VocaWorld, chapter 163 - Ratu Lautan Leviathan
Seorang gadis berambut pirang berdiri di pesisir pantai. Dengan tongkat sepanjang 1 meter di tangan kanannya dan gaun gaya eropa nya dia terlihat tenang. Rambut pirang panjang yang agak ikal itu tertiup angin dan tampak indah.
"Sebentar lagi. Sebentar lagi Shiro Ray dan kota ini akan musnah!" ucap gadis itu dengan lantang.
Suasana pantai itu sepi sejak Dante mendeklarasikan perang dengan Shiro Ray. Sehingga saat ini pantai dan lautan terlihat lapang tidak ada nelayan dan kegiatan mencari ikan dimanapun. Di pesawatnya, Dante dan June terlihat santai saja.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini, tuan Lucifer. Sudah lama sekali sejak kita terakhir kali menyerang mereka. Sampai kapan kita akan diam terus seperti ini?" protes June.
"Bersabarlah, JB. Walau kau pergi untuk menyerang mereka sekarang pun kau pasti akan kalah oleh Hatsune Miku." jelas Dante.
"Meski begitu, bukankah kita tidak seharusnya memberikan sedikit terror pada kota ini? Kita ini penjahat, kenapa kita harus menjamin keamanan kota seperti ini?" tanya June.
"Siapa memangnya yang menjamin keamanan kota? Aku tidak menjamin mereka aman. Aku hanya mengklaim kalau kota ini sekarang menjadi wilayahku. Tidak mungkin aku merusak wilayahku sendiri." jawab Dante.
"Hmm.. benar sih. Tapi kan.." ucap June.
"Sudahlah jangan banyak tapi-tapian. Lebih baik kau pergi sana mencari makanan untuk makan siang kita!" suruh Dante.
"Ba-baik, tuan." sahut June.
Di sebuah tempat yang gelap, terlihat sebuah layar monitor dan disana ada hitung mundur yang hanya tinggal detiknya saja. Dan sisa waktu disana adalah 30 detik.
"Bersiaplah kalian untuk tunduk padaku, para rakyat bodoh penduduk kota Voca." ujar gadis berambut pirang mengangkat tongkat yang bagian atasnya tampak sebuah permata berwarna biru muda.
Kemudian bersamaan dengan waktu yang habis, gadis itu memukulkan bagian bawah tongkatnya ke tanah. Langit tiba-tiba menjadi gelap meskipun tidak begitu banyak awan saat itu.
"Muncul lah pasukanku! Muncul lah dihadapan ratumu ini! Dan hancurkanlah kota ini menjadi abu!" ucap gadis itu dengan lantang.
Kemudian dari laut, muncul gelombang riak air yang aneh. Gelombang bulat mirip kemunculan dark sider.
"Sudah dimulai kah? Tak kusangka dia begitu cepat terpancing. Apa dia yakin ingin mengadakan pesta dansa tanpa sepengetahuan sang pangeran?" ujar Ray yang melihat laut dari atas sebuah bukit.
Suara gemuruh terdengar begitu jelas. Luka yang sedang bersantai di teras rumah Miku sambil membaca buku itu pun dibuat terkejut.
"Ada apa Megurine-san?" tanya Meiko yang heran melihat Luka melompat kedepan dan melihat ke arah langit.
"Tidak ada?!" ucap Luka terkejut saat melihat langit.
"Apanya yang tidak ada?" tanya Meiko lagi semakin heran dan mendekat ke arah Luka.
"Aku mendengar suaranya, tapi tandanya tidak ada." jawab Luka.
"Hah? Aku tidak mengerti maksudmu." sahut Meiko yang jadi bingung.
"Meiko-chan, segera panggil Miku-chan dan yang lainnya! Masalah Kaito-kun dan Gumi-chan biar aku saja yang menelpon mereka!" suruh Luka terlihat panik.
