Memo, chapter 44 - Rahasia Ekskul Sastra 2

Karena tidak kunjung bertemu dengan Sindy juga akhirnya Arya memutuskan untuk pergi ke koridor kelas 2. Sambil berpura-pura lewat di depan kelas dia memperhatikan kedalam kelas mencari Sindy. Ia terpaksa melakukan hal itu karena tidak tahu Sindy berasal dari kelas mana. Tapi di tengah jalan dia disapa oleh Ikhsan yang juga kebetulan lewat disitu dari mesjid sekolah.
"Oh.. orang terkenal dari MOS ternyata. Apa yang sedang kamu lakukan disini?" sapa Ikhsan.
"Bukan apa-apa. Hanya lewat saja kok." jawab Arya.
"Sebaiknya aku tidak mengatakan kalau aku sedang mencari senior Sindy. Bisa bahaya nantinya." ujar Arya dalam hati.
"Apa sebahaya itu sampai kamu kelihatannya menyembunyikan tujuanmu kemari?" tanya Ikhsan.
Arya terkejut dengan pertanyaan Ikhsan tersebut. Karena dari pertanyaan tersebu, terkesan seperti Ikhsan bisa mengetahui apa yang Arya pikirkan sebelumnya.
"Dia?!! Ti-tidak mungkin. Pasti tadi itu hanya sebuah kebetulan. Atau kalau tidak, dia pasti melihatku melirik kedalam kelas sebelumnya." pikir Arya berusaha mengalihkan pemikirannya.
Ikhsan hanya mempertahankan senyumannya sambil menatap polos pada Arya.
"Ya.. sebenarnya aku kemari hanya sambil lewat saja. Aku mau ke ruangan ekskul sastra saat ini." jawab Arya dengan asal.
"Oh.. begitukah. Tapi mau apa ke ruangan ekskul saat istirahat? Bukankah kegiatan ekskul mu hanya dilakukan setelah pulang sekolah?" tanya Ikhsan lagi.
"Apa-apaan orang ini? Dia pasti sedang mencoba memojokkanku. Biasanya orang-orang takkan menanyakan apa-apa lagi setelah aku mengatakannya." gumam Arya dengan setetes keringat mengucur dari keningnya.
"Aku ada urusan sebentar. Mau tidak mau aku harus ke ruangan ekskul. Apa senior tahu apa urusanku?" jawab Arya berusaha tetap tenang.
"Apa memangnya itu?" tanya Ikhsan.
"Sebenarnya kemarin barangku tertinggal disana. Tehe~.." ucap Arya.
Ikhsan tidak memberikan respon dan hanya mempertahankan senyumannya saja. Hal itu membuat Arya sedikit malu mengatakan hal tadi.
"Kenapa dia hanya diam saja! Ayolah katakan sesuatu! Aku malu nih!" protes Arya dalam hati.
"Oh.. begitukah. Kalau begitu silahkan lanjutkan." ujar Ikhsan sambil melanjutkan langkah kakinya.
"Kalau memang mau ke ruang ekskul, sebaiknya kamu cek perpustakaan dahulu. Aku yakin Sindy ada disana saat ini." bisik Ikhsan sambil lewat disamping Arya.
Saat Ikhsan sudah jauh dari Arya, Arya diam terpaku dengan wajah kaget.
"Ti-tidak mungkin?! Darimana dia tahu aku sedang mencari senior Sindy!?" ucap Arya dalam hati.
"Tidak-tidak-tidak.. aku yakin dia mengatakan tadi hanya karena dia tahu kalau mau ke ruang ekskul aku harus mendapat izin setidaknya dari ketua ekskulnya terlebih dahulu. Ya.. pasti itu." pikir Arya sambil melangkahkan kakinya.
Arya berjalan menuju ke perpustakaan. Tanpa sepengetahuannya, dibelakangnya tampak ada yang mengikuti secara sembunyi-sembunyi.

Arya sampai di depan perpustakaan. Pintunya terlihat terbuka, jadi dia langsung masuk saja kedalam. Didalam dia melihat gadis yang tampak anggun membaca di tempat baca dengan setumpuk buku disampingnya entah itu yang sudah selesai dibaca atau yang belum ia baca. Gadis itu tak lain adalah Sindy, ketua ekskul sastra.
"Hei senior.. ada disini rupanya.." sapa Arya.
"Sst..!" desis penjaga perpustakaan pada Arya karena terlalu berisik.
"Ma-maaf.." ucap Arya pada penjaga perpustakaan.
Sindy melihat ke arah Arya sambil tersenyum. Dengan sedikit malu diperhatikan oleh orang seisi perpustakaan, Arya menghampiri Sindy.
"Wah.. ada apa juniorku yang imut ini datang ke perpustakaan? Mau belajar karena ulangan dadakan kah?" tanya Sindy.
"Ah tidak kok senior. Aku kemari ada urusan dengan senior." jawab Arya.
"Ada urusan denganku?" sahut Sindy.
"Ya. Sebenarnya ada yang mau gabung ekskul sastra. Dia adalah teman sekelasku. Apa boleh?" tanya Arya.
"Te-tentu saja boleh. Bawa saja dia ke ruang ekskul sepulang sekolah nanti." jawab Sindy sambil tersenyum.
"Ada apa senior? Sepertinya senior kurang senang aku membawa anggota baru." tukas Arya.
"Ti-tidak mungkin lah. Kamu bicara apa sih? Tentu saja aku senang kita mendapatkan anggota baru." jawab Sindy sambil mempertahankan senyumnya.
"Oh.. baguslah. Kalau begitu nanti aku bawa sepulang sekolah. Dah.." pamit Arya.
Dan lagi-lagi ia mendapat teguran dari penjaga perpustakaan karena suaranya terlalu keras. Arya pun pergi keluar dari perpustakaan sambil meminta maaf. Sindy terlihat menghela napasnya saat Arya pergi. Dan ia menutup bukunya dengan pandangan kebawah seperti kehilangan mood membaca nya. Dibelakangnya, seorang gadis berkaca mata memperhatikannya dan nampak tersenyum.

Catatan hari ini:
Membaca hati perempuan itu lebih sulit daripada membaca buku dengan tulisan dari bahasa lain.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】