum. Kamu juga bantuin dong jangan diam saja!" suruh Arya.
"Iya-iya baiklah. Tapi mumpung kita disini kenapa kita tidak pesan makanan saja?" usul Shinta.
"Kamu saja. Saat ini aku tidak bawa uang." jawab Arya.
"Haahh.. kenapa kamu tidak bawa uang? Padahal kan kamu tahu kita mau ke kantin, kok malah tidak bawa uang?" tanya Shinta heran.
"Saat ini kan kita sedang mencari tahu tentang misteri barang-barang yang hilang. Gimana kalau pas aku pesan makanan eh uangku malah hilang. Kan bahaya." jawab Arya sambil menyipitkan matanya.
"Hmm.. iya deh. Biar aku saja yang pesankan." sahut Shinta kemudian berdiri.
Saat Shinta memanggil pelayan Arya mencoba berpikir.
"Kenapa barang-barangnya bisa hilang padahal kantin ramai seperti ini? Memang pencopet itu bisa menggunakan keramaian untuk mengambil barang. Tapi.. rasanya ada sesuatu yang kurang." gumam Arya sambil berpikir.
"Hahaha.. aku tidak takut dengan rumor seperti itu. Ini paling akal-akalan anak kelas 1 saja biar kantin ini bisa mereka kuasai." ujar seorang senior yang duduk di meja sebelah Arya.
"Tapi berita ini sudah menyebar diantara para Eater. Mereka semua kehilangan barang mereka pas dikantin." balas teman disebelahnya.
"Haha.. sudahlah. Kau tenang saja. Lihat ini, dompetku dirantai. Dan HP ku juga sudah aku amankan disaku depan yang dalamnya seperti palung Mariana." jawab senior yang terlihat gemuk itu.
"Ya terserahlah, pokoknya aku sudah memperingatkanmu tentang itu." balas temannya dengan kesal.
Arya mendengarkan pembicaraan mereka kemudian berpikir lagi.
"Kupikir anggapan kalau itu akal-akalan anak kelas 1 untuk menguasai kantin juga kurang tepat. Karena jika pelakunya adalah anak kelas 1, maka semuanya akan jadi runyam untuk kedepannya. Hubungan antara kelas 1 dan kelas 2 akan mengalami kehancuran." pikir Arya.
"Tunggu sebentar, Eater itu apa?" sambung Arya menyadari sesuatu yang belum ia mengerti.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Shinta.
"Hmm.. pertanyaanmu itu mirip Facebook." sahut Arya.
"Eh?" ucap Shinta bingung.
"Aahh.. itu lho pas mau update status, dikolomnya ada pertanyaan itu." jelas Arya.
"Oohh.." sahut Shinta baru mengerti.
"Sial, leluconku jadi gagal." ucap Arya dalam hatinya sambil melirik ke arah lain.
"Memang tadi kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Shinta lagi.
"Aku sedang memikirkan kemungkinan apa yang terjadi sebenarnya dibalik misteri hilangnya barang-barang." jawab Arya.
"Oohh.." sahut Shinta.
"Ini mie ayam bakso nya." ucap seorang pelayan perempuan yang berusia sekitar 18 tahun sambil meletakan 2 mangkok makanan yang dipesan oleh Shinta.
"Oy Shinta, bukankah sudah kubilang aku tidak bawa uang? Kenapa kamu malah pesan 2?" tanya Arya.
"Kata siapa aku memesankannya untukmu? Ini untukku semuanya." jawab Shinta.
"Hah?! Kau bisa memakan dua porsi sekaligus!?" ucap Arya terkejut.
"Tentu saja. Aku butuh makan banyak untuk bisa melakukan olahraga rutinku setiap harinya." jawab Shinta.
"Hahaha.. padahal tadinya kupikir dia bermaksud mentraktirku. Sepertinya aku terlalu berpikir positif." ujar Arya dalam hati.
"Bercanda deh. Ini memang untukmu. Hehehe.." tambah Shinta.
"Ha-haaahh?!!! Be-benarkah!?" ucap Arya terkejut.
Shinta pun menganggukan kepalanya mengiyakan.
"Te-terima kasih kalau begitu.." ucap Arya dengan wajah malu.
"Dia malu-malu.. tak kusangka menggodanya itu rasanya menyenangkan.." gumam Shinta sambil tersenyum.
"Oh ya, pelayan yang tadi itu.." kata Arya sambil menarik mangkuk nya mendekat.
"Hmm.. ada apa? Jangan bilang kamu tertarik padanya karena dia cantik?" tukas Shinta dengan tatapan curiga.
"Tidak, bukan itu. Tapi aku baru melihatnya hari ini. Apa dia pelayan baru?" tanya Arya.
"Tidak kok. Dia sudah disini sejak hari senin. Katanya dia kerja sambilan disini." jawab Shinta.
"Kalau baru datang hari senin kemarin mah itu namanya masih baru dong." protes Arya.
"Iya juga sih." sahut Shinta.
"Oh ya, apa dia selalu berkeliling seperti tadi?" tanya Arya lagi.
"Kupikir iya. Tapi kadang-kadang dia juga menjaga di tempat bayar disana." jawab Shinta.
"Hmm.. begitu ya." ucap Arya sambil memegang dagunya.
"Sudah mikirnya nanti saja. Kita makan dulu. Entar keburu dingin baksonya jadi gak enak." ujar Shinta.
"Oke." sahut Arya.
Sambil berjalan menuju ke kelas, Arya dan Shinta mengobrol. Dari belakang mereka tampak seorang gadis berambut panjang bergelombang mengikuti mereka secara sembunyi-sembunyi.
"Kenapa mereka terus bersama-sama dari tadi? Mungkinkah saat ini mereka berpacaran?" pikir gadis itu sambil mengengintip Arya dan Shinta dari balik tiang.
Gadis itu terus mengikuti Arya dan Shinta di sepanjang koridor.
"Ah, kenyang banget dah.." ucap Shinta.
"Tunggu sebentar apa kamu lupa tujuanmu ke kantin?" tanya Arya memastikan.
"Eh, tujuan kita ke kantin?" sahut Shinta dengan wajah bingung.
Arya langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Kamu lupa!?" kata Arya.
"Hahaha.. maaf. Soalnya aku terlalu menikmatinya, jadi kelupaan deh." jawab Shinta dengan senyuman bodoh diwajahnya.
"Lalu Arya sendiri sudah menemukan petunjuk kah?" tanya Shinta.
"Ya sebenarnya tadi aku juga kelupaan sih. Hehe.." jawab Arya.
"Kalau begitu jangan ngatain aku tadi tuh." balas Shinta dengan menatap tajam pada Arya.
"Haha.. iya maaf." sahut Arya.
Sesampainya di depan kelas, Arya disambut oleh Fajar dan Digna yang berdiri di dekat pintu kelas.
"Arya!" panggil Fajar.
Arya pun mendekat ke arah Fajar dan Digna.
"Oh ya Shinta, saat ini sampai disini dulu. Sampai jumpa di ruang ekskul." ujar Arya sambil menoleh ke arah Shinta.
"Ya." sahut Shinta sambil melambaikan tangannya.
Saat Arya berada dekat dengannya, Fajar langsung menarik Arya dan mengunci leher Arya dengan tangan kanannya.
"Oy-oy.. yang tadi itu apa? Aku tak tahu kalian sudah seakrab itu. Apa kalian sudah pacaran saat ini?" tukas Fajar.
"Hah? Siapa yang pacaran?" sahut Arya tidak mengerti maksud Fajar.
"Tentu saja kamu dan Shinta." jawab Fajar.
"Oohh.. kalian menganggapku pacaran dengannya hanya karena aku akrab dengannya. Tapi aku akrab dengan kalian berdua juga buktinya aku tidak pacaran dengan kalian." kata Arya dengan tenang.
"Ya itu kan beda lagi, Arya." sanggah Fajar.
"Kalau seorang laki-laki begitu akrab dengan perempuan sudah pasti orang-orang yang melihatnya akan berpikiran kalau laki-laki dan perempuan tersebut berpacaran kan?" jelas Digna.
"Tidak juga kan. Akrab tidak selalu menjadi patokan kalau ada asmara diantara mereka. Tapi kalau romantis dan mesra itu beda lagi. Harusnya kalian bisa membedakannya kan?" balas Arya.
Fajar dan Digna pun langsung tercekat karena tidak bisa memberi sanggahan apa-apa lagi.
"Seperti biasanya, kemampuanmu dalam berkata-kata menakutkan." komentar Digna.
"Oh ya, tumben kalian ada di depan kelas jam-jam segini. Biasanya kalian keluyuran sampai bel masuk atau diam dalam kelas." kata Arya.
"Aku sedang menunggumu." jawab Digna.
"Hah?" sahut Arya.
"Kami berdua sedang menunggumu kembali ke kelas." kata Digna lagi dengan lebih jelas.
"Memangnya ada apa sampai menungguku?" tanya Arya.
"Ini tentang kejadian dikantin yang pernah aku katakan padamu. Katanya ada lagi barang yang hilang hari ini. Tepatnya barusan." jawab Digna.
"Ya, korbannya adalah anak kelas 2. Katanya dia berkoar-koar dikantin sebelum barangnya hilang kalau dia tidak takut dengan rumor itu." jelas Fajar.
"Yang waktu tadi kah?" ucap Arya dalam hati mengingat seorang senior yang duduk di sebelah mejanya saat dikantin.
"Tadi aku baru kembali dari kantin, tapi tidak ada ribut-ribut tentang barang hilang tuh." ujar Arya.
"Eh, benarkah? Tapi saat ini dikelas 2 sedang ramai-ramainya." kata Fajar.
"Maksudmu?" tanya Arya.
"Saat ini, hampir seluruh sekolah akhirnya mengetahui tentang rumornya. Kalau begini terus, bisa-bisa acara lomba makan akan batal diadakan karena kendala keamanan." jelas Digna.
"Hah? Memangnya apa hubungannya dengan lomba makan?" tanya Arya yang tidak begitu mengerti.
"Tentu saja ada hubungannya. Kalau sekolah sedang tidak aman, mana mungkin pihak panitia tetap mengadakan acara. Bisa-bisa makin banyak korbannya." jawab Digna.
"Hmm.. begitukah.." sahut Arya sambil berpikir.
"Ya, tak perlu dipikirkan. Pasti OSIS bisa menyelesaikan masalah ini." kata Fajar.
"Kenapa dia sebegitu yakinnya pada OSIS? Padahal OSIS sendiri malah mempercayakan masalah ini padaku." komentar Arya dalam hatinya.
Saat istirahat kedua, Arya baru selesai sholat dan dia masih duduk termenung dan memikirkan sesuatu. Dan kemudian Sindy memegang pundaknya dari belakang mengejutkan Arya. Arya yang sedang berpikir pun terperanjat kaget dibuatnya.
"Whoa!? Se-senior?! Jangan mengejutkanku begitu!" ucap Arya yang terkejut dan berbalik kebelakang.
"Memangnya kamu sedang apa? Yang lain udah pada balik ke kelas kamu masih duduk saja disini." tanya Sindy.
"Senior sendiri sedang apa disini?" tanya balik Arya.
"Yeh.. ditanya malah balik nanya. Aku ini seniormu lho." ujar Sindy sambil berpura-pura marah.
"Terserahlah.. saat ini aku sedang berpikir. Sebaiknya senior jangan menggangguku dulu." jawab Arya.
"Oohh.. kamu sudah berani menyuruhku pergi seperti itu ya.." ucap Sindy sambil menutup mata Arya.
"Senior, hentikan senior! Gelap! Gelap!" ucap Arya.
"Oh.. jangan bilang Arya takut kegelapan." ujar Sindy.
"Tidak, aku tidak takut gelap. Sebenarnya gelap hanya alasan." jawab Arya.
Sindy yang nempel di punggung Arya membuat Arya sedikit gugup. Wajahnya sedikit memerah saat itu.
"Kalau kalian mau pacaran jangan disini! Ini tempat ibadah! Dimohon segera pindah, wahai pasangan manusia!" pinta Ikhsan yang sudah berada dibelakang Arya dan Sindy.
"Maaf.. aku kelupaan. Hehe.." jawab Sindy.
"Kalau gitu sampai jumpa di ruang ekskul ya, Arya." ujar Sindy pada Arya sambil keluar dari mesjid.
"Ya." sahut Arya.
"Tadi itu berbahaya banget. Aku bisa merasakan sesuatu yang empuk nempel di punggungku. Besar banget lagi." ujar Arya dalam hati.
"Kalau kamu mau berpikiran yang tidak seharusnya, setidaknya keluarlah dulu dari sini." pinta Ikhsan.
"Ba-baiklah.." sahut Arya kemudian keluar dari mesjid.
Arya kembali ke kelasnya. Disana dia langsung ditarik oleh Shinta ke mejanya.
"A-ada apa tiba-tiba menarikku begini?" tanya Arya.
"Tentu saja ada yang ingin aku bicarakan denganmu." jawab Shinta.
"Mereka terlihat sangat dekat. Sepertinya mereka benar-benar sudah sangat akrab." ujar Fajar yang memperhatikan dari tempat duduknya bersama Digna.
"Mau mereka dekat atau tidak itu bukan urusan kita kan? Kita tak usah ikut campur." sahut Digna.
"Tapi dia tidak solider bro, dia berani-beraninya deket dengan cewek sementara kita masih ngenes gini." gerutu Fajar.
"Ngenes? Maaf, jangan samakan aku denganmu." ujar Digna.
"Jadi kamu juga? Dasar tampan sialan!" ucap Fajar terlihat kesal.
"Hmm.. maksudmu, saat istirahat kedua kejadian itu tidak terjadi?" tanya Arya pada Shinta yang duduk dihadapannya.
Saat ini mereka berdua duduk saling berhadapan di meja yang sama.
"Jadi bagaimana menurutmu? Maaf aku hanya bisa melaporkan hal itu saja. Aku tidak handal dalam hal memata-matai seperti ini." ujar Shinta terlihat kecewa pada dirinya sendiri.
"Tak apa. Informasimu sangatlah membantu. Dengan begini aku bisa memulai menjatuhkan telur." jawab Arya sambil mengelus kepala Shinta.
Shinta pun terlihat tenang dan nyaman saat kepalanya dielus oleh Arya. Fajar terlihat sangat iri dibelakang Arya.
"Oh ya, saat di ruang ekskul nanti, jangan bilang apapun tentang ini pada senior Sindy. Aku tak ingin pihak manapun tentang hal ini." pinta Arya.
"Tenang, masalah menjaga rahasia percayakan saja pada Shinta." ucap Shinta dengan bangga.
"Ya-ya.. aku percaya padamu." jawab Arya sambil mengelus kepala Shinta lagi.
"Sial.. bikin iri dah. Bagaimana caranya dia bisa seakrab itu dengan perempuan." ujar Fajar dalam hati sambil menatap tajam pada Arya yang membelakanginya.
Shinta yang menyadari tatapan Fajar kemudian berdiri sambil mengambil sesuatu dari sakunya. Fajar kaget tiba-tiba Shinta menghampirinya.
"Tunggu, kenapa dia tiba-tiba kemari? Apa jangan-jangan dia tadi ngobrol dengan Arya karena sedang bertanya-tanya tentangku?" ucap Fajar dengan sedikit kaget.
"Kalau begitu aku harus menyiapkan penampilanku dulu." sambung Fajar kemudian berbalik dan merapikan rambutnya dengan ludahnya.
Digna yang melihat itu jadi merasa jijik.
"Hei, temannya Arya." panggil Shinta pada Fajar.
"Ya, ada apa manis?" sahut Fajar sambil menoleh dengan kilauan tampak disekitar wajahnya.
"Kalau matamu perih pakai ini." ucap Shinta sambil meletakan obat tetes mata diatas meja.
"Apa maksudnya?! Siapa yang matanya perih emang?!" tanya Fajar dengan wajah kaget.
"Mata merah karena iritasi ringan? Pakai obat tetes mata." ujar Shinta dengan nada seperti sedang iklan.
"Woy!!" panggil Fajar karena tidak dianggap.
"Kalau sudah makainya kembalikan ya?" pinta Shinta kemudian kembali ke tempat duduknya.
"Siapa memangnya yang matanya perih!!!??" ucap Fajar terlihat kesal.
Kemudian Digna menyentuh pundak Fajar. Fajar menoleh ke arah Digna.
"Yang sabar ya kawan." ucap Digna dengan wajah menyesal.
"Jangan melihatku seperti itu, sialan!" ucap Fajar
Di ruang ekskul yang sepi, Arya tampak tidak datang dan disana hanya ada Shinta dan Sindy saja. Mereka tidak saling bicara. Sindy terlihat sibuk dengan laptopnya dan Shinta sibuk menulis tweet.
"Dia tidak datang?! Aku ditinggalkan sendirian dengan ratu kegelapan sekolah!" tulis Shinta kemudian mengirimkan tweet nya.
