Memo, chapter 50 - Teman Adalah Rival

Arya seperti biasanya ada di ruang ekskul sastra. Namun kali ini dia sendirian. Karena Shinta dan Shindy kelihatannya berhalangan hadir. Karena itu dia menghabiskan waktu dan membaca beberapa buku. Dan disebelahnya sudah banyak buku menumpuk yang kelihatannya sudah selesai ia baca.
"Sudah berapa ya buku yang aku baca? Sepertinya sudah banyak. Tapi.. di rak itu.." ucap Arya sambil melihat ke arah rak buku.
Di rak buku itu terlihat buku yang sangat banyak. Yang bahkan tidak mungkin bisa ia selesaikan dalam waktu satu tahun sekalipun.
"Disana banyak sekali novel yang bagus. Tapi kebanyakan di tulis oleh orang yang sama. Dan sebenarnya siapa dia itu. Aku belum pernah mendengar namanya dimanapun. Ya.. memang ini pertama kalinya aku membaca novel orang lain sih. Dan aku juga tidak mengenal penulis-penulis novel." ujar Arya sambil menutup novel yang dibacanya.
"Ah.. sepertinya aku akan sendirian hari ini. Mereka sepertinya tidak akan datang ke ruang ekskul hari ini. Kalau membaca terus rasanya kurang. Apa aku harus berkeliling dan mengunjungi ekskul yang lain? Hmm.. sepertinya itu ide yang bagus. Aku ingin melihat kegiatan apa saja yang mereka lakukan. Pertama-tama mungkin aku akan melihat Digna." lanjut Arya sambil berdiri.
Setelah membereskan lagi buku yang dia ambil dan mengembalikannya ke rak buku, Arya pergi dari ruang ekskul. Dia berjalan menuju ke gedung olahraga. Dan di gedung olahraga Digna kembali menjadi pusat latihan anak ekskul taekwondo. Mereka memusatkan latihannya pada Digna yang dirasa punya potensi terbesar untuk menjadi kuat.
"Alah.. mereka seperti biasanya terlalu berkonsentrasi pada sesuatu yang menurut mereka terpenting dan mengabaikan sesuatu hal kecil yan menurut mereka tidak terlalu penting." ujar Arya sambil berdiri bersandar diambang pintu.
Arya melihat Digna sedang mendapatkan latihan khusus lagi dari para seniornya. Dia diserang dari segala arah oleh para seniornya. Digna menghindar dan menendang para seniornya dengan cepat.
"Mereka tidak peduli dengan kemampuan mereka sendiri. Mereka sepertinya tidak tertarik dengan mengembangkan diri." kata Arya lalu menghela napasnya seperti kecewa.
"Hmm.. menurutmu bagaimana cara kita memenangkan turnamen taekwondo nasional nanti?" tanya pak Agus dari samping Arya.
Arya terkejut dengan kehadiran guru pembimbing ekskul taekwondo itu. Dia langsung mundur keluar dari gedung itu karena saking kagetnya.
"Oohh.. pak guru ternyata." ujar Arya yang masih belum pulih dari keterkejutannya.
"Kenapa sekaget itu? Apa wajahku sangat menakutkan untukmu?" tanya pak Agus.
"Ti-tidak kok pak. Aku hanya kurang terbiasa berbicara dengan orang yang lebih dewasa. Aku selalu merasa gugup." jawab Arya.
"Oohh.. terus apa yang sedang kamu lakukan disini, tuan ksatria? Apakah kamu sedang memata-matai kami?" tanya pak Agus lagi.
"Tidak, aku hanya ingin melihat saja kok. Hari ini aku sedang bebas dari kegiatan ekskulku." jawab Arya.
"Ya sebenarnya aku bisa bebas karena senior dan Shinta tidak datang hari ini." lanjut Arya dalam hati.
"Oohh.. kalau begitu kenapa kamu tidak ikut latihan saja? Kupikir kamu cukup baik dalam hal bela diri." usul pak Agus.
"Tidak-tidak.. aku tidak bisa beladiri apapun kok. Lihat, aku tidak punya kekuatan untuk melakukan pertarungan." jawab Arya sambil mencoba menunjukkan otot lengannya yang hampir tidak terlihat itu.
"Tapi kekuatan taekwondo tidak pada lengan. Tapi pada kaki." balas pak Agus.
"Sial, aku lupa akan hal itu." ucap Arya dalam hati.
"Namun seperti rumor yang beredar diantara para guru. Dia sepertinya lebih suka membuat dirinya terasingkan dan bergerak dalam kegelapan. Tapi dia punya bakat yang diluar perkiraan orang." ujar pak Agus dalam hati.
"Oh ya, kenapa kamu tidak mencoba untuk melawan Digna. Kalian sekelas kan? Anggap saja sebagai ungkapan pertemanan." kata pak Agus.
"Hmm.. meskipun begitu. Aku tidak mungkin bisa melawan orang yang bisa mengalahkan orang yang mampu mengalahkan senior-seniornya sendiri." sahut Arya.
