VocaWorld, chapter 159 - Putri Dengan Tarian Terindah
Miku berhasil mengaktifkan Dance nya yang baru. Dante dan Kaito terkejut melihat Miku saat ini. Dengan pose yang indah Miku berdiri diantara bunga sakura yang tertiup angin mengelilingi dirinya.
"A-apa itu!?" ucap Dante terkejut melihat form baru Miku.
"Jadi ini dance yang dilatih oleh Shiro Ray selama ini. Entah kenapa itu begitu indah. Tapi apakah itu bisa membuatnya mengalahkan Yami?" ujar Kaito dalam hati saat memperhatikan Miku.
"Dance: Brutal..!" ucap Dante kemudian berlari menghampiri Miku.
Dante langsung melakukan pukulan ke arah Miku.
"Eh.. rasanya aku sudah yakin dia ada dalam jarak serangku tadi. Tapi kenapa tidak kena?" gumam Dante saat pukulannya tidak sampai pada Miku.
Tanpa sepengetahuan Dante ternyata Miku melangkah kebelakang dengan lembut sehingga gerakannya tak disadari oleh Dante.
"Bagaimana dengan ini!" ucap Dante melesakkan tendangan yang keras ke depan menggunanakan kaki kirinya.
Tapi Miku melompat sambil menangkap kaki kiri Dante tersebut. Dan dengan bertumpu pada kaki itu, Miku melayang kebelakang Dante dan menendang punggung Dante dengan kedua kakinya bersamaan. Sementara Dante terdorong ke depan Miku mendarat dengan lembut ditanah. Dante tersungkur ditanah dan berguling beberapa kali.
"Apa yang barusan itu? Dia bukan hanya menghindar, tapi juga menggunakan seranganku sendiri untuk melakukan serangannya." gerutu Dante sambil bangkit lagi.
"Hebat. Gerakannya benar-benar indah. Itu seperti tarian yang benar-benar indah nan lembut. Tapi efeknya sangat kuat." komentar Kaito terkejut melihat Miku bisa membuat Dante tersungkur.
"Baiklah! Aku akan serius sekarang!!!" ucap Dante dengan kesal dan melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Miku.
Dante berkali-kali melancarkan serangannya yang bertubi-tubi pada Miku tapi Miku bisa menghindarinya tanpa kesulitan sedikitpun. Serangan tanpa jeda itu hanya dihindarinya dengan melompat kesana kemari bagaikan bunga sakura yang tertiup angin.
"Yang benar saja! Apa-apaan semua ini!" gerutu Dante dalam hati mulai merasa geram.
Sementara itu ditempat Gumi terduduk lemas, muncul sosok laki-laki berjaket tudung hitam. Laki-laki itu terlihat membawa Luka yang sedang tak sadarkan diri. Dia menggendongnya bagaikan seorang putri.
"Megupo-san. Tolong jaga dia." pinta laki-laki itu kemudian meletakan Luka disamping Gumi.
"Ka-kamu.. jangan-jangan.." ucap Gumi yang nampaknya mengenali laki-laki itu.
Laki-laki itu tampak tersenyum kemudian berjalan menjauh dari Gumi dan menghilang. Tepat setelah laki-laki itu menghilang, Luka tersadar dan mulai membuka matanya.
"Luka-oneesama.." panggil Gumi.
"Oh.. Gumi-chan.. ada dimana aku?" tanya Luka.
"Kita sedang berada di taman." jawab Gumi.
"Hmm.. begitukah. Apa Gumi-chan yang menyelamatkanku?" tanya Luka lagi.
"Bukan." jawab Gumi.
"Terus.. siapa?" tanya Luka sedikit penasaran.
"Shiro Ray." jawab Gumi.
Luka terkejut mendengar nama itu. Dia langsung duduk tegak karenanya.
"Ray-kun? Beneran Ray-kun?" tanya Luka semakin penasaran.
"Iya, tidak salah lagi. Dari suara dan cara berbicaranya itu adalah Shiro Ray." jelas Gumi.
"Ada dimana dia sekarang?" tanya Luka.
"Tidak tahu." jawab Gumi.
"Tidak tahu? Kenapa sampai tidak tahu? Harusnya kan Gumi-chan lihat kemana arahnya dia pergi." tanya Luka dengan nada memaksa.
