VocaWorld, chapter 157 - Cahaya Menuntun Dari Kegelapan
Dante dan June berdiri diatas sebuah gedung memperhatikan ke arah sekolahan. Hari itu Ray tidak terlihat masuk sekolah.
"The White Light tidak ada. Inilah kesempatan kita, tuan Lucifer." ucap June.
"Tidak. Mungkin saja ini sebuah jebakan. Dia ingin kita menyerang mereka dengan cara tidak menunjukkan keberadaan dirinya." jawab Dante.
"Begitukah? Memang dia ahlinya dalam hal memasang jebakan seperti itu. Ya, tuan Lucifer benar sekali. Lalu kita harus bagaimana?" tanya June.
"Bagaimana ya? Mungkin kita tunggu saja sampai Hatsune Miku selesai sekolah. Baru kita serang mereka. Biar aku saja yang menghadapi Shiro Ray. Kamu urus penangkapan Hatsune Miku." suruh Dante.
"Siap, tuan." sahut June.
Kemudian Dante dan June menghilang dari gedung itu. Kemudian saat istirahat, diatap sekolah, Miku, Luka, Gumi, Meiko dan Kaito berkumpul.
"Hari ini Shiro Ray juga tidak masuk sekolah." ujar Miku.
"Apa? Hari ini juga? Sebenarnya pergi kemana dia?" tanya Luka.
"Dia juga tidak pulang ke dojo. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Semua barang-barangnya juga tidak ada." tambah Kaito.
"Barang-barangnya tidak ada? Maksudmu dia pergi?" tanya Luka pada Kaito.
"Ya bisa jadi. Soalnya aku baru sadar pas mengepel dojo pagi-pagi. Gakupo pun tidak tahu kapan dia perginya." jawab Kaito.
"Jadi dia mau melarikan diri ya? Aku tak tahu dia sepengecut itu." tukas Miku.
"Tidak mungkin dia orang yang seperti itu, Miku-chan. Sampai saat ini dia selalu bertanggung jawab pada setiap masalah. Bahkan terlalu bertanggung jawab." bantah Meiko.
"Kenapa Meiko-chan seyakin itu?" tanya Luka sambil menatap tajam ke Meiko.
"Yang saat ini sedang dekat dengan Shiro-san adalah kamu kan, Megurine-san? Kenapa malah bertanya padaku? Harusnya kamu lebih mengetahuinya daripada aku kan." jawab Meiko.
"Kenapa nada bicaramu seperti yang lebih mengerti tentang Shiro-san saja, Meiko-chan?" tanya Luka dengan tampak kesal.
"Sudah-sudah kenapa kalian jadi bertengkar sih." ucap Kaito mencoba melerai mereka.
"Tapi aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa dia begitu menyebalkan dari minggu kemarin? Dan saat melatih Miku-chan dia jadi semakin dingin dan menjauh dari kita?" ujar Gumi sambil berpikir.
"Benar juga. Padahal kemarin-kemarin dia begitu mesra dengan Megurine-san." kata Meiko.
"Bukannya dia selalu saja menyebalkan? Setiap hari dia membuatku kesal terus." ujar Miku.
"Itu mah kalau dekat dengan Miku-chan doang." sahut Gumi.
"Jadi dia bersikap berbeda kalau dekat dengan Miku-chan. Tapi kenapa?" kata Luka dalam hatinya.
"Karena aku tidak ingin menjawab setiap pertanyaanmu.." ucap Ray dalam ingatan Luka.
Luka menunduk mengingat hal itu.
"Kenapa dia tidak ingin aku bertanya-tanya? Kenapa dia tidak ingin menjawab setiap pertanyaanku? Kenapa dia memilih untuk pergi? Ray-kun.." ujar Luka dalam hatinya sambil menundukkan kepalanya.
"Luka-oneesama?" panggil Gumi membuyarkan kemurungan Luka.
"Tidak ada apa-apa kok." jawab Luka sambil tersenyum.
Tapi Meiko tampak curiga dan tak percaya dengan jawaban Luka barusan.
Luka menuruni tangga sambil mengeluarkan ponselnya. Dia membuat sebuah panggilan.
