VocaWorld, chapter 161 - Mengawasi
Di pantai yang sunyi, Ray dan seorang perempuan pirang terlihat saling menatap. Namun bukan tatapan sayang, sepertinya itu lebih bisa dibilang tatapan kesal. Dan Ray membalas dengan tatapan malas seperti biasanya.
"Apa kamu yakin akan terus berenang disana? Tidak takut masuk angin? Meskipun saat ini kamu berada di air sih." ujar Ray dengan nada malas.
"Ada apa dengan lelucon anehmu itu. Tapi maaf saja, air laut tidak akan bisa menyakitiku! Hatchu!" sahut perempuan itu langsung bersin setelahnya.
"Lihat? Kamu bersin kan? Pasti karena airnya." ujar Ray.
"Tidak! Itu tadi.. karena debu. Ya, karena debu!" jawab perempuan itu dengan sedikit malu.
"Debu? Kamu sedang berenang di air bukan berenang di debu." sahut Arya.
"Cukup dengan lelucon airnya, kamu membuatku kesal." kata perempuan itu.
"Lelucon? Tapi aku tidak menemukan sesuatu yang lucu barusan." ujar Ray.
"Dia baru saja mengatakan leluconnya sendiri tidak lucu??!!" ucap perempuan itu dalam hati terlihat terkejut.
"Kalau begitu sampai disini saja perjumpaan kita. Dah.." ucap Ray kemudian pergi meninggalkan perempuan itu.
"Hei! Jangan tinggalin aku! Setidaknya selamatkan aku dulu!" teriak perempuan itu.
Namun Ray sudah keburu jauh dan akhirnya perempuan itu pun terpaksa berusaha berenang ke tepian sendiri. Di jembatan, Luka berdiri melihat ke arah sungai yang mengalir tenang siang itu. Dia melihat ke arah air sambil membayangkan wajah Ray.
"Apa yang sedang Ray-kun lakukan saat ini? Kuharap dia tidak terjun ke sesuatu yang berbahaya." ujar Luka sambil tersenyum.
Rambut panjangnya tertiup angin dengan indah.
"Luka-tan, apa yang sedang anda lakukan disini?" sapa Kamui yang kebetulan lewat.
"Oh, Gaku-Gaku-senpai. Tumben kamu pergi keluar? Sedang belanja?" tanya Luka menoleh ke arah Kamui.
"Tidak kok. Saya hanya sedang mencari udara segar saja. Hahaha.." jawab Kamui.
"Memangnya udara di tempat Gaku-Gaku-senpai tidak segar ya? Oh benar juga, Gaku-Gaku-senpai pasti belum mandi sehingga udaranya jadi berbau asam." ujar Luka sambil tersenyum.
"Hah? Kata siapa? Saya tak mungkin belum mandi. Seorang samurai harus selalu pada kondisi prima." sahut Kamui dengan sedikit gugup.
"Benarkah begitu, tapi dari wajahmu yang tampak berkeringat sepertinya aku benar." tambah Luka sambil tersenyum menekan.
"Saya tidak mengerti yang Luka-tan katakan. Cium sendiri kalau tidak percaya, saya tidak bau sama sekali." kata Kamui mencoba menghindar dari tekanan Luka.
"Apa kamu baru saja menyuruh seorang gadis mencium bau badanmu, Gaku-Gaku-senpai? Aku tak tahu kamu semesum itu." ucap Luka dengan pandangan jijik.
"Ti-tidak! Dengarkan saya dulu, Luka-tan. Dan.. bisakah Luka-tan berhenti memanggilku dengan nama itu?" kata Kamui.
"Sudah menyuruhku mencium bau badanmu, sekarang kamu memintaku untuk memanggilmu dengan panggilan sayang. Semesum apa sebenarnya dirimu, Gaku-Gaku-senpai?" ucap Luka dengan tatapan semakin jijik.
"Kenapa malah jadi semakin salah paham!" bentak Kamui.
"Kya!! Ada orang mesum yang memaksaku melakukan hal kotor!!" teriak Luka berpura-pura takut.
"Luka-tan!!" ucap Kamui dengan wajah pucat.
"Kya!!!" teriak Luka.
"Woy! Apa yang sedang kamu lakukan disana!?" tanya seorang polisi yang kebetulan lewat dengan sepedanya.