"Dia pertamanya mengarah kesana, tapi setelah itu aku tidak melihatnya lagi." jawab Gumi sambil menunjuk ke arah jalan.
Luka langsung berdiri kemudian berlari ke arah yang ditunjuk oleh Gumi. Sesampainya di pinggir jalan, Luka melihat ke kiri dan ke kanan mencari Ray. Namun tidak ada.
"Kalau aku jadi Ray-kun, aku akan pergi kemana?" ucap Luka dalam hatinya berusaha berpikir.
"Benar juga, pasti kembali ke tempat pertarungan." tambah Luka dalam hati kemudian berlari ke arah kanan untuk kembali ke tempat pertarungannya dengan Dante.
"Harusnya tadi aku tersadar lebih cepat supaya bisa bertemu dengan Ray-kun. Dasar Luka bodoh!" gerutu Luka pada dirinya sendiri sambil berlari dengan kecepatan penuh.
Di jalanan yang sepi yang kedua sisinya terdapat kebun dan padang rumput, Miku dan Dante masih saja bertarung. Dante secara membabi buta menyerang Miku dengan brutal. Tapi Miku dengan santai dan lembut menghindari setiap serangan Dante dengan mudahnya.
"Sial! Sial! Sial! Kenapa tidak kena-kena!" gerutu Dante sambil menyerang Miku.
"Ini seperti saat aku berhadapan dengan Shiro Ray saat dia masih memiliki kekuatannya." sambung Dante dalam hati.
Dante kemudian langsung berjongkok dan melakukan pukulan uppercut sambil melompat. Tapi Miku menangkap tangan Dante dan bersama dengan tangan Dante dia melompat keatas memanfaatkan tenaga pukulan Dante kemudian berjungkir balik ke belakang Dante dan membanting Dante. Dante terlempar dan kemudian dia bersalto satu kali diudara dan mendarat meskipun agak terseret kebelakang.
"Sial.." ucap Dante merasa kesal.
Dan saat melihat ke depan Dante terkejut karena Miku sudah ada di hadapannya dan berniat memukulnya. Dante membungkuk menundukkan kepalanya menghindari pukulan tangan kiri Miku. Tapi pukulan itu berubah menjadi jambakan. Miku mendorong kepala Dante ke bawah kemudian menendangnya menggunakan kaki kirinya. Dan dengan cepat Miku menendang kaki Dante yang masih terhuyung-huyung. Dan Miku pun menggunakan tendangan sambil berputar mirip gerakan kapoera. Dia menendang Dante yang masih berada diudara dengan bertumpu pada kedua tangannya. Dante terlempar dan menghantam tanah.
"Instrument: Devil Bone Guitar. Devilish Slash!" ucap Dante dengan cepat segera berbalik setelah menghantam tanah kemudian menyerang balik Miku.
Miku berputar bergerak ke samping dengan cepat dan melaju ke depan ke arah Dante. Miku menendangkan kaki kanannya ke arah Dante, Dante menahannya dengan gitarnya. Tapi tendangan itu sangat kuat sehingga efeknya membuat tanah pecah dalam skala yang cukup luas.
"Yang benar saja?! Sebenarnya sekuat apa dia itu?" ucap Dante yang terkejut dengan kekuatan tendangan Miku.
Miku menggunakan kaki yang lainnya untuk menendang kepala Dante yang terbuka untuk diserang. Dante menunduk kemudian melompat menjauhi Miku. Miku melompat dan dalam sekejap mampu berada di depan Dante lagi diudara. Dante kembali terkejut dan tanpa memberi waktu Miku pun menendang Dante dengan kedua kakinya bersamaan. Tendangan itu tepat mengenai Dante di wajahnya dan menghantam tanah dengan Miku masih berdiri diatasnya. Dante mengangkat kakinya mencoba menendang punggung Miku, tapi Miku melompat kedepan menghindari tendangan Dante. Miku bersalto dan berbalik menghadap ke arah Dante lagi.
"He-hebat.. itukah dance yang diajarkan Ray-kun padanya?" puji Luka saat sampai disana lagi.
"Megurine-senpai?! Megurine-senpai masih hidup? Syukurlah.." ucap Miku saat melihat Luka.