"Halo.. Tsugumi? Bisakah kamu membantuku mencarikan seseorang?" ucap Luka melalui ponselnya.
"Kamu ingat kan laki-laki yang waktu itu kita bawa ke tempat Prof. Kei? Bisakah kamu mencarinya saat ini?" pinta Luka.
"Oke, akan ku tunggu kabarnya." kata Luka kemudian menutup panggilan tersebut.
"Megurine-san!" panggil Meiko dari belakang.
Luka menoleh dan menatap tajam pada orang yang memanggilnya itu.
"Bisakah kita berbicara sebentar?" pinta Meiko membalas tatapan Luka.
Luka dan Meiko berbicara dibawah pohon di dekat lapangan tengah akademi Voca.
"Kalau mau berdebat lagi, maaf aku tidak punya waktu untuk hal itu sekarang." ujar Luka.
"Megurine-san, apa ada yang kamu sembunyikan dari kami?" tanya Meiko dengan tampak serius.
"Hah? Memangnya kalau ada yang terjadi aku harus menceritakannya padamu?" tanya Luka dengan judes.
"Tentu saja! Kita ini teman kan!" bentak Meiko.
Luka agak sedikit terkejut mendengar perkataan Meiko.
"Rasanya walau sesuatu yang buruk terjadi pun aku tak perlu melibatkan Meiko-chan dalam hal ini." jawab Luka sambil memalingkan mukanya.
"Bagaimana caranya Megurine-san tidak melibatkanku kalau sejak awal aku memang terlibat? Kalau ada masalah menimpa Megurine-san, tentu saja aku sebagai temanmu otomatis akan terlibat juga." ujar Meiko.
"Tapi aku ingin menyelesaikan masalah antara aku dan Ray-kun sendirian!" teriak Luka.
"Luka.." ucap Meiko sedikit terkejut Luka bisa berteriak seperti itu.
"Aku tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalah pribadi kami. Beberapa hari ini aku selalu berpikir mungkin aku terlalu dingin pada Ray-kun waktu itu. Aku membencinya karena alasan yang sepele." jawab Luka dengan mata yang mulai berair.
"Maafkan aku.. aku tidak berpikir sampai kesitu." ujar Meiko sambil memeluk Luka.
"Kupikir tadinya Megurine-san sudah tidak peduli lagi pada Shiro-san." sambung Meiko sambil tetap memeluk Luka.
"Tidak mungkin aku tidak peduli padanya. Ray-kun adalah orang yang spesial untukku." jawab Luka sambil menangis.
"Ya, benar juga. Bagaimana aku bisa melupakan hal itu. Dia adalah cinta pertamamu." ujar Meiko.
"Eh, ada apa ini? Siang-siang begini sudah melakukan adegan yuri." komentar Kaito.
"Siapa yang sedang melakukan yuri!" bentak Meiko dan Luka bersamaan.
Di sisi lain Voca Town, Ray sedang berbicara dengan seorang laki-laki berjas hitam. Laki-laki itu berdiri dibawah bayangan gedung, sehingga sosoknya tidak begitu terlihat.
"Berani juga kamu menemuiku sendirian, The White Light. Atau mungkin bodoh." kata sosok itu.
"Aku kemari karena aku cukup pintar untuk mengancammu." jawab Ray dengan tenang.
"Mengancamku? Apa kau lupa, saat ini kau sedang dalam situasi tidak bisa memberiku ancaman sedikitpun." sanggah sosok itu.
"Karena aku tidak punya kekuatan? Aku mengancammu bukan karena aku kuat. Sudah kubilang kan aku kemari karena aku pintar." balas Ray.
"Sebaiknya kamu segera meninggalkan kota saat ini juga kalau kamu memang pintar. Kamu tidak cukup bodoh untuk membahayakan dirimu melawan sang kunci kan?" sambung Ray menggertak.
"Sang kunci?" ucap sosok itu.
"Hatsune Miku. Dialah kunci yang ku maksud. Dialah yang terkuat." jawab Ray.
"Yang terkuat?! Apa maksudmu?" tanya sosok itu terlihat terkejut.