"Sial, ada polisi!" ucap Kamui.
Kamui kemudian meminta maaf pada polisi itu dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Luka kemudian pergi situ meninggalkan Kamui yang terlihat masih menjelaskan situasinya pada polisi.
Esok harinya. Jauh dari Voca Town, diatas langit didalam sebuah pesawat raksasa, June terlihat sedang berlutut dihadapan seseorang yang sedang sibuk di depan meja kerjanya. Wajah orang itu terlihat gelap karena ada cahaya masuk dari jendela dibelakangnya.
"Tuan Belphegor, saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting." ujar June sambil berlutut.
"Tentang Hatsune Miku itu kan? Aku sudah tahu kok. Aku melihatnya sendiri. Dia memang.. sangat kuat." sahut orang itu.
"Da-darimana tuan tahu?" tanya June dengan wajah kaget.
"The White Light datang padaku dan memberitahuku. Jadi aku memastikannya dengan mata kepalaku sendiri. Karena itu informasimu saat ini tidak berguna sama sekali. June Black." jelas Belphegor yang ternyata orang yang ditemui Ray saat sebelumnya.
"Cih, The White Light kurang ajar. Dia mendahuluiku." ucap June tampak kesal dan memukul lantai.
"Apa ada sesuatu yang lain yang ingin kamu sampaikan? Kalau tidak ada segeralah pergi dari hadapanku. Jangan mengganggu pekerjaanku." suruh Belphegor.
"Baiklah, tuan Belphegor." ucap June kemudian bangkit dan meninggalkan ruangan yang terdapat banyak buku tersebut.
"Untuk saat ini aku akan mulai menganalisa tentang Hatsune Miku itu. Kalau memang benar dia adalah awal mula kekalahan pasukan satanism, berarti dia ada hubungannya dengan sejarah kota Voca. Dan kalau sampai The White Light mengetahui dia ada hubungannya dengan masa lalu Voca Town, maka.. Hatsune Miku dan The White Light.. sudah kenal sejak lama." ujar Belphegor dalam hati memikirkan hal itu sambil menulis sebuah catatan.
"Tapi kenapa tidak ada satu catatan pun tentang Hatsune Miku dan The White Light sebelum 10 tahun yang lalu? Kalau begini caranya jadi mustahil untukku menganalisa tentang mereka." sambung Belpeghor sambil terlihat merasa pusing memikirkannya.
Di sebuah kedai ramen, Dante sedang makan mie ramen.
"Aku tak tahu kamu dapat uang darimana bisa makan ramen disini. Tapi kalau kamu memang memiliki uang setidaknya kamu bisa mentraktirku kan?" ujar seorang laki-laki duduk di sebelah Dante.
"A-aniki?!" ucap Dante terkejut.
"Hmm.. jadi kamu masih memanggilku dengan panggilan itu? Aku terkejut." ujar laki-laki itu yang ternyata adalah Ray saat membuka penutup kepalanya.
"Ma-maaf.. sudah kebiasaan. Jadi keceplosan." jawab Dante.
"Paman! Pesan mie ramennya ya. Tapi jangan tambahkan daging apapun. Kalau ada daging ikan, pakai daging ikan saja." ucap Ray.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, Shiro Ray? Makan bersama musuhmu itu, bukankah terlalu berbahaya?" tanya Dante.
"Mari kita lupakan sejenak tentang permusuhan kita. Apa kamu mau membuang-buang makanan enak dihadapanmu dan bertarung disini denganku?" jawab Ray menoleh ke arah Dante.
Mie ramen Ray terlihat sudah dihidangkan dihadapannya.
"Ya, sayang banget kalau dibuang. Mie ini kan dibeli pakai uang. Aku tak mau kalau terus makan ikan tiap hari." gerutu Dante.
"Baguslah kalau begitu, kamu ternyata masih menghargai makanan. Kalau begitu, selamat makan.." ujar Ray kemudian menyantap makanannya.
"Aku tak percaya pelajaran hidup darinya masih membekas pada diriku meskipun aku sudah kembali ke diriku yang lama." kata Dante kemudian melanjutkan makannya.
Dua orang yang saat ini bermusuhan itu pun menyantap mie ramen bersama. Seakan tak pernah terjadi apapun diantara mereka, melupakan sejenak permusuhan diantara mereka.