"A-ada apa sebenarnya?" tanya Meiko yang tidak mengerti.
"Sudah lakukan saja!" bentak Luka yang tampak menghadapi masalah serius.
"Ba-baiklah!" sahut Meiko kemudian berlari ke lantai 2.
"Aku tak tahu apa yang terjadi dan kenapa aku tak bisa melihatnya? Tapi suara gemuruhnya, aku yakin itu tanda kedatangan dark sider." gumam Luka mengeluarkan ponselnya.
Di tengah laut, terlihat laut menjadi hitam hingga ke pesisir pantai Voca Town. Dan dari laut itu keluar sosok yang hampir mirip manusia.
"Hahahaha.. nah, sekarang apa yang akan kamu lakukan, The White Light?" ucap gadis itu.
Di pesawatnya, Dante terkejut dan langsung berdiri dari singgasananya. Dia sepertinya merasakan energi negatif dari arah lautan dibelakangnya.
"Siapa yang bisa memanggil hawa negatif sebesar ini? Tidak ada yang bisa menggunakan nada hitam dalam jumlah sebesar ini selain orang berpangkat kapten atau diatasnya." ujar Dante terlihat kesal.
"Sepertinya ada yang mendahului kita untuk menyerang kota ini, tuan." sahut June.
"Siapa dia? Berani sekali menyerang kota yang sudah aku klaim sebagai wilayahku!" kata Dante nampak marah.
Dante memutar pesawatnya ke arah laut dan membuka penutup atas pesawatnya. Dan saat dibuka terkejutlah mereka, karena mereka melihat air laut berubah jadi hitam.
"A-apa ini?!" ucap Dante terkejut melihat pemandangan mengerikan dihadapannya.
"Apakah ini sesuatu yang buruk sehingga anda begitu terkejut, tuan Lucifer?" tanya June.
"Tentu saja! Dia yang menguasai dalamnya lautan. Monster dari laut gelap, sang ratu lautan, Leviathan." jawab Dante.
"Oh.. jadi dia salah satu dari 4 komandan." ujar June.
"Kau tampak tidak terkejut sama sekali, JB. Aku tidak ingat pernah mempertemukan kalian berdua sebelumnya. Memangnya kalian saling kenal?" tanya Dante tampak curiga.
"Te-tentu saja aku kenal. Dia kan salah satu dari 4 komandan yang terkenal." jawab June.
"Tapi berani juga perempuan itu menginjakkan kakinya di halamanku, kemudian hendak merusak kebunku." ujar Dante menatap sadis ke arah pantai.
Di rumah Miku, Luka terlihat cukup panik. Namun Luka tetap berusaha tenang supaya pikirannya tidak kacau dan tetap bisa berpikir jernih.
"Pertama-tama aku harus berubah dulu. Baca situasi disekitarku. Kemungkin pikirkan cara dan strategi yang paling tepat untuk situasinya." ujar Luka.
Kemudian setelah berubah Luka melompat ke atap rumah. Disana dia berdiri berusaha mencari sumber suara gemuruh yang ia dengar.
"Dari arah laut kah? Mungkin seharusnya aku berangkat duluan." sambung Luka kemudian melompat dari satu atap ke atap lain.
"Gawat Megurine-san! Miku-chan tidak ada dikamarnya!" teriak Meiko berlari ke arah teras ruang tengah.
Namun sayangnya Luka sudah tidak ada disana. Dan ponsel Meiko pun berbunyi. Ternyata itu adalah email dari Luka.
'Meiko-chan, cepat bawa Miku-chan dan yang lainnya ke wilayah pantai! Musuh ada disana!' suruh Luka lewat di pesan itu.
'Tapi Miku-chan tidak ada dikamarnya. Jadi aku akan menyusulmu bersama Rin-chan dan Len-chan.' balas Meiko.