"Oh maaf kalau aku adalah penguasa kegelapan disekolah." balas seseorang dengan username ERia.
"Eh, emang apa hubungannya denganmu?" balas Shinta yang memakai username 'sarasthecat'.
"Karena aku ada di depanmu." jawab username ERia.
"Eehh??!!" ucap Shinta terkejut.
Kemudian Shinta melihat ke arah Sindy dan melihat ternyata Sindy melambaikan tangan ke arahnya.
"Eeeeehhhhh??!!!!" ucap Shinta lagi dengan wajah shock.
"Memangnya kamu pikir aku sedang apa disini, nona Saras?" tanya Sindy sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Whoaa.. maaf senior!" ucap Shinta terlihat menyesal.
"Tidak apa-apa kok. Aku akan memaafkanmu kalau kamu mengatakan rencananya Arya." sahut Sindy.
"Rencananya Arya. Maaf aku tidak tahu apa-apa tentang itu." jawab Shinta.
"Apa Arya yang menyuruhmu menyembunyikannya dariku?" tanya Sindy.
"Ti-tidak kok. Dia sama sekali tidak menyuruhku untuk menyembunyikannya atau apapun." jawab Shinta dengan gugup.
"Dari caramu menjawabnya sepertinya benar dia menyuruhmu menyembunyikannya." tukas Sindy.
"Ti-tidak kok. Beneran." jawab Shinta lagi.
"Oohh.. kalau begitu biarkan ratu kegelapan ini mengajarkan sesuatu." ujar Sindy sambil tersenyum mendekati Shinta.
"Eh? Apa yang akan senior lakukan padaku?" tanya Shinta terlihat panik.
"Hehehe.." Sindy tersenyum jahat mendekat ke Shinta.
Shinta semakin terlihat ketakutan. Arya datang ke ruangan ekskul dan membuka pintu lalu dia pun menemukan sebuah kejadian yang mengagetkannya. Sindy tampak sedang menindih tubuh Shinta seperti berusaha menyerangnya.
"A-apa yang sedang kalian lakukan sebenarnya!?" tanya Arya terkejut melihat kejadian itu.
Kemudian semuanya tampak kembali normal di ruangan ekskul tersebut. Mereka kembali duduk di tempat duduk mereka masing-masing.
"I-ini tidak seperti yang kamu lihat. Kami tidak melakukan apapun kok." ucap Shinta sambil menoleh ke aarah Arya.
"Ya-ya.. aku mengerti kok. Aku takkan berkomentar." sahut Arya lalu menyeruput segelas teh hangat yang ia buat.
"Dari nadamu, sepertinya kau sudah salah paham." ujar Shinta.
"Tidak-tidak, aku mengerti kok. Jika kalian memang memiliki hubungan seperti itu aku takkan melarang kalian." jawab Arya.
"Sudah kuduga kau salah paham! Tidak seperti itu kok! Biarkan aku menjelaskannya terlebih dahulu." pinta Shinta semakin panik.
"Tak perlu dijelaskan bukan? Tadi itu sudah jelas banget." balas Arya sambil kembali menyeruput teh hangatnya.
"Sudah kubilang ini tidak seperti kelihatannya!!!" bentak Shinta.
"Hmm.. baiklah-baiklah. Tenang saja.. tadi aku hanya bercanda. Memangnya ada apa sampai senior Sindy menyerangmu seperti tadi?" tanya Arya.
"Jadi kamu hanya menggodaku!!?" pekik Shinta sambil melempar sebuah buku ke jidat Arya.
Arya pun terjatuh dari kursinya dan lebih sialnya dia juga tersiram teh hangatnya sendiri.
"Aaaa!!" teriak Arya saat celananya tersiram teh yang cukup panas untuk kulit itu.
Akhirnya Shinta pun cemberut pada Arya karena ngambek dijahili oleh Arya seperti tadi.
"Jadi memangnya apa yang terjadi tadi tuh?" tanya Arya.
"Entahlah." jawab Shinta sambil memalingkan muka sambil cemberut,
"Yang lebih penting, apa rencanamu kedepannya untuk mengatasi masalah dikantin?" tanya Sindy.
"Rencana? Apa maksud senior? Sudah kukatakan kalau aku takkan ikut campur dengan masalah semacam itu. Paling juga entar pecah sendiri masalahnya." jawab Arya.
"Hmm.. begitukah? Kalau begitu aku serahkan saja semuanya padamu." sahut Sindy.
"Ah, sepertinya senior tidak mendengarkanku." balas Arya sambil memegang kepalanya.
Hari berikutnya di kantin sekolah, Arya terlihat berdiri bersandar di dinding memperhatikan orang-orang dikantin. Tapi sepertinya dia lebih tertarik memperhatikan pelayan dikantin itu. Gadis cantik yang menyita perhatian hampir seluruh orang dikantin itu di perhatikan oleh Arya dengan seksama.
"Kakak itu cantik juga ya? Kira-kira sudah punya pacar belum ya?" ucap seseorang disamping Arya.
"Dari apa yang kulihat, dia sepertinya belum memiliki pacar." jawab Arya.
"Oh.. kalau begitu bagus. Sepertinya aku bisa memanfaatkannya." sahut orang yang ada disamping Arya kemudian menghampiri kantin.
"Senior kah? Apa yang hendak ia lakukan?" gumam Arya melihat sosok orang yang tampak selalu menggigit batang korek api itu.
"Hei kakak pelayan? Apa kakak bisa masak?" tanya senior itu pada gadis pelayan dihadapannya.
"Di-dia?!! Bara dari kelas 2 IPA 3, orang yang dijuluki food tester terhebat disekolah." ujar seorang senior yang melihat kedatangan orang berambut belah dua dan menggigit batang korek api itu.
"Kemarin eater, sekarang food tester. Apa-apaan ini sebenarnya? Anak-anak sekolah ini suka sekali memberi nama julukan seperti itu." komentar Arya.
"Masak? Bisa. Memangnya kenapa?" jawab pelayan itu dengan ramah pada Bara.
"Kalau begitu masakan sesuatu untukku biar aku coba kehebatannmu dalam memasak. Tenang saja, berapapun harganya akan kubayar. Lagipula aku anak pengelola warung makan terkenal." pinta Bara membujuk gadis itu memasakkan sesuatu untuknya.
"Pengelola warung makan? Mungkinkah?" ucap Arya.
"Tidak, kamu salah." sahut Sindy yang sudah berada disampingnya.
"Whoa! Senior?!" ucap Arya terkejut.
"Kalau kamu pikir dia adalah pemilik warung makan seperti yang kamu duga itu keliru." sambung Sindy kemudian pergi meninggalkan Arya.
"Ada apa dengan semua senior disini? Apa mengagetkan orang seperti tadi sudah menjadi kebiasaan para senior?" gerutu Arya saat Sindy pergi.
"Maaf, seribu kali maaf. Permintaanmu tidak bisa saya kabulkan. Karena tidak mungkin saya menggunakan fasilitas dapur kantin untuk kepentingan pribadi seperti itu." tolak gadis pelayan itu.
"Ah.. ayolah. Kalau masalah uang tidak perlu khawatir kan kubilang?" bujuk Bara dengan sedikit memaksa.
"Maaf, ini bukan masalah uang. Aku tidak bisa menuruti permintaanmu." jawab gadis itu.
"Hei..hei.." ucap Bara mendekat dan memegang pundak gadis itu.
"Hentikan, dasar berandal." pinta Rere yang ternyata sedang makan disana.
"Re-Rere?!! Sedang apa kamu disini!?" tanya Bara terkejut melihat Rere.
"Tentu saja sedang makan siang, apa kau buta!?" jawab Rere dengan kasar.
"A-Aku tidak tahu kamu ada disana? Haha.." sahut Bara terlihat gugup.
"Hah? Maksudmu aku ini tidak terlihat? Kamu menyamakanku dengan kaca yang sudah dibersihkan menggunakan pembersih kaca?" tanya Rere dengan tatapan kejam.
"Ma-maaf.." ucap Bara kemudian kabur meninggalkan kantin.
"Kerja bagus, senior Rere." ujar Arya.
"Te-terima kasih." ucap gadis pelayan pada Rere.
"Sama-sama. Ngomong-ngomong namamu siapa ya?" tanya Rere pada gadis pelayan itu
"Namaku Ririn. Aku adalah pekerja magang disini. Salam kenal.." jawab pelayan itu.
"Namaku Rere. Aku dari OSIS, ketua dari seksi keamanan." balas Rere.
"Seksi keamanan?!" ucap Ririn terkejut.
"Ada apa?" tanya Rere.
"Tidak ada apa-apa." jawab Ririn.
Arya yang memperhatikan mereka juga sedikit heran dengan keterkejutan Ririn.
Arya duduk di depan kelasnya sambil melihat awan yang melintasi cakrawala siang itu.
"Akhirnya aku mulai mengerti beberapa hal. Meskipun masih belum jelas. Yang perlu ku lakukan hanya memastikannya." ujar Arya dalam hati.
Seseorang menyentuh pundak Arya dengan lembut. Telunjuk mungil itu mencolek-colek Arya membuat Arya menoleh ke belakang.
"Ha-hai.." sapa orang itu yang ternyata adalah Alice.
"A-Alice.." ucap Arya terkejut melihat orang yang mencoleknya adalah Alice.
"Ka-kalau kamu butuh bantuan, aku bisa membantumu." tawar Alice.
"Kamu sendirian? Bagaimana dengan pelayanmu itu?" tanya Arya sambil melihat ke kiri dan ke kanan dengan cemas.
"Ani? Tenang saja, saat ini dia sedang ku suruh ke kantin." jawab Alice.
"Oohh.. terus apa maksudnya dengan kamu mau membantuku?" tanya Arya lagi.
"Aku pikir kamu sedang menyelidiki sesuatu. Ja-jadi.. kupikir aku bisa memberikan sedikit bantuan." jelas Alice dengan malu-malu.
"Darimana kamu tahu hal itu? Shinta kah?" tanya Arya dengan menatap curiga.
"Ti-tidak darimanapun! Eh, siapa itu Shinta?" jawab Alice kemudian bertanya balik.
"Apa dia gadis yang rambutnya diikat kebelakang itu? Apa hubunganmu dengannya? Katakan padaku!" tanya Alice lagi mendekatkan wajahnya ke Arya karena penasaran.
Arya pun memundurkan duduknya kebelakang karena merasa wajah Alice terlalu dekat. Namun Alice terlihat tetap menatap Arya dengan penuh harap.
"Kenapa kamu tidak menjawabku? Jadi benar kalau kalian itu.. pacaran." tukas Alice.
Arya sedikit tersentak mendengarnya.
"Tidak ada hubungan spesial seperti itu kok diantara kami. Saat ini kami hanya menjalin hubungan biasa antar sesama manusia saja." jawab Arya.
"Jadi maksudmu kalian hanya berteman?" tanya Alice.
"Ya. Kami hanya berteman." jawab Arya.
"Syukurlah.." ucap Alice.
"Eh, 'syukurlah'?" kata Arya dengan heran.
"Bukan apa-apa, lupakan saja." sahut Alice.
"Jadi, adakah yang bisa aku bantu?" tanya Alice lagi.
"Hmm.. kalau begitu apa kamu tahu sesuatu tentang pelayan baru yang ada dikantin?" tanya Arya.
"Pelayan baru? Oohh.. maksudmu Ririn." sahut Alice.
"Kamu kenal dia?" tanya Arya.
"Ya, tentu saja. Dia tadinya bekerja di restoran yang berada di bawah naungan perusahaanku." jawab Alice.
"Di restoran ya. Tapi kenapa dia sekarang jadi kerja di tempat seperti ini? Kerja dikantin sekolah pastinya gajinya lebih kecil kan?" ujar Arya.
Alice pun kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Arya.
"Sebenarnya ini rahasia, tapi karena kamu butuh maka akan ku katakan padamu. Dia bekerja disini karena.." bisik Alice melanjutkan penjelasannya dengan bisikan di telinga Arya,
"Begitukah? Oohh.. aku mengerti sekarang." ujar Arya saat Alice selesai menjelaskan.
Alice memundurkan wajahnya kembali kebelakang. Disaat itu Ani datang dari arah kantin sambil membawa dua potong roti dan 2 teh gelas. Dan dari pandangan Ani, Arya dan Alice saat itu terlihat seperti habis berciuman. Hal itu membuat Ani shock dan menjatuhkan bawaannya.
"A-apa yang kau lakukan pada nona Alice!!!?" pekik Ani menunjuk ke arah Arya dengan penuh kemarahan.
"Ooh.. Ani.. kamu sudah kembali?" ucap Alice senang melihat Ani kembali.
"Menjauh dari nona Alice!" suruh Alice sambil melemparkan sebuah teh gelas ke arah Arya.
Arya tidak bisa menghindar dan akhirnya teh gelas itu mendarat tepat dikepala Arya dan pecah. Sehingga Arya saat ini pun basah karena air teh.
"Dingin-dingin-dingin!" ucap Arya kedinginan tersiram air teh itu.
"Ka-kamu tidak apa-apa?" ujar Alice tampak khawatir mengeluarkan sapu tangannya.
Beberapa saat kemudian.
"Jadi apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Ani menginterogasi Arya.
"Bukan urusanmu kan." jawab Arya dengan dingin.
"Haaah!! Apa maksudmu bocah!?" ujar Ani sambil menatap Arya dengan penuh amarah.
"Sudahlah Ani, jangan terlalu kasar padanya. Dia tidak salah apa-apa." pinta Alice.
"Nona terlalu banyak membelanya. Bagaimana jika dia sampai melakukan sesuatu yang aneh pada nona?" sanggah Ani.
"Tidak akan kok. Dia bukan laki-laki seperti itu." jawab Alice mencoba meyakinkan Ani.
"Bagaimana nona bisa yakin? Anda lihat saja tatapan mata liciknya itu. Dia sedang menatap tubuh nona dengan penuh nafsu." tukas Ani menunjuk muka Arya.
Meskipun sebenarnya hal yang dikatakan Ani hanya dalam pandangannya saja, tidak seperti kenyataannya. Karena Arya saat ini menatap bosan pada Ani dan Alice.
"Be-benarkah? Tapi.. kupikir dia tidak begitu." jawab Alice yang malah tampak terpesona melihat Arya.
Karena di pandangan Alice, tatapan Arya begitu hangat dengan mata berkilauan dan juga banyak gemerlap disekitar wajahnya.
"Sebenarnya seperti apa aku kelihatannya?" komentar Arya dalam hati.
"Pokoknya nona jangan banyak dekat-dekat dengannya. Nanti nona bisa tertular." ujar Ani.
"Tertular? Tertular apa memangnya?" tanya Arya terlihat sedikit keberatan.
"Tentu saja tertular AKYV." jawab Ani.
"AKYV? Apaan tuh?" tanya Arya lagi dengan tatapan malas.
"Arya Kuso Yarou Virus." jawab Ani.
"Tunggu.. biar kuluruskan. Apa barusan itu dari bahasa jepang?" tanya Arya.
"Eh, darimana kau tahu?" tanya balik Ani yang tampak kaget.
"Tentu saja aku tahu! Itu adalah kata yang sering digunakan oleh tokoh anime saat kesal!" jawab Arya.
"Ternyata kau otaku juga!" balas Ani.
"Yes, I'm otaku. And I'm proud of it!" sahut Arya dengan bangga.
"Kalian sedang ngomongin apa sih?" tanya Alice yang tidak bisa mengikuti pembicaraan Arya dan Ani.
"Ti-tidak, bukan tentang apa-apa kok." sahut Arya.
"Oh ya, terima kasih untuk yang tadi. Aku tidak akan lupa untuk membalasnya nanti." sambung Arya berpamitan untuk kembali ke kelasnya.
"Ya, sama-sama." sahut Alice tersenyum pada Arya.
"Tunggu sebentar! Apa maksudnya dengan itu!!? Jangan-jangan mereka.. sudah ada pada hubungan seperti itu!!??" tukas Ani dalam hati membayangkan kalau Arya dan Alice tadi tuh benar-benar sudah berciuman.
Sepulang sekolah, Arya mencegat Rere yang hendak pulang. Rere terkejut melihat Arya berada di dekat pos satpam dan melirik ke arahnya seperti sudah menunggunya.
"Apa maksudnya ini? Apa dia mau pulang bersamaku? Tidak mungkin dah. Dia pasti mau menantangku. Ya, pasti dia ingin mengajakku duel sepulang sekolah." gumam Rere sambil tetap tenang berjalan menuju ke gerbang.
"Maaf menyita waktumu sebentar, senior. Tapi ada sesuatu yang ingin kuminta darimu." ujar Arya sambil berdiri dan menghadap ke arah Rere.
"Oh.. oke. Aku siap kapanpun untuk melakukannya." jawab Rere sambil memasang kuda-kuda.
"Eh, ada apa dengan posisi itu, senior? Nahan BAB?" tanya Arya.