"Ti-tidak mungkin. Setelah terkena serangan itu harusnya dia sudah hangus jadi abu." ucap Dante kaget Luka terlihat baik-baik saja.
"Ja-jangan-jangan.." ucap Dante menyadari sesuatu.
"JB! Kita mundur! Kita tidak akan menang melawan mereka saat ini." ujar Dante mendekat ke tubuh June.
Kemudian Dante membuat lagi sebuah menara api yang lebih kecil, dan setelah itu menghilang.
"Mereka pergi." ucap Luka.
"Kita menang.. kita menang!!!" teriak Miku terlihat sangat bahagia kemudian menonaktifkan dance acceleration nya.
"Syukurlah semuanya sudah berakhir." ucap Kaito merasa lega.
Dari balik bayangan pohon, sesosok laki-laki berjas hitam memperhatikan ternyata pertarungan itu.
"Itukah Hatsune Miku? Dia kuat sekali. Ternyata dia bukan hanya menggertak. Cih, sepertinya aku harus meninggalkan kota ini sementara waktu." ujar sosok laki-laki kemudian berjalan menjauh dari tempat itu.
"Karena semuanya sudah selesai, mari kita segera pulang. Kita harus merawat mereka yang terluka." ujar Luka pada Miku dan Kaito.
"Ya, kita harus segera membawa Meiko pulang." sahut Kaito.
"Megurine-senpai, bagaimana dengan Gumi-chan?" tanya Miku.
"Tenang saja, aku yang akan membawanya pulang. Kalian dulu saja. Kita berkumpul di rumahnya Miku." suruh Luka pada Miku dan Kaito.
"Baiklah. Megurine-senpai hati-hati ya." sahut Miku.
Kemudian Kaito menggendong Meiko dan membawanya pulang bersama mereka. Sementara Luka pergi menuju ke tempatnya Gumi untuk membawanya pulang juga.
Di rumah Miku, Miku dan yang lainnya berkumpul untuk membahas tentang apa yang terjadi barusan. Mereka semuanya berada di ruang tamu yang saat ini jadi sedikit sesak. Sementara Meiko dan Gumi nampak sedang istirahat di kamarnya Meiko.
"Saya dengar Miku-dono berhasil mengalahkan Pangeran Kegelapan-dono. Apa itu benar?" tanya Kamui pada Miku.
"Ya itu benar. Aku kalahkan dia dengan telak dengan dance baruku. Kemudian dia pun kabur karena ketakutan. Hahaha.." jawab Miku dengan bangga.
"Eh, beneran? Wah.. Miku-nee hebat.." puji Len saat mendengar jawaban Miku yang cukup meyakinkan itu.
"Ngomong-ngomong Luka-neesan, Ray-niichan mana ya?" tanya Rin pada Luka.
"Iya benar juga. Beberapa hari ini aku tidak melihatnya." tambah Len.
"Kalau itu.. aku juga tidak tahu.." jawab Luka sambil menundukkan kepalanya.
"Hah? Masa? Luka-neesan kan dekat dengan Ray-niichan. Masa tidak tahu kemana Ray-niichan." ujar Rin terlihat kecewa.
"Aku juga mau tahu kemana dia pergi, tapi.. dia sama sekali tidak memberi tahu tentang apapun padaku. Ya, mungkin ini juga salahku." jawab Luka sambil menjambak halus poni rambutnya.
Dan tengah malamnya Luka tampak masih bangun. Padahal saat itu Miku sudah tertidur dengan lelapnya. Luka melamun menatap langit-langit kamar itu. Dia masih memikirkan kejadian tadi sore saat Ray menyelamatkannya.
"Kenapa Ray-kun datang dan menyelamatkanku waktu itu? Kenapa? Kenapa dia tidak menunjukkan dirinya saja dan membantu kami? Kenapa? Apa dia sudah membenciku sekarang?" ujar Luka dalam hati kemudian berbalik dan memeluk bantalnya.
"Ray-kun.. Ray-kun.." ucap Luka dalam hatinya sambil membayangkan tentang masa-masanya saat bersama dengan Ray.