Luka kembali ke rumahnya, dia melihat lagi buku yang ditinggalkan oleh ayahnya. Dan disana dia mengingat permintaan Ray untuk meminjam buku tersebut darinya.
"Benar juga, waktu itu dia berniat untuk meminjam buku ini. Dia bilang tentang informasi atau semacamnya. Memang informasi tentang apa yang dia inginkan dari diary ayahku?" ujar Luka sambil memperhatikan salah satu diary yang diambilnya dari rak buku.
"Kalau tidak salah.. disini ada informasi tentang masa lalu ayahku. Masa lalu Voca Town. Dan juga.. proyek Mindy?! Proyek Mindy. Apakah itu yang Ray-kun ingin tahu? Hmm.. tapi apa Ray-kun hanya ingin mengetahui tentang itu, atau ada sesuatu yang lain yang tersembunyi disini?" pikir Luka sambil membolak-balik buku ditangannya.
"Tapi aku tak yakin tentang itu. Karena Ray-kun belum pernah membaca ini. Jadi.. dia tak mungkin tahu isinya. Itu terbukti dari dia yang ingin meminjam buku ini." sambung Luka dalam hatinya.
Tiba-tiba dia mendapatkan panggilan telpon dari Meiko. Luka pun segera mengangkatnya.
"Halo, Meiko-chan? Ada apa?" tanya Luka.
"Oh, Halo Megurine-san. Kamu sedang ada dimana?" tanya balik Meiko.
"Aku sedang ada dirumahku untuk mengecek proses pemulihannya. Memangnya kenapa?" sahut Luka.
"Ini, masalah sekolah kita. Katanya akademi Voca akan memberhentikan proses belajar mengajarnya untuk sementara waktu karena mereka kekurangan bahan bangunan untuk perbaikan. Ditambah situasi saat ini yang berbahaya, jadi seluruh siswa dan staf diliburkan sampai waktu yang belum ditentukan." jelas Meiko.
"Hmm.. jika benar begitu berarti kita harus menyelesaikan masalah ini lebih cepat. Tapi kita juga diuntungkan disini. Karena jika begini kita bisa bergerak lebih leluasa." balas Luka.
"Ya benar juga. Begitu pula dengan Rin-chan dan Len-chan. Sepertinya sekolah mereka juga meliburkan murid-murid mereka sementara waktu sampai keadaannya kembali stabil." kata Meiko.
"Kalau begitu kita memang lebih diuntungkan saat ini. Kita bisa menggunakan tenaga penuh dari tim. Tunggu, kenapa SMP Nico-Nico juga meliburkan muridnya?" ujar Luka.
"Mana aku tahu." jawab Meiko.
"Ya sudahlah. Kalau begitu sampai jumpa di rumah." ucap Luka.
"Ya.. sampai jumpa." jawab Meiko.
Meiko menutup panggilannya. Dia menoleh kebelakang dan melihat ke arah seorang laki-laki berjaket hitam yang sedang duduk di jendela. Di tempat lain, Miku sedang beebelanja bersama Kaito. Mereka pulang membawa beberapa belajaan yang kelihatannya cukup berat.
"Kaito-senpai, hari ini tidak menggunakan sepeda?" tanya Miku terlihat penasaran.
Mendapat pertanyaan itu Kaito langsung terkejut.
"Eh, oohh.. hari ini rasanya aku sedang ingin jalan kaki. Jadi aku tak bawa sepeda." jawab Kaito dengan sedikit gugup.
"Aku tak mungkin membawa sepeda memalukan itu saat bersama seorang gadis." ucap Kaito dalam hati.
"Ja-jangan-jangan! Kaito-senpai sengaja tak bawa sepeda supaya kita bisa lebih lama seperti ini. Dia.. Kaito-senpai ingin berduaan denganku." ujar Miku dalam hati dengan wajah yang jadi memerah.
"Ada apa, Hatsune? Apa belanjaanmu itu terlalu berat? Kalau begitu biar aku yang bawa." tanya Kaito.
"Tidak kok. A-aku hanya.. etto.." jawab Miku tampak bingung memberi jawaban apa.
"Eh, itu bukannya.." ucap Kaito menunjuk ke arah depan.
