Memo, chapter 43 - Rahasia Ekskul Sastra

Arya sedang berjalan menuju ke kantin sendirian. Dia bermaksud mencari Sindy, karena dia sudah berjanji pada Shinta untuk memperkenalkannya pada Sindy. Tapi saat sampai di kantin, dia tidak melihat Sindy.
"Ah tidak ada ternyata. Aku harus cari kemana. Aku juga lupa belum pernah menanyakan kelasnya." ujar Arya.
"Benar juga, selama ini aku mengobrol dengannya dengan tidak begitu akrab. Bisa dibilang kami mengobrol karena kebetulan dan situasi saja. Hubungan kami tak lebih dari sekedar senior junior yang ada dalam satu ekskul saja." pikir Arya sambil bersandar di tiang.
"Mungkin aku harus menunggu disini hingga dia datang. Lagipula aku tidak punya kerjaan juga dikelas pun." sambung Arya dalam hatinya.
"Oh.. bukankah kamu itu ksatria dari MOS itu? Tak kusangka melihatmu dengan pakaian seragam seperti itu." ujar seorang perempuan yang tiba-tiba saja muncul di depan Arya.
"Whoaa!! Kuntilan-.." belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Arya mendapatkan sebuah tamparan tepat di pipinya.
"Memangnya aku ini seseram itu. Dasar laki-laki itu semuanya menyebalkan." gerutu perempuan itu yang tak lain adalah Rika dari ekskul pramuka.
"Hmm.. tapi kamu tidak memberiku kesempatan menyelesaikan kalimatku. Kamu hanya salah sangka barusan." jawab Arya.
"Salah sangka? Sudah jelas-jelas kamu tadi mau menyebutku kuntilanak-..", "..moe. Aku mau menyebutmu kuntilanak moe." potong Arya.
Arya kemudian kena tamparan lagi.
"Mana ada kuntilanak moe!!!" bentak Rika.
"Haha.. maaf-maaf." jawab Arya.
"Hmm.. yang lebih penting, sedang apa kamu disini dan memperhatikan kantin? Apa kamu mau makan tapi tidak punya uang? Atau mungkinkah kamu sedang menunggu seseorang?" tanya Rika.
"Yang benar adalah yang kedua." jawab Arya tanpa mengubah ekspresi.
"Oohh.. jadi siapa yang sedang kamu tunggu?" tanya Rika.
"Bukan seseorang yang begitu kukenal kok." jawab Arya.
"Sepertinya kamu suka sekali mengatakan sesuatu seperti itu." sahut Rika.
"Hah?" ucap Arya sambil memiringkan kepalanya.
"Itu tadi, perkataan yang membingungkan orang lain. Bisakah kamu jawab dengan biasa-biasa saja?" tanya Rika.
"Biasa-biasa saja ya? Mungkin kalau aku berusaha keras aku bakalan bisa." jawab Arya.
"Kamu mengatakannya seperti itu sudah menjadi kebiasaanmu mengatakan sesuatu yang rumit." tukas Rika.
"Hmm.. begitukah. Sepertinya aku sudah menjadi orang yang rumit. Aku mengerti sekarang." ucap Arya.
"Caramu mengatakannya membuatku kesal." komentar Rika.
"Oh ya senior, bolehkah aku bertanya sesuatu?" ucap Arya.
"Boleh." sahut Rika.
"Kegiatan ekskul pramuka sehari-hari itu seperti apa sih? Aku belum pernah masuk ekskul pramuka sebelumnya jadi aku tidak tahu." tanya Arya.
"Oohh.. berbeda dengan ekskul pada umumnya, kami tidak banyak melakukan latihan dan semacamnya sih. Mungkin kami hanya melakukannya saat hari pramuka sudah dekat." jawab Rika.
"Ooohh.. begitukah. Berarti masih lebih baik daripada ekskulku sepertinya." kata Arya.
"Hah? Apa maksudmu? Kamu mungkin tidak tahu, tapi setahun yang lalu ekskul sastra pernah menjadi eskul paling terkenal lho. Jangan meremehkan ketua mu itu. Dia orang yang hebat." jelas Rika.
"Se-sehebat itu kah?" ucap Arya terkejut.
"Masa kamu tidak tahu? Sebenarnya apa alasanmu sebenarnya gabung dengan ekskul sastra? Apa benar kamu punya ketertarikan dengan sastra? Kalau tertarik harusnya tahu dong dia siapa." ujar Rika.
"Apa maksudnya?" ucap Arya dalam hati.
"Ya sudah, aku mau makan dulu. Sampai jumpa.." ujar Rika berjalan menuju ke kantin.

Catatan hari ini:
Sesuatu yang terlihat sederhana diluar bisa saja menyimpan sesuatu hal yang hebat.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】