VocaWorld, chapter 162 - Mengenang Masa Silam

Miku dan Kaito baru pulang berbelanja. Saat mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba Kaito melihat sesuatu. Kaito pun terkejut dan berusaha menunjukkannya pada Miku.
"Itu apa?" tanya Miku kemudian menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Kaito.
Mereka pun melihat sebuah selebaran besar tertempel di dinding.
"Diskon es krim besar-besaran hanya untuk besok!!!" ucap Miku membaca yang tertulis di selebaran itu.
"Hmm.. sepertinya enak kalau kita makan es krim selagi stoknya masih banyak. Dengan diskon ini, aku yakin kalau sampai terlambat sedikit saja kita kan kehabisan." ujar Kaito tampak berpikir.
"Ki-kita? Maksudnya Kaito-senpai mau.." kata Miku wajahnya mulai memerah.
"Ya.. Hatsune mau kan menemaniku makan es krim besok?" tanya Kaito.
"Kaito-senpai mengajakku makan es krim bareng? Asyik.." ucap Miku dalam hati tampak kegirangan.
"Te-tentu saja." jawab Miku dengan tanggap.
"Oke, kalau begitu besok kita ketemuan di jembatan jam 6 pagi." ujar Kaito.
"Ya." sahut Miku mengangguk.
Kemudian mereka berdua pun melanjutkan perjalanan pulang mereka. Saat pulang ke rumah, mereka melihat Meiko sedang duduk di sofa dengan terlihat cemas.
"Kau sedang apa, Meiko?" tanya Kaito sambil meletakan belanjaan di samping sofa.
"Bukan apa-apa. Aku hanya sedang pusing saja." jawab Meiko sambil duduk dengan lemas.
"Kalau kau sedang pusing, biar aku saja yang memasak makan malamnya."  ucap Kaito membawa kembali barang belanjaannya.
Kaito membawa belanjaan itu ke dapur dan meletakan beberapa diantaranya ke dalam kulkas. Sementara beberapa lagi sudah diletakan di atas meja sebelumnya.
"Dia itu, apa tidak bisa meminta bantuan orang lain dengan lebih baik." ujar Meiko dengan suara lemah.
Di bawah jembatan dibawah cahaya mentari sore hari, Ray memancing ikan untuk makan malamnya. Dia terlihat tenang dan tiduran diatas sebuah tikar sambil menunggu ada ikan yang memakan umpannya. Luka terlihat lewat dijalan di pinggir sungai itu tanpa menyadari ada Ray dibawah jembatan.
"Sepertinya dia juga sudah kembali tenang. Dia pasti bisa melakukannya." ujar Ray yang menyadari Luka lewat.
Matanya melihat ke atas melihat ke arah Luka yang berjalan menuju ke rumah Miku.
"Tapi sejauh ini aku tidak melihat ada hal yang diluar dugaan. Semuanya masih berjalan sesuai rencana. Meskipun ada beberapa yang membuatku kaget." sambung Ray sambil melihat ke atas.
"Yang terpenting saat ini aku harus mencari tahu tentang masa lalu sebelum aku lahir. Dan menghindarkan mereka dari informasi tersebut." tambah Ray sambil bangun dan duduk bersila.
Pancingan Ray terlihat bergerak-gerak.
"Ah.. aku punya umpan yang bagus." ujar Ray sambil memegang pancingannya.
Ray pun menarik pancingannya dan dapatlah seekor ikan.
"Makan malam kali ini, dengan ikan gurami." ucap Ray.
Sementara di depan dojo, Kamui masih menunggu Kaito pulang. Namun Kaito tidak kunjung pulang juga dan itui membuat Kamui sedikit kesal.
"Kemana perginya Kaito-dono? Jam segini masih belum pulang juga. Mana dingin lagi." gerutu Kamui yang kedinginan karena terus berada di luar dojo.
Kamui terlihat gemetara dan badannya menggigil. Saat ada angin berhembus, Kamui pun seperti membeku.
"Kaito-dono.. pulang.. lah.." ucap Kamui yang membeku.