Luka masih mengingat jelas saat dia berduaan dengan Ray. Juga saat ia bertemu Ray di koridor dan Ray membantunya membawakan barang. Dan terlebih lagi saat mereka berdua bermain piano bersama di tengah danau. Lalu saat mereka berciuman di temani cahaya mentari pagi yang indah menembus kabut pegunungan.
"Ray-kun.. maafkan aku.." ucap Luka menangis dan kemudian tertidur.
Di tengah danau, terlihat Ray duduk sambil menyentuh dinginnya kayu piano dihadapannya. Dia mengelus-ngelus penutup tuts piano itu.
"Aku tak tahu apa ini yang terbaik. Karena walau otakku mengatakan kalau ini jalan yang terbaik, tapi entah kenapa hatiku ini menolaknya." ujar Ray kemudian menjatuhkan kepalanya di piano.
"Harusnya tadi aku jangan melihatnya dulu. Kalau begini, rasanya hatiku jadi terasa aneh." sambung Ray sambil menutup matanya.
Ray kemudian berdiri dan menatap bulan sabit yang bersinar malam itu, walau sebagiannya tertutup awan.
"Tidak, aku tidak boleh terbawa perasaan dulu. Aku harus melakukan apa yang harus kulakukan saat ini. Mengumpulkan informasi dan melindungi Hatsune-san dan teman-temannya." kata Ray yang menutup kepalanya dengan tudung jaketnya.
Ray lalu melompat-lompat pada bekas tiang jembatan kayu untuk sampai ke tepian danau. Di pesawatnya Dante terlihat merawat luka-lukanya.
"Tuan Lucifer, tolong rawat aku juga dong. Aku juga luka parah nih." pinta June yang terbaring disebuah futon.
"Hah? Rawat saja sendiri. Kau juga pasti sudah bisa bangun saat ini kan? Jangan berpura-pura dah." sahut Dante.
"Jahatnya.. setidaknya berikanlah sedikit perhatian padaku.." bujuk June dengan sedikit manja.
"Aku memang jahat. Aku kan penjahat, kamu lupa?" tanya Dante menoleh dan tersenyum jahat pada June.
June langsung nampak cemberut.
"Jangan menunjukkan wajah itu padaku kalau tak mau kubakar hidup-hidup." ucap Dante berubah menjadi serius.
"Ma-maaf..!" ucap June yang jadi ketakutan.
To be continued..
"A-apa itu!?" ucap Dante terkejut melihat form baru Miku.
"Jadi ini dance yang dilatih oleh Shiro Ray selama ini. Entah kenapa itu begitu indah. Tapi apakah itu bisa membuatnya mengalahkan Yami?" ujar Kaito dalam hati saat memperhatikan Miku.
"Dance: Brutal..!" ucap Dante kemudian berlari menghampiri Miku.
Dante langsung melakukan pukulan ke arah Miku.
"Eh.. rasanya aku sudah yakin dia ada dalam jarak serangku tadi. Tapi kenapa tidak kena?" gumam Dante saat pukulannya tidak sampai pada Miku.
Tanpa sepengetahuan Dante ternyata Miku melangkah kebelakang dengan lembut sehingga gerakannya tak disadari oleh Dante.
"Bagaimana dengan ini!" ucap Dante melesakkan tendangan yang keras ke depan menggunanakan kaki kirinya.
Tapi Miku melompat sambil menangkap kaki kiri Dante tersebut. Dan dengan bertumpu pada kaki itu, Miku melayang kebelakang Dante dan menendang punggung Dante dengan kedua kakinya bersamaan. Sementara Dante terdorong ke depan Miku mendarat dengan lembut ditanah. Dante tersungkur ditanah dan berguling beberapa kali.
"Apa yang barusan itu? Dia bukan hanya menghindar, tapi juga menggunakan seranganku sendiri untuk melakukan serangannya." gerutu Dante sambil bangkit lagi.
"Hebat. Gerakannya benar-benar indah. Itu seperti tarian yang benar-benar indah nan lembut. Tapi efeknya sangat kuat." komentar Kaito terkejut melihat Miku bisa membuat Dante tersungkur.
"Baiklah! Aku akan serius sekarang!!!" ucap Dante dengan kesal dan melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Miku.