Meiko dan si kembar pun berlari keluar dari rumah untuk menyusul Luka. Di sebuah toko es krim, Miku dan Kaito terlihat sedang makan es krim berdua. Tiba-tiba mereka mendapatkan email dari Luka.
'Kalian jangan kencan terus. Ayo cepat ke pantai! Disana kalian ada kencan dengan dark sider.' kata Luka di pesan itu.
"Siapa yang kencan?! Kami cuma makan es krim bareng doang!! Tapi tahu dari mana dia aku sedang bersama Hatsune?! Memangnya siapa dia!? Shiro Ray kah!?" ucap Kaito dalam hati kaget melihat tulisan Luka di pesan itu.
Tapi Miku terlihat senang pas membaca isi email itu. Kaito hanya menatap aneh pas melihat Miku seperti itu. Sementara Gumi yang sedang berada di tempat Kamui langsung berlari meninggalkan Kamui yang masih konsentrasi dengan meditasi nya.
"Sepertinya Megu dipanggil oleh Luka-tan untuk masalah darurat. Sejak pagi perut saya mules tapi pas mau dikeluarkan tidak keluar-keluar. Mungkin itu firasat buruk untuk saat ini." gerutu Kamui.
Kamui bangkit dari duduknya dan berdiri sambil melihat ke arah utara.
"Sebagai samurai, saya tak bisa diam saja saat ada yang mengancam ketentraman di kota ini." sambung Kamui terlihat serius.
Kota tidak lagi terasa damai, makhluk-makhluk hitam bermunculan di laut. Mulai dari yang seukuran manusia hingga yang raksasa berbentuk aneh. Hal itu memicu kepanikan para penduduk Voca Town yang mulai bergerak menjauh dari pantai ke arah selatan.
"Pixie Party!" ucap Luka memainkan melodi cepat dengan instrument nya.
Ratusan cahaya berwarna-warni mulai bertebaran ke segala arah kemudian mengarah ke makhluk-makhluk berwarna hitam itu.
"Siapa itu? Beraninya dia menghancurkan pasukanku!" ucap Leviathan, gadis berambut pirang yang berdiri di jembatan laut itu.
Pasukannya yang begitu banyak mampu dihancurkan dengan begitu mudahnya oleh pixie-pixie milik Luka yang meselat bagaikan hujan itu.
"That's my queen." ucap Ray tersenyum duduk di sebuah dahan pohon.
Luka yang berdiri di atap sebuah gedung terus memainkan melodi-melodi cepat untuk menyerang pasukan dark sider milik Leviathan.
"Kurang ajar! Siapa dia sebenarnya!?" ucap Leviathan terlihat kesal.
Tapi baru separuh pasukan yang berhasil ia kalahkan, Luka sudah nampak kelelahan karena terus-terusan memainkan instrument-nya.
"Ja-Jariku pegal sekali. Aku belum pernah memainkan piano sampai seperti ini sebelumnya." ujar Luka melihat jari-jari tangannya yang gemetar.
"Pasti saat ini, dia berpikir kalau ini saatnya untuk menyerang balik." ujar Ray yang melihat berhentinya aliran pixie dari Luka.
"Baiklah! Serang dia, pasukanku!" suruh Leviathan pada pasukannya sambil mengacungkan ujung atas tongkatnya ke arah Luka berdiri.
Dan para major yang berada dibarisan belakang pun mulai menggunakan shockwave bomb. Mereka membuat bola bening didepan mulut mereka.
"Mereka sama sekali tidak tersentuh seranganmu karena ada di barisan belakang. Dengan ini terimalah ratusan shockwave bomb dariku!" ujar Leviathan dengan yakin.
Luka tampak terkejut dengan pemandangan dihadapannya itu. Karena kalau sampai terkena semua serangan itu pastilah dia akan hancur lebur menjadi debu.
"Tak perlu takut, Megurine-san. Karena.. seorang ratu.. tidak pernah sendirian." ujar Ray yang juga melihat dari arah lain.