"Kamu mungkin tidak tahu. Tapi awal dari semua pergerakan melawan pasukan satanism adalah dia." jelas Ray.
"A-apa?! Kamu pasti hanya mengada-ada. Tidak mungkin ada yang sehebat itu." sahut sosok itu tampak tidak percaya.
"Kalau kamu tak percaya. Silahkan saksikan saja pertarungan antar Pangeran Kegelapan dengannya secara langsung." ujar Ray kemudian pergi.
"Hei, jangan pergi! Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja!" ucap sosok itu.
Namun Ray sudah tak nampak lagi dipandangan orang itu.
"Bagaimana dia bisa menghilang seperti itu." ujar sosok itu heran.
Miku, Meiko dan Luka sedang pulang bersama. Namun dihadapan mereka ada June mencegat mereka.
"Maaf mengganggu perjalanan pulang kalian. Tapi.. aku harus mengambil gadis twintail itu. Secara paksa tentunya.." ujar June sambil memberi hormat.
Miku, Meiko dan Luka langsung mengambil earophoid mereka dan berubah saat melihat sosok June dihadapan mereka.
"Oh.. cekatan juga. Tapi saat ini kalian bukan tandinganku." ujar June sambil tersenyum dengan yakin.
Luka bersiap mengeluarkan instrument nya.
"Takkan kubiarkan!" ucap June melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Luka kemudian menendangnya.
Luka terpental kebelakang. Meiko berbalik dan mencoba memukul June.
"Jangan lupa, kaki lebih panjang daripada tangan!" ucap June menendang Meiko sebelum pukulan Meiko sampai diwajahnya.
Meiko pun terpelanting ke atas.
"Meiko-san! Megurine-senpai!" ucap Miku.
June saat itu menatap Miku dan tersenyum padanya.
"Bagaimana ini, Meiko-san dan Megurine-senpai pun tidak berdaya. Apalagi aku." ucap Miku dalam hatinya terlihat sedikit panik.
"Miku-chan tenanglah! Ingat apa yang diajarkan oleh Ray-kun!" teriak Luka sambil mencoba bangkit lagi.
"Benar, dance itu. Kalau aku bisa menggunakannya aku pasti bisa menghadapinya. Pertama aku harus tenang." ujar Miku dalam hatinya sambil mengambil napas panjang.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan, tapi akan kuselesaikan urusan disini dengan cepat." ujar June melesat ke arah Miku.
Tapi Meiko menghalanginya dan menahan tendangan June dengan pukulannya. Pukulan Meiko menyemburkan api sehingga June terdorong kebelakang. Memanfaatkan itu, Luka menangkap lengan June kemudian membantingnya ke tanah dengan keras hingga jalanan aspal itu tampak retak.
"Sial, aku lupa mereka juga memiliki dance." ucap June dalam hatinya saat terjatuh ke tanah.
Saat ini tubuh Meiko di selimuti oleh cahaya merah terang dan Luka diselimuti oleh cahaya merah muda. Mereka berdua berdiri menghalangi jalan June pada Miku.
"Sepertinya ini akan sedikit berat." sambung June sambil bangkit lagi.
Di akademi Voca, Dante berada di kelas 1-B. Dia mencari-cari keberadaan Ray namun tidak menemukannya.
"Kemana perginya dia? Apa dia hari ini bolos?" ucap Dante sambil celingak-celinguk.
"Kalau mencari Shiro Ray, saat ini dia sedang tidak ada disini." jawab Gumi sambil masuk ke kelas.
Dante menoleh dan melihat Gumi ternyata sudah berubah saat itu.
"Kebetulan, daritadi aku sangat ingin melakukan pemanasan. Tapi aku tidak punya lawan yang tepat." ujar Dante kemudian mengaktifkan dance acceleration nya.
"Menganggapku sebagai pemanasan akan membuatmu menyesal. Karena.. aku akan mengelahkanmu!" ucap Gumi dengan tegas.
"Oohh.. kalau begitu lebih bagus." sahut Dante sambil tersenyum.
"Dance: Happy Rabbit!" ucap Gumi mengaktifkan dance acceleration nya.