Voca Town yang masih dikelilingi oleh dinding api hitam masih tampak tenang. Tidak terlihat kepanikan yang terjadi. Dan seperti biasa Dante melihat pemandangan kota dari atas pesawatnya. Pemandangan kota yang indah disinari mentari pagi membuat hati laki-laki yang mempunya julukan pangeran kegelapan itu merasa damai.
"Apa tuan yakin membiarkan kota ini begitu damai? Bukankah lebih baik membuat sedikit kepanikan untuk sumber energi kita?" tanya June yang berdiri dibelakang Dante.
"'Kita'? Haha.. aku tidak perlu membuat kepanikan untuk mendapatkan kekuatan, JB. Tidak lagi. Karena ku punya ini." jawab Dante menoleh ke arah June kemudian menunjuk earophoid nya.
"Lalu bagaimana denganku?" tanya June.
"Bukankah kamu sudah mendapatkan cukup energi dari dirimu sendiri?" ucap Dante.
"Itu tidaklah cukup, tuan. Aku harus punya yang lebih kuat untuk bisa mengalahkan para singer sialan itu." ujar June.
"Hmm.. kita tidak perlu terburu-buru mengalahkan mereka. Kemarin saja saat kita buru-buru melakukan penyerangan pada mereka berakhir dengan kekalahan." balas Dante.
"Ya.. benar juga. Tapi kemarin itu sebenarnya apa yang terjadi. Kita dibuat tidak berkutik oleh mereka. Apa karena mereka mendapat pengarahan dari The White Light?" tukas June.
"Kupikir bukan." sahut Dante.
"Hah?" ucap June sedikit terkejut.
"Aku tidak melihat Shiro Ray dimanapun. Saat itu mereka tidak mendapat pengarahan apapun. Kemungkinan mereka hanya bergerak sesuai insting mereka." sambung Dante.
"Terus bagaimana mereka bisa bergerak merespon pergerakan kita?" tanya June.
"Mungkin karena mereka terbiasa melakukannya saat Shiro Ray masih berada di sisi mereka." jawab Dante.
"Lho, memangnya The White Light sudah tidak ada disisi mereka?" tanya June terkejut.
"Ya, aku rasa mereka saat ini sudah bergerak terpisah dengan Shiro Ray. Karena beberapa hari kebelakang aku tidak melihat Shiro Ray disekolah." jawab Dante lagi.
"Kalau begitu ini kesempatan kita untuk menyerang orang-orang bodoh itu." ucap June terlihat senang.
"Justru karena tidak adanya Shiro Ray kita harus lebih berhati-hati dari sebelumnya." sahut Dante.
"Lho, kenapa? Malahan tanpa Shiro Ray mereka jadi lebih lemah kan?" tanya June bingung.
"Kau ini bodoh ya, JB? Malah lebih berbahaya jika kita bergerak sembarangan kalau di mereka tidak ada Shiro Ray. Dengan tidak diketahuinya keberadaan Shiro Ray justru lebih sulit mengetahui pola serangan mereka." jelas Dante.
"Oohh.. ternyata tuan Lucifer sudah lebih cerdas sekarang." ujar June.
"Hah? Jadi kau pikir selama ini aku bodoh!!" bentak Dante.
"Ti-tidak, tuan. Aku tidak bermaksud seperti itu." jawab June.
"Kau ingin ku bunuh ya, JB. Kalau memang ingin mati bilang saja. Maka akan kubakar kau hidup-hidup." ucap Dante dengan tatapan iblis.
"Ma-maafkan aku.." sahut June terlihat ketakutan.
Di tempat lain disebuah tempat yang cukup gelap, seorang gadis berambut pirang panjang dan agak ikal terlihat sedang melakukan sesuatu dengan komputernya. Dia mengetik-ngetik dan membuat beberapa rumus pemrograman.
"Hahaha.. dengan ini aku akan bisa mengalahkanmu dengan cepat, The White Light. Akan kutunjukan kalau aku lebih kuat dari sebelumnya." ujar gadis itu dengan senyuman licik.
Dan kemudian setelah mengetik 'enter', di tampilan monitor itu terlihat hitung mundur yang mulai berjalan.