"Siapa yang kau bilang nahan BAB!!? Kau beneran ngajak ribut ya, bocah sialan!" bentak Rere sambil menjambak kerah baju Arya.
"Kalau bukan nahan BAB, kenapa pose senior seperti itu?" tanya Arya dengan sedikit merasa sesak.
"Bukannya kamu mau ngajak sparring?" jawab Rere.
"Hah?" sahut Arya bingung.
"Tunggu, jadi kamu nungguin disini bukan untuk ngajak duel?" tanya Rere.
"Bukanlah. Tadi kan sudah kubilang kalau aku mau minta sesuatu." jelas Arya.
"Minta sesuatu kah? Oh.. jadi ceritanya kamu malakin senior sekarang?" tukas Rere menatap tajam pada Arya.
"Bisakah senior tidak selalu berpikiran negatif tentangku?" protes Arya.
"Hmm.. mau bagaimana lagi. Disekitarmu banyak sekali aura negatif. Bikin merinding." jawab Rere.
"Senior kira aku ini hantu ya." sahut Arya.
"Terus kalau bukan malak, kau mau minta apa?" tanya Rere.
"Bantuan. Aku meminta sedikit bantuan dari senior sebagai ketua seksi keamanan OSIS." jawab Arya.
"Apa yang kau inginkan dari seksi keamanan?" tanya Rere.
"Baiklah, akan kujelaskan permintaannya.." sahut Arya.
Arya pun menjelaskan permintaannya pada Rere. Di gedung olahraha, Digna dan para seniornya terlihat sedang latihan. Digna terlihat melawan seorang seniornya saat ini. Dan dengan tendangan yang sangat cepat, Digna berhasil menjatuhkan seniornya itu.
"Wah.. seperti biasa, dia hebat sekali. Memang benar dia itu jenius ternyata." ujar salah seorang seniornya yang duduk melihat pertarungan itu.
"Bagus, Digna. Semakin lama kekuatan dan kecepatanmu semakin meningkat." puji pak Agus.
"Terima kasih, master." sahut Digna memberi hormat.
"Ah.. gawat banget nih. Gantungan kunci motorku hilang." ujar salah seorang senior tampak sedang mengobrak-ngabrik tasnya.
"Hah? Cuma gantungan kunci aja kok panik banget. Biasa aja. Kan nanti bisa beli lagi." sahut teman disebelahnya yang heran.
"Masalahnya itu pemberian pacarku. Kalau sampai ketahuan aku menghilangkannya, bisa di omelin habis-habisan nanti." jelas senior yang panik itu.
"Maaf senior, tapi kapan terakhir kali ingat gantungan kunci itu masih ada? Kemana saja senior membawanya?" tanya Digna mendekat ke arah senior itu.
"Kalau tidak salah tadi masih ada pas aku kemari sesudah bel pulang. Lalu aku ke kantin sebentar. Dan pas kemari lagi itu sudah hilang." jelas senior itu mencoba mengingatnya.
"Jadi senior membawanya ke kantin?" tanya Digna lagi.
"Ya." jawab senior itu.
"Hmm.. begitu rupanya." sahut Digna.
"Memang kenapa?" tanya senior itu.
"Kemungkinan benda itu hilang saat dikantin. Coba cari lagi kesana dan tanyakan pada penjaga kantin." usul Digna.
"Oh.. benar juga. Terima kasih, Digna." ucap senior itu.
"Ya, sama-sama." sahut Digna.
Kemudian Digna keluar dari ruangan sebentar sementara senior itu tampak berlari menuju ke kantin. Di luar Digna berpapasan dengan Arya yang hendak ke ruangan ekskulnya.
"Oh Arya kah.." sapa Digna.
"Digna?" sahut Arya,
"Mau ke ruang ekskulmu?" tanya Digna.
"Ya begitulah. Kamu sendiri baru selesai latihan ya? Kamu benar-benar rajin." jawab Arya.
"Terima kasih." sahut Digna.
"Nah kalau begitu aku mau ke ruang ekskul dulu." ujar Arya sambil berjalan melewati Digna.
"Tunggu Arya, ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu." ucap Digna.
Arya pun berhenti dan melihat ke arah Digna.
"Tadi baru saja terjadi lagi. Barang yang hilang dikantin." sambung Digna.
"Hah? Oohh.. begitu rupanya." ujar Arya.
"Sepertinya kamu sudah tahu pelakunya." tukas Digna.
"Tidak. Hanya aku mengerti sesuatu saja." sahut Arya kemudian melanjutkan langkahnya.
"Oh ya, terima kasih atas infonya." ucap Arya sambil melambaikan tangan.
Hari berikutnya lagi, Arya dan Shinta kembali berduaan dikantin. Tapi bukan untuk bermesraan, mereka hanya berpura-pura nongkrong disana sambil memperhatikan orang-orang.
"Hari ini kenapa kamu tidak memperhatikan orang-orang lagi? Memangnya kamu sudah tahu pelakunya?" tanya Shinta.
"Belum. Aku hanya mengerti cara kerjanya saja." jawab Arya.
"Cara kerjanya?" ucap Shinta terlihat bingung.
"Kamu akan mengerti pada waktunya." sahut Arya.
Tak lama, datang Rere ke kantin. Dia datang bersama Sindy.
"Eh, apa yang dilakukan senior Sindy disini?" ujar Shinta saat melihat Sindy.
"Tentu saja untuk makan kan. Memangnya untuk apa lagi." jawab Arya.
"Hehehe.. benar juga. Aku lupa ini kantin." sahut Shinta sambil tersenyum bodoh.
"Dasar kamu ini.." ujar Arya.
"Pelayan.. boleh aku memesan sesuatu!?" teriak Rere sambil mengangkat tangannya.
"Baik. Aku kesana!" sahut Ririn.
"Hmm.. jadi dia pelayan cantik di kantin yang jadi bahan pembicaraan itu." ucap Sindy saat melihat Ririn mendekati meja nya.
"Ya, namanya adalah Ririn." jawab Rere.
"Oohh.. ini pertama kalinya Rere memperkenalkan orang padaku." ujar Sindy dengan senyuman sinis diwajahnya.
"Eh, maksudnya?" tanya Rere tampak bingung.
"Ya.. biasanya Rere tidak peduli pada orang lain. Melihatmu memperkenalkan dia padaku seperti itu membuatku senang." jawab Sindy tersenyum pada Rere.
"Hah? Kenapa perkataanmu mirip ibuku?" gerutu Rere.
"Jadi mau pesan apa?" tanya Ririn pada Rere dan Sindy.
"Aku pesan bakso dan es jeruk." jawab Rere.
"Kalau aku mie ayam dan es teh manis." jawab Sindy.
"Oke. Mohon tunggu sebentar ya." ucap Ririn.
Ririn langsung pergi ke dapur untuk mengambilkan pesanan para pelanggannya.
"Jadi ada apa tiba-tiba mengajakku kemari? Apa hanya untuk memperkenalkan dia?" tanya Sindy tampak penasaran.
"Y-ya.. begitulah." jawab Rere dengan gugup.
"Gawat.. aku takkan bisa mengelak dari pertanyaan dewa nya." ucap Rere dalam hatinya mulai panik.
"Memangnya apa hubungan Rere dengannya? Apa kalian sudah berteman? Tapi tadi kulihat sama sekali tidak mengobrol layaknya teman. Dia juga tak menyapamu." tanya Sindy mulai sedikit agresif namun mempertahankan senyumannya.
"Di-dia kan lagi kerja. Jadi tak mungkin dia hanya menyapaku kan? Entar pelanggan yang lain iri dan marah." jelas Rere.
"Tapi kalau cuma mau memperkenalkanku tak perlu mengajakku kemari kan? Dikelas juga bisa. Tinggal bahas topik tentang kantin saja." ujar Sindy.
"Ya.. benar sih. Sindy memang pintar." puji Rere semakin tertekan.
"Kalau begitu pasti ada alasan lain mengajakku kemari kan? Mungkinkah.. itu ada hubungannya dengan yang sedang duduk disana?" tanya Sindy melihat ke arah Arya dan Shinta.
Rere menoleh kebelakang melihat apa yang Sindy lihat.
"Bodoh!!! Kenapa dia malah ada disini? Bagaimana aku menjelaskannya pada Sindy!" gerutu Rere dalam hati saat melihat Arya.
"Tidak, tunggu sebentar. Dia sepertinya memberikan kode." sambung Rere dalam hati melihat Arya menunjuk ke arah Shinta.
"Dia sedang bersama perempuan? Ooohh.. aku mengerti sekarang." ucap Rere dalam hati lalu tersenyum.
"Arti kode itu adalah.. dia sedang kencan disini dan memamerkannya padaku. Kurang ajar tuh anak!! Minta dihabisi ya!!" tambah Rere dalam hati dengan sangat marah.
"Kenapa tatapan matanya seperti dia ingin membunuhku? Harusnya dia mengerti kalau maksud kode ini adalah.. 'Aku sedang makan bersama teman'." ujar Arya dalam hati melihat Rere menatap padanya seperti iblis.
"Ada apa dengan perempuan berambut pendek itu? Mungkinkah.. mungkinkah.." ucap Shinta saat melihat Rere.
"..matanya perih karena iritasi ringan? Gawat! Aku harus segera memberikannya obat tetes mata ini." sambung Shinta sambil merogoh sakunya.
"Apa maksudnya!? Sebaiknya jangan lakukan itu jika kamu tak ingin diterkam macan." ujar Arya mencoba menghentikan niat Shinta.
"Eh, diterkam macan?" ucap Shinta kebingungan.
Suasana dikantin mulai berubah, orang-orang disana mulai berganti dengan orang-orang baru.
"Oohh.. jadi ini rencananya. Cukup cerdik juga." ucap Sindy saat melihat ada yang berubah di kantin itu.
"Kau menyadarinya ya? Sepertinya percuma saja menyembunyikan sesuatu darimu, Sindy. Ya, mereka adalah anggota seksi keamaan OSIS." jelas Rere.
"Jadi dia memintamu melakukan ini? Tapi aku tak mengerti apa tujuannya. Sejauh ini kejadian hilangnya barang-barang itu terjadi bahkan saat kantin ramai sekalipun." ujar Sindy.
"Justru pelakunya memanfaatkan keramaian untuk melancarkan aksinya. Semakin sepi malah semakin sulit. Itu kata bocah itu." jawab Rere.
"Oohh.. seperti pencopet kah? Tapi kalau pencopet tentunya sulit mencuri dari orang yang dikelilingi temannya. Kalau ada seorang tidak dikenal nempel-nempel kan bisa dicurigai." sanggah Sindy.
"Ya benar sekali. Tapi karena itulah dia melakukan ini untuk uji coba. Aku mengumpulkan anggota seksi keamanan berdasarkan kelas mereka. Jadi mereka bisa duduk di satu meja. Dan pelakunya tidak akan sadar kalau mereka kesana sebagai anggota seksi keamanan." jelas Rere.
"Oohh.. hebat. Jadi dia ingin melakukan uji coba pada anggota seksi keamanan. Tidak ada yang lebih waspada dari anggota seksi keamanan yang tentunya paling tahu permasalahannya." ujar Sindy.
"Tapi aku masih tak mengerti sesuatu. Bagaimana caranya kita tahu pelakunya akan datang dan benar-benar melakukannya hari ini." pikir Sindy.
"Apa yang sebenarnya kita lakukan disini, Arya? Kalau ada anggota seksi keamanan disini, rasanya akan lebih aman." tanya Shinta pada Arya.
"Kita disini bukan sebagai pengawas, penjaga, atau jebakannya. Kita kemari sebagai umpan." jawab Arya.
"Umpan?" ucap Shinta tak mengerti.
"Kalau begitu akan kita mulai." ujar Arya lalu berdiri.
Arya berjalan mengelilingi mejanya mendekat ke Shinta.
"Hmm.. sepertinya kita hanya perlu satu tambahan lagi untuk melakukannya." ujar Arya.
"Apa?" tanya Shinta.
Arya secara tiba-tiba mencolok hidung Shinta.
"Oy.." ucap Shinta terlihat keberatan hidungnya dicolok.
"Apa-apaan ini!!? Kenapa kamu mencolok hidungku tiba-tiba!!?" protes Shinta sambil menepuk tangan Arya agar terlepas dari hidungnya.
"Aku melihat lubang hidungmu itu kecil dan imut. Jadi aku ingin coba apa jariku bisa masuk apa tidak." jawab Arya.
"Maksudmu!!!?" ucap Shinta mulai geram.
"Tapi kalau jariku bisa masuk berarti lubang hidungmu tak sekecil kelihatannya. Alias gede banget." ujar Arya.
"Tapi kan lubang hidung itu bisa melar karena elastis." jelas Shinta.
"Oh melar ya. Aku tak tahu kalau hidungmu terbuat dari karet." sahut Arya.
Shinta pun menggeram karena tak bisa menahan amarahnya. Dia berteriak karena saking kesalnya. Hal itu menyita perhatian orang-orang dikantin, bahkan yang diluar kantin juga.
"Kalau kamu marah, coba tangkap aku. Itupun kalau kamu bisa." tantang Arya.
"Awas ya.. kalau ketangkap, akan kumakan kau bulat-bulat!" ujar Shinta.
Arya pun kemudian lari dari kantin, dan Shinta mengejarnya dengan sungguh-sungguh.
"Ternyata dia memang biasa membuat perempuan kesal. Memang bocah ngeselin." komentar Rere menatap aneh pada Arya yang meninggalkan kantin.
"Benarkah begitu?" ucap Sindy sambil tersenyum.
Arya berlari menyusuri koridor kelas 3 ke kelas 2.
"Hahaha.. kamu takkan bisa menangkapku. Sama seperti orang bodoh yang takkan bisa menghentikan lomba makan itu." ejek Arya pada Shinta sambil berlari sekuat tenaga.
"Kau bilang apa hah!?" sahut Shinta mengejar dengan kecepatan penuh.
"Kalau cuma begitu kamu takkan bisa mengejarku! Kamu hanya seperti mencoba menghentikan lomba makan itu dan gagal." sambung Arya sambil tetap berlari.
"Kau benar-benar membuatku kesal. Jangan meremehkanku!!!" bentak Shinta menambah kecepatannya.
Saat sampai di koridor kelas 1 akhirnya Shinta berhasil menangkap dengan menubruk Arya. Shinta membalikan badan Arya dan mulai mengangkat tinjunya seperti hendak memukul Arya.
"Sepertinya rencana kita berhasil." ucap Arya membuat pukulan Shinta terhenti.
"Eh? Rencana?" ucap Shinta dengan wajah bingung.
"Ya, maafkan aku membuatmu kesal tadi. Tadi cuma buat alasanku keluar dari kantin dan menjalankan rencananya." jelas Arya.
"Jadi tentang lubang hindungku itu hanya bohong saja?" tanya Shinta.
"Ya, itu hanya bagian dari rencanaku saja. Tentu saja hidungmu itu imut sekali." jawab Arya.
Wajah Shinta pun memerah karena malu.
"Aaaa!!! Kenapa tidak bilang dari tadi!!?" bentak Shinta kemudian memukul wajah Arya.
Arya pun terkapar kena pukul Shinta. Kemudian Shinta berlari meninggalkan Arya tergeletak disana.
"Se-sepertinya aku sudah kelewatan." ucap Arya dengan lemah.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya seorang gadis menghampiri Arya.
Sore harinya, Arya dan Sindy terlihat berduaan di ruang ekskul. Shinta sepertinya tidak datang.
"Sepertinya nona Saras tidak datang hari ini." ucap Sindy sambil mengetik dilaptopnya.
"Ya." sahut Arya sambil membaca sebuah buka.
"Apa terjadi sesuatu antara Arya dan Saras?" tanya Sindy.
"Tidak juga." jawab Arya.
"Tapi wajah kirimu itu tidak mungkin bengkak begitu saja kan." ujar Sindy.
"Bisa jadi." balas Arya.
Arya dan Sindy terlihat saling sibuk dengan apa yang mereka kerjakan masing-masing.
"Kenapa jawabanmu seperti sedang kuis 'Indonesia Cerdas' di acara di sebuah stasiun TV?" protes Sindy pada Arya.
"Oohh.." sahut Arya terlihat tidak peduli.
Suasana jadi hening sejenak. Yang terdengar hanya suara ketikan dari laptop Sindy dan suara kertas yang dibalik dari buku yang dibaca Arya.
"Arya, kalau kamu tidak menjawabku dengan serius maka akan ku sebar dalang dibalik pecahnya misteri hilangnya barang dikantin yang sebenarnya pada ekskul jurnal." ancam Shinta.
Arya pun langsung tersentak mendengarnya. Wajahnya jadi pucat dan berkeringat banyak.
"Arya.." ucap Sindy dengan nada menekan.
"Ba-baiklah. Sebenarnya saat ini Shinta ngambek padaku. Tadi saat aku ajak kemari dia malah memalingkan wajahnya. Sepertinya dia masih marah karena kejadian dikantin tadi." jelas Arya dengan cepat.