Dante berkali-kali melancarkan serangannya yang bertubi-tubi pada Miku tapi Miku bisa menghindarinya tanpa kesulitan sedikitpun. Serangan tanpa jeda itu hanya dihindarinya dengan melompat kesana kemari bagaikan bunga sakura yang tertiup angin.
"Yang benar saja! Apa-apaan semua ini!" gerutu Dante dalam hati mulai merasa geram.
Sementara itu ditempat Gumi terduduk lemas, muncul sosok laki-laki berjaket tudung hitam. Laki-laki itu terlihat membawa Luka yang sedang tak sadarkan diri. Dia menggendongnya bagaikan seorang putri.
"Megupo-san. Tolong jaga dia." pinta laki-laki itu kemudian meletakan Luka disamping Gumi.
"Ka-kamu.. jangan-jangan.." ucap Gumi yang nampaknya mengenali laki-laki itu.
Laki-laki itu tampak tersenyum kemudian berjalan menjauh dari Gumi dan menghilang. Tepat setelah laki-laki itu menghilang, Luka tersadar dan mulai membuka matanya.
"Luka-oneesama.." panggil Gumi.
"Oh.. Gumi-chan.. ada dimana aku?" tanya Luka.
"Kita sedang berada di taman." jawab Gumi.
"Hmm.. begitukah. Apa Gumi-chan yang menyelamatkanku?" tanya Luka lagi.
"Bukan." jawab Gumi.
"Terus.. siapa?" tanya Luka sedikit penasaran.
"Shiro Ray." jawab Gumi.
Luka terkejut mendengar nama itu. Dia langsung duduk tegak karenanya.
"Ray-kun? Beneran Ray-kun?" tanya Luka semakin penasaran.
"Iya, tidak salah lagi. Dari suara dan cara berbicaranya itu adalah Shiro Ray." jelas Gumi.
"Ada dimana dia sekarang?" tanya Luka.
"Tidak tahu." jawab Gumi.
"Tidak tahu? Kenapa sampai tidak tahu? Harusnya kan Gumi-chan lihat kemana arahnya dia pergi." tanya Luka dengan nada memaksa.
"Dia pertamanya mengarah kesana, tapi setelah itu aku tidak melihatnya lagi." jawab Gumi sambil menunjuk ke arah jalan.
Luka langsung berdiri kemudian berlari ke arah yang ditunjuk oleh Gumi. Sesampainya di pinggir jalan, Luka melihat ke kiri dan ke kanan mencari Ray. Namun tidak ada.
"Kalau aku jadi Ray-kun, aku akan pergi kemana?" ucap Luka dalam hatinya berusaha berpikir.
"Benar juga, pasti kembali ke tempat pertarungan." tambah Luka dalam hati kemudian berlari ke arah kanan untuk kembali ke tempat pertarungannya dengan Dante.
"Harusnya tadi aku tersadar lebih cepat supaya bisa bertemu dengan Ray-kun. Dasar Luka bodoh!" gerutu Luka pada dirinya sendiri sambil berlari dengan kecepatan penuh.
Di jalanan yang sepi yang kedua sisinya terdapat kebun dan padang rumput, Miku dan Dante masih saja bertarung. Dante secara membabi buta menyerang Miku dengan brutal. Tapi Miku dengan santai dan lembut menghindari setiap serangan Dante dengan mudahnya.
"Sial! Sial! Sial! Kenapa tidak kena-kena!" gerutu Dante sambil menyerang Miku.
"Ini seperti saat aku berhadapan dengan Shiro Ray saat dia masih memiliki kekuatannya." sambung Dante dalam hati.
Dante kemudian langsung berjongkok dan melakukan pukulan uppercut sambil melompat. Tapi Miku menangkap tangan Dante dan bersama dengan tangan Dante dia melompat keatas memanfaatkan tenaga pukulan Dante kemudian berjungkir balik ke belakang Dante dan membanting Dante. Dante terlempar dan kemudian dia bersalto satu kali diudara dan mendarat meskipun agak terseret kebelakang.
"Sial.." ucap Dante merasa kesal.