"Hahaha.. maaf saja The White Light, akan kuhancurkan kota ini.. beserta pulaunya." tambah gadis itu kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
Kembali ke pesawat milik Dante. Dante duduk di singgasananya dengan terlihat bosan.
"Tuan Lucifer, kenapa tuan begitu ngotot tak ingin meminta bantuan pada komanda yang lain? Bukankah akan lebih mudah mengalahkan The White Light dan teman-temannya dengan bantuan 3 komandan yang lain?" tanya June.
"Orang yang kuat tidak memerlukan bantuan dari orang yang dikalahkan oleh The White Light sendirian." jawab Dante.
"Be-benar sih. Tapi kan mereka saat ini sudah beda lagi." ujar June.
"Apa maksudmu beda lagi?" tanya Dante.
"Seperti tuan Belphegor, saat ini bukan hanya jumlah pasukannya, tapi dia juga memiliki para kapten pasukan yang kekuatannya setingkat komandan." jelas June.
"Setingkat komandan? Yang benar saja! Tidak mungkin dia bisa mengendalikan orang yang lebih kuat darinya." bantah Dante.
"Awalnya saya juga tidak percaya. Tapi saya melihat sendiri mereka berhasil menghancurkan beberapa kota dalam sekejap. Ditambah tanpa sepengetahuan pemerintah juga. Sehingga pemerintah hanya mengira kalau itu hanya bencana alam." tegas June.
"Cih, kalau dia bisa mendapatkan pasukan sekuat itu, kenapa aku hanya mendapatkan orang lemah disini." keluh Dante.
"Eehh!!?? Kenapa tuan Lucifer sepertinya begitu meremehkanku!!?" ucap June kaget.
"Tentu saja aku berkata begitu. Waktu itu saja kau dikalahkan oleh perempuan hingga tidak bisa berdiri lagi." jawab Dante.
"E, kalau itu.." June langsung tercekat tidak bisa menjelaskannya.
"Tapi aku tidak butuh bantuan pasukan atau apapun. Bahkan sebaiknya kau pergi saja dari sini, JB. Karena disini pun kau hanya jadi kerikil yang mengganggu langkahku." ujar Dante.
June langsung suram setelah mendengarnya.

Ray duduk santai sambil memancing di pinggir pantai. Dia duduk diatas jembatan laut dan menikmati angin laut yang berhembus ke arahnya.
"Angin ini mulai membekukan kulitku. Mungkin sebaiknya beberapa hari kedepan aku harus mulai hibernasi. Jadi saat ini aku akan mengumpulkan ikan sebanyak yang aku bisa." ujar Ray yang lalu memasang penutup kepala jaketnya.
Sudah hampir akhir musim gugur, sebentar lagi musim dingin tiba. Akademi Voca dan sekolah-sekolah di Voca Town masih meliburkan para siswanya karena keadaan Voca Town yang dalam status siaga 1. Namun Ray merasat tenang saat ini, karena dengan datangnya musim dingin dia bisa bergerak lebih leluasa dalam kegelapan.
"Bagaimana keadaan Megurine-san dan yang lainnya ya? Sudah lama aku tidak melihat mereka. Kuharap mereka baik-baik saja disana. Tidak, mereka pasti baik-baik saja." sambung Ray sambil memperhatikan awan dilangit.
Ray kemudian tiduran dan memejamkan matanya.
"Ah.. ini seperti waktu itu. Saat aku pertama kali keluar dari kota ini.." lanjut Ray membayangkan masa lalunya.
Musim dingin 9 tahun yang lalu. Voca Town hancur separuhnya karena suatu bencana. Ray dan satu sosok berambut panjang dan memakai jaket hitam menghadapi seorang perempuan berambut pirang. Ray meninggalkan kota dan terlihat sebuah kuburan kecil dekat sebuah rumah di lereng gunung sebelah barat Voca Town. Ray pergi menyusuri pantai dan salju tampak berjatuhan menemani perjalanannya ke barat.
"Benar-benar memedihkan mata. Meskipun aku tak bisa menangis." sambung Ray setelah mengenang masa lalunya.
"Tidurlah dalam damai, mentorku." lanjut Ray sambil kembali duduk dan melanjutkan memancingnya.