"Oohh.. begitukah? Tapi apa Arya yakin dia marahnya karena itu?" ucap Sindy.
"Kalau bukan karena itu memangnya karena apa lagi?" tanya Arya.
"Entahlah, tuan detektif." jawab Sindy.
"Hah? Kenapa senior jawabnya begitu?" gerutu Arya.
"Tapi aku kaget juga Arya bisa tahu siapa pelakunya." ujar Sindy.
"Aku tidak tahu pelakunya. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia mengambil barang dari orang lain. Tapi aku memikirkan kemungkinan masalah dan solusi tercepatnya. Misterinya terpecah sendiri." jelas Arya.
Sindy tampak kaget mendengar penjelasan Arya. Ini pertama kalinya dia mendengar pemecahan misteri tanpa tahu siapa pelakunya dan bagaiaman trik yang digunakan. Sindy pun tersenyum dan pipiny sedikit memerah.
"Dia memang.. menarik.." ucap Sindy dalam hati.
Rere dan anak buahnya terlihat membawa seseorang yang berhasil ditangkapnya. Dia membawanya ke ruang BP.
"Kalau boleh tahu, memangnya siapa pelakunya?" tanya Arya.
"Pelakunya adalah seorang anak pemilik restoran. Dia tidak bekerja sendiri. Namun dia juga tidak bekerja sama. Itu hanya seperti sebuah kesepakatan kecil." jawab Sindy.
"Hmm.. begitu rupanya." sahut Arya.
"Kemungkinan alasannya dia melakukan itu adalah untuk menggagalkan acara lomba makan minggu depan. Dia berusaha membuat situasi keamanan menjadi kritis sehingga pihak penyelenggara akan ragu mengadakan lomba makan tersebut." jelas Sindy.
"Kupikir tidak begitu. Meskipun keadaan menjadi kurang aman, lomba makan akan tetap bisa dijalankan. Karena kita bisa saja pakai keamanan dari luar seperti polisi atau semacamnya." sangga Arya.
"Terus menurutmu bagaimana?" tanya Sindy.
"Dia ingin menciptakan skandal." jawab Arya.
"Skandal?" sahut Sindy.
"Ya, skandal pada pihak penyelenggara. Tahu atau tidak, sebenarnya Ririn itu adalah mata-mata dari pihak penyelenggara. Dia berasal dari restoran yang mengadakan acara lomba makan itu. Lomba makan yang akan menyajikan produk makanan baru dari restoran itu. Kemungkinan itu untuk promosi. Kalau bicara promosi, kita bisa tahu kalau restoran tersebut pastinya berniat meraup pelanggan lebih banyak. Dan pastinya mengesalkan pihak restoran lain." jelas Arya.
"Dan untuk menggagalkan acara promosi itu, pihak restoran lain mengutus orangnya untuk melakukan sebuah kasus yang akan mencemarkan nama baik restoran yang mengadakan promosi tersebut. Begitu kah?" sambung Sindy.
"Ya." sahut Arya sambil tersenyum.
Sindy pun tampak berpikir dan pipinya sedikit memerah. Kemudian dia melirik ke arah Arya.
"A-ada apa?" tanya Arya kaget ditatap oleh Sindy.
"Kamu.. keren.." jawab Sindy sambil tersenyum.
"Eh?!" ucap Arya semakin kaget.
Di ruang BP terlihat orang ditangkap itu adalah Bara dari kelas 2 IPA 3 yang punya julukan Food Tester. Dia saat ini sedang di interogasi oleh guru pembimbing. Dan dari interogasinya diketahui kalau dia ternyata hanya bekerja sendiri, namun dia membayar beberapa orang teman dari para korban untuk mengambilkan barang mereka. Dan itu dilakukan saat korban teralihkan oleh keributan yang dibuat Bara pada Ririn. Dan itu tidak dilakukan hanya dengan satu cara. Keributan sendiri bisa berupa bicara dengan suara keras, bergosip, melakukan sketsa lawak, atau berdebat dengan orang lain. Dia melakukan apapun yang membuat Ririn kesal dan membentaknya. Sehingga lebih mudah untuk nantinya menyalahkan Ririn karena Ririn terlihat seperti pemarah yang akan mengambil atau membuang setiap barang milik siswa yang ada dikantin. Setelah skandal tercipta, yang perlu dilakukan Bara hanyalah membuka kedok Ririn dan acara lomba makan pun akan dibatalkan. Setelah proses interogasi, Rere keluar dari ruang BP. Dia menghela napas karena lega semuanya sudah beres.
"Hebat sekali ya dia bisa membuat jebakan sempurna untuk pelakunya. Kita tidak pernah terpikir kalau yang kita lakukan hanya sesuatu yang sederhana untuk menangkap pelakunya." ujar Sindy yang sudah duduk diluar ruang BP.
"Ya.. yang lebih hebat lagi, dia bisa memanfaatkan anggota OSIS yang harusnya memanfaatkannya memecahkan kasus ini." sahut Rere.
"Dia memanfaatkan kita berdua." tambah Sindy sambil tersenyum.
Arya saat ini terlihat berjalan dengan santai pulang ke rumahnya.
Bersambung..
"Woy! Kurang ajar kalian! Meninggalkanku begitu saja setelah mendorongku!" panggil Fajar berlari menghampiri Arya dan Digna dari belakang.
Arya dan Digna menoleh ke belakang melihat ke arah Fajar.
"Oohh.. Fajar. Kemana saja kamu? Kami sudah baca beritanya. Ternyata itu cuma pengumuman lomba makan yang akan diadakan minggu depan saja." ujar Arya.
"Hah? Lomba makan? Beneran?" tanya Fajar yang kelihatannya tertarik dengan berita tersebut.
"Ya, kalau tidak salah itu akan diadakan pada sepulang sekolah selama 3 hari berturut-turut dari hari rabu sampai hari jum'at." jelas Arya.
"Wah.. menarik, kalau aku ikutan maka aku bisa makan gratis selama 3 hari. Hehehe.." ujar Fajar yang nampak tak sabar.
"Dia lupa tujuannya kemari. Kamu memang menakutkan, Arya." komentar Digna dalam hati.
"Ya, kita bisa makan gratis. Tak peduli siapa yang menang, yang penting makan." kata Arya.
"Ya-ya.. kamu memang my best friend." sahut Fajar.
Mereka bertiga pun kembali ke kelas dengan penuh kesenangan. Sementara di ruang OSIS. Beberapa eksekutif OSIS melakukan rapat dadakan. Sindy dan Rere duduk di tempat duduknya masing-masing. Sementara sang ketua OSIS duduk di mejanya sendiri sebagai pemimpin rapat.
"Kalian pasti sudah mendengar tentang beberapa orang yang kehilangan barang-barangnya saat makan dikantin. Saat ini keamanan sekolah kita sedang dalam keadaan yang memprihatinkan. Apa diantara kalian ada yang punya petunjuk tentang hal ini?" kata ketua OSIS.
"Kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dan sekarang terjadi tepat setelah minggu kedua anak kelas 1 masuk sekolah." ujar seorang laki-laki berpakaian super rapi dan berkacamata dengan rambut klimis berminyak.
"Jadi menurutmu pelakunya adalah anak kelas 1?" tanya ketua OSIS.
"Aku tidak tahu, tapi kemungkinannya memang seperti itu. Ditambah, kebanyakan yang menjadi korban adalah orang yang paling sering makan disana." jawab laki-laki itu dengan yakin.
"Tapi sebaiknya kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Asal menuduh saja bisa membuat kita terkena masalah nantinya." protes sekretaris OSIS.
"Benar sekali. Memang ini sedikit beresiko. Tapi bukankah akan lebih cepat jika kita melakukan razia pada anak-anak kelas 1 sebelum beritanya menyebar. Karena pelakunya akan lebih berhati-hati jika mengetahui gerak-geriknya sudah ketahuan." balas laki-laki berkaca mata.
"Tunggu dulu, Kelvin. Kupikir itu terlalu tergesa-gesa. Bukankah ada cara yang lebih aman untuk menangkap pelakunya?" ujar Sindy.
"Hah? Apa maksudmu, wakil ketua? Memangnya ada cara lain untuk mengetahui pelakunya selain merazia barang-barang mereka?" tanya laki-laki berkaca mata yang bernama Kelvin itu.
"Tentu saja ada." jawab Sindy tampak tenang menyeruput teh hangat miliknya.
"Tidak mungkin! Cara apa yang menurutmu lebih aman itu, wakil ketua? Jangan sok pintar! Mentang-mentang kau itu adalah orang peringkat 1 di sekolah, jangan mengatakan kalau usulan orang lain itu salah!" bentak Kelvin.
"Sudah-sudah, aku juga setuju dengan Sindy. Cara yang kamu usulkan itu memang terlalu beresiko. Ditambah, kalau aku pelakunya, sudah pasti aku tidak akan menyimpan barang-barang itu di dekatku. Aku akan sangat berhati-hati menyembunyikan barang itu untuk menghilangkan kecurigaan terhadapku." ujar ketua OSIS.
"Cih, baiklah jika ketua mengatakan itu." sahut Kelvin sambil membuang muka.
"Lalu.. cara apa yang akan kamu usulkan, Sindy?" tanya ketua OSIS terlihat serius.
"Kalau masalah itu, aku sudah punya orang yang bisa membantu kita." jawab Sindy sambil berdiri.
"Ooohh.. siapa itu?" tanya ketua OSIS lagi.
"Ksatria tak berpedang. Arya Sastrawardhana." jawab Sindy.
Saat istirahat sudah selesai, berikut juga rapat OSIS. Sindy dan Rere kembali ke kelas mereka. Mereka berdua berjalan bersama.
"Hei Sindy, apa maksudnya kamu menyebutkan kalau bocah itu bisa membantu kita menemukan pelakunya?" tanya Rere yang tidak mengerti maksud Sindy.
"Hmm.. mungkin kamu tidak tahu. Tapi dia cukup bisa diandalkan dalam hal problem solving seperti ini." jawab Sindy.
"Kata 'cukup' tadi membuatku ragu untuk mempercayainya." sahut Rere.
"Ya kita lihat saja apa yang bisa dilakukan orang Arya nanti. Aku percaya jawabannya nanti akan membuatmu kaget, Rere." balas Sindy.
"Aku tak tahu apa yang terjadi diantara kalian sehingga kamu sampai segitunya mempercayai bocah itu. Dia hanya pandai membuat orang lain kesal." ujar Rere.
"Bukan hanya membuat kesal, dia juga bisa membuat orang lupa akan kekesalannya." tambah Sindy.
"Dengan kata lain dia suka ngeles." jawab Rere.
Guru sudah datang ke kelas Arya, namun Arya duduk melamun di mejanya.
"Hmm.. tapi kejadian barang hilang itu terasa sedikit aneh menurutku. Kalau memang banyak barang yang hilang, kenapa kantin terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada kepanikan atau semacamnya." pikir Arya.
"Buat yang duduk di pojok. Mohon perhatikan ke depan." pinta guru perempuan yang mengajar biologi.
Tapi Arya diam saja dan tetap memperhatikan ke jendela karena tidak sadar kalau dialah yang dipanggil oleh guru itu.
"Woy! Jangan mengabaikanku, dasar bocah sialan!" bentak guru cantik yang terlihat kesal itu.
Namun Arya tak kunjung menoleh juga. Karena kesal akhirnya guru itu melemparkan penghapus papan tulis ke arah Arya. Tapi Arya menjatuhkan kepalanya ke meja sehingga lemparan guru itu meleset.
"Dia menghindarinya?!!" ucap para murid di kelas itu terlihat terkejut.
"Hah? Kenapa sih mereka ribut sekali? Tidak bisakah kalian diam sebentar? Ini sedang belajar tahu." gerutu Arya sambil mengangkat kepalanya dan menatap sayu kepada para murid.
"Kau sendiri kenapa dari tadi tidak memperhatikan!!" bentak guru itu makin kesal.
"Oohh.. itu. Daritadi aku memperhatikan kok. Kita sedang membahas tentang saluran pencernaan kan? Tenang saja, walaupun wajahku berpaling, tapi tetap perhatianku tidak mudah teralihkan." jawab Arya.
"Baiklah, kalau begitu kenapa tidak kamu jelaskan tentang lambung seperti yang aku jelaskan tadi?" tantang guru itu sambil menatap tajam.
"Aahh.. itu mudah." sahut Arya.
Kemudian Arya menjelaskan tentang lambung, ada zat apa disana, dan bagaimana proses pencernaan disana dengan sangat detail. Bahkan dia menambahkan sedikit penjelasan yang tidak dijelaskan oleh sang guru itu.
"Ba-bagaimana bisa?!!" ucap para murid kaget tak percaya.
"Di-dia.. seperti yang dikatakan oleh wali kelasnya, dia sangat mengerikan." ujar guru perempuan itu dalam hatinya.
Pelajaran biologi akhirnya selesai, guru meninggalkan kelas X-1 dengan wajah lega. Bel berbunyi menandakan waktu istirahat kedua sudah dimulai.
"Akhirnya istirahat juga. Ayo kita ke kantin, Arya." ajak Fajar.
"Tunggu, aku mau ke mesjid dulu sebentar." sahut Arya sambil berdiri.
"Oh, tumben langsung pergi. Biasanya kamu ke kantin setelah waktu istirahat hampir berakhir." ujar Fajar.
"Ada urusan yang harus aku lakukan di mesjid. Jadi maaf, aku duluan ya.." jawab Arya kemudian pergi.
Setelah selesai sholat, Arya langsung menghampiri sang imam yang tak lain adalah Ikhsan, ketua DKM.
"Ada apa? Sepertinya kamu ingin menanyakan sesuatu." ujar Ikhsan saat Arya mendekat.
"Seperti yang kuduga, sepertinya senior sudah tahu apa alasanku menghampirimu." sahut Arya.
"Hahaha.. kau mau menuduhku bisa membaca pikiran lagi?" tanya Ikhsan.
"Tidak juga. Aku tidak pernah mengatakannya secara langsung bukan?" ucap Arya sambil tersenyum licik.
"Terus apa yang ingin kamu tanyakan padaku?" tanya Ikhsan.
"Hmm.. ini tentang masalah dikantin. Aku dengar dari temanku, katanya disana beberapa hari ini ada masalah. Menurut senior bagaimana?" tanya Arya.
"Oohh.. tentang 'properti hilang' itu kah? Hmm.. jadi kamu tertarik dengan hal seperti itu." ujar Ikhsan.
"Tidak juga sebenarnya, tapi.. itu membuatku penasaran." jawab Arya.
"Begitukah? Hmm.. kalau begitu sebaiknya kamu berbalik kebelakang." suruh Ikhsan.
"Hah? Memangnya ada apa dibelakangku?" tanya Arya sambil menoleh ke belakang.
Saat itu Arya dikagetkan oleh Sindy yang sudah berdiri dibelakangnya saat itu. Sindy kemudian membungkuk dan tersenyum kepada Arya.
"Ini pasti takdir, kita dipertemukan disini padahal tadinya aku berniat untuk mencarimu." ujar Sindy sambil tersenyum.
"Se-senior hendak mencariku? Kenapa?" tanya Arya dengan heran.
"Tentu saja karena aku ingin meminta sesuatu padamu." jawab Sindy.
"Meminta apa? Aku tidak punya uang untuk membelikan sesuatu untukmu senior." ujar Arya.
"Eh, kamu pikir aku tipe perempuan seperti itu? Aku tidak akan melakukan hal begitu kok, Arya." jawab Sindy.
"Lalu apa yang ingin senior minta padaku memangnya?" tanya Arya.
"Seperti yang dikatakan oleh Ikhsan. Ini tentang masalah di kantin yang membuatmu penasaran." jawab Sindy.
"Eh, benarkah?" sahut Arya.
"Iya. Dan setelah rapat, akhirnya OSIS memutuskan untuk meminta bantuanmu." jelas Sindy.
"Hah?! OSIS meminta bantuanku?! Buat apa? Memangnya aku detektif atau semacamnya kah? Tidak-tidak.. aku tidak mungkin melakukannya. Aku tidak punya kemampuan analisis untuk membuatku menjadi detektif, senior." balas Arya.
"Aku tidak memintamu menjadi detektif kok. Arya hanya perlu menemukan pelakunya saja." jawab Sindy.
"Itu sama saja tahu, senior." sahut Arya.
"Tidak kok, itu berbeda. Menurutku tugas detektif adalah memecahkan misterinya, sementara kamu hanya perlu menemukan pelakunya. Beda kan?" jelas Sindy.
"Hmm.. tapi untuk menemukan pelakunya tidak semudah itu, senior. Ditambah, memangnya kenapa aku harus membantu OSIS. Bukankah akan lebih cepat jika kalian menyewa seorang detektif saja?" kata Arya memberikan masukan.
"Ya, sepertinya kamu benar juga. Tapi aku maunya kamu yang membantuku." jawab Sindy.
Ikhsan tersenyum tepat setelah mendengar perkataan Sindy.