Kemudian mereka saling berlari dan beradu dikelas itu. Benturan kekuatan yang dasyat membuat sama kaca dikelas itu pecah keluar.
To be continued..
"The White Light tidak ada. Inilah kesempatan kita, tuan Lucifer." ucap June.
"Tidak. Mungkin saja ini sebuah jebakan. Dia ingin kita menyerang mereka dengan cara tidak menunjukkan keberadaan dirinya." jawab Dante.
"Begitukah? Memang dia ahlinya dalam hal memasang jebakan seperti itu. Ya, tuan Lucifer benar sekali. Lalu kita harus bagaimana?" tanya June.
"Bagaimana ya? Mungkin kita tunggu saja sampai Hatsune Miku selesai sekolah. Baru kita serang mereka. Biar aku saja yang menghadapi Shiro Ray. Kamu urus penangkapan Hatsune Miku." suruh Dante.
"Siap, tuan." sahut June.
Kemudian Dante dan June menghilang dari gedung itu. Kemudian saat istirahat, diatap sekolah, Miku, Luka, Gumi, Meiko dan Kaito berkumpul.
"Hari ini Shiro Ray juga tidak masuk sekolah." ujar Miku.
"Apa? Hari ini juga? Sebenarnya pergi kemana dia?" tanya Luka.
"Dia juga tidak pulang ke dojo. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Semua barang-barangnya juga tidak ada." tambah Kaito.
"Barang-barangnya tidak ada? Maksudmu dia pergi?" tanya Luka pada Kaito.
"Ya bisa jadi. Soalnya aku baru sadar pas mengepel dojo pagi-pagi. Gakupo pun tidak tahu kapan dia perginya." jawab Kaito.
"Jadi dia mau melarikan diri ya? Aku tak tahu dia sepengecut itu." tukas Miku.
"Tidak mungkin dia orang yang seperti itu, Miku-chan. Sampai saat ini dia selalu bertanggung jawab pada setiap masalah. Bahkan terlalu bertanggung jawab." bantah Meiko.
"Kenapa Meiko-chan seyakin itu?" tanya Luka sambil menatap tajam ke Meiko.
"Yang saat ini sedang dekat dengan Shiro-san adalah kamu kan, Megurine-san? Kenapa malah bertanya padaku? Harusnya kamu lebih mengetahuinya daripada aku kan." jawab Meiko.
"Kenapa nada bicaramu seperti yang lebih mengerti tentang Shiro-san saja, Meiko-chan?" tanya Luka dengan tampak kesal.
"Sudah-sudah kenapa kalian jadi bertengkar sih." ucap Kaito mencoba melerai mereka.
"Tapi aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa dia begitu menyebalkan dari minggu kemarin? Dan saat melatih Miku-chan dia jadi semakin dingin dan menjauh dari kita?" ujar Gumi sambil berpikir.
"Benar juga. Padahal kemarin-kemarin dia begitu mesra dengan Megurine-san." kata Meiko.
"Bukannya dia selalu saja menyebalkan? Setiap hari dia membuatku kesal terus." ujar Miku.
"Itu mah kalau dekat dengan Miku-chan doang." sahut Gumi.
"Jadi dia bersikap berbeda kalau dekat dengan Miku-chan. Tapi kenapa?" kata Luka dalam hatinya.
"Karena aku tidak ingin menjawab setiap pertanyaanmu.." ucap Ray dalam ingatan Luka.
Luka menunduk mengingat hal itu.
"Kenapa dia tidak ingin aku bertanya-tanya? Kenapa dia tidak ingin menjawab setiap pertanyaanku? Kenapa dia memilih untuk pergi? Ray-kun.." ujar Luka dalam hatinya sambil menundukkan kepalanya.
"Luka-oneesama?" panggil Gumi membuyarkan kemurungan Luka.
"Tidak ada apa-apa kok." jawab Luka sambil tersenyum.
Tapi Meiko tampak curiga dan tak percaya dengan jawaban Luka barusan.
Luka menuruni tangga sambil mengeluarkan ponselnya. Dia membuat sebuah panggilan.
"Halo.. Tsugumi? Bisakah kamu membantuku mencarikan seseorang?" ucap Luka melalui ponselnya.
