VocaWorld, chapter 156 - Cahaya Menghilang

Miku sedang berlatih dikamarnya. Dia berusaha mengingat apa yang diajarkan oleh Ray dan mempraktekannya. Sambil mendendangkan melodi lagu Senbonzakura, dia menari-nari dikamar yang tak begitu luas itu. Tak lama kemudian Luka masuk.
"Sedang latihan?" sapa Luka.
"Oohh.. Megurine-senpai.." sahut Miku sambil menghentikan latihannya.
"Kenapa berhenti? Teruskan saja. Aku takkan mengganggumu kok." pinta Luka.
"Tapi.. rasanya sedikit malu kalau diperhatikan seperti itu.." jawab Miku.
"Lho, bukannya pas latihan dengan Ra-, maksudku Shiro-san juga sering diperhatikan oleh dia?" tanya Luka.
"Kalau itu kan beda lagi. Lagipula dilihat olehnya sama sekali tidak malu sama sekali. Yang ada malah kesal." jawab Miku.
"Oohh.." sahut Luka.
"Oh ya, apa barusan  Megurine-senpai manggil Shiro Ray dengan panggilan 'Shiro-san'? Kok tumben." tanya Miku.
"Hahaha.. lupakan saja tentang hal itu. Lebih baik kita bahas tenang dance nya Miku-chan." jawab Luka mengalihkan topik.
"Ngomong-ngomong Miku-chan kan katanya dulunya sudah bisa melakukan dance itu dan mengalahkan Shiro-san. Tapi kenapa sekarang tidak bisa?" tanya Luka.
"Aku mana tahu. Padahal rasanya dulu gampang banget. Rasanya langsung 'jeder' gitu." jelas Miku.
"Oohh.. mungkinkah ada sesuatu yang Miku-chan lupakan? Memangnya saat itu apa yang Miku-chan lakukan untuk mengaktifkan dance tersebut?" tanya Luka lagi.
"Hmm.. rasanya tidak ada yang spesial deh. Yang kulakukan hanya menutup mata dan membayangkan aku menari dibawah guguran bunga sakura sambil menyanyikan lagu Senbonzakura." jawab Miku.
"Terus yang sekarang Miku-chan lakukan apa?" tanya Luka lagi.
"Menari sambil membayangkan menari dibawah guguran bunga sakura sambil menyanyikan lagu Senbonzakura." jawab Miku.
"Hmm.. terus apanya yang beda? Kenapa Miku-chan tidak bisa melakukannya saat ini? Padahal sepertinya cara yang sekarang lebih efektif." pikir Luka.
"Ada apa, Megurine-senpai?" tanya Miku heran.
"Tidak, bukan apa-apa. Lanjutkan saja latihannya." jawab Luka kemudian keluar dari kamar.
"Hmm.. Megurine-senpai aneh banget." kata Miku.
Dibawah jembatan, Ray sedang memancing seperti biasanya. Dia duduk di pinggir sungai sambil melamun.
"Sepertinya aku harus mulai bergerak mengumpulkan informasi. Diam terus begini tidak akan menyelesaikan apapun." ujar Ray dalam hatinya.
"Tapi aku harus mencari dimana? Aku tak punya gambaran tentang apapun saat ini. Seandainya ada catatan atau buku tentang perang nada hitam." sambung Ray sambil memegang kepalanya seperti orang yang sedang sakit kepala.
"Tunggu sebentar.. catatan? Kalau tidak salah Megurine-san waktu itu membaca sesuatu tentang masa lalu Voca Town." lanjut Ray mulai menemukan jalan keluar.
"Ya, mungkin aku harus memulai dari sana." ujar Ray sambil tersenyum.

Keesokan harinya, Ray bertemu dengan Luka ditangga.
"Ada apa?" tanya Luka.
"Saat ini aku sedang mengumpulkan informasi." jawab Ray.
"Lalu?" sahut Luka.
"Waktu itu kalau tidak salah Megurine-san membaca buku tentang cerita Voca Town di masa lalu kan? Bolehkah aku meminjam bukunya sebentar?" pinta Ray dengan ramah.
"Tidak boleh. Itu diary papaku. Itu barang pribadi milik keluargaku. Jadi tidak mungkin aku memberikannya pada orang diluar keluargaku." tolak Luka.
"Ta-tapi ini untuk mengumpulkan informasi, Megurine-san." bujuk Ray.