"Sudahlah, kenapa tidak kamu bantu saja? Tak ada salahnya bukan membantu seniormu. Apalagi dia adalah ketua ekskul mu." tambah Ikhsan.
"Hmm.. tapi, kalau disuruh menemukan pelakunya.. sepertinya merepotkan sekali." balas Arya.
"Atau bagaimana kalau kamu beri dia imbalan saja, Sindy. Semacam hadiah kalau dia berhasil melakukan tugasnya." saran Ikhsan.
"Hmm.. iya juga. Baiklah. Arya, kalau kamu bisa menemukan pelakunya. Kamu akan aku perbolehkan mengambil ciuman pertamaku." ujar Sindy.
Arya bengong seakan otaknya sedang dalam proses loading.
"Apaaa???!!!!" ucap Arya dengan wajah kaget.
Sindy hanya tersenyum dengan pipi sedikit memerah. Ikhsan pun sedikit terkejut dengan tawaran Sindy tersebut.
Sambil berjalan menuju ke kelas, Arya masih kepikiran dengan tawaran Sindy sewaktu di mesjid.
"Kamu tak perlu menjawabnya sekarang. Jika kamu bersedia nanti katakan padaku saat diruang ekskul nanti." ujar Sindy dalam ingatan Arya.
"A-apa dia serius dengan tawarannya itu? Ciuman pertama kah.." gumam Arya sambil berjalan.
"Aaa! Kenapa aku malah memikirkan hal semacam itu!? Aku tidak mungkin tertarik pada hal seperti itu. Ini tidak seperti aku menginginkan ciuman dari senior!" ucap Arya dalam hatinya sambil menggaruk kepalanya dengan keras.
"Tapi.. aku juga tidak mungkin membiarkan sekolah ini dalam masalah. Hmm.." sambung Arya kembali berpikir.
Arya tidak memperhatikan jalan sehingga dia tidak sadar dihadapannya ada Alice sedang berjalan ke arahnya. Dan mereka pun bertabrakan. Arya dan Alice terjatuh duduk dilantai akibat tabrakan itu.
"Ma-maaf, kamu tidak apa-apa?" tanya Arya sambil membuka matanya karena terpejam menahan sakit di pantatnya akibat jatuh.
"Tidak apa-apa kok." sahut Alice sambil meringis kesakitan.
"Nona?! Apa nona tidak apa-apa?" tanya Ani yang langsung membantu Alice berdiri.
"Terima kasih, Ani." jawab Alice sambil berdiri dibantu oleh Ani.
Kemudian setelah Alice berdiri, Ani langsung mencengkeram kerah baju Arya dan mengangkatnya keatas sehingga Arya berdiri sekarang.
"Kurang ajar, kalau jalan tuh lihat-lihat dong!" ancam Ani.
"Kenapa caramu membangunkanku dengan membangungkannya berbeda sekali?" protes Arya dengan sedikit panik.
"Hah? Membangunkanmu? Matamu buta ya? Saat ini aku sedang mencoba mengangkatmu ke akhirat." jawab Ani.
"Oohh.. begitu ya. Pantas saja aku bisa melihat belahan surga dari sini." sahut Arya melihat ke celah baju Ani bagian dadanya.
"Dasar mesum!" bentak Ani sambil melempar Arya sejauh 3 meter.
Arya pun nyungsep hingga sampai di depan pintu kelasnya.
"Nice pitching!" ucap Arya sambil mengacungkan jempolnya dalam keadaan nungging.
Arya berdiri lagi sambil membersihkan debu di pakaiannya.
"Jangan bilang kau sengaja melakukannya biar masalahnya cepat selesai." komentar Digna yang berdiri bersandar diambang pintu.
"Ya, karena kalau tidak begitu aku bisa mati karena kehabisan napas." jawab Arya kemudian masuk kedalam kelas.
"Ani, kupikir kamu terlalu keras padanya." ujar Alice berjalan menuju ke kelasnya bersama Ani.
"Itu salahnya sendiri mengintip dadaku." gerutu Ani.
"Tapi itu juga salah Ani kan karena mengangkat tubuhnya seperti itu." sahut Alice.
"Kenapa nona malah belain dia? Meskipun tadi ada benarnya. Tapi, setidaknya nona kesal karena dia sudah melakukan tindak asusila." protes Ani.
"Aku tidak sedang membela siapapun kok. Hanya saja.." jawab Alice kemudian wajahnya jadi memerah.
Ani memiringkan kepalanya bingung dengan tingkah Alice.
Pulang sekolah, Shinta langsung menghampiri Arya.
"Mau langsung ke ruang ekskul?" tanya Shinta.
"Sebentar, aku mungkin akan ke kantin dulu. Kamu duluan saja." jawab Arya.
"Oohh.. baiklah. Kalau gitu aku duluan ya." sahut Shinta kemudian pergi keluar kelas.
"Wah.. ada apa nih? Kamu akrab banget dengannya. Mungkinkah kalian.. pacaran?" tukas Fajar.
"Hah? Jangan asal ngomong, aku tidak sedang dalam hubungan seperti itu dengannya." bantah Arya.
"Jawabanmu itu ribet banget. Kenapa tidak bilang saja kalau kamu bukan pacarnya." sahut Digna.
"Pokoknya, saat ini aku tidak tertarik dengan asmara atau semacamnya." tambah Arya sambil berdiri dan mengambil tasnya.
Arya kemudian keluar dari kelas meninggalkan Fajar dan Digna.
"Hmm.. dia serius mengatakan itu?" kata Digna.
Sesampainya di kantin, Arya menghampiri penjaga kantin.
"Permisi, bolehkah saya bertanya sesuatu.." ucap Arya sesampainya di depan penjaga kantin.
"Kalau itu tentang 'hal itu', maaf aku tak bisa jawab." balas bibi penjaga kantin.
Arya menyipitkan matanya karena menemukan apa yang ia cari.
"Tidak, ini bukan tentang rumor itu. Aku hanya ingin bertanya. Apakah es buahnya masih ada?" tanya Arya.
"Oohh.. maaf, kalau itu.. sepertinya hanya ada yang rasa semangka doang." jawab bibi penjaga kantin.
Bibi penjaga kantin itu terlihat merasa lega.
"Kalau gitu boleh. Yang rasa semangka juga tidak apa-apa." sahut Arya.
Setelah selesai membeli es buah nya, Arya langsung pergi menuju ke ruang ekskul sastra.
"Hmm.. kupikir mereka tidak tahu dengan kejadian itu, tapi sepertinya mereka juga menyadarinya. Namun terpaksa menutupinya karena suatu alasan." pikir Arya sambil berjalan dan meminum es nya.
Sesampainya di ruang ekskul, Arya langsung duduk di tempat duduknya. Shinta melihat Arya dengan tatapan rasa ingin tahu. Karena ini pertama kalinya ia melihat Arya begitu keras memikirkan sesuatu.
"Ada apa? Apa kamu masih kepikiran dengan pelajaran biologi tadi?" tanya Shinta pada Arya.
"Tidak. Kalau masalah itu aku tidak terlalu mempermasalahkannya." jawab Arya.
"Terus kenapa kamu kelihatan bingung gitu? Coba ceritakan padaku." pinta Shinta.
Namun Arya tidak menjawabnya dan itu membuat Shinta sedikit jengkel.
"Hei.. Arya. Kenapa kamu mengabaikanku? Ayolah jawab aku." pinta Shinta dengan wajah cemberut.
"Maaf, bisakah kamu diam sebentar. Aku butuh ketenangan disini." jawab Arya.
"Ketua, bisakah ketua bujuk dia?" pinta Shinta pada Sindy.
"Maaf Shinta, saat ini aku juga sedang sibuk." jawab Sindy sambil tersenyum.
Saat ini Sindy memang terlihat sibuk mengetik di laptopnya. Shinta semakin kesal, pipinya menggembung karena menahan rasa jengkel dihatinya.
"Sindy!" ucap Rere secara tiba-tiba membuka pintu.
Suara pintu yang dibanting cukup keras menyita perhatian semua orang di ruangan itu.
"Ikut denganku sebentar." pinta Rere sambil memandang serius pada Sindy.
"Ada apa, Rere?" tanya Sindy sambil mendekati Rere dan tetap bersikap anggun.
Dua sahabat itu pun segera menghilang dari pandangan Arya dan Shinta.
"Hmm.. kira-kira ada apa ya dengan mereka?" ucap Shinta.
"Hei Shinta, apa kamu tahu tentang sebuah rumor di sekolah kita minggu ini?" tanya Arya.
"Hah? Rumor?" tanya balik Shinta.
"Sepertinya kamu tidak tahu." sahut Arya sambil kembali berpikir.
"Memangnya kenapa dengan sekolah kita minggu ini?" tanya Shinta lagi.
"Sebenarnya saat ini pihak sekolah dan OSIS sedang kebingungan. Ada sebuah kejadian aneh yang terjadi dikantin. Beberapa barang menghilang begitu saja tanpa ada yang tahu siapa yang mengambilnya atau kenapa itu bisa terjadi." jelas Arya.
"Eh, mungkin itu hanya kelalaian orangnya aja kan?" sahut Shinta.
"Tapi, sampai saat ini, tidak ada satupun dari warga sekolah yang melaporkan menemukan barang-barang yang hilang tersebut." tambah Arya.
"Kalau gitu, pastinya.." ucap Shinta.
"Ya, kemungkinan barang itu dicuri." sambung Arya.
Suasana saat itu menjadi tegang.
"Sepertinya aku harus lebih berhati-hati kalau mau ke kantin." ujar Shinta.
"Tidak, sebaiknya kamu tetap ke kantin seperti biasanya. Aku ingin kamu membantuku tentang sesuatu." kata Arya.
"Membantu apa?" tanya Shinta.
"Melakukan research. Aku ingin kamu tetap ke kantin dan tetap disana selama jam istirahat. Aku ingin kamu memparhatikan setiap gerak-gerik orang-orang yang sedang ada disitu." jawab Arya.
"Eh, aku tidak bisa. Tidak mungkin aku bisa memperhatikan semua orang yang ada disana sekaligus." tolak Shinta.
"Kalau begitu aku akan kesana bersamamu. Jadi kita bisa membagi tugas." tambah Arya.
"Eh? A-aku dan kamu berduaan.. di kantin.." ucap Shinta wajahnya mulai memerah.
"Ada apa? Kamu masih keberatan kalau hanya aku yang membantumu? Kalau begitu akan kuajak Fajar dan Digna bersama kita." kata Arya.
"Ti-tidak! Kita berdua saja!" bentak Shinta.
"Hah? Kupikir semakin banyak orang akan semakin mudah." sahut Arya sedikit terkejut.
"Tidak, bukan begitu. Dengar, kata orang tidak baik kan kalau kita menyusahkan orang lain kan? Iya kan?" balas Shinta.
"Hmm.. kalau begitu aku sendirian saja. Aku tak mau merepotkanmu." kata Arya.
"Tidak! Aku tidak kerepotan kok. Beneran dah. Malah aku senang membantumu." sahut Shinta.
"Benarkah?" tanya Arya.
"Iya.." jawab Shinta.
"Baiklah, mulai besok kita akan selalu ke kantin bersama." ujar Arya.
Dari luar Sindy dan Rere terlihat tersenyum. Sepertinya mereka mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh Arya dan Shinta.
"Memanggilku kemari untuk memanggilmu keluar hanya untuk memberi waktu untuk mereka. Apa kamu yakin melakukan hal ini, Sindy?" tanya Rere melirik ke arah Sindy.
"Ya, karena dia bukan tipe orang yang melakukan sesuatu dibawah terang cahaya. Jadi kita biarkan dia bergerak dibalik bayangan." jawab Sindy tersenyum pada Rere.
Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan Arya dan Shinta makan di kantin bersama. Arya langsung melihat-lihat ke setiap orang yang datang ke kantin tepat setelah ia duduk.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan orang yang mencurigakan?" tanya Shinta.
"Tidak, belum. Kamu juga bantuin dong jangan diam saja!" suruh Arya.
"Iya-iya baiklah. Tapi mumpung kita disini kenapa kita tidak pesan makanan saja?" usul Shinta.
"Kamu saja. Saat ini aku tidak bawa uang." jawab Arya.
"Haahh.. kenapa kamu tidak bawa uang? Padahal kan kamu tahu kita mau ke kantin, kok malah tidak bawa uang?" tanya Shinta heran.
"Saat ini kan kita sedang mencari tahu tentang misteri barang-barang yang hilang. Gimana kalau pas aku pesan makanan eh uangku malah hilang. Kan bahaya." jawab Arya sambil menyipitkan matanya.
"Hmm.. iya deh. Biar aku saja yang pesankan." sahut Shinta kemudian berdiri.
Saat Shinta memanggil pelayan Arya mencoba berpikir.
"Kenapa barang-barangnya bisa hilang padahal kantin ramai seperti ini? Memang pencopet itu bisa menggunakan keramaian untuk mengambil barang. Tapi.. rasanya ada sesuatu yang kurang." gumam Arya sambil berpikir.
"Hahaha.. aku tidak takut dengan rumor seperti itu. Ini paling akal-akalan anak kelas 1 saja biar kantin ini bisa mereka kuasai." ujar seorang senior yang duduk di meja sebelah Arya.
"Tapi berita ini sudah menyebar diantara para Eater. Mereka semua kehilangan barang mereka pas dikantin." balas teman disebelahnya.
"Haha.. sudahlah. Kau tenang saja. Lihat ini, dompetku dirantai. Dan HP ku juga sudah aku amankan disaku depan yang dalamnya seperti palung Mariana." jawab senior yang terlihat gemuk itu.
"Ya terserahlah, pokoknya aku sudah memperingatkanmu tentang itu." balas temannya dengan kesal.
Arya mendengarkan pembicaraan mereka kemudian berpikir lagi.
"Kupikir anggapan kalau itu akal-akalan anak kelas 1 untuk menguasai kantin juga kurang tepat. Karena jika pelakunya adalah anak kelas 1, maka semuanya akan jadi runyam untuk kedepannya. Hubungan antara kelas 1 dan kelas 2 akan mengalami kehancuran." pikir Arya.
"Tunggu sebentar, Eater itu apa?" sambung Arya menyadari sesuatu yang belum ia mengerti.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Shinta.
"Hmm.. pertanyaanmu itu mirip Facebook." sahut Arya.
"Eh?" ucap Shinta bingung.
"Aahh.. itu lho pas mau update status, dikolomnya ada pertanyaan itu." jelas Arya.
"Oohh.." sahut Shinta baru mengerti.
"Sial, leluconku jadi gagal." ucap Arya dalam hatinya sambil melirik ke arah lain.
"Memang tadi kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Shinta lagi.
"Aku sedang memikirkan kemungkinan apa yang terjadi sebenarnya dibalik misteri hilangnya barang-barang." jawab Arya.
"Oohh.." sahut Shinta.
"Ini mie ayam bakso nya." ucap seorang pelayan perempuan yang berusia sekitar 18 tahun sambil meletakan 2 mangkok makanan yang dipesan oleh Shinta.
"Oy Shinta, bukankah sudah kubilang aku tidak bawa uang? Kenapa kamu malah pesan 2?" tanya Arya.
"Kata siapa aku memesankannya untukmu? Ini untukku semuanya." jawab Shinta.
"Hah?! Kau bisa memakan dua porsi sekaligus!?" ucap Arya terkejut.
"Tentu saja. Aku butuh makan banyak untuk bisa melakukan olahraga rutinku setiap harinya." jawab Shinta.
"Hahaha.. padahal tadinya kupikir dia bermaksud mentraktirku. Sepertinya aku terlalu berpikir positif." ujar Arya dalam hati.
"Bercanda deh. Ini memang untukmu. Hehehe.." tambah Shinta.
"Ha-haaahh?!!! Be-benarkah!?" ucap Arya terkejut.
Shinta pun menganggukan kepalanya mengiyakan.
"Te-terima kasih kalau begitu.." ucap Arya dengan wajah malu.
"Dia malu-malu.. tak kusangka menggodanya itu rasanya menyenangkan.." gumam Shinta sambil tersenyum.
"Oh ya, pelayan yang tadi itu.." kata Arya sambil menarik mangkuk nya mendekat.
"Hmm.. ada apa? Jangan bilang kamu tertarik padanya karena dia cantik?" tukas Shinta dengan tatapan curiga.
"Tidak, bukan itu. Tapi aku baru melihatnya hari ini. Apa dia pelayan baru?" tanya Arya.
"Tidak kok. Dia sudah disini sejak hari senin. Katanya dia kerja sambilan disini." jawab Shinta.
"Kalau baru datang hari senin kemarin mah itu namanya masih baru dong." protes Arya.
"Iya juga sih." sahut Shinta.
"Oh ya, apa dia selalu berkeliling seperti tadi?" tanya Arya lagi.
"Kupikir iya. Tapi kadang-kadang dia juga menjaga di tempat bayar disana." jawab Shinta.