Para major itu pun menembakan ratusan bomb shockwave ke ara Luka. Tapi kemudian ada ratusan bola api menyambar ke bola-bola shockwave itu dan menghancurkan mereka. Dan dari arah lain muncul tornadi api biru membabat habis pasukan dark sider tipe major yang berjajar di pinggir pantai.
"Mereka?" ucap Luka sedikit lega.
Tampak Meiko yang berdiri melihat ke arah gedung tempat Luka berada, dan Kaito yang tampak sudah berada di pinggir pantai bersama Miku.
"Wah-wah.. tanpa Shiro Ray pun mereka bisa bergerak dengan sangat bagus. Apa wakil ketua OSIS itu yang membuat perencanaannya? Tak kusangka dia hebat juga memimpin teman-temannya." puji Dante melihat dari pesawatnya.
"Apa kita perlu turun tangan juga membantu nona Leviathan?" tanya June.
"Tidak perlu. Kita cukup tonton saja pertunjukkan menarik ini." jawab Dante.
"Tapi darimana dia tahu Leviathan seorang perempuan?" gumam Dante menatap curiga ke arah June.
Di tempat lain, jauh dari Voca Town di pesawat raksasa tampak Belphegor juga memperhatikan pertarungan itu. Tempatnya memperhatikan sangat gelap sehingga wajah dan sebagian besar tubuhnya tidak terlihat jelas.
"Aahh.. membosankan. Sungguh pertempuran yang tidak indah. Menyerang orang-orangnya The White Light tanpa perencanaan sama saja dengan bunuh diri. Sungguh tidak aneh kau dikalahkan oleh The White Light berusia 6 tahun waktu itu." ujar Belphegor terlihat kurang tertarik dengan pertarungan tersebut.
"Aku harusnya menggunakan ini sejak awal. Sepertinya aku tidak punya pilihan lain." ujar Leviathan tampak mengangkat tongkatnya ke atas.
"Apa yang mau dia lakukan?" ucap Kaito.
Leviathan mengangkat tongkatnya keatas. Dan wajahnya terlihat tersenyum saat itu.
To be continued..
"Sebentar lagi. Sebentar lagi Shiro Ray dan kota ini akan musnah!" ucap gadis itu dengan lantang.
Suasana pantai itu sepi sejak Dante mendeklarasikan perang dengan Shiro Ray. Sehingga saat ini pantai dan lautan terlihat lapang tidak ada nelayan dan kegiatan mencari ikan dimanapun. Di pesawatnya, Dante dan June terlihat santai saja.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini, tuan Lucifer. Sudah lama sekali sejak kita terakhir kali menyerang mereka. Sampai kapan kita akan diam terus seperti ini?" protes June.
"Bersabarlah, JB. Walau kau pergi untuk menyerang mereka sekarang pun kau pasti akan kalah oleh Hatsune Miku." jelas Dante.
"Meski begitu, bukankah kita tidak seharusnya memberikan sedikit terror pada kota ini? Kita ini penjahat, kenapa kita harus menjamin keamanan kota seperti ini?" tanya June.
"Siapa memangnya yang menjamin keamanan kota? Aku tidak menjamin mereka aman. Aku hanya mengklaim kalau kota ini sekarang menjadi wilayahku. Tidak mungkin aku merusak wilayahku sendiri." jawab Dante.
"Hmm.. benar sih. Tapi kan.." ucap June.
"Sudahlah jangan banyak tapi-tapian. Lebih baik kau pergi sana mencari makanan untuk makan siang kita!" suruh Dante.
"Ba-baik, tuan." sahut June.
Di sebuah tempat yang gelap, terlihat sebuah layar monitor dan disana ada hitung mundur yang hanya tinggal detiknya saja. Dan sisa waktu disana adalah 30 detik.