Dan saat melihat ke depan Dante terkejut karena Miku sudah ada di hadapannya dan berniat memukulnya. Dante membungkuk menundukkan kepalanya menghindari pukulan tangan kiri Miku. Tapi pukulan itu berubah menjadi jambakan. Miku mendorong kepala Dante ke bawah kemudian menendangnya menggunakan kaki kirinya. Dan dengan cepat Miku menendang kaki Dante yang masih terhuyung-huyung. Dan Miku pun menggunakan tendangan sambil berputar mirip gerakan kapoera. Dia menendang Dante yang masih berada diudara dengan bertumpu pada kedua tangannya. Dante terlempar dan menghantam tanah.
"Instrument: Devil Bone Guitar. Devilish Slash!" ucap Dante dengan cepat segera berbalik setelah menghantam tanah kemudian menyerang balik Miku.
Miku berputar bergerak ke samping dengan cepat dan melaju ke depan ke arah Dante. Miku menendangkan kaki kanannya ke arah Dante, Dante menahannya dengan gitarnya. Tapi tendangan itu sangat kuat sehingga efeknya membuat tanah pecah dalam skala yang cukup luas.
"Yang benar saja?! Sebenarnya sekuat apa dia itu?" ucap Dante yang terkejut dengan kekuatan tendangan Miku.
Miku menggunakan kaki yang lainnya untuk menendang kepala Dante yang terbuka untuk diserang. Dante menunduk kemudian melompat menjauhi Miku. Miku melompat dan dalam sekejap mampu berada di depan Dante lagi diudara. Dante kembali terkejut dan tanpa memberi waktu Miku pun menendang Dante dengan kedua kakinya bersamaan. Tendangan itu tepat mengenai Dante di wajahnya dan menghantam tanah dengan Miku masih berdiri diatasnya. Dante mengangkat kakinya mencoba menendang punggung Miku, tapi Miku melompat kedepan menghindari tendangan Dante. Miku bersalto dan berbalik menghadap ke arah Dante lagi.
"He-hebat.. itukah dance yang diajarkan Ray-kun padanya?" puji Luka saat sampai disana lagi.
"Megurine-senpai?! Megurine-senpai masih hidup? Syukurlah.." ucap Miku saat melihat Luka.
"Ti-tidak mungkin. Setelah terkena serangan itu harusnya dia sudah hangus jadi abu." ucap Dante kaget Luka terlihat baik-baik saja.
"Ja-jangan-jangan.." ucap Dante menyadari sesuatu.
"JB! Kita mundur! Kita tidak akan menang melawan mereka saat ini." ujar Dante mendekat ke tubuh June.
Kemudian Dante membuat lagi sebuah menara api yang lebih kecil, dan setelah itu menghilang.
"Mereka pergi." ucap Luka.
"Kita menang.. kita menang!!!" teriak Miku terlihat sangat bahagia kemudian menonaktifkan dance acceleration nya.
"Syukurlah semuanya sudah berakhir." ucap Kaito merasa lega.
Dari balik bayangan pohon, sesosok laki-laki berjas hitam memperhatikan ternyata pertarungan itu.
"Itukah Hatsune Miku? Dia kuat sekali. Ternyata dia bukan hanya menggertak. Cih, sepertinya aku harus meninggalkan kota ini sementara waktu." ujar sosok laki-laki kemudian berjalan menjauh dari tempat itu.
"Karena semuanya sudah selesai, mari kita segera pulang. Kita harus merawat mereka yang terluka." ujar Luka pada Miku dan Kaito.
"Ya, kita harus segera membawa Meiko pulang." sahut Kaito.
"Megurine-senpai, bagaimana dengan Gumi-chan?" tanya Miku.
"Tenang saja, aku yang akan membawanya pulang. Kalian dulu saja. Kita berkumpul di rumahnya Miku." suruh Luka pada Miku dan Kaito.
"Baiklah. Megurine-senpai hati-hati ya." sahut Miku.
Kemudian Kaito menggendong Meiko dan membawanya pulang bersama mereka. Sementara Luka pergi menuju ke tempatnya Gumi untuk membawanya pulang juga.
Di rumah Miku, Miku dan yang lainnya berkumpul untuk membahas tentang apa yang terjadi barusan. Mereka semuanya berada di ruang tamu yang saat ini jadi sedikit sesak. Sementara Meiko dan Gumi nampak sedang istirahat di kamarnya Meiko.