"Pokoknya tidak boleh. Kenapa Ray-kun tidak mencari di perpustakaan saja. Aku yakin ada satu atau dua berita tentang masa lalu disana." kata Luka tetap menolak meminjamkan bukunya.
"Tidak, di perpustakaan tidak mungkin ada catatan tentang masa lalu Voca Town. Apalagi tentang peristiwa 10 tahun yang lalu." balas Ray.
"Kenapa sampai seyakin itu? Memangnya sudah cek kesana?" tanya Luka.
"Kalau memang Megurine-san tidak mau meminjamkan juga tidak apa-apa. Aku takkan memaksa. Mungkin aku harus mencari cara lain dalam mengumpulkan informasi." kata Ray tidak menjawab pertanyaan Luka dan pergi begitu saja.
Luka hanya menatap tajam pada Ray yang berjalan menjauhinya. Dari belakang Luka, Meiko dan Kaito mengintip dari pintu kelas.
"Ada apa dengan mereka? Rasanya hubungan mereka semakin memburuk." ujar Kaito.
"Kalau cuma masalah makan siang kupikir tidak akan jadi begini. Mungkinkah sesuatu terjadi kemarin?" sahut Meiko.
"Bicara soal kemarin, Shiro tidak pulang kemarin malam. Entah kemana dia semalaman. Aku baru lihat lagi pagi-pagi dia sudah berangkat sekolah." kata Kaito.
"Benarkah?" tanya Meiko.
"Ya, aku yakin itu." jawab Kaito.
"Hmm.. apa yang sebenarnya terjadi." ucap Meiko mencoba berpikir.
"Kalian sedang apa?" tanya Luka yang ternyata sudah ada dihadapan mereka.
"Ti-tidak sedang apa-apa kok. Haha.. ha.." sahut Meiko gugup karena kepergok oleh Luka.
"Kami saat ini sedang melakukan lompat kodok. Ayo sekarang giliranmu, Meiko!" ujar Kaito.
"Ba-baik.." sahut Meiko.
Kemudian Meiko melompat melewati punggung Kaito ke depan Luka.
"Kalau begitu silahkan lanjutkan. Maaf mengganggu." ujar Luka masuk ke kelasnya.
"Ide macam apa itu tadi? Lompat kodok? Yang benar saja!" protes Meiko sambil mengangkat kerah baju Kaito.
"Maaf, aku tidak kepikiran hal lain. Hanya ada itu saja diotakku." jawab Kaito.
"Dasar Kaitobego!" ucap Meiko.
Di mejanya, Ray duduk sambil memegang keningnya untuk berpikir. Karena rencananya untuk meminjam buku pada Luka tidak berhasil, dia mencoba mencari cara lain mengumpulkan informasi.
"Shiro Ray. Apakah kamu punya waktu?" tanya Gumi yang sudah berada disamping tempat duduk Ray.
"Hah?" sahut Ray sambil menoleh ke arah Gumi.
"Ini tentang Luka-oneesama." tambah Gumi.
"Saat ini aku tidak punya waktu untuk itu. Lain kali saja." jawab Ray.
"Sudah jangan banyak omong, ikut saja denganku!" sahut Gumi menarik Ray keluar dari kelas.
Miku memiringkan kepalanya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Di luar kelas, Gumi menatap tajam ke arah Ray tampaknya dia sedang kesal saat ini.
"Kenapa kamu begitu tidak peka, Shiro Ray? Kemarin Luka-oneesama mengajak makan siang bersama, kamu tolak. Dan kemudian entah kenapa kemarin kulihat Luka-oneesama berlari pulang sambil menangis setelah dari ruang UKS. Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Shiro Ray? Kenapa kamu jadi begini?" tanya Gumi dengan tegas.
Shiro Ray hanya diam dan ekspresinya sama sekali tidak berubah.
"Jangan diam saja, ayo jawab! Padahal biasanya kamu begitu peka pada hal-hal sekecil apapun. Kenapa sekarang jadi begitu? Apa ini karena adikmu kembali jadi Pangeran Kegelapan?" sambung Gumi dengan nada lebih memaksa.
Shiro Ray tetap diam membisu tak mengucapkan sepatah kata pun.
"Shiro Ray! Jawab aku! Jangan membuatku memaksamu membuka mulutmu!!" bentak Gumi.
Bentakan Gumi menarik perhatian para siswa yang sedang lewat dikoridor.
"Aku tak perlu menjelaskan apapun padamu, Megupo-san." jawab Ray.