"Bersiaplah kalian untuk tunduk padaku, para rakyat bodoh penduduk kota Voca." ujar gadis berambut pirang mengangkat tongkat yang bagian atasnya tampak sebuah permata berwarna biru muda.
Kemudian bersamaan dengan waktu yang habis, gadis itu memukulkan bagian bawah tongkatnya ke tanah. Langit tiba-tiba menjadi gelap meskipun tidak begitu banyak awan saat itu.
"Muncul lah pasukanku! Muncul lah dihadapan ratumu ini! Dan hancurkanlah kota ini menjadi abu!" ucap gadis itu dengan lantang.
Kemudian dari laut, muncul gelombang riak air yang aneh. Gelombang bulat mirip kemunculan dark sider.
"Sudah dimulai kah? Tak kusangka dia begitu cepat terpancing. Apa dia yakin ingin mengadakan pesta dansa tanpa sepengetahuan sang pangeran?" ujar Ray yang melihat laut dari atas sebuah bukit.
Suara gemuruh terdengar begitu jelas. Luka yang sedang bersantai di teras rumah Miku sambil membaca buku itu pun dibuat terkejut.
"Ada apa Megurine-san?" tanya Meiko yang heran melihat Luka melompat kedepan dan melihat ke arah langit.
"Tidak ada?!" ucap Luka terkejut saat melihat langit.
"Apanya yang tidak ada?" tanya Meiko lagi semakin heran dan mendekat ke arah Luka.
"Aku mendengar suaranya, tapi tandanya tidak ada." jawab Luka.
"Hah? Aku tidak mengerti maksudmu." sahut Meiko yang jadi bingung.
"Meiko-chan, segera panggil Miku-chan dan yang lainnya! Masalah Kaito-kun dan Gumi-chan biar aku saja yang menelpon mereka!" suruh Luka terlihat panik.
"A-ada apa sebenarnya?" tanya Meiko yang tidak mengerti.
"Sudah lakukan saja!" bentak Luka yang tampak menghadapi masalah serius.
"Ba-baiklah!" sahut Meiko kemudian berlari ke lantai 2.
"Aku tak tahu apa yang terjadi dan kenapa aku tak bisa melihatnya? Tapi suara gemuruhnya, aku yakin itu tanda kedatangan dark sider." gumam Luka mengeluarkan ponselnya.
Di tengah laut, terlihat laut menjadi hitam hingga ke pesisir pantai Voca Town. Dan dari laut itu keluar sosok yang hampir mirip manusia.
"Hahahaha.. nah, sekarang apa yang akan kamu lakukan, The White Light?" ucap gadis itu.
Di pesawatnya, Dante terkejut dan langsung berdiri dari singgasananya. Dia sepertinya merasakan energi negatif dari arah lautan dibelakangnya.
"Siapa yang bisa memanggil hawa negatif sebesar ini? Tidak ada yang bisa menggunakan nada hitam dalam jumlah sebesar ini selain orang berpangkat kapten atau diatasnya." ujar Dante terlihat kesal.
"Sepertinya ada yang mendahului kita untuk menyerang kota ini, tuan." sahut June.
"Siapa dia? Berani sekali menyerang kota yang sudah aku klaim sebagai wilayahku!" kata Dante nampak marah.
Dante memutar pesawatnya ke arah laut dan membuka penutup atas pesawatnya. Dan saat dibuka terkejutlah mereka, karena mereka melihat air laut berubah jadi hitam.
"A-apa ini?!" ucap Dante terkejut melihat pemandangan mengerikan dihadapannya.
"Apakah ini sesuatu yang buruk sehingga anda begitu terkejut, tuan Lucifer?" tanya June.
"Tentu saja! Dia yang menguasai dalamnya lautan. Monster dari laut gelap, sang ratu lautan, Leviathan." jawab Dante.
"Oh.. jadi dia salah satu dari 4 komandan." ujar June.