"Itu apa?" sahut Miku melihat ke arah yang ditunjuk oleh Kaito.
Miku terlihat terkejut melihat apa yang ditunjuk oleh Kaito.
To be continued..
"Apa kamu yakin akan terus berenang disana? Tidak takut masuk angin? Meskipun saat ini kamu berada di air sih." ujar Ray dengan nada malas.
"Ada apa dengan lelucon anehmu itu. Tapi maaf saja, air laut tidak akan bisa menyakitiku! Hatchu!" sahut perempuan itu langsung bersin setelahnya.
"Lihat? Kamu bersin kan? Pasti karena airnya." ujar Ray.
"Tidak! Itu tadi.. karena debu. Ya, karena debu!" jawab perempuan itu dengan sedikit malu.
"Debu? Kamu sedang berenang di air bukan berenang di debu." sahut Arya.
"Cukup dengan lelucon airnya, kamu membuatku kesal." kata perempuan itu.
"Lelucon? Tapi aku tidak menemukan sesuatu yang lucu barusan." ujar Ray.
"Dia baru saja mengatakan leluconnya sendiri tidak lucu??!!" ucap perempuan itu dalam hati terlihat terkejut.
"Kalau begitu sampai disini saja perjumpaan kita. Dah.." ucap Ray kemudian pergi meninggalkan perempuan itu.
"Hei! Jangan tinggalin aku! Setidaknya selamatkan aku dulu!" teriak perempuan itu.
Namun Ray sudah keburu jauh dan akhirnya perempuan itu pun terpaksa berusaha berenang ke tepian sendiri. Di jembatan, Luka berdiri melihat ke arah sungai yang mengalir tenang siang itu. Dia melihat ke arah air sambil membayangkan wajah Ray.
"Apa yang sedang Ray-kun lakukan saat ini? Kuharap dia tidak terjun ke sesuatu yang berbahaya." ujar Luka sambil tersenyum.
Rambut panjangnya tertiup angin dengan indah.
"Luka-tan, apa yang sedang anda lakukan disini?" sapa Kamui yang kebetulan lewat.
"Oh, Gaku-Gaku-senpai. Tumben kamu pergi keluar? Sedang belanja?" tanya Luka menoleh ke arah Kamui.
"Tidak kok. Saya hanya sedang mencari udara segar saja. Hahaha.." jawab Kamui.
"Memangnya udara di tempat Gaku-Gaku-senpai tidak segar ya? Oh benar juga, Gaku-Gaku-senpai pasti belum mandi sehingga udaranya jadi berbau asam." ujar Luka sambil tersenyum.
"Hah? Kata siapa? Saya tak mungkin belum mandi. Seorang samurai harus selalu pada kondisi prima." sahut Kamui dengan sedikit gugup.
"Benarkah begitu, tapi dari wajahmu yang tampak berkeringat sepertinya aku benar." tambah Luka sambil tersenyum menekan.
"Saya tidak mengerti yang Luka-tan katakan. Cium sendiri kalau tidak percaya, saya tidak bau sama sekali." kata Kamui mencoba menghindar dari tekanan Luka.
"Apa kamu baru saja menyuruh seorang gadis mencium bau badanmu, Gaku-Gaku-senpai? Aku tak tahu kamu semesum itu." ucap Luka dengan pandangan jijik.
"Ti-tidak! Dengarkan saya dulu, Luka-tan. Dan.. bisakah Luka-tan berhenti memanggilku dengan nama itu?" kata Kamui.
"Sudah menyuruhku mencium bau badanmu, sekarang kamu memintaku untuk memanggilmu dengan panggilan sayang. Semesum apa sebenarnya dirimu, Gaku-Gaku-senpai?" ucap Luka dengan tatapan semakin jijik.
"Kenapa malah jadi semakin salah paham!" bentak Kamui.
"Kya!! Ada orang mesum yang memaksaku melakukan hal kotor!!" teriak Luka berpura-pura takut.
"Luka-tan!!" ucap Kamui dengan wajah pucat.
"Kya!!!" teriak Luka.
"Woy! Apa yang sedang kamu lakukan disana!?" tanya seorang polisi yang kebetulan lewat dengan sepedanya.
"Sial, ada polisi!" ucap Kamui.