"Kamu ingat kan laki-laki yang waktu itu kita bawa ke tempat Prof. Kei? Bisakah kamu mencarinya saat ini?" pinta Luka.
"Oke, akan ku tunggu kabarnya." kata Luka kemudian menutup panggilan tersebut.
"Megurine-san!" panggil Meiko dari belakang.
Luka menoleh dan menatap tajam pada orang yang memanggilnya itu.
"Bisakah kita berbicara sebentar?" pinta Meiko membalas tatapan Luka.
Luka dan Meiko berbicara dibawah pohon di dekat lapangan tengah akademi Voca.
"Kalau mau berdebat lagi, maaf aku tidak punya waktu untuk hal itu sekarang." ujar Luka.
"Megurine-san, apa ada yang kamu sembunyikan dari kami?" tanya Meiko dengan tampak serius.
"Hah? Memangnya kalau ada yang terjadi aku harus menceritakannya padamu?" tanya Luka dengan judes.
"Tentu saja! Kita ini teman kan!" bentak Meiko.
Luka agak sedikit terkejut mendengar perkataan Meiko.
"Rasanya walau sesuatu yang buruk terjadi pun aku tak perlu melibatkan Meiko-chan dalam hal ini." jawab Luka sambil memalingkan mukanya.
"Bagaimana caranya Megurine-san tidak melibatkanku kalau sejak awal aku memang terlibat? Kalau ada masalah menimpa Megurine-san, tentu saja aku sebagai temanmu otomatis akan terlibat juga." ujar Meiko.
"Tapi aku ingin menyelesaikan masalah antara aku dan Ray-kun sendirian!" teriak Luka.
"Luka.." ucap Meiko sedikit terkejut Luka bisa berteriak seperti itu.
"Aku tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalah pribadi kami. Beberapa hari ini aku selalu berpikir mungkin aku terlalu dingin pada Ray-kun waktu itu. Aku membencinya karena alasan yang sepele." jawab Luka dengan mata yang mulai berair.
"Maafkan aku.. aku tidak berpikir sampai kesitu." ujar Meiko sambil memeluk Luka.
"Kupikir tadinya Megurine-san sudah tidak peduli lagi pada Shiro-san." sambung Meiko sambil tetap memeluk Luka.
"Tidak mungkin aku tidak peduli padanya. Ray-kun adalah orang yang spesial untukku." jawab Luka sambil menangis.
"Ya, benar juga. Bagaimana aku bisa melupakan hal itu. Dia adalah cinta pertamamu." ujar Meiko.
"Eh, ada apa ini? Siang-siang begini sudah melakukan adegan yuri." komentar Kaito.
"Siapa yang sedang melakukan yuri!" bentak Meiko dan Luka bersamaan.
Di sisi lain Voca Town, Ray sedang berbicara dengan seorang laki-laki berjas hitam. Laki-laki itu berdiri dibawah bayangan gedung, sehingga sosoknya tidak begitu terlihat.
"Berani juga kamu menemuiku sendirian, The White Light. Atau mungkin bodoh." kata sosok itu.
"Aku kemari karena aku cukup pintar untuk mengancammu." jawab Ray dengan tenang.
"Mengancamku? Apa kau lupa, saat ini kau sedang dalam situasi tidak bisa memberiku ancaman sedikitpun." sanggah sosok itu.
"Karena aku tidak punya kekuatan? Aku mengancammu bukan karena aku kuat. Sudah kubilang kan aku kemari karena aku pintar." balas Ray.
"Sebaiknya kamu segera meninggalkan kota saat ini juga kalau kamu memang pintar. Kamu tidak cukup bodoh untuk membahayakan dirimu melawan sang kunci kan?" sambung Ray menggertak.
"Sang kunci?" ucap sosok itu.
"Hatsune Miku. Dialah kunci yang ku maksud. Dialah yang terkuat." jawab Ray.
"Yang terkuat?! Apa maksudmu?" tanya sosok itu terlihat terkejut.
"Kamu mungkin tidak tahu. Tapi awal dari semua pergerakan melawan pasukan satanism adalah dia." jelas Ray.