"Kau tampak tidak terkejut sama sekali, JB. Aku tidak ingat pernah mempertemukan kalian berdua sebelumnya. Memangnya kalian saling kenal?" tanya Dante tampak curiga.
"Te-tentu saja aku kenal. Dia kan salah satu dari 4 komandan yang terkenal." jawab June.
"Tapi berani juga perempuan itu menginjakkan kakinya di halamanku, kemudian hendak merusak kebunku." ujar Dante menatap sadis ke arah pantai.
Di rumah Miku, Luka terlihat cukup panik. Namun Luka tetap berusaha tenang supaya pikirannya tidak kacau dan tetap bisa berpikir jernih.
"Pertama-tama aku harus berubah dulu. Baca situasi disekitarku. Kemungkin pikirkan cara dan strategi yang paling tepat untuk situasinya." ujar Luka.
Kemudian setelah berubah Luka melompat ke atap rumah. Disana dia berdiri berusaha mencari sumber suara gemuruh yang ia dengar.
"Dari arah laut kah? Mungkin seharusnya aku berangkat duluan." sambung Luka kemudian melompat dari satu atap ke atap lain.
"Gawat Megurine-san! Miku-chan tidak ada dikamarnya!" teriak Meiko berlari ke arah teras ruang tengah.
Namun sayangnya Luka sudah tidak ada disana. Dan ponsel Meiko pun berbunyi. Ternyata itu adalah email dari Luka.
'Meiko-chan, cepat bawa Miku-chan dan yang lainnya ke wilayah pantai! Musuh ada disana!' suruh Luka lewat di pesan itu.
'Tapi Miku-chan tidak ada dikamarnya. Jadi aku akan menyusulmu bersama Rin-chan dan Len-chan.' balas Meiko.
Meiko dan si kembar pun berlari keluar dari rumah untuk menyusul Luka. Di sebuah toko es krim, Miku dan Kaito terlihat sedang makan es krim berdua. Tiba-tiba mereka mendapatkan email dari Luka.
'Kalian jangan kencan terus. Ayo cepat ke pantai! Disana kalian ada kencan dengan dark sider.' kata Luka di pesan itu.
"Siapa yang kencan?! Kami cuma makan es krim bareng doang!! Tapi tahu dari mana dia aku sedang bersama Hatsune?! Memangnya siapa dia!? Shiro Ray kah!?" ucap Kaito dalam hati kaget melihat tulisan Luka di pesan itu.
Tapi Miku terlihat senang pas membaca isi email itu. Kaito hanya menatap aneh pas melihat Miku seperti itu. Sementara Gumi yang sedang berada di tempat Kamui langsung berlari meninggalkan Kamui yang masih konsentrasi dengan meditasi nya.
"Sepertinya Megu dipanggil oleh Luka-tan untuk masalah darurat. Sejak pagi perut saya mules tapi pas mau dikeluarkan tidak keluar-keluar. Mungkin itu firasat buruk untuk saat ini." gerutu Kamui.
Kamui bangkit dari duduknya dan berdiri sambil melihat ke arah utara.
"Sebagai samurai, saya tak bisa diam saja saat ada yang mengancam ketentraman di kota ini." sambung Kamui terlihat serius.
Kota tidak lagi terasa damai, makhluk-makhluk hitam bermunculan di laut. Mulai dari yang seukuran manusia hingga yang raksasa berbentuk aneh. Hal itu memicu kepanikan para penduduk Voca Town yang mulai bergerak menjauh dari pantai ke arah selatan.
"Pixie Party!" ucap Luka memainkan melodi cepat dengan instrument nya.
Ratusan cahaya berwarna-warni mulai bertebaran ke segala arah kemudian mengarah ke makhluk-makhluk berwarna hitam itu.
"Siapa itu? Beraninya dia menghancurkan pasukanku!" ucap Leviathan, gadis berambut pirang yang berdiri di jembatan laut itu.