Kamui kemudian meminta maaf pada polisi itu dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Luka kemudian pergi situ meninggalkan Kamui yang terlihat masih menjelaskan situasinya pada polisi.
Esok harinya. Jauh dari Voca Town, diatas langit didalam sebuah pesawat raksasa, June terlihat sedang berlutut dihadapan seseorang yang sedang sibuk di depan meja kerjanya. Wajah orang itu terlihat gelap karena ada cahaya masuk dari jendela dibelakangnya.
"Tuan Belphegor, saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting." ujar June sambil berlutut.
"Tentang Hatsune Miku itu kan? Aku sudah tahu kok. Aku melihatnya sendiri. Dia memang.. sangat kuat." sahut orang itu.
"Da-darimana tuan tahu?" tanya June dengan wajah kaget.
"The White Light datang padaku dan memberitahuku. Jadi aku memastikannya dengan mata kepalaku sendiri. Karena itu informasimu saat ini tidak berguna sama sekali. June Black." jelas Belphegor yang ternyata orang yang ditemui Ray saat sebelumnya.
"Cih, The White Light kurang ajar. Dia mendahuluiku." ucap June tampak kesal dan memukul lantai.
"Apa ada sesuatu yang lain yang ingin kamu sampaikan? Kalau tidak ada segeralah pergi dari hadapanku. Jangan mengganggu pekerjaanku." suruh Belphegor.
"Baiklah, tuan Belphegor." ucap June kemudian bangkit dan meninggalkan ruangan yang terdapat banyak buku tersebut.
"Untuk saat ini aku akan mulai menganalisa tentang Hatsune Miku itu. Kalau memang benar dia adalah awal mula kekalahan pasukan satanism, berarti dia ada hubungannya dengan sejarah kota Voca. Dan kalau sampai The White Light mengetahui dia ada hubungannya dengan masa lalu Voca Town, maka.. Hatsune Miku dan The White Light.. sudah kenal sejak lama." ujar Belphegor dalam hati memikirkan hal itu sambil menulis sebuah catatan.
"Tapi kenapa tidak ada satu catatan pun tentang Hatsune Miku dan The White Light sebelum 10 tahun yang lalu? Kalau begini caranya jadi mustahil untukku menganalisa tentang mereka." sambung Belpeghor sambil terlihat merasa pusing memikirkannya.
Di sebuah kedai ramen, Dante sedang makan mie ramen.
"Aku tak tahu kamu dapat uang darimana bisa makan ramen disini. Tapi kalau kamu memang memiliki uang setidaknya kamu bisa mentraktirku kan?" ujar seorang laki-laki duduk di sebelah Dante.
"A-aniki?!" ucap Dante terkejut.
"Hmm.. jadi kamu masih memanggilku dengan panggilan itu? Aku terkejut." ujar laki-laki itu yang ternyata adalah Ray saat membuka penutup kepalanya.
"Ma-maaf.. sudah kebiasaan. Jadi keceplosan." jawab Dante.
"Paman! Pesan mie ramennya ya. Tapi jangan tambahkan daging apapun. Kalau ada daging ikan, pakai daging ikan saja." ucap Ray.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, Shiro Ray? Makan bersama musuhmu itu, bukankah terlalu berbahaya?" tanya Dante.
"Mari kita lupakan sejenak tentang permusuhan kita. Apa kamu mau membuang-buang makanan enak dihadapanmu dan bertarung disini denganku?" jawab Ray menoleh ke arah Dante.
Mie ramen Ray terlihat sudah dihidangkan dihadapannya.
"Ya, sayang banget kalau dibuang. Mie ini kan dibeli pakai uang. Aku tak mau kalau terus makan ikan tiap hari." gerutu Dante.
"Baguslah kalau begitu, kamu ternyata masih menghargai makanan. Kalau begitu, selamat makan.." ujar Ray kemudian menyantap makanannya.
"Aku tak percaya pelajaran hidup darinya masih membekas pada diriku meskipun aku sudah kembali ke diriku yang lama." kata Dante kemudian melanjutkan makannya.
Dua orang yang saat ini bermusuhan itu pun menyantap mie ramen bersama. Seakan tak pernah terjadi apapun diantara mereka, melupakan sejenak permusuhan diantara mereka.