Gigi Gumi tampak berdecit saking kesalnya. Dan tanpa berpikir panjang, Gumi melancarkan tendangan ke arah Ray. Ray dengan tenang melompat kebelakang menghindari serangan Gumi.
"Kalau hanya itu saja, sebaiknya kembali saja ke tempat dudukmu, Megupo-san." ujar Ray dengan ekspresi datar.
"Cih, entah kenapa sekarang aku jadi sangat membencimu, Shiro Ray." ucap Gumi kemudian kembali masuk kedalam kelas.
"Ah, baguslah kalau begitu." ucap Ray dengan suara pelan.

Saat istirahat makan siang, Ray dan Miku berada di atap untuk memulai latihan mereka kembali. Seperti biasa Ray menyuruh Miku untuk menari sambil berkhayal. Miku pun menurutinya.
"Oh ya, tadi kudengar kamu bertengkar dengan Gumi-chan. Memangnya ada apa?" tanya Miku.
"Oh kamu mendengarnya ya? Tidak, bukan apa-apa kok. Bukan sesuatu yang penting." jawab Ray bersikap biasa saja.
"Beneran?" tanya Miku ingin memastikan.
"Sudahlah, konsentrasi saja dengan latihannya." sahut Ray.
"Baik.." balas Miku.
Setelah beberapa saat Miku melanjutkan latihan dengan cara yang biasa, Ray menghentikan Miku.
"Oke, sekarang kamu berubah. Aktifkan power pada batas 100%." suruh Ray.
"Berubah? Sekarang?" tanya Miku.
"Iya sekarang. Ya ampun.." jawab Ray.
Kemudian Miku pun berubah.
"Terus sekarang gimana?" tanya Miku.
"Bayangkan dirimu berada di bawah pohon bunga sakura dan ada musik dari lagu Senbonzakura mengiringimu. Jadikan hamparan bunga sakura sebagai panggungmu. Dan mulailah menari." suruh Ray.
Miku pun melakukan tepat seperti yang Ray suruh. Perlahan ada angin berhembus dan berputar di sekeliling Miku.
"Dance: Cherry Blossom Princess." ucap Miku.
Kemudian pakaian dan rambut Miku berubah jadi berwarna merah muda dan bermotif bunga sakura yang mekar. Dan Miku pun menari-nari diatap sekola itu. Tarian yang halus dan lembut bagai bunga sakura tertiup angin musim semi. Dan di jejak tariannya, terlihat bunga sakura berterbangan.
"Terus lakukan hingga kamu benar-benar mengingat sensasinya. Hingga kamu hapal perasaan saat melakukannya. Hingga kamu takkan melupakan setiap irama tubuhmu saat ini." tambah Ray.
Miku menuruti perkataan Ray dan terus melakukan tariannya.
"Ah sepertinya tugasku sudah selesai. Sekarang aku tinggal melanjutkan kelangkah berikutnya." ujar Ray sambil pergi dari atap tanpa sepengetahuan Miku yang sedang asik menari.
"Aku sudah selesai, Shiro Ray. Aku sudah hapal seka-.." ucap Miku berhenti menari namun terpotong karena terkejut Ray sudah menghilang.
"Eh, kemana dia?" sambung Miku heran.
Pintu atap terbuka, tampak Luka keluar dari sana.
"Sudah selesai latihannya?" sapa Luka.
"Sudah kok. Malah sekarang aku sudah bisa melakukan dance nya." jawab Miku dengan tampak bahagia.
"Eh benarkah?" tanya Luka.
"Iya, aku sudah hapal dasar-dasar mengaktifkannya sekarang." jawab Miku dengan yakin sambil mengacungkan jempolnya.
"Oh.. baguslah. Lalu dimana pengajarmu itu?" tanya Luka lagi.
"Shiro Ray? Entah lah. Dia menghilang begitu saja. Memangnya Megurine-senpai tidak ketemu pas ditangga?" tanya balik Miku.
"Ditangga kemari tidak ada siapa-siapa tuh. Miku-chan yakin dia lewat tangga?" jawab Luka kemudian bertanya balik.
"Tidak tahu juga. Kan aku tidak lihat kapan dia perginya." jawab Miku.
"Terus kemana dia?" ucap Luka jadi bingung.
Saat masuk dan pelajaran terakhir dimulai, Miku melihat ke meja Ray, namun dia tidak ada disana. Tasnya pun hilang.
"Dia tidak ada dikelas. Pergi kemana dia?" ucap Miku dalam hati.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】