"Hmm.. begitu ya." ucap Arya sambil memegang dagunya.
"Sudah mikirnya nanti saja. Kita makan dulu. Entar keburu dingin baksonya jadi gak enak." ujar Shinta.
"Oke." sahut Arya.
Sambil berjalan menuju ke kelas, Arya dan Shinta mengobrol. Dari belakang mereka tampak seorang gadis berambut panjang bergelombang mengikuti mereka secara sembunyi-sembunyi.
"Kenapa mereka terus bersama-sama dari tadi? Mungkinkah saat ini mereka berpacaran?" pikir gadis itu sambil mengengintip Arya dan Shinta dari balik tiang.
Gadis itu terus mengikuti Arya dan Shinta di sepanjang koridor.
"Ah, kenyang banget dah.." ucap Shinta.
"Tunggu sebentar apa kamu lupa tujuanmu ke kantin?" tanya Arya memastikan.
"Eh, tujuan kita ke kantin?" sahut Shinta dengan wajah bingung.
Arya langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Kamu lupa!?" kata Arya.
"Hahaha.. maaf. Soalnya aku terlalu menikmatinya, jadi kelupaan deh." jawab Shinta dengan senyuman bodoh diwajahnya.
"Lalu Arya sendiri sudah menemukan petunjuk kah?" tanya Shinta.
"Ya sebenarnya tadi aku juga kelupaan sih. Hehe.." jawab Arya.
"Kalau begitu jangan ngatain aku tadi tuh." balas Shinta dengan menatap tajam pada Arya.
"Haha.. iya maaf." sahut Arya.
Sesampainya di depan kelas, Arya disambut oleh Fajar dan Digna yang berdiri di dekat pintu kelas.
"Arya!" panggil Fajar.
Arya pun mendekat ke arah Fajar dan Digna.
"Oh ya Shinta, saat ini sampai disini dulu. Sampai jumpa di ruang ekskul." ujar Arya sambil menoleh ke arah Shinta.
"Ya." sahut Shinta sambil melambaikan tangannya.
Saat Arya berada dekat dengannya, Fajar langsung menarik Arya dan mengunci leher Arya dengan tangan kanannya.
"Oy-oy.. yang tadi itu apa? Aku tak tahu kalian sudah seakrab itu. Apa kalian sudah pacaran saat ini?" tukas Fajar.
"Hah? Siapa yang pacaran?" sahut Arya tidak mengerti maksud Fajar.
"Tentu saja kamu dan Shinta." jawab Fajar.
"Oohh.. kalian menganggapku pacaran dengannya hanya karena aku akrab dengannya. Tapi aku akrab dengan kalian berdua juga buktinya aku tidak pacaran dengan kalian." kata Arya dengan tenang.
"Ya itu kan beda lagi, Arya." sanggah Fajar.
"Kalau seorang laki-laki begitu akrab dengan perempuan sudah pasti orang-orang yang melihatnya akan berpikiran kalau laki-laki dan perempuan tersebut berpacaran kan?" jelas Digna.
"Tidak juga kan. Akrab tidak selalu menjadi patokan kalau ada asmara diantara mereka. Tapi kalau romantis dan mesra itu beda lagi. Harusnya kalian bisa membedakannya kan?" balas Arya.
Fajar dan Digna pun langsung tercekat karena tidak bisa memberi sanggahan apa-apa lagi.
"Seperti biasanya, kemampuanmu dalam berkata-kata menakutkan." komentar Digna.
"Oh ya, tumben kalian ada di depan kelas jam-jam segini. Biasanya kalian keluyuran sampai bel masuk atau diam dalam kelas." kata Arya.
"Aku sedang menunggumu." jawab Digna.
"Hah?" sahut Arya.
"Kami berdua sedang menunggumu kembali ke kelas." kata Digna lagi dengan lebih jelas.
"Memangnya ada apa sampai menungguku?" tanya Arya.
"Ini tentang kejadian dikantin yang pernah aku katakan padamu. Katanya ada lagi barang yang hilang hari ini. Tepatnya barusan." jawab Digna.
"Ya, korbannya adalah anak kelas 2. Katanya dia berkoar-koar dikantin sebelum barangnya hilang kalau dia tidak takut dengan rumor itu." jelas Fajar.
"Yang waktu tadi kah?" ucap Arya dalam hati mengingat seorang senior yang duduk di sebelah mejanya saat dikantin.
"Tadi aku baru kembali dari kantin, tapi tidak ada ribut-ribut tentang barang hilang tuh." ujar Arya.
"Eh, benarkah? Tapi saat ini dikelas 2 sedang ramai-ramainya." kata Fajar.
"Maksudmu?" tanya Arya.
"Saat ini, hampir seluruh sekolah akhirnya mengetahui tentang rumornya. Kalau begini terus, bisa-bisa acara lomba makan akan batal diadakan karena kendala keamanan." jelas Digna.
"Hah? Memangnya apa hubungannya dengan lomba makan?" tanya Arya yang tidak begitu mengerti.
"Tentu saja ada hubungannya. Kalau sekolah sedang tidak aman, mana mungkin pihak panitia tetap mengadakan acara. Bisa-bisa makin banyak korbannya." jawab Digna.
"Hmm.. begitukah.." sahut Arya sambil berpikir.
"Ya, tak perlu dipikirkan. Pasti OSIS bisa menyelesaikan masalah ini." kata Fajar.
"Kenapa dia sebegitu yakinnya pada OSIS? Padahal OSIS sendiri malah mempercayakan masalah ini padaku." komentar Arya dalam hatinya.
Saat istirahat kedua, Arya baru selesai sholat dan dia masih duduk termenung dan memikirkan sesuatu. Dan kemudian Sindy memegang pundaknya dari belakang mengejutkan Arya. Arya yang sedang berpikir pun terperanjat kaget dibuatnya.
"Whoa!? Se-senior?! Jangan mengejutkanku begitu!" ucap Arya yang terkejut dan berbalik kebelakang.
"Memangnya kamu sedang apa? Yang lain udah pada balik ke kelas kamu masih duduk saja disini." tanya Sindy.
"Senior sendiri sedang apa disini?" tanya balik Arya.
"Yeh.. ditanya malah balik nanya. Aku ini seniormu lho." ujar Sindy sambil berpura-pura marah.
"Terserahlah.. saat ini aku sedang berpikir. Sebaiknya senior jangan menggangguku dulu." jawab Arya.
"Oohh.. kamu sudah berani menyuruhku pergi seperti itu ya.." ucap Sindy sambil menutup mata Arya.
"Senior, hentikan senior! Gelap! Gelap!" ucap Arya.
"Oh.. jangan bilang Arya takut kegelapan." ujar Sindy.
"Tidak, aku tidak takut gelap. Sebenarnya gelap hanya alasan." jawab Arya.
Sindy yang nempel di punggung Arya membuat Arya sedikit gugup. Wajahnya sedikit memerah saat itu.
"Kalau kalian mau pacaran jangan disini! Ini tempat ibadah! Dimohon segera pindah, wahai pasangan manusia!" pinta Ikhsan yang sudah berada dibelakang Arya dan Sindy.
"Maaf.. aku kelupaan. Hehe.." jawab Sindy.
"Kalau gitu sampai jumpa di ruang ekskul ya, Arya." ujar Sindy pada Arya sambil keluar dari mesjid.
"Ya." sahut Arya.
"Tadi itu berbahaya banget. Aku bisa merasakan sesuatu yang empuk nempel di punggungku. Besar banget lagi." ujar Arya dalam hati.
"Kalau kamu mau berpikiran yang tidak seharusnya, setidaknya keluarlah dulu dari sini." pinta Ikhsan.
"Ba-baiklah.." sahut Arya kemudian keluar dari mesjid.
Arya kembali ke kelasnya. Disana dia langsung ditarik oleh Shinta ke mejanya.
"A-ada apa tiba-tiba menarikku begini?" tanya Arya.
"Tentu saja ada yang ingin aku bicarakan denganmu." jawab Shinta.
"Mereka terlihat sangat dekat. Sepertinya mereka benar-benar sudah sangat akrab." ujar Fajar yang memperhatikan dari tempat duduknya bersama Digna.
"Mau mereka dekat atau tidak itu bukan urusan kita kan? Kita tak usah ikut campur." sahut Digna.
"Tapi dia tidak solider bro, dia berani-beraninya deket dengan cewek sementara kita masih ngenes gini." gerutu Fajar.
"Ngenes? Maaf, jangan samakan aku denganmu." ujar Digna.
"Jadi kamu juga? Dasar tampan sialan!" ucap Fajar terlihat kesal.
"Hmm.. maksudmu, saat istirahat kedua kejadian itu tidak terjadi?" tanya Arya pada Shinta yang duduk dihadapannya.
Saat ini mereka berdua duduk saling berhadapan di meja yang sama.
"Jadi bagaimana menurutmu? Maaf aku hanya bisa melaporkan hal itu saja. Aku tidak handal dalam hal memata-matai seperti ini." ujar Shinta terlihat kecewa pada dirinya sendiri.
"Tak apa. Informasimu sangatlah membantu. Dengan begini aku bisa memulai menjatuhkan telur." jawab Arya sambil mengelus kepala Shinta.
Shinta pun terlihat tenang dan nyaman saat kepalanya dielus oleh Arya. Fajar terlihat sangat iri dibelakang Arya.
"Oh ya, saat di ruang ekskul nanti, jangan bilang apapun tentang ini pada senior Sindy. Aku tak ingin pihak manapun tentang hal ini." pinta Arya.
"Tenang, masalah menjaga rahasia percayakan saja pada Shinta." ucap Shinta dengan bangga.
"Ya-ya.. aku percaya padamu." jawab Arya sambil mengelus kepala Shinta lagi.
"Sial.. bikin iri dah. Bagaimana caranya dia bisa seakrab itu dengan perempuan." ujar Fajar dalam hati sambil menatap tajam pada Arya yang membelakanginya.
Shinta yang menyadari tatapan Fajar kemudian berdiri sambil mengambil sesuatu dari sakunya. Fajar kaget tiba-tiba Shinta menghampirinya.
"Tunggu, kenapa dia tiba-tiba kemari? Apa jangan-jangan dia tadi ngobrol dengan Arya karena sedang bertanya-tanya tentangku?" ucap Fajar dengan sedikit kaget.
"Kalau begitu aku harus menyiapkan penampilanku dulu." sambung Fajar kemudian berbalik dan merapikan rambutnya dengan ludahnya.
Digna yang melihat itu jadi merasa jijik.
"Hei, temannya Arya." panggil Shinta pada Fajar.
"Ya, ada apa manis?" sahut Fajar sambil menoleh dengan kilauan tampak disekitar wajahnya.
"Kalau matamu perih pakai ini." ucap Shinta sambil meletakan obat tetes mata diatas meja.
"Apa maksudnya?! Siapa yang matanya perih emang?!" tanya Fajar dengan wajah kaget.
"Mata merah karena iritasi ringan? Pakai obat tetes mata." ujar Shinta dengan nada seperti sedang iklan.
"Woy!!" panggil Fajar karena tidak dianggap.
"Kalau sudah makainya kembalikan ya?" pinta Shinta kemudian kembali ke tempat duduknya.
"Siapa memangnya yang matanya perih!!!??" ucap Fajar terlihat kesal.
Kemudian Digna menyentuh pundak Fajar. Fajar menoleh ke arah Digna.
"Yang sabar ya kawan." ucap Digna dengan wajah menyesal.
"Jangan melihatku seperti itu, sialan!" ucap Fajar
Di ruang ekskul yang sepi, Arya tampak tidak datang dan disana hanya ada Shinta dan Sindy saja. Mereka tidak saling bicara. Sindy terlihat sibuk dengan laptopnya dan Shinta sibuk menulis tweet.
"Dia tidak datang?! Aku ditinggalkan sendirian dengan ratu kegelapan sekolah!" tulis Shinta kemudian mengirimkan tweet nya.
"Oh maaf kalau aku adalah penguasa kegelapan disekolah." balas seseorang dengan username ERia.
"Eh, emang apa hubungannya denganmu?" balas Shinta yang memakai username 'sarasthecat'.
"Karena aku ada di depanmu." jawab username ERia.
"Eehh??!!" ucap Shinta terkejut.
Kemudian Shinta melihat ke arah Sindy dan melihat ternyata Sindy melambaikan tangan ke arahnya.
"Eeeeehhhhh??!!!!" ucap Shinta lagi dengan wajah shock.
"Memangnya kamu pikir aku sedang apa disini, nona Saras?" tanya Sindy sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Whoaa.. maaf senior!" ucap Shinta terlihat menyesal.
"Tidak apa-apa kok. Aku akan memaafkanmu kalau kamu mengatakan rencananya Arya." sahut Sindy.
"Rencananya Arya. Maaf aku tidak tahu apa-apa tentang itu." jawab Shinta.
"Apa Arya yang menyuruhmu menyembunyikannya dariku?" tanya Sindy.
"Ti-tidak kok. Dia sama sekali tidak menyuruhku untuk menyembunyikannya atau apapun." jawab Shinta dengan gugup.
"Dari caramu menjawabnya sepertinya benar dia menyuruhmu menyembunyikannya." tukas Sindy.
"Ti-tidak kok. Beneran." jawab Shinta lagi.
"Oohh.. kalau begitu biarkan ratu kegelapan ini mengajarkan sesuatu." ujar Sindy sambil tersenyum mendekati Shinta.
"Eh? Apa yang akan senior lakukan padaku?" tanya Shinta terlihat panik.
"Hehehe.." Sindy tersenyum jahat mendekat ke Shinta.
Shinta semakin terlihat ketakutan. Arya datang ke ruangan ekskul dan membuka pintu lalu dia pun menemukan sebuah kejadian yang mengagetkannya. Sindy tampak sedang menindih tubuh Shinta seperti berusaha menyerangnya.
"A-apa yang sedang kalian lakukan sebenarnya!?" tanya Arya terkejut melihat kejadian itu.
Kemudian semuanya tampak kembali normal di ruangan ekskul tersebut. Mereka kembali duduk di tempat duduk mereka masing-masing.
"I-ini tidak seperti yang kamu lihat. Kami tidak melakukan apapun kok." ucap Shinta sambil menoleh ke aarah Arya.
"Ya-ya.. aku mengerti kok. Aku takkan berkomentar." sahut Arya lalu menyeruput segelas teh hangat yang ia buat.
"Dari nadamu, sepertinya kau sudah salah paham." ujar Shinta.
"Tidak-tidak, aku mengerti kok. Jika kalian memang memiliki hubungan seperti itu aku takkan melarang kalian." jawab Arya.
"Sudah kuduga kau salah paham! Tidak seperti itu kok! Biarkan aku menjelaskannya terlebih dahulu." pinta Shinta semakin panik.
"Tak perlu dijelaskan bukan? Tadi itu sudah jelas banget." balas Arya sambil kembali menyeruput teh hangatnya.
"Sudah kubilang ini tidak seperti kelihatannya!!!" bentak Shinta.
"Hmm.. baiklah-baiklah. Tenang saja.. tadi aku hanya bercanda. Memangnya ada apa sampai senior Sindy menyerangmu seperti tadi?" tanya Arya.
"Jadi kamu hanya menggodaku!!?" pekik Shinta sambil melempar sebuah buku ke jidat Arya.
Arya pun terjatuh dari kursinya dan lebih sialnya dia juga tersiram teh hangatnya sendiri.
"Aaaa!!" teriak Arya saat celananya tersiram teh yang cukup panas untuk kulit itu.
Akhirnya Shinta pun cemberut pada Arya karena ngambek dijahili oleh Arya seperti tadi.
"Jadi memangnya apa yang terjadi tadi tuh?" tanya Arya.
"Entahlah." jawab Shinta sambil memalingkan muka sambil cemberut,
"Yang lebih penting, apa rencanamu kedepannya untuk mengatasi masalah dikantin?" tanya Sindy.
"Rencana? Apa maksud senior? Sudah kukatakan kalau aku takkan ikut campur dengan masalah semacam itu. Paling juga entar pecah sendiri masalahnya." jawab Arya.
"Hmm.. begitukah? Kalau begitu aku serahkan saja semuanya padamu." sahut Sindy.
"Ah, sepertinya senior tidak mendengarkanku." balas Arya sambil memegang kepalanya.
Hari berikutnya di kantin sekolah, Arya terlihat berdiri bersandar di dinding memperhatikan orang-orang dikantin. Tapi sepertinya dia lebih tertarik memperhatikan pelayan dikantin itu. Gadis cantik yang menyita perhatian hampir seluruh orang dikantin itu di perhatikan oleh Arya dengan seksama.
"Kakak itu cantik juga ya? Kira-kira sudah punya pacar belum ya?" ucap seseorang disamping Arya.
"Dari apa yang kulihat, dia sepertinya belum memiliki pacar." jawab Arya.
"Oh.. kalau begitu bagus. Sepertinya aku bisa memanfaatkannya." sahut orang yang ada disamping Arya kemudian menghampiri kantin.