Luka kembali ke rumahnya, dia melihat lagi buku yang ditinggalkan oleh ayahnya. Dan disana dia mengingat permintaan Ray untuk meminjam buku tersebut darinya.
"Benar juga, waktu itu dia berniat untuk meminjam buku ini. Dia bilang tentang informasi atau semacamnya. Memang informasi tentang apa yang dia inginkan dari diary ayahku?" ujar Luka sambil memperhatikan salah satu diary yang diambilnya dari rak buku.
"Kalau tidak salah.. disini ada informasi tentang masa lalu ayahku. Masa lalu Voca Town. Dan juga.. proyek Mindy?! Proyek Mindy. Apakah itu yang Ray-kun ingin tahu? Hmm.. tapi apa Ray-kun hanya ingin mengetahui tentang itu, atau ada sesuatu yang lain yang tersembunyi disini?" pikir Luka sambil membolak-balik buku ditangannya.
"Tapi aku tak yakin tentang itu. Karena Ray-kun belum pernah membaca ini. Jadi.. dia tak mungkin tahu isinya. Itu terbukti dari dia yang ingin meminjam buku ini." sambung Luka dalam hatinya.
Tiba-tiba dia mendapatkan panggilan telpon dari Meiko. Luka pun segera mengangkatnya.
"Halo, Meiko-chan? Ada apa?" tanya Luka.
"Oh, Halo Megurine-san. Kamu sedang ada dimana?" tanya balik Meiko.
"Aku sedang ada dirumahku untuk mengecek proses pemulihannya. Memangnya kenapa?" sahut Luka.
"Ini, masalah sekolah kita. Katanya akademi Voca akan memberhentikan proses belajar mengajarnya untuk sementara waktu karena mereka kekurangan bahan bangunan untuk perbaikan. Ditambah situasi saat ini yang berbahaya, jadi seluruh siswa dan staf diliburkan sampai waktu yang belum ditentukan." jelas Meiko.
"Hmm.. jika benar begitu berarti kita harus menyelesaikan masalah ini lebih cepat. Tapi kita juga diuntungkan disini. Karena jika begini kita bisa bergerak lebih leluasa." balas Luka.
"Ya benar juga. Begitu pula dengan Rin-chan dan Len-chan. Sepertinya sekolah mereka juga meliburkan murid-murid mereka sementara waktu sampai keadaannya kembali stabil." kata Meiko.
"Kalau begitu kita memang lebih diuntungkan saat ini. Kita bisa menggunakan tenaga penuh dari tim. Tunggu, kenapa SMP Nico-Nico juga meliburkan muridnya?" ujar Luka.
"Mana aku tahu." jawab Meiko.
"Ya sudahlah. Kalau begitu sampai jumpa di rumah." ucap Luka.
"Ya.. sampai jumpa." jawab Meiko.
Meiko menutup panggilannya. Dia menoleh kebelakang dan melihat ke arah seorang laki-laki berjaket hitam yang sedang duduk di jendela. Di tempat lain, Miku sedang beebelanja bersama Kaito. Mereka pulang membawa beberapa belajaan yang kelihatannya cukup berat.
"Kaito-senpai, hari ini tidak menggunakan sepeda?" tanya Miku terlihat penasaran.
Mendapat pertanyaan itu Kaito langsung terkejut.
"Eh, oohh.. hari ini rasanya aku sedang ingin jalan kaki. Jadi aku tak bawa sepeda." jawab Kaito dengan sedikit gugup.
"Aku tak mungkin membawa sepeda memalukan itu saat bersama seorang gadis." ucap Kaito dalam hati.
"Ja-jangan-jangan! Kaito-senpai sengaja tak bawa sepeda supaya kita bisa lebih lama seperti ini. Dia.. Kaito-senpai ingin berduaan denganku." ujar Miku dalam hati dengan wajah yang jadi memerah.
"Ada apa, Hatsune? Apa belanjaanmu itu terlalu berat? Kalau begitu biar aku yang bawa." tanya Kaito.
"Tidak kok. A-aku hanya.. etto.." jawab Miku tampak bingung memberi jawaban apa.
"Eh, itu bukannya.." ucap Kaito menunjuk ke arah depan.
"Itu apa?" sahut Miku melihat ke arah yang ditunjuk oleh Kaito.
Miku terlihat terkejut melihat apa yang ditunjuk oleh Kaito.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.