Pasukannya yang begitu banyak mampu dihancurkan dengan begitu mudahnya oleh pixie-pixie milik Luka yang meselat bagaikan hujan itu.
"That's my queen." ucap Ray tersenyum duduk di sebuah dahan pohon.
Luka yang berdiri di atap sebuah gedung terus memainkan melodi-melodi cepat untuk menyerang pasukan dark sider milik Leviathan.
"Kurang ajar! Siapa dia sebenarnya!?" ucap Leviathan terlihat kesal.
Tapi baru separuh pasukan yang berhasil ia kalahkan, Luka sudah nampak kelelahan karena terus-terusan memainkan instrument-nya.
"Ja-Jariku pegal sekali. Aku belum pernah memainkan piano sampai seperti ini sebelumnya." ujar Luka melihat jari-jari tangannya yang gemetar.
"Pasti saat ini, dia berpikir kalau ini saatnya untuk menyerang balik." ujar Ray yang melihat berhentinya aliran pixie dari Luka.
"Baiklah! Serang dia, pasukanku!" suruh Leviathan pada pasukannya sambil mengacungkan ujung atas tongkatnya ke arah Luka berdiri.
Dan para major yang berada dibarisan belakang pun mulai menggunakan shockwave bomb. Mereka membuat bola bening didepan mulut mereka.
"Mereka sama sekali tidak tersentuh seranganmu karena ada di barisan belakang. Dengan ini terimalah ratusan shockwave bomb dariku!" ujar Leviathan dengan yakin.
Luka tampak terkejut dengan pemandangan dihadapannya itu. Karena kalau sampai terkena semua serangan itu pastilah dia akan hancur lebur menjadi debu.
"Tak perlu takut, Megurine-san. Karena.. seorang ratu.. tidak pernah sendirian." ujar Ray yang juga melihat dari arah lain.
Para major itu pun menembakan ratusan bomb shockwave ke ara Luka. Tapi kemudian ada ratusan bola api menyambar ke bola-bola shockwave itu dan menghancurkan mereka. Dan dari arah lain muncul tornadi api biru membabat habis pasukan dark sider tipe major yang berjajar di pinggir pantai.
"Mereka?" ucap Luka sedikit lega.
Tampak Meiko yang berdiri melihat ke arah gedung tempat Luka berada, dan Kaito yang tampak sudah berada di pinggir pantai bersama Miku.
"Wah-wah.. tanpa Shiro Ray pun mereka bisa bergerak dengan sangat bagus. Apa wakil ketua OSIS itu yang membuat perencanaannya? Tak kusangka dia hebat juga memimpin teman-temannya." puji Dante melihat dari pesawatnya.
"Apa kita perlu turun tangan juga membantu nona Leviathan?" tanya June.
"Tidak perlu. Kita cukup tonton saja pertunjukkan menarik ini." jawab Dante.
"Tapi darimana dia tahu Leviathan seorang perempuan?" gumam Dante menatap curiga ke arah June.
Di tempat lain, jauh dari Voca Town di pesawat raksasa tampak Belphegor juga memperhatikan pertarungan itu. Tempatnya memperhatikan sangat gelap sehingga wajah dan sebagian besar tubuhnya tidak terlihat jelas.
"Aahh.. membosankan. Sungguh pertempuran yang tidak indah. Menyerang orang-orangnya The White Light tanpa perencanaan sama saja dengan bunuh diri. Sungguh tidak aneh kau dikalahkan oleh The White Light berusia 6 tahun waktu itu." ujar Belphegor terlihat kurang tertarik dengan pertarungan tersebut.
"Aku harusnya menggunakan ini sejak awal. Sepertinya aku tidak punya pilihan lain." ujar Leviathan tampak mengangkat tongkatnya ke atas.
"Apa yang mau dia lakukan?" ucap Kaito.
Leviathan mengangkat tongkatnya keatas. Dan wajahnya terlihat tersenyum saat itu.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.