"A-apa?! Kamu pasti hanya mengada-ada. Tidak mungkin ada yang sehebat itu." sahut sosok itu tampak tidak percaya.
"Kalau kamu tak percaya. Silahkan saksikan saja pertarungan antar Pangeran Kegelapan dengannya secara langsung." ujar Ray kemudian pergi.
"Hei, jangan pergi! Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja!" ucap sosok itu.
Namun Ray sudah tak nampak lagi dipandangan orang itu.
"Bagaimana dia bisa menghilang seperti itu." ujar sosok itu heran.
Miku, Meiko dan Luka sedang pulang bersama. Namun dihadapan mereka ada June mencegat mereka.
"Maaf mengganggu perjalanan pulang kalian. Tapi.. aku harus mengambil gadis twintail itu. Secara paksa tentunya.." ujar June sambil memberi hormat.
Miku, Meiko dan Luka langsung mengambil earophoid mereka dan berubah saat melihat sosok June dihadapan mereka.
"Oh.. cekatan juga. Tapi saat ini kalian bukan tandinganku." ujar June sambil tersenyum dengan yakin.
Luka bersiap mengeluarkan instrument nya.
"Takkan kubiarkan!" ucap June melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Luka kemudian menendangnya.
Luka terpental kebelakang. Meiko berbalik dan mencoba memukul June.
"Jangan lupa, kaki lebih panjang daripada tangan!" ucap June menendang Meiko sebelum pukulan Meiko sampai diwajahnya.
Meiko pun terpelanting ke atas.
"Meiko-san! Megurine-senpai!" ucap Miku.
June saat itu menatap Miku dan tersenyum padanya.
"Bagaimana ini, Meiko-san dan Megurine-senpai pun tidak berdaya. Apalagi aku." ucap Miku dalam hatinya terlihat sedikit panik.
"Miku-chan tenanglah! Ingat apa yang diajarkan oleh Ray-kun!" teriak Luka sambil mencoba bangkit lagi.
"Benar, dance itu. Kalau aku bisa menggunakannya aku pasti bisa menghadapinya. Pertama aku harus tenang." ujar Miku dalam hatinya sambil mengambil napas panjang.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan, tapi akan kuselesaikan urusan disini dengan cepat." ujar June melesat ke arah Miku.
Tapi Meiko menghalanginya dan menahan tendangan June dengan pukulannya. Pukulan Meiko menyemburkan api sehingga June terdorong kebelakang. Memanfaatkan itu, Luka menangkap lengan June kemudian membantingnya ke tanah dengan keras hingga jalanan aspal itu tampak retak.
"Sial, aku lupa mereka juga memiliki dance." ucap June dalam hatinya saat terjatuh ke tanah.
Saat ini tubuh Meiko di selimuti oleh cahaya merah terang dan Luka diselimuti oleh cahaya merah muda. Mereka berdua berdiri menghalangi jalan June pada Miku.
"Sepertinya ini akan sedikit berat." sambung June sambil bangkit lagi.
Di akademi Voca, Dante berada di kelas 1-B. Dia mencari-cari keberadaan Ray namun tidak menemukannya.
"Kemana perginya dia? Apa dia hari ini bolos?" ucap Dante sambil celingak-celinguk.
"Kalau mencari Shiro Ray, saat ini dia sedang tidak ada disini." jawab Gumi sambil masuk ke kelas.
Dante menoleh dan melihat Gumi ternyata sudah berubah saat itu.
"Kebetulan, daritadi aku sangat ingin melakukan pemanasan. Tapi aku tidak punya lawan yang tepat." ujar Dante kemudian mengaktifkan dance acceleration nya.
"Menganggapku sebagai pemanasan akan membuatmu menyesal. Karena.. aku akan mengelahkanmu!" ucap Gumi dengan tegas.
"Oohh.. kalau begitu lebih bagus." sahut Dante sambil tersenyum.
"Dance: Happy Rabbit!" ucap Gumi mengaktifkan dance acceleration nya.
Kemudian mereka saling berlari dan beradu dikelas itu. Benturan kekuatan yang dasyat membuat sama kaca dikelas itu pecah keluar.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.