"Siapa yang bilang kalau kamu melawannya untuk mengalahkannya. Kamu hanya perlu bertarung dengannya. Tidak peduli menang atau kalah. Yang penting lawan dulu." jelas pak Agus.
"Oohh.. begitukah. Baiklah kalau begitu. Lagipula saat ini aku sedang bosan." ujar Arya.
"Baiklah.. semuanya! Hentikan dulu latihan kalian! Kita akan melihat duel yang seru saat ini." ujar pak Agus.
Para anggota ekskul taekwondo pun melihat ke arah Arya.
"Hah? Apa maksudnya?" tanya seorang senior pada pak Agus.
"Sudahlah diam saja! Lihat saja nanti!" suruh pak Agus.
"Ba-baik." sahut senior itu.
Arya kemudian berjalan menuju ke tengah tempat latihan bersama pak Agus. Di sana ada Digna yang sedang berdiri sambil mengelap keringatnya.
"Jadi siapa yang hendak menjadi lawanku?" tanya Digna.
"Dia." jawab pak Agus menunjuk pada Arya.
"Hah? Dia? Tidak mungkin dah. Dia itu tidak berbakat sama sekali dalam hal olahraga. Di suruh lari mengengelilingi lapangan 3 putaran saja sudah kehabisan napas." kata Digna.
"Ya, aku sudah menjelaskan itu padanya. Tapi pak guru ini tetap saja memaksa untuk melakukan ini." jelas Arya.
"Begitukah? Kalau begitu terpaksa akan kulakukan. Akan kukalahkan kau dengan telak. Jadi maaf kalau ada satu atau 2 tulang yang patah." ucap Digna yang kemudian melempar handuknya ke pinggir.
"Eh? Tunggu sebentar, itu terdengar berbahaya sekali." ujar Arya sambil tersenyum aneh.
Arya pun sudah siap dan sudah mengganti pakaiannya. Begitu pula dengan Digna yang sudah memasang kuda-kudanya.
"Kenapa kamu cuma berdiri saja? Apa kamu tidak berniat untuk menang?" tanya Digna.
"Maaf saja, walau aku berniat untuk menang sekalipun, aku tidak mungkin bisa mengalahkanmu. Jadi akan kulawan sebisaku saja ya." jawab Arya.
"Baiklah. Kalau begitu aku mulai!" sahut Digna kemudian melakukan tendangan secara cepat ke arah wajah Arya.
Tendangan ke arah wajah itu sangatlah cepat sehingga Arya tidak sempat membuat perisai dengan tangannya untuk bertahan. Jadi Arya hanya menyondongkan tubuhnya dan mencoba menghindar sebisanya. Namun tetap saja tendangan itu lebih cepat dari reaksinya, jadi wajahnya tetap terkena tendangan itu. Dan akhirnya terpental ke arah para senior yang menonton sambil duduk di pinggir arena.
"Ti-tidak mungkin?! Apa yang barusan itu?" ucap seorang senior berbadan besar tampak terkejut.
Pak Agus pun terlihat tercekat tidak bisa berkata-kata. Dan diantara para senior itu berdirilah Digna. Ternyata orang yang terlempar ke arah senior itu adalah Digna. Sementara Arya tergeletak di tengah arena dengan bekas merah kaki di pipi sebelah kanannya.
"Adududuh.. sakit banget dah." gerutu Arya sambil kembali bangkit.
"Di-dia.." ucap Digna mencoba kembali masuk ke arena.
"Cukup, Digna!" suruh pak Agus.
"Kenapa?! Kalau aku melakukannya sekali lagi aku pasti menang!" bentak Digna.
"Masalahnya bukan dimana kamu bisa mengalahkannya atau tidak. Tapi aku sudah mengatakan padanya kalau ini hanya sebuah percobaan saja. Jadi kita tidak bisa memaksanya untuk tetap disini dan melatihmu." jelas pak Agus.
"Karena semuanya sudah selesai, ijinkan aku pergi." ujar Arya.
Saat Arya sudah mengganti pakaian dan keluar dari gedung itu, terlihat para senior membicarakan kejadian tadi.
"Aku tidak percaya dia bisa bereaksi secepat itu. Dia bukan hanya mencoba menghindar, tapi dia menyerang diwaktu bersamaan. Saat Digna terfokus pada wajah Arya, dia tidak sadar kaki Arya sudah berada di belakang tubuhnya dan bergerak menendang ke arahnya. Itu artinya dia sudah bisa mengatasi sebuah rengan bahkan sebelum serangan itu dilakukan." ujar pak Agus dalam hati sambil mengingat lagi kejadian sebelum Digna terlempar ke arah para senior.
Digna terlihat menatap dingin ke arah Arya yang meninggalkan gedung olahraga.

Catatan hari ini:
Tidak peduli seberapa hebatnya kamu mengatakan kalau itu tidak mungkin, tapi kamu tetap takkan tahu sebelum itu benar-benar terjadi.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】