"Senior kah? Apa yang hendak ia lakukan?" gumam Arya melihat sosok orang yang tampak selalu menggigit batang korek api itu.
"Hei kakak pelayan? Apa kakak bisa masak?" tanya senior itu pada gadis pelayan dihadapannya.
"Di-dia?!! Bara dari kelas 2 IPA 3, orang yang dijuluki food tester terhebat disekolah." ujar seorang senior yang melihat kedatangan orang berambut belah dua dan menggigit batang korek api itu.
"Kemarin eater, sekarang food tester. Apa-apaan ini sebenarnya? Anak-anak sekolah ini suka sekali memberi nama julukan seperti itu." komentar Arya.
"Masak? Bisa. Memangnya kenapa?" jawab pelayan itu dengan ramah pada Bara.
"Kalau begitu masakan sesuatu untukku biar aku coba kehebatannmu dalam memasak. Tenang saja, berapapun harganya akan kubayar. Lagipula aku anak pengelola warung makan terkenal." pinta Bara membujuk gadis itu memasakkan sesuatu untuknya.
"Pengelola warung makan? Mungkinkah?" ucap Arya.
"Tidak, kamu salah." sahut Sindy yang sudah berada disampingnya.
"Whoa! Senior?!" ucap Arya terkejut.
"Kalau kamu pikir dia adalah pemilik warung makan seperti yang kamu duga itu keliru." sambung Sindy kemudian pergi meninggalkan Arya.
"Ada apa dengan semua senior disini? Apa mengagetkan orang seperti tadi sudah menjadi kebiasaan para senior?" gerutu Arya saat Sindy pergi.
"Maaf, seribu kali maaf. Permintaanmu tidak bisa saya kabulkan. Karena tidak mungkin saya menggunakan fasilitas dapur kantin untuk kepentingan pribadi seperti itu." tolak gadis pelayan itu.
"Ah.. ayolah. Kalau masalah uang tidak perlu khawatir kan kubilang?" bujuk Bara dengan sedikit memaksa.
"Maaf, ini bukan masalah uang. Aku tidak bisa menuruti permintaanmu." jawab gadis itu.
"Hei..hei.." ucap Bara mendekat dan memegang pundak gadis itu.
"Hentikan, dasar berandal." pinta Rere yang ternyata sedang makan disana.
"Re-Rere?!! Sedang apa kamu disini!?" tanya Bara terkejut melihat Rere.
"Tentu saja sedang makan siang, apa kau buta!?" jawab Rere dengan kasar.
"A-Aku tidak tahu kamu ada disana? Haha.." sahut Bara terlihat gugup.
"Hah? Maksudmu aku ini tidak terlihat? Kamu menyamakanku dengan kaca yang sudah dibersihkan menggunakan pembersih kaca?" tanya Rere dengan tatapan kejam.
"Ma-maaf.." ucap Bara kemudian kabur meninggalkan kantin.
"Kerja bagus, senior Rere." ujar Arya.
"Te-terima kasih." ucap gadis pelayan pada Rere.
"Sama-sama. Ngomong-ngomong namamu siapa ya?" tanya Rere pada gadis pelayan itu
"Namaku Ririn. Aku adalah pekerja magang disini. Salam kenal.." jawab pelayan itu.
"Namaku Rere. Aku dari OSIS, ketua dari seksi keamanan." balas Rere.
"Seksi keamanan?!" ucap Ririn terkejut.
"Ada apa?" tanya Rere.
"Tidak ada apa-apa." jawab Ririn.
Arya yang memperhatikan mereka juga sedikit heran dengan keterkejutan Ririn.
Arya duduk di depan kelasnya sambil melihat awan yang melintasi cakrawala siang itu.
"Akhirnya aku mulai mengerti beberapa hal. Meskipun masih belum jelas. Yang perlu ku lakukan hanya memastikannya." ujar Arya dalam hati.
Seseorang menyentuh pundak Arya dengan lembut. Telunjuk mungil itu mencolek-colek Arya membuat Arya menoleh ke belakang.
"Ha-hai.." sapa orang itu yang ternyata adalah Alice.
"A-Alice.." ucap Arya terkejut melihat orang yang mencoleknya adalah Alice.
"Ka-kalau kamu butuh bantuan, aku bisa membantumu." tawar Alice.
"Kamu sendirian? Bagaimana dengan pelayanmu itu?" tanya Arya sambil melihat ke kiri dan ke kanan dengan cemas.
"Ani? Tenang saja, saat ini dia sedang ku suruh ke kantin." jawab Alice.
"Oohh.. terus apa maksudnya dengan kamu mau membantuku?" tanya Arya lagi.
"Aku pikir kamu sedang menyelidiki sesuatu. Ja-jadi.. kupikir aku bisa memberikan sedikit bantuan." jelas Alice dengan malu-malu.
"Darimana kamu tahu hal itu? Shinta kah?" tanya Arya dengan menatap curiga.
"Ti-tidak darimanapun! Eh, siapa itu Shinta?" jawab Alice kemudian bertanya balik.
"Apa dia gadis yang rambutnya diikat kebelakang itu? Apa hubunganmu dengannya? Katakan padaku!" tanya Alice lagi mendekatkan wajahnya ke Arya karena penasaran.
Arya pun memundurkan duduknya kebelakang karena merasa wajah Alice terlalu dekat. Namun Alice terlihat tetap menatap Arya dengan penuh harap.
"Kenapa kamu tidak menjawabku? Jadi benar kalau kalian itu.. pacaran." tukas Alice.
Arya sedikit tersentak mendengarnya.
"Tidak ada hubungan spesial seperti itu kok diantara kami. Saat ini kami hanya menjalin hubungan biasa antar sesama manusia saja." jawab Arya.
"Jadi maksudmu kalian hanya berteman?" tanya Alice.
"Ya. Kami hanya berteman." jawab Arya.
"Syukurlah.." ucap Alice.
"Eh, 'syukurlah'?" kata Arya dengan heran.
"Bukan apa-apa, lupakan saja." sahut Alice.
"Jadi, adakah yang bisa aku bantu?" tanya Alice lagi.
"Hmm.. kalau begitu apa kamu tahu sesuatu tentang pelayan baru yang ada dikantin?" tanya Arya.
"Pelayan baru? Oohh.. maksudmu Ririn." sahut Alice.
"Kamu kenal dia?" tanya Arya.
"Ya, tentu saja. Dia tadinya bekerja di restoran yang berada di bawah naungan perusahaanku." jawab Alice.
"Di restoran ya. Tapi kenapa dia sekarang jadi kerja di tempat seperti ini? Kerja dikantin sekolah pastinya gajinya lebih kecil kan?" ujar Arya.
Alice pun kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Arya.
"Sebenarnya ini rahasia, tapi karena kamu butuh maka akan ku katakan padamu. Dia bekerja disini karena.." bisik Alice melanjutkan penjelasannya dengan bisikan di telinga Arya,
"Begitukah? Oohh.. aku mengerti sekarang." ujar Arya saat Alice selesai menjelaskan.
Alice memundurkan wajahnya kembali kebelakang. Disaat itu Ani datang dari arah kantin sambil membawa dua potong roti dan 2 teh gelas. Dan dari pandangan Ani, Arya dan Alice saat itu terlihat seperti habis berciuman. Hal itu membuat Ani shock dan menjatuhkan bawaannya.
"A-apa yang kau lakukan pada nona Alice!!!?" pekik Ani menunjuk ke arah Arya dengan penuh kemarahan.
"Ooh.. Ani.. kamu sudah kembali?" ucap Alice senang melihat Ani kembali.
"Menjauh dari nona Alice!" suruh Alice sambil melemparkan sebuah teh gelas ke arah Arya.
Arya tidak bisa menghindar dan akhirnya teh gelas itu mendarat tepat dikepala Arya dan pecah. Sehingga Arya saat ini pun basah karena air teh.
"Dingin-dingin-dingin!" ucap Arya kedinginan tersiram air teh itu.
"Ka-kamu tidak apa-apa?" ujar Alice tampak khawatir mengeluarkan sapu tangannya.
Beberapa saat kemudian.
"Jadi apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Ani menginterogasi Arya.
"Bukan urusanmu kan." jawab Arya dengan dingin.
"Haaah!! Apa maksudmu bocah!?" ujar Ani sambil menatap Arya dengan penuh amarah.
"Sudahlah Ani, jangan terlalu kasar padanya. Dia tidak salah apa-apa." pinta Alice.
"Nona terlalu banyak membelanya. Bagaimana jika dia sampai melakukan sesuatu yang aneh pada nona?" sanggah Ani.
"Tidak akan kok. Dia bukan laki-laki seperti itu." jawab Alice mencoba meyakinkan Ani.
"Bagaimana nona bisa yakin? Anda lihat saja tatapan mata liciknya itu. Dia sedang menatap tubuh nona dengan penuh nafsu." tukas Ani menunjuk muka Arya.
Meskipun sebenarnya hal yang dikatakan Ani hanya dalam pandangannya saja, tidak seperti kenyataannya. Karena Arya saat ini menatap bosan pada Ani dan Alice.
"Be-benarkah? Tapi.. kupikir dia tidak begitu." jawab Alice yang malah tampak terpesona melihat Arya.
Karena di pandangan Alice, tatapan Arya begitu hangat dengan mata berkilauan dan juga banyak gemerlap disekitar wajahnya.
"Sebenarnya seperti apa aku kelihatannya?" komentar Arya dalam hati.
"Pokoknya nona jangan banyak dekat-dekat dengannya. Nanti nona bisa tertular." ujar Ani.
"Tertular? Tertular apa memangnya?" tanya Arya terlihat sedikit keberatan.
"Tentu saja tertular AKYV." jawab Ani.
"AKYV? Apaan tuh?" tanya Arya lagi dengan tatapan malas.
"Arya Kuso Yarou Virus." jawab Ani.
"Tunggu.. biar kuluruskan. Apa barusan itu dari bahasa jepang?" tanya Arya.
"Eh, darimana kau tahu?" tanya balik Ani yang tampak kaget.
"Tentu saja aku tahu! Itu adalah kata yang sering digunakan oleh tokoh anime saat kesal!" jawab Arya.
"Ternyata kau otaku juga!" balas Ani.
"Yes, I'm otaku. And I'm proud of it!" sahut Arya dengan bangga.
"Kalian sedang ngomongin apa sih?" tanya Alice yang tidak bisa mengikuti pembicaraan Arya dan Ani.
"Ti-tidak, bukan tentang apa-apa kok." sahut Arya.
"Oh ya, terima kasih untuk yang tadi. Aku tidak akan lupa untuk membalasnya nanti." sambung Arya berpamitan untuk kembali ke kelasnya.
"Ya, sama-sama." sahut Alice tersenyum pada Arya.
"Tunggu sebentar! Apa maksudnya dengan itu!!? Jangan-jangan mereka.. sudah ada pada hubungan seperti itu!!??" tukas Ani dalam hati membayangkan kalau Arya dan Alice tadi tuh benar-benar sudah berciuman.
Sepulang sekolah, Arya mencegat Rere yang hendak pulang. Rere terkejut melihat Arya berada di dekat pos satpam dan melirik ke arahnya seperti sudah menunggunya.
"Apa maksudnya ini? Apa dia mau pulang bersamaku? Tidak mungkin dah. Dia pasti mau menantangku. Ya, pasti dia ingin mengajakku duel sepulang sekolah." gumam Rere sambil tetap tenang berjalan menuju ke gerbang.
"Maaf menyita waktumu sebentar, senior. Tapi ada sesuatu yang ingin kuminta darimu." ujar Arya sambil berdiri dan menghadap ke arah Rere.
"Oh.. oke. Aku siap kapanpun untuk melakukannya." jawab Rere sambil memasang kuda-kuda.
"Eh, ada apa dengan posisi itu, senior? Nahan BAB?" tanya Arya.
"Siapa yang kau bilang nahan BAB!!? Kau beneran ngajak ribut ya, bocah sialan!" bentak Rere sambil menjambak kerah baju Arya.
"Kalau bukan nahan BAB, kenapa pose senior seperti itu?" tanya Arya dengan sedikit merasa sesak.
"Bukannya kamu mau ngajak sparring?" jawab Rere.
"Hah?" sahut Arya bingung.
"Tunggu, jadi kamu nungguin disini bukan untuk ngajak duel?" tanya Rere.
"Bukanlah. Tadi kan sudah kubilang kalau aku mau minta sesuatu." jelas Arya.
"Minta sesuatu kah? Oh.. jadi ceritanya kamu malakin senior sekarang?" tukas Rere menatap tajam pada Arya.
"Bisakah senior tidak selalu berpikiran negatif tentangku?" protes Arya.
"Hmm.. mau bagaimana lagi. Disekitarmu banyak sekali aura negatif. Bikin merinding." jawab Rere.
"Senior kira aku ini hantu ya." sahut Arya.
"Terus kalau bukan malak, kau mau minta apa?" tanya Rere.
"Bantuan. Aku meminta sedikit bantuan dari senior sebagai ketua seksi keamanan OSIS." jawab Arya.
"Apa yang kau inginkan dari seksi keamanan?" tanya Rere.
"Baiklah, akan kujelaskan permintaannya.." sahut Arya.
Arya pun menjelaskan permintaannya pada Rere. Di gedung olahraha, Digna dan para seniornya terlihat sedang latihan. Digna terlihat melawan seorang seniornya saat ini. Dan dengan tendangan yang sangat cepat, Digna berhasil menjatuhkan seniornya itu.
"Wah.. seperti biasa, dia hebat sekali. Memang benar dia itu jenius ternyata." ujar salah seorang seniornya yang duduk melihat pertarungan itu.
"Bagus, Digna. Semakin lama kekuatan dan kecepatanmu semakin meningkat." puji pak Agus.
"Terima kasih, master." sahut Digna memberi hormat.
"Ah.. gawat banget nih. Gantungan kunci motorku hilang." ujar salah seorang senior tampak sedang mengobrak-ngabrik tasnya.
"Hah? Cuma gantungan kunci aja kok panik banget. Biasa aja. Kan nanti bisa beli lagi." sahut teman disebelahnya yang heran.
"Masalahnya itu pemberian pacarku. Kalau sampai ketahuan aku menghilangkannya, bisa di omelin habis-habisan nanti." jelas senior yang panik itu.
"Maaf senior, tapi kapan terakhir kali ingat gantungan kunci itu masih ada? Kemana saja senior membawanya?" tanya Digna mendekat ke arah senior itu.
"Kalau tidak salah tadi masih ada pas aku kemari sesudah bel pulang. Lalu aku ke kantin sebentar. Dan pas kemari lagi itu sudah hilang." jelas senior itu mencoba mengingatnya.
"Jadi senior membawanya ke kantin?" tanya Digna lagi.
"Ya." jawab senior itu.
"Hmm.. begitu rupanya." sahut Digna.
"Memang kenapa?" tanya senior itu.
"Kemungkinan benda itu hilang saat dikantin. Coba cari lagi kesana dan tanyakan pada penjaga kantin." usul Digna.
"Oh.. benar juga. Terima kasih, Digna." ucap senior itu.
"Ya, sama-sama." sahut Digna.
Kemudian Digna keluar dari ruangan sebentar sementara senior itu tampak berlari menuju ke kantin. Di luar Digna berpapasan dengan Arya yang hendak ke ruangan ekskulnya.
"Oh Arya kah.." sapa Digna.
"Digna?" sahut Arya,
"Mau ke ruang ekskulmu?" tanya Digna.
"Ya begitulah. Kamu sendiri baru selesai latihan ya? Kamu benar-benar rajin." jawab Arya.
"Terima kasih." sahut Digna.
"Nah kalau begitu aku mau ke ruang ekskul dulu." ujar Arya sambil berjalan melewati Digna.
"Tunggu Arya, ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu." ucap Digna.
Arya pun berhenti dan melihat ke arah Digna.
"Tadi baru saja terjadi lagi. Barang yang hilang dikantin." sambung Digna.
"Hah? Oohh.. begitu rupanya." ujar Arya.
"Sepertinya kamu sudah tahu pelakunya." tukas Digna.
"Tidak. Hanya aku mengerti sesuatu saja." sahut Arya kemudian melanjutkan langkahnya.
"Oh ya, terima kasih atas infonya." ucap Arya sambil melambaikan tangan.
Hari berikutnya lagi, Arya dan Shinta kembali berduaan dikantin. Tapi bukan untuk bermesraan, mereka hanya berpura-pura nongkrong disana sambil memperhatikan orang-orang.
"Hari ini kenapa kamu tidak memperhatikan orang-orang lagi? Memangnya kamu sudah tahu pelakunya?" tanya Shinta.
"Belum. Aku hanya mengerti cara kerjanya saja." jawab Arya.
"Cara kerjanya?" ucap Shinta terlihat bingung.
"Kamu akan mengerti pada waktunya." sahut Arya.
Tak lama, datang Rere ke kantin. Dia datang bersama Sindy.