Dalam keheningan sore itu, Luka melihat pemandangan Voca Town dari jendela kamar Miku.
"Bagaimana ya keadaan Ray-kun diluar sana? Aku begitu merindukannya. Kuharap waktu cepatlah berlalu supaya aku bisa bertemu dengannya lagi." ujar Luka sambil tersenyum.
"Megurine-senpai.." panggil Miku dari belakang.
"Miku-chan, saat ini kan kita sedang tidak disekolah. Bisakah tidak memanggilku dengan 'senpai' terus?" pinta Luka sambil berbalik.
"Terus manggil apa dong?" tanya Miku.
"Panggil saja 'Luka-oneechan'." jawab Luka sambil tersenyum.
"Tapi.. Megurine-senpai kan-..", "'Luka-oneechan'." potong Luka pada penolakan Miku.
"Ba-baik, Luka-oneesan.." sahut Miku.
"'Luka-oneechan'." ucap Luka menatap dingin pada Miku dengan aura gelap yang terlihat menyelimutinya.
Miku langsung gemetar ketakutan melihat tatapan kejam Luka.
"Ba-baiklah.. Luka-oneechan.." balas Miku dengan gemetaran dan wajah yang pucat.
"Ya, Miku-chan. Ada apa?" sahut Luka tersenyum pada Miku.
"Ti-tidak ada apa-apa. Aku hanya tiba-tiba mules ingin ke WC." jawab Miku kemudian langsung lari keluar dari kamar.
"Benar juga, apa Ray-kun punya saudara? Setahuku Dante-kun bukan saudara sedarahnya. Ray-kun bilang kalau dia hanya mengangkatnya menjadi adiknya. Terus siapa saudara Ray-kun yang sebenarnya ya?" gumam Luka mencoba memikirkannya.
"Mungkin aku harus bertanya pada kakek Taka dan nenek Toko." sambung Luka sambil menoleh ke arah barat melalui jendela.
Luka akhirnya pergi menemui kakek nenek yang tinggal sendirian di sebuah rumah di sebelah barat Voca Town.
"Selamat siang, kakek Taka, nenek Toko." sapa Luka yang sampai di tempat kakek nenek itu.
Kakek Taka dan nenek Toko terlihat sedang duduk melihat pemandangan Voca Town.
"Oh.. ternyata neng Mulan Jame-.." ucap kakek Taka kemudian mendapat jitakan dari nenek Toko.
Di kening Luka terlihat urat marah keluar karena sudah tahu apa yang akan disebutkan kakek Taka.
"Maaf neng Luka, dia memang kebiasaan suka ngomong ngelantur. Ada apa neng Luka kemari?" tanya nenek Toko.
"Tidak apa-apa kok, nek. Oh ya, aku kemari mau bertanya sesuatu tentang Ray-kun sebenarnya." jawab Luka.
"Oohh.. tentang Shiro-kun. Memang kenapa dengan Shiro-kun?" tanya nenek Toko.
"Apa Ray-kun memiliki saudara?" tanya Luka.
"Saudara? Hmm.. kupikir tidak." jawab nenek Toko.
"Aku tidak tahu apapun tentang masa lalu dan hal-hal pribadi dari anak itu. Kami bertemu dengannya pun karena dikenalkan oleh cucu kami." jelas kakek Taka yang bangun lagi.
"Kalian punya cucu?" tanya Luka.
Kakek Taka dan nenek Toko saling memalingkan pandangan mereka. Dari sorot mata mereka tampak ada yang mereka sembunyikan.
"Maaf.. mungkin seharusnya aku tidak menanyakannya." ujar Luka terlihat menyesal.
"Tidak kok. Cepat atau lambat pun pastinya neng Luka bakal menanyakannya pada kami. Shiro-kun sudah mengatakannya pada kami." sahut kakek Taka.
"Shiro-kun itu.. dia selalu menyembunyikan semua kepedihan dan kesedihannya sendirian." tambah nenek Toko.
Di tempat lain, Ray sudah mendapat banyak ikan, dan dia masih memancing saja seakan seember ikan itu masih belum cukup untuknya. Dalam keheningan pantai yang sepi, dia tersenyum.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】