"Saya dengar Miku-dono berhasil mengalahkan Pangeran Kegelapan-dono. Apa itu benar?" tanya Kamui pada Miku.
"Ya itu benar. Aku kalahkan dia dengan telak dengan dance baruku. Kemudian dia pun kabur karena ketakutan. Hahaha.." jawab Miku dengan bangga.
"Eh, beneran? Wah.. Miku-nee hebat.." puji Len saat mendengar jawaban Miku yang cukup meyakinkan itu.
"Ngomong-ngomong Luka-neesan, Ray-niichan mana ya?" tanya Rin pada Luka.
"Iya benar juga. Beberapa hari ini aku tidak melihatnya." tambah Len.
"Kalau itu.. aku juga tidak tahu.." jawab Luka sambil menundukkan kepalanya.
"Hah? Masa? Luka-neesan kan dekat dengan Ray-niichan. Masa tidak tahu kemana Ray-niichan." ujar Rin terlihat kecewa.
"Aku juga mau tahu kemana dia pergi, tapi.. dia sama sekali tidak memberi tahu tentang apapun padaku. Ya, mungkin ini juga salahku." jawab Luka sambil menjambak halus poni rambutnya.
Dan tengah malamnya Luka tampak masih bangun. Padahal saat itu Miku sudah tertidur dengan lelapnya. Luka melamun menatap langit-langit kamar itu. Dia masih memikirkan kejadian tadi sore saat Ray menyelamatkannya.
"Kenapa Ray-kun datang dan menyelamatkanku waktu itu? Kenapa? Kenapa dia tidak menunjukkan dirinya saja dan membantu kami? Kenapa? Apa dia sudah membenciku sekarang?" ujar Luka dalam hati kemudian berbalik dan memeluk bantalnya.
"Ray-kun.. Ray-kun.." ucap Luka dalam hatinya sambil membayangkan tentang masa-masanya saat bersama dengan Ray.
Luka masih mengingat jelas saat dia berduaan dengan Ray. Juga saat ia bertemu Ray di koridor dan Ray membantunya membawakan barang. Dan terlebih lagi saat mereka berdua bermain piano bersama di tengah danau. Lalu saat mereka berciuman di temani cahaya mentari pagi yang indah menembus kabut pegunungan.
"Ray-kun.. maafkan aku.." ucap Luka menangis dan kemudian tertidur.
Di tengah danau, terlihat Ray duduk sambil menyentuh dinginnya kayu piano dihadapannya. Dia mengelus-ngelus penutup tuts piano itu.
"Aku tak tahu apa ini yang terbaik. Karena walau otakku mengatakan kalau ini jalan yang terbaik, tapi entah kenapa hatiku ini menolaknya." ujar Ray kemudian menjatuhkan kepalanya di piano.
"Harusnya tadi aku jangan melihatnya dulu. Kalau begini, rasanya hatiku jadi terasa aneh." sambung Ray sambil menutup matanya.
Ray kemudian berdiri dan menatap bulan sabit yang bersinar malam itu, walau sebagiannya tertutup awan.
"Tidak, aku tidak boleh terbawa perasaan dulu. Aku harus melakukan apa yang harus kulakukan saat ini. Mengumpulkan informasi dan melindungi Hatsune-san dan teman-temannya." kata Ray yang menutup kepalanya dengan tudung jaketnya.
Ray lalu melompat-lompat pada bekas tiang jembatan kayu untuk sampai ke tepian danau. Di pesawatnya Dante terlihat merawat luka-lukanya.
"Tuan Lucifer, tolong rawat aku juga dong. Aku juga luka parah nih." pinta June yang terbaring disebuah futon.
"Hah? Rawat saja sendiri. Kau juga pasti sudah bisa bangun saat ini kan? Jangan berpura-pura dah." sahut Dante.
"Jahatnya.. setidaknya berikanlah sedikit perhatian padaku.." bujuk June dengan sedikit manja.
"Aku memang jahat. Aku kan penjahat, kamu lupa?" tanya Dante menoleh dan tersenyum jahat pada June.
June langsung nampak cemberut.
"Jangan menunjukkan wajah itu padaku kalau tak mau kubakar hidup-hidup." ucap Dante berubah menjadi serius.
"Ma-maaf..!" ucap June yang jadi ketakutan.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.