"Eh, apa yang dilakukan senior Sindy disini?" ujar Shinta saat melihat Sindy.
"Tentu saja untuk makan kan. Memangnya untuk apa lagi." jawab Arya.
"Hehehe.. benar juga. Aku lupa ini kantin." sahut Shinta sambil tersenyum bodoh.
"Dasar kamu ini.." ujar Arya.
"Pelayan.. boleh aku memesan sesuatu!?" teriak Rere sambil mengangkat tangannya.
"Baik. Aku kesana!" sahut Ririn.
"Hmm.. jadi dia pelayan cantik di kantin yang jadi bahan pembicaraan itu." ucap Sindy saat melihat Ririn mendekati meja nya.
"Ya, namanya adalah Ririn." jawab Rere.
"Oohh.. ini pertama kalinya Rere memperkenalkan orang padaku." ujar Sindy dengan senyuman sinis diwajahnya.
"Eh, maksudnya?" tanya Rere tampak bingung.
"Ya.. biasanya Rere tidak peduli pada orang lain. Melihatmu memperkenalkan dia padaku seperti itu membuatku senang." jawab Sindy tersenyum pada Rere.
"Hah? Kenapa perkataanmu mirip ibuku?" gerutu Rere.
"Jadi mau pesan apa?" tanya Ririn pada Rere dan Sindy.
"Aku pesan bakso dan es jeruk." jawab Rere.
"Kalau aku mie ayam dan es teh manis." jawab Sindy.
"Oke. Mohon tunggu sebentar ya." ucap Ririn.
Ririn langsung pergi ke dapur untuk mengambilkan pesanan para pelanggannya.
"Jadi ada apa tiba-tiba mengajakku kemari? Apa hanya untuk memperkenalkan dia?" tanya Sindy tampak penasaran.
"Y-ya.. begitulah." jawab Rere dengan gugup.
"Gawat.. aku takkan bisa mengelak dari pertanyaan dewa nya." ucap Rere dalam hatinya mulai panik.
"Memangnya apa hubungan Rere dengannya? Apa kalian sudah berteman? Tapi tadi kulihat sama sekali tidak mengobrol layaknya teman. Dia juga tak menyapamu." tanya Sindy mulai sedikit agresif namun mempertahankan senyumannya.
"Di-dia kan lagi kerja. Jadi tak mungkin dia hanya menyapaku kan? Entar pelanggan yang lain iri dan marah." jelas Rere.
"Tapi kalau cuma mau memperkenalkanku tak perlu mengajakku kemari kan? Dikelas juga bisa. Tinggal bahas topik tentang kantin saja." ujar Sindy.
"Ya.. benar sih. Sindy memang pintar." puji Rere semakin tertekan.
"Kalau begitu pasti ada alasan lain mengajakku kemari kan? Mungkinkah.. itu ada hubungannya dengan yang sedang duduk disana?" tanya Sindy melihat ke arah Arya dan Shinta.
Rere menoleh kebelakang melihat apa yang Sindy lihat.
"Bodoh!!! Kenapa dia malah ada disini? Bagaimana aku menjelaskannya pada Sindy!" gerutu Rere dalam hati saat melihat Arya.
"Tidak, tunggu sebentar. Dia sepertinya memberikan kode." sambung Rere dalam hati melihat Arya menunjuk ke arah Shinta.
"Dia sedang bersama perempuan? Ooohh.. aku mengerti sekarang." ucap Rere dalam hati lalu tersenyum.
"Arti kode itu adalah.. dia sedang kencan disini dan memamerkannya padaku. Kurang ajar tuh anak!! Minta dihabisi ya!!" tambah Rere dalam hati dengan sangat marah.
"Kenapa tatapan matanya seperti dia ingin membunuhku? Harusnya dia mengerti kalau maksud kode ini adalah.. 'Aku sedang makan bersama teman'." ujar Arya dalam hati melihat Rere menatap padanya seperti iblis.
"Ada apa dengan perempuan berambut pendek itu? Mungkinkah.. mungkinkah.." ucap Shinta saat melihat Rere.
"..matanya perih karena iritasi ringan? Gawat! Aku harus segera memberikannya obat tetes mata ini." sambung Shinta sambil merogoh sakunya.
"Apa maksudnya!? Sebaiknya jangan lakukan itu jika kamu tak ingin diterkam macan." ujar Arya mencoba menghentikan niat Shinta.
"Eh, diterkam macan?" ucap Shinta kebingungan.
Suasana dikantin mulai berubah, orang-orang disana mulai berganti dengan orang-orang baru.
"Oohh.. jadi ini rencananya. Cukup cerdik juga." ucap Sindy saat melihat ada yang berubah di kantin itu.
"Kau menyadarinya ya? Sepertinya percuma saja menyembunyikan sesuatu darimu, Sindy. Ya, mereka adalah anggota seksi keamaan OSIS." jelas Rere.
"Jadi dia memintamu melakukan ini? Tapi aku tak mengerti apa tujuannya. Sejauh ini kejadian hilangnya barang-barang itu terjadi bahkan saat kantin ramai sekalipun." ujar Sindy.
"Justru pelakunya memanfaatkan keramaian untuk melancarkan aksinya. Semakin sepi malah semakin sulit. Itu kata bocah itu." jawab Rere.
"Oohh.. seperti pencopet kah? Tapi kalau pencopet tentunya sulit mencuri dari orang yang dikelilingi temannya. Kalau ada seorang tidak dikenal nempel-nempel kan bisa dicurigai." sanggah Sindy.
"Ya benar sekali. Tapi karena itulah dia melakukan ini untuk uji coba. Aku mengumpulkan anggota seksi keamanan berdasarkan kelas mereka. Jadi mereka bisa duduk di satu meja. Dan pelakunya tidak akan sadar kalau mereka kesana sebagai anggota seksi keamanan." jelas Rere.
"Oohh.. hebat. Jadi dia ingin melakukan uji coba pada anggota seksi keamanan. Tidak ada yang lebih waspada dari anggota seksi keamanan yang tentunya paling tahu permasalahannya." ujar Sindy.
"Tapi aku masih tak mengerti sesuatu. Bagaimana caranya kita tahu pelakunya akan datang dan benar-benar melakukannya hari ini." pikir Sindy.
"Apa yang sebenarnya kita lakukan disini, Arya? Kalau ada anggota seksi keamanan disini, rasanya akan lebih aman." tanya Shinta pada Arya.
"Kita disini bukan sebagai pengawas, penjaga, atau jebakannya. Kita kemari sebagai umpan." jawab Arya.
"Umpan?" ucap Shinta tak mengerti.
"Kalau begitu akan kita mulai." ujar Arya lalu berdiri.
Arya berjalan mengelilingi mejanya mendekat ke Shinta.
"Hmm.. sepertinya kita hanya perlu satu tambahan lagi untuk melakukannya." ujar Arya.
"Apa?" tanya Shinta.
Arya secara tiba-tiba mencolok hidung Shinta.
"Oy.." ucap Shinta terlihat keberatan hidungnya dicolok.
"Apa-apaan ini!!? Kenapa kamu mencolok hidungku tiba-tiba!!?" protes Shinta sambil menepuk tangan Arya agar terlepas dari hidungnya.
"Aku melihat lubang hidungmu itu kecil dan imut. Jadi aku ingin coba apa jariku bisa masuk apa tidak." jawab Arya.
"Maksudmu!!!?" ucap Shinta mulai geram.
"Tapi kalau jariku bisa masuk berarti lubang hidungmu tak sekecil kelihatannya. Alias gede banget." ujar Arya.
"Tapi kan lubang hidung itu bisa melar karena elastis." jelas Shinta.
"Oh melar ya. Aku tak tahu kalau hidungmu terbuat dari karet." sahut Arya.
Shinta pun menggeram karena tak bisa menahan amarahnya. Dia berteriak karena saking kesalnya. Hal itu menyita perhatian orang-orang dikantin, bahkan yang diluar kantin juga.
"Kalau kamu marah, coba tangkap aku. Itupun kalau kamu bisa." tantang Arya.
"Awas ya.. kalau ketangkap, akan kumakan kau bulat-bulat!" ujar Shinta.
Arya pun kemudian lari dari kantin, dan Shinta mengejarnya dengan sungguh-sungguh.
"Ternyata dia memang biasa membuat perempuan kesal. Memang bocah ngeselin." komentar Rere menatap aneh pada Arya yang meninggalkan kantin.
"Benarkah begitu?" ucap Sindy sambil tersenyum.
Arya berlari menyusuri koridor kelas 3 ke kelas 2.
"Hahaha.. kamu takkan bisa menangkapku. Sama seperti orang bodoh yang takkan bisa menghentikan lomba makan itu." ejek Arya pada Shinta sambil berlari sekuat tenaga.
"Kau bilang apa hah!?" sahut Shinta mengejar dengan kecepatan penuh.
"Kalau cuma begitu kamu takkan bisa mengejarku! Kamu hanya seperti mencoba menghentikan lomba makan itu dan gagal." sambung Arya sambil tetap berlari.
"Kau benar-benar membuatku kesal. Jangan meremehkanku!!!" bentak Shinta menambah kecepatannya.
Saat sampai di koridor kelas 1 akhirnya Shinta berhasil menangkap dengan menubruk Arya. Shinta membalikan badan Arya dan mulai mengangkat tinjunya seperti hendak memukul Arya.
"Sepertinya rencana kita berhasil." ucap Arya membuat pukulan Shinta terhenti.
"Eh? Rencana?" ucap Shinta dengan wajah bingung.
"Ya, maafkan aku membuatmu kesal tadi. Tadi cuma buat alasanku keluar dari kantin dan menjalankan rencananya." jelas Arya.
"Jadi tentang lubang hindungku itu hanya bohong saja?" tanya Shinta.
"Ya, itu hanya bagian dari rencanaku saja. Tentu saja hidungmu itu imut sekali." jawab Arya.
Wajah Shinta pun memerah karena malu.
"Aaaa!!! Kenapa tidak bilang dari tadi!!?" bentak Shinta kemudian memukul wajah Arya.
Arya pun terkapar kena pukul Shinta. Kemudian Shinta berlari meninggalkan Arya tergeletak disana.
"Se-sepertinya aku sudah kelewatan." ucap Arya dengan lemah.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya seorang gadis menghampiri Arya.
Sore harinya, Arya dan Sindy terlihat berduaan di ruang ekskul. Shinta sepertinya tidak datang.
"Sepertinya nona Saras tidak datang hari ini." ucap Sindy sambil mengetik dilaptopnya.
"Ya." sahut Arya sambil membaca sebuah buka.
"Apa terjadi sesuatu antara Arya dan Saras?" tanya Sindy.
"Tidak juga." jawab Arya.
"Tapi wajah kirimu itu tidak mungkin bengkak begitu saja kan." ujar Sindy.
"Bisa jadi." balas Arya.
Arya dan Sindy terlihat saling sibuk dengan apa yang mereka kerjakan masing-masing.
"Kenapa jawabanmu seperti sedang kuis 'Indonesia Cerdas' di acara di sebuah stasiun TV?" protes Sindy pada Arya.
"Oohh.." sahut Arya terlihat tidak peduli.
Suasana jadi hening sejenak. Yang terdengar hanya suara ketikan dari laptop Sindy dan suara kertas yang dibalik dari buku yang dibaca Arya.
"Arya, kalau kamu tidak menjawabku dengan serius maka akan ku sebar dalang dibalik pecahnya misteri hilangnya barang dikantin yang sebenarnya pada ekskul jurnal." ancam Shinta.
Arya pun langsung tersentak mendengarnya. Wajahnya jadi pucat dan berkeringat banyak.
"Arya.." ucap Sindy dengan nada menekan.
"Ba-baiklah. Sebenarnya saat ini Shinta ngambek padaku. Tadi saat aku ajak kemari dia malah memalingkan wajahnya. Sepertinya dia masih marah karena kejadian dikantin tadi." jelas Arya dengan cepat.
"Oohh.. begitukah? Tapi apa Arya yakin dia marahnya karena itu?" ucap Sindy.
"Kalau bukan karena itu memangnya karena apa lagi?" tanya Arya.
"Entahlah, tuan detektif." jawab Sindy.
"Hah? Kenapa senior jawabnya begitu?" gerutu Arya.
"Tapi aku kaget juga Arya bisa tahu siapa pelakunya." ujar Sindy.
"Aku tidak tahu pelakunya. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia mengambil barang dari orang lain. Tapi aku memikirkan kemungkinan masalah dan solusi tercepatnya. Misterinya terpecah sendiri." jelas Arya.
Sindy tampak kaget mendengar penjelasan Arya. Ini pertama kalinya dia mendengar pemecahan misteri tanpa tahu siapa pelakunya dan bagaiaman trik yang digunakan. Sindy pun tersenyum dan pipiny sedikit memerah.
"Dia memang.. menarik.." ucap Sindy dalam hati.
Rere dan anak buahnya terlihat membawa seseorang yang berhasil ditangkapnya. Dia membawanya ke ruang BP.
"Kalau boleh tahu, memangnya siapa pelakunya?" tanya Arya.
"Pelakunya adalah seorang anak pemilik restoran. Dia tidak bekerja sendiri. Namun dia juga tidak bekerja sama. Itu hanya seperti sebuah kesepakatan kecil." jawab Sindy.
"Hmm.. begitu rupanya." sahut Arya.
"Kemungkinan alasannya dia melakukan itu adalah untuk menggagalkan acara lomba makan minggu depan. Dia berusaha membuat situasi keamanan menjadi kritis sehingga pihak penyelenggara akan ragu mengadakan lomba makan tersebut." jelas Sindy.
"Kupikir tidak begitu. Meskipun keadaan menjadi kurang aman, lomba makan akan tetap bisa dijalankan. Karena kita bisa saja pakai keamanan dari luar seperti polisi atau semacamnya." sangga Arya.
"Terus menurutmu bagaimana?" tanya Sindy.
"Dia ingin menciptakan skandal." jawab Arya.
"Skandal?" sahut Sindy.
"Ya, skandal pada pihak penyelenggara. Tahu atau tidak, sebenarnya Ririn itu adalah mata-mata dari pihak penyelenggara. Dia berasal dari restoran yang mengadakan acara lomba makan itu. Lomba makan yang akan menyajikan produk makanan baru dari restoran itu. Kemungkinan itu untuk promosi. Kalau bicara promosi, kita bisa tahu kalau restoran tersebut pastinya berniat meraup pelanggan lebih banyak. Dan pastinya mengesalkan pihak restoran lain." jelas Arya.
"Dan untuk menggagalkan acara promosi itu, pihak restoran lain mengutus orangnya untuk melakukan sebuah kasus yang akan mencemarkan nama baik restoran yang mengadakan promosi tersebut. Begitu kah?" sambung Sindy.
"Ya." sahut Arya sambil tersenyum.
Sindy pun tampak berpikir dan pipinya sedikit memerah. Kemudian dia melirik ke arah Arya.
"A-ada apa?" tanya Arya kaget ditatap oleh Sindy.
"Kamu.. keren.." jawab Sindy sambil tersenyum.
"Eh?!" ucap Arya semakin kaget.
Di ruang BP terlihat orang ditangkap itu adalah Bara dari kelas 2 IPA 3 yang punya julukan Food Tester. Dia saat ini sedang di interogasi oleh guru pembimbing. Dan dari interogasinya diketahui kalau dia ternyata hanya bekerja sendiri, namun dia membayar beberapa orang teman dari para korban untuk mengambilkan barang mereka. Dan itu dilakukan saat korban teralihkan oleh keributan yang dibuat Bara pada Ririn. Dan itu tidak dilakukan hanya dengan satu cara. Keributan sendiri bisa berupa bicara dengan suara keras, bergosip, melakukan sketsa lawak, atau berdebat dengan orang lain. Dia melakukan apapun yang membuat Ririn kesal dan membentaknya. Sehingga lebih mudah untuk nantinya menyalahkan Ririn karena Ririn terlihat seperti pemarah yang akan mengambil atau membuang setiap barang milik siswa yang ada dikantin. Setelah skandal tercipta, yang perlu dilakukan Bara hanyalah membuka kedok Ririn dan acara lomba makan pun akan dibatalkan. Setelah proses interogasi, Rere keluar dari ruang BP. Dia menghela napas karena lega semuanya sudah beres.
"Hebat sekali ya dia bisa membuat jebakan sempurna untuk pelakunya. Kita tidak pernah terpikir kalau yang kita lakukan hanya sesuatu yang sederhana untuk menangkap pelakunya." ujar Sindy yang sudah duduk diluar ruang BP.
"Ya.. yang lebih hebat lagi, dia bisa memanfaatkan anggota OSIS yang harusnya memanfaatkannya memecahkan kasus ini." sahut Rere.
"Dia memanfaatkan kita berdua." tambah Sindy sambil tersenyum.
Arya saat ini terlihat berjalan dengan santai pulang ke rumahnya.
Bersambung..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.